cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota tangerang,
Banten
INDONESIA
FaST : Jurnal Sains dan Teknologi
ISSN : -     EISSN : 25989596     DOI : -
Core Subject : Science, Social,
Started in 2017, FaST publishes articles in the areas of science and technology, particularly in food technology, biology, electrical engineering, industrial engineering, mathematics and civil engineering. Articles are either reviews and/or research results.
Arjuna Subject : -
Articles 373 Documents
PENGURANGAN MINYAK PADA PRODUK GORENGAN MENGGUNAKAN HIDROKOLOID DAN PATI TINGGI AMILOSA Regita Ezra Dwiningris Saragih; Ratna Handayani
FaST : Jurnal Sains dan Teknologi Vol. 8 No. 1 (2024): MAY
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/jstfast.v8i1.8261

Abstract

Consumption of high-fat fried products and high oil absorption in fried products can lead to health problems. The oil absorption can be reduced by utilizing hydrocolloids and high amylose starch as coating materials in foo products. The purpose of this study was to determine the best formulation of coating dough (high amylose starch) in oil absorption in fried products, to determine the effect of different types of raw materials and frying time on oil absorption, and to determine the effect of adding high amylose starch and hydrocolloid to absorption of fried oil products. There were 3 formulations in the preliminary study with different high amylose starch concentrations and the coating method used was battering and battering + dry coating. The lowest oil absorption is the battering method using formulation 1 which is 14.53%. In the main study different raw materials (chicken breast fillet, tofu and potato) were used and different frying times (3, 6  and 9 minutes). Oil absorption in fried products with different raw materials shows that oil absorption is also different and increases with increasing length of frying time in raw materials with the lowest moisture content (chicken breast fillets). High amylose starch and HPMC was able to reduce oil absorption in fried products by decreasing oil absorption on fried chicken breast fillets by 12.12%, on fried potatoes by 27.65% and on fried white tofu by 16.31%.Bahasa Indonesia Abstract:Konsumsi produk gorengan yang tinggi serta penyerapan minyak yang tinggi pada produk gorengan dapat menyebabkan masalah kesehatan. Penyerapan minyak tersebut dapat dikurangi dengan pemanfaatan hidrokoloid dan pati tinggi amilosa sebagai bahan pelapis pada bahan pangan. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui formulasi terbaik dari adonan pelapis (pati tinggi amilosa) dalam penyerapan minyak pada produk gorengan, untuk mengetahui pengaruh jenis bahan baku dan waktu penggorengan yang berbeda terhadap penyerapan minyak, serta mengetahui pengaruh penambahan pati tinggi amilosa dan hidrokoloid terhadap penyerapan minyak produk gorengan. Terdapat 3 formulasi pada penelitian pendahuluan dengan konsentrasi pati tinggi amilosa yang berbeda-beda dan metode pelapisan bahan yang digunakan adalah battering dan battering + dry coating. Penyerapan minyak yang paling rendah adalah metode battering menggunakan formulasi 1 yaitu 14,53%. Pada penelitian utama digunakan bahan baku yang berbeda (fillet dada ayam, tahu dan kentang) dan waktu penggorengan yang berbeda (3, 6 dan 9 menit). Penyerapan minyak pada produk gorengan dengan bahan baku yang berbeda menunjukkan penyerapan minyak yang juga berbeda dan Meninga seiring semakin lamanya waktu penggorengan pada bahan baku dengan kadar air yang paling rendah (fillet dada ayam). Kandungan pati tinggi amilosa dan HPMC mampu mengurangi penyerapan minyak pada produk gorengan dengan penurunan penyerapan minyak pada fillet dada ayam goreng sebesar 12,12%, pada kentang goreng sebesar 27,65% dan pada tahu putih goreng sebesar 16,31%.
STABILITY AND ACTIVITY OF LIPID A PHOSPHOETHANOLAMINE TRANSFERASE FROM NEISSERIA MENINGITIDIS IN THE PRESENCE OF SODIUM DEOXYCHOLATE [STABILITAS DAN AKTIVITAS LIPID A PHOSPHOETHANOLAMINE TRANSFERASE DARI NEISSERIA MENINGITIDIS TERHADAP PENAMBAHAN NATRIUM DEOKSIKOLAT] Ariela Samantha; Caitlyn Christvania Sihombing; Alice Vrielink
FaST : Jurnal Sains dan Teknologi Vol. 8 No. 1 (2024): MAY
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/jstfast.v8i1.8279

Abstract

Antibiotics are often used to fight infections caused by pathogenic bacteria. However, inappropriate use of antibiotics has caused many pathogenic bacteria to gain antibiotic resistance. Some resistance mechanisms arise through enzymatic modification of the bacterial membrane. Lipid A phosphoethanolamine transferase (EptA) modifies bacterial membranes through the addition of phosphoethanolamine to the lipid A moiety of lipopolysaccharide (LPS) or lipooligosaccharide (LOS). Inhibition of EptA would therefore restore the antibiotic susceptibility of the bacterium. In order to develop inhibitors against EptA, in vitro studies are required. Biochemical studies of membrane proteins such as EptA, must be carried out in buffers containing detergent to ensure the solubility and stability of the membrane protein. EptA has been found to be most stable in buffers containing the detergent, n-dodecyl β-D-maltoside (DDM). However, due to the fact that LOS is also required for biochemical studies of EptA, the detergent, sodium deoxycholate (DOC) is also required as it prevents the aggregation of LOS. In this study, the stability and activity of EptA in the presence of DOC were investigated using thin layer chromatography (TLC) and circular dichroism (CD) spectroscopy. Additionally, preliminary studies on the interaction of EptA and LOS in vitro was carried out using native agarose gel electrophoresis (NAGE). This study shows that EptA remains active in the presence of ‰¤ 2 mM DOC with the highest activity observed in buffers containing only 1 mM DOC. CD analysis showed that the overall secondary structure of EptA in buffer containing various concentrations of DDM and DOC was maintained. Additionally, through NAGE analysis the interaction between EptA and LOS was successfully observed. Therefore, further in vitro studies incorporating both substrates with supplementation of up to 1 mM DOC could be carried out with the long-term goal of studying inhibitors against EptA.Bahasa Indonesia Abstract:Antibiotik sering digunakan untuk melawan infeksi yang disebabkan oleh bakteri patogen. Namun, penggunaan antibiotik yang tidak tepat telah menyebabkan banyak bakteri patogen mendapatkan resistensi antibiotik. Beberapa mekanisme resistensi muncul melalui modifikasi enzimatik dari membran bakteri. Lipid A phosphoethanolamine transferase (EptA) mengubah membran bakteri dengan menambahkan fosfoetanolamina ke bagian lipid A dari lipopolisakarida (LPS) atau lipooligosakarida (LOS). Penghambatan EptA akan mengembalikan kerentanan antibiotik dari bakteri tersebut. Untuk mengembangkan inhibitor terhadap EptA, studi in vitro diperlukan. Studi biokimia protein membran seperti EptA, harus dilakukan dalam larutan penyangga yang mengandung deterjen untuk memastikan kelarutan dan stabilitas protein membran. EptA ditemukan paling stabil dalam larutan penyangga yang mengandung deterjen, n-dodecyl β-D-maltosida (DDM). Namun, karena LOS juga diperlukan untuk studi biokimia EptA, deterjen, sodium deoksikolat (DOC) juga diperlukan karena mencegah agregasi LOS. Dalam penelitian ini, stabilitas dan aktivitas EptA dalam keberadaan DOC diselidiki menggunakan kromatografi lapis tipis (TLC) dan spektroskopi dikroisme sirkular (CD). Selain itu, studi awal tentang interaksi EptA dan LOS in vitro dilakukan menggunakan elektroforesis gel agarosa asli (NAGE). Studi ini menunjukkan bahwa EptA tetap aktif dalam keberadaan ‰¤ 2 mM DOC dengan aktivitas tertinggi diamati dalam larutan penyangga yang hanya mengandung 1 mM DOC. Analisis CD menunjukkan bahwa struktur sekunder keseluruhan EptA dalam larutan penyangga yang mengandung berbagai konsentrasi DDM dan DOC tetap terjaga. Selain itu, melalui analisis NAGE, interaksi antara EptA dan LOS berhasil diamati. Oleh karena itu, studi in vitro lebih lanjut yang memasukkan kedua substrat dengan suplementasi hingga 1 mM DOC bisa dilakukan dengan tujuan jangka panjang untuk mempelajari inhibitor terhadap EptA.
ANALISIS EFEKTIVITAS PENGGUNAAN ALAT BANTU PENGANGKATAN PLY PADA MESIN BUILDING PT AST [ANALYSIS OF THE EFFECTIVENESS OF USING A PLY LIFTING TOOL ON BUILDING MACHINERY AT PT AST] Adi Saputra; Agustina Christiani
FaST : Jurnal Sains dan Teknologi Vol. 8 No. 1 (2024): MAY
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/jstfast.v8i1.8307

Abstract

PT AST is one of the leading tire manufacturing industries in Indonesia. In the building department, there are material replacement activities carried out manually by lifting heavy rolls of ply (material) to the machine which can pose a risk of injury to the operator. The engineering department has made a ply lifting tool, and tested it in May 2023, but it was not used in the production process. Therefore this research was conducted to evaluate the effectiveness of this tool based on the operator productivity, standard time, and the level of risk of injury generated before and after use. Rapid Entire Body Assessment method, and Lifting Index were used to evaluate the injury risk. The paired t-test results showed that the worker productivity after using the tool (144 pcs/shift) was not significantly different from the worker productivity before using the tool (143,6 pcs/shift). The standard time of the material replacement process after using the tool was 122.15 seconds, longer than the replacement time without using the tool, which was 74.37 seconds. However, the longer replacement time did not significantly reduce overall worker productivity, because the proportion of this replacement time was only 2.3% of the total working time in one shift. The tool was able to reduce the level of injury risk based on REBA score from very high risk (11 points), to medium risk (7 points), and successfully eliminated the risk of back injury based on the lifting index value which dropped from 2.56 (high risk) to 0 (no risk). In conclusion, the ply lifting tool was functionally effective because it can reduce the potential injury to the operator.Bahasa Indonesia Abstract:PT AST merupakan salah satu industri manufaktur ban terkemuka di Indonesia. Pada departemen building, terdapat kegiatan penggantian material yang dilakukan secara manual dengan mengangkat gulungan ply (material) yang berat ke mesin yang dapat menimbulkan risiko cedera pada operator. Departemen engineering telah membuat alat bantu pengangkat ply, dan mengujicobakannya pada bulan Mei 2023, namun alat bantu tersebut tidak digunakan lebih lanjut dalam proses produksi. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk mengevaluasi efektivitas alat bantu tersebut berdasarkan produktivitas operator, waktu baku, dan tingkat risiko cedera yang ditimbulkan sebelum dan sesudah alat bantu digunakan. Metode Rapid Entire Body Assessment dan Lifting Index digunakan untuk mengevaluasi tingkat risiko cedera. Hasil uji-t berpasangan menunjukkan bahwa produktivitas pekerja setelah menggunakan alat bantu (144 pcs/shift) tidak berbeda secara signifikan dengan produktivitas pekerja sebelum menggunakan alat bantu (143,6 pcs/shift). Waktu baku proses penggantian material setelah menggunakan alat bantu adalah 122,15 detik, lebih lama dibandingkan dengan waktu penggantian tanpa menggunakan alat bantu, yaitu 74,37 detik. Namun waktu penggantian yang lebih lama tersebut tidak menurunkan produktivitas pekerja secara keseluruhan secara signifikan, karena proporsi waktu penggantian ini hanya sebesar 2,3% dari total waktu kerja dalam satu shift. Alat bantu ini mampu menurunkan tingkat risiko cedera berdasarkan skor REBA dari risiko sangat tinggi (11 poin), menjadi risiko sedang (7 poin), dan berhasil mengeliminasi risiko cedera punggung berdasarkan nilai lifting index yang turun dari 2.56 (risiko tinggi) menjadi 0 (tidak berisiko). Kesimpulannya, alat bantu pengangkat ply efektif secara fungsional karena dapat mengurangi potensi cedera pada operator.
RANCANG BANGUN SISTEM MONITORING DAN PENGENDALIAN KANDANG AYAM PINTAR DENGAN MENGGUNAKAN MIKROKONTROLER ESP32 DAN VISUALISASI BLYNK [DESIGN AND CONSTRUCTION OF A SMART CHICKEN COOP MONITORING AND CONTROL SYSTEM USING AN ESP32 MICROCONTROLLER AND BLYNK VISUALIZATION] Nadia Noviarno; Henri P Uranus
FaST : Jurnal Sains dan Teknologi Vol. 8 No. 1 (2024): MAY
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/jstfast.v8i1.8335

Abstract

Many chicken farmers in Indonesia still rely on conventional approaches in their operations, including manual feeding, watering, and temperature control. The aim of this research is to design and build an IoT-based smart chicken coop system. This system will allow for more accurate monitoring of factors affecting poultry production, such as temperature conditions, air humidity, feed and water supply, and automatic lighting. With this system, farmers can make more efficient and quick decisions, which will ultimately increase productivity and welfare of chickens, as well as optimize resource utilization. The IoT platform used to run the monitoring process in the smart coop is Blynk. Utilizing Blynk will assist farmers in collecting data, visually illustrating, and analyzing data in real time. Testing was conducted on four subsystems of the coop design, where the results of component testing and sensor calibration found that the DHT22 temperature and humidity sensor has an average reading discrepancy of 0.75%, the LDR light sensor has accurate values in room conditions, the ultrasonic sensor has an average reading discrepancy of 0.9%, while the water level sensor can provide accurate detection on water thus it can be used as a platform for monitoring. The results of functional test of the system as a whole, showed that the system works very well, making it effective to be a solution for chicken farmers.Bahasa Indonesia Abstract:Peternak ayam banyak yang masih mengandalkan pendekatan konvensional dalam operasional peternakannya, termasuk pemberian pakan, air minum, dan pengaturan suhu yang dilakukan secara manual. Tujuan dari penelitian ini adalah merancang dan membangun sistem kandang ayam pintar berbasis IoT. Sistem ini akan memungkinkan pemantauan yang lebih tepat terhadap faktor-faktor yang memengaruhi produksi ayam unggas, seperti kondisi suhu, kelembaban udara, pasokan pakan dan air, serta pencahayaan otomatis. Dengan adanya sistem ini, peternak dapat membuat keputusan yang lebih efisien dan cepat, yang pada akhirnya akan meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan ayam, serta mengoptimalkan penggunaan sumber daya. Platform IoT yang digunakan untuk menjalankan proses pemantauan di dalam kandang adalah Blynk. Pemanfaatan Blynk akan membantu peternak dalam mengumpulkan data, menggambarkan secara visual, dan menganalisis data secara real time. Pengujian dilakukan terhadap empat proses dari perancangan alat ini, di mana dari hasil pengujian per komponen dan kalibrasi sensor didapatkan bahwa sensor suhu dan kelembapan DHT22 mempunyai selisih bacaan sebesar 0.75%, sensor cahaya LDR mempunyai nilai yang akurat pada kondisi ruangan, sensor ultrasonik mempunyai selisih bacaan sebesar 0.9%, dan sensor water level dapat memberikan deteksi yang akurat pada air sehingga dapat digunakan sebagai platform untuk monitoring. Dari hasil pengujian fungsional sistem secara keseluruhan didapatkan bahwa sistem bekerja sangat baik, sehingga sistem efektif untuk menjadi solusi bagi peternak ayam.
THE COMBINED ANTIMICROBIAL ACTIVITY OF CAYENNE CHILI PEPPER (Capsicum frutescens) EXTRACT AND Bifidobacterium breve BS2-PB3 AGAINST METHICILLIN-RESISTANT Staphylococcus aureus [AKTIVITAS ANTIMIKROBA GABUNGAN EKSTRAK CABAI RAWIT (CAPSICUM FRUTESCENS) DAN BIFIDOBACTERIUM BREVE BS2-PB3 TERHADAP METHICILLIN-RESISTANT STAPHYLOCOCCUS AUREUS] Billy Yosua Costantin Pongajow; Chelsea Valeria Simamora; Marcelia Sugata; Juandy Jo
FaST : Jurnal Sains dan Teknologi Vol. 8 No. 2 (2024): NOVEMBER
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/jstfast.v8i2.8915

Abstract

Antibiotic resistance is increasingly becoming a global health threat, prompting the search for alternative treatments from natural compounds. Capsicin is a bioactive component of Capsicum species, exhibiting antimicrobial, antifungal, anticancer, and anti-inflammatory properties. Probiotics such as Bifidobacterium breve are also known for their immunomodulatory and antimicrobial effects. This study explored the synergistic potential of capsaicin and B. breve combination. Capsaicin was extracted from Capsicum frutescens using grinding and solvent methods, and its concentration was measured by spectrophotometry at 650 nm. The capsaicin extract was added to B. breve BS2-PB3 cultures and tested against Methicillin-resistant Staphylococcus aureus (MRSA). The results showed a significant increase in clear zone diameter with capsaicin supplementation compared to individual controls, indicating synergistic potential in enhancing the antimicrobial activity.Bahasa Indonesia Abstract:Resistensi antibiotik semakin menjadi ancaman kesehatan global, sehingga mendorong pencarian alternatif pengobatan dari senyawa alami. Capsaicin merupakan komponen bioaktif dari spesies Capsicum yang menunjukkan sifat antimikroba, antifungal, antikanker dan anti-inflamasi. Probiotik seperti Bifidobacterium breve juga dikenal karena efek imunomodulator dan antimikrobanya. Penelitian ini mengeksplorasi potensi sinergis kombinasi capsaicin dari ekstrak cabai rawit dan B. breve strain BS2-PB3. Capsaisin diekstraksi dari Capsicum frutescens menggunakan metode penggilingan dan pelarut, dimana konsentrasinya diukur dengan spektrofotometri pada 650 nm. Ekstrak cabai yang berisikan capsaicin ditambahkan ke kultur B. breve BS2-PB3 dan diuji terhadap Methicillin-resistant Staphylococcus aureus (MRSA). Hasil menunjukkan peningkatan signifikan pada diameter zona bening ketika MRSA dipaparkan terhadap kombinasi B. breve dengan suplementasi ekstrak cabai dibandingkan perlakuan-perlakuan individual. Hal tersebut menunjukkan potensi sinergis antara kultur probiotik dengan suplementasi capsaicin dalam meningkatkan aktivitas antimikroba.
PENGARUH PURE UBI JALAR UNGU DAN JENIS PENSTABIL TERHADAP KARAKTERISTIK FISIKOKIMIA DAN ORGANOLEPTIK ES SKRIM SUSU KEDELAI [EFFECT OF PURPLE SWEET POTATO PUREE AND STABILIZER TYPES ON PHYSICOCHEMICAL AND ORGANOLEPTIC PROPERTIES OF SOY MILK ICE CREAM] Bernadette Larasati; Intan Cidarbulan Matita; Titri Siratantri Mastuti
FaST : Jurnal Sains dan Teknologi Vol. 8 No. 2 (2024): NOVEMBER
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/jstfast.v8i2.8976

Abstract

Ice cream is one of the food products widely consumed by the public. Generally, ice cream is made from cow's milk, which has a high fat content and cannot be consumed by individuals with lactose intolerance. Therefore, ice cream made from soy milk and purple sweet potato puree has been developed as a healthier alternative to enhance food product diversification. Soy milk ice cream is made by adding purple sweet potato puree with different ratios of purple sweet potato and water (100:0, 90:10, 80:20, 70:30) as well as different types of stabilizers (CMC, carrageenan, guar gum). The ice cream was analyzed for overrun, melting time, anthocyanin content, and organoleptic properties (hedonic). The results of this study concluded that the addition of purple sweet potato puree decreased overrun while increasing anthocyanin content, the panelists' preference for color, and overall acceptance of the ice cream. The use of different types of stabilizers resulted in differences in melting time, anthocyanin content, and organoleptic characteristics of the ice cream, which include preferences for taste, color, and texture among the panelists.Bahasa Indonesia Abstract:Es krim merupakan salah satu produk pangan yang banyak dikonsumsi oleh masyarakat. Pada umumnya, es krim dibuat dari susu sapi yang memiliki kadar lemak tinggi dan tidak dapat dikonsumsi oleh penderita intoleransi laktosa. Oleh karena itu, dikembangkan es krim yang terbuat dari susu kedelai dan pure ubi jalar ungu sebagai alternatif yang lebih menyehatkan dan meningkatkan diversifikasi produk pangan. Es krim susu kedelai dibuat dengan penambahan pure ubi jalar ungu dengan rasio mash ubi jalar ungu dan air (100:0, 90:10, 80:20, 70:30) serta jenis bahan penstabil (CMC, karagenan, guar gum) yang berbeda. Es krim dianalisis overrun, waktu leleh, kadar antosianin, dan organoleptik (hedonik). Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa penambahan pure ubi jalar ungu menurunkan overrun serta meningkatkan kadar antosianin, tingkat kesukaan panelis terhadap warna, dan penerimaan keseluruhan es krim. Penggunaan jenis bahan penstabil yang berbeda menyebabkan perbedaan waktu leleh, kadar antosianin, serta karakteristik organoleptik es krim yang meliputi tingkat kesukaan rasa, tingkat kesukaan warna, dan tingkat kesukaan panelis terhadap tekstur.
AKTIVITAS ANTIOKSIDAN NANOPARTIKEL SENG OKSIDA PADA DAUN DAN BUAH PIRDOT (Saurauia vulcani Korth.) [ANTIOXIDANT ACTIVITY OF ZINC OXIDE NANOPARTICLES ON THE LEAVES AND FRUIT OF PIRDOT] (Saurauia vulcani Korth.) Lukas Hotma Parulian Lumantobing; Ratna Handayani; Antonius Herry Cahyana
FaST : Jurnal Sains dan Teknologi Vol. 8 No. 2 (2024): NOVEMBER
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/jstfast.v8i2.8998

Abstract

One of the potential local sources of Indonesia for nanoparticle synthesis is pyrdot (Saurauia vulcani Korth.). This study aims to synthesize zinc oxide nanoparticles with pyrdot leaf and fruit extracts by maceration. Total phenolic testing using the Folin-Ciocalteau method, antioxidant activity using the DPPH method. Antioxidant activity with IC50 of 0.891 ± 0.045 (leaf ZnONPs), 2.181 ± 0.167 (leaf extract), 2.945 ± 0.009 (fruit ZnONPs), and 4.017 ± 0.277 (fruit extract) respectively. ZnoNPs were subjected to morphological testing using SEM and TEM methods as well as particle size testing with the general results that the nanoparticles obtained met the requirements as a nanoparticle in terms of particle size, with leaf ZnONPs generally having a smaller particle size than fruit, although morphologically they are generally irregular in shape.Bahasa Indonesia Abstract:Salah satu sumber lokal Indonesia yang potensial untuk sintesis nanopartikel adalah pirdot (Saurauia vulcani Korth.). Penelitian ini bertujuan untuk mensintesis nanopartikel seng oksida dengan ekstrak daun dan buah pirdot dengan maserasi. Pengujian total fenolik menggunakan metode Folin-Ciocalteau, aktivitas antioksidan menggunakan metode DPPH. Aktivitas antioksidan dengan IC50 masing-masing sebesar 0,891 ± 0,045 (ZnONPs daun), 2,181 ± 0,167 (ekstrak daun), 2,945 ± 0,009 (ZnONPs buah), dan 4,017 ± 0,277 (ekstrak buah). ZnoNPs dilakuan pengujian morforlogi dengan metode SEM dan TEM serta pengujian ukuran partikel dengan hasil secara umum bahwa nanopartikel yang didapat memenuhi syarat sebagai sebuah nanopartikel dalam hal ukuran partikel, dengan ZnONPs daun secara umum memiliki ukuran partikel lebih kecil dari buah, meskipun secara morfologi pada umumnya berbentuk tidak beraturan.
SISTEM INFORMASI DASHBOARD MONITORING C/N PADA PRODUK SCPC DI PT. PI [DASHBOARD INFORMATION SYSTEM FOR C/N MONITORING ON SCPC PRODUCTS AT PT. PI] Chuan Pratama; Junita Junita
FaST : Jurnal Sains dan Teknologi Vol. 8 No. 2 (2024): NOVEMBER
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/jstfast.v8i2.9006

Abstract

SCPC (Signal Carrier Per Carrier) is a priority VSAT service that requires continuous frequency signal monitoring to ensure network stability. Currently, this monitoring is performed using a web-based decimator device. However, the monitoring data still requires manual processing to create reports and analyses, which is inefficient and time-consuming. This study developed a web-based dashboard monitoring system that automates the processing of C/N (Carrier to Noise) data for SCPC products at PT. PI. The system was tested using a task scheduler for 14 hours with 30-minute intervals, recording a longest processing time of 16.665 seconds with 11,812 data points, 60.6% RAM usage, and 36.9% CPU usage, and a shortest processing time of 4.026 seconds with 3,546 data points, 53.9% RAM usage, and 39.7% CPU usage. The proposed web application successfully displays historical graphs, total remote counts, databases, top 10 under C/N, tables, and reports, as initially designed. The average dashboard loading time to complete data display is approximately 9.894 seconds. This system is expected to improve the efficiency of SCPC monitoring and provide faster, more accurate reporting.Bahasa Indonesia Abstract:SCPC (Signal Carrier Per Carrier) adalah layanan VSAT prioritas yang memerlukan monitoring sinyal frekuensi secara terus-menerus untuk memastikan kestabilan jaringan. Saat ini, monitoring dilakukan melalui perangkat decimator berbasis web; namun, pengolahan data monitoring menjadi laporan dan analisis masih harus dilakukan secara manual, yang tidak efisien dan memakan waktu. Penelitian ini mengembangkan sistem dashboard monitoring berbasis web yang mampu mengotomatisasi pengolahan data C/N (Carrier to Noise) pada produk SCPC di PT. PI. Sistem ini diuji menggunakan task scheduler selama 14 jam dengan interval 30 menit, di mana waktu proses terlama tercatat 16,665 detik dengan 11.812 data, penggunaan RAM 60,6%, dan CPU 36,9%; sementara waktu tercepat adalah 4,026 detik dengan 3.546 data, penggunaan RAM 53,9%, dan CPU 39,7%. Aplikasi web berhasil menampilkan grafik historis, total remote, basis data, top 10 di bawah C/N, tabel, dan laporan sesuai desain awal. Waktu rata-rata yang dibutuhkan dashboard untuk memuat data hingga selesai adalah sekitar 9,894 detik. Pengembangan sistem ini diharapkan dapat meningkatkan efisiensi monitoring SCPC dan memberikan laporan yang lebih cepat dan akurat.
Non-Parametric Analysis of Factors Influencing Maximum Heart Rate in the Healthcare Sector Nicholas Andrew Tanubrata; William Samuel Sambow; Jonathan Christian; Ferry Vincenttius Ferdinand
FaST : Jurnal Sains dan Teknologi Vol. 8 No. 2 (2024): NOVEMBER
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/jstfast.v8i2.9009

Abstract

This study aims to analyze factors that influence maximum heart rate using a non-parametric statistical analysis approach, which is flexible in analyzing data with unknown or non-normal distributions. Factors analyzed include resting electrocardiogram (ECG) examination results, type of chest pain, and blood pressure. Respondents were classified based on these factors to facilitate analysis. Methods used in this study included the Expanded Median Test (K-Sample), Pearson Correlation Test, and Kruskal-Wallis Test, which were chosen because they were appropriate for the type of data and the objectives of the study that involved testing the median between multiple groups. Results showed that ECG and chest pain type significantly influenced maximum heart rate, while blood pressure did not show a significant effect. The main contribution of this study is that it provides an empirical basis for detecting modifiable cardiovascular risk factors, supporting heart attack prevention efforts through early detection, and directing further research for a more comprehensive analysis.Bahasa Indonesia Abstract:Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi detak jantung maksimum menggunakan pendekatan analisis statistik non-parametrik, yang fleksibel dalam menganalisis data dengan distribusi yang tidak diketahui atau tidak normal. Faktor yang dianalisis meliputi hasil pemeriksaan elektrokardiogram (EKG) istirahat, tipe nyeri dada, dan tekanan darah. Responden diklasifikasikan ke dalam kelompok risiko berdasarkan faktor-faktor ini untuk memudahkan analisis. Metode yang digunakan dalam penelitian ini mencakup Perluasan Uji Median (K-Sampel), Uji Korelasi Pearson, dan Uji Kruskal-Wallis, yang dipilih karena sesuai dengan jenis data dan tujuan penelitian yang melibatkan pengujian median antara beberapa kelompok. Hasil menunjukkan bahwa EKG dan tipe nyeri dada secara signifikan memengaruhi detak jantung maksimum, sedangkan tekanan darah tidak menunjukkan pengaruh signifikan. Kontribusi utama penelitian ini adalah memberikan dasar empiris untuk mendeteksi faktor risiko kardiovaskular yang dapat dimodifikasi, mendukung upaya pencegahan serangan jantung melalui deteksi dini, dan mengarahkan penelitian lanjutan untuk analisis yang lebih komprehensif.
RANCANG BANGUN SISTEM PEMANTAUAN DAN KONTROL INTENSITAS CAHAYA SERTA PENYIRAMAN TANAMAN OTOMATIS PADA GREENHOUSE BERBASIS INTERNET OF THINGS Fitri Yuni Astuti; Henri P. Uranus
FaST : Jurnal Sains dan Teknologi Vol. 8 No. 2 (2024): NOVEMBER
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/jstfast.v8i2.9030

Abstract

Agriculture is an important sector in a country's economy, but with the increasing population growth, the challenges in agriculture are becoming increasingly complex. One of the main challenges is maintaining the quality and quantity of plants product. Greenhouses are an effective solution to control the plant growth environment. However, environmental management in conventional greenhouses today requires a lot of labor and high costs. To address this challenge, there is an urgent need to develop an automation system capable of monitoring plant conditions and controlling the light intensity and watering of plants in greenhouse plants. The system uses Internet of Things (IoT) technology with an ESP32 Devkit v1 microcontroller module for automatic and real-time monitoring and control of the plant growth environment. Through the implementation of carbon dioxide (CO2), light intensity, soil pH, and soil moisture quality monitoring systems along with automatic control of light intensity and watering of plants in greenhouses, it is hoped that agricultural productivity can be increased. Sensor data were taken and read by the microcontroller which is then displayed and sent to 4 platforms, namely Serial Monitor, LCD OLED, website Platform, and Google Sheets. The microcontroller successfully reads the data of the installed sensors and sent in real-time to multiple platforms. These test data provide a concrete picture of the performance of the developed greenhouse plant monitoring and control system. The results of verification to commercial measuring instruments showed that the LDR sensor had an average error of 1.15%, the CO2 sensor had an error of 0.86%, the soil pH sensor had an error of 3.22%, and the soil moisture sensor had an error of 1.46%. Functional tests show that the system responds to turn on the growlight when the light intensity drops to 500 Lux and turn on the pump when the soil moisture drops below 40% according to the threshold points setting.Bahasa Indonesia Abstract:Pertanian adalah sektor penting dalam perekonomian suatu negara, namun dengan pertumbuhan penduduk yang terus meningkat, tantangan dalam pertanian menjadi semakin kompleks. Salah satu tantangan utama adalah menjaga kualitas dan kuantitas hasil tanaman. Greenhouse adalah solusi efektif untuk mengendalikan lingkungan pertumbuhan tanaman. Namun, pengelolaan lingkungan dalam greenhouse konvensional saat ini memerlukan banyak tenaga kerja dan biaya yang tinggi. Untuk mengatasi tantangan ini, ada kebutuhan mendesak untuk mengembangkan sistem otomatis yang mampu memantau kondisi tanaman dan mengontrol intensitas cahaya serta penyiraman tanaman pada greenhouse. Sistem ini menggunakan teknologi Internet of Things (IoT) dengan mikrokontroler ESP32 Devkit v1 untuk pemantauan dan kontrol otomatis realtime pada lingkungan pertumbuhan tanaman. Melalui implementasi sistem pemantauan konsentrasi karbon dioksida (CO2), intensitas cahaya, pH tanah dan kelembapan tanah serta kontrol otomatis intensitas cahaya dan penyiraman tanaman otomatis, diharapkan produktivitas pertanian dapat ditingkatkan. Data-data sensor diambil dan dibaca oleh mikrokontroler yang kemudian ditampilkan dan dikirimkan ke 4 platform, yaitu Serial Monitor, LCD OLED, platform website, dan Google Spreadsheet. Mikrokontroler berhasil membaca data-data sensor yang terpasang, dan mengirimkan secara realtime pada platform-platform tersebit. Data-data pengujian ini memberikan gambaran konkret tentang kinerja sistem pemantauan dan kontrol tanaman greenhouse yang dikembangkan. Hasil verifikasi terhadap alat ukur komersial menunjukkan sensor LDR mempunyai kesalahan sebesar 1.15%, sensor CO2 mempunyai kesalahan sebesar 0.86%, sensor pH tanah mempunyai kesalahan 3.22%, sensor kelembaban tanah mempunyai kesalahan 1.46%. Uji fungsional menunjukkan sistem memberi respon menyalakan lampu growlight saat intensitas cahaya turun sampai 500 Lux dan menyalakan pompa saat kelembaban tanah turun di bawah 40% sesuai dengan setting titik threshold yang diberikan.