cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan
ISSN : 25988573     EISSN : 25991388     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 130 Documents
Sistem Kesehatan Jiwa di Indonesia: Tantangan untuk Memenuhi Kebutuhan Sri Idaiani; Edduwar Idul Riyadi
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan Vol. 2 No. 2 (2018)
Publisher : Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan (Journal of Research and Development in Health Services)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (528.314 KB) | DOI: 10.22435/jpppk.v2i2.134

Abstract

Abstrak Sistem kesehatan jiwa yang baik akan menghasilkan masyarakat Indonesia yang sehat jiwa dengan ketersediaan pelayanan kesehatan jiwa yang bermutu, merata, tanggap, efisien dan terjangkau. Tulisan ini bertujuan untuk memberikan tinjauan sistem kesehatan jiwa di Indonesia beserta tantangannya. Studi ini merupakan kajian di bidang kesehatan jiwa. Informasi diperoleh melalui telaah kepustakaan, dokumen, curah pendapat, kunjungan ke lapangan dan wawancara terhadap pelaksana program jiwa. Hasil kajian memperlihatkan masih minimnya sumber daya kesehatan, pengeluaran biaya kesehatan yang masih rendah di Indonesia dibandingkan negara-negara tetangga. Sistem informasi kesehatan juga belum memadai. Kelebihan yang dimiliki Indonesia adalah adanya obat psikotropika yang cukup variatif dalam daftar obat esensial, memiliki Undang-Undang Kesehatan Jiwa, dan beberapa Peraturan Menteri Kesehatan yang menyangkut kesehatan jiwa. Meskipun memiliki Undang-Undang Kesehatan Jiwa, namun belum tersedia perangkat hukum dibawahnya untuk melaksanakan Undang-Undang. Peran serta sektor lain serta upaya promotif dan preventif belum dirasakan. Kata kunci: sistem kesehatan jiwa, undang-undang kesehatan jiwa, sumber daya, sistem informasi, Indonesia Abstract A good mental health system will produce a healthy mental Indonesian community with the availability of good quality, equitable, responsive, efficient and affordable mental health services. This paper aims to provide a review of the mental health system in Indonesia and it challenges. This study is a review of mental health. Information is obtained through literatures and documents review, brainstorming, field visits and interviews with the implementers of the mental health program. The result shows that human resources, health expenditure are still minimal than neighbour countries. Health information system has not yet been adequate. The advantages of Indonesia are this country have adequate list of essential medicines, have a Mental Health Law and some Ministerial decree related to mental health. Although Indonesia has a Mental Health Law, but there has no legal devices available under the law to implement it. Other sector role’s and promotive, prevention program have not been felt. Keywords: mental health system, mental health law, resources, information system, Indonesia
Hubungan Antara Gastritis, Stres, dan Dukungan Suami Pasien dengan Sindrom Hiperemesis Gravidarum di Wilayah Kerja Puskesmas Poasia Kota Kendari Syahril Syamsuddin; Hariati Lestari; Andi Faisal Fachlevy
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan Vol. 2 No. 2 (2018)
Publisher : Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan (Journal of Research and Development in Health Services)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (466.132 KB) | DOI: 10.22435/jpppk.v2i2.136

Abstract

Abstrak Salah satu komplikasi kehamilan yang mempengaruhi status kesehatan ibu dan tumbuh kembang janin adalah hiperemesis gravidarum dimana kejadian ini dapat dideteksi dan dicegah pada masa kehamilan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara gastritis, stres, dan dukungan suami dengan sindrom hiperemesis gravidarum di wilayah kerja Puskesmas Poasia kota Kendari tahun 2015. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian analitik dengan menggunakan pendekatan studi potong lintang. Populasi dalam penelitian ini sebanyak 326 orang ibu hamil trimester I. Sampel dalam penelitian ini sebesar 74 ibu hamil yang berada di wilayah kerja Puskesmas Poasia kota Kendari. Metode pengambilan sampel dilakukan yaitu dengan teknik purposive sampling. Hasil analisis statistik menggunakan uji chi-square diperoleh ρ value = 0,000 dengan tingkat kepercayaan 95% (α = 0,05) menunjukan ada hubungan bermakna antara gastritis dengan sindrom hiperemesis gravidarum ρ value (0,380) > 0,001, ada hubungan bermakna antara stres dengan sindrom hiperemesis gravidarum ρ value (0,243) > 0,037, serta ada hubungan bermakna antara dukungan suami dengan sindrom hiperemesis gravidarum ρ value (0,411) > 0,000 di wilayah kerja Puskesmas Poasia kota Kendari Tahun 2015. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa faktor stres, gastritis, dan dukungan suami memiliki hubungan signifikan dengan faktor kejadian hiperemesis gravidarum di wilayah kerja Puskesmas Poasia Kendari. Kata kunci: gastritis, stres, dukungan suami, sindrom hiperemesis gravidarum Abstract One of complications that effect the health status of mother and that growth of the fetus is hyperemesis gravidarum that actually can be detected and prevented during the pregnancy period. This reserach aims at finding out the correlation between gastritis, stress, and support of husband and hyperemesis syndrome gravidarumin working area of Puskesmas Poasia in Kendari Municipality in 2015. This is an analytical research by using cross sectional study approach. The populations of this research were 74 pregnant women in working area of Puskesmas Poasia in Kendari Municipality. The sample was taken by using total sampling technique and chi-square test was used to find out the result of statistical analysis and it was know that result of p value = 0,000 with the trust level of 95% (α = 0,05) shows that there is significant correlation between gastritis and hyperemesis syndrome gravidarum p value (0,380) > 0,001, there is significant correlation between getting stress and hyperemesis syndrome gravidarump value (0,234) > 0,001, and there is a significant correlation between the support of husband and hyperemesis syndrome gravidarum p value (0,411) > 0,000 in working area of Puskesmas Poasia in Kendari 2015. Based on the results of the study it can be concluded that stress factors, gastritis, and husband’s support have a significant relationship with the incidence of hyperemesis gravidarum in the working area of the Poasia Kendari Health Center. Keywords: gastritis, stress, husband’s support, hyperemesis gravidarum
Penelitian Perbedaan Tarif Riil dan INA-CBG’s Penyakit Talasemia di Ruang Perawatan Anak RSUP Sanglah Bali Tahun 2017 Anak Agung Made Wijaya Kusuma; Ketut Ariawati
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan Vol. 2 No. 2 (2018)
Publisher : Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan (Journal of Research and Development in Health Services)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (436.261 KB) | DOI: 10.22435/jpppk.v2i2.171

Abstract

Abstrak Biaya pengobatan suportif seperti transfusi darah dan kelasi besi seumur hidup pada seorang pasien talasemia sangat besar. Hampir seluruh pasien talasemia di RSUP Sanglah Bali merupakan peserta Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) yang menggunakan sistem pola pembayaran Indonesia Case Based Groups (INA-CBG’s). Penelitian dilakukan untuk mengetahui perbedaan tarif biaya riil dan INA-CBG’s penyakit talasemia di ruang perawatan anak RSUP Sanglah Bali. Penelitian potong lintang menggunakan desain deskriptif, dilakukan pada bulan Januari sampai dengan Desember 2017. Data dalam penelitian ini terdiri dari data karakteristik dan perbedaan antara tarif riil rumah sakit dengan tarif INA-CBGs penyakit talasemia di ruang perawatan anak RSUP Sanglah. Terdapat 313 kasus rawat inap dari 29 pasien talasemia yang diikutsertakan dalam penelitian. Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah mendapat nilai positif Rp 534.784.590 (21,8%) dari selisih total tarif paket INA CBG’s dengan total tarif riil rumah sakit pada tahun 2017. Terdapat perbedaan positif antara tarif riil rumah sakit dengan tarif sesuai INA CBG’s pada perawatan anak dengan talasemia di RSUP Sanglah, yang memberi keuntungan bagi pihak rumah sakit. Kata kunci: talasemia, asuransi, JKN, INA-CBG’s Abstract The cost of supportive treatment such as blood transfusion and lifelong iron chelation in thalassemia patient is very expensive. Almost all thalassemia patients at Sanglah Bali Hospital are participants of Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) who use Indonesia Case Based Groups (INA-CBG’s) payment system. The study was conducted to determine the discrepancy hospital and INA-CBG’s fare of Thalassemia disease at pediatric ward Sanglah Bali Hospital. Cross sectional study using descriptive design, conducted in January until December 2017. The data in this study consisted of data on the characteristics and differences between the hospitals real cost with INA-CBG’s fare in the child with Thalassemia disease at Sanglah Hospital. There were 313 inpatient cases of 29 thalassemia patients enrolled in the study. Sanglah Hospital received a positive value of Rp 534,784,590 (21.8%) from discrepancy of the INA CBG’s fare with the total real cost of hospitals in 2017. There is a positive discrepancy between hospital and INA-CBG’s fare of Thalassemia disease at pediatric ward which gives benefits to the hospital. Keywords: thalassemia, insurance, JKN, INA-CBG’s
Faktor yang Berpengaruh terhadap Pemanfaatan Fasilitas Pelayanan Kesehatan Swasta Selma Siahaan
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan Vol. 2 No. 2 (2018)
Publisher : Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan (Journal of Research and Development in Health Services)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (507.058 KB) | DOI: 10.22435/jpppk.v2i2.183

Abstract

Abstrak Studi terhadap faktor yang berpengaruh terhadap pemanfaatan fasyankes swasta dengan analisis lanjut terhadap data Riskesdas 2013 diikuti oleh studi kualitatif yaitu wawancara mendalam terhadap pengguna layanan rawat jalan di 7 fasilitas pelayanan kesehatan swasta masing-masing 5 orang di Kota Tangerang. Tujuan studi ini adalah untuk mengetahui faktor yang berpengaruh terhadap pemanfaatan fasyankes swasta. Kerangka konsep mengikuti kerangka Green L, yaitu melakukan penilaian terhadap faktor predisposing, enabling dan reinforcing. Hasilnya adalah faktor yang berpengaruh signifikan terhadap pemanfaatan fasyankes swasta adalah usia, pekerjaan, kepemilikan asuransi dan untuk penyakit TB paru, diabetes, hepatitis dan hipertensi. Hasil studi kualitatif memperlihatkan faktor yang berpengaruh terhadap pemanfaatan fasyankes swasta tidak berbeda dengan hasil analisis lanjut, yaitu: jarak (akses) dan kepemilikan asuransi kesehatan. Studi ini merekomendasikan bahwa pemerintah perlu intens mendorong peningkatan kualitas fasyankes baik fasyankes pemerintah maupun swasta agar sama-sama memenuhi ekspektasi dan kebutuhan masyarakat dan juga pengaturan, distribusi dan pembinaan terhadap fasyankes swasta. Kata kunci: fasyankes, rawat jalan, asuransi kesehatan, Riskesdas 2013 Abstract It has been conducted study about factors influencing the utilization of private health facilities by further analyses towards Riskesdas 2013 data and followed by qualitative study i.e in-depth interviewed on outpatients in 7 private health care facilities that 5 people respectively in Tangerang city. The aim of this study was to find out factors that influence significantly to the utilization of private health services facilities. Conceptual framework followed Green L concept that is assessment to predisposing, enabling dan reinforcing factors. The results was that ages, occupation and having health insurance were factors that influencing significantly to th the utilization. In addition, TB pulmonary, diabetes, hepatitis and hypertension diseases was also significant. The qualitative study showed factors that influence the utilization of private health services facilities were not far different with the results of further study of Riskesdas 2013 i.e. access (distance) and having health insurance. This study recommended that government should push intensively the improvement of quality health services in public and private health facilities to fulfilled expectation and need of people. In addition, the Government should also continuing to regulate and to guidance private health facilities. Keywords: health services facilities, outpatients, health insurance, Riskesdas 2013
Pengembangan Model Latihan Gerak Pasif-Aktif Terhadap Pelayanan Rehabilitatif Pasien Stroke Hemiplegia RSUD dan RSI Fatimah Kabupaten Cilacap Wahyu Wahid Muttaqin; Furqon Hidayatullah; Muchsin Doewes
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan Vol. 2 No. 2 (2018)
Publisher : Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan (Journal of Research and Development in Health Services)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (470.103 KB) | DOI: 10.22435/jpppk.v2i2.276

Abstract

Abstrak Stroke merupakan gangguan fungsi saraf akut yang disebabkan oleh gangguan peredaran darah otak. Efek dari penyakit ini tidak hanya berdampak pada pasien tetapi juga keluarga dan lingkungan sekitarnya. Tujuan penelitian ini untuk mengembangkan model latihan gerak pasif–aktif yang efektif terhadap peningkatan aktivitas fungsional anggota gerak yang mengalami kelumpuhan pada pasien stroke di RSUD Kabupaten Cilacap. Rancangan penelitian menggunakan eksperimen semu pada bulan Maret 2017. Subyek penelitian ini adalah pasien stroke berjumlah 40 orang, terdiri dari 20 pasien stroke rawat jalan di RSUD Cilacap sebagai kelompok coba dan 20 pasien stroke rawat jalan di RSI Fatimah Cilacap sebagai kelompok kontrol. Intervensi berupa latihan gerak pasif-aktif yang dikembangkan sebelumnya untuk meningkatkan aktivitas fungsional yang diukur dengan Indeks Barthel. Analisis data menggunakan uji t. Pengaruh latihan gerak pasif-aktif dengan menggunakan buku panduan dan audio visual latihan stroke terbukti efektif diterapkan dalam pelayanan rehabilitasi di fasilitas kesehatan, peningkatkan hasil aktivitas fungsional tersebut diukur mengunakan Indeks Barthel. Kata kunci: stroke, pasif-aktif, Indeks Barthel Abstract Stroke is acute nervous function disorder caused by brain circulatory disorders. The effects of this disease not only affect the patient but also the family and the surrounding environment. The purpose of this study was to develop an effective passive-active motion training model for increasing functional activity of limbs who experienced paralysis in stroke patients in Cilacap District Hospital. The research design used a quasi-experimental in March 2017. The subjects of this study were 40 stroke patients, consisting of 20 outpatient stroke patients in Cilacap Regional Hospital as the trial group and 20 outpatient stroke patients at Fatimah Cilacap Hospital as the control group. Interventions in the form of passive-active motion exercises that were developed previously to increase functional activity as identified by the Barthel Index. Data analysed using t test. The effect of passive-active motion examined by using a guide book and audio visual stroke exercises had effectively proved in rehabilitative health service facility, the improvement of functional activity results was examined using Barthel Index. Keywords: stroke, passive-active, Barthel Index
Should Off-Label Medicines Be Included In The Universal Health Coverage (UHC) Schemes? Why, When, and How? Ully Adhie Mulyani
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan Vol. 1 No. 1 (2017)
Publisher : Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan (Journal of Research and Development in Health Services)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (489.121 KB) | DOI: 10.22435/jpppk.v1i1.417

Abstract

Abstract Off label medicine refers to any medicine that is used to treat any ailment beyond of its approved / licensed indication by National Regulatory Authorities, such us FDA in USA and BPOM in Indonesia. Off-label medicines are used because the available and approved drugs do not have the desired effect, then doctors try medicine that have not been licensed indications. Some other reasons in practice off-label medicines use and prescribing are that drugs in the same category have the same effect (although have not been approved by indication), the expansion to a lighter form than the licensed indication, or extension of use for certain related conditions. At the opposite, the disadvantage of the practice off-label medicine use is generally not included in any health insurance benefit package, also not covered by mandatory insurance scheme (JKN-BPJS). Patients should pay for the price of a drug that has not been assured or proven of its efficacy and safety. It needs strong evidence based on scientific research to ensure the safety and effectiveness of off-label medicines to be included in the list of medications (national formulary) to put it on National Health Insurance (BPJS) benefit package. Abstrak Obat off-label adalah obat yang digunakan di luar indikasi yang disetujui oleh lembaga yang berwenang, kalau di Amerika Food and Drug Administration (FDA), sedangkan di Indonesia Badan POM. Obat off label digunakan karena obat yang tersedia dan approved tidak memberikan efek yang diinginkan, sehingga dokter mencoba obat yang belum disetujui indikasinya. Beberapa alasan lain adalah adanya dugaan bahwa obat dari golongan yang sama memiliki efek yang sama (walaupun belum disetujui indikasinya), adanya perluasan ke bentuk yang lebih ringan dari indikasi yang disetujui, atau perluasan pemakaian untuk kondisi tertentu yang masih terkait. Kerugiannya adalah obat off-label umumnya tidak dicover oleh BPJS sehingga pasien harus membayar sendiri harga obat yang belum terjamin efikasi dan keamanannya. Perlu dukungan penelitian yang kuat terhadap keamanan dan efektivitas obat off label agar dapat dimasukkan dalam daftar obat (formularium nasional) yang ditanggung BPJS.
Front Matter Vol. 1 No. 1 Agustus 2017 Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan Vol. 1 No. 1 (2017)
Publisher : Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan (Journal of Research and Development in Health Services)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1015.498 KB)

Abstract

Penggunaan Alat Pengukur Hemoglobin di Puskesmas, Polindes dan Pustu Mukhlissul Faatih
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan Vol. 1 No. 1 (2017)
Publisher : Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan (Journal of Research and Development in Health Services)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (577.326 KB) | DOI: 10.22435/jpppk.v1i1.424

Abstract

Abstrak Menurut RIFASKES 2011, secara nasional, persentase Puskesmas yang mempunyai Hb Sahli adalah 46,3%, sisanya tidak mempunyai atau menggunakan alat pengukur hemoglobin lainnya. Persentase Puskesmas yang memiliki Hb Sahli dan digunakan pada pelayanan KIA adalah sebanyak 37,7% namun belum dapat dikonfirmasi dengan akurat berapa banyak penggunaan alat pengukur Hb POCT di fasilitas pelayanan kesehatan di Indonesia. Tujuan studi ini untuk mendapatkan gambaran kelayakan pemeriksaan hemoglobin menggunakan metode Hb Sahli, POCT hemoglobin atau metode lainnya yang sesuai di fasilitas pelayanan kesehatan Puskesmas, Polindes dan Pustu. Desain studi ini adalah deskriptif kualitatif dengan konfirmasi data melalui wawancara dengan tenaga kesehatan bidan di lapangan, Pustu, Polindes dan Puskesmas terpilih di kab Bantul, Bogor dan Kota Pangkalpinang. Studi ini juga melakukan studi literatur baik dari buku, jurnal, artikel internet dan peraturan perundang-undangan yang terkait dengan penggunaan alat pemeriksa Hemoglobin. Hasil studi ini menunjukkan bahwa di Puskesmas yang diwawancara, umumnya menyediakan alat pemeriksa Hb Hematology Analyzer (HA), Cyanmeth Spectrofotometer dan Hb Sahli. Meskipun metode HA gratis, tetapi hanya dilakukan pada kasus-kasus tertentu saja. Metode spektrofotometer digunakan di Puskesmas sepanjang bahan habis pakai untuk pemeriksaan masih tersedia. Umumnya Puskesmas menggunakan metode Sahli, dan kalaupun menggunakan metode lain, akan kembali menggunakan Sahli, karena metode lain tidak dapat digunakaan dengan berbagai alasan dan kendala di Puskesmas. Pada Puskesmas Pembantu dan Polindes umumnya pemeriksaan Hb dirujuk ke Puskesmas pusat/induk (kecamatan) dan tidak ada ‘laboratorium’ pembantu di Pustu/ Polindes/ Poskesdes. Abstract According to RIFASKES 2011, nationally, the percentage of Puskesmas that has Hb Sahli is 46.3%, the rest do not have or use other hemoglobin measuring devices. Percentage of Puskesmas which have Hb Sahli and used in KIA service is 37,7%. It’s unconfirmed with accurate data on how much the use of POCT HB measuring devices in health care facilities in Indonesia. The purpose of this study was to obtain a feasibility of hemoglobin measuring using Hb Sahli method, POCT hemoglobin or other suitable methods at Puskesmas, Polindes and Pustu have chosen from Bantul, Bogor and Pangkalpinang. The design of this study is descriptive qualitative with confirmation of data through interviews with midwife health personnel in the Pustu, Polindes and Puskesmas. The study also conducts literature studies from books, journals, internet articles and legal documents relating to the use of the Hemoglobin meter. The results of this study indicate that in the Puskesmas interviewed, generally provide Hb Hematology Analyzer (HA), Cyanmeth Spectrofotometer and Hb Sahli. Although the HA method is free of charge, it is only done in certain cases. Spectrophotometer method used in Puskesmas as long as consumables is still available. Generally Puskesmas use Sahli method, and if using other method, it will return to Sahli, because other method can not be used for various reasons and constraints in Puskesmas. In Pustu and Polindes, Hb measurement is generally referred to the Puskesmas (subdistrict) and there is no ‘laboratory’ in Pustu / Polindes / Poskesdes.
Ketersediaan Fasilitas dan Tenaga Kesehatan Dalam Mendukung Cakupan Semesta Jaminan Kesehatan Nasional Misnaniarti Misnaniarti; Budi Hidayat; Pujiyanto Pujiyanto; Mardiati Nadjib; Hasbullah Thabrany; Purnawan Junadi; Besral Besral; Bambang Purwoko; Trihono Trihono; Vivi Yulaswati
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan Vol. 1 No. 1 (2017)
Publisher : Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan (Journal of Research and Development in Health Services)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (406.66 KB) | DOI: 10.22435/jpppk.v1i1.425

Abstract

Abstrak Ketidakmerataan ketersediaan fasilitas kesehatan, tenaga kesehatan dan kondisi geografis yang sangat bervariasi, menimbulkan potensi melebarnya ketidakadilan pemanfaatan kesehatan pada masyarakat di beberapa wilayah di Indonesia. Tujuan tulisan ini adalah untuk mengetahui ketersediaan fasilitas dan tenaga kesehatan (khususnya dokter spesialis) dalam mendukung pelaksanaan JKN. Berdasarkan hasil penelitian terbukti bahwa ketersediaan faktor suplai (FKTL, TT, dan tenaga dokter spesialis) dalam mendukung kebijakan JKN secara umum jumlahnya masih belum mencukupi serta distribusinya belum merata di setiap wilayah kab/kota. Rasio FKTP dan FKTL per penduduk cenderung lebih tinggi di wilayah luar Jawa/Bali. Rasio dokter spesialis per penduduk lebih tinggi di wilayah Jawa/Bali, sedangkan rasio TT di RS cenderung hampir sama range-nya di semua wilayah. Distribusi penyebarannya cenderung tidak merata hampir di semua wilayah. Rekomendasi bagi Pemerintah Daerah diharapkan mempunyai komitmen untuk memenuhi dari sisi suplai pelayanan kesehatan agar penduduk yang sakit dapat mengakses fasilitas kesehatan dengan mudah.
Tekanan Darah Sistolik Penduduk Dewasa dengan Indeks Massa-Tubuh Normal di Indonesia: Analisis Riskesdas 2013 Nurfi Afriansyah; Sri Prihatini; Sri Muljati
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan Vol. 1 No. 1 (2017)
Publisher : Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan (Journal of Research and Development in Health Services)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (467.171 KB) | DOI: 10.22435/jpppk.v1i1.426

Abstract

Abstrak Penduduk dewasa dengan tekanan darah sistolik (TDS) normal dan indeks massa-tubuh (IMT) normal dapat digunakan sebagai nilai acuan untuk mengembangkan nilai kecukupan asupan zat gizi untuk orang dewasa. Data dari partisipan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013 dianalisis untuk penduduk Indonesia dewasa umur 25-59 tahun dengan IMT 18,5—24,9 kg/m2 (n = 19.401). Pada artikel ini, tekanan darah di atas normal merujuk ke TDS >115 mm Hg; itu meliputi kategori prahipertensi dan hipertensi seperti didefinisikan dalam JNC 7. Dua kategori TDS dari partisipan laki-laki dan perempuan tersebut dikelompokkan menjadi empat interval usia (25-29, 30-39, 40-49, 50-59 tahun); lima jenjang pendidikan dan pekerjaan utama kepala keluarga; dua jenis tempat tinggal (kota, desa); lima kuintil kepemilikan; dan 33 provinsi di Indonesia. Di antara orang dewasa dengan IMT normal, 26,2% laki-laki dan 37,6% perempuan memiliki TDS normal. Persentase TDS normal paling tinggi dijumpai pada interval umur termuda, kuintil paling tinggi dan tinggal di kota. Makin bertambah usia, semakin rendah persentase TDS normal. Empat provinsi yang mempunyai persentase tertinggi laki-laki dengan TDS normal adalah Papua Barat, DKI Jakarta, Gorontalo, dan Bali. Sementara empat provinsi yang memiliki persentase paling tinggi perempuan dengan TDS normal ialah Kepulauan Riau, Sulawesi Barat, DKI Jakarta, dan Bali. Bila IMT dan TDS normal orang dewasa akan digunakan antara lain untuk nilai acuan, seperti untuk mengembangkan nilai kecukupan asupan zat gizi untuk orang dewasa, perlu mempertimbangkan nilai batas TDS dan tempat tinggi, terutama kota. Abtract Adult population with normal systolic blood pressure (SBP) among those with normal body-mass index (BMI) can be used as a reference value to develop the Dietary Reference Intakes (DRI) for Adult Data from participants of the Basic Health Research (Riskesdas) 2013 were analyzed for Indonesian adult population aged 25 to 59 years with BMI 18,5—24,9 kg/m2 (n = 19 401). In this paper, above-normal blood pressure refers to SBP >115 mm Hg; this includes all categories of prehypertension and hypertension as defined in 7th report of the Joint National Committee on Prevention, Detection, Evaluation, and Treatment of High Blood Pressure (JNC 7). The two SBP categories of man and woman participants were grouped into fourths of the age intervals (25-29, 30-39, 40-49, 50-59 years); fifths of the educational and main job level of head of household; two types of residence (urban, rural); fifths of the expenditure level per capita per month; and 33rd of the Indonesian provinces. Among adults with normal BMI, 26,2% of men and 37,6% of women had normal SBP. Percentage of the highest normal SBP found in the youngest age interval, the highest quintile and the urban residence. As we get older, the lower the percentage of normal SBP. The four provinces that have the highest percentage of men with normal SBP were West Papua, DKI Jakarta, Gorontalo, and Bali. The four provinces having the highest percentage of women with normal SBP were Riau Island, West Sulawesi, DKI Jakarta, and Bali. If the adult’s normal BMI and SBP will be used among other things for a reference value, such as to develop the DRI, it is necessary to consider the SBP thresholds and residence, in particular the urban.

Page 4 of 13 | Total Record : 130