cover
Contact Name
Izmy Khumairoh
Contact Email
izmykhumairoh@lecturer.undip.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
izmykhumairoh@lecturer.undip.ac.id
Editorial Address
Jl. dr. Antonius Suroyo Kampus Universitas Diponegoro Tembalang, Semarang, Jawa tengah, Kode Pos 50275
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
ENDOGAMI Jurnal Ilmiah Kajian Antropologi
Published by Universitas Diponegoro
Core Subject : Humanities, Social,
Fokus bidang ilmu antropologi. Bentuk-bentuk karya ilmiah yang dapat dimuat adalah original article berupa artikel hasil penelitian review article atau makalah kajian pustaka berupa uraian singkat tentang temuan penelitian yang dianggap penting untuk segera dipublikasikan.
Articles 229 Documents
Upaya Pelestarian Kesenian Topeng Bekasi pada Masyarakat Bekasi “Studi Kasus Kelompok Seni Putra Budaya” Niken Indraswari Tungga Dewi
Endogami: Jurnal Ilmiah Kajian Antropologi Vol 6, No 2 (2023): Juni
Publisher : Prodi Antropologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/endogami.6.2.25-38

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini mengkaji mengenai upaya pelestarian Kesenian Topeng Bekasi sebagai identitas budaya Bekasi. Bekasi sebagai wilayah kota metropolitan membuat kesenian tradisional di Bekasi mengalami kesulitan dalam bertahan. Selain menghadapi Bekasi sebagai kota metropolitan, Kesenian Topeng Bekasi juga menghadapi tantangan lain yaitu kebertahanan di era modern. Keberadaan pelaku seni di Bekasi membuat eksistensi dari Kesenian Topeng Bekasi masih terjaga sampai saat ini. Salah satu dari pelaku seni tersebut ialah Kelompok Seni Putra Budaya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui alasan yang mendorong Kelompok Seni Putra Budaya dalam mempertahankan Kesenian Topeng Bekasi, tantangan apa yang dihadapi, dan bentuk pelestarian yang dilakukan Kelompok seni tersebut. Pendekatan yang digunakan yaitu pendekatan kualitatif dengan metode penelitian studi kasus.Hasil dari penelitian ini Kelompok Seni Putra Budaya memiliki alasan yang mendorong mereka dalam upaya pelestarian yaitu keturunan keluarga, relasi keluarga, perubahan sakral ke profan, dan Kesenian Topeng Bekasi sebagai media pelepas nadzar. Sedangkan hambatan yang dirasakan yaitu rekruitmen anggota yang sulit, tata letak panggung, hambatan dalam edukasi, dan persaingan dengan kesenian lainnya. Adapun bentuk pelestarian yang mereka lakukan yaitu dengan pendirian sanggar, modifikasi, marketing, dan melakukan pertunjukan Kesenian Topeng Bekasi secara terus menerus.Kata Kunci: Topeng, Kesenian, Pelestarian, Metropolitan, Kelompok Seni ABSTRACTThis study examines the efforts to preserve the Bekasi Mask Art as Bekasi cultural identity. Bekasi as a metropolitan city areas in Indonesia makes traditional arts in Bekasi have difficulty in surviving. The Bekasi Mask Arts not only faces metropolitan city, but it also faces another challenge that is survival in the modern era. Furthermore, the existence of art performers in Bekasi makes the existence of Bekasi Mask Arts still maintained to this day. One of the performers of the arts is the Putra Budaya Art Group.            The aim of this study is that to find out the reasons which encourage the Putra Budaya Art Group to maintain the Bekasi Mask Arts, what challenges it faces, and the form of preservation conducted by the arts group. Moreover, the approach used was a qualitative approach with case study research methods.The result of this study shows that Putra Budaya Art Group has reasons which encourage them in conservation efforts that are family ancestry, family relations, changes from sacred to profane, and Bekasi Mask Arts as a medium for releasing vows. Meanwhile, the obstacles faced are difficult member recruitment, stage layout, barriers to education, and competition with other arts. In addition, the forms of preservation which they conduct are the establishment of studios, modifications, marketing, and continuous performances of the Bekasi Mask Art.Key words: Mask, Art, Preservation, Metropolitan, Art Group
Dominasi dan Bentuk-Bentuk Relasi Kuasa dalam Prostitusi Vira Nadiandra Pratiwi
Endogami: Jurnal Ilmiah Kajian Antropologi Vol 6, No 2 (2023): Juni
Publisher : Prodi Antropologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/endogami.6.2.261-275

Abstract

Pembahasan mengenai prostitusi seringnya memposisikan perempuan pekerja seks sebagai korban atau pihak yang dikenai kuasa. Banyak penelitian yang hadir mengenai relasi kuasa dalam prostitusi namun sedikit yang membahas mengenai keberdayaan pekerja seks dalam mengontrol tubuhnya sendiri. Peneliti menggunakan metode studi literatur untuk melihat fenomena faktual yang ada di kalangan pekerja seks mengenai relasi kuasa dan pengambilan keputusan yang mereka lakukan terkait dirinya dan pekerjaannya baik secara sadar maupun tidak. Studi kasus dalam penelitian terdahulu dikelompokkan dan dijabarkan secara deskriptif dan dianalisis menggunakan teori relasi kuasa Michael Foucault penulis mencoba melihat bentuk-bentuk relasi kuasa yang terjadi dalam prostitusi dan adanya kemungkinan perempuan pekerja seks sebagai pemilik kuasa. Selain memposisikan pekerja seks sebagai pihak yang dikuasai (domain of power), penelitian terkait prostitusi seharusnya juga dapat melihat bagaimana pekerja seks memandang hidupnya dan memiliki kuasa atas hidupnya. Peneliti seharusnya dapat lebih adil dalam melihat permasalahan ini dan tidak bertindak selayaknya seorang professional yang paling mengetahui mana yang lebih baik.
Muslim Pakistan Amerika pada Film Pendek American Eid: Simbolisme Religius dan Harmoni Budaya Rifka Pratama
Endogami: Jurnal Ilmiah Kajian Antropologi Vol 6, No 2 (2023): Juni
Publisher : Prodi Antropologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/endogami.6.2.197-208

Abstract

Films often present cultural expressions, religiosity, as well as social criticisms of realities. In fact, films have played a relatively effective role in doing all of the mentioned aspects even in cross socio-cultural situations. Through films, people in Indonesia can observe the reflection of the lives of Muslims in America and vice versa. American Eid depicts the life of a Pakistani American Muslim immigrant family and challenges they face as a minority celebrating their first Eid al-Fitr in America. This article attempts to examine some of the symbolisms that emphasize the religious identity of the main characters of the film and the cultural harmony that exists between Pakistani Muslim traditions and American society. To collect data, I made intensive observations by watching the movie, reading the relevant sources to get the theories, and conducting the analysis through a qualitative method. The results of the study show that there are several religious symbolisms depicted through material and non-material elements as well as the harmony of Pakistani Muslim culture and American society in the context of school life.
Praktik Menuju Vagina yang Sempurna: Pendisiplinan dengan Beragam Produk untuk Daerah Kewanitaan Carolina Retmawati Putri
Endogami: Jurnal Ilmiah Kajian Antropologi Vol 6, No 2 (2023): Juni
Publisher : Prodi Antropologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/endogami.6.2.106-125

Abstract

AbstrakTubuh dan seksualitas perempuan selalu diatur mengikuti konstruksi yang berkembang di dalam masyarakat. Dalam hal kenikmatan seksual perempuan dituntut untuk bisa memuaskan pasangannya. Salah satu cara yang dilakukan adalah dengan memiliki penampilan yang menarik seperti yang diidealkan dalam masyarakat. Tidak hanya pada penampilan luarnya saja namun tuntutan tersebut juga berlaku untuk bagian tubuh yang paling private dari perempuan. Vagina sebagai organ yang paling intim juga mendapatkan pendisiplinan di dalam masyarakat. Penelitian ini dilakukan secara kualitatif dengan melihat praktik penggunaan produk-produk khusus untuk vagina yang dilakukan oleh para perempuan muda yang sudah memiliki aktifitas seksual yang aktif namun belum menikah. Pada akhirnya kesebelas perempuan muda sebagai informan penelitian, mencoba untuk memenuhi tuntutan yang terbentuk dalam konstruksi di masyarakat berkaitan dengan vaginanya. Cara yang mereka pilih adalah dengan memaksimalkan vaginanya menggunakan beragam produk-produk kimia khusus untuk vagina. Kata Kunci: seksualitas, vagina, pendisiplinan, dan produk kimia
Cultural Materialism of Ghost: Debunking The Prevalence of Women Ghost in Indonesia Lalu Ary Kurniawan Hardi
Endogami: Jurnal Ilmiah Kajian Antropologi Vol 7, No 1 (2023): November
Publisher : Prodi Antropologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/endogami.7.1.77-86

Abstract

The abundance of folklore, myth, and urban legends in Indonesia that put its central attention to the vengeful character of “female ghost”, delineates clear cultural portrayal about the broad scope of violence that happen to Indonesian women. Avery Gordon (2008) conceptualize ghost as the figurative depiction of inarticulate occurrence and haunting reminder about the repression and injustice that exist in our complex social relations. Concurrently, Cheryl Lawther (2021) suggests that haunting is an animated stages inflicted by the unresolved social violence and oppression. In regards to these notions, this article aimed to: (a) examine the socio-economic impetus that drives the over-mystification towards women in Indonesia, and; (b) determine the factors that perpetuate the haunting narratives throughout the generations. As the demystification attempt to rationalize the answer of these questions, this article will operationalize Marvin Harris’s cultural materialism theory as its main framework. This article argues that the rich narratives about female ghosts in Indonesia are mainly inflicted by the failure of agrarian economy to provide a decent living condition for women. This phenomenon forced women to step outside the traditional gender roles which led to the massification of violence and oppression. These problems remained until present times, which then contributed to the perpetuation of several ghost stories and haunting narratives that reflects the recurring injustice and oppressions towards women. It is concluded that these narratives serve as: (1) reminder about the recurring oppression; (2) exigent call for reconciliation; (3) pre-emptive narratives for deterrent, and; (4) lesson learned for future improvement.
Air Terkelola, Panen Terjaga: Adaptasi Petani di Lahan Karst dalam Menghadapi Perubahan Iklim Isna Maulida Ahmad
Endogami: Jurnal Ilmiah Kajian Antropologi Vol 7, No 2 (2024): Juni
Publisher : Prodi Antropologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/endogami.7.2.301-315

Abstract

Perubahan iklim telah mengakibatkan kerentanan di bidang pertanian, terlebih petani yang berada di lahan karst. Petani dituntut untuk mampu mempertahankan penghidupannya dengan melakukan upaya adaptasi. Tulisan ini bertujuan mengetahui hubungan perubahan iklim dengan sektor pertanian dan kemampuan adaptasi petani di lahan karst terhadap perubahan iklim. Data penelitian ini bersumber dari tinjauan literatur, wawancara, dan observasi. Tinjauan literatur digunakan untuk mengetahui pandangan petani mengenai iklim, sedangkan observasi dan wawancara dilakukan untuk mendapat data lapangan terkait bentuk adaptasi petani. Hasil penelitian menunjukkan bahwa upaya memastikan ketercukupan air pertanian menjadi bentuk adaptasi petani dalam menghadapi perubahan iklim. Ketercukupan air dilakukan dengan melakukan perubahan teknologi serta membentuk institusi pengairan yang dilaksanakan oleh Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A). Perubahan teknologi dilakukan untuk meningkatkan kapasitas akses terhadap air sehingga dapat mengantisipasi kekeringan saat terjadi kemarau panjang. Institusi pengairan diperlukan untuk memastikan kesetaraan distribusi akses terhadap air bagi petani. Sejalan dengan itu, tulisan ini memandang bahwa adaptasi kolektif memiliki peran penting untuk membantu meningkatkan kapasitas petani dalam menghadapi perubahan iklim, khususnya pada petani kecil yang memiliki keterbatasan modal, tetapi tetap harus mengamankan sumber penghidupannya.
Hidup dengan Bencana Pariwisata Gunung Berbasis Masyarakat di Yogyakarta, 1925 -2020 Fajar Sulistya; Pujo Semedi; Mohamad Yusuf; Agung Wicaksono
Endogami: Jurnal Ilmiah Kajian Antropologi Vol 7, No 1 (2023): November
Publisher : Prodi Antropologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/endogami.7.1.1-15

Abstract

Secara statistik, obyek pariwisata kaliurang menyedot ratusan ribu pengunjung tiap tahunnya sehingga menjadi salah satu community-based tourism (CBT) atau pariwisata berbasis masyarakat yang paling berhasil di Provinsi D.I. Yogyakarta. Berdasarkan telaah historis, berkembangnya CBT di kaliurang bukanlah suatu hal yang hadir secara tiba-tiba, namun merupakan implikasi dari resiliensi menyejarah masyarakat yang awalnya tinggal di Kawasan marjinal dan rawan bencana. Pada awalnya, mereka merupakan hamba orang kaya pemilik villa yang secara perlahan bertransformasi menjadi pegiat pariwisata yang mandiri. Proses ini tidaklah mudah karena upaya membangun pariwisata berhadapan dengan erupsi Gunung Merapi yang, meski tak terprediksi, senantiasa berlangsung secara berulang. Pada 2020, wabah Covid-19 yang melumpuhkan ekonomi juga berdampak besar pada wisata Kaliurang. Lagi-lagi, kita melihat bagaimana resiliensi pelaku wisata Kaliurang mampu menghindarkan sector ini dari kebangkrutan sehingga secara perlahan bangkit Kembali. Secara historis, meski Kaliurang, dan pelaku wisatanya, menghadapi beragam tekanan social dan bencana dalam satu abad terakhir, fakta etnografis menunjukkan bahwa mereka adalah masyarakat yang resilien. Oleh karenanya, pertanyaan krusial yang dihadirkan dalam artikel ini adalah, relasi-relasi sosial ekonomi seperti apakah yang hidup di Kaliurang sehingga mereka tidak hanya mampu bertahan meski dihantam berbagai bencana, tetapi juga –pada beberapa kesempatan–, mengubahnya menjadi peluang usaha baru yang berkontribusi besar meningkatkan kondisi ekonomi?
Faktor Kesenangan dan Jaminan Tabungan Primogems dalam Genshin Impact Atria Graceiya
Endogami: Jurnal Ilmiah Kajian Antropologi Vol 7, No 2 (2024): Juni
Publisher : Prodi Antropologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/endogami.7.2.225-237

Abstract

Genshin Impact menjadi salah satu game yang populer di masyarakat dari berbagai kalangan usia, terlebih lagi Genshin Impact adalah free-to-play (f2p) atau game yang bisa dimainkan secara gratis tanpa mengeluarkan uang sepeserpun, serta memiliki banyak karakter yang bisa dimainkan yang didapatkan melalui gacha. Penelitian ini membahas tentang faktor-faktor menggunakan pandangan Broostin yang menyebabkan player memutuskan untuk gacha salah satu karakter dari Genshin Impact beserta alasan mereka melakukan pembelian produk Blessing of The Welkin Moon. Dengan menggunakan metode penelitian kualitatif serta partisipasti observasi, ditemukan bahwa adanya keterlibatan dari knowing eye, vicarious eye, visceral eye, dan voyeur eye dalam pemilihan satu karakter yang akan di-gacha. Dari keterlibatan empat elemen tersebut yang akhirnya membuat player memilih untuk membeli Blessing of the Welkin Moon, yang player pakai sebagai jaminan bahwa tabungan primogems mereka jauh lebih banyak. Pada dasarnya, player yang telah membeli Blessing of the Welkin Moon cenderung tetap memilih untuk terus berlangganan produk freemium yang ditawarkan oleh Hoyoverse dikarenakan player merasakan itu sebagai jaminan tabungan primogems player terus bertambah, meskipun player telah mendapatkan karakter yang diinginkan. Terlebih lagi Hoyoverse terus-menerus merilis karakter baru, sehingga player memilih untuk terus berlangganan. Memiliki teman sebaya yang bermain game yang sama juga menjadi salah satu alasan kenapa player memilih untuk membeli Blessing of the Welkin Moon.
Kain Lurik dalam Baju Surjan: Jejak Dakwah Sunan Kalijaga Melalui Media Baju Takwa Tri Handayani; Firda Mutia Widayanti
Endogami: Jurnal Ilmiah Kajian Antropologi Vol 7, No 2 (2024): Juni
Publisher : Prodi Antropologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/endogami.7.2.482-495

Abstract

Sunan Kalijaga terkenal dengan dakwahnya yang menggunakan pendekatan kesenian, salah satunya menciptakan baju takwa yang disebut surjan. Oleh karena itu, pertanyaan penting yang diangkat dalam artikel ini antara lain terkait bagaimana peran lurik sebagai bahan dasar surjan? Kedua, apakah melalui kain lurik tersebut bisa memberikan deskripsi tentang gambaran kehidupan masyarakat pada masa itu? Penelitian ini dilakukan dengan metode pustaka. Pertama, peneliti menentukan topik artikel setelah membaca beberapa referensi. Kedua, penelitian tidak dilakukan di lapangan, namun peneliti melalui beberapa langkah, yaitu mencari, mengumpulkan, dan menganalisis bahan literatur berupa jurnal, buku, berita online, dan dokumen lainnya. Hasil penelitian menunjukkan Sunan Kalijaga menghabiskan kehidupan masa kecilnya di era Kerajaan Majapahit yang hampir runtuh. Selama itu, ia menyadari adanya pelapisan sosial yang memberatkan golongan bawah laki-laki dan permasalahan iklim yang panas, salah satunya terkait aspek pakaian laki-laki. Kemudian ia menciptakan baju surjan berbahan dasar lurik yang baru resmi digunakan ketika masa Mataram Islam. Makna yang terdapat dari lurik bercampur dengan makna surjan, yaitu pentingnya kesederhanaan yang ditonjolkan dari motif garis dan bagaimana pentingnya tentang menanamkan  nilai-nilai Islam agar senantiasa hidup dengan mengingat Allah Swt. Artikel ini berkesimpulan bahwa hubungan antara Allah Swt. dengan manusia sangat yang tercermin dari baju surjan berbahan kain tenun lurik.
Membaca Fenomena Agraria Terkini Melalui Kritik Kapital Pada Pengalaman Kehilangan Asri Widayati
Endogami: Jurnal Ilmiah Kajian Antropologi Vol 7, No 1 (2023): November
Publisher : Prodi Antropologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/endogami.7.1.167-182

Abstract

Studi ini menawarkan pembacaan teoritis baru mengenai fenomena agraria belakangan, khususnya mengenai orang-orang yang di beberapa tempat di Indonesia yang alih-alih menolak untuk menjual lahannya ke berbagai perusahaan. Sebaliknya, beberapa dari mereka justru mengundang perusahaan untuk menyerahkan sertifikat lahannya maupun mau untuk menyerahkan sertifikat lahannya karena tergiur ganti rugi miliaran. Fenomena semacam itu, ketika dibaca dalam konteks perampasan, atau dalam kerangka kapitalisme pabrik, pertentangan antara kelas-kelas yang berbeda. Maka, kesimpulan yang muncul dari beberapa aktivis dan advokat yang berada di wilayah akan menuduh beberapa orang itu “rakus” dan semacamnya. Melalui studi ini, tawaran ulang pembacaan disajikan untuk melihat kembali fenomena dengan kemungkinan kesimpulan yang mana hari ini, kapitalisme tidak sekadar hadir konfrontatif dan terus bertentangan dengan kelas-kelas yang berbeda. Namun, kapitalisme secara ramah tamah (benign capitalism) hadir melalui berbagai cara. Pengalaman kehilangan yang dipelajari dalam tradisi antropologi mempertajam pembacaan, bahwa benign capitalism yang salah satunya hadir dalam rupa perubahan strategi bisnis yang lebih ramah-tamah, bermitra dengan berbagai agensi baik negara maupun non-negara. Selain siasat semacam itu dapat “menambal” perasaan orang-orang untuk kembali mengalami kehilangan. Di sisi lain, melalui pembacaan pengalaman kehilangan, sebenarnya kapitalisme yang ramah justru hadir sebagai “kehadiran yang mengganggu”. Karena, tak jarang, setelah penyerahan lahan ke korporasi, keputusan tersebut memukul kondisi orang-orang.