cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Saintek Perikanan : Indonesian Journal of Fisheries Science and Technology
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : 18584748     EISSN : 25490885     DOI : -
Core Subject : Education,
SAINTEK PERIKANAN (p-ISSN: 1858-4748 dan e-ISSN: 2549-0885) adalah jurnal ilmiah perikanan yang diterbitkan oleh Jurusan Perikanan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Diponegoro. Jurnal ini diterbitkan 2 (dua) kali setahun (Februari dan Agustus).
Arjuna Subject : -
Articles 491 Documents
EFISIENSI ALOKATIF FAKTOR PRODUKSI PADA USAHA PERIKANAN TANGKAP DI KOTA BENGKULU: KASUS PADA ALAT TANGKAP GILLNET Allocative Efficiency of Production Inputs in Capture Fishery Business in Bengkulu City: Case Study of Fishing Vessel with Gillnet Fishing Ketut Sukiyono; M. Mustopa Romdhon
Saintek Perikanan : Indonesian Journal of Fisheries Science and Technology Vol 11, No 2 (2016): SAINTEK PERIKANAN
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (192.133 KB) | DOI: 10.14710/ijfst.11.2.99-104

Abstract

 Penelitian ini ditujukan untuk mengeksaminasi faktor yang mempengaruhi volume ikan hasil tangkapan dan menganalisa efisiensi alokatif input produksi.  Penelitian ini dilakukan di Kota Bengkulumeliputi survai pada 60 nelayan perikanan tangkap dengan alat tangkap jaring insang (Gillnet).  Fungsi produksi Cobb-Douglass digunakan utnuk menentukan faktor yang mempengaruhi volume ikan tangkapan dan efisiensi alokatif. Faktor produksi yang dimasukan dalam model adalah ukuran kapal, lama melaut, ukuran mesin kapal, jumlah ABK, dan biaya operasional melaut.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa lama melaut dan jumlah ABK merupakan faktor penting yang mempengaruhi jumlah hasil tangkapan, sementara faktor yang lain tidak.  Lama melaut dan jumlah ABK tidak efisien sehingga penggunaan dua faktor ini harus ditingkatkan untuk mencapai efisiensi alokatif. Kata kunci: Efisensi alokatif, Perikanan tangkapa, Gillnet  ABSTRACT This research was aimed at examining factors that have an effect on the volume of catches fishes, and analyzing an allocative efficiency of input productions.  This research was conducted in Bengkulu City involving survey on 60 fishermen of fishing vessel with Gillnetfishing gears.  The production function of Cobb Douglass used to determine factors affected the volume of catches fishes and allocative efficiency.  Production factors were included in the model involving fishing vessel size, length of fishing day, vessel machine power, number of vessel crews, and operational costs. The research showed that length of fishing day and number of fishing vessel crews are an important factors affected the volume of catches fishes, while others are not. The use of length of fishing and the vessel crews were an inefficient.  Therefore, the use of these two factors should be increased to gain an allocative efficiency. Keywords: Allocative efficiency, Capture fishery, Gillnet
The Effect of Probiotic Supplementation to The Total Number of Bacteria In Kidney of Nila Fish After Antagonism Test With Aeromonas hydrophila and a typical Aeromonas salmonicida Ferina Nursanti; Agus lrianto; Hernayanti Hernayanti
Saintek Perikanan : Indonesian Journal of Fisheries Science and Technology Vol 2, No 1 (2006): Jurnal Saintek Perikanan
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (57.481 KB) | DOI: 10.14710/ijfst.2.1.40-47

Abstract

This research was aimed to know the effect of A3-51 probiotic supplementation on food to the total number of bacteria in kidney and mortality of nila fish (Oreochromis niloticus). This research was carried out  in two steps, the first was to know the highest immunity level from fish indicated by the increasing number of the macrophage and its phagocytic activity. Meanwhile, the second was to know the immunity level of fish which injected by Aeromonas hydrophila and atypical Aeromonas salmonicida. The experimental method used was Completely Randomized  Design in  3 replicates. The result from the first step showed that the highest  non specific immune system  was found in 21 days treatment.  The second step showed that the highest  total  number  of  bacteria  in  kidney  and  mortality  level  were  20.23 x  10 cells/g  and  46.67% respectively, both was found in B2 treatment.   Key words: probiotic, macrophage, total number of bacteria, mortality
MODIFIKASI BUBU (TRAP) BERCELAH PELOLOSAN DALAM UPAYA PENANGKAPAN KEPITING BAKAU (Scylla serrata) RAMAH LINGKUNGAN Aristi Dian Purnama Fitri; Faik Kurohman; Bogi Budi Jayanto; Trisnani Dwi Hapsari; Iqbal A. Husni; Kukuh E. Prihantoko
Saintek Perikanan : Indonesian Journal of Fisheries Science and Technology Vol 13, No 1 (2017): SAINTEK PERIKANAN
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1377.342 KB) | DOI: 10.14710/ijfst.13.1.7-11

Abstract

Peraturan Menteri Kelautan Perikanan RI nomor 1 Tahun 2015 menetapkan ukuran lebar karapas untuk Kepiting Bakau (Scylla serrata) layak tangkap minimal 15 cm. Konstruksi trap yang digunakan untuk menangkap Scylla serrata di perairan Rembang memberikan peluang tertangkapnya stadia juvenille (< 10 cm CW). Trap dengan inovasi celah pelolosan diasumsikan dapat meloloskan Scylla serrata stadia juvenille. Desain celah pelolosan berbentuk segi empat terletak sepanjang bagian sisi bawah trap dengan ukuran tinggi 3 cm, memberikan hasil tangkapan Scylla serrata yang terkecil berukuran lebar karapas rata-rata 8,3 cm dibandingkan tanpa celah pelolosan dengan ukuran terkecil lebar karapas rata-rata 5,3 cm. Tertangkapnya Scylla serrata dengan desain trap bercelah pelolosan < 10 cm CW (stadia juvenille) mengindikasikan bahwa populasi biota tersebut di perairan Rembang berukuran kecil pada saat dilakukannya penelitian pada bulan April sampai dengan Juni 2016. Regulation of the Minister of Marine and Fisheries of the Republic of Indonesia No. 1 / 2015 set the legal size of Mud crab (Scylla serrata) at least 15 cm carapace width. The trap construction used to capture Scylla serrata in Rembang waters provides an opportunity for capturing juvenile stadia (<10 cm carapace width/CW). The innovation of trap with the escape gap is assumed to pass Scylla serrata juvenille stadia. The design escape gap of a rectangular is located along the underside of the trap with a height of 3 cm, giving the smallest Scylla serrata catches the width of an average carapace by 8.3 cm compared with no escape passes with the smallest size of the average carapace width of 5.3 cm. The capture of Scylla serrata with the trap design of a 10 cm CW (juvenile stadia) trap indicates that the biota population in Rembang waters is small in the case of a study in April to June 2016.  
KAJIAN TINGKAT SAPROBITAS DI MUARA SUNGAI MORODEMAK PADA SAAT PASANG DAN SURUT Suryanti, Suryanti
Saintek Perikanan : Indonesian Journal of Fisheries Science and Technology Vol 4, No 1 (2008): Jurnal Saintek Perikanan
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (287.416 KB) | DOI: 10.14710/ijfst.4.1.76-83

Abstract

Muara  sungai  mengalami  fluktuasi  salinitas  yang  disebabkan  oleh  pasang  surut  air  laut.  Fitoplankton merupakan produsen primer  yang mampu membentuk zat organik dari zat anorganik.  Fitoplankton dapat melakukan fotosintesis yang menghasilkan karbohidrat dan oksigen serta merupakan awal dari rantai makanan di perairan. Kondisi ekologis di daerah muara sungai Morodemak diperkirakan akan semakin menurun akibat meningkatnya pemanfaatan wilayah pantai secara intensif. Kapal-kapal dan bagan apung banyak bersandar di muara sungai ini. Tambak-tambak intensif juga telah banyak  dibangun. Keadaan ini diduga menyebabkan menurunnya  kualitas  lingkungan  muara  sungai   Morodemak.  Penelitian  ini  dilakukan  untuk  mengkaji bagaimana  kondisi  lingkungan  muara  sungai  Morodemak.  Pengamatan  dilakukan  berdasarkan  analisis  SI (Saprobik Indeks) dan TSI (Tropik Saprobik Indeks) untuk mengetahui sejauh mana tingkat pencemaran yang terjadi. Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah fitoplankton yang berada di perairan Muara Sungai Morodemak berikut parameter fisika dan kimia. Kelimpahan fitoplankton pada Muara Sungai Morodemak pada waktu pasang adalah 35.415 Ind/L dengan 16 genera dan pada waktu surut 27.684 Ind/L dengan 15 genera. Nilai SI pada saat pasang adalah 1,18 dan 1,00 pada saat surut serta nilai TSI 1,32 pada saat pasang dan 1,34 pada saat surut. Nilai tersebut menunjukkan bahwa pada saat pasang tingkat pencemaran di muara lebih tinggi dibandingkan pada saat surut. Nilai SI dan TSI fitoplankton dapat diketahui bahwa kondisi  perairan muara sungai Morodemak tercemar sedang sampai ringan. Tingkat pencemaran yang lebih  tinggi pada saat pasang dibandingkan pada saat surut tersebut mengindikasikan bahwa  parameter-parameter pencemar lebih berasal dari  kegiatan-kegiatan  di  laut  dibandingkan  kegiatan-kegiatan  di  darat,  seperti  bersandarnya  kapal-kapal penangkap ikan dan bagan apung di muara sungai. Kata kunci : Saprobitas, Muara sungai, Pasang Surut
ANALISIS KELAYAKAN USAHA KERAJINAN TANGAN DARI KULIT KERANG DI KELURAHAN BUNGKUTOKO KOTA KENDARI SULAWESI TENGGARA (Feasibility Study of Handycrafts from Shellfish in Bungkutoko Village, Kendari City, Southeast Sulawesi) Asriyana Asriyana; Agus Kurnia; La Ode Alirman; Nurdiana A
Saintek Perikanan : Indonesian Journal of Fisheries Science and Technology Vol 14, No 2 (2019): SAINTEK PERIKANAN
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (292.399 KB) | DOI: 10.14710/ijfst.14.2.86-90

Abstract

Kelurahan Bungkutoko termasuk wilayah administrasi Kota Kendari yang daratannya terpisah karena merupakan wilayah kepulauan. Potensi sumberdaya perikanan yang dimiliki sangat melimpah sehingga menjadi peluang usaha bagi warga setempat dalam peningkatan perekonomian keluarga.  Penelitian ini bertujuan untuk untuk menganalisis kelayakan usaha kerajinan tangan yang berbahan dasar kerang kerangan di Kelurahan Bungkutoko. Metode analisis kelayakan finansial meliputi NPV (net present value), IRR (internal rate of return), Net B/C ratio (Net Benefit Cost Ratio), PBP (Pay Back Period), dan BEP (Break Event Point).  Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa nilai seluruh kriteria kelayakan finansial yang digunakan menghasilkan nilai yang menunjukkan kategori layak (NPV sebesar Rp10.459.436,-, IRR sebesar 35%,  Net B/C  2,03, PBP 12 bulan serta BEP sebesar Rp4.260.943,- dan 154 unit). Hal ini mengindikasikan bahwa usaha kerajinan tangan yang dilakukan oleh wanita nelayan di Kelurahan Bungkutoko layak untuk dilanjutkan Bungkutoko village is included in the administrative area of Kendari City whose land is separated because it is an archipelago. The potential of fisheries resources owned is very abundant so that it becomes a business opportunity for local residents in improving the family's economy. The research aims to analyze the feasibility of a handicraft business based on shellfish shells in Bungkutoko Village. The methods of financial feasibility analysis are NPV (net present value), IRR (internal rate of return), Net B/C ratio (Net Benefit Cost Ratio), PBP (Pay Back Period), and BEP (Break Event Point). The results  show that all financial feasibility criteria shows a feasible category (NPV is Rp 10,459,436,-; IRR is 35%;  Net B/C 2.03; PBP is 12 months; and BEP is Rp 4,260,943,; and 154 units). It’s indicated that the handicraft business by fishermen women in Bungkutoko Village is feasible to continue.
HUBUNGAN ANTARA KELIMPAHAN MEIOFAUNA DENGAN TINGKATAN KERAPATAN LAMUN YANG BERBEDA DI PANTAI PULAU PANJANG JEPARA Ruswahyuni Ruswahyuni
Saintek Perikanan : Indonesian Journal of Fisheries Science and Technology Vol 4, No 1 (2008): Jurnal Saintek Perikanan
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (208.52 KB) | DOI: 10.14710/ijfst.4.1.35-41

Abstract

Meiofauna  merupakan  salah  satu  biota  yang  sangat  penting  dalam  struktur  rantai  makanan  dalam komunitas padang lamun. Biota meiofauna bersifat relatif menetap pada dasar perairan, oleh karena itu adanya  perubahan  lingkungan  akibat  eksploitasi dan  pencemaran  yang  berlebihan  dapat mengurangi kelimpahan organisme meiofauna sehingga secara tidak langsung juga mempengaruhi ekosistem. Metoda yang digunakan dalam penelitian adalah metode deskriptif. Pengambilan sampel dilakukan sebanyak 3 kali ulangan  dengan interval waktu berdasarkan  surut terendah dari  pasang surut air  laut.  Sampling dilakukan pada 3 stasiun, yaitu pada daerah padang lamun dengan kerapatan jarang, sedang, dan rapat. Setiap stasiun dibagi menjadi tiga titik sampling sehingga semuanya menjadi 9 titik sampling. Hasil penelitian diperoleh 304 individu dari 31 spesies hewan meiofauna pada masing-masing kerapatan lamun yang berbeda. Pada kerapatan lamun jarang ditemukan meiofauna 75 individu pada kerapatan lamun sedang terdapat 104 individu dan pada kerapatan lamun padat ditemukan meiofauna 125 individu. Berdasarkan  uji statistik menunjukkan adanya hubungan antara kerapatan lamun dengan kelimpahan individu meiofauna. Hubungan antara perbedaan kerapatan lamun dengan kelimpahan meiofauna membentuk persamaan Y = 59,0453 + 0,001593x. dengan nilai koefisien korelasi (r) sebesar 0,9997 dan koefisien determinasi (R2) sebesar 0,9995. Sedangkan nilai F hitung > F tabel dengan taraf signifikasi (Sig.) P < 0,05 pada taraf kepercayaan (α) 0,05. Komposisi dan kelimpahan hewan meiofauna dengan tingkat kerapatan lamun berbeda menunjukkan adanya korelasi yang tinggi dan bersifat positif, hal ini berarti  setiap  pertambahan  kerapatan  lamun  diikuti  dengan  pertambahan  komposisi  dan  kelimpahan spesies dan kelimpahan individu hewan meiofauna.   Kata Kunci : Lamun, Meiofauna, Kerapatan, Kelimpahan.
RESPONS MIMI (LIMULIDAE, 1819 LEACH) TERHADAP CAHAYA LAMPU LED MERAH DENGAN INTENSITAS YANG BERBEDA UNTUK MITIGASI BYCATCH JARING INSANG DASAR Rosi Rahayu; Ronny Irawan Wahju; Wazir Mawardi
Saintek Perikanan : Indonesian Journal of Fisheries Science and Technology Vol 15, No 2 (2019): SAINTEK PERIKANAN
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (77.219 KB) | DOI: 10.14710/ijfst.15.2.119-123

Abstract

Penelitian respons mimi terhadap cahaya light emitting diode merah dengan intensitas yang berbeda telah dilakukan pada skala laboratorium. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan pola dan laju respons mimi terhadap lampu LED merah dengan intensitas yang berbeda serta menentukan tingkat intensitas LED merah yang tepat untuk mitigasi bycatch mimi. Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimen skala laboratorium dengan tiga variabel intensitas cahaya LED merah, yaitu rendah (3,68 × 10-6 W/cm2), intensitas sedang (5,47 × 10-6 W/cm2), dan intensitas tinggi (1,05 × 10-5 W/cm2). Pengujian dilakukan untuk mengamati pola dan laju respons mimi terhadap tiga intensitas cahaya lampu LED merah. Spesies mimi yang dijadikan objek penelitian adalah Tachypleus gigas. Jumlah mimi yang digunakan sebanyak 20 ekor dengan panjang total 30-38 cm. Analisis data yang digunakan adalah metode deskriptif komparatif. Hasil penelitian menunjukkan terdapat respons mimi menjauhi cahaya terbanyak pada LED merah intensitas rendah sebanyak 60%, sedangkan intensitas sedang dan tinggi sebanyak 35% dan 34%. Adapun waktu respons mimi yang tersingkat terdapat pada intensitas cahaya LED rendah selama 32,05 detik dan waktu respons terpanjang terdapat pada intensitas tinggi selama 59,06 detik. Berdasarkan respons penghindaran tersebut, lampu LED dengan intensitas 3,68 × 10-6 W/cm2 dapat digunakan sebagai alternatif dalam mitigasi bycatch mimi pada perikanan jaring insang dasar. Research on the response of horsehoe crab toward  red light emitting diode lamps with different intensities were carried out on laboratory scale. The purpose of this study were to analyze the pattern and response rate of horseshoe crab against red LEDs with different intensities and determine the intensity of red LED light that is suitable for mitigation bycatch of horseshoe crab. The research method used was experimental laboratory with three viriables, namely low intensity (3,68 × 10-6 W/cm2), moderate intensity (5,47 × 10-6 W/cm2), and high intensity (1,05 × 10-5 W/cm2). The experiment was carried out by observing the pattern and the response rate for the red LED lights. The type of spesies used in research is Tachypleus gigas. The number of horseshoe crabs used was 20 with a total lenght of 30-38 cm. Data analysis  used was deskriptive comparative method. The result showed that the intensity of the most avoided by horseshoe crab was a low intensity of 60%, while the moderate and high intensity  were 35% and 34% respectively. The shortest horseshoe crab response time is at low intensity for 32,05 seconds and the longest response time is at high intensity for 59,06 seconds. LED light with an intensity of 3,68 × 10-6 W/cm2 provide an avoidance response to horseshoe crab. Based on the avoidance response, LED lights with an intensity of 3,68 × 10-6 W/cm2 can be used as an alternative in mitigation bycatch of horseshoe crab for bottom gillnets fisheries.
Liming by using CaCO3 for maintaining the quality of soil brackish water pond and the growth of seaweed Gracilaria sp. Endang Arini
Saintek Perikanan : Indonesian Journal of Fisheries Science and Technology Vol 6, No 2 (2011): Jurnal Saintek Perikanan
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (248.502 KB) | DOI: 10.14710/ijfst.6.2.23-30

Abstract

The intensive of shrimp culture in pond without applying of aquaculture management would be affected on acid soil doe to organic matter sources from the food and result of metabolic from the cultivar. Effort to maintenance soil quality can be occurred by using agriculture lime stone (CaCO3) and seaweed (Gracilaria sp) can be reared  in the processes. The aims of the research were to know several doses of liming on the growth and the daily growth rate of Gracilaria sp. The research design applied was completely random design with four treatments and four repetitions. The following treatments were A (without liming), B (0,02 g/m2 ), C (0,03 g/m2) and D (0,04 g/m2 ).Data analyzed by using anova and Duncan’s test. The results of the research were indicate that liming application was highly significant (P>0,01) on the growth and daily growth rate. The dose of 0,04 g/m2 gave a highest result, that is 11,298 g for the growth and 1,141%/day for the daily growth rate.   Key words : acid soil, liming, growth and Gracilaria sp.
PENGGUNAAN KAYU SECANG (Caesalpinia sappan) SEBAGAI ALTERNATIF PENGGANTI RAPID DALAM PEWARNAAN KULIT SAMAK IKAN NILA (Oreochromis niloticus) Application of Sappan Wood as anAlternative of Replacement for Rapid in Nila(Oreochromis niloticus)Coloring Skin Luthfiyatul Habibah Nurlisa; Putut Har Riyadi; Romadhon Romadhon
Saintek Perikanan : Indonesian Journal of Fisheries Science and Technology Vol 11, No 1 (2015): JURNAL SAINTEK PERIKANAN
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (209.228 KB) | DOI: 10.14710/ijfst.11.1.34-40

Abstract

ABSTRAK   Proses penyamakan memerlukan biaya yang cukup mahal, hal tersebut dikarenakan dalam proses penyamakan umumnya masih mengandalkan bahan impor. Bahan pewarnaan yang digunakan pada industri penyamakan kulit sebagian besar berupa pewarna sintetis impor yang sebagian besar mengandung bahan yang berbahaya bagi kesehatan, tidak ramah lingkungan dan mahal. Penelitian ini bertujuan untuk memanfaatkan bahan alami kayu secang yang digunakan untuk bahan pewarna dasar sebagai penggantikan bahan pewarna sintetis rapid yang menghasilkan produk berkualitas baik sesuai standar nasional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kulit ikan Nila tersamak dengan perlakuan pewarnaan menggunakan larutan kayu secang 20% memiliki kualitas samak  yang terbaik. Uji hedonik parameter warna 3,933, parameter serat daging 4,467, parameter kulit 4,233 dan parameter sisik/nerf 4,467. Ketahanan gosok cat basah 4,500, ketahanan gosok cat kering 4,333, kekuatan tarik 1364,920 N/cm2 , kemuluran 58,327%, kekuatan sobek 208,640 N/cm2. Hasil penelitian ini memenuhi syarat mutu Kulit Ular Air Tawar Samak Krom  (SNI 06-4586-1998).   Kata kunci : Pewarnaan, Larutan Kayu Secang, Kualitas Samak, Ikan Nila   ABSTRACT   Tanning are expensive process, its because tanning process still using import substance. Coloring substance that usually use in tanning is import synthethic stain which is can cause environmental contamination, health problem and expensive. The purpose of this research is using Sappan wood as base coloring substance to replace rapid sintetis colour which produce product that have a good quality that met with the standart. The optimal concentration of Sappan wood solution was 20%, which resulted in hedonic test ( color value 3,933 ; meat fibers value 4,467; skin value 4,233 ; nerf value 4,467), 4,500 for paint abrasive resistance by wet cloth value, 4,333 for paint abrasive resistance by dry cloth value, 1364,920 N/cm2 for tensile strength value, 58,327% for elongation at break value and 208,640 N/cm2 for tear strength value. All of the test result met the SNI 06-4586-1998 (Quality of Chrome Tanning Freshwater Snake Skin). Keywords : Coloring, Sappan Wood Solution, Tanning Quality, Nila Fish 
Potensi dan Peluang Pengembangan Usaha Perikanan Tangkap Di Pantura Jawa Tengah Triarso, Imam
Saintek Perikanan : Indonesian Journal of Fisheries Science and Technology Vol 8, No 1 (2012): Jurnal Saintek Perikanan
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (210.549 KB) | DOI: 10.14710/ijfst.8.1.65-73

Abstract

The research on capture fisheries resources in north coastal of Central Java were to anticipate  amount produce and effort of capture fisheries. Usefulness from this research expected to earn as reference of management of small scale fisheries and consideration alternative which can be taken for local government of Central Java Province. Primary data were collected from local fishers, while secondary data were collected from district and Marine and Fishery Services Central Java Province. Data series of 2006 to 2009 were also analyzed by bioeconomic analysis with surplus production model. The result indicate that condition of capture fisheries resources in North Coastal of Central Java were overfishing, included its several regency/city adjacent areas. The effort in  developing fish capture has reached its boredom circumstance so this situation needs better maintenance and  control toward the capturing activities. The policy expected to minimize exploitation of fishery resources on coastal area, and the vessel can more further to off shore and oceanic area. The government as a policy maker on fisheries management for coastal fisheries must applicable precautionary approach by focusing on biology and economic aspects. Key words:  fisheries product, bio-economic model, small scale fisheries management

Page 8 of 50 | Total Record : 491


Filter by Year

2006 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 21, No 4 (2025): SAINTEK PERIKANAN Vol 21, No 3 (2025): SAINTEK PERIKANAN Vol 21, No 2 (2025): SAINTEK PERIKANAN Vol 21, No 1 (2025): SAINTEK PERIKANAN Vol 20, No 4 (2024): SAINTEK PERIKANAN Vol 20, No 3 (2024): SAINTEK PERIKANAN Vol 20, No 2 (2024): SAINTEK PERIKANAN Vol 20, No 1 (2024): SAINTEK PERIKANAN Vol 19, No 4 (2023): SAINTEK PERIKANAN Vol 19, No 3 (2023): SAINTEK PERIKANAN Vol 19, No 2 (2023): SAINTEK PERIKANAN Vol 19, No 1 (2023): SAINTEK PERIKANAN Vol 18, No 4 (2022): SAINTEK PERIKANAN Vol 18, No 3 (2022): SAINTEK PERIKANAN Vol 18, No 2 (2022): SAINTEK PERIKANAN Vol 18, No 1 (2022): SAINTEK PERIKANAN Vol 17, No 4 (2021): SAINTEK PERIKANAN Vol 17, No 3 (2021): SAINTEK PERIKANAN Vol 17, No 2 (2021): SAINTEK PERIKANAN Vol 17, No 1 (2021): SAINTEK PERIKANAN Vol 16, No 4 (2020): SAINTEK PERIKANAN Vol 16, No 3 (2020): SAINTEK PERIKANAN Vol 16, No 2 (2020): SAINTEK PERIKANAN Vol 16, No 1 (2020): SAINTEK PERIKANAN Vol 15, No 2 (2019): SAINTEK PERIKANAN Vol 15, No 1 (2019): SAINTEK PERIKANAN Vol 14, No 2 (2019): SAINTEK PERIKANAN Vol 14, No 1 (2018): SAINTEK PERIKANAN Vol 13, No 2 (2018): SAINTEK PERIKANAN Vol 13, No 1 (2017): SAINTEK PERIKANAN Vol 12, No 2 (2017): SAINTEK PERIKANAN Vol 12, No 1 (2016): SAINTEK PERIKANAN Vol 11, No 2 (2016): SAINTEK PERIKANAN Vol 11, No 1 (2015): JURNAL SAINTEK PERIKANAN Vol 10, No 2 (2015): JURNAL SAINTEK PERIKANAN Vol 10, No 1 (2014): JURNAL SAINTEK PERIKANAN Vol 9, No 2 (2014): JURNAL SAINTEK PERIKANAN Vol 9, No 1 (2013): JURNAL SAINTEK PERIKANAN Vol 8, No 2 (2013): Jurnal Saintek Perikanan Vol 8, No 1 (2012): Jurnal Saintek Perikanan Vol 7, No 1 (2011): Jurnal Saintek Perikanan Vol 6, No 2 (2011): Jurnal Saintek Perikanan Vol 6, No 1 (2010): Jurnal Saintek Perikanan Vol 5, No 2 (2010): Jurnal Saintek Perikanan Vol 5, No 1 (2009): Jurnal Saintek Perikanan Vol 4, No 2 (2009): Jurnal Saintek Perikanan Vol 4, No 1 (2008): Jurnal Saintek Perikanan Vol 3, No 2 (2008): Jurnal Saintek Perikanan Vol 2, No 1 (2006): Jurnal Saintek Perikanan More Issue