cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
BULETIN OSEANOGRAFI MARINA
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : 20893507     EISSN : 25500015     DOI : -
Core Subject : Science,
Buletin Oseanografi Marina (BULOMA) adalah jurnal yang menginformasikan hasil penelitian dan telaah pustaka tentang aspek Oseanografi, Ilmu Kelautan, Biologi Laut, Geologi Laut, Dinamika Laut dan Samudera, Estuari, Kajian Enerji Alternatif, Mitigasi Bencana, Sumberdaya Alam Pesisir, Laut dan Samudera.
Arjuna Subject : -
Articles 405 Documents
Respon Pertumbuhan dan Pigmen Fotosintetik Klorofil-a Spirulina platensis pada Intensitas Cahaya Berbeda Muhamad Amrulloh; Rose Dewi
Buletin Oseanografi Marina Vol 15, No 1 (2026): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v15i1.73449

Abstract

Intensitas cahaya merupakan faktor utama yang memengaruhi fotosintesis, pertumbuhan, dan biosintesis pigmen pada mikroalga. Spirulina platensis memiliki kemampuan adaptasi fisiologis yang tinggi terhadap variasi cahaya, namun informasi mengenai respons pertumbuhan dan dinamika klorofil-a dalam satuan lux masih terbatas. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh intensitas cahaya terhadap kepadatan sel, laju pertumbuhan, dan kandungan klorofil-a S. platensis. Penelitian dilakukan secara eksperimental menggunakan rancangan acak lengkap dengan tiga perlakuan intensitas cahaya (500, 1029, dan 2000 lux) dan tiga ulangan. Kultivasi berlangsung selama tujuh hari dengan kepadatan awal 8,910 sel/mL menggunakan media Walne. Kepadatan sel diamati setiap hari, laju pertumbuhan dihitung pada fase eksponensial, dan klorofil-a dianalisis secara spektrofotometri. Hasil menunjukkan bahwa perlakuan 2000 lux menghasilkan kepadatan sel tertinggi (29,232 ± 8,907 sel/mL), laju pertumbuhan tertinggi (0,23 ± 0,05 hari⁻¹), serta kandungan klorofil-a tertinggi (0,333 ± 0,0085 µg/L). Uji ANOVA (α = 0,05) menunjukkan bahwa intensitas cahaya berpengaruh signifikan terhadap kandungan klorofil-a, dengan perlakuan 2000 lux berbeda nyata dibandingkan perlakuan lainnya. Analisis regresi menunjukkan hubungan positif yang kuat antara klorofil-a dan laju pertumbuhan (R² = 0,7991). Pola ini mencerminkan mekanisme fotoaklimatisasi, di mana peningkatan klorofil-a mendukung efisiensi fotosintesis dan pertumbuhan S. platensis.  Light intensity is a major factor affecting photosynthesis, growth, and pigment biosynthesis in microalgae. Spirulina platensis exhibits high physiological adaptability to light variation; however, information on growth responses and chlorophyll-a dynamics under different light intensities expressed in lux remains limited. This study aimed to analyze the effects of light intensity on cell density, growth rate, and chlorophyll-a content of S. platensis. The experiment was conducted using a completely randomized design with three light intensity treatments (500, 1029, and 2000 lux), each with three replicates. Cultivation was performed for seven days with an initial density of 8,910 cells/mL using Walne medium. Cell density was observed daily, growth rate was calculated during the exponential phase, and chlorophyll-a content was determined spectrophotometrically. The results showed that 2000 lux produced the highest cell density (29,232 ± 8,907 cells/mL), growth rate (0.23 ± 0.05 day⁻¹), and chlorophyll-a content (0.333 ± 0.0085 µg/L). One-way ANOVA (α = 0.05) indicated that light intensity significantly affected chlorophyll-a content, with the 2000 lux treatment being significantly different from the other treatments. Regression analysis revealed a strong positive relationship between chlorophyll-a content and specific growth rate (R² = 0.7991). These results reflect photoacclimation mechanisms, in which increased chlorophyll-a enhances photosynthetic efficiency and growth of S. platensis. 
Analisis Pencemaran Logam Berat dan Risiko Ekologis di Sedimen Estuaria Sungai Comal Ani Haryati; Diva Nasywaa Ashari; Isnaini Prihatiningsih; Hedi Indra Januar
Buletin Oseanografi Marina Vol 15, No 1 (2026): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v15i1.78550

Abstract

Aktivitas antropogenik di kawasan pesisir Desa Mojo, Estuari Sungai Comal, berpotensi meningkatkan masukan logam berat ke lingkungan perairan. Sedimen di muara berperan sebagai penyerap dan penyimpan utama logam berat, sehingga mencerminkan tingkat pencemaran dan risiko ekologis perairan. Penelitian ini bertujuan menilai status pencemaran dan potensi risiko ekologis logam timbal (Pb), arsen (As), kobalt (Co), dan kromium (Cr) pada sedimen permukaan Estuari Sungai Comal, Pemalang. Sebanyak sepuluh stasiun pengambilan sampel ditentukan secara acak sepanjang muara. Analisis logam dilakukan menggunakan metode aqua regia dan diukur dengan Flame Atomic Absorption Spectrophotometry (FAAS). Evaluasi kontaminasi dilakukan melalui perhitungan Contamination Factor (CF), Geoaccumulation Index (Igeo), Pollution Load Index (PLI), dan Ecological Risk Index (RI). Hasil menunjukkan bahwa konsentrasi Pb (0,10–0,23 mg/kg), As (0,38–0,59 mg/kg), Co (0,10–0,14 mg/kg), dan Cr (0,25–0,58 mg/kg) berada jauh di bawah nilai Interim Sediment Quality Guidelines (ISQG). Nilai CF<1, Igeo≤0, dan PLI<1 menandakan kontaminasi rendah, sedangkan RI (0,37–0,55) menunjukkan risiko ekologis sangat rendah. Secara spasial, akumulasi logam cenderung meningkat ke arah laut akibat transportasi dan deposisi sedimen. Hasil ini menunjukkan bahwa sedimen Estuari Sungai Comal belum tercemar signifikan, namun pemantauan berkala tetap diperlukan terhadap perubahan kualitas sedimen akibat dinamika pasang surut dan aktivitas antropogenik. Anthropogenic activities in the coastal area of Mojo Village, at the Comal River estuary, potentially increase heavy metal inputs into the aquatic environment. Estuarine sediments act as major sinks and reservoirs of heavy metals, reflecting the degree of contamination and ecological risk. This study aims to assess the pollution status and potential ecological risk of lead (Pb), arsenic (As), cobalt (Co), and chromium (Cr) in surface sediments of the Comal River estuary, Pemalang. Ten sampling stations were randomly selected along the estuary. Metal concentrations were determined using aqua regia digestion followed by Flame Atomic Absorption Spectrophotometry (FAAS). Contamination was evaluated using the Contamination Factor (CF), Geoaccumulation Index (Igeo), Pollution Load Index (PLI), and Ecological Risk Index (RI). The concentrations of Pb (0,10–0,23 mg/kg), As (0,38–0,59 mg/kg), Co (0,10–0,14 mg/kg), and Cr (0,25–0,58 mg/kg) were well below the Interim Sediment Quality Guidelines (ISQG). Values of CF<1, Igeo≤0, and PLI<1 indicated low contamination, while RI (0,37–0,55) suggested a very low ecological risk. Spatially, metal accumulation increased seaward, associated with sediment transport and deposition. Overall, the Comal River estuarine sediments remain unpolluted, though continuous monitoring is recommended due to tidal dynamics and ongoing anthropogenic pressures.
Karakteristik Kualitas Perairan dan Status Eutrofikasi di Perairan Pesisir Kota Pekalongan Pramesthi Dwi Octavianna; Muhammad Helmi; Lilik Maslukah; Muhamad Zainuri; Aris Ismanto
Buletin Oseanografi Marina Vol 15, No 1 (2026): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v15i1.81010

Abstract

Perairan pesisir Kota Pekalongan merupakan wilayah yang rentan terhadap eutrofikasi akibat tingginya aktivitas antropogenik di daratan, seperti kawasan terbangun, tambak, dan pertanian, yang berpotensi meningkatkan masukan nutrien ke perairan laut. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji status trofik perairan pesisir Kota Pekalongan berdasarkan Trophic State Index (TSI), menganalisis perbedaan karakteristik kualitas perairan antara area pesisir dan area transisi pesisir–laut, serta mengkaji keterkaitannya dengan kondisi tutupan lahan daratan. Pengambilan data kualitas perairan dilakukan dalam satu hari pengamatan dengan total 77 titik sampling, meliputi parameter klorofil-a, nitrat, fosfat, total padatan tersuspensi, oksigen terlarut, suhu, salinitas, pH, dan kecerahan. Nilai TSI dihitung berdasarkan indikator klorofil-a, nutrien, dan kecerahan, kemudian dianalisis secara spasial menggunakan interpolasi spline, serta didukung oleh analisis deskriptif berupa boxplot. Hasil penelitian menunjukkan bahwa area pesisir memiliki tingkat eutrofikasi yang relatif lebih tinggi dan lebih bervariasi dibandingkan area transisi, yang dicirikan oleh konsentrasi nutrien dan klorofil-a yang lebih tinggi serta kecerahan yang lebih rendah. Dominasi tutupan lahan terbangun dan tambak di wilayah daratan berpotensi berkontribusi terhadap kondisi eutrofikasi perairan pesisir. Hasil penelitian ini menegaskan pentingnya pengelolaan wilayah daratan sebagai bagian dari upaya mitigasi eutrofikasi dan pengelolaan perairan pesisir secara berkelanjutan.
Kajian Perubahan Garis Pantai dan Kerentanan Seismik pada Lokasi Rawan Abrasi Di Pantai Bengkulu Utara Budi Harlianto; Arif Ismul Hadi; Lizalidiawati Lizalidiawati; M. Fikri Azhari
Buletin Oseanografi Marina Vol 15, No 1 (2026): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v15i1.77147

Abstract

Perubahan garis pantai dapat dikaji melalui data primer maupun sekunder, berupa data foto drone dan data citra dari satelit yang diambil pada lokasi yang sama namun waktu yang berbeda. Hasil analisa kedua data tersebut dapat mengetahui sedimentasi atau abrasi yang menggambarkan perubahan garis pantai. Perubahan garis pantai secara oseanografi diakibatkan oleh hempasan ombak laut, pasang surut, dan arus laut, jika ditinjau secara geologi perubahan garis pantai disebabkan oleh pengaruh kerentanan seismik atau faktor site seperti penyusun pantai dengan struktur lapisan bawah permukaan yang berbeda. Tujuan penelitian ini untuk menganalisa struktur tersebut melalui nilai Kerentanan Seismik (Kg), PGA (α) dan GSS (γ) yang diperoleh dari pengolahan data mikrotremor. Pengambilan foto drone dilakukan pada 2 lokasi yang setiap lokasinya dilakukan pengukuran data mikrotremor sebanyak 4 titik (durasi 30 menit). Berdasarkan data primer (foto drone) pada tahun 2018 dan 2020 di pantai Bengkulu Bagian Utara terjadi abrasi yang tergolong tinggi dan sedimentasi yang tergolong rendah. Hasil analisis data penelitian ini memperlihatkan laju perubahan garis pantai yang tertinggi pada pantai Serangai 1,49 m/th dan yang terendah terjadi pada Pantai Ketahun 1,46 m/th. Nilai Kg berkisar antara 0,32 sampai 4,76, nilai GSS berkisar 1x10-4, dan nilai α berkisar 93,39 – 236,32 gal. Area yang mengalami perubahan garis Pantai yang tinggi menunjukkan nilai Kg yang relatif tinggi, yaitu mendekati 2,781, serta nilai α tertinggi mencapai 236,32 gal, nilai-nilai tersebut menunjukkan potensi guncangan seismik yang kuat sehingga mudah mengalami abrasi.  Shoreline changes can be studied through primary and secondary data, including drone photography and satellite imagery taken at the same location but at different times. Analysis of these two data sets can reveal sedimentation or abrasion, which reflect shoreline changes. Oceanographically, shoreline changes are caused by the pounding of ocean waves, tides, and ocean currents. Geologically, shoreline changes are caused by the influence of seismic vulnerability or site factors, such as different subsurface structures in coastal structures. The purpose of this study is to analyze these structures through Seismic Vulnerability (Kg), PGA (α) and GSS (γ) values obtained from microtremor data processing. Drone photos were taken at 2 locations, each location with 4 microtremor data measurements (duration 30 minutes). Based on primary data (drone photos) in 2018 and 2020 on the coast of North Bengkulu, abrasion occurred which was classified as high and sedimentation which was classified as low. The results of the data analysis of this study show that the highest rate of shoreline change is at Serangai Beach at 1.49 m/yr, while the lowest is at Ketahun Beach at 1.46 m/yr. The Kg value ranges from 0.32 to 4.76, the GSS value ranges from 1x10-4, and the α value ranges from 93.39 to 236.32 gal. Areas experiencing high shoreline changes show a relatively high Kg value, which is close to 2.781, and the highest α value reaches 236.32 gal, these values indicate the potential for strong seismic shocks so that they are easily abrasion.
Studi Karakteristik Sedimen Berdasarkan Analisis Ukuran Besar Butir Sedimen di Perairan Mundu, Kabupaten Cirebon Maulidhia Srie Rezeki; Yuniarti MS; Ankiq Taofiqurohman; Qurnia Wulan Sari
Buletin Oseanografi Marina Vol 15, No 1 (2026): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v15i1.75637

Abstract

Sedimentasi di wilayah pesisir merupakan permasalahan lingkungan yang kompleks dan dapat terjadi secara berkelanjutan, terutama di daerah yang memiliki interaksi kuat antara faktor hidrodinamika dan aktivitas darat. Kabupaten Cirebon, khususnya Kecamatan Mundu, menghadapi suatu tantangan besar akibat sedimentasi yang salah satu faktornya disebabkan oleh faktor hidro-oseanografi berupa arus dan pasang surut. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi karakteristik sedimen berdasarkan faktor hidro-oseanografi arus dan pasang surut serta menganalisis transpor sedimen dan laju sedimentasi di Perairan Mundu. Metode penelitian menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan data sedimen, arus, dan pasang surut. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa jenis sedimen di Perairan Mundu berjenis lumpur dengan dominansi fraksi contoh sedimen pada setiap stasiun adalah butiran halus (>70%). Pasang surut di wilayah penelitian berkategori campuran condong harian ganda dengan energi arus didominansi oleh arus pasut. Kondisi tersebut menjadikan sedimen di Perairan Mundu bertransportasi secara suspension pada saat kecepatan arus maksimum (1,76 – 2,06 cm/s), dan deposisition in suspension saat arus minimum (0,06 - 0,18 cm/s). Hasil lain dalam penelitian ini menunjukkan bahwa laju sedimentasi memiliki rentang nilai 7,74 - 28,27 kg/m2/hari dan nilai paling besar ditemukan pada stasiun yang dekat dengan pesisir. Dominansi arah laju sedimentasi berasal dari arah utara (Cirebon Utara) yang mengindikasikan adanya sedimentasi yang mengarah ke daratan Mundu.  Coastal sedimentation is a complex environmental problem that can occur continuously, especially in areas with strong interactions between hydrodynamic factors and land activities. Cirebon Regency, especially Mundu District, faces a major challenge due to sedimentation, one of the factors of which is caused by hydro-oceanographic factors in the form of currents and tides. This study aims to identify sediment characteristics based on hydro-oceanographic factors of currents and tides and to analyze sediment transport and sedimentation rates in Mundu Waters. The research method uses a quantitative method with a sediment, current, and tidal data approach. The results of the study indicate that the type of sediment in Mundu Waters is mud with the dominant fraction of sediment samples at each station being fine grains (> 70%). The tides in the study area are categorized as mixed, tending to be double daily with current energy dominated by tidal currents. These conditions cause sediment in Mundu Waters to transport in suspension at maximum current speeds (1,76 – 2,06 cm/s), and deposition in suspension at minimum currents (0,06 - 0,18 cm/s). Other results in this study indicate that the sedimentation rate has a range of values of 7.74 - 28.27 kg / m2 / day and the largest value was found at stations close to the coast. The dominant direction of the sedimentation rate comes from the north (North Cirebon) which indicates sedimentation leading to the Mundu mainland.
Pengaruh Siklus Pasang Surut dan Perbedaan Musim Terhadap Konsentrasi Nitrat (NO3) dan Fosfat (PO4) di Perairan Tegal Timur, Kota Tegal Alfiatun Hasanah; Muhammad Zainuri; Bambang Yulianto
Buletin Oseanografi Marina Vol 15, No 1 (2026): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v15i1.63712

Abstract

Kawasan pesisir Tegal Timur memiliki peran krusial dalam ekologi pesisir dengan kompleksitasnya serta beragam aktivitas manusia yang menghasilkan limbah dan meningkatkan bahan organik. Di wilayah muara dan pesisir, siklus pasang surut dan variabilitas musim memengaruhi konsentrasi nitrat dan fosfat, yang berasal dari dekomposisi bahan organik serta aktivitas antropogenik. Penelitian ini bertujuan menganalisis dampak siklus pasang surut dan perbedaan musim terhadap konsentrasi nitrat dan fosfat di perairan Tegal Timur. Penelitian dilakukan di pesisir Kecamatan Tegal Timur, Kota Tegal, Jawa Tengah, dengan pengambilan sampel air di 7 titik (3 titik di muara dan 4 titik di laut). Data primer berupa konsentrasi nitrat dan fosfat, sedangkan data sekunder berasal dari pasang surut BIG (Badan Informasi Geospasial). Pengambilan sampel dilakukan pada Maret dan Agustus saat pasang tertinggi dan surut terendah. Hasil studi menunjukkan bahwa pada bulan Maret, konsentrasi nitrat tertinggi ditemukan saat pasang tertinggi, sedangkan pada bulan Agustus saat surut terendah. Pola berlawanan terjadi pada fosfat, dengan konsentrasi lebih tinggi saat surut pada bulan Maret dan lebih tinggi saat pasang tertinggi pada bulan Agustus. Musim penghujan menunjukkan konsentrasi nitrat dan fosfat lebih tinggi dibanding musim kemarau. Studi ini mengonfirmasi bahwa siklus pasang surut dan perbedaan musim memengaruhi distribusi nitrat dan fosfat di perairan Tegal Timur.  The coastal area of East Tegal plays a crucial role in coastal ecology due to its complexity and diverse human activities, which contribute to waste generation and increased organic matter input. In estuarine and coastal regions, tidal cycles and seasonal variability influence nitrate and phosphate concentrations, which originate from the decomposition of organic matter and anthropogenic activities. This study aims to analyze the impact of tidal cycles and seasonal differences on nitrate and phosphate concentrations in the waters of East Tegal. The study was conducted in the coastal area of East Tegal District, Tegal City, Central Java, with water sampling at 7 locations (3 in the estuary and 4 offshore). Primary data consist of nitrate and phosphate concentrations, while secondary data on tidal patterns were obtained from the Geospatial Information Agency (BIG). Sampling was carried out in March and August during the highest high tide and the lowest low tide conditions. The results indicate that in March, the highest nitrate concentration was observed during the highest high tide, whereas in August, it was found during the lowest low tide. An inverse pattern was observed for phosphate, with higher concentrations during low tide in March and during the highest high tide in August. The rainy season exhibited higher nitrate and phosphate concentrations compared to the dry season. This study confirms that tidal cycles and seasonal variations significantly influence the spatial distribution of nitrate and phosphate in the waters of East Tegal.
Kajian Indeks Pencemaran Di Wilayah Pesisir Muara Sungai: Studi Kasus Betahwalang, Kabupaten Demak Ahmad Faiq Indra Susilo; Badrus Zaman; Anik Sarminingsih
Buletin Oseanografi Marina Vol 15, No 1 (2026): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v15i1.78011

Abstract

Pesisir Betahwalang merupakan kawasan strategis dengan nilai ekologis tinggi sekaligus menjadi pusat pendaratan rajungan. Penetapannya sebagai kawasan konservasi rajungan melalui Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia Nomor 38 Tahun 2024 menegaskan pentingnya pemahaman terhadap kondisi kualitas perairan untuk mendukung keberlanjutan ekosistem laut wilayah tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat pencemaran menggunakan Indeks Pencemaran (IP) serta memetakan distribusinya secara spasial. Pengambilan data dilakukan pada bulan Februari 2025 tanggal 9 dan 28 di sembilan titik sampling menggunakan metode purposive sampling. Hasil pengukuran ini merepresentasikan kondisi sesaat sebagai kegiatan monitoring pada periode tersebut. Parameter fisika-kimia yang diuji seperti suhu, salinitas, pH, kecerahan, TSS, DO, BOD, amonia, fosfat, serta minyak dan lemak dianalisis secara in-situ dan laboratorium. Nilai kualitas air hasil pengukuran menunjukkan bahwa perairan pesisir Betahwalang sangat ideal sebagai habitat rajungan. Hasil IP menunjukkan variasi, dengan kondisi ditanggal 9 Februari tergolong “Tercemar Sedang” (IP rerata 5,26) dan ditanggal 28 Februari tergolong “Tercemar Ringan” (IP rerata 3,20). Distribusi spasial mengindikasikan muara sungai sebagai zona dengan tingkat pencemaran tertinggi. Hasil ini menunjukkan adanya dinamika kualitas perairan di kawasan konservasi dan menegaskan perlunya pemantauan berkelanjutan untuk menjaga keseimbangan ekologi dan mendukung pengelolaan perikanan berkelanjutan. Betahwalang Coast is a strategic area with high ecological value and serves as center for blue swimming crab fisheries. Its designation as a Blue Swimming Crab Conservation Area through the Decree of the Minister of Marine Affairs and Fisheries of the Republic of Indonesia Number 38 of 2024 emphasizes the importance of understanding of water quality to support the support marine ecosystem sustainability sustainability. This research aims to analyze pollution level using the Pollution Index (PI) and map their spatial distribution. Water sampling was carried out in February 2025, specifically on the 9th and 28th, at nine selected purposively stations. The measurement results represent the momentary conditions as monitoring activities during that period. Physicochemical parameters measured included temperature, salinity, pH, brightness, TSS, DO, BOD, ammonia, phosphate, and oil and fat, were analyzed in-situ and in the laboratory. The measurement water quality values indicate that the coastal waters of Betahwalang are highly suitable as a habitat for blue swimming crabs. The IP results showed variation, with the condition on February 9th classified as Moderately Polluted (average IP 5,26), while on February 28th it was classified as Lightly Polluted (average IP 3,20). Spatial distribution indicates the river mouth as the zone with the highest pollution level. These results demonstrate dynamic water quality changes in the conservation area and emphasize the need for continuous monitoring to maintain ecological balance and support sustainable fisheries management.
Tracking Ocean Currents and Surface Temperature in Segara Anakan Lagoon using Drifting Buoy Isnaini Prihatiningsih; Rizqi Rizaldi Hidayat; Iqbal Ali Husni; Agung Tri Nugroho; Mukti Trenggono; Jatnika Jatnika; Syarief Hidayat
Buletin Oseanografi Marina Vol 15, No 1 (2026): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v15i1.78529

Abstract

Ocean currents and sea surface temperature (SST) were recognized as key oceanographic parameters that played a crucial role in understanding coastal and marine physical processes. Despite their importance, real-time monitoring of these variables in narrow and dynamic waterways remained limited. This study designed, developed, and evaluated a low-cost drifting buoy system for the real-time measurement of ocean currents and SST. The buoy integrated temperature sensors and a Global Positioning System (GPS) module, with LoRa technology enabling reliable long-range data transmission. GPS validation revealed a positional error of only 1–2 meters, even in challenging environments with dense urban or vegetative obstructions. Temperature sensor calibration against a standard thermometer yielded an R² value of 0.9989, indicating an exceptionally strong correlation. Field measurements in Segara Anakan Lagoon recorded SST values that fluctuated between 28.5°C and 29.37°C, reflecting typical tropical coastal conditions. Current speeds ranged from 0.052 to 0.78 m/s, with a distinct tidal influence: flows moved landward into the estuary during high tide and seaward during low tide. The results confirmed that the buoy was an effective, accurate, and practical tool for nearshore oceanographic monitoring, particularly in remote or data-scarce regions.
Studi Molekuler dan Filogenetik Ascidian Kolonial Asal Perairan Pulau Tidung dan Pulau Pari Julia Lestari Arumsari; Diah Ayuningrum; Aninditia Sabdaningsih
Buletin Oseanografi Marina Vol 15, No 1 (2026): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v15i1.76536

Abstract

Ascidian merupakan biota bentik yang hidup menempel pada ekosistem terumbu karang. Permasalahan terbatasnya informasi tentang jenis ascidian di Kepulauan Seribu serta minimnya eksplorasi ascidian menjadikan penelitian tentang identifikasi ascidian penting untuk dilakukan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui spesies ascidian kolonial dan kekerabatan antar spesies yang ditemukan di ekosistem terumbu karang Pulau Tidung dan Pulau Pari berdasarkan metode deskriptif eksploratif. Hasil penelitian menunjukkan lima spesies ascidian kolonial yang digunakan dalam penelitian ini berasal dari dua famili yang berbeda yaitu satu jenis Leptoclinides sp. dan tiga jenis Didemnum sp. yang berasal dari Famili Didemnidae; satu jenis  Aplidium sp. yang berasal dari Famili Polyclinidae. Berdasarkan proses identifikasi molekuler melalui proses optimasi volume DNA template dan suhu annealing, hanya satu dari lima sampel yang berhasil diamplifikasi menggunakan dua pasang primer yang berbeda. Sampel tersebut berkode PT02-02 (B) yang berasal dari Pulau Tidung dan diamplifikasi menggunakan primer Did forward  dan primer Did reverse. Hasil identifikasi spesies ascidian kolonial sampel PT02-02(B) memiliki query lenght sebesar 597 bp. Hasil BLAST pada website NCBI menunjukkan sampel PT02-02 (B) memiliki kemiripan dengan spesies Aplidium sp. dengan nilai Query Cover 98% dan Per. Ident 80,31%. Hasil filogenetik spesies Aplidium sp. dengan Aplidium accarense yang ditemukan di Laut Mediterania Timur menunjukkan nilai bootstrap sebesar 90%.  Ascidians are benthic organisms that live attached to coral reef ecosystems. The limited information available on ascidian species in the Thousand Islands and the lack of ascidian exploration make research on ascidian identification important to conduct. The objective of this study is to identify colonial ascidian species and their phylogenetic relationships found in the coral reef ecosystems of Tidung Island and Pari Island using an exploratory descriptive method. The results of the study showed that the five colonial ascidian species used in this study belonged to two different families: one species of Leptoclinides sp. and three species of Didemnum sp. from the Didemnidae family; and one species of Aplidium sp. from the Polyclinidae family. Based on molecular identification through optimization of DNA template volume and annealing temperature, only one of the five samples was successfully amplified using two pairs of different primers. The sample, coded PT02-02 (B), originated from Tidung Island and was amplified using the Did forward primer and Did reverse primer. The species identification results for the colonial ascidian sample PT02-02(B) had a query length of 597 bp. BLAST results on the NCBI website showed that sample PT02-02 (B) was similar to the species Aplidium sp. with a Query Cover value of 98% and Per. Ident 80.31%. The phylogenetic results of Aplidium sp. with Aplidium accarense found in the Eastern Mediterranean Sea showed a bootstrap value of 90%.
Implementasi Digitalisasi Data Arus Permukaan Menjadi Format S-111 untuk Mendukung Keselamatan Bernavigasi Candrasa Surya Dharma; Albert Mahendro Yudhono; Muhammad Asrof; Kristiyono Kristiyono; Suprayitno Suprayitno; Karadona Karadona; Filan Muhammad Kelvin; Arochim Arochim; Parikesit Nuril Azmi; Aditya Rakhmad Kartadikaria
Buletin Oseanografi Marina Vol 15, No 1 (2026): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v15i1.78299

Abstract

Penelitian ini menyajikan hasil konversi dari simulasi model hidrodinamika beresolusi tinggi ke dalam format S-111 untuk mendukung keselamatan bernavigasi di Benoa Bali. Perangkat lunak Mike 21/3 yang divalidasi dengan data pasang surut, observasi Pushidrosal digunakan sebagai data masukan bagi S-111. Dinamika pelabuhan sangat dipengaruhi oleh pasang surut, sehingga pemahaman terhadap variasi pasang surut dalam bentuk data navigasi berformat S-111 sangat krusial bagi operasi sandar yang aman di dalam pelabuhan. Studi ini berfokus pada kondisi pasang surut tanggal 21 Februari 2025, saat berlangsungnya proses sandar tiga kapal pesiar besar. Penelitian ini menekankan pentingnya akurasi prediksi pasang surut agar dapat menyajikan representasi aliran arus laut permukaan beresolusi tinggi. Studi ini juga membahas integrasi data dalam kerangka S-100, standar internasional terbaru untuk data hidrografi. Secara khusus dipaparkan konversi data simulasi yang sukses dirubah menjadi format S-104 (informasi muka air) dan S-111 (arus permukaan). Konversi ini memastikan kompatibilitas data dengan sistem tampilan dan informasi peta elektronik modern KHOA Viewer dan ECPINS, sehingga dapat meningkatkan keselamatan dan efisiensi navigasi di Pelabuhan Benoa. Secara umum, tipe pasang surut di Pelabuhan Benoa adalah campuran semidiurnal, rentang pasang surut 280 cm dari chart datum, arus pasang ke barat laut sebesar 0,62 m/s, arus surut ke tenggara sebesar 0,52 m/s. Hasil model beresolusi tinggi dengan teknik bersarang untuk mendukung format S-104 dan S-111 merupakan temuan utama, dengan hasil RMSE antara TPXO dan Mike 21/3 terhadap observasi Pushidrosal adalah 0,148 dan 0,135, MAE 0,123, dan 0,114, serta skill 0,986 untuk kedua model tersebut.   This research presents the conversion results from the simulations of high-resolution hydrodynamic models into S-111 format, to support the safety of navigation in Benoa Bali. MIKE 21/3D hydrodynamic model validated against observational data from Pushidrosal was used as the input for S-111.  The dynamics of the port is greatly influenced by tides, therefore, it crucial to understand tidal variations in S-111 format, for berthing operations within the port. This study focuses on the tidal conditions on February 21, 2025, during the berthing operations of three large cruise ships. This research emphasizes the importance of accurate tidal predictions to provide high-resolution representations of surface ocean currents. The study also discusses the integration of data within the S-100 framework, the latest international standard currently adopted for hydrographic data. In particular, the successful conversion of the simulation data into S-104 (water level information) and S-111 (surface current) formats is described. This conversion ensures data compatibility with modern electronic chart display and information systems such as KHOA Viewer and ECPINS, thereby enhancing navigation safety in Benoa Port. In general, the tidal regime in Benoa Port is classified as mixed semidiurnal, with a tidal range of 280 cm from chart datum, a northwestward flood current of 0.62 m/s, and a southeastward ebb current of 0.52 m/s. The use of high-resolution nested modeling to support S-104 and S-111 formats is a key finding, with RMSE values between TPXO and the Mike 21/3 model against Pushidrosal observations being 0.148 and 0.135, MAE of 0.123 and 0.114, and skill score of 0.986 for both models, respectively.

Filter by Year

2011 2026


Filter By Issues
All Issue Vol 15, No 2 (2026): Buletin Oseanografi Marina Vol 15, No 1 (2026): Buletin Oseanografi Marina INPRESS ARTICLE Vol 14, No 3 (2025): Buletin Oseanografi Marina Vol 14, No 2 (2025): Buletin Oseanografi Marina Vol 14, No 1 (2025): Buletin Oseanografi Marina Vol 13, No 3 (2024): Buletin Oseanografi Marina Vol 13, No 2 (2024): Buletin Oseanografi Marina Vol 13, No 1 (2024): Buletin Oseanografi Marina Vol 12, No 3 (2023): Buletin Oseanografi Marina Vol 12, No 2 (2023): Buletin Oseanografi Marina Vol 12, No 1 (2023): Buletin Oseanografi Marina Vol 11, No 3 (2022): Buletin Oseanografi Marina Vol 11, No 2 (2022): Buletin Oseanografi Marina Vol 11, No 1 (2022): Buletin Oseanografi Marina Vol 10, No 3 (2021): Buletin Oseanografi Marina Vol 10, No 2 (2021): Buletin Oseanografi Marina Vol 10, No 1 (2021): Buletin Oseanografi Marina Vol 9, No 2 (2020): Buletin Oseanografi Marina Vol 9, No 1 (2020): Buletin Oseanografi Marina Vol 8, No 2 (2019): Buletin Oseanografi Marina Vol 8, No 1 (2019): Buletin Oseanografi Marina Vol 7, No 2 (2018): Buletin Oseanografi Marina Vol 7, No 1 (2018): Buletin Oseanografi Marina Vol 6, No 2 (2017): Buletin Oseanografi Marina Vol 6, No 1 (2017): Buletin Oseanografi Marina Vol 5, No 2 (2016): Buletin Oseanografi Marina Vol 5, No 1 (2016): Buletin Oseanografi Marina Vol 3, No 1 (2014): Buletin Oseanografi Marina Vol 2, No 4 (2013): Buletin Oseanografi Marina Vol 2, No 3 (2013): Buletin Oseanografi Marina Vol 2, No 2 (2013): Buletin Oseanografi Marina Vol 2, No 1 (2013): Buletin Oseanografi Marina Vol 1, No 5 (2012): Buletin Oseanografi Marina Vol 1, No 3 (2012): Buletin Oseanografi Marina Vol 1, No 2 (2012): Buletin Oseanografi Marina Vol 1, No 1 (2011): Buletin Oseanografi Marina More Issue