cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Anestesiologi Indonesia
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : 23375124     EISSN : 2089970X     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal Anestesiologi Indonesia (JAI) diterbitkan oleh Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) dan dikelola oleh Program Studi Anestesiologi dan Terapi Intensif Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro (UNDIP) bekerjasama dengan Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) cabang Jawa Tengah.
Arjuna Subject : -
Articles 341 Documents
Epidural Labor Analgesia pada Ibu Hamil dengan Blok Total Atrioventrikuler yang Terinfeksi Coronavisrus Disease–19 (COVID-19) Oktavian Rizki Ilahi; Juni Kurniawaty; Ratih Kumala Fajar Apsari
JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) Vol 15, No 2 (2023): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jai.v0i0.53355

Abstract

Latar Belakang: Melahirkan tanpa rasa sakit merupakan salah satu hak dari ibu hamil. Pemilihan persalinan dengan epidural tentu akan menjadi pilihan untuk meminimalisir nyeri persalinan, terutama ditujukan pada pasien dengan problem jantung untuk meminimalisir stres selama persalinan.Kasus: Kami laporkan pasien wanita 29 tahun dengan G1P0A0, usia kehamilan 40 minggu dengan riwayat total AV blok yang sedang mengalami persalinan yang direncanakan melahirkan bayi pervaginam, saat hari admisi pasien diskrining swab polymerase chain reaction (PCR) dan dinyatakan terkonfirmasi infeksi coronavirus disease-19 (COVID-19). Pasien kemudian dipasang epidural, monitor invasif artery line, dan dirawat di ruang isolasi intensif. Nyeri terkontrol dengan epidural kontinyu, tidak ada keterlambatan maju pada persalinan, dan kondisi hemodinamik ibu stabil sampai bayi dilahirkan dengan penilaian appearance, pulse, grimace, activity, respiration (APGAR) skor 9.Pembahasan: Teknik neuraksial terutama epidural merupakan pilihan utama analgesi maupun anestesi pada pasien dengan total AV blok dikarenakan memiliki analgetik poten serta meminimalisir gejolak hemodinamik apabila akan segera dilakukan operasi sesar.Kesimpulan: Penggunaan permanent pacemaker tidak direkomendasikan pada pasien asimtomatik namun kardiolog harus dilibatkan untuk sewaktu – waktu memasang temporary pacemaker seperti pada pasien ini. Selain itu penggunaan epidural memungkinkan untuk diberi dosis kontinyu ataupun patient controlled epidural analgesia pada pasien isolasi intensif dengan infeksi COVID-19.
Analisis Terhadap Faktor Risiko Yang Berhubungan Dengan Mortalitas Pasien Sindrom Guillain-Barré Yang Dilakukan Plasmaferesis Primta Bangun; Reza Widianto Sudjud; Ardi Zulfariansyah
JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) Publication In-Press
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jai.v0i0.56915

Abstract

Latar Belakang: Guillain-Barré Syndrome (GBS) merupakan penyakit autoimun yang mengenai sistem saraftepi yang banyak ditemukan di dunia. Penyakit inimemiliki manifestasi berupa kelemahan, arefleksia ototsecara progresif dan dapat menyebabkan kelemahan pada otot-otot pernapasan. Hal ini menyebabkan penderitamembutuhkan bantuan ventilasi mekanik. AmericanSociety for Apheresis (ASFA) menyatakan pengobatan linipertama krisis Guillain-Barré Syndrome (GBS) fase akutadalah dengan pemberian Therapeutic Plasma Exchange/Plasmaferesis. Therapeutic Plasma Exchange merupakan prosedur yang relatif aman dan sudah seringdilakukan di General Intensive Care Unit (GICU) RumahSakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung.Tujuan: Penelitian ini dilakukan untuk menganalisisfaktor-faktor risiko yang berhubungan dengan mortalitaspasien GBS yang telah menjalani terapi plasmaferesis.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian analitikmultivariat dengan desain kasus kontrol yang dilakukanpada 55 sampel pasien GBS yang mendapatkan terapiplasmaferesis di GICU RSHS Bandung dan Rumah Sakit(RS) Bhayangkara Tingkat II Medan. Penelitian inibersifat retrospektif dengan mengambil data dari rekammedis serta menyajikan karateristik dasar subjek.Hasil: Penelitian ini mendapatkan hasil bahwa diantarafaktor-faktor risiko yaitu usia, komorbid, dan lama penggunaan ventilasi mekanik, yang paling berhubungandengan mortalitas pasien GBS yang telah menjalani terapiplasmaferesis adalah faktor lamanya penggunaan ventilasimekanik >14 hari.Kesimpulan: Faktor risiko penggunaan mesin ventilasimekanis berkepanjangan (>14 hari) berhubungan dengantingginya kejadian mortalitas/kematian pada pasien GBS yang menjalani terapi di RSHS Bandung, maupun di RS Bhayangkara Tingkat II Medan. 
SWOT Analisis Pelayanan Klinik Nyeri Rumah Sakit St. Elisabeth Semarang Jerry Ferdinand Haposan Saragih; Sri Achadi Nugraheni; Mateus Sakundarno Adi
JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) Vol 15, No 2 (2023): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jai.v0i0.54419

Abstract

Latar belakang: Klinik nyeri Rumah Sakit St. Elisabeth Semarang merupakan satu-satunya klinik nyeri kolaboratif multidisiplin yang ada di kota Semarang. Klinik nyeri ini berdiri pada tahun 2019 dimana pada saat awal berdiri sudah ada pasien yang berkunjung akan tetapi setelah adanya pandemi COVID-19 klinik nyeri mengalami penurunan kunjungan. Penerapan pelayanan kesehatan yang berkualitas di klinik nyeri Rumah Sakit St. Elisabeth Semarang perlu memperhatikan faktor internal maupun faktor ekstenal dari klinik nyeri. Selain itu hasil analisa strength, weakness, opputunity, thread (SWOT) dari internal factors summary (IFAS) dan external factors summary (EFAS) dapat membantu manajemen Rumah Sakit St. Elisabeth Semarang dalam mengelola implementasi strategi secara efektif. Namun analisa SWOT belum dilakukan oleh klinik nyeri Rumah Sakit St. Elisabeth Semarang.Tujuan: Menganalisis pelayanan klinik nyeri Rumah Sakit St. Elisabeth Semarang dengan menggunakan metode SWOT.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional partisipatif multiple time approach. Pengumpulan menggunakan data primer yang dilakukan dengan metode kualitatif melalui wawancara mendalam secara langsung dari informan penelitian. Terdiri dari 7 informan utama dan 5 informan triangulasi. Analisis data dari wawancara mendalam dilakukan dengan menggunakan interactive model.Hasil: Kekuatan terbesar yang dimiliki klinik nyeri yakni mempunyai sumber daya manusia (SDM) yang sangat kompeten dan professional serta tarif klinik nyeri yang lebih murah daripada rumah sakit lainnya. Kelemahan terbesar dari klinik nyeri yakni strategi pemasaran yang belum maksimal dan metode pembayaran yang belum bisa menggunakan jaminan kesehatan nasional (JKN). Peluang terbesar yang dimiliki klinik nyeri adalah mempunyai peralatan dan sarana prasarana yang canggih. Ancaman terbesar bagi klinik nyeri adalah konflik antar dokter spesialis penanggung jawab pasien dan konflik antar unit layanan lain. Penggunaan matriks thread-oppurtunity, weakness-strength (TOWS) yang mendukung strategi SWOT.Kesimpulan: Analisis SWOT dan matriks TOWS dalam penelitian ini dapat membantu peneliti dalam menentukan startegi pelayanan yang baik bagi klinik nyeri Rumah Sakit St. Elisabeth Semarang. 
Manajemen Perioperatif pada Pasien Hipertensi Pulmonal Akibat Kelainan Jantung Kiri yang Menjalani Operasi Bedah Jantung Rifdhani Fakhrudin Nur; Juni Kurniawaty; Bhirowo Yudo Pratomo
JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) Vol 15, No 1 (2023): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jai.v0i0.49535

Abstract

Hipertensi pulmonal akibat kelainan jantung kiri (PH-LHD) pada pasien yang menjalani bedah jantung dihubungkan dengan tingginya komplikasi, peningkatan risiko luaran buruk, dan kenaikan mortalitas perioperatif. Manajemen praoperatif pada pasien PH-LHD meliputi anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang, serta kateterisasi jantung kanan untuk menegakkan diagnosis definitif. Optimalisasi praoperatif dilakukan dengan memastikan kondisi euvolemik, meneruskan pengobatan sebelumnya, sampai memberikan perawatan intensif pada kondisi gagal jantung dekompensasi akut. Selain pemantauan invasif standar, pemantauan transesophageal echocardiography intraoperatif digunakan untuk menganalisis PH dan mengenali kelainan jantung kiri yang menyebabkan PH. Induksi anestesi dilakukan dengan teknik anestesi balans antara opioid dan agen inhalasi dosis rendah. Pada PH-LHD yang disebabkan lesi katup, target hemodinamik disesuaikan dengan jenis kelainan katupnya. Target manajemen pascaoperatif adalah menghindari dan mengobati gagal ventrikel kanan dengan mengatasi aritmia, melakukan strategi ventilasi mekanik pelindung ventrikel kanan, memastikan keseimbangan cairan, dan memberikan dukungan obat vasoaktif jika diperlukan.
Pain Severity in Post-Caesarean Section and Its Preoperative Factors Derajad Bayu Atmawan; Hanifa Agung Kurniawan; Reza Ishak Estiko; Trisya Allinda
JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) Publication In-Press
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jai.v0i0.57730

Abstract

Background: According to World Health Organization (WHO), the global prevalence of cesarean section (C-section) reaches 21% of all deliveries and is expected to increase to 29% by 2030. This major surgery is associated with moderate to severe postoperative pain, which can affect postoperative recovery.Objective: This study aims to identify preoperative factors that affect post-cesarean pain with numeric rating scales 12 and 24 hours postoperative.Methods: A cross-sectional study was conducted at dr. Soehadi Prijonegoro Hospital, Sragen, Indonesia. The subject criteria are: (1) willing to participate in this study, (2) age more than 18 years old, (3) cooperative and communicative, and (4) not in disability condition. This research has conducted ethical approval by the Ethics Committee of dr. Soehadi Prijonegoro Hospital prior to the study.Results: We obtained 30 subjects, with no dropouts, aged 22 to 44 years, with 20% being older than 35 years pregnant women. Preoperative factors were multigravida, previous C-section, overweight to severe obesity, preeclampsia, fetal malposition, preterm premature rupture of the membranes, human immunodeficiency, malnutrition, preterm labor, hepatitis B, and anemia. Also, 83.3% of patients underwent emergency surgery. Most patients experienced moderate to severe pain 2 hours postoperation, and mild to moderate pain 24 hours postoperation.Conclusion: No significant correlation was found between preoperative factors and postoperative pain (p>0.05). Nonetheless, pain management should be tailored to each patient’s clinical condition.
Manajemen Anestesi Perioperatif Pasien Kardiomiopati Hipertrofi Obstruksi Ni Putu Novita Pradnyani; Chairil Gani Koto
JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) Vol 15, No 1 (2023): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jai.v0i0.52497

Abstract

Latar Belakang: Kardiomiopati hipertrofi (HCM) adalah kondisi dominan autosomal. Penyebab penting kematian mendadak orang dewasa muda. Meskipun sering tanpa gejala, gejala yang muncul pada kardiomiopati hipertrofi adalah  gagal jantung seperti sesak napas, nyeri dada pada aktivitas, sinkop atau pra-sinkop, aritmia, dan kematian mendadak. Tanda-tanda yang bisa ditemukan seperti hipotensi, denyut nadi rendah, heave ventrikel kiri, murmur sistolik ejeksi, dan murmur regurgitasi mitral. Pasien dengan kondisi ini menjadi tantangan untuk ahli anestesi dalam operasi elektif dan gawat darurat.Kasus: Pasien wanita 29 tahun, dengan diagnosa kardiomiopati hipertrofi obstruksi dan vegetasi yang akan dilakukan tindakan miektomi saluran keluar ventrikel kanan (RVOT), saluran keluar ventrikel kiri (LVOT), dan evakuasi vegetasi. Selama operasi hemodinamik dipertahankan untuk menjaga denyut jantung antara 60-90 denyut per menit, tekanan darah rata-rata 60-70 mmHg. End tidal carbon dioxide (EtCO2) dipertahankan antara 35-40 mmHg dan central venous pressure (CVP) dijaga tetap tinggi pada periode sebelum dan sesudah bypass. Periode weaning hingga pasca bypass, hemodinamik dipertahankan dengan milrinon (0,375 mcg/kgBB/menit) dan dilakukan pemasangan temporary pacemaker (TPM) karena didapatkan irama atrioventricular (AV) block. Pasien dilakukan miektomi septum, release LVOT, reseksi double chamber right ventricular (DCRV), dan evakuasi vegetasi. Pascaoperasi pasien dirawat di intensive care unit (ICU). Selama perawatan di ICU permasalahan yang dihadapi yaitu aritmia maligna.Pembahasan: Teknik anestesi dan manajemen perioperatif pasien ini harus bertujuan untuk menjaga stabilitas hemodinamik, mempertahankan preload dan afterload yang memadai. Menghindari vasodilator dan menghindari agen yang meningkatkan kontraktilitas sangat penting dalam pengelolaan pasien ini. Tujuan intraoperatif termasuk mempertahankan irama sinus, meminimalkan rangsangan stres dan meminimalkan atau mencegah obstruksi saluran keluar ventrikel kiri.Kesimpulan: Kardiomiopati hipertrofi menimbulkan banyak tantangan unik mengenai pelaksanaan anestesi. Preload yang memadai, kontrol stimulasi simpatik, denyut jantung dan peningkatan afterload diperlukan untuk mengurangi obstruksi saluran keluar ventrikel kiri.
Comparison of The Effectiveness Between Fentanyl and Ketamine as Adjuvant Epidural Analgesia with Ropivacaine In Post Operation of The Lower Extremity Pratama, Mhd. Rizki; Ihsan, Mhd.; Hamdi, Tasrif; Eyanoer, Putri Chairani
JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) Vol 17, No 1 (2025): JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia)
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jai.v0i0.64228

Abstract

Background: One typical side effect that frequently follows surgery is pain. Lower limb surgery procedures can cause tissue and nerve damage. When compared to systemic opioids, epidural analgesia provides better postoperative analgesia. Adjuvants extend and intensify sensory blockage, which increases the effectiveness of local anesthesia. They also cause the dose of local anesthetic drugs to be reduced.Objective: To determine the comparative effectiveness of adjuvant fentanyl compared with ketamine and ropivacaine as adjuvant epidural analgesia in post-lower extremity surgery patients.Methods: The purpose of this randomized controlled experiment is to compare the efficacy of ketamine and fentanyl as adjuvant epidural analgesia in postoperative lower extremities when combined with ropivacaine. In this study, two groups of patients were given epidural anesthesia: the first group received ropivacaine 0.25% with 125 mcg of fentanyl adjuvant, while the second group received ropivacaine with 0.25% with ketamine 10 mg. The double-blind technique was used to select a total sample of 29 individuals from each group based on inclusion and exclusion criteria. The assessment of pain scores, hemodynamics, treatment-related side effects, and bromage scores was used to test both groups.Result: The T5 assessment showed a substantial difference in the pain scores at rest. With a total of 14 side effects, blood pressure and pulse rate fluctuations were the most common, accounting for 20% of the side effects. Despite this, patients in the ropivacaine + ketamine adjuvant group continued to experience hemodynamic stability and comfort. There were two side effects in the fentanyl combination group, with nausea being the most common. Between the therapy groups, there was no difference in the recovery of the bromage score (p>0.05).Conclusion: Ropivacaine-ketamine has favorable effectiveness as an analgesia adjuvant compared to ropivacaine-fentanyl.
Sepsis-Induced Coagulopathy as a Risk for Postoperative Arterial Thrombosis: A Case Report Permana, Septian Adi; Swastikasari, Dewi
JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) Vol 17, No 1 (2025): JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia)
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jai.v0i0.57473

Abstract

Background: Venous thromboembolic disease and arterial thrombosis are recognized as common causes of hospital mortality, especially in postoperative patients, those who are immobilized, and individuals with sepsis. Coagulopathy is a significant factor due to the interaction between inflammation and coagulation, stemming from widespread endothelial damage.Case: We report manifestations of sepsis-induced coagulopathy (SIC) in a 64-year-old woman who was treated at the intensive care unit (ICU) of RSUD Dr. Moewardi with peripheral arterial disease. The patient was treated for 20 days in the ICU with a multidisciplinary approach. The patient's clinical outcome was good and planned for follow-up during outpatient care.Discussion: Thrombosis and inflammation are distinct yet closely interconnected physiological processes. In a normal physiological context, the activation of the coagulation system by inflammation is a component of the body's defense mechanism against pathogens, aiming to restrict their spread within the bloodstream. This protective response involves the interaction between innate immune cells and platelets.Conclusion: By gaining a deeper insight into sepsis-associated coagulopathy (microthrombopathy), we can develop effective treatments that specifically target the microthrombotic pathway involved in endothelial damage.
Anesthetic Management in Cerebellopontine Angle Tumor Craniotomy with a History of Nasopharyngeal Tumor Fitryono, Eko Prasetyo; Prihatno, Muhammad Mukhlis Rudi; Suryani, Shila
JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) Vol 16, No 3 (2024): JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia)
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jai.v0i0.62326

Abstract

Background: Cerebellopontine angle (CPA) tumor is the most common type of neoplasm found in the posterior fossa. In this case report, we aim to describe the anesthetic management of craniotomy surgery in patient CPA tumor with a history of nasopharyngeal tumor.Case: A 49 years old female patient, weight 58 kg, was admitted with the main complaint of headache, dizziness, her lips drooped to the right and her left eye could not close completely. The left extremity is weak, walk unsteadily, the vision in both eyes is blurry, the left hearing is decreased. There is a history of nasopharyngeal carcinoma from biopsy results in 2019. The patient is diagnosed with a CPA tumor, a craniotomy will be performed under general anesthesia, the patient is fasted for 8 hours before surgery, which was administration of premedication ondansetron 4 mg iv, dexamethasone 5 mg iv. Preemptive analgesia sufentanyl 15 mcg iv, thiopental induction 250 mg iv, muscle relaxant rocuronium 30 mg iv, fresh gas flow (FGF) 3 L/min, maintenance with sevoflurane gas 2%, rocuronium 20 mg/hour syringe pump, dexmedetomidine 20 mcg/hour syringe pump. Analgetics after surgery patient was given morphin 1 mg/hour syringe pump, paracetamol 3x1 gr iv. After craniotomy the patient condition improved, complaints before surgery decreased.Discussion: In this cases report, patient with CPA tumor underwent craniotomy surgery under general anesthesia. During operation, in neuroanesthesia management is to maintained hemodynamic stability.Conclusion: Anesthetic management of CPA tumor starts from pre-surgical evaluation, premedication, induction, durante position, anesthetic management and supervision. Anesthesia has a very important role in the overall management of these patients to obtain good surgical results.
Enteral Nutrition Tolerability Assessment in Septic Shock Patients in The ICU of RSUP H. Adam Malik Medan Ansari, Aulia Kamal; Lubis, Andriamuri Primaputra; Nadeak, Rommy Fransiscus
JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) Vol 16, No 3 (2024): JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia)
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jai.v0i0.58873

Abstract

Background: Enteral nutrition is recommended within 24 to 48 hours after intensive care unit (ICU) admission when resuscitation and hemodynamic stability have been achieved. This study aims to determine the tolerability of enteral nutrition in septic shock patients in the ICU. Objective: To determine the tolerability of enteral nutrition in septic shock patients in the ICU of RSUP H. Adam Malik Medan.Methods: This study is a retrospective observational study, which was conducted in the ICU of the RSUP H. Adam Malik Medan by taking patient data from January to December 2022. The samples were septic shock patients who were admitted to the ICU using mechanical ventilation and vasopressors with a length of treatment of more than 48 hours. Data was collected on the time required for enteral nutrition administration, as well as assessing patient tolerability (presence of vomiting, residuals, and incidence of ileus). Other assessments included length of stay and mortality rate.Result: This study consisted of 47 samples, with 23 male (48.9%) and 24 female (51.1%) samples. Based on the underlying disease, 40.4% of the samples were diagnosed with pneumonia. In the tolerability of enteral nutrition, 83% of the samples were tolerant of early enteral nutrition, but with a high mortality rate of 89.4%. The initiation time of enteral nutrition in patients was 4.94 ± 1.79 hours (p=0.001). The average hospital stay for sepsis patients was 7.30 ± 6.55 days (p=0.001).Conclusion: Most sepsis and septic shock patients in the ICU are tolerant of early enteral nutrition <24 hours, but it does not reduce mortality.

Filter by Year

2009 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 17, No 3 (2025): JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) Vol 17, No 2 (2025): JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) Vol 17, No 1 (2025): JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) Vol 16, No 3 (2024): JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) Vol 15, No 2 (2023): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 15, No 1 (2023): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 14, No 3 (2022): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 14, No 2 (2022): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 14, No 1 (2022): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 13, No 3 (2021): Jurnal Anestesiologi Indonesia (Issue in Progress) Vol 13, No 3 (2021): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 13, No 2 (2021): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 13, No 1 (2021): Jurnal Anestesiologi Indonesia Publication In-Press Vol 12, No 3 (2020): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 12, No 2 (2020): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 12, No 1 (2020): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 11, No 3 (2019): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 11, No 2 (2019): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 11, No 1 (2019): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 10, No 3 (2018): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 10, No 2 (2018): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 10, No 1 (2018): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 9, No 3 (2017): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 9, No 2 (2017): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 9, No 1 (2017): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 8, No 3 (2016): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 8, No 2 (2016): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 8, No 1 (2016): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 7, No 3 (2015): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 7, No 2 (2015): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 7, No 1 (2015): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 6, No 3 (2014): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 6, No 2 (2014): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 6, No 1 (2014): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 5, No 3 (2013): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 5, No 2 (2013): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 5, No 1 (2013): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 4, No 3 (2012): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 4, No 2 (2012): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 4, No 1 (2012): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 3, No 3 (2011): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 3, No 2 (2011): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 3, No 1 (2011): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 3, No 1 (2011): JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) Vol 2, No 3 (2010): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 2, No 2 (2010): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 2, No 1 (2010): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 1, No 3 (2009): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 1, No 2 (2009): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 1, No 1 (2009): Jurnal Anestesiologi Indonesia More Issue