cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
JIKG (Jurnal Ilmu Kedokteran Gigi)
ISSN : 25797239     EISSN : 25800523     DOI : -
Core Subject : Health,
JIKG (Jurnal Ilmu Kedokteran Gigi) adalah jurnal yang diterbitkan oleh Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Muhammadiyah Surakarta yang bertujuan untuk memajukan dan menyebarluaskan perkembangan terbaru dalam bidang kedokteran gigi. Jurnal ini ditujukan untuk dosen, dokter/dokter gigi, mahasiswa, serta pihak-pihak lain yang menaruh minat dalam perkembangan ilmu kedokteran gigi.
Arjuna Subject : -
Articles 107 Documents
FREKUENSI KEBUTUHAN PERAWATAN ORTODONTIK BERDASARKAN INDEX OF ORTHODONTIC TREATMENT NEED DI SMP NEGERI 1 SALATIGA Hafiizh Nur Perwira; Ana Riolina; Nilasary Rochmanita
JIKG (Jurnal Ilmu Kedokteran Gigi) Vol 1. No 1. 2017
Publisher : Muhammadiyah University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Orthodontic merupakan beberapa tindakan yang dilakukan untuk mengubah oklusi pada tahap awal pertumbuhan, perlunya memperbaiki kesehatan rongga mulut, fungsi rongga mulut, dan penampilan pribadi. Salah satu indeks yang menjadi acuan dalam perawatan ortodontik adalah Index of Orthodontic Treatment Need (IOTN). IOTN merupakan sebuah sistem skoring untuk maloklusi, dikembangkan oleh Brook Shaw (1989). IOTN berfungsi sebagai indeks kebutuhan perawatan ortodontik yang berguna untuk menentukan keparahan atau tingkat sifat oklusi (overjet, reverse overjet, cross bite anterior/ posterior,  displacement contact point, open bite anterior/posterior, dan overbite). Indeks ini terdiri dari dua buah komponen yaitu Dental health Component (DHC) dan Aesthetic Component (AC).Tujuan penelitian ini untuk mengetahui tingkat frekuensi perawatan ortodontik berdasarkan IOTN di SMP Negeri 1 Salatiga. Penelitian ini merupakan penelitian descriptive observational study. Digunakan sampel 84 sampel dari siswa-siswi di SMP Negeri 1 Salatiga. Gigi-geligi sample dicetak dan dilakukan foto dari sisi anterior sejajar dengan oklusi. Hasil cetakan dilakukan pengukuran dan pengklasifikasian dilakukan sesuai grade DHC. Hasil foto gigi-geligi dilakukan analisis wawancara dengan sample sesuai grade AC.Hasil distribusi di dapatkan Frekuensi tingkat kebutuhan perawatan ortodontik siswa-siswi SMP Negeri 1 Salatiga menurut IOTN dengan indeks DHC 39,3% atau 33 siswa-siswi dari total sampel di SMP Negeri 1 Salatiga menunjukkan tingkatan sangat membutuhkan perawatan ortodontik, serta dengan indeks AC 56% atau 47 siswa-siswi dari total sampel di SMP Negeri 1 Salatiga menunjukkan tingkatan tidak membutuhkan perawatan ortodontik.
Hubungan Tingkat Pengetahuan Orang Tua tentang Perawatan Khusus Gigi Anak Retardasi Mental dengan Indeks Karies Anak nendika dyah ayu murika sari
JIKG (Jurnal Ilmu Kedokteran Gigi) Vol 2, No 2 (2019)
Publisher : Muhammadiyah University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstractMental retardation is a condition of individuals with limited abilities which characterized by IQ index less than 70. Children with mental retardation tend to have poorer oral hygiene than their normal counterpart. The difficulties in oral hygiene due to lack of motoric skill, lack of parental attention and knowledge are the causes of the high caries index of children with mental retardation. This study aimed to determine the relationship between parental knowledge with the mental retardation children's caries index. A cross-sectional analytic study was conducted in this research. The study sample was 27 children aged 8-9 years. The data were collected using questionnaire of parental knowledge and an oral examination of caries index of children was recorded using DMF-T/def-t index. Data were tested by Chi Square test. The results showed an average DMF-T/def-t index 6.9 which was included in very high category. About 29.63% of the parents had the good knowledge (high category), 55.5% in medium category of parental knowledge, and 14.81% in low category. The result showed significant relationship between caries index in the child and parental knowledge (p=0.004, p0.05). The conclusion of this study is that there was a significant relationship between the parental knowledge and mental retardation children's caries index.Keywords: mental retardation, caries index, parental knowledge 
KURETASE GINGIVA PADA GIGI INCISIVUS RAHANG BAWAH DENGAN KASUS PERIODONTITIS KRONIS PADA GIGI 31, 41 DAN 42 Aprilia Yuanita Anwaristi; Ieka Nurfitria
JIKG (Jurnal Ilmu Kedokteran Gigi) Vol 5. No 2. 2022
Publisher : Muhammadiyah University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penyakit periodontal adalah kondisi yang menyebabkan peradangan dan kerusakan pada jaringan penyangga gigi yaitu gingiva, ligamen periodontal, sementum dan tulang alveolar. Periodontitis merupakan salah satu penyakit periodontal yang menyebabkan destruksi jaringan periodontal permanen yang dikarakteristikkan dengan inflamasi kronis, migrasi epitelium, kehilangan jaringan ikat dan kehilangan tulang alveolar. Periodontitis dibagi menjadi dua, yaitu periodontitis kronis dan periodontitis agresif. Periodontitis kronis berhubungan dengan akumulasi plak dan kalkulus, secara umum berkembang lambat, nampak periode destruksi cepat dan kehilangan tulang horizontal. Laporan kasus ini memaparkan tentang kuretase gingiva pada gigi 31,41,42 pada pasien laki-laki berusia 25 tahun dengan kasus periodontitis kronis. Pemeriksaan gingival indeks menunjukkan skor 0,5, plak indeks 53,4% dan skor OHI 6. Pemeriksaan poket periodontal pada gigi 33,32,31,41,42,43 yaitu 3-4 mm disertai BOP positif. Perawatan dikunjungan pertama adalah scaling root planing, evaluasi seminggu kemudian masih terdapat inflamasi berupa pembesaran gingiva disertai kemerahan dan kedalaman probing pada gigi 31,41,42 yaitu 3-4 mm dengan BOP positif sehingga dilanjutkan perawatan fase 2 yaitu kuretase. Hasil evaluasi 3 minggu setelah kuretase didapatkan penurunan kedalam probing pada gigi 31,41,42 menjadi 2 mm dengan BOP negatif. Berdasarkan hasil evaluasi perawatan kuretase gigi 31,41,42 dengan kasus periodonditits kronis pada laporan kasus ini dikatan berhasil.
KNOWLEDGE, ATTITUDE AND PRACTICE MENGENAI KESEHATAN GIGI DAN MULUT MAHASISWA S1 UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA Dwi Kurniawati; Dyah Ayu Cahyaningrum
JIKG (Jurnal Ilmu Kedokteran Gigi) Vol 5. No 2. 2022
Publisher : Muhammadiyah University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Masalah kesehatan gigi dan mulut seperti karies gigi dan penyakit periodontal banyak diderita masyarakat Indonesia. Faktor yang berkontribusi adalah pengetahuan, sikap dan perilaku. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran pengetahuan, sikap, dan perilaku kesehatan gigi dan mulut mahasiswa S1 Universitas Muhammadiyah Surakarta. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan metode cross-sectional study. Sebanyak 300 mahasiswa  S1 Universitas Muhammadiyah Surakarta dari angkatan 2019, 2020, dan 2021 digunakan sebagai sampel. Pemilihan sampel menggunakan teknik stratified random sampling. Insrumen yang digunakan untuk mengukur tingkat pengetahuan, sikap dan perilaku  adalah kuesioner. Analisis data dilakukan dengan menggunakan metode deskriptif survei, uji statistik Kruskal Wallis dan Mann Whitney.  Hasil yang diperoleh yaitu 74.0% mahasiswa  memiliki pengetahuan yang baik, 49.3% mahasiswa memiliki sikap yang cukup, dan 76.7% mahasiswa memiliki perilaku yang cukup mengenai kesehatan gigi dan mulut. Terdapat perbedaan pengetahuan, sikap dan perilaku pada laki-laki dan perempuan (p0.05) dan tidak terdapat perbedaan pengetahuan, sikap dan perilaku pada tiap angkatan (p0.05). Kesimpulan : Mahasiswa S1 Universitas Muhammadiyah Surakarta memiliki pengetahuan kesehatan gigi dan mulut yang dikategorikan baik, sedangkan sikap dan perilaku kesehatan gigi dan mulut dalam kategori cukup.  
Imunopatologi Sjogren Syndrome (SS) melalui Salivary Epithelial Cells (SGEC) Nur Ariska Nugrahani
JIKG (Jurnal Ilmu Kedokteran Gigi) Vol 5. No 2. 2022
Publisher : Muhammadiyah University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sjogren's Syndrome is the second most autoimmune disease with average indications including decreased secretory creation from the essential exocrine organs, lacrimal organs, and salivary organs. This review means to look into the component of the immunopathology of Sjogren's disorder through Salivary Gland Epithelial Cells. Sjogren's condition will at first trigger the creation of enormous quantities of resistant cells like CD4+ T cells, CD8+ cells, the number of B cells, macrophages, and dendritic cells that will invade target organs like the salivary and lacrimal organs. The cells of the inborn invulnerable framework related to Sjogren's disorder are dendritic cells, macrophages, and NK cells. Dendritic cells in patients with Sjogren's Syndrome play a part as antigen-introducing cells (APC) in atopic germinal focuses in the salivary organs. Macrophages will be enlisted into the salivary organ tissue towards lymphocytes, bringing about an increment in macrophages and making the salivary organs grow. Salivary organ epithelial cells (SGECs) created in the acini organs and epithelial cells will have a cell polarization measure that is constrained by cell-to-cell connections towards the extracellular grid (ECM) through tight-junction.Keywords: Immunopathology, Sjogren Syndrome, Salivary Gland
PERAWATAN KURETASE GINGIVA PADA GIGI KANINUS KANAN RAHANG ATAS Weningtyas Yuliana Prihandini; Ariyani Faizah
JIKG (Jurnal Ilmu Kedokteran Gigi) Vol 5. No 1. 2022
Publisher : Muhammadiyah University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendahuluan: Gingivitis merupakan suatu inflamasi yang melibatkan jaringan lunak di sekitar gigi yaitu jaringan gingiva.Gingivitis ditandai dengan perubahan warna, perdarahan, adanya pembengkakan, dan lesi pada gingiva. Perawatan pada penyakit periodontal merupakan tindakan yang dilakukan untuk menghilangkan penyakit yang ada dan untuk mencegah kembalinya penyakit tersebut. KASUS :Seorang perempuan berusia 21 tahun datang ke Rumah Sakit Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Muhammadiyah Surakarta mengeluhkan bau mulut dan gusi berdarah saat menyikat gigi. Pemeriksaan obyektif didapatkan skor OHI 7,4 dan plak indeks 87% dan gingivitis pada gingiva region anterior.  Dilakukan perawatan scalling dan root planning, satu minggu pasca tindakan dilakukan control. Pada saat dilakukan control didapatkan gingiva pada region gigi 13 masih kemerahan dan masih berdarah saat pasien menyikat gigi pada hari yang sama dilakukan perawatan lanjutan berupa perawatan kuretase gingiva pada region gigi 13 menggunakan teknik kuretase tertutup menggunakan kuret gracey. Satu minggu pasca kuretase dilakukan control dan didapatkan kedalaman poket sudah berkurang sekitar 2 mm dan sudah tidak terdapat keluhan gusi berdarah saat menyikat gigi. Kesimpulan: Perawatan kuretase pada kasus ini menggunakan metode kuretase gingiva dengan kuret gracey dikatakan berhasil karena satu minggu setelah perawatan dilakukan control. Pasien sudah tidak merasakan keluhan gusi berdarah dan kedalaman pocket periodontal sudah berkurang.
PERAWATAN SALURAN AKAR VITAL PADA GIGI INCISIVUS LATERAL MAXILLA PULPITIS IRREVERSIBLE (Laporan Kasus) Cahyani Cahyani; Dessy Rahmahwati
JIKG (Jurnal Ilmu Kedokteran Gigi) Vol 5. No 2. 2022
Publisher : Muhammadiyah University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Irreversible pulpitis is a persistent inflammatory condition of the pulp, which can be symptomatic or asymptomatic caused by a nerve stimulus. Tooth with pulp inflammation need root canal treatment to remove irritants of bacteria and clean the infected root canal from necrotic tissue. Root canal treatment aims to keep the teeth functioning properly. Irreversible pulpitis symptomps include persistent spontaneous pain of an external cause.              The stages of root canal treatment include: root canal instrumentation which includes cleaning and shaping (biomechanical), disinfection, and obturation. A 16-year-old woman came to RSGM Soelastri, University of Muhammadiyah Surakarta with a complaint of a damaged restoration on her anterior teeth. Intra-oral examination revealed that tooth 12 appeared to be a damaged restoration. sondation (+), percussion (-), palpation (-), vitality test (+), EPT: 34, and Oral Hygiene 1,2 (moderate). The diagnosis for this case irreversible pulpitis with multivisit vital root canal treatment. The purpose of this case report  irreversible pulpitis, root canal treatment, vitalis to describe of an endodontic treatment procedure that can maintain tooth 12. The control was carried out 1 week after treatment and patient did not feel any complaints. Intraoral examination were. sondation (-), percussion (-), palpation (-), vitality test (-) treatment was successfully carried out and proceed with final restoration of a porcelain fused to metal jacket crown with fiber post.Keywords: 
PENGARUH JUMLAH APLIKASI SILANE TERHADAP KEKERASAN FIBER REINFORCED COMPOSITE Ariyani Faizah
JIKG (Jurnal Ilmu Kedokteran Gigi) Vol 5. No 2. 2022
Publisher : Muhammadiyah University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Fiber reinforced composite (FRC) merupakan kombinasi antara resin komposit dan fiber yang  dilapisi silane. Silane coupling agent merupakan bahan dengan dasar silicon-based yang berfungsi membentuk ikatan antara resin komposit dan fiber. Pengaplikasian silane melalui dua proses yaitu hidrolisis dan kondensasi. Mekanisme kerja silane dipengaruhi oleh beberapa faktor salah satunya yaitu volume yang tepat dapat mengurangi penyerapan air yang akan berdampak pada peningkatan adhesi dan kekuatan mekanik salah satunya kekerasan dari material tersebut.    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya pengaruh jumlah aplikasi silane terhadap kekerasan FRC. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental  murni. Sampel berjumlah 32, kelompok I adalah  satu kali aplikasi silane, volume 0,58 µl dan satu kali pengeringan selama 60 detik, kelompok II dua kali aplikasi silane volume 0,29 µl dan dua kali pengeringan selama 30 detik. Sampel berbentuk disk diameter 5 mm x tinggi 2 mm. Pengujian tingkat kekerasan menggunakan Vickers Indenter Microhardness Tester. Uji  Independent t-test menunjukkan bahwa terdapat perbedaan bermakna antar kelompok dengan nilai signifikansi p=0,000 (p0,05). Jumlah aplikasi silane berpengaruh terhadap kekerasan FRC dan jumlah aplikasi silane yang paling efektif digunakan adalah dua kali pengaplikasian silane dengan volume 0,29 µl dan dua kali pengeringan selama 30 detik.
KAJIAN EFEKTIVITAS PENGGUNAAN MASKER N95 PADA DOKTER GIGI UNTUK MENCEGAH PENULARAN COVID-19 MELALUI AEROSOL PADA PERAWATAN DENTAL: Noor Hafida Widyastuti; Devy Suherawati
JIKG (Jurnal Ilmu Kedokteran Gigi) Vol 5. No 2. 2022
Publisher : Muhammadiyah University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Virus corona merupakan patogen yang dapat ditularkan dari hewan ke manusia dengan menginfeksi saluran pernafasan, gastrointestinal, hati, dan neurologis. Pandemi COVID-19 menyebabkan dokter gigi menjadi salah satu tenaga medis yang rentan terpapar virus corona karena berhadapan dengan langsung untuk memberikan perawatan dental kepada pasien positif. Tindakan perawatan dental yang menggunakan rotary instrument, handpiece highspeed, air-water syringe yang menghasilkan aerosol dapat menularkan virus corona. Aerosol merupakan partikel padat atau cair yang berdiameter 50 mikron. Dokter gigi dan asisten diwajibkan untuk menggunakan masker N95 untuk tindakan yang menghasilkan aerosol. Masker N95 secara signifikan dapat menyaring 0,3 mikron partikel. Masker N95 efektif digunakan untuk tindakan dental yang menghasilkan aerosol. Masker N95 memiliki kekurangan yaitu dapat menyebabkan hipoventilasi, dermatitis kontak, eritema, produksi sebum meningkat, reaksi alergi (kemerahan, ruam, gatal) dan menyebabkan pengguna merasa tidak nyaman dalam waktu lama serta tidak diindikasikan untuk petugas dengan memiliki banyak bulu wajah serta deformitas wajah, karena dapat mengurangi kerapatan dari masker tersebut.
DAMPAK PROMOSI KESEHATAN TERHADAP PENINGKATAN PERILAKU KUNJUNGAN KE DOKTER GIGI PADA ANAK USIA 6-12 TAHUN: SCOPING REVIEW Dyah Retnowati
JIKG (Jurnal Ilmu Kedokteran Gigi) Vol 5. No 2. 2022
Publisher : Muhammadiyah University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Background: Regular visits to the dentist have an impact on dental and oral health. Health promotion about the importance of visiting the dentist, raising awareness in maintaining oral and dental health in elementary school children, thereby improving the behavior of visiting the dentist. This literature review is a type of scoping review that discusses the impact of health promotion in children aged 6-12 years on improving the behavior of visits to the dentist. Objective: To find out how health promotion has an impact on improving the behavior of visits to the dentist in children aged 6-12 years. This scoping review used a search process that refers to statements with the PCC method, namely Population (P), Concept (C), and Context (C). Inclusion Criteria: (1) articles from 2016-2021, (2) children aged 6-12 years, (3) articles discussing changes in the behavior of visits to the dentist, (4) cross-sectional articles, (5) articles using English. Sources of evidence: Databases from: (1) Springer, (2) PubMed, (3) ScienceDirect, (4) SAGEjournal, and (5) Google Scholar. Charting method: Used a PRISMA flow diagram. Result: The health promotion programs used in the four articles are HPS (Health Promoting School), SOHPP (School Oral Health Promotion Programme) and Education. The results of visits to the dentist after being given a health promotion program were found to increase in SOHPP and HPS, while education was found to be no improvement. Conclusion: The HPS and SOHPP health promotion programs created by the government have the effect of increasing visits to dentists in children aged 6-12 years. Factors related to visits to the dentist found can be influenced by the lack of parental time and logistical problems. 

Page 10 of 11 | Total Record : 107