cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
BULETIN OSEANOGRAFI MARINA
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : 20893507     EISSN : 25500015     DOI : -
Core Subject : Science,
Buletin Oseanografi Marina (BULOMA) adalah jurnal yang menginformasikan hasil penelitian dan telaah pustaka tentang aspek Oseanografi, Ilmu Kelautan, Biologi Laut, Geologi Laut, Dinamika Laut dan Samudera, Estuari, Kajian Enerji Alternatif, Mitigasi Bencana, Sumberdaya Alam Pesisir, Laut dan Samudera.
Arjuna Subject : -
Articles 374 Documents
Kajian Karakteristik Sedimen Dasar di Perairan Sungailiat untuk Mendukung Pengembangan Pelabuhan Perikanan Nusantara Sungailiat, Kab. Bangka Reno Arief Rachman; Mardi Wibowo; Edwin Adi Wiguna; Sapto Nugroho; Madyani Madyani; Budi Santoso
Buletin Oseanografi Marina Vol 10, No 2 (2021): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v10i2.31662

Abstract

Tingkat sedimentasi di muara S. Jelitik sangat tinggi sehingga ketika air laut surut, kapal-kapal tidak dapat keluar masuk ke Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Sungailiat. Untuk menangani masalah tersebut, pemerintah secara periodik melakukan pengerukan yang berbiaya tinggi. Oleh karena itu, Pemprov Bangka Belitung merencanakan membangun infrastruktur pengendali sedimen. Dalam perencanaan infrastruktur pengendali sedimen diperlukan data-data karakteristik sedimen dasar. Saat ini kajian khusus karateristik sedimen dasar di kawasan ini masih belum ada. [A1] Oleh karena itu dilakukan kajian ini dengan tujuan mengetahui pola sebaran karakteristik sedimen dasar seperti berat jenis, tekstur sedimen, ukuran d50 butir sedimen dan analisis stastik sedimen dasar. Karakteristik ini sangat penting untuk kajian sedimentasi selanjutnya terutama sebagai data masukan perhitungan kecepatan sedimentasi baik secara analitik maupun dengan pemodelan numerik. Metode yang digunakan dalam kajian ini adalah survei lapangan, pengambilan sampel sedimen dasar, analisis laboratorium dan analisis statistik sedimen. Berdasarkan kajian ini sedimen dasar di perairan Sungailiat ini didominasi oleh pasir sedikit campuran kerikil dengan nilai d50 berkisar antar 1-1,5 mm dan terpilah buruk. Kondisi sedimen dasar berupa pasir mempunyai daya dukung yang baik untuk pengembangan pelabuhan.Sedimentation in the S Jelitik estuary is very high, so when the tide is low, the ships traffic at the Sungailiat Fisheries Port is disturbed. So far, dredging has been done to solve this problem, which requires high costs. To overcome this, the Provincial Government of Bangka Belitung plans to build a sediment control infrastructure. In planning the sediment control infrastructure, sea bottom sediment characteristics data are needed. Currently, there is no specific study of se bottom sediment characteristics in this area. Therefore, this study was conducted with the aim of knowing the distribution pattern of seabottom sediment characteristics such as density, sediment texture, d50 grain size and analysis of the basic sediment statistics. This characteristic is very important for further sedimentation studies, especially as input data for calculating the sedimentation velocity both analytically and by numerical modeling. The methods used in this study are field surveys, sediment sampling, laboratory analysis and sediment statistical analysis. Based on this study, the seabottom sediment in Sungailiat waters is dominated by sand, a little mixture of gravel, with d50 values ranging from 1-1.5 mm and poorly segregated. The seabottom sediment in the form of sand have good capacity for port development.  
Variations in Short Wave Radiation and Ocean Temperature in the Tropical Indian Ocean Ahmad Fadlan; Muchammad Rizki; Tomi Ilham Pahlewi; Mohammad Ridwan Nur Prasetyo; Fajar Masan Bali; Imelda Umiyatul Badriyah; Muhammad Aldi Lukman
Buletin Oseanografi Marina Vol 10, No 2 (2021): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v10i2.36552

Abstract

The purpose of this study was to know the results of the relation between short wave radiation (SWR) and sea temperature. This study used data of SWR and sea temperature from RAMA buoy which part of the data was obtained by the INA-PRIMA 2019. Besides, the SWR and Sea Temperature model data from ERA-5 and Copernicus were required to see these spatial and temporal variations. Diurnal analysis to determine the sea temperature responds to SWR parameters. While monthly analysis to see the variations of SWR and the sea temperature during Indian Ocean Dipole (IOD). The results show that there is a different response at sea temperature for each layer to the SWR parameter in diurnal. SWR can affect sea temperatures until 20 meters of depth. There is a time lag between 2 and 3 hours when the sun heats the sea until the sea surface temperature increases. The 20 meters of depth has a lag time until 4 hours. As for 40 to 80 meters of depth, the sea temperature was not longer responded by SWR, and the temperature is changed by the strength of these mixing.Warm pools are generally located in East Indian Ocean and the high SWR were very strong in West Indian Ocean along an anual.
Hubungan Panjang Berat Teripang Holothuria atra di Pulau Panjang, Jepara Primaswatantri Permata; Suryono Suryono; Frijona F. Lokollo; Widianingsih Widianingsih; Hadi Endrawati; Muhammad Zainuri; Retno Hartati
Buletin Oseanografi Marina Vol 10, No 2 (2021): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v10i2.36380

Abstract

Holothuria atra merupakan salah satu teripang dan sering dijumpai berasosiasi dengan padang lamun dan  substrat pasir.  Walaupun bernilai ekonomi rendah, secara ekologi mempunyai manfaat sebagai bioturbator dan mempunyai potensi dalam bidang farmaseutical. Teripang ini ditenukan hidup di Pulau Panjang, dengan karakteristik perairan tertutup dan dangkal dengan akses yang mudah untuk wisatawan maupun perikanan tangkap yang dapat menjadi tekanan bagi populasi teripang tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk untuk mengetahui hubungan panjang dan berat populasi teripang H. atra di Pulau Panjang, Jepara pada lokasi padang lamun dan pecahan karang dimana H. atra banyak ditemukan. Metode penelitian yang dipergunakan adalah metode deskriptif eksploratif dengan melakukan pengambilan sampel H. atra dengan teknik sampling complete enumeration pada luas lokasi penelitian yang telah ditentukan.  Hasil penelitian  menunjukkan kepadatan teripang di stasiun padang lamun (Stasiun A) lebih rendah dengan distribusi ukuran yang lebih kecil daripada di stasiun pecahan karang (Stasiun B). Pada semua stasiun dan waktu pengambilan sampel, pola pertumbuhan relatif yang ditunjukkan oleh hubungan panjang dan berat teripang H. atra bersifat allometrik negatif dengan keeratan hubungan yag sangat kecil. Hal ini disebabkan oleh kesulitan pengukuran pada teripang yang bertubuh lunak dengan elastisitas dinding tubuh (integument), isi pada sistem pencernaan makanannya dan kandungan cairan coelomic (rongga tubuh) yang dapat membuat bias analisa.Holothuria atra is one of species sea cucumbers often found in association with seagrass beds and sand substrates. Although it has low economic value, ecologically it has benefits as a bioturbator and has potential in the pharmaceutical. It is found in Panjang Island, which has characteristic of  closed and shallow waters with easy access for tourists and capture fisheries which can put pressure on the sea cucumber population. This study aimed to determine the relationship between length and weight of H. atra population in the seagrass bed and rubble area in Panjang Island, Jepara. The research method used is descriptive exploratory and H. atra were sampled using a complete enumeration sampling technique at a predetermined area of the research location. The results showed that the density of sea cucumbers at the seagrass beds station (Station A) was lower with a smaller size distribution than at the rubble station (Station B). At all stations and sampling times, the relative growth pattern shown by the correlation between length and weight of H. atra is negative allometric with very small relationship value. This was due to the difficulty of measuring soft-bodied sea cucumbers with the elasticity of the body wall (integument), the contents of the digestive system and coelomic fluid in the body cavity which can bias the analysis.
Stok Karbon Pada Tegakan Vegetasi Mangrove Di Pulau Karimunjawa Ria Azizah Tri Nuraini; Delianis Pringgenies; Chrisna Adhi Suryono; Vicencius Hendra Adhari
Buletin Oseanografi Marina Vol 10, No 2 (2021): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v10i2.31616

Abstract

Hutan Mangrove merupakan suatu ekosistem laut yang memiliki peran penting sebagai penyimpan karbon tertinggi di wilayah tropis. Fungsi mangrove ini dapat membantu dalam mengurangi emisi karbon dan pemanasan global. Pulau Nyamuk dan Pulau Parang merupakan vegtasi alami yang mengalami penurunan luasan mangrove yang diduga disebabkan oleh alih fungsi lahan, sehingga akan menyebabkan penurunan fungsi mangrove dalam menyerap CO2. Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah menganalisis dan menduga total simpanan karbon dan serapan CO2 pada tegakan mangrove di Pulau Nyamuk dan Pulau Parang. Manfaat dilakukanya penelitian ini adalah memberikan informasi mengenai manfaat mangrove sebagai penyerap karbon. Pengambilan data yang dilakukan dalam penelitian ini menggunakan purposive sampling method, dimana setiap lokasi memiliki 3 stasiun (Pulau Nyamuk; Sareh Besar, Sareh Kecil, Ujung; Pulau Parang: Batu Merah, Plawangan, Batu Hitam). Setiap stasiun dibagi menjadi 3 plot untuk dilakukan pengambilan data diameter batang mangrove. Data diameter batang mangrove digunakan untuk menghitung nilai biomasssa tegakan dengan menggunakan rumus allometrik dalam menduga simpanan karbon pada tegakan mangrove suatu area. Hasil penelitian menunjukan bahwa simpanan total karbon pada tegakan mangrove di Pulau Nyamuk memiliki nilai 1.176,48 ton/ha, yang dibagi sebagai berikut: Stsiun Sareh Kecil: 383,16 ton/ha, Stasiun Sareh Besar: 419,51 ton/ha, dan Stasiun Ujung: 373,81 ton/ha, sedangkan di Pulau Parang memiliki nilai 2009.031 ton/ha, yang dibagi sebagai berikut: Stasiun Batu Merah 767,672 ton/ha, Stasiun Batu Hitam 654,444 ton/ha, dan Stasiun Plawangan 586,915. Mangrove Forest is a marine ecosystem that has an important role as the highest carbon storage in the tropics. This mangrove function can help in reducing carbon emissions and global warming. Nyamuk Island and Parang Island are natural vegetation which decrease mangrove area which is caused by land conversion function, so it will cause mangrove function to absorb CO2. The purpose of this research is to analyze and estimate total carbon storage and CO2 uptake on mangrove stands in Nyamuk Island and Parang Island. The benefit of this research is to provide information about the benefits of mangroves as carbon sinks. The data collected in this research using purposive sampling methods, where each location has 3 stations (Nyamuk Island: Sareh Besar, Sareh Kecil, Ujung; Parang Island: Batu Merah, Plawangan, Batu Hitam). Each station is divided into 3 plots for data collection of mangrove stems diameter. The mangrove stem diameter data were used to calculate the stand biomass value by using allometric formula in estimating carbon stock in the mangrove stand of an areas. The results of research, that total carbon deposits in mangrove stands in Nyamuk Island had a value of 1,176.48 tons/ha, divided as follows: Sareh Kecil Station: 383.16 tons / ha, Sareh Besar Station: 419.51 tons / ha, and Ujung Station: 373,81 ton / ha, while in Parang Island has value 2009.031 ton / ha, which is divided as follows: Batu Merah Station 767,672 ton / ha, Batu Hitam Station 654,444 ton / ha, and Plawangan Station 586,915.
Dapatkah Megabentos Epifauna Tumbuh pada Geobag? Studi Kasus di Desa Banyuurip, Gresik Aida Sartimbul; Rafika Devi Agustin; Dhira Khurniawan Saputra; Defri Yona; Syarifah Hikmah Julinda Sari; Feni Iranawati; Nurin Hidayati
Buletin Oseanografi Marina Vol 10, No 2 (2021): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v10i2.34971

Abstract

Berbagai upaya telah dilakukan untuk mengatasi masalah abrasi di wilayah pesisir pantai Desa Banyuurip, Gresik. Upaya yang dilakukan salah satunya adalah reboisasi mangrove, namun upaya tersebut belum efektif, sehingga salah satu solusinya adalah dengan dipasangnya geosyntheticbag (geobag), yang merupakan kantong ramah lingkungan berisi pasir yang disusun dan dapat berfungsi sebagai perangkap sedimen dan pelindung pantai. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pada bulan ke berapa biota dapat tumbuh pada geosintetik dan struktur komunitas biota yang tumbuh menggunakan metode random transek. Hasil penelitian menunjukkan bahwa megabentos epifauna dapat tumbuh pada geobag pada bulan ke-4 setelah pemasangan, yang terdiri dari 3 spesies yaitu Metopograpsus sp., Ostrea edulis, dan Fistulobalanus albicostatus. Kelimpahan jenis megabentos pada bulan ke-4 rata-rata mencapai 198 individu/m2, sedangkan kelimpahan pada bulan ke-5 mencapai 259 individu/m2. Hasil perhitungan indeks struktur komunitas megabentos pada bulan ke-4 dan ke-5 secara berurutan meliputi indeks keanekaragaman (H’) bernilai 0,10 dan 0,11; indeks keseragaman (c) bernilai 0,09 dan 0,10; dan indeks dominansi bernilai 0,96 dan 0,96. Berdasarkan penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa geobag berfungsi sebagai pencegah abrasi serta sekaligus dapat menyatu dengan media di sekitarnya sehingga diklaim ramah lingkungan, karena dapat ditumbuhi biota yang tidak mengganggu atau merubah struktur komunitas biota di wilayah tersebut. Various attempts have been made to solve the abrasion in the coastal area of Banyuurip Village, Gresik. To overcome this problem, the community planted the mangroves, but these have not been effective. One solution to this problem is to install a geosynthetic bag (geobag), which is an environmentally friendly bag that is arranged and can be function as a sediment trap. The purpose of this study was to determine when the megabenthos can grow in the geosynthetic and how the community structure grow using the quadrant random transect method. The result showed that epifaunal megabenthos could grow on geobag at the fourth month after installation, which consisted of 3 species. The abundance of megabenthos at the 4th month averaged 198 individuals/m2, while the abundance at the 5th month reached 259 individuals/m2. The structure index (H’) in January and February were 0.10 and 0.11, respectively.  The similarity index (C) were 0.09 and 0.10, and while the dominance index was 0.96 and 0.96. This study is suggested that the geobag can be function both as a deterrent to abrasion and simultaneously integrate with the surrounding media and be claim as environmentally friendly, because it can be overgrown with biota that does not disturb or change the structure of the biota community in the area.
Mikroplastik Pada Sedimen di Zona Pemukiman, Zona Perlindungan Bahari dan Zona Pemanfaatan Darat Kepulauan Karimunjawa, Jepara Revo Raprika Kurniawan; Jusup Suprijanto; Ali Ridlo
Buletin Oseanografi Marina Vol 10, No 2 (2021): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v10i2.31733

Abstract

Karimunjawa merupakan salah satu kawasan Taman Nasional yang terdapat di Indonesia yang terdiri dari pulau-pulau dan terbagi menjadi beberapa zona yang disesuaikan menurut fungsi dan peruntukkannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis dan kelimpahan mikroplastik pada sedimen di zona pemukiman, zona pemanfaatan darat, dan zona perlindungan bahari Kepulauan Karimunjawa, Jepara. Sampel sedimen diambil dengan menggunakan pipa di 3 lokasi yaitu Pelabuhan Perintis, Legon Lele, dan Cemara Kecil. Sampel dikeringkan kemudian dipisahkan berdasakan ukuran butir menggunakan sieve shaker. Sedimen yang terjebak dalam sieve ukuran 0,3 dan 0,1 mm direndam dalam H2O2 30% selama 24 jam selanjutnya mikroplastik dipisahkan dari sedimen dengan 100 ml ZnCl2 densitas 1,5 g/cm-3 kemudian disaring dengan menggunakan kerta Whatman No. 40. Mikroplastik diamati bentuk, warna, dan jumlah menggunakan mikroskop cahaya dengan perbesaran 100x dan diidentifikasi secara visual. Jenis mikroplastik ditentukan dengan Uji FT-IR. Hasil menunjukkan kelimpahan mikroplastik tertinggi ditemukan pada lokasi Legon Lele dengan jumlah sebesar 340 partikel/kg, pada Pelabuhan Perintis sebanyak 245 partikel/kg, dan pada Cemara Kecil sebanyak 245 partikel/kg. Bentuk mikroplastik yang ditemukan yaitu fragment, film, dan fiber. Jenis mikroplastik diduga yaitu HDPE, PVC, Polypropylene (PP), Polystrene (PS), ABS, Latex, LDPE, Nitrile, dan Nylon. Karimunjawa is one of the National Park areas in Indonesia which consists of islands and is divided into zones which are adjusted according to their function and purpose. This study aims to determine the type and abundance of microplastics in sediments in residential zones, land use zones, and marine protection zones of the Karimunjawa Islands, Jepara. Sediment samples were taken using pipes in 3 locations, namely Perintis Harbor, Legon Lele, and Cemara Kecil. The sample is dried and then separated based on grain size using a sieve shaker. Sediments trapped in 0.3 and 0.1 mm sieve sizes were soaked in 30% H2O2 for 24 hours and then microplastic was separated from sediments with 100 ml of ZnCl2 density 1.5 g / cm-3 then filtered using Whatman No. kerta 40. Microplastic observed shapes, colors, and quantities using a light microscope with a magnification of 100x and identified visually. Microplastic type was determined by FT-IR Test. The results showed the highest microplastic abundance was found at the Legon Lele location with an abundance of 340 particles / kg, at the Port of Pioneer as much as 245 particles / kg, and at Cemara Kecil as much as 245 particles / kg. Microplastic forms found are fragments, films, and fibers. Microplastic types are suspected namely HDPE, PVC, Polypropylene (PP), Polystrene (PS), ABS, Latex, LDPE, Nitrile, and Nylon.
Kandungan Bahan Organik dan Karakteristik Sedimen di Perairan Betahwalang, Demak Jamaludin Jamaludin; Sri Sedjati; Endang Supriyantini
Buletin Oseanografi Marina Vol 10, No 2 (2021): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v10i2.30046

Abstract

Betahwalang is a coastal village located in Demak Regency. As a village located in a coastal area, the local population mostly relies on the fisheries sector sourced from sea products. Betahwalang Village has a Mangrove Ecosystem, which is included in the tidal river area of Betahwalang Village. This study aims to look at the comparison of organic matter levels in sediments during tidal and receding river water. Sampling in the field was conducted in March 2019. Sediment samples were taken from 5 stations divided into jetty, mangrove, estuary, and beach areas, where each station was repeated 3 times during high tide and low tide. Analysis of organic matter content of sediment samples using gravimetric methods and data analysis using Non-Parametric Kruskal-Wallis H. The results showed the highest levels of sediment organic matter at station 5 were 74.87 ± 1.81% (low tide) and 66.99 ± 0.38% (high tide) and the lowest sediment organic matter content. at station 4 were 31.56 ± 2.14% (low tide) and 26.93 ± 2.51% (high tide). These results indicate that the organic matter content in the sediment at low tide is higher than at high tide with results that are not significantly different (sig = 0.05).  Betahwalang adalah desa pesisir yang terletak di Kabupaten Demak. Sebagai desa yang terletak di wilayah pesisir, penduduk setempat sebagian besar mengandalkan sektor perikanan yang bersumber dari hasil laut. Desa Betahwalang memiliki Ekosistem Mangrove yang termasuk dalam wilayah sungai pasang surut di Desa Betahwalang. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat kondisi perairan sungai Betahwalang ditinjau dari kandungan bahan organik dalam sedimen selama pasang dan surut. Pengambilan sampel di lapangan dilakukan pada bulan Maret 2019. Sampel sedimen diambil dari 5 stasiun yang dibagi menjadi area dermaga, mangrove, muara dan pantai, di mana setiap stasiun diulang 3 kali selama pasang dan surut. Analisis kandungan bahan organik sampel sedimen menggunakan metode gravimetri, dan analisis data menggunakan Non-Parametrik Kruskal-Wallis H. Hasil penelitian menunjukkan kadar bahan organik sedimen tertinggi di stasiun 5 sebesar 74,87 ± 1,81% (air surut) dan 66,99 ± 0,38 % (air pasang) dan  kandungan bahan organik sedimen terendah. di stasiun 4 sebesar 31,56 ± 2,14 % (air surut) dan 26,93 ± 2,51% (air pasang). Hasil ini menunjukkan bahwa kandungan bahan organik dalam sedimen pada saat air surut lebih tinggi daripada saat air pasang dengan hasil yang tidak berbeda nyata (sig=0,05). 
Pemodelan Sebaran Tumpahan Minyak di Perairan Karawang, Jawa Barat Muh Dandi Firmansyah; Aris Ismanto; Sri Yulina Wulandari; Rikha Widiaratih; Azis Rifai; Warsito Atmodjo
Buletin Oseanografi Marina Vol 10, No 2 (2021): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v10i2.31736

Abstract

Perairan Karawang merupakan salah satu perairan yang dilintasi Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) dimana kapal-kapal besar dan kapal tanker melintasi area perairan ini. Pada bagian utara Perairan Karawang juga terdapat kegiatan pengeboran migas (minyak dan gas) sumur bor milik salah satu perusahaan minyak dan gas nasional, sehingga Perairan Karawang dan sekitarnya mempunyai resiko yang tinggi terhadap tumpahan minyak. Tujuan penelitian ini adalah untuk memperkirakan luasan pola persebaran tumpahan minyak mentah (crude oil) akibat kebocoran sumur bor di perairan Karawang dan wilayah perairan di sekitarnya. Penelitian ini dibagi menjadi dua tahapan, yaitu tahap survei lapangan dan tahap pemodelan numerik. Pemodelan numerik terdiri dari pemodelan arus, sebaran tumpahan minyak, dan nasib  (fate) minyak setelah tumpah yang masing-masing dimodelkan menggunakan model matematika dua dimensi Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dan untuk menentukan lokasi pengukuran menggunakan metode purposive sampling. Trayektori Sebaran tumpahan minyak mentah (crude oil) dominan bergerak dari sumur bor pada koordinat 107°37′32.52″E dan 06°5’39”S menuju ke arah barat, bergerak dari Perairan Karawang menuju Perairan Bekasi. Hal itu terjadi karena peristiwa minyak tumpah terjadi musim timur, yakni arus dominan bergerak dari arah timur dan tenggara menuju ke arah barat dan barat laut. Daerah terdampak tumpahan minyak ini meliputi Kabupaten Karawang dan Kabupaten Bekasi, khususnya wilayah Perairan Kecamatan Muara Gembong dengan luasan sebaran tumpahan minyak sekitar 249.91 km2.   Karawang waters is one of the waters crossed by the Indonesian Archipelago Sea Channel (ALKI) where large ships and tankers cross this water area. In the northern part of Karawang Waters, there is also oil and gas (oil and gas) drilling activities which are owned by one of the national oil and gas companies, so that the Karawang waters and surrounding areas have a high risk of oil spills. The purpose of this study was to estimate the extent of the distribution pattern of crude oil spills due to leakage of wells in the waters of Karawang and the surrounding waters. This research was divided into two stages, namely the field survey stage and the numerical modeling stage. Numerical modeling consists of modeling the flow, distribution of oil spills, and the fate of oil after spilling, each of which is modeled using 2 dimension mathematical model. This study uses quantitative methods and to determine the location of measurements using the purposive sampling method. Trajectory The dominant distribution of crude oil spills moves from the wellbore at coordinates 107 ° 37′32.52 ″ E and 06 ° 5'39 "S heading westward, moving from Karawang Waters to Bekasi Waters. This happened because the oil spill event occurred in the east season, which is the dominant current moving from east and southeast to west and northwest. Areas affected by the oil spill include Karawang Regency and Bekasi Regency, especially the waters of the Muara Gembong District with an area of distribution of oil spills around 249.91 km2.
Dampak Snorkeling Terhadap Persen Tutupan Terumbu Karang Di Pulau Gili Labak Sumenep Madura Insafitri Insafitri; Eka Nurahemma Ning Asih; Wahyu Andy Nugraha
Buletin Oseanografi Marina Vol 10, No 2 (2021): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v10i2.30160

Abstract

Wisata snorkeling terumbu karang di perairan pulau Gili Labak merupakan salah satu sektor wisata bahari yang sedang dikembangkan oleh pemerintah kebupaten Sumenep Madura sejak tahun 2014 hingga saat ini. Peningkatan jumlah wisatawan yang terjadi pada beberapa tahun terakhir dapat menimbulkan resiko tekanan dan kerusakan ekosistem terumbu karang di area snorkeling secara berkala. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dampak kegiatan wisatawan sebelum, selama dan sesudah snorkeling terhadap ekosistem terumbu karang yang dikaji dengan mengetahui jenis karang yang mendominasi, status persentase tutupan terumbu karang serta potensi Dampak Wisata Bahari (DWB) snorkeling di lokasi wisata snorkeling pulau Gili Labak Sumenep. Persentase penutupan lifeform karang pulau Gili Labak khususnya di area snorkelling didominasi oleh karang hidup sebanyak 74% dan unsur abiotik sebesar 22%. Jenis karang yang mendominasi pulau Gili Labak adalah Acropora Branching sebesar 19,88% dan Coral Foliose sebesar 10,25%. Selama waktu 6 minggu pengamatan terjadi penurunan total karang sebesar 0,64% yang termasuk kategori rusak ringan, dimana sebagian besar kerusakan terjadi pada karang dengan bentuk pertumbahan branching misalnya Acropora Submassive dan Coral Submassive. Penurunan persen tutupan karang yang tinggi terjadi setelah kegiatan snorkeling (after) yang dilakukan oleh wisatawan. Analisa potensi Dampak Wisata Bahari (DWB) snorkeling pada terumbu karang di perairan Gili Labak selama 6 minggu pengamatan masuk dalam kategori rendah yaitu berkisar 0,052% hingga 0,085%. Faktor penyebab kecilnya nilai presentase Dampak Wisata Bahari (DWB) ini diduga karena waktu pengamatan cenderung pendek dan jenis karang yang mendominasi yaitu Acropora. Acropora memiliki kemampuan regenerasi lebih cepat dibandingkan jenis lainnya.  The snorkeling activity around coral reefs in the waters of Gili Labak is one of the marine tourism sectors that is being developed by the Sumenep Madura district government since 2014. Increasing number of tourists that occurs in recent years pose a risk of pressure and damage to coral reef ecosystems in the snorkeling area. This study aims to determine the impact of tourist activities before, during and after snorkeling on coral reef ecosystems that are studied by knowing the type of dominated coral, the percentage status of coral cover and the potential Impact of snorkeling at the snorkeling sites of the island of Gili Labak Sumenep. The percentage of coral cover in the island of Gili Labak especially in the snorkelling area is dominated by live coral ( 74%) and abiotic elements by 22%. Coral species that dominate the island of Gili Labak are Acropora Branching at 19.88% and Coral Foliose at 10.25%. During the 6-week observation there was a decrease in live coral cover by 0.64% which was categorized as minor damage, most of the damage occurred to branching   Acropora, sub-massive Acropora and Coral Sub-massive. The high percent decrease in coral cover occurred after snorkeling conducted by tourists. Analysis of the potential impact of snorkeling on coral reefs in the waters of Gili Labak for 6 weeks of observation is in the low category, ranging from 0.052% to 0.085%. The factor causing the small impact of Marine Tourism is presumably because the observation time tends to be short and the dominant coral species is Acropora. Acropora has the ability to regenerate faster than other types.
Effect of Silver Nano Particle Microalgae Chlorella pyrenoidosa and Dunaliella salina on Growth and Survival of Penaeus monodon Larvae Hermin Pancasakti Kusumaningrum; Muhammad Zainuri; Indras Marhaendrajaya; Agus Subagio; Widianingsih Widianingsih; Hadi Endrawati; Annisa Fadillah; Muhammad Iskandar Zulkarnain; Yuvita Muliastuti; Imam Misbach
Buletin Oseanografi Marina Vol 10, No 2 (2021): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v10i2.35483

Abstract

Penaeus monodon is one of the most important farmed crustaceans. Its also known as Asia Tiger Shrimp because its carapace and abdomen are transversely banded with red and white. The use of synthetic antibiotic in aquaculture had caused problems related to health and environmental safety. Chlorella pyrenoidosa and Dunaliella salina are photosynthetic microalgae. Silver nano particle in microalgae C. pyrenoidosa and D. salina had synthesized and showed their growth stability. They offer a potency to be exploited to supported growth and survival of shrimp larvae. The objective of the study was the application of silver nano particle in microalgae C. pyrenoidosa and D. salina on P. monodon larvae. The research methodology was carried out by making microalgae C. pyrenoidosa and D. salina containing silver nano particle and used as feed of shrimp larvae. Observations were made on the growth and survival of shrimp larvae compared to both microalgae and common feed. The results showed that the P. monodon larvae  have the higher growth and survival rate with microalgae C. pyrenoidosa at the beginning of their growth compared to D. salina. However, microalgae without nanosilver and common feed showed a better result for growth and activity of shrimp larvae.

Filter by Year

2011 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 14, No 3 (2025): Buletin Oseanografi Marina Vol 14, No 2 (2025): Buletin Oseanografi Marina Vol 14, No 1 (2025): Buletin Oseanografi Marina Vol 13, No 3 (2024): Buletin Oseanografi Marina Vol 13, No 2 (2024): Buletin Oseanografi Marina Vol 13, No 1 (2024): Buletin Oseanografi Marina Vol 12, No 3 (2023): Buletin Oseanografi Marina Vol 12, No 2 (2023): Buletin Oseanografi Marina Vol 12, No 1 (2023): Buletin Oseanografi Marina Vol 11, No 3 (2022): Buletin Oseanografi Marina Vol 11, No 2 (2022): Buletin Oseanografi Marina Vol 11, No 1 (2022): Buletin Oseanografi Marina Vol 10, No 3 (2021): Buletin Oseanografi Marina Vol 10, No 2 (2021): Buletin Oseanografi Marina Vol 10, No 1 (2021): Buletin Oseanografi Marina Vol 9, No 2 (2020): Buletin Oseanografi Marina Vol 9, No 1 (2020): Buletin Oseanografi Marina Vol 8, No 2 (2019): Buletin Oseanografi Marina Vol 8, No 1 (2019): Buletin Oseanografi Marina Vol 7, No 2 (2018): Buletin Oseanografi Marina Vol 7, No 1 (2018): Buletin Oseanografi Marina Vol 6, No 2 (2017): Buletin Oseanografi Marina Vol 6, No 1 (2017): Buletin Oseanografi Marina Vol 5, No 2 (2016): Buletin Oseanografi Marina Vol 5, No 1 (2016): Buletin Oseanografi Marina Vol 3, No 1 (2014): Buletin Oseanografi Marina Vol 2, No 4 (2013): Buletin Oseanografi Marina Vol 2, No 3 (2013): Buletin Oseanografi Marina Vol 2, No 2 (2013): Buletin Oseanografi Marina Vol 2, No 1 (2013): Buletin Oseanografi Marina Vol 1, No 5 (2012): Buletin Oseanografi Marina Vol 1, No 3 (2012): Buletin Oseanografi Marina Vol 1, No 2 (2012): Buletin Oseanografi Marina Vol 1, No 1 (2011): Buletin Oseanografi Marina More Issue