cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
BULETIN OSEANOGRAFI MARINA
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : 20893507     EISSN : 25500015     DOI : -
Core Subject : Science,
Buletin Oseanografi Marina (BULOMA) adalah jurnal yang menginformasikan hasil penelitian dan telaah pustaka tentang aspek Oseanografi, Ilmu Kelautan, Biologi Laut, Geologi Laut, Dinamika Laut dan Samudera, Estuari, Kajian Enerji Alternatif, Mitigasi Bencana, Sumberdaya Alam Pesisir, Laut dan Samudera.
Arjuna Subject : -
Articles 374 Documents
Estimasi Serapan Karbon pada Kawasan Mangrove Tapak di Desa Tugurejo Semarang Nurul Yaqin; Mayang Rizkiyah; Epafras Andrew Putra; Suryanti Suryanti; Sigit Febrianto
Buletin Oseanografi Marina Vol 11, No 1 (2022): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v11i1.38256

Abstract

Pemanasan global ditandai dengan meningkatnya suhu permukaan bumi yang diakibatkan meningkatnya konsentrasi gas rumah kaca diatmosfer seperti gas CO2 dan CH4 yang dihasilkan dari sektor industri, aktivitas transportasi, dan kegiatan pertanian maupun peternakan. Ekosistem mangrove memiliki fungsi ekologis yang penting bagi wilayah pesisir sebagai penyerap dan penyimpan karbon dalam upaya mitigasi pemanasan global. Kawasan pesisir pantai di Desa Tugurejo yang memiliki mangove adalah wilayah Tapak. Luas mangrove di kawasan Tapak mencapai ±3,00 Ha. Maka perlu adanya penelitian tentang potensi mangrove tersebut sebagai penyerap dan penyimpan karbon. Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah mengetahui estimasi simpanan dan serapan CO2 dikawasan desa Tugurejo Semarang. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode survey. Simpanan karbon pada batang mangrove menggunakan metode non-destructive sampling dengan persamaan alometrik untuk jenis dan penentuan karbon organik serasah dan sedimen menggunakan metode LOI (Loss On Ignition). Penentuan stasiun menggunakan metode purposive sampling.Hasil penelitian yang diperoleh ditemukan 2 jenis mangrove yaitu Rhizopora mucronata dan Avicennia marina. Kandungan karbon pada tegakan mangrove sebesar 399,06 tonC/ha. Serapan CO2 pada tegakan sebesar 1.463,22 ton/ha. Kandungan karbon pada sedimen 760,908 tonC/ha. Serapan CO2 pada sedimen sebesar 2.789,996 ton/ha. Kandungan karbon pada serasah sebesar 8,19 ton/ha/hari dan serapan CO2 sebesar 30,02 ton/ha/hari. Global warming is marked by an increase in the earth's surface temperature due to the increasing concentration of greenhouse gases in the atmosphere such as CO2 and CH4 gases produced from the industrial sector, transportation activities, and agricultural and livestock activities. Mangrove ecosystems have important ecological functions for coastal areas as carbon sinks and stores in efforts to mitigate global warming. The coastal area in Tugurejo Village which has a mangove is the Tapak area. The mangrove area in the Tapak area reaches ± 3.00 Ha. So there is a need for research on the potential of mangroves as carbon sinks and stores. The purpose of this research is to determine the estimated CO2 savings and absorption in the village area of Tugurejo, Semarang. The method used in this research is the survey method. The survey method is direct observation and sampling in the field. Determination of the station using purposive sampling method. The results obtained were found 2 types of mangroves, namely Rhizopora mucronata and Avicennia marina. The carbon content in the mangrove stands was 399.06 ton C / ha. CO2 uptake in stands was 1463.22 ton/ha. The carbon content in the sediment was 760,908 tonC / ha. The absorption of CO2 in the sediment is 2789,996 ton/ha. The carbon content in the litter is 8.19 ton/ha/ day and CO2 absorption is 30.02 ton/ha/day.
Penilaian Kuantitatif Risiko Wisata di Kawasan Wisata Pantai Pangandaran Raihan Dikara; Ankiq Taofiqurohman; Iskandar iskandar
Buletin Oseanografi Marina Vol 11, No 1 (2022): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v11i1.34095

Abstract

Pantai Pangandaran merupakan salah satu objek wisata pesisir yang terletak di Kabupaten Pangandaran, Provinsi Jawa Barat dan merupakan salah satu obyek wisata unggulan di Provinsi Jawa Barat. Tetapi wisata di Pantai Pangandaran memiliki potensi bahaya fisik dan dalam beberapa kasus menimbulkan korban jiwa. Riset ini bertujuan untuk mengidentifikasi potensi bahaya fisik pantai bagi keselamatan pengunjung, menilai tingkatan risiko dari potensi bahaya fisik pantai bagi keselamatan pengunjung, dan menentukan penyebab tingginya risiko wisata di Kawasan Wisata Pantai Pangandaran. Metode yang digunakan riset ini adalah metode assessment. Data yang digunakan pada assessment tingkat risiko pantai yaitu: jumlah pengunjung, jumlah lifeguard, panjang pantai, jumlah rambu, penggunaan lifejacket, kecelakaan wisatawan, tipe pantai, dan tinggi gelombang. Hasil riset menunjukkan Kawasan Wisata Pantai Pangandaran termasuk kedalam tipe pantai longshore bar and trough. Kawasan Wisata Pantai Pangandaran termasuk kedalam kategori multiple fatalities dengan nilai R (tingkat risiko) lebih dari 200 di semua pantai pada periode low season ataupun high season. Khusus Pantai Barat pada periode high season kategori menurun menjadi fatal. Terdapat perbedaan nilai R yang signifikan pada kedua periode. Perbedaan nilai R menunjukan Kawasan Wisata Pantai Pangandaran relatif lebih aman pada periode high season. Penyebab utama dari tingginya tingkat risiko wisata di Kawasan Wisata Pantai Pangandaran adalah jumlah personil lifeguard dan rambu-rambu peringatan yang tidak mencukupi. Pangandaran Beach is one of the coastal tourism objects located in Pangandaran Regency, West Java Province and it is one of the leading tourism object in West Java Province. Tourism in Pangandaran has beach-physical potential hazard and some case of it creating casualties. This research aims to identify the potential physical hazards of the beach for the safety of visitors, assess the risk level of beach-physical potential hazard for the safety of visitors, and determine the cause of the high number of tourism risk in the Pangandaran Beach Tourism Area. The method used in this research is the assessment method. The data used in the assessment of the level of beach risk are:  number of visitors, number of lifeguards, beach length, number of signages, lifejacket usage, tourist accident, beach type, and wave height. Research results show that Pangandaran Beach Tourism Area belonged to longshore bar and trough beach type. Pangandaran Beach Tourism Area is belonged to multiple fatalities category with an R value (risk level) more than 200 on all beaches either on low season or high season. At high season period on West Beach the category shift to fatal. There is a significant difference in R value between two periods. The difference in value of R shows that Pangandaran Beach Tourism Area is relatively safer during the high season period. The main cause of the high number of tourism risk in the Pangandaran Beach Tourism Area are the insufficient number of lifeguard and warning signs.
Pemanfaatan Penginderaan Jauh sebagai Upaya untuk Rehabilitasi Hutan Mangrove di Kecamatan Brondong, Lamongan, Jawa Timur Raisa Tria Shalsabella; Muji Wasis Indriyawan; Aida Sartimbul
Buletin Oseanografi Marina Vol 11, No 1 (2022): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v11i1.38450

Abstract

Hutan mangrove merupakan kumpulan vegetasi mangrove yang tumbuh pada wilayah intertidal dan mempunyai banyak fungsi. Seiring dengan meningkatnya populasi manusia, kerusakan mangrove juga banyak terjadi, salah satunya di Kecamatan Brondong, Kabupaten Lamongan. Salah satu upaya konservatif untuk mengembalikan fungsi hutan mangrove adalah dengan rehabilitasi mangrove. Keterbatasan informasi jenis mangrove yang cocok untuk rehabilitasi dan luasan mangrove, serta sulitnya akses ke hutan mangrove menjadi alasan dilakukannya penelitian ini. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui jenis mangrove dan mengetahui luasan mangrove yang dapat ditanami di Kecamatan Brondong dengan menggunakan metode penginderaan jauh. Metode penginderaan jauh digunakan untuk proses digitasi tipe sedimen dan mangrove existing. Analisis harmonik digunakan untuk menentukan nilai pasang surut. Sedangkan, penentuan daerah genangan menggunakan metode Sistem Informasi Geografis (GIS).  Hasil analisis menunjukkan bahwa di Kecamatan Brondong terdapat mangrove existing dengan tipe sedimen berpasir, berlumpur dan berbatu. Analisis pasang surut menghasilkan rata-rata pasang 0,57±0,19 dan surut -0,53±0,21. Jenis mangrove yang dapat ditanam meliputi jenis Rhizophora sp., Avicennia sp, Sonneratia sp, Bruguiera sp., Aegiceras sp., Ceriops sp., dan Xyocarpus sp. Luas wilayah yang tidak dapat ditanami mangrove memiliki total sebesar 330,093 Ha. Sedangkan total luasan dari mangrove yang dapat ditanami adalah sekitar 872,483 Ha, sehingga total keseluruhan dari luasan mangrove pada wilayah tersebut adalah sebesar 1.202,577 Ha. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi salah satu referensi dan pertimbangan dalam rehabilitasi hutan mangrove di Kecamatan Brondong maupun di wilayah lainnya. Mangrove forest is a collection of mangrove vegetation that grows in intertidal areas and has many functions. Along with the increase in human population, there is also a lot of damage to mangroves, one of which is in Brondong District, Lamongan Regency. One of the conservative efforts to restore the function of mangrove forests is mangrove rehabilitation. The limited information on the types of mangroves suitable for rehabilitation and the extent of mangroves, as well as the difficulty of accessing mangrove forests are the reasons for conducting this research. The purpose of this study was to determine the types of mangroves and to determine the extent of mangroves that can be planted in Brondong District by using remote sensing methods. Remote sensing method is used for digitizing the existing sediment and mangrove types. Harmonic analysis is used to determine tidal values. Meanwhile, the determination of the inundation area uses the Geographic Information System (GIS) method. The results of the analysis show that in Brondong District there are existing mangroves with sandy, muddy and rocky sediment types. Tidal analysis resulted in an average tide of 0.57±0.19 and a low tide of -0.53±0.21. The types of mangroves that can be planted include Rhizophora sp., Avicennia sp, Sonneratia sp, Bruguiera sp., Aegiceras sp., Ceriops sp., and Xyocarpus sp. The total area that cannot be planted with mangroves is 330,093 Ha. While the total area of mangrove that can be planted is around 872.483 Ha, so that the total area of mangrove in the area is 1,202.577 Ha. The results of this study are expected to be one of the references and considerations in the rehabilitation of mangrove forests in Brondong District and in other areas.
Simpanan Karbon Organik Dalam Sedimen Mangrove Terhadap Pasang Surut Di Pulau Bintan Faradian Nurul Hapsari; Lilik Maslukah; I Wayan Eka Dharmawan; Sri Yulina Wulandari
Buletin Oseanografi Marina Vol 11, No 1 (2022): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v11i1.39107

Abstract

Ekosistem mangrove memberikan kontribusi terbesar pada kawasan pesisir dalam penyerapan karbon dari atmosfer serta penyimpanan karbon dalam bentuk biomassa ataupun terpendam di dalam sedimen. Variasi simpanan karbon pada sedimen mangrove sangat tergantung dengan struktur komunitas dan karakter oseanografi yaitu pasang surut. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis variasi nilai simpanan karbon sedimen mangrove di Pulau Bintan serta menganalisis hubungannya dengan karakter pasang surut. Lokasi penelitian memiliki karakter struktur komunitas mangrove yang berbeda, yaitu Desa Lagoi yang didominasi oleh jenis Ceriops tagal, dan Desa Kawal yang didominasi oleh jenis Rhizophora apiculata. Setiap lokasi penelitian dibagi menjadi tiga zona tegak lurus garis pantai berdasarkan parameter dominansi jenis. Parameter yang diukur yaitu ukuran butir sedimen, struktur komunitas mangrove, karbon sedimen dan pasang surut. Data karbon organik dan ukuran butir sedimen menggunakan metode wet sieving dan LOI, sedangkan untuk pasang surut diperoleh dari Badan Informasi Geospasial (BIG). Hasil penelitian menujukan bahwa simpanan karbon organik sedimen yang lebih besar ditemukan di wilayah yang memiliki ukuran butir yang lebih halus dengan arus dan tenggang waktu menuju surut yang lebih rendah serta rerata ukuran dan tinggi mangrove yang lebih besar. Tenggang waktu menuju surut lebih cepat akan mengakibatkan perputaran sedimen dan serasah cepat sehingga pengendapan sedimen dan serasah berkurang. Simpanan karbon organik sedimen mangrove memiliki perbedaan yang cukup signifikan di Kawal dan Lagoi dengan rerata sebesar 13,90 ton C ha-1 dan 7,64 ton C ha-1. Mangrove ecosystems provide the largest contribution to coastal areas in absorbing carbon from the atmosphere and storing carbon in the form of biomass or buried in sediments. The variation of carbon storage in mangrove sediments is highly dependent on the community structure and the oceanographic character of the tides. The purpose of this study was to analyze variations in the value of carbon storage of mangrove sediments in Bintan Island and to analyze their relationship with tides. The research location has a different character of mangrove community structure, namely Lagoi Village which is dominated by the Ceriops tagal species, and Kawal Village which is dominated by the Rhizophora apiculata species. Each research location is divided into three zones perpendicular to the coastline based on the parameter of species dominance. Parameters measured were sediment grain size, mangrove community structure, sediment carbon and tides. Organic carbon and sediment grain size data using wet sieving and LOI methods, while tides were obtained from the Geospatial Information Agency (BIG). The results showed that larger organic sediment carbon stores were found in areas that had finer grain sizes with lower currents and time periods to tide and larger mean size and height of mangroves. The time to recede faster will result in rapid circulation of sediment and litter so that sediment and litter deposition is reduced. The organic carbon storage of mangrove sediments has a significant difference in Kawal and Lagoi with an average of 13.90 tonnes C ha-1 and 7.64 tonnes C ha-1.
Rekruitmen Juvenil Karang Terumbu Pasca Tertabrak Kapal Di Perairan Ujung Gelam, Taman Nasional Karimunjawa Bima Fatah Alam; Diah Permata Wijayanti; Munasik Munasik
Buletin Oseanografi Marina Vol 11, No 1 (2022): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v11i1.38199

Abstract

Taman Nasional Karimunjawa (TNKJ) memiliki ekosistem terumbu yang cukup baik. Peningkatan jumlah kunjungan ke kawasan TNKJ menyebabkan kawasan terumbu mendapat ancaman serius, salah satunya dari kemungkinan tertabrak kapal (vessel grounding). Salah satu kasus terjadi pada tanggal 7 September 2018 ketika kapal Tug Boat PM 202 kandas di perairan Tanjung Gelam di Zona Tradisional Perikanan (ZTrP) yang menyebabkan terjadinya kerusakan di 11 bagian (Patch). Hingga kini upaya monitoring kondisi terumbu karang pada area kerusakan setelah kejadian kandas kapal belum pernah dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keberhasilan rekruitmen alami, komposisi jenis juvenil dan densitas rekruit karang pada area kapal kandas. Pendataan juvenil karang pada 11 patch kerusakan dilakukan dengan menggunakan transek kuadran.  Pendataan karang pada lokasi yang tidak terdampak kerusakan juga dilakukan menggunakan metode Underwater Photo Transect (UPT) untuk mengetahui kondisi terumbu di sekitar kapal kandas. Pengamatan hanya menemukan 4 patch, yaitu patch 4, 5, 6 dan 7, sehingga pendataan hanya dilakukan pada ke-4 patch tersebut. Total rekruit yang ditemukan pada keempat patch berjumlah 40 koloni dengan nilai densitas rekruit  sebesar 1,88 koloni/m2. Keseluruhan rekruit di seluruh lokasi pengamatan termasuk dalam 10 genera yaitu Acropora, Astreopora, Coeloseris, Favia, Fungia, Goniastrea, Montipora, Pavona, Pocillopora dan Porites. Juvenil karang terbanyak adalah Porites dengan persentase kemunculan sebesar 23% dan kemunculan terendah adalah Pocillopora dan Pavona masing-masing sebesar 2,5 %. Hasil analisis menggunakan CPCe versi 4.1 (Coral Point Count with Excel extension) diperoleh nilai tutupan karang keras hidup yang tidak terkena dampak tertabraknya kapal termasuk dalam kategori baik dengan kerapatan 66.87 %. Genus kemunculan karang terbanyak adalah Porites dan terendah Galaxea. Hasil penelitian menunjukkan bahwa densitas juvenil yang ditemukan di lokasi kandas kapal terkategori rendah. Monitoring lanjutan perlu dilakukan untuk mengetahui akibat lebih jauh terumbu yang tertabrak kapal dan keberhasilan rekrutmen alami. Karimunjawa National Park (TNKJ) has a fairly good reef ecosystem. The increase in the number of visits to the TNKJ area has caused serious threats, one of which is the possibility of being hit by vessel grounding. One of the cases occurred on September 7, 2018 when the Tug Boat PM 202 crashed in the waters of Tanjung Gelam in the Traditional Fishing Zone (ZTrP) which caused damage in 11 sections (Patch). Until now, efforts to monitor the condition of coral reefs in the area of damage after the shipwreck have never been carried out. This study aims to find out the success of natural recruitment, composition of juvenil type and density of coral recruit in the area of the ship wreck. Data collection of coral juvenil on 11 patches of damagearea  is done using quadrant transfect.  Coral cover at un- impacted locations is also carried out to determine the condition of the reef around  the shipwreck. Data collection is done using Underwater Photo Transect (UPT) method. Observations can only find 4 patches, namely patches 4, 5, 6 and 7, therefore observation was done only on the 4 patches.  The total recruitment found 40 colonies with a recruit density value of 1.88 colonies/m2. All recruitments in all observation sites are included in 10 genera namely Acropora, Astreopora, Coeloseris, Favia, Fungia, Goniastrea, Montipora, Pavona, Pocillopora and Porites. The largest coral juvenil is genus Porites with a percentage of appearance of 23% and the lowest appearance is the Pocillopora and Pavona of 2.5%. The results of the analysis using CPCe version 4.1 (Coral Point Count with Excel extension) obtained the value of living hard coral cover fall into the category of good with a density of 66.87%. There were 13 genera observed with Porites showed the highest appearance and the lowest is Galaxea.The results showed that the juvenile density found at the shipwreck site was categorized as low. Further monitoring needs to be carried out to find out more about the impact on reefs being hit by ships and the success of natural recruitment.
Kajian Perubahan Iklim di Pesisir Jakarta Berdasarkan Data Curah Hujan dan Temperatur Rusmawan Suwarman; Edi Riawan; Yogi Sahat Maruli Simanjuntak; Dasapta Erwin Irawan
Buletin Oseanografi Marina Vol 11, No 1 (2022): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v11i1.42749

Abstract

Sebagai ibu kota negara dan pusat berbagai kegiatan ekonomi, Jakarta terus mengalami pertumbuhan penduduk dan infrastruktur. Pembangunan ekonomi ini pun mengalami pergeseran ke wilayah pesisir utara Jakarta. Di sisi lain, perubahan iklim adalah permasalahan yang harus dihadapi secara global, termasuk Jakarta. Strategi pembangunan perlu mempertimbangkan aspek-aspek perubahan iklim untuk mengurangi potensi dampak-dampak lingkungan yang akan terjadi. Makalah ini bertujuan untuk menampilkan kondisi iklim saat ini di daerah pesisir utara Jakarta dan potensi perubahannya di masa yang akan datang. Informasi iklim didapatkan dari Badan Meteorologi Klimatologi Geofisika (BMKG), sedangkan informasi proyeksi iklim sampai tahun 2100, didapatkan dari data 21 member dari model iklim global (Global Circulation Models, GCMs). Metode yang digunakan adalah statistical downscaling quantile bias correction untuk mendapatkan informasi proyeksi iklim lokal. Analisa yang disajikan dalam kajian ini adalah analisa ekstrem secara statistik untuk variabel temperatur dan curah hujan. Hasilnya menunjukkan bahwa kondisi iklim baseline sudah mengalami tren kenaikan temperatur sebesar 1,1 C. Potensi kenaikan temperatur ini akan berlanjut sampai 0,5 – 1 C di tahun 2050 dan 1 - 3 C di tahun 2100. Pada variabel curah hujan, perubahan iklim di masa akan datang berdampak mempercepat awal dan memperlama musim hujan. Model-model iklim menunjukan bahwa curah hujan ekstrem akan naik antara 15-26 % pada periode ulang 100 tahun dari kondisi iklim saat ini.  As the capital city and the center of various economic activities, Jakarta continues to experience population growth and infrastructure. On the other hand, climate change is an issues that must be faced globally, including Jakarta. Development strategies need to consider the aspects of climate change to reduce potential environmental impacts that will occur. The purpose of this study is to understand the current climate and its potential for future changes in the northern coastal area of Jakarta. Current climate information is obtained from meteorological data from the Meteorology Climatology Geophysics Agency (BMKG) observation station, while climate information of future climate projections, up to 2100, is obtained from 21 member data from Global Circulation Models (GCMs) . The method used is statistical downscaling quantile bias correction to obtain local climate projection information. The analysis presented in this study is a statistical extreme analysis for the variables of the temperature and the rainfall. Based on observation data, the baseline climatic conditions have experienced an increasing trend of temperature of 1.1 C. The potential for this temperature increase will continue to 0.5 – 1 C in 2050 and 1-3 C in 2100. Meanwhile, on the rainfall variable, future climate change has an impact on early of the start and prolonging the rainy season. The climate models show that extreme rainfall will increase between 15-26 % in the 100-year return period of current climatic conditions.
Pertumbuhan dan Kadar Pigmen Dunaliella salina (Chlorophyta) pada Media dengan Penambahan Konsentrasi Tembaga (Cu) yang Berbeda Faiz Naida Salimah; Gunawan Widi Santosa; Ali Ridlo
Buletin Oseanografi Marina Vol 11, No 1 (2022): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v11i1.35906

Abstract

Dunaliella salina merupakan mikroalga hijau yang memiliki peran penting dalam rantai makanan di lingkungan perairan dan kandungan pigmennya telah banyak dimanfaatkan. Pertumbuhan dan kandungan biomolekul  D. salina dipengaruhi oleh kondisi lingkungan hidupnya, salah satunya mikronutrien tembaga (Cu). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh konsentrasi Cu dalam media terhadap pertumbuhan dan kandungan pigmen D. salina. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) menggunakan 1 perlakuan dengan 4 taraf perlakuan (3 kali ulangan). Perlakuan yang diberikan adalah penambahan Cu dengan konsentrasi 1, 3, dan 5 ppm kedalam media kultur D. salina dan tanpa penambahan atau kontrol. Analisis kadar pigmen klorofil-a,b dan total karotenoid dilakukan menggunakan metode spektroskopi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan konsentrasi Cu yang berbeda pada media memberikan pengaruh nyata (p≤0,05) terhadap laju pertumbuhan mikroalga dan kadar pigmen D. salina. Laju pertumbuhan tetinggi dicapai pada perlakuan B (penambahan 1 ppm) sebesar 0,44±0,03 sel/hari dan terendah pada perlakuan D (penambahan 5 ppm) sebesar 0,26±0,04 sel/hari. Kadar pigmen tertinggi diperoleh pada perlakuan A (kontrol/tanpa penambahan) dengan klorofil-a sebesar 18,04±1,80 μg/mL, klorofil-b sebesar 9,03±0,87 μg/mL, serta total karotenoid 5,66±0,80 μg/mL dan terendah pada perlakuan D (penambahan 5 ppm) dengan klorofil-a sebesar 7,56±1,30 μg/mL, klorofil-b 3,91±0,90 μg/mL serta total karotenoid 2,12±0,37 μg/mL. Semakin tinggi konsentrasi Cu yang ditambahkan maka laju pertumbuhan dan kadar pigmen D. salina semakin menurun. Efek toksik Cu terhadap laju pertumbuhan dan kadar pigmen secara signifikan mulai terjadi dari penambahan 3 ppm Cu ke dalam media.  Dunaliella salina is a green microalga that has an important role in the food chain in aquatic environments and its pigment content has been widely utilized. The growth and content of biomolecules D. salina are influenced by environmental conditions, one of which is the micronutrient copper (Cu). This study used an experimental method with a completely randomized design (CRD) using 1 treatment with 4 levels of treatment (3 replications). The treatment given was the addition of Cu with a concentration of 1, 3, and 5 ppm into the D. salina culture media and without addition or control. Analysis of the levels of chlorophyll-a, b, and total carotenoid pigments was carried out using a spectroscopic method. The results showed that the addition of different Cu concentrations in the media had a significant effect (p≤0,05) on the growth rate of microalgae and the pigment levels of D. salina. The highest growth rate was achieved in treatment B (addition of 1 ppm) of 0,44±0,03 cell/day and the lowest was in treatment D (addition of 5 ppm) of 0,26 ± 0,04 cell/day. The highest pigment content was obtained in treatment A (control) with chlorophyll-a of 18,04±1,80 μg/mL, chlorophyll-b of 9,03±0,87 μg/mL, and total carotenoids 5,66±0,80 μg/mL and the lowest in treatment D (addition of 5 ppm) with chlorophyll-a of 7,56±1,30 μg/mL, chlorophyll-b 3,91±0,90 μg/mL and total carotenoids 2,12±0,37 μg/mL. The higher the Cu concentration was added, the lower the growth rate and pigment levels of D. salina. The toxic effect of Cu on the growth rate and pigment levels was significant from the addition of 3 ppm Cu into the media.
Pemetaan Sebaran Mangrove di CMC Tiga Warna, Malang Selatan Anwan Rahmat Ardiansyah; Arik Anggara; Aida Sartimbul
Buletin Oseanografi Marina Vol 11, No 1 (2022): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v11i1.37238

Abstract

Mangrove merupakan tumbuhan yang hidup di garis pantai pasang surut, zonasi tumbuhan mangrove memiliki berbagai variasi pada lokasi yang berbeda, ditentukan oleh jenis tanah, kedalaman dan periode genangan, kadar garam dan daya tahan terhadap ombak serta arus. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui sebaran spesies mangrove dan juga Indeks Nilai Penting spesies mangrove pada Kawasan Clungup Barat 1 dengan pendekataan pemetaan lahan Supervised Classification dengan algoritma Maximum Likelihood. Penelitian dilakukan sejak 3 Agustus sampai dengan tanggal 29 September 2020. Penelitian ini menggunakan citra Landsat 8 dengan komposit band 573 (RGB). Metode pemetaan klasifikasi Supervised Maximum Likelihood digunakan untuk mendapatkan hasil kawasan hutan mangrove dan selanjutnya dianalisis menggunakan software ENVI 5.1 dan ArcGIS 10.3. Dari analisis data diketahui luas hutan mangrove pada Kawasan CMC Tiga Warna adalah seluas ± 51,5 ha dari total luasan wilayah konservasi hutan mangrove CMC Tiga Warna yaitu 74,59 ha dan spesies yang ditemukan terdapat 16 spesies mangrove di Clungup Barat 1 yaitu Achantus ilicifolius, Aegisceras floridum, Bruguiera cylindrical, Bruguiera gymnorhiza, Ceriops tagal, Clerodendrum inerme, Derris trifoliata, Excoecaria agallocha, Hibiscus tiliaceus, Ipomoea pes-caprae, Lumnitzera littorea, Rhizopora apiculata, Sonneratia alba, Thespesia populnea, Xylocarpus granatum, dan Xylocarpus rumphii. Indeks Nilai Penting yang tertinggi yaitu 126,27% pada spesies Ceriops tagal. INP terendah yaitu dengan nilai 2,39% pada spesies Clerodendrum inerme. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi pada usaha konservasi  dan pengembangan eduwisata yang berkelanjutan di CMC Tiga Warna. Mangroves are plants that live on tidal shorelines, the zoning of mangroves has various variations at different locations, determined by soil type, depth and period of inundation, salinity and resistance to waves and currents. The purpose of this study was to determine the distribution and extent of mangrove forests in CMC Tiga Warna using Landsat 8 satellite imagery. The study was conducted from 3 August to 29 September 2020. This study used Landsat 8 imagery with a composite band 573 (RGB). The method of mapping the Supervised Maximum Likelihood classification was used to obtain the results of mangrove forest areas and then analyzed using ENVI 5.1 and ArcGIS 10.3 software. From the data analysis, it is known that the mangrove forest area in the CMC Tiga Warna area is ± 51.5 ha of the total area of the CMC Tiga Warna mangrove forest conservation area, which is 74,59 ha and the species found are 16 mangrove species in West Clungup 1 Achantus ilicifolius, Aegisceras floridum, Bruguiera cylindrical, Bruguiera gymnorhiza, Ceriops tagal, Clerodendrum inerme, Derris trifoliata, Excoecaria agallocha, Hibiscus tiliaceus, Ipomoea pes-caprae, Lumnitzera littorea, Rhizopora apiculata, Sonneratia alba, Thespesia populnea, Xylocarpus granatum, dan Xylocarpus rumphii. The highest Importance Value Index is 126.27% in the Ceriops tagal species. The lowest IVI value is 2.39% in the Clerodendrum inerme species. The results of this study are expected to contribute to conservation efforts and the development of sustainable education at CMC Tiga Warna
Kelimpahan Mikroplastik di Perairan Zona Pemukiman, Zona Pariwisata dan Zona Perlindungan Kepulauan Karimunjawa, Jepara Cornelia Widya Seprandita; Jusup Suprijanto; Ali Ridlo
Buletin Oseanografi Marina Vol 11, No 1 (2022): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v11i1.30189

Abstract

Kepulauan Karimunjawa merupakan salah satu Kawasan Taman Nasional yang terdapat di Indonesia yang terdiri dari beberapa zonasi yang disesuaikan dengan fungsi dan peruntukkannya yaitu Zona Inti, Zona Perlindungan, Zona Pemanfaatan Bahari, Zona Rehabilitasi, Zona Pemanfaatan Perikanan Nasional, dan Zona Pemukiman. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kelimpahan mikroplastik di perairan Pulau Cemara Kecil, Pulau Menjangan Kecil, dan Pelabuhan Syahbandar Karimunjawa. Sampel diambil dengan cara menyaring permukaan air laut dengan plankton net sepanjang 100 meter menggunakan perahu. Sampel air laut sebanyak 250mL ditambahkan larutan H2O2 30% 250 mL dan disaring dengan kertas Whatman No. 42. Mikroplastik yang diperoleh dianalisis bentuk, warna, dan jumlah kelimpahannya menggunakan mikroskop elektron dengan perbesaran 100 kali. Jenis mikroplastik ditentukan dengan Uji FT-IR. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perairan Pelabuhan Syahbandar memiliki kelimpahan mikroplastik tertinggi yaitu 19,98 partikel/m3, diikuti perairan Pulau Menjangan Kecil yaitu sebesar 17,21 partikel/m3 dan paling kecil di perairan Pulau Cemara Kecil yaitu 14,8 partikel/m3. Bentuk mikroplastik yang ditemukan adalah fragment, fiber, film, dan pellets. Jenis mikroplastik diduga adalah High-density polyethylene (HDPE), Low-density polyethylene (LDPE), Polystyrene (PS), Polypropylene (PP), Polyvinyl chloride (PVC), Nitrile, Nylon, dan Cellulose acetate (CA) atau Rayon.  Karimunjawa Islands is one of the National Park Areas in Indonesia which consists of several zones that are adapted to their functions and purposes, namely the Core Zone, Protection Zone, Maritime Use Zone, Rehabilitation Zone, National Fisheries Utilization Zone, and Resettlement Zone. This study aims to determine the abundance of microplastics in Cemara Kecil Island, Menjangan Kecil Island, and Syahbandar Harbor. Samples were taken by filtering the surface of seawater with a 100-meter long plankton net using a boat. 250 mL of seawater samples added H2O2 30% 250 mL and distributed with Whatman No. paper. 42. Microplastic shapes, colors, and abundance are obtained using an electron microscope with a magnification of 100 times. The microplastic type was determined by FT-IR Test. The results showed the fact that the Port of Syahbandar had the highest microplastic abundance of 19.98 particles / m3, followed by Menjangan Kecil Island at 17.21 particles / m3 and the smallest at Cemara Kecil Island was 14.8 particles / m3. The microplastic forms found are fragments, fibers, films, and pellets. Microplastic types are High-density polyethylene (HDPE), low-density polyethylene (LDPE), Polystyrene (PS), Polypropylene (PP), Polyvinyl chloride (PVC), Nitrile, Nylon, and Cellulose acetate (CA) or Rayon.  
Pertumbuhan Mikroalga Chaetoceros calcitrans Pada Kultivasi Dengan Intensitas Cahaya Berbeda Linggar Dirgantara Prasetyo; Endang Supriyantini; Sri Sedjati
Buletin Oseanografi Marina Vol 11, No 1 (2022): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v11i1.31698

Abstract

Chaetoceros calcitrans can be used for natural food in aquaculture. Microalgae growth is influenced by several factors, one of which is light intensity. This study aims to determine the intensity of light that can produce the best growth in C. calcitrans microalgae. The study design used was a completely randomized design (CRD) with two replications. This study uses a treatment (light intensity) with  four levels of treatment, namely 1000 (control), 1500, 2000 and 2500 lux with a duration of lighting 12 hours light: 12 hours dark. Calculation of density and measurement of water quality parameters are carried out every day during the cultivation process. Harvesting is done in a stationary phase. The results showed that different light intensities affected the growth of C. calcitrans microalgae (p=0,000). Light intensity of 2500 lux in medium scale C. calcitrans (60 L) culture can produce the highest growth on the tenth day which is 67x10⁵ cells/ml and biomass 13,75 grams.Chaetoceros calcitrans merupakan mikroalga yang dapat digunakan sebagai pakan alami. Pertumbuhan mikroalga dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya adalah intensitas cahaya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui intensitas cahaya yang dapat menghasilkan pertumbuhan terbaik pada mikroalga C. calcitrans. Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL) dengan dua kali pengulangan. Penelitian ini menggunakan  perlakuan (intensitas cahaya) dengan empat taraf perlakuan yaitu 1000 (kontrol), 1500, 2000 dan 2500 lux dengan durasi pencahayaan 12 terang : 12 gelap. Perhitungan kepadatan dan pengukuran parameter kualitas air dilakukan setiap hari selama proses kultivasi. Pemanenan dilakukan pada fase stasioner. Hasil penelitian menunjukkan bahwa intensitas cahaya yang berbeda mempengaruhi pertumbuhan mikroalga C. calcitrans (p=0,000). Intensitas cahaya 2500 lux pada kultur C. calcitrans skala medium (60 L) dapat menghasilkan pertumbuhan tertinggi pada hari ke sepuluh yaitu 67 x 105 sel/ml dan biomasa kering 13,75 gram.

Filter by Year

2011 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 14, No 3 (2025): Buletin Oseanografi Marina Vol 14, No 2 (2025): Buletin Oseanografi Marina Vol 14, No 1 (2025): Buletin Oseanografi Marina Vol 13, No 3 (2024): Buletin Oseanografi Marina Vol 13, No 2 (2024): Buletin Oseanografi Marina Vol 13, No 1 (2024): Buletin Oseanografi Marina Vol 12, No 3 (2023): Buletin Oseanografi Marina Vol 12, No 2 (2023): Buletin Oseanografi Marina Vol 12, No 1 (2023): Buletin Oseanografi Marina Vol 11, No 3 (2022): Buletin Oseanografi Marina Vol 11, No 2 (2022): Buletin Oseanografi Marina Vol 11, No 1 (2022): Buletin Oseanografi Marina Vol 10, No 3 (2021): Buletin Oseanografi Marina Vol 10, No 2 (2021): Buletin Oseanografi Marina Vol 10, No 1 (2021): Buletin Oseanografi Marina Vol 9, No 2 (2020): Buletin Oseanografi Marina Vol 9, No 1 (2020): Buletin Oseanografi Marina Vol 8, No 2 (2019): Buletin Oseanografi Marina Vol 8, No 1 (2019): Buletin Oseanografi Marina Vol 7, No 2 (2018): Buletin Oseanografi Marina Vol 7, No 1 (2018): Buletin Oseanografi Marina Vol 6, No 2 (2017): Buletin Oseanografi Marina Vol 6, No 1 (2017): Buletin Oseanografi Marina Vol 5, No 2 (2016): Buletin Oseanografi Marina Vol 5, No 1 (2016): Buletin Oseanografi Marina Vol 3, No 1 (2014): Buletin Oseanografi Marina Vol 2, No 4 (2013): Buletin Oseanografi Marina Vol 2, No 3 (2013): Buletin Oseanografi Marina Vol 2, No 2 (2013): Buletin Oseanografi Marina Vol 2, No 1 (2013): Buletin Oseanografi Marina Vol 1, No 5 (2012): Buletin Oseanografi Marina Vol 1, No 3 (2012): Buletin Oseanografi Marina Vol 1, No 2 (2012): Buletin Oseanografi Marina Vol 1, No 1 (2011): Buletin Oseanografi Marina More Issue