cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
BULETIN OSEANOGRAFI MARINA
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : 20893507     EISSN : 25500015     DOI : -
Core Subject : Science,
Buletin Oseanografi Marina (BULOMA) adalah jurnal yang menginformasikan hasil penelitian dan telaah pustaka tentang aspek Oseanografi, Ilmu Kelautan, Biologi Laut, Geologi Laut, Dinamika Laut dan Samudera, Estuari, Kajian Enerji Alternatif, Mitigasi Bencana, Sumberdaya Alam Pesisir, Laut dan Samudera.
Arjuna Subject : -
Articles 390 Documents
Cemaran Logam Berat pada Kerang Darah (Anadara granosa) dari Perairan Babulu Laut Penajam Paser Utara dan Risiko Terhadap Kesehatan Manusia Erian Febri Satriawan; Marsanda Marsanda; Muhammad Ikhsan Saputra; Mohammad Sumiran Paputungan; Irma Suryana; Irwan Ramadhan Ritonga
Buletin Oseanografi Marina Vol 15, No 2 (2026): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v15i2.82217

Abstract

Perairan Babulu Laut yang terletak di Kabupaten Penajam Paser Utara dikenal sebagai salah satu sentra produksi kerang darah (Anadara granosa) di Kalimantan Timur. Wilayah perairan tersebut memiliki potensi risiko paparan logam berat yang dapat terakumulasi pada jaringan biota laut, sehingga berimplikasi terhadap timbulnya gangguan kesehatan pada masyarakat yang mengonsumsinya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan logam berat arsen (As), tembaga (Cu), besi (Fe), mangan (Mn), dan seng (Zn) pada A. granosa serta menilai potensi risiko kesehatan akibat konsumsinya. Penelitian dilaksanakan pada Desember 2024 hingga April 2025 di perairan Babulu Laut Penajam Paser Utara. Analisis kandungan logam berat dilakukan menggunakan Atomic Absorption Spectrophotometry (AAS). Hasil penelitian menunjukkan kandungan As sebesar 0,003–0,973 mg/kg, Cu 0,064–0,133 mg/kg, Fe 2,357–4,519 mg/kg, Mn 0,102–0,205 mg/kg, dan Zn 0,736–0,991 mg/kg. Konsentrasi As, Cu, Mn, dan Zn masih berada di bawah baku mutu berdasarkan beberapa referensi, sedangkan Fe telah melampaui baku mutu yang ditetapkan oleh BPOM (2009). Nilai Estimated Daily Intake (EDI) logam As melebihi Reference Dose (RfD), sedangkan logam lainnya masih berada di bawah nilai RfD sehingga diduga berpotensi menimbulkan efek penyakit. Nilai Tolerable Hazard Quotient (THQ) dan Hazard Index (HI) <1 menunjukkan tidak adanya risiko non-karsinogenik. Namun, nilai Cancer Risk (CR) logam As >1×10⁻⁴ mengindikasikan potensi risiko karsinogenik akibat konsumsi A. granosa dari perairan Babulu Laut Penajam Paser Utara. Oleh karena itu, diperlukan pengelolaan lingkungan pesisir terpadu dan pengawasan keamanan pangan laut, mengingat potensi risiko karsinogenik arsen (As) dari konsumsi jangka panjang A. granosa, terutama pada kelompok anak-anak.
The Diversity and Abundance of Sea Cucumbers in the Batam Waters, Riau Islands Ismarti Ismarti; Fitrah Amelia; Nurhaty Purnama Sari; Yarsi Efendi; Dian Prasasti; Muslih Anwar
Buletin Oseanografi Marina Vol 15, No 2 (2026): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v15i2.71609

Abstract

The exploitation of sea cucumbers in Indonesia has reportedly increased by 66% in the last two decades. This figure is considered the upper limit for sustainable exploitation. The waters of Batam, Riau Islands, are known as one of sea cucumber producers. However, no current status report exists on Batam Island's diversity and abundance of sea cucumbers.  This study aimed to determine the diversity of species and the abundance of sea cucumbers found in Abang, Ngenang, Temoyong Island, and Riau Island. Sampling was carried out quantitatively by applying the quadratic transect method at the three locations. About three transect lines were placed at each station, drawn perpendicular from the coastline towards the sea with a length of 50 m. The distance between each transect line was 50 m, and a 5x5 m plot was placed on each. The results showed that there were six types of sea cucumbers, namely Stichopus nactivagus, Stichopus hermanni, Stichopus monotuberculatus, Holothuria scabra, Holothuria impatiens, and Holothuria leucospila. The species diversity in three locations ranged from 0.214 to 0.314. The abundance of species on Abang, Ngenang, and Temoyong Islands was in the range of 0.073 to 0.1 individual/m2, respectively. The low diversity and abundance indicate high environmental pressure on Batam, Riau Islands sea cucumber populations.
Penilaian Variabilitas Pertumbuhan Propagul Mangrove Rhizophora apiculata pada Media Tanam yang Berbeda Eka Lisdayanti; Kasman Arip; Nurul Najmi; Rahmawati Rahmawati; Agusriati Muliana
Buletin Oseanografi Marina Vol 15, No 2 (2026): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v15i2.75976

Abstract

Keberhasilan rehabilitasi mangrove sangat ditentukan oleh kualitas pertumbuhan awal bibit, yang dipengaruhi oleh komposisi media tanam. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi secara ekperimental pengaruh berbagai media tanam berbasis topsoil dan bahan organik terhadap pertumbuhan propagul Rhizophora apiculata. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan empat perlakuan, yaitu P1 (topsoil 100% sebagai kontrol), P2 (pupuk kandang sapi + topsoil 1:1), P3 (pupuk kandang kambing + topsoil 1:1), dan P4 (sekam padi + topsoil 1:1). Setiap perlakuan diulang sebanyak 20 kali sehingga total unit percobaan berjumlah 80 unit. Percobaan dilakukan selama 10 minggu dengan parameter kelangsungan hidup, pertambahan tinggi, dan diameter batang. Hasil menunjukkan tingkat kelangsungan hidup sangat tinggi (99,13) pada seluruh perlakuan. Pertambahan tinggi propagul pada P1-P4 berturut-turut sebesar 1,169 cm; 1,136 cm; 1,051 cm; dan 1,080 cm, tanpa perbedaan signifikan antar perlakuan (P = 0,939). Sebaliknya, pertambahan diameter batang menunjukkan perbedaan nyata (P < 0,005), dengan nilai tertinggi pada perlakuan pupuk kandang kambing + topsoil (0,059 cm). Temuan ini menegaskan bahwa meskipun variasi media tanam tidak berpengaruh signifikan terhadap pertambahan tinggi propagul, kombinasi bahan organik tertentu mampu meningkatkan kualitas morfometrik bibit, terutama melalui peningkatan diameter batang sebagai indikator pertumbuhan struktural. Hasil ini memberikan dasar ilmiah dalam pemilihan media pembibitan untuk meningkatkan keberhasilan rehabilitasi mangrove secara berkelanjutan
Efektivitas Penempelan Telur pada Substrat yang Berbeda dan Survival Rate Juvenil Cumi-cumi Sudirman Adibrata; Eka Sari; Muhammad Rizza Muftiadi; Umam Komarullah
Buletin Oseanografi Marina Vol 15, No 2 (2026): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v15i2.81746

Abstract

Penelitian bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas penggunaan substrat buatan dalam meningkatkan jumlah telur cumi yang menempel dan menganalisis tingkat kelulushidupan juvenil cumi. Penelitian dilaksanakan dari bulan September hingga Desember 2025 dengan lokasi pengambilan telur cumi di perairan Pantai Tuing dan penetasannya dilakukan di akuarium di Desa Balunijuk, Kabupaten Bangka. Metode yang digunakan yaitu dengan rancangan percobaan analysis of variance pada 4 substrat yang berbeda yaitu (P0) substrat alami, (P1) atraktor cumi dengan pipa paralon 1”, (P2) atraktor cumi dengan besi cor 6 mm, (P3) tali tambang dan jaring bekas. Hasil menunjukkan bahwa preferensi substrat yang berbeda mempengaruhi jumlah penempelan telur cumi dan survival rate dari juvenil cumi. Tali tambang dan jaring bekas (TTJ = P3) sebagai substrat yang paling optimal dan berbeda sangat nyata (BSN) dibanding substrat lainnya, ditandai dengan banyaknya jumlah gerombol telur cumi pada seluruh periode pengamatan. Karakteristik TTJ yang berserat, berongga, dan fleksibel tampaknya meningkatkan ketertarikan induk cumi untuk bertelur yang mirip dengan habitat alami. Tingkat kelulushidupan juvenil (survival rate) cumi di akuarium dengan rata-rata 39% yang menetas secara bertahap. Keberhasilan penetasan sangat dipengaruhi oleh kondisi telur saat dikumpulkan dari alam. Parameter kualitas air berada dalam kisaran layak bagi perkembangan embrio kecuali kecepatan arus air yang lemah menjadi faktor pembatas sehingga manajemen kualitas air harus diperhatikan. Substrat buatan dan tingkat kelulushidupan juvenil memberikan dasar penting untuk merancang strategi konservasi cumi melalui restocking dan perlindungan habitat.
Dinamika Kopling Laut-Atmosfer antara Suhu Permukaan Laut, CAPE, dan Curah Hujan di WPPNRI 711 Menggunakan Analisis Korelasi dan Lag Berbasis Data ERA 5 (2004-2023) Rifki Rionda Arsyandi; Riza Adriat; Andi Ihwan
Buletin Oseanografi Marina Vol 15, No 2 (2026): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v15i2.75554

Abstract

WPPNRI 711 sebagai bagian dari Benua Maritim Indonesia memiliki interaksi antara laut dan atmosfer yang kompleks dan berperan penting dalam proses konveksi di perairan tropis. Penelitian ini mengkaji hubungan antara Suhu Permukaan Laut (SPL), Convective Available Potential Energy (CAPE), dan curah hujan dengan menggunakan data reanalysis ERA5 selama periode tahun 2004 hingga 2023. Metode yang digunakan diawali dengan merata-ratakan bulanan setiap parameter di wilayah kajian, yang selanjutnya  dilakukan proses korelasi Pearson, uji signifikansi dengan ukuran sampel efektif, korelasi parsial terhadap indeks Niño 3.4, serta analisis lag korelasi setiap parameternya. Hasil menunjukkan hubungan positif yang kuat antara SPL dan CAPE (r = 0,71) pada lag 0 bulan, yang menunjukkan bahwa respons konvektif terjadi bersamaan dengan meningkatnya energi laten permukaan laut. Setelah mempertimbangkan pengaruh ENSO, hubungan tersebut masih berkorelasi positif (r = 0,28; p < 0,001). Sebaliknya, hubungan antara CAPE dan curah hujan tidak terlalu kuat karena nilai koefisien korelasi yang lemah (r = -0,36) dan koefisien determinasi (r2 = 0,12), dengan korelasi tertinggi terjadi pada lag +6 bulan, menunjukkan adanya respons yang tertunda yang dipengaruhi oleh variasi musiman dan perubahan dinamika atmosfer. Hasil ini menunjukkan bahwa meskipun SPL adalah sumber utama energi konvektif, pembentukan hujan di WPPNRI 711 yang merupakan lautan tropis dipengaruhi oleh faktor lokal dan global. 
Distribution Patterns And Species Density of Pirenella cingulata (Gmelin, 1971) In The Mangrove Forest Of Pangpang Bay, Ijen Geopark Banyuwangi Indonesia Rendy Setiawan; Anugrah Bahtiar Triantono; Hari Sulistiyowati; Retno Wimbaningrum; Arif Mohammad Siddiq; Abdillah Baraas
Buletin Oseanografi Marina Vol 15, No 2 (2026): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v15i2.74609

Abstract

Mangrove Forest Pangpang Bay is the result of a 1999 restoration work and has been classified as an Essential Economic Zone (KEE) due to its diversified area and flora and fauna. The mangrove forest of Pangpang Bay is home to Pirenella cingulata, a macro-invertebrate that is found in muddy mangrove substrates. Pirenella cingulata is a detritivore that feeds on rotting litter. This study looked at the distribution and population density of P. cingulata in the mangrove forest of Pangpang Bay, Banyuwangi. Data was collected using a 1x1 m² transect plot with diagonal placement. Data analysis for distribution patterns using the morisita index and population density was analyzed using the formula number of individuals divided by the area. Temperature, salinity, pH, and substrate type are some of the environmental characteristics observed and interpreted as supporting evidence for distribution patterns. There were 824 individuals of the P. cingulata species discovered from 120 plots in Pangpang Bay and it has a concentrated distribution. The population density was of 6.86 individuals/m², or seven individuals per 1 m². This density figure suggests a high category in Pangpang Bay. The findings of this study can be used to create management plans for the conservation of gastropods P. cingulata in the mangrove forest of Pangpang Bay 
Pengaruh Parameter Oseanografi Terhadap Hasil Tangkapan Ikan Tenggiri (Scomberomorus spp.) di WPPNRI 711 Sumida Debora Oktavia Sinurat; Apriansyah Apriansyah; Mega Sari Juane Sofiana
Buletin Oseanografi Marina Vol 15, No 2 (2026): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v15i2.79316

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh parameter oseanografi terhadap hasil tangkapan ikan tenggiri (Scomberomorus spp.) di Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia (WPPNRI) 711. Data hasil tangkapan dan upaya penangkapan (trip) diperoleh dari Pelabuhan Perikanan Provinsi Kalimantan Barat selama periode 2020–2024, sedangkan data oseanografi berupa suhu permukaan laut (SPL), salinitas, dan kecepatan arus diperoleh dari Copernicus Marine Service dengan resolusi spasial 0,083°. Analisis dilakukan menggunakan Catch per Unit Effort (CPUE), analisis deskriptif, dan Principal Component Analysis (PCA). Hasil penelitian menunjukkan SPL berkisar 26,88–30,82°C, salinitas 31,67–33,17 PSU, dan pola arus laut bersifat musiman mengikuti sistem monsun. Nilai CPUE tertinggi terjadi pada Musim Timur, khususnya bulan Juni sebesar 792,6 kg/trip, sedangkan CPUE terendah terjadi pada Musim Peralihan II, dengan nilai minimum sebesar 318,6 kg/trip pada bulan Oktober. Hasil PCA menunjukkan bahwa SPL dan arus meridional merupakan parameter oseanografi yang paling berpengaruh terhadap hasil tangkapan ikan tenggiri di WPPNRI 711.
Analisis Kandungan Logam Cadmium (Cd) Dan Timbal (Pb) Pada Ikan Kembung (Rastrelliger kanagurta) Yang Ditangkap Di Perairan Balikpapan Marsanda Marsanda; Nurfadilah Nurfadilah; Irwan Ramadhan Ritonga
Buletin Oseanografi Marina Vol 15, No 2 (2026): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v15i2.77910

Abstract

Ikan kembung lelaki  (Rastrelliger kanagurta) adalah salah satu komoditas perikanan yang banyak dikonsumsi di Kalimantan Timur karena kandungan gizinya yang tinggi, namun sering kali ikan yang dikonsumsi mengandung logam berat. Kota Balikpapan memiliki kondisi aktivitas antropogenik/industri yang cukup tinggi yang dapat mempengaruhi konsentrasi logam berat. Penelitian ini dilakukan di daerah penangkapan nelayan biasa disebut rumpon yang berada di Perairan Balikpapan (1°30'42.49"S; 116°59'2.74"E), Kalimantan Timur dan penelitian ini dilaksanakan pada Desember 2024 hingga April 2025. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konsentrasi logam Pb dan Cd pada organ ikan kembung (daging, insang, dan organ dalam) berdasarkan ukuran ikan (kecil, sedang, besar), serta mengevaluasi potensi risiko kesehatannya terhadap manusia. Analisis logam menggunakan alat Atomic Absorption Spectrophotometry (AAS) dengan menggunakan berat basah sampel, sedangkan penilaian risiko dilakukan melalui estimasi asupan harian (EAH), Target Hazard Quotient (THQ), dan Risiko Kanker (RK). Hasil menunjukkan bahwa konsentrasi rata-rata Pb sebesar 0,239 mg/kg dan Cd sebesar 0,032 mg/kg pada organ dalam pada ikan. Konsentrasi Pb tertinggi ditemukan pada organ dalam namun masih berada di bawah ambang batas nasional dan internasional (0,3 mg/kg), sementara konsentrasi Cd pada organ dalam ikan besar melebihi ambang batas yang ditetapkan Komisi Eropa (0,05 mg/kg). Nilai THQ < 1 menunjukkan bahwa konsumsi daging ikan tidak menimbulkan risiko non-karsinogenik yang signifikan, dan nilai RK untuk logam Cd tetap berada pada kategori risiko rendah (< 1×10⁻⁴) untuk semua kelompok usia. Temuan ini menekankan pentingnya pemantauan rutin terhadap cemaran logam berat pada sumber pangan laut di wilayah pesisir yang terdampak aktivitas industri.
Estimation of Carbon Content in Mangrove Litter in the Forest of Dabong Village, Kubu Raya Regency Putri Annisa Rachmawati; Ikha Safitri; Arie Antasari Kushadiwijayanto
Buletin Oseanografi Marina Vol 15, No 2 (2026): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v15i2.78944

Abstract

Mangrove ecosystems have a huge potential in controlling the effects of global warming through their ability to absorb carbon dioxide (CO2) from the atmosphere. Mangrove litter is one component that becomes a carbon sink, contributing to the transfer and storage of organic carbon in coastal sediments. This study aims to calculate the rate of mangrove litter production and the rate of carbon production in mangrove litter in the Forests of Dabong Village, Kubu Raya Regency. Mangrove litter was collected using a 1x1 m2 litter trap with a mesh size of 0.2 cm over a period of 15 days. The results of the study show that the rate of mangrove litter production is 15.01 tons/ha/year - 28.88 tons/ha/year, with leaf litter being the dominant fraction compared to twigs, flowers, and fruits.. The carbon content percentage of the litter samples obtain was 45.24%, with an estimated carbon production rate in the Forest of Dabong Village ranging from 7.69 tons C/ha/year to 12.92 tons C/ha/year. Leaf litter contributed the highest proportion of carbon production due to its greater biomass contribution and continous turnover. These findings highest the significant role of Dabong Village mangroves in coastal carbon sequestration and climate change mitigation.. Furthermore, the results are consistent with regional patterns of mangrove carbon dynamics, reinforcing the importance of conserving and sustainability managing mangrove forests as part of blue carbon strategies to reduce atmospheric CO2 concentrations and enhance long-term carbon storage in coastal environments.
Corals as Chemical Archives: PAH Concentration, Transformation, and Ecosystem Risk Across the Tropical Belt Halikuddin Umasangaji; Yunita Ramili; Nur Afifa Asyiqin; Lilik Maslukah
Buletin Oseanografi Marina Vol 15, No 2 (2026): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v15i2.82834

Abstract

Polycyclic aromatic hydrocarbons (PAHs) are now widespread and consequential contaminants in tropical and subtropical coral reef ecosystems. Studies from the Arabian Sea, South China Sea, Brazilian Atlantic, Persian Gulf, Gulf of Suez, and remote oceanic archipelagos show that PAHs permeate seawater, suspended particulates, sediments, island soils, coral tissues, mucus, Symbiodiniaceae, benthic invertebrates, and reef fishes. Although many concentrations fall within regulatory categories labeled low to moderate, experimental and field data reveal physiological impairment, bioaccumulation, trophic transfer, and metabolic stress at levels below existing environmental thresholds. Multi-matrix comparisons demonstrate large heterogeneity, with particulates and biological tissues showing orders-of-magnitude enrichment over dissolved fractions. Extreme particulate loads reported from Lakshadweep lagoons (6469.86 ng g⁻¹) and high concentrations in Persian Gulf coral tissues (1127 ng g⁻¹) and zooxanthellae (1421 ng g⁻¹) indicate that corals and symbionts act as biochemical concentrators. Atmospheric deposition, including gas-phase PAHs up to 113.1 ng m⁻³ in offshore South China Sea reefs, highlights long-range transport independent of local industry. Experimental research also shows sensitivity in early life stages and symbioses, including coral-larval impairment at ~34 µgTAHL⁻¹ and fossil-carbon assimilation by Symbiodiniaceae under crude-oil exposure. Briefly, PAHs represent chronic ecosystem-level stressors with major implications for coral-reef resilience under accelerating climate pressure. 

Filter by Year

2011 2026


Filter By Issues
All Issue Vol 15, No 2 (2026): Buletin Oseanografi Marina INPRESS ARTICLE Vol 14, No 3 (2025): Buletin Oseanografi Marina Vol 14, No 2 (2025): Buletin Oseanografi Marina Vol 14, No 1 (2025): Buletin Oseanografi Marina Vol 13, No 3 (2024): Buletin Oseanografi Marina Vol 13, No 2 (2024): Buletin Oseanografi Marina Vol 13, No 1 (2024): Buletin Oseanografi Marina Vol 12, No 3 (2023): Buletin Oseanografi Marina Vol 12, No 2 (2023): Buletin Oseanografi Marina Vol 12, No 1 (2023): Buletin Oseanografi Marina Vol 11, No 3 (2022): Buletin Oseanografi Marina Vol 11, No 2 (2022): Buletin Oseanografi Marina Vol 11, No 1 (2022): Buletin Oseanografi Marina Vol 10, No 3 (2021): Buletin Oseanografi Marina Vol 10, No 2 (2021): Buletin Oseanografi Marina Vol 10, No 1 (2021): Buletin Oseanografi Marina Vol 9, No 2 (2020): Buletin Oseanografi Marina Vol 9, No 1 (2020): Buletin Oseanografi Marina Vol 8, No 2 (2019): Buletin Oseanografi Marina Vol 8, No 1 (2019): Buletin Oseanografi Marina Vol 7, No 2 (2018): Buletin Oseanografi Marina Vol 7, No 1 (2018): Buletin Oseanografi Marina Vol 6, No 2 (2017): Buletin Oseanografi Marina Vol 6, No 1 (2017): Buletin Oseanografi Marina Vol 5, No 2 (2016): Buletin Oseanografi Marina Vol 5, No 1 (2016): Buletin Oseanografi Marina Vol 3, No 1 (2014): Buletin Oseanografi Marina Vol 2, No 4 (2013): Buletin Oseanografi Marina Vol 2, No 3 (2013): Buletin Oseanografi Marina Vol 2, No 2 (2013): Buletin Oseanografi Marina Vol 2, No 1 (2013): Buletin Oseanografi Marina Vol 1, No 5 (2012): Buletin Oseanografi Marina Vol 1, No 3 (2012): Buletin Oseanografi Marina Vol 1, No 2 (2012): Buletin Oseanografi Marina Vol 1, No 1 (2011): Buletin Oseanografi Marina More Issue