cover
Contact Name
Izmy Khumairoh
Contact Email
izmykhumairoh@lecturer.undip.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
izmykhumairoh@lecturer.undip.ac.id
Editorial Address
Jl. dr. Antonius Suroyo Kampus Universitas Diponegoro Tembalang, Semarang, Jawa tengah, Kode Pos 50275
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
ENDOGAMI Jurnal Ilmiah Kajian Antropologi
Published by Universitas Diponegoro
Core Subject : Humanities, Social,
Fokus bidang ilmu antropologi. Bentuk-bentuk karya ilmiah yang dapat dimuat adalah original article berupa artikel hasil penelitian review article atau makalah kajian pustaka berupa uraian singkat tentang temuan penelitian yang dianggap penting untuk segera dipublikasikan.
Articles 229 Documents
Upaya Pelestarian Tradisi Foklor Budaya Kejawen di Dusun Kalitanjung, Kecamatan Rawalo, Kabupaten Banyumas Saufa Rohmatun Nazila; Sulyana Dadan; Ignatius Suksmadi
Endogami: Jurnal Ilmiah Kajian Antropologi Vol 7, No 1 (2023): November
Publisher : Prodi Antropologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/endogami.7.1.32-46

Abstract

Artikel ini mengulas tentang upaya pelestarian tradisi foklor budaya Kejawen di Dusun Kalitanjung, Kecamatan Rawalo. Beberapa folklore Kejawen di Grumbul Kalitanjung yang rutin di lakukan adalah: Yaitu menyurian (serat menyuri), Nulak (tolak bala), sedekah bumi, kegiatan sebelum lebaran, tutupan sadran dan ruwatan. Metode yang di gunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian Kualitatif. Penelitian ini berlokasi pada salah satu Dusun atau Grumbul di Desa Tambaknegara, Kecamatan Rawalo, Kabupaten Banyumas. Metode pengumpulan data melalui observasi, selain itu juga menggunakan metode wawancara secara mendalam kepada informan. Data yang di peroleh dari lapangan akan di lengkapi dengan data kepustakaan. Beberapa upaya yang dapat di lakukan untuk melestarikan tradisi foklor Kejawen di Dusun Kalitanjung, Kecamatan Rawalo, Kabupaten Banyumas yaitu: a). Pengumpulan Dokumentasi, b) Pertunjukan dan Kirab Budaya, c) Melakukan Re-Generasi, d) Melakukan kolaborasi dengan komunitas lokal, e) Penelitian dan Pengembangan, f) pariwisata berkelanjutan dengan mengembangkan Desa Wisata, pendidikan dan kesadaran, pelestarian tempat sakral/suci dan pengembangan ekonomi lokal dan g) Pelestarian Lingkungan
Enklave Mangunan: Potensi Reforma Agraria Di Desa Mangunan, Bantul, D.I Yogyakarta Cahya Daru Saputro
Endogami: Jurnal Ilmiah Kajian Antropologi Vol 7, No 2 (2024): Juni
Publisher : Prodi Antropologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/endogami.7.2.255-269

Abstract

Status tanah di Daerah Istimewa Yogyakarta memiliki sejarah panjang baik dalam hal kepemilikan maupun status lahan yang dimilikinya. Salah satu dari sekian banyak tanah yang menjadi objek reforma agraria di DIY adalah Tanah Bekas Enklave di Desa Mangunan, Dlingo, Bantul, Yogyakarta. Disebut bekas enklave karena dahulu merupakan tanah eks swapraja Kasunanan Surakarta yang telah masuk menjadi bagian wilayah administratif Daerah Istimewa Yogyakarta. Keberadaan wilayah tanah bekas enklave saat ini bukan berarti menjadi tanah kosong melainkan sudah banyak aktifitas masyarakat yang memanfaatkan. Namun demikian pada saat ini masyarakat dalam posisi menunggu berkaitan status yang masih tarik ulur. Pada kesempatan kali akan mencoba memotret pemanfaatan tanah bekas enklave oleh masyarakat setempat dan potensi untuk meningkatkan kesejahteraanya, Akhirnya diharapkan tanah yang “tertinggal” ini bukan lagi menjadi polemik yang berkepanjangan. Namun bisa menjadi solusi atas kebutuhan kesejahteraan masyarakat yang lebih utama dengan penataan aset dan penataan akses yang lebih adil. 
Memayu Hayuning Bawana: Sedekah Gunung Merapi Sebagai Mitigasi Bencana Dalam Ketahanan Pangan Masyarakat Desa Lencoh, Selo, Boyolali Berbasis Local Wisdom Melly Ayu Oktavia; Nabila Nabila; Cindy Novelly; Hanum Az Zahra; Muhammad Robbi Sofyan; Izmy Khumairoh
Endogami: Jurnal Ilmiah Kajian Antropologi Vol 7, No 1 (2023): November
Publisher : Prodi Antropologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/endogami.7.1.198-207

Abstract

Sedekah Gunung Merapi merupakan salah satu kearifan lokal yang dimaknai masyarakat Desa Lencoh sebagai mitigasi metafisik untuk memperoleh keamanan dan keselamatan dari risiko bencana gunung berapi yang menghantui mereka. Namun, tidak hanya sebatas sarana meminta perlindungan kepada entitas metafisik semata. Sedekah Gunung Merapi dapat dikembangkan sebagai sarana intensifikasi pertanian untuk menekan potensi fenomena kelaparan pada saat bencana alam terjadi, melalui nilai kesakralan sumber daya pangan setempat yang menjadi bagian dari sajen, salah satunya ganyong. Pemanfaatan ganyong dalam ritual ini turut menjadi wujud pengaplikasian prinsip hidup memayu hayuning bawana, yaitu menjaga keseimbangan dan keselarasan manusia dengan alam. Dengan demikian, Sedekah Gunung Merapi harus dipertahankan karena secara simultan mendorong revitalisasi ganyong yang bermuara pada ketahanan pangan masyarakat Desa Lencoh dan desa rawan bencana sekitarnya. Riset ini bertujuan untuk menjelaskan lebih lanjut pemanfaatan Sedekah Gunung Merapi sebagai alternatif upaya mitigasi bencana masyarakat Desa Lencoh. Metode yang digunakan dalam riset ini yaitu metode kualitatif dengan pendekatan etnografi, agar diperoleh data yang bersifat objektif dan holistik. 
Titi Mentawai: Sanggahan Terhadap Tato Mentawai Tertua di Dunia Juniator Tulius
Endogami: Jurnal Ilmiah Kajian Antropologi Vol 7, No 2 (2024): Juni
Publisher : Prodi Antropologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/endogami.7.2.433-450

Abstract

Tato tradisional adalah salah satu tradisi prasejarah yang tidak memiliki catatan yang dapat ditelusuri kapan diciptakannya. Tato Mentawai adalah salah satunya. Namun, ada gagasan yang  menyatakan bahwa tato Mentawai tertua di dunia. Asumsi ini menjadi perdebatan di dunia akademik dan tersebar di media-media digital. Sebahagian orang meyakininya asumsi itu sebagai sebuah kebenaran. Bahkan asumsi ini dijadikan sebagai acuan yang sahih dalam membuat sebuah kebijakan publik di Mentawai. Argumen ini telah menuai kontroversi di masyarakat Mentawai. Setelah mengulas sumber-sumber ilmiah yang mendasari munculnya asumsi tato Mentawai tertua di dunia fakta-fakta berbeda ditemukan tentang tato tradisional Mentawai. Berdasarkan fakta-fakta itu disimpulkan adalah bahwa tato traditional Mentawai sebagai yang tertua di dunia tidaklah berdasar.
Sakralitas Folklore: Manguni Simbol dalam Gerakan Emansipasi Place-Lore di Minahasa Thiosani Frinsly Kaat; Izak Y. M. Lattu
Endogami: Jurnal Ilmiah Kajian Antropologi Vol 7, No 1 (2023): November
Publisher : Prodi Antropologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/endogami.7.1.119-135

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk menganalisis sakralitas folklore Minahasa melalui simbol burung Manguni sebagai instrumen perlawanan indigenous people. Manguni bagi masyarakat Minahasa merupakan burung sakral dan media ilahi/leluhur menyampaikan pesan kepada manusia. Melalui metode kualitatif analitis-deskriptif dengan pendekatan etnografi untuk mengeksplorasi kearifan lokal di Minahasa. Era kolonial dan pos-kolonial mentransformasi paradigma masyarakat Minahasa dalam memaknai Manguni dan kearifan lokal berbasis folklore. Kolonialisme telah membentuk dan mengkonstruksi supremasi elitis di Minahasa mulai dari agamawan, politikus serta birokrat. Tiga bentuk supremasi tersebut berada dalam sistem oligarki dan memiliki kuasa dalam melegitimasi benar-salah tindakan masyarakat sehingga Manguni sebagai folklore terpinggirkan. Berdasarkan hasil temuan Manguni menjadi media indigenous people meminta restu kepada para leluhur untuk melakukan gerakan perubahan sosial melalui ritual, pendidikan dan bernarasi sehingga membentuk kohesi sosial. Gerakan indigenous people mencari spatial justice melalui restu ilahi/leluhur lewat nyanyian Manguni menjadi bagian dari kesadaran kolektif masyarakat Minahasa. Artikel ini berkesimpulan bahwa Manguni menjadi simbolisasi restu para leluhur terhadap gerakan indigenous people sehingga membentuk sakralitas foklore
Studi Histori-Feminis Di Zaman Kolonial: Domestifikasi Sebagai Resistensi Perempuan Minahasa Ridly Acanli Jodi Ponto; Tony Tampake; Mariska Lauterboom
Endogami: Jurnal Ilmiah Kajian Antropologi Vol 7, No 2 (2024): Juni
Publisher : Prodi Antropologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/endogami.7.2.353-367

Abstract

Perempuan Minahasa sejak masa primodial mengenal akan sistem egaliter. Namun, semenjak kolonialisme dengan sistem patriarki masuk dan berkembang mengubah sosio-kultural masyarakat. Pada era kolonial, akibat sistem patriarki menempatkan perempuan pada posisi inferior. Terlihat dalam pendidikan yang diterima kaum perempuan berbeda dengan laki-laki. Perempuan tidak dapat melanjutkan pendidikannya karena mereka dipersiapkan dalam ranah domestik tetapi laki-laki bisa melanjutkan pendidikannya. Oleh karena itu, Maria Walanda Maramis membuka ruang bagi kaum perempuan untuk melanjutkan pendidikan mereka. Walaupun, pendidikan yang diberikan Maria di dalam PIKAT adalah urusan kerumahtanggan tetapi domestikasi tersebut adalah resistesi untuk mendapatkan kedudukan yang sama dengan laki-laki. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan historis sebagai upaya untuk menemukan fakta-fakta sejarah mengenai domestifikasi perempuan sebagai resistensi di zaman kolonial di Minahasa. Maka, ditemukan sebauah fakta historis tentang kedudukan perempuan dalam ranah domestik yang adalah bentuk resistensi terhadap kaum kolonial dengan sistem patriarki di Minahasa.
Polemik Pembiayaan Acara Batagak Gala Di Kanagarian Kambang Barat, Pesisir Selatan Delpa Delpa
Endogami: Jurnal Ilmiah Kajian Antropologi Vol 7, No 1 (2023): November
Publisher : Prodi Antropologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/endogami.7.1.47-61

Abstract

Penelitian ini membahas tentang pemilihan calon penyandang gelar adat kebesaran kaum/suku yang didominasi oleh individu yang kaya. Hal ini disebabkan karena besarnya biaya yang perlu dipersiapkan untuk acara penobatan gelar maka hanya individu kelas menengah ke atas yang sanggup melaksanakan acara Batagak Gala di Kanagarian Kambang Barat, Pesisir Selatan. Tujuannya adalah untuk mengenalpasti sejauhmanakah peran individu sebagai pemegang gelaran adat yang tidak memiliki pemahaman tentang tradisi dapat memberikan kontribusi terhadap tradisi dan kaumnya di kampung halaman. Metodologi kajian dibagi menjadi tiga bagian. Pertama, metodologi pengumpulan data menggunakan kaedah wawancara (In-depth interview) terhadap informan kajian. Kedua, metodologi pemilihan informan menggunakan kaedah Snowball dimana informan pertama merupakan sebagai informan kunci. Informan terdiri dari enam orang di mana 1 orang informan berasal dari anggota KAN, 2 orang dari calon pemangku adat, 1 orang informan berasal dari orang yang baru saja melaksanakan acara Batagak Gala. 1 orang informan berasal dari pemuka agama dan 1 orang informan berasal dari pemuka masyarakat. Ketiga, metodologi analisis data menggunakan kaedah kualitatif. Temuan kajian mendapati bahwa pemegang gelar yang tidak didasari oleh kemampuan adat menyebabkan pemegang gelar kurang dapat memberikan kontribusi terhadap tradisi dan kaumnya secara efektif. Kegiatan rutinitas adat hanya dijalankan oleh wakil dari pemegang gelar (Panungkek) yang pada dasarnya tidak sesuai dengan kapasitasnya. Kesimpulan kajian adalah pemilihan terhadap calon pemegang gelar adat perlu memiliki kemampuan adat dan rasa empati terhadap kaum nya yang mendalam. Sedangkan pembiayaan dapat dipersiapkan oleh kaum dalam jangka waktu yang panjang secara sistematis dan terukur..
Minority within a Minority: Eksistensi dan Narasi Identitas Penghayat non-paguyuban di Yogyakarta Ahmad Makmun Khodori
Endogami: Jurnal Ilmiah Kajian Antropologi Vol 7, No 2 (2024): Juni
Publisher : Prodi Antropologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/endogami.7.2.270-285

Abstract

Penelitian ini menganalisis satu topik terkait eksistensi dan identitas Penghayat non-paguyuban yang merupakan bagian dari Agama Leluhur di Yogyakarta. Dua pertanyaan berusaha untuk dijawab dalam penelitian ini yakni bagaimana kondisi Agama Leluhur di Yogyakarta? Mengapa terdapat penghayat yang tidak tergabung dalam paguyuban seperti lainnya dan memilih menjadi penghayat tanpa paguyuban? Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana Penghayat non-Paguyuban dalam menjaga eksistensi dan identitas yang milikinya. Hasil penelitian menunjukan bahwa identitas yang menempel pada Penghayat non-paguyuban berdampak pada perjuangan dalam mempertahankan eksistensinya. Identitas Penghayat non-paguyuban mengarah pada mereka yang merupakan Penghayat namun tidak tergabung dalam paguyuban tertentu, sehingga mereka tidak sepenuhnya diakui karena tidak adanya pengakuan secara resmi dari MLKI (Majelis Luhur Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa Indonesia) jika mereka merupakan bagian dari Penghayat Kepercayaan di Yogyakarta. Dalam situasi semacam ini, ada risiko bahwa eksistensi Penghayat non-paguyuban dapat menghilang seiring berjalannya waktu.
“Login”: Representasi Pluralisme-Multikulturalisme dalam Balutan Industri Arido Laksono
Endogami: Jurnal Ilmiah Kajian Antropologi Vol 7, No 1 (2023): November
Publisher : Prodi Antropologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/endogami.7.1.208-213

Abstract

Kehidupan bermasyarakat di Indonesia diwarnai dengan berbagai perbedaan yang terbingkai dalam semangat persatuan dan kesatuan berlandaskan Pancasila dan UUD 1945. Seiring kemajuan ilmu dan teknologi, perubahan pola hidup dan cara pandang masyarakat terhadap fenomena sosial di sekitar kita juga mengalami banyak perubahan. Nilai-nilai sosial yang telah lama menjadi pegangan hidup bermasyarakat mulai mengalami pergeseran. Pergeseran nilai ini seringkali menciptakan celah yang menimbulkan gesekan antara satu orang dengan orang lainnya.Artikel ini menganalisis sebuah tayangan di Youtube bertajuk “Login” yang dipandu oleh Habib Jafar dan Onad. “Login” ditayangkan selama bulan Ramadhan tahun 2023 sebanyak 30 episode. Konsep pluralisme dan multikulturalisme dianalisis berdasarkan beberapa teori untuk mengungkap representasi pluralisme dan multikulturalisme dalam “Login.”Selain itu, peran industri nampak jelas terlihat dalam tiap episode yang ditayangkan. Tata letak properti serta perlengkapan pendukung sebuah acara nampak detil dan rapi ditampilkan. Selain itu, naik turunnya jumlah viewer yang diantisipasi dengan kedatangan bintang tamu menunjukkan sisi industry yang merupakan ciri budaya populer.  
Harmoni Perkembangan Seni Impresionisme dan Pemikiran Henri Bergson Dika Sri Pandanari
Endogami: Jurnal Ilmiah Kajian Antropologi Vol 7, No 2 (2024): Juni
Publisher : Prodi Antropologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/endogami.7.2.451-463

Abstract

Seni lukis impresionisme disebut sebagai anak dari realisme, namun justru melahirkan berbagai aliran lain yang sangat jauh dari realisme seperti kubisisme, pointilisme, hingga abstrak, dan surrealisme. Selanjutnya muncul pertanyaan mengenai bagaimana klaim kebenaran seniman impresionisme atas realitas sebelumnya telah ditentukan oleh para pelukis realisme akademis. Konteks perkembangan seni Impresionisme di abad ke-19 lahir bersamaan dengan konteks hidup Henri Bergson, seorang filsuf pengetahuan dari Pracis yang sangat dihormati karena telah merumuskan mengenai struktur pikiran dalam menemukan realitas. Keduanya lahir di Paris di saat perkembangan politik, ekonomi, dan kebudayaan Prancis berkembang. Kesamaan konteks ini selanjutnya menjadi tesis dasar dari penelitian ini untuk melihat harmonisasi antara perkembangan impresionisme dan pemikiran Bergson, yang selanjutnya menghasilkan gebrakan baru baik dalam gerakan seni, klaim kebenaran estetik, dan konsep realitas yang lebih baru. Penelitian ini secara khusus ditujukan untuk menemukan garis besar kesamaan antara pemikiran Henri Bergson dan konsep dalam gerakan seni lukis impresionisme. Penelitian ini menemukan bahwa kesamaan konteks hidup Bergson dan gerakan seni lukis impresionis menyepakati tiga hal yaitu penolakan pada nilai absolut, penghargaan pada pengalaman subjektif, dan kemampuan subjektif dalam berkreasi.