cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
BULETIN OSEANOGRAFI MARINA
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : 20893507     EISSN : 25500015     DOI : -
Core Subject : Science,
Buletin Oseanografi Marina (BULOMA) adalah jurnal yang menginformasikan hasil penelitian dan telaah pustaka tentang aspek Oseanografi, Ilmu Kelautan, Biologi Laut, Geologi Laut, Dinamika Laut dan Samudera, Estuari, Kajian Enerji Alternatif, Mitigasi Bencana, Sumberdaya Alam Pesisir, Laut dan Samudera.
Arjuna Subject : -
Articles 405 Documents
Analisis Spasial dan Temporal Marine Heatwave di Selat Sunda (1982-2021) Anggraeni, Nimas Ratri Kirana; Attaqwa, Rizal; Simangunsong, Felix Gok Asi; Gunady, Stephanie Michelle; Maslukah, Lilik; Wirasatriya, Anindya
Buletin Oseanografi Marina Vol 14, No 3 (2025): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v14i3.68953

Abstract

Marine Heatwaves (MHW) adalah kondisi meningkatnya suhu permukaan laut (SPL) secara ekstrem pada suatu periode tertentu. Fenomena MHW memberikan dampak signifikan terhadap ekosistem laut, seperti pemutihan terumbu karang, perubahan distribusi massa air, dan penurunan keanekaragaman hayati. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi karakteristik fenomena MHW, termasuk frekuensi, durasi, dan intensitas kumulatifnya, serta menganalisis peran dinamika atmosfer seperti El Niño-Southern Oscillation (ENSO), Indian Ocean Dipole (IOD), dan Outgoing Longwave Radiation (OLR) dalam memengaruhi kemunculan MHW di Selat Sunda. Data yang digunakan berupa SPL harian dari OSTIA Marine Copernicus selama periode 1982–2021. Berdasarkan hasil analisis data selama 1982-2021 menunjukkan bahwa fenomena MHW paling parah terjadi pada tahun 1998, dengan intensitas maksimum mencapai 1,6187°C dan berlangsung selama 86 hari. Peningkatan signifikan DMI dan ONI menunjukkan pengaruh kuat dari IOD positif dan El Niño, yang menyebabkan perbedaan suhu bagian barat dan timur Samudra Hindia. Anomali OLR positif yang tinggi mencerminkan kondisi minim konveksi, sehingga mengurangi tutupan awan dan curah hujan. Kombinasi anomali ini memperparah pemanasan laut dan memperkuat intensitas serta durasi MHW, khususnya pada tahun 1998. Tren tahunan menunjukkan MHW di Selat Sunda semakin sering, lama, dan intens, menekankan pentingnya upaya mitigasi dan adaptasi terhadap dampak perubahan iklim, khususnya di wilayah pesisir yang rentan.
Trophic Level Analysis of Eretan Coastal Waters, Indramayu Regency, West Java Province Zainalarifin, Jauhar; Effendi, Hefni; Mashar, Ali; Aprilia, Mita
Buletin Oseanografi Marina Vol 14, No 3 (2025): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v14i3.72062

Abstract

The coastal waters of Eretan located in the north of Indramayu Regency are used as fishing grounds by local fishermen. The condition of water input, especially from the surrounding river waters, namely the Cimanuk River, Cipunagara River, and Perawan River, is thought to affect the condition of coastal waters. This study aims to analyze the trophic level based on water quality conditions. Data collection on the quality of the aquatic environment was carried out in three locations with purposive sampling considerations, namely the Cipunagara estuary, the Perawan estuary, and the Cimanuk estuary. Sampling was carried out in two different seasons, namely the dry season and the rainy season. The method used in the analysis is the TRIX Index based on nutrients, phosphate, chlorophyll-α, and DO saturation. Meanwhile, water quality parameters at each location were analyzed using principal component analysis (PCA). The results of the study showed that the main water quality parameters tended to differ in each season. The trophic level at the three locations had values between 4.99 and 8.59, so they had mesotrophic to hypertrophic status. This shows that coastal water conditions need to be managed so that water conditions are more stable.
Utilization of Satellite Imagery and Integration of the HVSR Inversion Method for Coastline Changes in the Nangai Beach Tourism Area, North Bengkulu Regency Helinnes, Putri; Hadi, Arif Ismul; Farid, Muchammad; Setyowati, Yuni; Hardiansa, Debi; Gumanty, Usman; Raihana, Hana; Al-Ansory, Andre Rahmat; Muammar, Zaky
Buletin Oseanografi Marina Vol 14, No 3 (2025): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v14i3.68258

Abstract

This research analyzes shoreline changes in the Nangai Beach area; North Bengkulu Regency using Satellite Image data and analyzes subsurface structures using the Horizontal to Vertical Spectral Ratio (HVSR) method. The main objective of this research is to identify shoreline changes along the Nangai Beach area that occur due to abrasion. Data were collected from 30 points, with a distance of ±100 meters between each point. The research shows that the condition of the area is quite stable to vulnerable to the occurrence of abrasion disasters. Coastline changes were obtained using Satellite Image data from 2011 to 2023. Changes can be observed between points 17 and 35.63 meters, and at point 2, 33.87 meters. The Horizontal-to-Vertical Spectral Ratio (HVSR) method determines dominant frequency values and processes them through amplification to calculate the seismic vulnerability index, sediment layer thickness, and shear wave speed. These values are used to identify areas vulnerable to coastal abrasion. Based on the interpretation, hard rock is shown with a dominant frequency value () in the range 2.35-5.08 Hz, while soft rock is shown in the range 5.71-9.05 Hz. The earthquake vulnerability value () in the range 0.49-2.68 is soft rock, while the value range 3.42-5.61 is hard rock. The lower the vulnerability value (), the more susceptible the area is to abrasion. The shear wave velocity () value is low with a range of 186.83-350.85 while the high value is with a range of 350.85-596.87. A layer of rock with a 3D cross-section can be viewed using 3D modeling software by entering the value of Vs. This research makes a significant contribution to abrasion disaster mitigation through a geophysical approach.
Identifikasi Bakteri Vibrio pada Kawasan Tambak Udang Vaname dengan Menggunakan Gen 16S rRNA Pariakan, Arman; Rahim, Rahim; Tasabarmo, Ilham Antariksa; Indrayani, Indrayani
Buletin Oseanografi Marina Vol 14, No 3 (2025): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v14i3.71562

Abstract

Penyakit pada budidaya udang Litopenaeus vannamei dipicu oleh berbagai faktor salah satunya adalah vibriosis. Pengendalian penyakit vibriosis sangat bergantung pada informasi valid terkait jenis bakteri yang menyerang areal budidaya tambak udang L. vannamei.  Teknik genom dengan analisis berbasis urutan gen 16S rRNA merupakan metode yang dapat digunakan dalam identifikasi spesies bakteri. Tujuan penelitian ini adalah mengindentifikasi jenis bakteri vibrio di wilayah tambak udang pesisir Kabupaten Kolaka.  Penelitian dilaksanakan pada wilayah pesisir Kabupaten Kolaka Provinsi Sulawesi Tenggara, khususnya Kecamatan Wundulako dan Kecamatan Pomalaa.  Analisis identifikasi spesies bakteri dilakukan melalui beberapa tahapan yaitu; pengambilan sampel air pada 3 lokasi areal tambak udang; analisis karakteritik fisik bakteri; karakteriksasi secara biomolekuler menggunakan gen 16S rRNA. Hasil penelitian, ditemukan empat  isolat berdasarkan BLAST nukleotida dari NCBI, yaitu isolat Wundulako 1 dan 2 menunjukkan kesesuaian dengan Vibrio neocaledonicus dan Vibrio harveyi masing-masing sebesar 99%. Kemudian isolat Pomalaa 1 dan 1.1 menunjukkan  kesesuaian sebesar 100% untuk Vibrio sp dan Vibrio bacterium dengan kesamaan yang rendah sebesar 86,45% dan query cover 94%, sehingga isolat Pomalaa 1.1 dianggap sebagai spesies outgrup tersendiri pada pohon filogenetik. Studi ini,  memberikan dasar teori dan dukungan teknis untuk pencegahan penyakit yang efektif pada tahap postlarva hingga udang dewasa dan mendukung pengembangan industri udang yang sehat di pesisir Kabupaten Kolaka.
Kontaminasi Mikroplastik dan Perubahan Histologis Organ Ikan sebagai Indikator Biomonitoring Pencemaran Pesisir di Pulau Baai, Provinsi Bengkulu Dian Fita Lestari; Santi Nurul Kamilah; Yulia Fitriani; LutfiaAzka Hani; Asri Jade Larisa; Ibranio Risditama; Hengki Turnando
Buletin Oseanografi Marina INPRESS ARTICLE
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Mikroplastik (<5 mm) merupakan polutan emergen di ekosistem perairan yang berpotensi menimbulkan efek toksik pada organisme akuatik, termasuk gangguan fisiologis, stres oksidatif, dan peningkatan mortalitas ikan. Penelitian ini bertujuan menganalisis cemaran mikroplastik serta gambaran histologis organ insang dan usus ikan di perairan Pulau Baai, Provinsi Bengkulu. Analisis mikroplastik menggunakan larutan KOH 10%, sedangkan histologi menggunakan metode parafin dengan pewarnaan Hematoksilin-Eosin. Sampel ikan terdiri atas empat spesies, yaitu tongkol, selar, gulama, dan kape-kape, masing-masing sebanyak 20 ekor. Hasil penelitian menunjukkan keberadaan mikroplastik pada kedua organ dengan kelimpahan berkisar 98–287 partikel/gram; jumlah tertinggi ditemukan pada ikan tongkol dengan rata-rata 139 partikel/gram. Bentuk mikroplastik yang teridentifikasi meliputi filamen, fragmen, dan film, dengan filamen sebagai bentuk dominan. Warna mikroplastik yang paling banyak ditemukan adalah hitam dan transparan. Analisis histologis insang menunjukkan perubahan struktural berupa hiperplasia, pengangkatan epitelium, pemendekan lamela sekunder, fusi lamela primer, edema, dan lisis. Histologis usus menunjukkan kerusakan berupa lisis, erosi vili, abnormalitas sel goblet, serta terlepasnya epitel mukosa dari lamina propria. Kerusakan struktur jaringan tersebut dapat dipengaruhi adanya tekanan lingkungan di perairan laut Bengkulu yang diduga dipengaruhi oleh paparan berbagai bahan pencemar, termasuk mikroplastik sebagai salah satu kontaminan potensial di ekosistem perairan.
Kelimpahan Epifit pada Lamun Enhalus acoroides Dan Thalassia hemprichii di Pesisir Timur Pulau Bintan Feny Herawati; Fadhliyah Idris; Aditya Hikmat Nugraha
Buletin Oseanografi Marina Vol 15, No 2 (2026): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v15i2.75531

Abstract

Epifit adalah organisme yang menempel pada permukaan tumbuhan seperti pada daun lamun. Keberadaan epifit pada daun lamun dalam kondisi yang berlebih dapat mengakibatkan penurunan produktivitas pada lamun. Terdapat dua jenis lamun yang memiliki tingkat kehadiran yang cukup tinggi di perairan yaitu Enhalus acoroides  dan Thalassia hemprichii. Tujuan dari penelitian ini ialah untuk mengidentifikasi jenis epifit yang menempel dan menghitung kelimpahan epifit pada lamun Enhalus acoroides dan Thalassia hemprichii di Pesisir Timur Pulau Bintan. Terdapat 3 stasiun pengamatan, yaitu meliputi: Teluk Bakau. Malang Rapat, dan Berakit. Penentuan lokasi pengamatan berdasarkan Purposive Sampling. Metode sampling menggunakan transek kuadrat 50x50 cm dan diletakkan pada titik 0 m, 50 m, dan 100 m pada line transek yang tegak lurus dengan garis pantai. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komposisi epifit pada lamun Enhalus acoroides dan Thalassia hemprichii terdiri dari 5 kelas yaitu Bacillariophyceae, Cyanophyceae, Dinophyceae, Chlorophyceae, dan Conjugatophyceae. Kelimpahan epifit pada lamun Enhalus acoroides pada ketiga lokasi penelitian berkisar 4912,74 – 7517,25 ind/cm2. Kelimpahan epifit pada lamun Thalassia hemprichii di ketiga lokasi penelitian berkisar 6128,29 – 7600,37 ind/cm2. Berdasarkan hasil analisis komponen utama  menunjukkan bahwa kelimpahan epifit memiliki keterkaitan dengan nirat dan fosfat.    
Variabilitas Spasial Klorofil-a Gradien Pesisir–Lepas Pantai Perairan Kota Langsa Teuku Muhammad Faisal; Tri Muji Susantoro; Riza Yuliratno Setiawan; Andika Putriningtias
Buletin Oseanografi Marina Vol 15, No 2 (2026): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v15i2.82928

Abstract

Perairan Kota Langsa merupakan sistem pesisir tropis yang dipengaruhi masukan daratan, dinamika estuarin, dan konektivitas dengan Selat Malaka, sehingga distribusi klorofil-a berpotensi membentuk gradien yang jelas dari pesisir ke lepas pantai. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pola spasial–temporal klorofil-a di perairan Kota Langsa selama 2025 dengan menekankan gradien pesisir–lepas pantai dan perbedaan antar musim. Data diperoleh dari produk Level-2 Sentinel-3 OLCI berbasis jaringan saraf tiruan (CHL_NN) dan dianalisis melalui komposit median bulanan dengan ambang minimal lima hari observasi valid per piksel. Analisis statistik dilakukan menggunakan uji Kruskal–Wallis untuk menguji perbedaan keseluruhan antar kelompok, dilanjutkan dengan uji Dunn untuk mengidentifikasi pasangan kelompok yang berbeda signifikan. Hasil menunjukkan bahwa konsentrasi klorofil-a membentuk gradien yang jelas, dengan nilai tertinggi pada zona 0–5 km dan menurun bertahap hingga zona 15–20 km. Zona pesisir relatif lebih stabil dibanding zona transisi dan lepas pantai. Perbedaan antar musim tidak menunjukkan pola yang kuat. Temuan ini menegaskan bahwa distribusi klorofil-a di Langsa lebih ditentukan oleh gradien spasial pesisir–lepas pantai daripada oleh pembagian musim, serta memperkuat penggunaan zonasi jarak dan kontrol representativitas temporal sebagai kerangka analisis produktivitas primer pesisir tropis berbasis satelit. 
Karakteristik Pasang Surut Perairan Bali dan Lombok Bachtiar W. Mutaqin; Arum Puspitorukmi
Buletin Oseanografi Marina Vol 15, No 2 (2026): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v15i2.72399

Abstract

Wilayah kepesisiran  Bali dan Lombok merepresentasikan interaksi antara potensi ekonomi berbasis kelautan, seperti pariwisata dan perikanan, dengan tingginya eksposur terhadap risiko bencana. Salah satu parameter hidro-oseanografi yang sangat penting dalam dinamika kepesisiran dan dapat memengaruhi kondisi lingkungan kepesisiran adalah pasang surut. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi karakteristik pasang surut di perairan Bali dan Lombok, mulai 19 Januari 2024 hingga 16 Februari 2024. Data pasang surut dikumpulkan dari tiga stasiun pasang surut di Pulau Bali (Celukan Bawang, Jembrana, dan Benoa) dan empat stasiun pasang surut di Pulau Lombok (Pemenang, Lembar, Teluk Awang, dan Tanjung Luar) dengan interval pengukuran setiap satu jam. Data tersebut mencakup satu siklus sinodik bulan penuh untuk memastikan keterwakilan fenomena pasang surut purnama dan perbani. Data dari masing-masing stasiun tersebut kemudian diproses menggunakan metode Admiralty dengan penyelarasan datum vertikal pada Mean Sea Level untuk menghitung nilai elevasi penting muka air laut, amplitudo konstanta harmonik pasang surut, nilai Formzahl, dan julat pasang surut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tipe pasang surut di perairan Bali dan Lombok Timur adalah tipe campuran condong harian ganda (F = 0,31–1,23), sedangkan di Lombok Barat adalah tipe campuran condong harian tunggal (F = 1,51–2,19). Perairan Bali dan Lombok termasuk dalam kategori pasang surut meso dengan rentang pasang surut antara 247,1–374,0 cm. Secara teoretis, karakter meso-tidal ini mengindikasikan potensi pantai reflektif saat pasang (high-tide reflective) dan pantai intermediate-disipatif ketika surut (low-tide intermediate-dissipative). Hasil penelitian ini memberikan basis data penting bagi penentuan jendela operasional nelayan, akurasi desain rekayasa pelabuhan untuk mitigasi banjir pasang, serta penjaminan keselamatan navigasi pada alur pelayaran dengan kedalaman terbatas.
Deteksi Karakteristik “Konda” Dari Pergerakan Pasang Surut Berdasarkan Kearifan Lokal Suku Sama Salnuddin Salnuddin; Muhammad Said Alhadad; Asmar Hi Daud; Mohamad Abjan fabanjo
Buletin Oseanografi Marina Vol 15, No 2 (2026): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v15i2.81919

Abstract

Masyarakat Suku Sama mendiskripsikan konda adalah kondisi tinggi muka air dalam kondisi tidak pasang dan tidak surut dengan permukaan air relatif tenang. Mereka mampu mendeteksi karakter dari tinggi air serta waktu terjadinya konda, dimana konda dapat terjadi dimalam atau siang hari dan berlangsung selama 3 – 5 hari. Informasi tersebut mengindikasikan sebagai pengetahuan lokal “ethno-tide” sebagai dasar mereka menyusun perencanaan aktifitas di laut. Pola, waktu serta lamanya pergerakan tinggi air sebagai karakteristik pasang surut saat konda terjadi. Karakteristik tersebut perlu dibuktikan akurasi ethno-tide Suku Sama dalam mengidentifikasi fenomena konda. Hasil penelitian ethno-tide Suku Sama untuk tipe pasang surut campuran condong keharian ganda memperlihatkan bahwa pola tinggi air peak I < peak II jika posisi bulan dan matahari berada pada posisi Ephimeries (Dec) yang sama terhadap ekuator langit,  peak I > peak II jika bulan berada di posisi ephimeries yang berbeda dari ekuator langit. Konda mempunyai karakteristik yang membentuk keseimbangan antara pola pembentuk, durasi serta waktu terjadinya. Pemahaman akan waktu penanggalan hijriah, waktu terjadinya konda terhadap waktu shalat fardhu dan durasi konda memudahkan masyarakat Suku Sama merencanakan aktifitas mereka di laut. Pengetahuan lokal Suku Sama dalam mendeteksi fenomena konda adalah suatu kebenaran ilmiah.
Plankton sebagai Bioindikator Kualitas Perairan Lapangan Senoro, Kabupaten Banggai, Provinsi Sulawesi Tengah Kasim Mansyur; Musayyadah Tisïn; Nana Sutisna; Enrico Putra Nurdin; Clara Maulidiansa; Rifki Fahrezi
Buletin Oseanografi Marina Vol 15, No 2 (2026): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v15i2.78108

Abstract

Penelitian bertujuan menganalisis komunitas  plankton berdasarkan komposisi jenis, kelimpahan, dan indeks ekologi serta hubungannya dengan parameter kualitas air guna menilai status ekologis perairan Lapangan Senoro. Pengambilan sampel dilakukan pada Bulan Februari hingga April 2024 di tiga lokasi yang merepresentasikan lokasi pembuangan limbah aktivitas perusahaan dengan kategori berbeda yaitu limbah industri berbasis minyak, limbah domestik organik, dan limbah anorganik. Sampel plankton di koleksi dengan penyaringan 100 liter air laut menggunakan plankton net mesh size 25 µm, kemudian diidentifikasi di laboratorium dan dianalisis indeks ekologinya. Parameter kualitas air diukur secara in situ dan dianalisis untuk melihat keterkaitannya dengan struktur komunitas.  Hasil penelitian menunjukkan keberadaan lima kelas fitoplankton dan 7 kelas zooplankton. Jumlah spesies terbanyak untuk kelompok fitoplankton adalah kelas Bacillariophyceae (9 spesies), sementara jumlah zooplankton terbanyak berasal dari kelas Copepoda (4 spesies). Kelimpahan tertinggi diperoleh pada spesies Leptocylindricus sp. (kelas Bacillariophyceae) dan Temora sp. (kelas Copepoda). Temuan ini mengindikasikan kelas Bacillariophyceae dan Copepoda berperan sangat penting pada perairan lokasi penelitian dan merupakan komponen kunci yang sensitif terhadap perubahan kualitas perairan. Nilai indeks ekologi menunjukkan keanekaragaman plankton dalam rentang penilaian sedang, mencerminkan kondisi lingkungan perairan tidak sedang mengalami tekanan ekologi yang besar. Komunitas plankton yang seimbang dan tidak didominasi satu spesies mengindikasikan kualitas perairan masih berada dalam kondisi yang belum mengalami gangguan signifikan akibat aktivitas pembuangan limbah. 

Filter by Year

2011 2026


Filter By Issues
All Issue Vol 15, No 2 (2026): Buletin Oseanografi Marina Vol 15, No 1 (2026): Buletin Oseanografi Marina INPRESS ARTICLE Vol 14, No 3 (2025): Buletin Oseanografi Marina Vol 14, No 2 (2025): Buletin Oseanografi Marina Vol 14, No 1 (2025): Buletin Oseanografi Marina Vol 13, No 3 (2024): Buletin Oseanografi Marina Vol 13, No 2 (2024): Buletin Oseanografi Marina Vol 13, No 1 (2024): Buletin Oseanografi Marina Vol 12, No 3 (2023): Buletin Oseanografi Marina Vol 12, No 2 (2023): Buletin Oseanografi Marina Vol 12, No 1 (2023): Buletin Oseanografi Marina Vol 11, No 3 (2022): Buletin Oseanografi Marina Vol 11, No 2 (2022): Buletin Oseanografi Marina Vol 11, No 1 (2022): Buletin Oseanografi Marina Vol 10, No 3 (2021): Buletin Oseanografi Marina Vol 10, No 2 (2021): Buletin Oseanografi Marina Vol 10, No 1 (2021): Buletin Oseanografi Marina Vol 9, No 2 (2020): Buletin Oseanografi Marina Vol 9, No 1 (2020): Buletin Oseanografi Marina Vol 8, No 2 (2019): Buletin Oseanografi Marina Vol 8, No 1 (2019): Buletin Oseanografi Marina Vol 7, No 2 (2018): Buletin Oseanografi Marina Vol 7, No 1 (2018): Buletin Oseanografi Marina Vol 6, No 2 (2017): Buletin Oseanografi Marina Vol 6, No 1 (2017): Buletin Oseanografi Marina Vol 5, No 2 (2016): Buletin Oseanografi Marina Vol 5, No 1 (2016): Buletin Oseanografi Marina Vol 3, No 1 (2014): Buletin Oseanografi Marina Vol 2, No 4 (2013): Buletin Oseanografi Marina Vol 2, No 3 (2013): Buletin Oseanografi Marina Vol 2, No 2 (2013): Buletin Oseanografi Marina Vol 2, No 1 (2013): Buletin Oseanografi Marina Vol 1, No 5 (2012): Buletin Oseanografi Marina Vol 1, No 3 (2012): Buletin Oseanografi Marina Vol 1, No 2 (2012): Buletin Oseanografi Marina Vol 1, No 1 (2011): Buletin Oseanografi Marina More Issue