cover
Contact Name
Wiryawan Permadi
Contact Email
obgyniajurnal@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
obgyniajurnal@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science
ISSN : 2615496X     EISSN : 2615496X     DOI : -
Core Subject : Health,
OBGYNIA (Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science ) adalah jurnal dalam bidang ilmu Obstetri & Ginekologi yang diterbitkan resmi oleh Departemen Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran. OBGYNIA menerbitkan artikel penelitian tentang kemajuan ilmiah, manajemen klinis pasien, teknik bedah, kemajuan pengobatan dan evaluasi pelayanan, manajemen serta pengobatan dalam bidang obstetri & ginekologi.
Arjuna Subject : -
Articles 32 Documents
Search results for , issue "Volume 7 Nomor 3 November 2024" : 32 Documents clear
Sleeve Hymen as a Penetrate Problem in a Newly Married Woman: A Rare Case Report Surya, Raymond; Aryasatiani, Ekarini
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 7 Nomor 3 November 2024
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v7i3.748

Abstract

Introduction: Imperforate hymen (IH), an uncommon congenital anomaly, is a failure to completely canalize the hymen. This report aims to describe a sleeve hymen in a newly married woman and the surgical approach to the patient.Case Illustration: A 24-year-old newly married woman came to the gynecology polyclinic complaining of difficulty in sexual intercourse in the last 6 months. She felt painful and hard penile penetration since the first time of sexual intercourse. Inspection of external genitalia showed there was a hymen covering all vaginal introitus without an erythematous surface. The diagnosis indicated that the patient had a sleeve hymen. The patient underwent a U-shaped incision far away from the urethra as a hymenectomy.Discussion: Most of the IH patients are asymptomatic until menarche. Excess of estrogen status can cause the thickening of the hymen, called the sleeve hymen or “redundant” hymen. Meanwhile, epithelial cells’ failure in the center of the hymen to degenerate or excess cell proliferation may cause a microperforate hymen. There are several choices of treatment for IH, including hymenectomy (cruciate incision or hymen excision), hymen-preserving surgeries (simple vertical incision and annular hymenotomy), carbon dioxide laser, or insertion of a Foley catheter.Conclusion: Good anamnesis and physical examination can lead to the correct diagnosis of sleeve hymen. Hymenectomy is one of the alternative treatments for married women who have less concern about hymen-preserving surgery.Penebalan Himen sebagai Gangguan Penetrasi pada Wanita Baru Menikah: Sebuah Laporan KasusAbstrakPendahuluan: Himen imperforata (HI) merupakan kelainan kongenital yang tidak lazim didefinisikan sebagai kegagalan dalam kanalisasi himen. Laporan ini bertujuan untuk menggambarkan penebalan himen pada wanita yang baru menikah dan pendekatan pembedahan kepada pasien.Ilustrasi Kasus: Seorang wanita baru menikah berusia 24 tahun datang ke poliklinik ginekologi mengeluh gangguan hubungan seksual sejak 6 bulan lalu. Dia merasa sulit untuk penetrasi dan nyeri sejak pertama kali berhubungan seksual. Inspeksi pada genitalia eksterna memperlihatkan terdapat himen yang menutupi seluruh introitus vagina tanpa permukaan eritema. Diagnosis pada pasien ialah penebalan himen. Wanita tersebut dilakukan insisi bentuk U menjauhi uretra sebagai himenektomi. Diskusi: Kebanyakan pasien HI asimptomatik sampai menars. Kelebihan estrogen dapat menyebabkan penebalan himen yang dikenal sebagai himen “tidak berguna”. Sementara itu, kegagalan sel epitel di tengah himen untuk degenerasi atau kelebihan proliferasi sel dapat menyebabkan himen mikroperforata. Beberapa pilihan tatalaksana pada HI, yaitu himenektomi (insisi krusiata atau eksisi himen), pembedahan dengan konservasi himen (insisi vertikal simple dan himenotomi anular), laser CO2, atau insersi kateter Foley.Kesimpulan: Anamnesis dan pemeriksaan fisik yang baik dapat membantu mendiaganosis penebalan himen dengan tepat. Himenektomi merupakan salah satu tatatalaksana alternatif untuk wanita yang sudah menikah.Kata kunci: himen imperforate; himenektomi; microperforate hymen; penebalan himen,
A Suspicion of Potter Syndrome in G4P2A1 at 33 Weeks Gestation with Oligohydramnios and Severe Preeclampsia: A Case Report Arafah, Muhammad Gumelar; Mose, Glen Marion; Gurnadi, Jeffry Iman
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 7 Nomor 3 November 2024
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v7i3.714

Abstract

Background: Potter syndrome is a rare case caused by oligohydramnios due to kidney failure in a fetus. Potter syndrome is characterized by pulmonary hypoplasia, skeletal malformation, and kidney abnormalities.Case presentation: A 45-year-old G4P2A1 at 33 weeks gestation with oligohydramnios and severe preeclampsia came to the maternal and perinatal Emergency Unit at the Cibabat Regional General Hospital, Cimahi, complaining of labor contractions and delivered a baby. A male baby of 33 weeks gestation with a birth weight of 1295 grams was delivered. The baby had severe respiratory distress at birth, requiring resuscitation. Multiple congenital anomalies, such as widely separated eyes with epicanthic folds, low-set ears, receding chin, broad nasal bridge, and polydactyly, were noted. After 6 hours of life, the baby died due to respiratory failure.Discussion: In this case, clinical manifestations of Potter’s facies and a history of oligohydramnios support the suspicion of Potter syndrome. An autopsy or further examination was not carried out, so the etiology in this case has not been obtained.Conclusion: There was a suspicion of Potter syndrome obtained from clinical manifestations and a history of oligohydramnios.Dugaan Sindrom Potter pada G4P2A1 Parturien 33 Minggu dengan Oligohidramnion dan Preeklamsia Berat: Sebuah Laporan KasusAbstrakLatar belakang: Sindrom Potter merupakan kasus langka yang disebabkan oleh kurangnya cairan ketuban akibat gangguan pada ginjal janin. Pada kasus potter syndrome dapat ditemukan hipoplasia pulmonal, malformasi tulang, dan kelainan ginjal.Presentasi kasus: Ibu 45 tahun dengan G4P2A1 usia kehamilan 33 minggu dengan oligohidramnion dan preeklamsia berat datang ke IGD Maternal dan Perinatal RSUD Cibabat Cimahi dengan keluhan kontraksi persalinan dan melahirkan spontan bracht pervaginam. Bayi laki-laki usia 33 minggu, berat badan 1295gram, lahir dengan mengalami distress pernafasan berat dan dilakukan resusitasi. Kelainan kongenital multiple didapatkan pada bayi, yaitu jarak mata lebih lebar, adanya lipatan kulit yang menutupi sudut mata, posisi telinga lebih rendah, dagu lebih kecil, pangkal hidung yang lebih lebar, dan polidaktili. Dilakukan terapi suportif, setelah enam jam bayi meninggal karena distress pernafasan.Diskusi: Pada kasus ini ditemukan manifestasi klinis potter facies dan riwayat oligohidramnion yang mendukung kecurigaan terhadap Sindrom Potter. Pada kasus tidak dilakukan pemeriksaan otopsi maupun pemeriksaan lanjutan sehingga etiologi pada kasus ini belum didapatkan.Kesimpulan: Pada kasus ini didapatkan kecurigaan Sindrom Potter yang didapat dari manifestasi klinis dan riwayat oligohidramnion.Kata kunci: Sindrom Potter, oligohidramnion
Case Report: Cesarean Scar Pregnancy in 8 Weeks Pregnancy with History of Recurrent Pregnancy Loss Apriliyani, Sinta Nur; Adinata, Devin Gifarry; Tjahja, Raden
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 7 Nomor 3 November 2024
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v7i3.688

Abstract

Introduction: Caesarean scar pregnancy is a complication in early pregnancy implants gestational sac in the myometrium and fibrous tissues at the site of a previous uterine scar. Recurrent pregnancy loss defines loss as two or more pregnancies that do not have to be consecutive. This condition presents a substantial risk for severe maternal morbidity and associated with psychological aspects.Case Illustration: Mrs. D 37 years old, G6P2A3 in her 8 weeks pregnancy. With significant lower abdominal pain and vaginal bleeding occurs for two days in the beginning of pregnancy. Blood pressure of 70/50mmHg, pulse rate of 100x/min, respiration rate of 22x/min, temperature of 36,6°C, SpO2 of 100%, hemoglobin of 10,7 gr/dL. Abdominal examination was significant for rebound tenderness on lower abdomen. Transvaginal ultrasound which showed a fetus in uterine cavity and a moderate amount of free fluid in intraperitoneal cavity. Upon surgery, 1000cc of blood was found pooled in the peritoneal cavity, and laceration with length of 2 cm, about 5 cm below the uterine fundus.Conclusions: Caesarian scar pregnancy incident is increasing, as a result of high caesarian delivery rate, so the clinician should always ask for the past obstetrical history, particularly in patient with recurrent pregnancy loss with curettage procedure.Laporan Kasus:Kehamilan Bekas Luka Sesar pada Kehamilan 8 Minggu dengan Riwayat Keguguran BerulangAbstrakPendahuluan: Kehamilan bekas luka caesar adalah komplikasi pada awal kehamilan yang menanamkan kantung kehamilan di miometrium dan jaringan fibrosa di lokasi bekas luka rahim sebelumnya. Keguguran berulang diartikan sebagai keguguran sebagai dua atau lebih kehamilan yang tidak harus terjadi secara berurutan. Kondisi ini menimbulkan risiko besar terhadap morbiditas ibu yang parah dan berhubungan dengan aspek psikologis.Ilustrasi Kasus: Ny. D 37 tahun, G6P2A3 dalam usia kehamilan 8 minggu, dengan nyeri perut bagian bawah yang signifikan dan perdarahan vagina terjadi selama dua hari di awal kehamilan. Tekanan darah 70/50mmHg, denyut nadi 100x/menit, laju pernapasan 22x/menit, suhu 36,6°C, SpO2 100%, hemoglobin 10,7 gr/dL. Pemeriksaan perut nyeri tekan signifikan pada perut bagian bawah. USG transvaginal menunjukkan janin dalam rongga rahim dan sejumlah cairan bebas dalam rongga intraperitoneal. Setelah operasi, ditemukan 1000cc darah menggenang di rongga peritoneum, dan terjadi laserasi sepanjang 2cm, sekira 5cm di bawah fundus uteri.Kesimpulan: Kejadian kehamilan bekas luka caesar semakin meningkat akibat tingginya angka kelahiran caesar sehingga dokter harus selalu menanyakan riwayat obstetri masa lalu, terutama pada pasien dengan keguguran berulang dengan tindakan kuretase.Kata kunci: kehamilan bekas luka sesar, keguguran berulang
Neutrophil-lymphocyte Ration Difference in Squamous Cell Carcinoma and Adenocarcinoma of Cervical Cancer Sinaga, Rislefia Amadina; Aditiyono, Aditiyono; Kurniadi, Andi
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 7 Nomor 3 November 2024
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v7i3.732

Abstract

Introduction: Cervical cancer is the most commonly found malignancy in female reproductive system. There are two most found types of this cancer based on histopathologic finding, adenocarcinoma and squamous cell carcinoma (SCC). Each type has different outcome, especially in later stages. Neutrophil-lymphocyte ratio (NLR) is an indicator that can pinpoint the inflammation severity level, hence able to predict outcome and prognosis in malignancy, including cervical cancer.Objective: This study aimed to determine the difference of NLR in both types of cervical cancer Methods: This study used retrospective analytic observational with cross-sectional design. Data was sampled from Prof. dr. Margono Soekarjo General Regional Hospital medical record from patients diagnosed with cervical cancer of both types during January to December 2022. Mann-Whitney test was performed to determine the difference of NLR value between both types of cervical cancer. Result: Between January and December 2022, 68 patients were diagnosed with cervical cancer. Of these, 37 (54.41%) had squamous cell carcinoma (SCC) and 31 (45.59%) had adenocarcinoma. The neutrophil-to-lymphocyte ratio (NLR) ranged from 1.55 to 25.99 in SCC patients, with a mean value of [insert mean value here]. For adenocarcinoma patients, the NLR ranged from 1.32 to 11.99. Conclusion: Neutrophil-lymphocyte ratio can’t differentiate squamous cell carcinoma and adenocarcinoma of cervival cancer.Perbedaan Rasio Neutrofil Limfosit pada Kanker Serviks Tipe Karsinoma Sel Skuamosa dan Tipe AdenokarsinomaAbstrakPendahuluan: Kanker serviks merupakan keganasan yang paling banyak ditemukan pada sistem reproduksi wanita. Berdasarkan temuan histopatologi, terdapat dua jenis kanker serviks yang paling banyak ditemukan, yaitu adenokarsinoma dan karsinoma sel skuamosa (SCC). Setiap jenis memiliki hasil yang berbeda, terutama pada tahap selanjutnya. Rasio neutrofil-limfosit (NLR) merupakan salah satu indikator yang dapat digunakan untuk mengetahui tingkat keparahan inflamasi sehingga dapat memprediksi outcome dan prognosis pada suatu keganasan, termasuk kanker serviks.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan NLR pada kedua jenis kanker serviks Metode: Penelitian ini menggunakan metode observasional analitik retrospektif dengan desain cross-sectional. Data diambil dari rekam medis RSUD Prof. dr. Margono Soekarjo mengenai pasien yang terdiagnosis kanker serviks kedua jenis tersebut selama bulan Januari hingga Desember 2022. Uji Mann-Whitney dilakukan untuk mengetahui perbedaan nilai NLR antara kedua jenis kanker serviks tersebut. Hasil: Antara Januari dan Desember 2022, terdapat 68 pasien yang terdiagnosis kanker serviks. Dari jumlah tersebut, 37 (54,41%) menderita karsinoma sel skuamosa (SCC) dan 31 (45,59%) menderita adenokarsinoma. Rasio neutrofil terhadap limfosit (NLR) berkisar antara 1,55 hingga 25,99 pada pasien SCC, dengan nilai rata-rata [masukkan nilai rata-rata di sini]. Untuk pasien adenokarsinoma, NLR berkisar antara 1,32 hingga 11,99. Kesimpulan: Rasio neutrofil-limfosit tidak dapat membedakan karsinoma sel skuamosa dan adenokarsinoma kanker serviks.Kata kunci: Adenokarsinoma, Kanker Serviks, Rasio Neutrofil-Limfosit,
Adolescence Eclampsia and Maternal Mortality within Sociocultural Problem in Indonesia: A Case Report Rosalina, Phang; Nurdiawan, Windi; Judistiani, Raden Tina Dewi; Permadi, Wiryawan; Setiawan, Dani
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 7 Nomor 3 November 2024
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v7i3.697

Abstract

Introduction: Preeclampsia and eclampsia in adolescent pregnancy is closely related, especially in low-middle income countries. It becomes a public health issue not only in the present but also in the future due to potential complications and as a reflection of the social conditions of a country. This case aims to highlight adolescence eclampsia and current sociocultural and economic problem in Indonesia.Case Report: A 15-year-old, 9-months primigravida (G1P0A0), was referred to our center due to eclamptic seizure. Blood pressure was 160/110 mmHg and cervical dilation is 4 cm with adequate pelvic diameter. After 4 hours, cervical dilation progressed to 6 cm but followed by infrequent fetal heartbeat and CTG reveals category III with late deceleration. Emergency C-section was performed and patient admitted to ICU for 5 days afterwards. However, she was deteriorated and passed away.Conclusion: In addition to physiological immaturity, adolescence pregnancies often face sociocultural problems that lead to higher rates of hypertensive disorders of pregnancy in this population. Early recognition and knowledge of risk factors for preeclampsia are essential for good management, and a faster referral system will reduce maternal mortality.Eklamsia pada Remaja dan Kematian Ibu dalam Masalah Sosial Budaya di Indonesia: Sebuah Laporan KasusAbstrakPendahuluan: Preeklamsia dan eklamsia pada kehamilan remaja sangat erat kaitannya, terutama di negara-negara berpenghasilan menengah ke bawah. Hal ini menjadi masalah kesehatan masyarakat tidak hanya di masa sekarang, tetapi juga di masa depan karena potensi komplikasi dan sebagai cerminan kondisi sosial suatu negara. Laporan kasus ini bertujuan untuk menyoroti eklamsia pada remaja dalam kaitannya dengan masalah sosial budaya dan ekonomi saat ini di Indonesia.Laporan Kasus: Seorang perempuan berusia 15 tahun, primigravida 9 bulan (G1P0A0), dirujuk ke Rumah Sakit Hasan Sadikin, Bandung karena kejang eklamsia. Tekanan darah 160/110 mmHg dan dilatasi serviks 4cm degan diameter panggul yang memadai. Setelah 4 jam, dilatasi serviks berkembang menjadi 6cm, etapi diikuti oleh detak jantung janin yang jarang dan CTG menunjukkan kategori III dengan deselerasi lambat. Operasi caesar darurat dilakukan dan pasien dirawat di ICU selama 5 hari. Namun, keadaan pasien memburuk dan meninggal dunia. Kesimpulan: Selain imaturitas fisiologis, kehamilan remaja sering menghadapi masalah sosiokultural yang menyebabkan tingginya angka hipertensi kehamilan pada populasi ini. Pengenalan dini dan pengetahuan tentang faktor risiko preeklamsia sangat penting untuk manajemen yang baik, dan sistem rujukan yang lebih cepat akan mengurangi angka kematian ibu.Kata kunci: eklampsia, kehamilan remaja, kematian ibu, masalah sosiokultural
The Relationship between Maternal Characteristics and Neonatal Outcomes of Premature Rupture of Membranes Yulius, Will Hans; Aditiyono, Aditiyono; Pramatirta, Akhmad Yogi; Salima, Siti
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 7 Nomor 3 November 2024
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v7i3.682

Abstract

Introduction: Premature rupture of the membranes occurs when the amniotic membrane bursts before 37 weeks of gestation. Preterm labour is the primary cause of perinatal and neonatal death, with premature membrane rupture accounting for 40% of cases. This study aimed to investigate the relationship between the incidence of premature rupture of membranes (PROM) with maternal characteristics and neonatal outcomes.Method: This study was carried out through medical record analysis in premature rupture of membrane patients at the Regional General Hospital Prof. Dr. Margono Soekarjo for the period July 2022 to March 2023 using descriptive and analytical methods with a cross-sectional study design. Results: Among 139 patients with PROM, the majority of patients are less than 35 years old, multipara, term birth, and education level below junior high school. For neonatal outcomes, both infants with PROM and without PROM, the majority were born with normal weight, first and fifth-minute APGAR without asphyxia, and male. The results found a significant relationship between gestational age, maternal education level, birth weight, and neonatal APGAR scores on the incidence of PROM.Conclusions: premature rupture of membrane significantly impact neonatal outcome including birth weight, first-minute APGAR, and fifth-minute APGAR.Hubungan Karakteristik Maternal dan Luaran Neonatus Kasus Ketuban Pecah DiniAbstrakPendahuluan: Ketuban pecah dini terjadi ketika selaput ketuban pecah sebelum usia kehamilan 37 minggu. Persalinan prematur adalah penyebab utama kematian perinatal dan neonatal dengan ketuban pecah dini mencapai 40% kasus. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kejadian ketuban pecah dini dan karakteristik ibu dan luaran neonatal.Metode: Penelitian ini dilakukan melalui analisis rekam medis pada pasien ketuban pecah dini di Rumah Sakit Umum Daerah Prof. Margono Soekarjo periode Juli 2022 hingga Maret 2023. Metode yang digunakan untuk penelitian ini adalah metode deskriptif dan analitik dengan desain studi cross-sectional.Hasil: Dari 139 pasien ketuban pecah dini, mayoritas pasien berusia kurang dari 35 tahun, multipara, lahir cukup bulan, dan tingkat pendidikan di bawah SMP. Untuk luaran neonatal, baik bayi dengan ketuban pecah dini, maupun tanpa ketuban pecah dini, mayoritas lahir dengan berat badan normal, APGAR menit pertama dan kelima tanpa asfiksia, dan berjenis kelamin laki-laki. Hasil penelitian menemukan adanya hubungan yang signifikan antara usia kehamilan, tingkat pendidikan ibu, berat badan lahir, dan skor APGAR neonatus terhadap kejadian ketuban pecah dini.Kesimpulan: ketuban pecah dini berdampak signifikan terhadap luaran neonatal termasuk berat badan lahir, APGAR menit pertama, dan APGAR menit kelima..Kata kunci: ketuban pecah dini, karakteristik maternal, luaran neonatus, study analitik 
Asymptomatic Uterine Fibroid: The Best Management for Improved QOL in Women by Comparing Laparoscopic and Laparoscopy Hysterectomy (Evidence-Based Medicine) Rahmi, Trisha Alya; Gunardi, Eka Rusdianto; Nabila Budi, Yasmine Syifa; Agustina, Nana; Pramayadi, Cepi Teguh
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 7 Nomor 3 November 2024
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v7i3.746

Abstract

Introduction: Uterine Fibroids (UFs) are benign smooth-muscle neoplasms typically originating from the myometrium. Hysterectomy is the most common non-pregnancy-related surgical procedure performed on women. Laparoscopy Hysterectomy (LH) is currently accepted as a safe and efficient way to manage benign uterine disease with a lower risk of trauma and morbidity. A qualitative approach, which focuses on the Quality of Life of each patient, should help navigate which treatment is more beneficial.Case Illustration: A 56-year-old woman (G0P0) came for a health screening. It was known that about 10 years ago, the patient had a history of uterine myoma. Currently, the patient has no complaints, no abdominal pain, no history of bleeding, history of regular menstruation, and no dysmenorrhea. The patient underwent abdominal laparotomy bilateral salpingo-oophorectomy hysterectomy. Methods: We searched through 3 databases: Pubmed, Cochrane, and ProQuest with the keywords: “Abdominal Hysterectomy” OR “Laparoscopy Hysterectomy” AND “UFS-QOL” with critical review based on the criteria of the Oxford Centre for Evidence-Based Medicine for Qualitative-Studies. Conclusion: Studies show that laparoscopic hysterectomy increased patients’ QOL after the procedure, which revolves around symptom elimination and pain reduction. To ensure holistic and best-practice management, an individual assessment of each patient’s condition according to their symptoms and demographics is needed. Fibroid Uterus Asimptomatik: Penanganan Terbaik untuk Meningkatkan Kualitas Hidup Wanita dengan Membandingkan Histerektomi Laparoskopi dan Laparoskopi (Evidence-Based Medicine)AbstrakPendahuluan: Fibroid Uterus (UFs) merupakan neoplasma jinak otot polos yang biasanya berasal dari miometrium. Histerektomi adalah prosedur bedah non-kehamilan yang paling umum dilakukan pada wanita. Laparoskopi Histerektomi (LH) merupakan salah satu cara yang aman dan efisien untuk menangani penyakit uterus jinak dengan risiko trauma dan morbiditas yang lebih rendah. Pendekatan kualitatif yang berfokus pada kualitas hidup setiap pasien akan membantu menentukan pengobatan mana yang lebih bermanfaat.Ilustrasi Kasus: Seorang wanita berusia 56 tahun (G0P0) datang untuk pemeriksaan kesehatan. Diketahui sekitar 10 tahun yang lalu pasien memiliki riwayat mioma uteri. Saat ini pasien tidak memiliki keluhan apa pun, tidak ada nyeri perut, tidak ada riwayat perdarahan, riwayat menstruasi teratur, dan tidak ada dismenore. Pasien menjalani laparatomi abdomen histerektomi salpingo-ooforektomi bilateral. Metode: Peneliti mencari melalui 3 database: Pubmed, Cochrane, ProQuest dengan kata kunci: “Abdominal Histerektomi” ATAU “Histerektomi Laparoskopi” DAN “UFS-QOL” dengan tinjauan kritis berdasarkan kriteria Oxford Centre for Evidence Based Medicine for Qualitative-Studies. Kesimpulan: Penelitian menunjukkan bahwa histerektomi laparoskopi telah terbukti meningkatkan kualitas hidup pasien setelah prosedur dengan tujuan untuk menghilangkan gejala dan mengurangi rasa sakit. Untuk memastikan penatalaksanaan yang holistik dan praktik terbaik, diperlukan penilaian individual terhadap kondisi setiap pasien sesuai dengan gejala dan demografinya.Kata kunci: Fibroid Uterus, Kuesioner Gejala Fibroid Uterus, Laparoskopi Histerektomi, Abdominal Histerektomi
Wound Dehiscence Following Obstetrics and Gynecology Surgeries: An Observational Study at a Tertiary Hospital in Bandung Mantilidewi, Kemala Isnainiasih; Firdaus, Nur’adilah; Kurniadi, Andi; Erfiandi, Febia; Kireina, Jessica; Natasya, Windy; Harsono, Ali Budi
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 7 Nomor 3 November 2024
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v7i3.658

Abstract

Introduction: Wound dehiscence is a severe postoperative complication that disrupts an abdominal wound closure which can be caused by endogenous or exogenous flora that infect a surgical wound. Many factors are responsible for surgical site infection in obstetric and gynecology patients considering all the basic standards are ideally maintained in tertiary care hospitals. To identify the characteristics of surgical wound dehiscence (SWD) patients who underwent obstetric and gynecological surgeries at Dr. Hasan Sadikin Hospital from 2021 to 2022.Methods: This study utilized a quantitative descriptive approach with a retrospective design. Results: A total of 43 subjects were included in the study and were divided into three groups based on their surgery type: obstetrics (n=11), gynecology (n=7), and gynecological oncology (n=25). The majority of SWD cases were associated with gynecological oncology surgeries. The patients were predominantly aged 18-65 years (88%), had superficial SWD (65%), normal BMI (37%), were non-smokers (67%), had a history of steroid medication usage (63%), received prophylactic antibiotics (63%), underwent elective surgery (58%), had laparotomy surgeries (100%), with a duration of ≥180 minutes (35%), and intraoperative bleeding of ≤1500 cc (63%). The surgical wounds were primarily classified as clean type (47%), and therapeutic antibiotics were administered to the majority of patients (74%).Conclusion: Most of our findings were consistent with existing theories. However, the discrepancies observed in some outcomes can serve as an evaluative tool to assess the adherence of current practices to established guidelines. It is crucial to consider the risk factors for SWD when developing preventive strategies.Dehisensi Luka Pascaoperasi Obstetri dan Ginekologi: Sebuah Studi Observasi di Rumah Sakit Tersier Di BandungAbstrakPendahuluan: Dehisensi luka pascaoperasi merupakan komplikasi serius yang dapat mengganggu penutupan luka di perut yang disebabkan oleh adanya flora bersumber secara endogen atau eksogen yang menginfeksi luka operasi. Banyak faktor yang berperan dalam infeksi daerah operasi walaupun sudah dilakukannya semua standar operasional yang selalu dipertahankan di rumah sakit perawatan tersier. Untuk mengetahui karakteristik pasien dehisensi luka pascaoperasi obstetri dan ginekologi di RSUP Dr. Hasan Sadikin.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif retrospektif yang menganalisis faktor praoperatif, intraoperatif, dan pascaoperatif dari subjek penelitian. Hasil: Pada studi ini, terdapat 43 subjek yang selanjutnya dikategorikan menjadi tiga kelompok berdasarkan jenis operasinya: obstetri (n=11), ginekologi (n=7), dan onkologi ginekologi (n=25). Sebagian besar kasus berhubungan dengan operasi onkologi ginekologi, berusia 18 - 65 tahun (88%), memiliki dehisensi luka superfisial (65%), indeks massa tubuh normal (37%), bukan perokok. (67%), memiliki riwayat penggunaan obat steroid (63%), menerima antibiotik profilaksis (63%), menjalani operasi elektif (58%), menjalani operasi melalui laparotomi (100%), dengan durasi ≥180 menit (35%), memiliki luka operasi tipe bersih (47%), mengalami perdarahan intraoperative ≤1500 cc (63%), dan mendapatkan antibiotik terapeutik (74%).Kesimpulan: Sebagian besar hasil studi didapatkan sesuai dengan teori yang telah ada. Kesenjangan yang ditemukan pada luaran studi dapat menjadi alat evaluasi untuk menilai ketaatan pada praktik yang dilakukan untuk kemudian dijadikan pedoman praktik. Penting juga untuk mempertimbangkan faktor risiko dari dehisensi luka pascaoperasi ketika akan mengembangkan strategi preventif.Kata kunci: dehisensi luka pasca operasi, faktor risiko, praoperasi, intraoperasi, pascaoperasi
The Role of Microvascular Density (MVD) in Cervical Cancer: A Article Review Winata, I Gde Sastra; Aryana, Made Bagus Dwi; Marta, Kadek Fajar; Christyani, Fenyta
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 7 Nomor 3 November 2024
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v7i3.720

Abstract

Introduction: The development, invasion and metastasis process of cervical cancer is closely related to the ability of cancer cells in the process of tumor oxygenation and the process of angiogenesis. Angiogenesis plays a very important role in the growth, metastasis and progression of tumor cells. Microvascular Density (MVD) is an examination that counts the number of microvasculature compared to the area of tissue analyzed by histology and immunohistochemistry. Method: This study reviewed literature by searching the Pubmed, ScienceDirect, and Cochran Library Database. The search query included “microvascular” and “cervical cancer”. The study was reviewed using the Preferred Reporting Item for Systemic Reviews and Meta-Analyses (PRISMA) standards. The scope of analysis was restricted to clinical trials conducted from 2011 to 2023Result: Currently, MVD examination is an examination that is often carried out to evaluate the process of intratumor angiogenesis in cancer. By knowing the MVD value in cancer sufferers, it is hoped that it can be considered in determining therapy and assessing the outcome of the course of cervical cancer which can be considered as a prognostic factor. Apart from that, it can complement the theory of other biomolecular prognostic factors that play a role in cervical cancer such as vascular endothelial growth factor (VEGF), Ki-67 protein, p53 tumor suppressor gene, oxygenation factors, especially hypoxia inducible factors-1α (HIF-1α), enzymes protease (matrix metalloproteinase), and cell adhesion molecules (E-Kadherin, catenin).Conclusion: The role of MVD in cervical cancer sufferers as an indicator of prognosis and success of therapy.Peranan Kepadatan Mikrovaskuler (MVD) pada Kanker Serviks: Sebuah Ulasan ArtikelAbstrakPendahuluan: Proses perkembangan, invasi dan metastasis kanker serviks erat kaitannya dengan kemampuan sel kanker dalam proses oksigenasi tumor dan proses angiogenesis. Angiogenesis memainkan peran yang sangat penting dalam pertumbuhan, metastasis, dan perkembangan sel tumor. Kepadatan Mikrovaskular (MVD) merupakan pemeriksaan yang menghitung jumlah mikrovaskular dibandingkan dengan luas jaringan yang dianalisis secara histologi dan imunohistokimia. Metode: Pencarian literatur dilakukan pada database PubMed dan ScienceDirect dan Cochrane Library. Pencarian dilakukan menggunakan istilah “mikrovaskular” dan “kanker serviks”. Penulisan sistematik review disesuaikan dengan pedoman Professed Reporting for Systematic Review and Meta-Analysis (PRISMA). Semua studi yang diinklusi merupakan uji klinis pada periode tahun 2011 – 2023.Hasil: Saat ini MVD merupakan pemeriksaan yang sering dilakukan untuk mengevaluasi proses angiogenesis intratumor pada kanker. Dengan mengetahui nilai MVD pada penderita kanker diharapkan dapat menjadi pertimbangan dalam menentukan terapi dan menilai luaran perjalanan penyakit kanker serviks yang dapat diperhitungkan sebagai faktor prognosis. Selain itu dapat melengkapi teori faktor prognostik biomolekuler lain yang berperan dalam kanker serviks seperti faktor pertumbuhan endotel vaskular (VEGF), protein Ki-67, gen penekan tumor p53, faktor oksigenasi, terutama faktor pemicu hipoksia-1 α (HIF-1 α), enzim protease (matrix metalloproteinase), dan molekul adhesi sel (E-Kadherin, catenin).Kesimpulan: MVD pada penderita kanker serviks berperan sebagai indikator prognosis dan keberhasilan terapiKata kunci: Kepadatan vaskular, kanker serviks, diagnosis
Amniotic Membrane Graft and Hysteroscopic Adhesiolysis as Treatment for Asherman Syndrome Case Rusly, Dewi Karlina; Ritonga, Mulyanusa Amarullah; Rachmawati, Anita; Rinaldi, Andi; Djuwantono, Tono
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 7 Nomor 3 November 2024
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v7i3.603

Abstract

Introduction: Secondary amenorrhea which caused by intrauterine adhesions is called Asherman’s syndrome. This occurs when the uterine cavity becomes partially or completely blocked, which can damage the basal layer of the endometrium and cause the formation of adhesive cicatricial tissue. The prevalence or incidence of Asherman Syndrome ranges from 2.84-5.5% in women. Case Report: A woman 33 years old had a history of amenorrhea for 2 years and three times curettage due to miscariage. Ultrasound findings showed 1.35 cm long cicatrix in the uterine cavity, and probe had only entered 3 cm. The patient underwent hysteroscopy adhesiolysis and grafting of intrauterine amniotic membrane. The intrauterine catheter was monitored for 1 month. Postoperatively the patient also received estradiol valerate therapy 3 x 2 mg for three months. Management of Asherman syndrome with hysteroscopy adhesiolysis with direct observation accompanied by grafting of amniotic membrane using intrauterine catheter tube is one of the techniques to overcome recurrent intrauterine adhesion. Conclusion:  Secondary amenorrhea in Asherman syndrome is better treated operatively with direct observation of the hysteroscopy and adhesiolysis. The using of amniotic membrane graft and supportive therapy are very helpful for the success of endometrial growth and preventing recurrent adhesions, increase the menstrual volume and chances of pregnancy.Pencangkokan Selaput Ketuban dan Histeroskopi Adhesiolisis sebagai Penatalaksanaan untuk Kasus Sindrom AshermanAbstrakPendahuluan: Amenorea sekunder yang disebabkan oleh perlengketan intrauterin disebut sindrom Asherman dengan prevalensi berkisar antara 2,84 - 5,5%.Laporan Kasus: Seorang wanita berusia 33 tahun mempunyai riwayat amenore 2 tahun dan kuretase sebanyak 3 kali akibat abortus. Temuan USG menunjukkan cicatrix sepanjang 1,35 cm di rongga rahim, sondage hanya masuk 3cm. Pasien menjalani histeroskopi adhesiolisis dan pemasangan cangkok selaput ketuban intrauterin. Kateter intrauterin dipantau selama 1 bulan. Pascaoperasi pasien juga mendapat terapi estradiol valerat 3 x 2mg selama tiga bulan. Penatalaksanaan sindrom Asherman dengan histeroskopi adhesiolisis dengan observasi langsung disertai pemasangan cangkok selaput ketuban menggunakan selang kateter intrauterin merupakan salah satu teknik yang efekstif untuk mengatasi adhesiolisis intrauterin berulang.Kesimpulan: Amenore sekunder pada sindrom Asherman lebih baik ditangani secara operatif dengan observasi langsung berupa histeroskopi dan adhesiolisis. Pemasangan cangkok selaput ketuban dan terapi suportif sangat membantu keberhasilan pertumbuhan endometrium dan mencegah perlengketan berulang, meningkatkan volume darah saat menstruasi dan peluang terjadinya pembuahan.Kata kunci: Adhesi intrauterin, Histeroskopi, Pencangkokan selaput ketuban, Rekonstruksi endometrium, Sindrom Asherman.

Page 2 of 4 | Total Record : 32