cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
BULETIN OSEANOGRAFI MARINA
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : 20893507     EISSN : 25500015     DOI : -
Core Subject : Science,
Buletin Oseanografi Marina (BULOMA) adalah jurnal yang menginformasikan hasil penelitian dan telaah pustaka tentang aspek Oseanografi, Ilmu Kelautan, Biologi Laut, Geologi Laut, Dinamika Laut dan Samudera, Estuari, Kajian Enerji Alternatif, Mitigasi Bencana, Sumberdaya Alam Pesisir, Laut dan Samudera.
Arjuna Subject : -
Articles 374 Documents
Polisiklik Aromatik Hidrokarbon (PAH) Di Sekitar Muara Sungai Musi Sumatera Selatan Wike Ayu Eka Putri; Anna Ida Sunaryo Purwiyanto; Fitri Agustriani; Fauziyah Fauziyah; Lilik Maslukah; Yulianto Suteja
Buletin Oseanografi Marina Vol 10, No 3 (2021): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v10i3.27267

Abstract

Muara Sungai Musi dan Pulau Payung adalah kawasan bagian hilir Sungai Musi yang menerima banyak masukan limbah dan bahan pencemar akibat aktifitas di sepanjang aliran sungai. Polisiklik aromatik hidrokarbon (PAH) adalah salah satu komponen pencemar organik yang keberadaannya mengancam kehidupan biota perairan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi keberadaan senyawa PAH pada sampel air laut dan sedimen yang berasal dari Muara Sungai Musi dan sekitar Pulau Payung. Pengambilan sampel dilakukan pada bulan Juli 2019. Contoh air laut diambil dengan water sampler pada 5 stasiun penelitian dan contoh sedimen diambil menggunakan ekman grab pada 8 stasiun penelitian. Kadar PAH dianalisa dengan High Performance Liquid Chromatography (HPLC), cara kerja merujuk pada APHA (2017) 6440 B divalidasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kandungan PAH total dalam sampel air Muara Sungai Musi dan sekitar Pulau Payung berkisar antara batas minimum deteksi alat (<0,004)-0,0,62 ppb. Adapun kandungan PAH total dalam sampel sedimen berkisar antara 11,92-558,41 ppb. Secara keseluruhan terlihat bahwa kandungan PAH dalam sampel air dan sedimen yang berasal dari Sungai Musi dan sekitar Pulau Payung masih aman bagi organisme. Musi River Estuary and Payung Island are the downstream areas of the Musi River which receive a lot of inputs of waste and pollutants due to activities along the river flow. Polycyclic aromatic hydrocarbons (PAHs) is one component of organic pollutants which dangerous for the aquatic organism. This study aims to identify the PAHs compounds in seawater and sediment samples from the Musi River Estuary and around Payung Island. Sampling was carried out in July 2019. Seawater samples were taken with a water sampler and sediment samples were taken using ekman grab at 7 research stations. PAH levels were analyzed by High Performance Liquid Chromatography (HPLC), the method refers to APHA (2017) 6440 B. The results showed that the PAH content in the Muara River Musi water samples and around Payung Island ranged from under detection limit(<0,004)-0.62 ppb. The PAH content in sediment samples ranged from 11.92-558.41 ppb. Overall PAHs content in water and sediment samples from the Musi River and around Payung Island are still good for the aquatic organism.
Pemetaan Bahaya Tsunami Wilayah Kabupaten Serang Bagian Barat Menggunakan Sistem Informasi Geografis Padma Paramita; Sesa Wiguna; Fathia Zulfati Shabrina; Aida Sartimbul
Buletin Oseanografi Marina Vol 10, No 3 (2021): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v10i3.37228

Abstract

Indonesia merupakan negara yang memiliki potensi tinggi akan kejadian tsunami. Salah satu wilayah tersebut adalah Kabupaten Serang bagian barat. Saat ini evolusi teknologi penginderaan jauh dan Sistem Informasi Geografis (SIG) dapat dimanfaatkan untuk membantu upaya mitigasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis potensi tsunami dan menyediakan peta bahaya tsunami sebagai salah satu upaya mitigasi bencana berbasis Sistem Informasi Geografis (SIG) berdasarkan panduan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode matematis yang dikembangkan oleh Berryman-2006. Metode ini merupakan metode yang sederhana namun cukup akurat dalam memperkirakan daerah yang berpotensi terdampak tsunami. Data Digital Elevation Model (DEM) dan shapefile rupa bumi yang bersumber dari Badan Informasi Geospasial (BIG) Indonesia merupakan data utama yang digunakan. Hasil analisis menunjukkan bahwa potensi bahaya tsunami di Kabupaten Serang bagian barat terdiri dari 3 kelas yaitu kelas rendah, sedang, dan tinggi yang didominasi oleh kelas bahaya tinggi dengan total luas area terdampak sebesar 377,64 ha. Peta bahaya tsunami ini selanjutnya dapat dijadikan sebagai salah satu basis informasi dalam perencanaan mitigasi bencana di Kabupaten Serang.  Indonesia is a country that has a high potential for tsunami events. One of these areas is the western part of Serang Regency. Currently, the evolution of remote sensing technology and Geographic Information Systems (GIS) can be utilized to assist mitigation efforts. The purpose of this study is to analyze the potential for tsunamis and provide a tsunami hazard map as one of the efforts to mitigate disasters based on Geographic Information Systems (GIS) based on guidelines from the National Disaster Management Agency (BNPB). The method used in this research is a mathematical method developed by Berryman-2006. This method is a simple but fairly accurate method for estimating areas potentially affected by a tsunami. Digital Elevation Model (DEM) data and the shapefile of the earth's appearance sourced from the Indonesian Geospatial Information Agency (BIG) are the main data used. The results of the analysis show that the potential tsunami hazard in the western part of Serang Regency consists of 3 classes, namely low, medium, and high classes which are dominated by high hazard classes with a total area of 377.64 ha affected. This tsunami hazard map can then be used as one of the information bases in disaster mitigation planning in Serang Regency.
Potensi Padang Lamun (Thalassia hemprichii) Sebagai Penyimpan dan Penyerap Karbon di Pantai Krakal, Gunungkidul, Yogyakarta Rini Pramesti; Subagiyo Subagiyo; Wilis Ari Setyati; Titis Buana
Buletin Oseanografi Marina Vol 10, No 3 (2021): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v10i3.36758

Abstract

Padang lamun merupakan ekosistem pesisir yang mampu menyimpan dan menyerap karbon melalui proses fotosintesis yang disimpan dalam bentuk biomassa dan disimpan di akar, rhizome dan daun sehingga dapat mengurangi gas CO2 di udara. Ekosistem ini belum banyak diperhatikan fungsinya dibandingkan dengan ekosistem darat. Penelitian ini bertujuan  mengetahui  kerapatan, tutupan  lamun dan serapan karbon dalam biomassa berupa jaringan atas substrat dan bawah substrat. Penelitian dilakukan pada bulan November 2018 di Pantai Krakal - Yogyakarta. Identifikasi  jenis  lamun  dengan buku panduan  seagrasswatch,  kerapatan  dan  tutupan dengan metode line transect quadrant. Analisis kandungan karbon menggunakan metode pengabuan. Hasil penelitian menunjukkan lokasi ini memiliki biomassa di bagian atas 7,36 – 9,92 gbk/m2 dan bagian bawah 39,36 – 95,68 gbk/m2. Kedua bagian ini mampu menyimpan dan menyerap karbon rata-rata sebesar 30,42 ± 13,85 gC/m2 dan 0,2 ± 0,06 gC/d/m2. Hasil penelitian menunjukkan padang lamun di lokasi ini mampu menyimpan dan menyerap karbon meskipun dalam jumlah yang kecil. Seagrass beds are coastal ecosystems capable of absorbing and storing carbon through photosynthesis and stored of roots, rhizomes and leaves that it can reduce CO2 gas in the air. The function of this ecosystem has not been given much attention compared to the terrestrial ecosystem. The research was studied to determine density, cover of seagrass  and carbon uptake in biomass of the upper and lower substrate. The research was carried in November 2018 at Krakal Beach - Yogyakarta. Identification of the type seagrass was carried by seagrasswatch manual, the density and cover was carried by the line transect quadrant method. The carbon content was analysis by the ashing method. The results was showed that this location has a biomass at the top of 7.36 - 9.92 gbk/m2 and the bottom of 39.36 - 95.68 gbk/m2. Both of these parts are able to store and absorb carbon are average of 30.42 ± 13.85 gC/m2 and 0.2 ± 0.06 gC/d/m2. The results showed that the seagrass beds on this beach were able to store and absorb of carbon with small amounts.
Mikroplastik pada Ikan Kembung (Rastrelliger sp.) dan Ikan Selar (Selaroides eptolepis) di TPI Tambak Lorok Semarang dan TPI Tawang Rowosari Kendal Juwita Lesly Senduk; Jusup Suprijanto; Ali Ridlo
Buletin Oseanografi Marina Vol 10, No 3 (2021): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v10i3.37930

Abstract

Mikroplastik merupakan partikel plastik yang berukuran ≤5 mm. Ukurannya yang kecil menyebabkannya dapat tertransportasikan ke seluruh tempat dan biota termasuk ikan. Ikan pelagis jenis ikan kembung dan ikan selar merupakan salah satu biota laut bernilai ekonomis tinggi dan banyak dikonsumsi masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan mikroplastik pada ikan kembung dan ikan selar. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Sampel ikan kembung diambil di TPI Tambak Lorok Semarang, sedangkan ikan selar diambil dari TPI Tawang Rowosari Kendal. Penelitian ini dilakukan  pada bulan Juni–Desember 2020. Tahapan penelitian yang dilakukan yaitu dimulai dengan pengambilan sampel, pengukuran sampel, pembedahan sampel, pelarutan sampel, pemisahan partikel mikroplastik, penyaringan partikel, dan identifikasi langsung secara visual menggunakan mikroskop. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat mikroplastik pada ikan selar dan kembung di TPI Semarang dan Kendal. Mikroplastik paling banyak dengan rerata 25,2 partikel pada insang dan 19,1 partikel pada pencernaan ditemukan pada ikan kembung di TPI Tambak Lorok, pada ikan selar (Selaroides leptolepis) ditemukan rerata 10,1 partikel pada insang dan 8,4 partikel pada pencernaan. Hasil yang didapatkan ditemukan bentuk fiber, fragmen, pelet, dan film, dengan warna yang beragam yaitu hitam, coklat, biru, putih, merah, transparan, dan kuning.  Microplastics are plastic particles with a size of 5 mm. Its small size causes it easy to be transported to all places, including fish. Pelagic fish species of mackerel and selar fish are one of the marine biota that are economically feasible and widely consumed by the public. This study aims to determine the content of microplastics in mackerel and selar fish. The research method used is descriptive qualitative. Mackerel fish samples were taken at TPI Tambak Lorok Semarang, while selar fish were taken from TPI Tawang Rowosari Kendal. This research was conducted in June – December 2020. The stages of the research carried out were starting with sampling, measuring samples, separating samples, separating microplastic particles, evaluating particles, and directly using a microscope. The results showed that there were microplastics in selar and mackerel in TPI Semarang and Kendal. The most microplastics with an average of 25.2 particles in the gills and 19.1 particles in the digestion were found in mackerel at TPI Tambak Lorok, in selar fish (Selaroides leptolepis) an average of 10.1 particles were found in the gills and 8.4 particles in digestion. The results obtained were found in the form of fibers, fragments, pellets, and films, with various colors, namely black, brown, blue, white, red, transparent, and yellow.
Variasi Konsentrasi Kitosan Dan Lama Pengadukan Terhadap Efektivitas Penyerapan Amoniak Nadya Oktavia; Endang Supriyantini; Ali Ridlo
Buletin Oseanografi Marina Vol 11, No 2 (2022): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v11i2.31312

Abstract

Tumpahan minyak mentah di laut akan menimbulkan pencemaran karena memiliki kadar pencemar, salah satunya adalah amoniak. Kitosan merupakan biopolimer alami yang memiliki gugus aktif amina dan hidroksil yang dapat dibentuk sebagai adsorben amonia. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas kitosan dalam menyerap amoniak dengan air tercemar minyak mentah di sungai Karawang. Cairan kitosan yang digunakan terdiri dari (kontrol, 0%); (A) 0,3%; (B) 0,6%; (C) 0,9%; (D) 1,2%. Variasi waktu pengadukan yang digunakan adalah 30 menit dan 60 menit dengan kecepatan pengadukan 200 rpm dengan 3 kali pengulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan dengan variasi konsentrasi kitosan tersebut dapat meningkatkan daya serap kadar amoniak. Penyerapan tertinggi pada waktu pengadukan 30 menit terdapat pada konsentrasi kitosan 0,3% yaitu sebesar 8,709 mg/L dengan daya serap 92, 293 %, dan penyerapan tertinggi pada waktu pengadukan 60 menit terdapat pada konsentrasi kitosan 0,3% yaitu sebesar 8,735 mg/L dengan daya serap 92,566%. Konsentrasi kitosan dan variasi waktu pengadukan yang digunakan dalam penelitian ini berpengaruh nyata terhadap kapasitas dan daya serap terhadap amoniak.  The spills of crude oil on the ocean will cause pollution because it has pollutant levels, one of them is ammonia. Chitosan is a natural biopolymer which has got active group of amine and hydroxyl , they  can be formed as ammonia adsorbents. The purpose of this research is to find out the effectiveness of chitosan in absorbing the ammonia with crude oil contamined water in Karawang river. The liquid  of chitosan which is used consists of (Control, 0%); (A) 0.3%; (B) 0.6%; (C) 0.9%; (D) 1.2%. The variation of Stirring time that is used was 30 minutes and 60 minutes with a stirring speed of 200 rpm with 3 repetitions. The results showed that the treatment with those variation in the concentration of chitosan can increase the absorption capacity of ammonia levels. The highest absorption at the stirring time of 30 minutes was found at the concentration of 0,3 %,which was 8,709 mg/L with an absorption capacity of 92,293 %, while the highest absorption  at the stirring time of 60 minutes was found at the concentration of 0.3% chitosan which was 8,735 mg/L with 92,566 % absorption. The concentration of chitosan and the variation of stirring time used in this study significantly affected the capacity and absorption of ammonia.
Karakteristik Massa Air di Selat Sunda dan Perairan Lepasnya Moch. Reza Fahlevi; Ahmad Bayhaqi; Denny Nugroho Sugianto; Muhammad Fadli; Huiwu Wang; R. Dwi Susanto; Sam Wouthuyzen
Buletin Oseanografi Marina Vol 11, No 3 (2022): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v11i2.41323

Abstract

Selat Sunda merupakan selat dengan kondisi fisik dinamis yang menjadi menjadi jalur sirkulasi massa air di perairan Indonesia petemuan Armondo dan Arlindo. Perairan ini didominasi dari Samudera Hindia dengan dinamika perairan yang sebagian besar dipengaruhi oleh angin musim, hal ini dapat memicu percampuran massa air. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik massa air di Selat Sunda dan perairan lepasnya. Pengambilan data dilakukan pada bulan November 2019 dan data model diperoleh dari situs CMEMS (2015-2019). Pengolahan data menggunakan software Ocean Data View (ODV) dengan metode sebaran vertikal, melintang dan diagram TS. Hasil penelitian menunjukkan temperatur di Selat Sunda relatif lebih tinggi dengan kisaran 29-30,2oC. Sebaran salinitas dan densitas di Samudera Hindia lebih tinggi dengan nilai masing-masing 35-35,2 ‰dan 22,20 kg/m3. Tipe massa air didominasi dari Samudera Hindia terdiri dari Bengal Bay Water (BBW), South Indian Central Water (SICW), Antartic Intermediate Water (AAIW) dan Indonesian Upper Water (IUW). Dua jenis massa air berasal dari Samudera Pasifik yakni Pacific Equatoral Water (PEW) dan Western North Pacific Central Water (WNPCW). Variabilitas massa air menunjukkan pola yang relatif serupa. Sebaran temperatur tertinggi terjadi pada musim peralihan 2 (30,2oC) dan terendah di musim timur (29,2oC). Sebaran salinitas permukaan tertinggi terjadi pada musim peralihan 2 (32,87‰) dan terendah pada musim peralihan 1 (31,74‰).  Sunda Strait is a strait with dynamic physical condition that crossed by Armondo and Arlindo. These waters are dominated by Indian Ocean with dynamics of waters which are largely influenced by monsoons, its condition give an example of mixing water mass. This research aims to determine characteristics and variability of water mass. This study was carried out in November 2019 and satellite data was obtained from CMEMS website (2015-2019). Processing data was performed using software Ocean Data View (ODV) by methods scatter distribution, cross section and TS diagram. The result show that temperature in the Sunda Strait was relatively higher with a range 29-30.2oC. The distribution of salinity and density in the Indian Ocean is higher with values of 35-35.2 o/oo and 22.2 kg/m3. TS diagram shows that water mass dominated by the Indian Ocean consists of Bengal Bay Water (BBW), South Indian Central Water (SICW), Antartic Intermediate Water (AAIW) and Indonesian Upper Water (IUW). Two type of water mass from Pacific Ocean are Pacific Equatorial Water (PEW) and Western North Pacific Central Water (WNPCW). Variability of water mass shows a similar pattern. The highest temperature distribution occurred in transitional season 2 (30.2oC) and the lowest in east season (29.2oC). The highest distribution of salinity occurred in transitional season 2 (32.87 o/oo) and the lowest in transitional season 1 (31.74 o/oo).
Kondisi Eksisting Tiram (Bivalvia: Ostreidae) di Perairan Estuari Desa Banda Masen Kecamatan Banda Sakti Kota Lhokseumawe Erlangga Erlangga; Imanullah Imanullah; Syahrial Syahrial; Erniati Erniati; Imamshadiqin Imamshadiqin; Gara Hasonangan Ritonga; Dodi Fanhalen Siregar
Buletin Oseanografi Marina Vol 11, No 2 (2022): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v11i2.39514

Abstract

Kajian kondisi eksisting tiram dilakukan pada tiga stasiun pengamatan di perairan estuari Desa Banda Masen (Juli – September 2020). Kajian bertujuan untuk mengetahui faktor lingkungan, distribusi dan biodiversitas, kepadatan, frekuensi pertumbuhan serta karakteristik lingkungan tiram, dimana sampel dikumpulkan dalam plot yang berukuran 1x1 m pada sisi kiri, tengah dan kanan estuari, sedangkan keterkaitan parameter kualitas perairan terhadap kepadatan maupun morfometrik tiram dianalisis berdasarkan Principle Component Analysis (PCA). Hasil kajian memperlihatkan bahwa konsentrasi DO berkisar antara 07,85–07,87 mg/L, suhu 30,00–32,00°C, salinitas 32,50–35,00‰, pH 07,90–08,13, kekeruhan 27,90–28,17 NTU, kecerahan 00,20–00,22 cm, kedalaman 01,20–01,27 m dan intensitas cahaya 449–452 Lux. Selain itu, hasil kajian juga memperlihatkan tiram terdistribusi di semua stasiun pengamatan, terdiri dari dua spesies dengan kepadatan S. cucullata antara 02,33–04,11 ind/m2 dan kepadatan S. echinata antara 02,11–03,56 ind/m2. Untuk frekuensi pertumbuhan morfometrik, panjang cangkang S. cucullata dominannya adalah 04,28–04,91 cm, lebar cangkang 03,48–04,06 cm, berat isi 03,18–04,85 mg dan berat cangkang 15,86–20,43 mg. Selanjutnya untuk frekuensi pertumbuhan morfometrik S. echinata, panjang cangkang dominannya adalah 03,82–04,27 cm, lebar cangkang 02,96–03,41 cm, berat isi 03,12–04,12 mg serta berat cangkang 15,06–19,33 mg, dimana kepadatan maupun berat isi S. cucullata sangat ditentukan oleh intensitas cahaya, salinitas, suhu dan kekeruhan perairan, sedangkan kecerahan perairan kurang memberikan pengaruh yang baik bagi kepadatan maupun berat isi tiram S. cucullata, kecuali bagi pertumbuhan panjang cangkang S. echinata, panjang cangkang S. cucullata, berat isi dan berat cangkang S. echinata.    The study of the existing condition of oysters was carried out at three observation stations in the estuary of Banda Masen Village during July until September 2020. The study aims to determine environmental factors, distribution, biodiversity, density, growth frequency and environmental characteristics of oysters. Samples were collected in plots with measuring 1x1 m on the left, middle and right sides of the estuary. Furthermore, the correlation parameters of water quality on density and morphometric of oysters to be analyzed base on Principle Component Analysis (PCA). The results showed that DO concentrations ranged between 07,85–07,87 mg/L, temperature 30,00–32,00°C, salinity 32,50–35,00‰, pH 07,90–08,13, turbidity 27,90–28,17 NTU, brightness 00,20–00,22 cm, depth 01,20–01,27 m and light intensity 449,00–452,00 Lux. In addition, the results of the study also depict that oysters were distributed in all observation stations which consisting of two species with density of S. cucullata and S. echinata between 02,33–04,11 ind/m2 and 02,11–03,56 ind/m2, respectively. The frequency of morphometric growth illustrates the dominant shell of S. cucullata was 04,28–04,91 cm in length, 03,48–04,06 cm in width, and 15,86–20,43 mg in weight with bulk have 03,18–04,85 mg in weight. Furthermore, the frequency of morphometrics growth of S. echinata have dominant shell was 03,82–04,27 cm in length, 02,96–03,41 cm in width, 15.06 –19,33 mg in weight with bulk have 03,12–04,12 mg in weight. The density and weight of the bulk of S. cucullata were largely determined by light intensity, salinity, temperature and turbidity of the waters. Meanwhile, the brightness did not give significant influence except for the length of two species and density also weight of S. echinata.
Identifikasi Spesies Mikroalga dari BBPBAP Jepara secara Morfologi dan Molekuler menggunakan 18S rDNA Elke Gildantia; Rejeki Siti Ferniah; Anto Budiharjo; Agung Suprihadi; Muhammad Zainuri; Hermin Pancasakti Kusumaningrum
Buletin Oseanografi Marina Vol 11, No 2 (2022): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v11i2.39703

Abstract

Mikroalga merupakan organisme eukariot bersel satu yang habitatnya berada di perairan. Suatu spesies mikroalga koleksi kultur BBPBAP Jepara berpotensi menghasilkan astaxantin dalam jumlah tinggi. Namun, spesies ini belum di karakterisasi secara molekuler. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh karakter morfologi dan molekuler pada isolat mikroalga dari BBPBAP Jepara menggunakan 18S rDNA guna memastikan spesies untuk pengembangan potensinya. Tahapan penelitian yang dilakukan meliputi kultivasi mikroalga, pengamatan pola pertumbuhan, pengamatan morfologi, isolasi DNA, amplifikasi menggunakan marka 18S rDNA, elektroforesis, analisis data sekuens, dan filogenetik menggunakan aplikasi NJ Plot dan MEGA 7. Hasil karakterisasi secara morfologi sel isolat mikroalga BBPBAP Jepara memperlihatkan bentuk bulat, berwarna hijau dengan ukuran 4,5 μm, tidak memiliki flagela, dan motilitas yang pasif. Hasil karakterisasi molekuler menggunakan 18S rDNA dari isolat mikroalga BBPBAP memperlihatkan kemiripan tertinggi dengan Chlorella sorokiniana sebesar 99%.  Microalgae are single-celled eukariyotic organisms whose habitat is in the waters. A species of microalgae from the Jepara BBPBAP culture collection was potential to produce high amounts of astaxantin. However, this species has not been detected molecularly previously. This study aimed to obtain the morphological and molecular characters of microalgae isolates from BBPBAP Jepara using 18S rDNA to ascertain the species and its potential development. The stages of the research carried out include; microalgae cultivation, growth pattern observation, morphological observation, DNA isolation, amplification using 18S rDNA markers, electrophoresis, sequence data analysis, and phylogenetic using NJ Plot and MEGA applications 7. Results of morphological characterization of the Jepara BBPBAP showed that cell of microalgae isolates had a round shape, green color with a size of 4.5μm, has no flagella and passive motility. The results of the molecular characterization using 18S rDNA showed that isolate BBPBAP had highest similarity with Chlorella sorokiniana about 99%.
Analisis Tinggi Gelombang Signifikan Berdasarkan Model Wavewatch-III di Pantai Alau-Alau, Kalianda, Lampung Selatan Annisa Agustina Kurnia Putri; Gusti Diansyah; Wike Ayu Eka Putri
Buletin Oseanografi Marina Vol 11, No 2 (2022): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v11i2.39567

Abstract

Perairan Pantai Alau-Alau merupakan daerah pesisir yang dimanfaatkan sebagai kegiatan pariwisata dan juga kegiatan perikanan seperti bagan perahu. Peramalan tinggi gelombang sangat berguna untuk menghindari kejadian kecelakaan kapal ataupun hantaman ombak besar di sekitar kawasan pantai. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis tinggi gelombang signifikan di wilayah Pantai Alau-Alau, Kalianda, Lampung Selatan dan menganalisis tingkat akurasi model Wavewatch-III BMKG (Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika) dengan data lapangan. Data dari Model Wavewatch-III divisualisasi menggunakan software GrADS, lalu dibandingkan dengan data pengukuran lapangan yang dilaksanakan selama 7 hari (20-26 November 2019). RMSE (Root Mean Square Error) digunakan untuk melihat akurasi dari model tersebut. Hasil penelitian pengukuran lapangan menunjukkan tinggi gelombang signifikan di Pantai Alau-Alau berkisar 0,082-0,405 meter. Hasil tinggi gelombang signifikan hasil model Wavewatch-III berkisar 0,027–0,118 meter. Hasil nilai RMSE model Wavewatch-III terhadap data lapangan sebesar 0,28.   Alau-Alau Beach is a coastal area that used for tourism and fishery such as boat lift net. The forecast of wave height is very useful to avoid hitting big waves around coastal areas. The aims of this study are to analyze the significant wave height in the Alau-Alau Beach area, Kalianda, South Lampung and to analyze the accuracy of the Wavewatch-III BMKG (Climatology and Geophysics Meteorological Agency) with field data. Data of Wavewatch-III Model was visualized by using GrADS software, then compared it with field measurement data that was carried out for 7 days (20-26 November 2019). RMSE (Root Mean Square Error) was used in seing the accuracy of the model. The results from the field measurement showed that significant wave heights at Alau-Alau Beach ranged from 0.082 to 0.405 meters. The significant wave height from the Wavewatch-III model ranged from 0.027 to 0.118 meters. The results from the RMSE Wavewatch-III model on field data was 0.28.
Status Cemaran Logam Berat di Sedimen Muara Sungai Musi Sumatera Selatan Wike Ayu Eka Putri; Mei Ida Susanti; Rozirwan Rozirwan; M. Hendri; Fitri Agustriani
Buletin Oseanografi Marina Vol 11, No 2 (2022): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v11i2.39765

Abstract

Muara Sungai Musi merupakan perairan yang dipengaruhi oleh berbagai macam aktivitas manusia yang terdapat di sepanjang aliran Sungai Musi dan Sungai Telang serta kawasan muara itu sendiri. Ragam aktivitas ini berpotensi menimbulkan pencemaran di lingkungan perairan salah satunya adalah pencemaran logam berat. Tujuan penelitian ini adalah menganalis tingkat pencemaran logam berat Pb, Cu dan Zn di sekitar Muara Sungai Musi. Penelitian ini dilakukan pada bulan Agustus 2020, pengambilan sampel sedimen dilakukan pada enam titik stasiun dengan menggunakan metode purposive sampling. Konsentrasi logam berat dianalisis menggunakan Atomic Absorption Spectroscopy (AAS) merujuk pada SNI No. 06-6992.5-2004 untuk logam Cu, SNI No. 06-6992.3-2004 untuk logam Pb dan SNI No. 06-6992.8-2004 untuk logam Zn. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi rata-rata logam berat di sedimen Muara Sungai Musi berkisar antara 2,673 - 12,517 µg/g Pb, 1,927 - 5,9 µg/g Cu, 25,257 - 54,43 µg/g Zn. Kualitas sedimen dalam kategori baik dan aman bagi kehidupan biota di ingkungan Muara Sungai Musi karena rendahnya kontaminasi logam berat (Pb, Cu, Zn). Tingkat pencemaran logam berat Pb, Cu dan Zn di Perairan Muara Sungai Musi dalam kategori rendah dan tidak tercemar (I_geo<0), terkontaminasi rendah sampai sedang (Cf<1 sampai 1<Cf<3), serta tidak tercemar (PLI<1).  Musi River Estuary is waters that are influenced by various kinds of human activities originating from settlements, Musi River, Telang River and Bangka Strait causing pollution in the aquatic environment including heavy metal pollution. The purpose of this study was to analyze the level of heavy metal pollution Pb, Cu and Zn around the mouth of the Musi River. This research was conducted in August 2020 and sediment sampling was carried out at six stations using a purposive sampling method. Heavy metal concentrations were analyzed using Atomic Absorption Spectroscopy (AAS) refer to SNI No. 06-6992.5-2004 for Cu, SNI No. 06-6992.3-2004 for Pb and SNI No. 06-6992.8-2004 for Zn.. The results showed that the average concentration of heavy metals ranged from 2,873 – 12,51 µg/g Pb, 1,927 - 5,9 µg/g Cu, 25,257 - 54,43 µg/g Zn. The quality of the sediment is in the good and safe category because of the low contamination of heavy metals (Pb, Cu, Zn) for the life of biota in the Musi River Estuary Environment. The level of heavy metal pollution Pb, Cu and Zn in the Musi River Estuary is in the low category and not polluted (I_geo<0), low to moderate contamination (Cf<1 to 1<Cf<3), and not polluted (PLI<1).

Filter by Year

2011 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 14, No 3 (2025): Buletin Oseanografi Marina Vol 14, No 2 (2025): Buletin Oseanografi Marina Vol 14, No 1 (2025): Buletin Oseanografi Marina Vol 13, No 3 (2024): Buletin Oseanografi Marina Vol 13, No 2 (2024): Buletin Oseanografi Marina Vol 13, No 1 (2024): Buletin Oseanografi Marina Vol 12, No 3 (2023): Buletin Oseanografi Marina Vol 12, No 2 (2023): Buletin Oseanografi Marina Vol 12, No 1 (2023): Buletin Oseanografi Marina Vol 11, No 3 (2022): Buletin Oseanografi Marina Vol 11, No 2 (2022): Buletin Oseanografi Marina Vol 11, No 1 (2022): Buletin Oseanografi Marina Vol 10, No 3 (2021): Buletin Oseanografi Marina Vol 10, No 2 (2021): Buletin Oseanografi Marina Vol 10, No 1 (2021): Buletin Oseanografi Marina Vol 9, No 2 (2020): Buletin Oseanografi Marina Vol 9, No 1 (2020): Buletin Oseanografi Marina Vol 8, No 2 (2019): Buletin Oseanografi Marina Vol 8, No 1 (2019): Buletin Oseanografi Marina Vol 7, No 2 (2018): Buletin Oseanografi Marina Vol 7, No 1 (2018): Buletin Oseanografi Marina Vol 6, No 2 (2017): Buletin Oseanografi Marina Vol 6, No 1 (2017): Buletin Oseanografi Marina Vol 5, No 2 (2016): Buletin Oseanografi Marina Vol 5, No 1 (2016): Buletin Oseanografi Marina Vol 3, No 1 (2014): Buletin Oseanografi Marina Vol 2, No 4 (2013): Buletin Oseanografi Marina Vol 2, No 3 (2013): Buletin Oseanografi Marina Vol 2, No 2 (2013): Buletin Oseanografi Marina Vol 2, No 1 (2013): Buletin Oseanografi Marina Vol 1, No 5 (2012): Buletin Oseanografi Marina Vol 1, No 3 (2012): Buletin Oseanografi Marina Vol 1, No 2 (2012): Buletin Oseanografi Marina Vol 1, No 1 (2011): Buletin Oseanografi Marina More Issue