cover
Contact Name
Wiryawan Permadi
Contact Email
obgyniajurnal@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
obgyniajurnal@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science
ISSN : 2615496X     EISSN : 2615496X     DOI : -
Core Subject : Health,
OBGYNIA (Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science ) adalah jurnal dalam bidang ilmu Obstetri & Ginekologi yang diterbitkan resmi oleh Departemen Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran. OBGYNIA menerbitkan artikel penelitian tentang kemajuan ilmiah, manajemen klinis pasien, teknik bedah, kemajuan pengobatan dan evaluasi pelayanan, manajemen serta pengobatan dalam bidang obstetri & ginekologi.
Arjuna Subject : -
Articles 25 Documents
Search results for , issue "Volume 8 Nomor 3 November 2025" : 25 Documents clear
Diagnosis and Management of Complex Genital Warts: Case Report Surya, Ilham Utama; Gunardi, Eka Rusdianto; Rahmi, Trisha Alya; Putra, Dhifa Dwi; Mirza, Syauqi
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 8 Nomor 3 November 2025
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v8i3.888

Abstract

Introduction: This case reports a pregnancy complicated by condyloma acuminata with co-infection of HIV and tuberculosis (TB). Such a combination is rarely documented and presents significant clinical and therapeutic challenges. This case aims to demonstrate the effectiveness of a simple surgical approach in managing extensive condyloma acuminata during high-risk pregnancy.Case Presentation: A 24-year-old pregnant woman was diagnosed with condyloma acuminata along with confirmed HIV and TB co-infection. Electrocauterization was performed successfully, leading to complete lesion removal and significant improvement in wound healing, with no early recurrence observed. The pregnancy was planned to be delivered by cesarean section.Conclusion: This case demonstrates that, even with multiple comorbidities and a high-risk pregnancy, simple surgical treatments like electrocauterization can be both safe and effective. Early multidisciplinary intervention is crucial for achieving the best maternal outcomes.Diagnosis dan Penatalaksanaan Kondiloma Genital dengan Komplikasi: Laporan KasusAbstrakPendahuluan: Laporan kasus ini membahas kehamilan yang disertai komplikasi berupa kondiloma akuminata dengan ko-infeksi HIV dan tuberkulosis (TB). Kombinasi tersebut jarang didokumentasikan dan menimbulkan tantangan klinis serta terapeutik yang signifikan. Kasus ini bertujuan untuk menunjukkan efektivitas pendekatan bedah sederhana dalam menangani kondiloma akuminata ekstensif pada kehamilan risiko tinggi.Presentasi Kasus: Seorang wanita hamil berusia 24 tahun didiagnosis menderita kondiloma akuminata dengan ko-infeksi HIV dan TB terkonfirmasi. Tindakan elektrokauter berhasil dilakukan dengan hasil berupa pengangkatan lesi secara menyeluruh dan perbaikan yang nyata pada penyembuhan luka, tanpa adanya kekambuhan dini yang teramati. Kehamilan direncanakan untuk dilahirkan dengan operasi sesar.Kesimpulan: Kasus ini menegaskan bahwa dalam konteks komorbiditas multipel dan kehamilan risiko tinggi, penatalaksanaan bedah sederhana seperti elektrokauter dapat aman dan efektif. Intervensi multidisiplin sejak dini sangat penting untuk mencapai luaran maternal yang optimal.Kata kunci: HIV: Kehamilan; kondiloma akuminata; tuberkulosis
Insulin Treatment for Gestational Diabetes Mellitus Winata, I Gde Sastra; Mahendrata, Prayascita; Widia, Made Yudha Ganesa Wikantyas; Setiawan, William Alexander; Nathalia, Jessica
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 8 Nomor 3 November 2025
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v8i3.823

Abstract

AbstractIntroduction: Gestational diabetes is one of the most common pathologies in pregnancy that can potentially cause other complications, both to the mother and the fetus. This condition is considered a global health problem, with Asia having the highest prevalence.Methods: This article is a literature review of publications from the past five years (2019–2024) obtained from the NCBI, PubMed, and Science Direct databases. The keywords used include “gestational diabetes,” “insulin therapy,” “types of insulin,” dan “management”.Results: Insulin remains the gold standard therapy for managing GDM when lifestyle interventions over 1–2 weeks fail to achieve glycemic targets. Various types of insulin, such as human insulin, rapid-acting analogs (lispro, aspart), intermediate-acting insulin (NPH), and basal analogs (detemir, glargine), are considered safe and effective for use during pregnancyDiscussion: The main advantage of insulin is that it does not cross the placenta, thereby avoiding teratogenic risks. Some insulin analogs, such as lispro and detemir, have the advantage of reducing the risk of maternal hypoglycemia and providing more stable glycemic control.Conclusion: Insulin is the only therapy that does not cross the placenta, and most types do not affect pregnancy and fetuses or neonates.Keywords: diabetes gestational; insulin; treatment Pengobatan Insulin untuk Diabetes Mellitus GestasionalAbstrak Pendahuluan: Diabetes gestasional merupakan salah satu patologi yang paling umum terjadi pada kehamilan. Penyakit ini berpotensi menimbulkan komplikasi lain, baik pada ibu maupun janin. Kondisi ini dianggap sebagai masalah kesehatan global dan di Asia memiliki prevalensi tertinggi.Metode: Artikel ini merupakan tinjauan literatur dari publikasi dalam lima tahun terakhir (2019–2024) yang diperoleh dari basis data NCBI, PubMed, dan Science Direct. Kata kunci yang digunakan meliputi “gestational diabetes,” “insulin therapy,” “types of insulin,” dan “management”.Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa insulin tetap menjadi terapi standar emas dalam penatalaksanaan GDM apabila intervensi gaya hidup selama 1 – 2 minggu tidak mampu mencapai target glikemik. Berbagai jenis insulin seperti insulin manusia, analog kerja cepat (lispro, aspart), insulin intermediet (NPH), dan analog basal (detemir, glargine) dinilai aman dan efektif digunakan selama kehamilan.Diskusi: Keuntungan utama insulin adalah tidak melewati plasenta sehingga menghindari risiko teratogenik. Beberapa jenis insulin analog seperti lispro dan detemir memiliki keunggulan berupa penurunan risiko hipoglikemia maternal dan kontrol glikemik yang lebih stabil.Kesimpulan: Insulin merupakan satu-satunya terapi yang tidak melewati plasenta dan sebagian besar jenis insulin tidak memiliki efek pada kehamilan dan janin atau neonatus.Kata kunci: diabetes gestasional; insulin; tatalaksana
Survival Outcomes at Three Years After Primary vs Interval Debulking in Advanced Ovarian Cancer: A Retrospective Study from Hasan Sadikin Hospital (2021) Everdien, Alce; Kurniadi, Andi; Pusianawati, Dini; Nisa, Aisyah Shofiatun; Subhan, Dadang Hawari
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 8 Nomor 3 November 2025
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v8i3.1003

Abstract

Objective: Ovarian cancer is the third most prevalent malignancy among women in Indonesia. The 5-year survival rate is approximately 49%, with 68% of patients diagnosed at an advanced stage. Standard treatment involves debulking surgery, which is categorized into primary debulking surgery (PDS) and interval debulking surgery (IDS). This study aims to compare the survival outcomes of ovarian cancer patients treated with PDS versus IDS at Dr. Hasan Sadikin General Hospital (RSHS) during 2021.Methods: A retrospective review of medical records was performed for ovarian cancer patients who underwent surgery at RSHS in 2021. Patients were classified according to the type of surgical management (PDS or IDS), and survival data were analyzed accordingly.Result: A total of 46 patients were included, with 38 undergoing PDS and 8 undergoing IDS. The mean overall survival was 34.1 months for the PDS group and 27.5 months for the IDS group. Bivariate analysis showed no significant difference in survival between the two groups (HR: 1.810, p = 0.341; 95% CI: 0.53–6.13). However, age (HR: 0.950, p = 0.014; 95% CI: 0.91–0.99) and progression-free survival duration (HR: 0.788, p = 0.0001; 95% CI: 0.71–0.86) were identified as significant prognostic factors for overall survival.Conclusion: The mean overall survival for patients undergoing primary debulking surgery (PDS) was higher than for those undergoing interval debulking surgery (IDS), although this difference was not statistically significant.Angka Kelangsungan Hidup Tiga Tahun Setelah Debulking Primer vs Interval pada Kanker Ovarium Stadium Lanjut: Sebuah Studi Retrospektif di RSUP Hasan Sadikin (2021)AbstrakTujuan: Kanker ovarium merupakan keganasan ketiga terbanyak pada wanita di Indonesia. Angka kelangsungan hidup 5 tahun sekira 49%, dengan 68% pasien datang pada stadium lanjut. Tatalaksana standar melibatkan operasi debulking yang diklasifikasikan menjadi operasi debulking primer (PDS) dan operasi debulking interval (IDS). Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan hasil kelangsungan hidup pasien kanker ovarium yang diobati dengan PDS versus IDS di RSUP Dr. Hasan Sadikin (RSHS) selama tahun 2021.Metode: Sebuah studi retrospektif dilakukan melalui tinjauan rekam medis pasien kanker ovarium yang menjalani tatalaksana bedah di RSHS pada tahun 2021. Pasien dikategorikan berdasarkan jenis tatalaksana bedah (PDS atau IDS), dan data kelangsungan hidup dianalisis.Hasil: Sebanyak 46 subjek diikutsertakan, dengan 38 pasien menjalani PDS dan 8 pasien menjalani IDS. Rerata kelangsungan hidup keseluruhan adalah 34,1 bulan pada kelompok PDS dan 27,5 bulan pada kelompok IDS. Analisis bivariat tidak menunjukkan perbedaan signifikan dalam kelangsungan hidup antara kedua kelompok (HR: 1,810, p = 0,341; 95% CI: 0,53–6,13). Namun, usia (HR: 0,950, p = 0,014; 95% CI: 0,91–0,99) dan durasi kelangsungan hidup bebas progresi (HR: 0,788, p = 0,0001; 95% CI: 0,71–0,86) diidentifikasi sebagai faktor prognostik yang signifikan terhadap kelangsungan hidup keseluruhan.Kesimpulan: Rata-rata kelangsungan hidup keseluruhan pasien yang menjalani operasi debulking primer (PDS) lebih tinggi daripada rata-rata kelangsungan hidup keseluruhan pasien yang menjalani operasi debulking interval (IDS), meskipun tidak signifikan secara statistik.Kata kunci: Angka kelangsungan hidup; kanker ovarium; pembedahan debulking interval; pembedahan debulking primer
Association between Serum Cotinine Levels, Fetal Biometry, and Umbilical Artery Flow in Pregnant Women Exposed to Secondhand Smoke Diana, Margaret; Riu, Deviana Soraya; Madya, Fatmawati; Chalid, St. Maisuri T.; AM, Nasrudin; Tessy, Telly
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 8 Nomor 3 November 2025
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v8i3.956

Abstract

Objective: This study aimed to investigate the impact of SHS exposure on fetal biometry and umbilical artery flow at 24 – 28 weeks of gestation.Methods: This cross-sectional study included 110 pregnant women, divided into a study group (55 passive) smokers and a control group (55 non-passive smokers). Serum cotinine levels were measured using ELISA. Fetal biometry (biparietal diameter, head circumference, abdominal circumference, and femur length) and umbilical artery flow (pulsatility and resistance indices) were assessed via ultrasound and Doppler ultrasonography. Group comparisons were conducted using Chi-square and independent t-tests.Results: The passive smoker group had significantly higher mean serum cotinine levels compared with the control group (10.97 ng/mL vs. 4.53 ng/mL; p = 0.01). However, no statistically significant differences (p > 0.05) were found in any of the fetal biometric parameters or umbilical artery flow indices between the groups. Correlation analyses also showed no significant association between cotinine levels and the measured fetal outcomes.Conclusion: In this second-trimester study, SHS exposure, confirmed by elevated cotinine levels, was not associated with measurable adverse effects on fetal biometry or umbilical artery flow. These non-significant findings underscore the need for longitudinal research to evaluate the cumulative impact of SHS, particularly in the third trimester and on final birth outcomes.Hubungan antara Kadar Kotinin Serum, Biometri Janin, dan Aliran Arteri Umbilikalis pada Ibu Hamil yang Terpapar Asap Rokok PasifAbstrakTujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menelaah dampak paparan asap rokok pasif terhadap biometri janin dan aliran arteri umbilikalis pada usia kehamilan 24 – 28 minggu.Metode: Penelitian potong lintang ini melibatkan 110 ibu hamil yang dibagi menjadi kelompok studi (55 perokok pasif) dan kelompok kontrol (55 bukan perokok pasif). Kadar kotinin serum diukur menggunakan metode ELISA. Biometri janin (meliputi diameter biparietal, lingkar kepala, lingkar perut, dan panjang femur) serta aliran arteri umbilikalis (indeks pulsasi dan indeks resistensi) dinilai melalui ultrasonografi (USG) dan USG Doppler. Perbandingan antarkelompok dianalisis menggunakan uji Chi-square dan uji t independen.Hasil: Kelompok perokok pasif memiliki rerata kadar kotinin serum yang secara signifikan lebih tinggi dibandingkan kelompok kontrol (10,97 ng/mL vs. 4,53 ng/mL; p = 0,01). Namun, tidak ditemukan perbedaan bermakna secara statistik (p > 0,05) pada parameter biometri janin maupun indeks aliran arteri umbilikalis antara kedua kelompok. Analisis korelasi juga tidak menunjukkan adanya hubungan bermakna antara kadar kotinin dengan luaran janin yang diukur.Kesimpulan: Pada penelitian trimester kedua ini, paparan asap rokok pasif yang dikonfirmasi dengan peningkatan kadar kotinin tidak berhubungan dengan efek merugikan yang terdeteksi pada biometri janin maupun aliran arteri umbilikalis. Temuan yang tidak signifikan ini menekankan pentingnya penelitian longitudinal untuk menilai dampak kumulatif paparan asap rokok pasif, terutama pada trimester ketiga dan luaran kelahiran akhir.Kata kunci: Aliran arteri umbilikalis; biometri janin; kotinin; paparan asap rokok pasif
Urinary Complications after Radical Hysterectomy in Cervical Cancer: A Retrospective Cohort Study Pradoto, Muhammad Edo Antariksa; Sutrisno, Sutrisno; Tjahyadi, Dian
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 8 Nomor 3 November 2025
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v8i3.932

Abstract

Objective: Radical hysterectomy and pelvic lymphadenectomy are standard treatments for cervical cancer. A common long-term complication is lower urinary tract dysfunction (LUTD), which can lead to urinary tract infections (UTIs) due to urinary stasis. Incontinence may also increase UTI risk by allowing bacteria to enter through the urethra. This study aims to determine the incidence of LUTD and UTI in cervical cancer patients after radical hysterectomy and to analyze their relationship.Methods: A retrospective cohort study was conducted on patients with stage IA2–IIA2 cervical cancer who underwent radical hysterectomy at Margono Soekarjo General Hospital. Urinary catheters were placed postoperatively, and bladder training was initiated on postoperative day three. Urine samples were collected on day fourteen or upon the return of bladder sensation to assess for urinary tract infection (UTI). The relationship between lower urinary tract dysfunction (LUTD) and UTI was analyzed using.Result: LUTD incidence was 13.8%. UTI incidence was significantly higher in patients with LUTD than in those without (7.7% vs. 1.5%, p < 0.001). The relative risk of UTI in patients with LUTD was 31.1 (95% CI: 6.396–739.029), likely due to the limited sample size.Conclusion: There is a significant association between LUTD and UTI in cervical cancer patients after radical hysterectomy. Early detection and monitoring of bladder function are essential in postoperative care.Keywords: Lower urinary tract dysfunction; radical hysterectomy; urinary tract infection.Komplikasi Urinaria Setelah Histerektomi Radikal pada Kanker Serviks: Studi Kohort RetrospektifAbstrak Tujuan: Histerektomi radikal dan limfadenektomi pelvik merupakan terapi standar untuk kanker serviks. Salah satu komplikasi jangka panjang yang umum adalah disfungsi saluran kemih bagian bawah (Lower Urinary Tract Dysfunction/LUTD), yang dapat menyebabkan infeksi saluran kemih (ISK) akibat stasis urin. Inkontinensia urin juga dapat meningkatkan risiko ISK melalui masuknya bakteri melalui uretra. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi insidensi LUTD dan ISK pada pasien kanker serviks pasca-histerektomi radikal tipe II serta hubungan antara keduanya.Metode: Sebuah studi kohort retrospektif dilakukan pada pasien kanker serviks stadium IA2–IIA2 yang menjalani histerektomi radikal di RSUD Margono Soekarjo. Setelah operasi kateter urin dipasang dan melatih kandung kemih dimulai pada hari ketiga pascaoperasi. Sampel urin dikumpulkan pada hari keempat belas atau saat sensasi kandung kemih kembali untuk menilai adanya infeksi saluran kemih (ISK). Hubungan antara disfungsi traktus urinarius bawah (LUTD) dan ISK dianalisis menggunakan uji Fisher’s exact.Hasil: Penelitian ini menunjukan insidensi LUTD adalah 13,8%. Insidensi ISK secara signifikan lebih tinggi pada pasien dengan LUTD dibandingkan yang tidak mengalami LUTD (7.7% vs. 1.5%, p < 0.001). Risiko relatif ISK pada pasien dengan LUTD adalah 31.1 (CI 95%: 6.396–739.029) karena jumlah subjek penelitian sedikit.Kesimpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara LUTD dan kejadian ISK pada pasien kanker serviks pasca-histerektomi radikal. Deteksi dini dan pemantauan fungsi kandung kemih sangat penting dalam perawatan pascaoperasi.Kata kunci: Disfungsi urin; histerektomi radikal; infeksi saluran kemih

Page 3 of 3 | Total Record : 25