Kandai
Kandai was first published in 2005. The name of Kandai had undergone the following changes: Kandai Majalah Illmiah Bahasa dan Sastra (2005) and Kandai Jurnal Bahasa dan Sastra (2010). Since the name of journal should refer to the name that was registered on official document SK ISSN, in 2016 Kandai started publish issues with the name of Kandai (refer to SK ISSN No. 0004.091/JI.3.02/SK.ISSN/2006 dated February 7th, 2006, stating that ISSN 1907-204X printed version uses the (only) name of KANDAI). In 2017, Kandai has started to publish in electronic version under the name of Kandai, e-ISSN 2527-5968.
Articles
255 Documents
HUBUNGAN KEKERABATAN BAHASA JAWA DAN MADURA
Puspa Ruriana
Kandai Vol 14, No 1 (2018): KANDAI
Publisher : Kantor Bahasa Sulawesi Tenggara
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (160.151 KB)
|
DOI: 10.26499/jk.v14i1.512
Di Jawa Timur berkembang dua bahasa besar yaitu bahasa Jawa dan bahasa Madura. Walaupun sebagai dua bahasa yang berbeda, namun kedua bahasa tersebut memiliki hubungan kekerabatan. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui hubungan kekerabatan di antara kedua bahasa tersebut. Adapun masalah dalam penelitian ini adalah bagaimanakah status hubungan kekerabatan di antara bahasa Jawa dan bahasa Madura serta bagaimanakahbentuk-bentuk variasi fonem kata-kata kognat di antara kedua bahasa itu. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode perbandingan. Metode perbandingan digunakan untuk mengetahui tingkat kekerabatan antarbahasa yang diperbandingkan.Analisis dilakukan dengan cara membandingkan kosakatanya serta membedakan tingkat kemiripannya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan penghitungan leksikostatistik pada bahasa-bahasa yang diperbandingkan menunjukkan bahwa persentase kekerabatan di antara kelompok bahasa Jawa dan kelompok bahasa Madura masuk dalam kelompok rumpun bahasa (stock). Dalam kelompok bahasa Jawa ditemukan adanya persentase hubungan kekerabatanyang menunjukkan kelompok keluarga (family) yaitu pada bahasa Jawa Osing (JO) dengan kelompok bahasa Jawa lain (Jawa Solo Yogya (JSY), Jawa Suroboyoan(JS), danJawa Pantura (JP).Hal ini menunjukkan bahwa bahasa Jawa Osing (JO) masuk dalam kelompok bahasa tersendiri. Adanya hubungan kekerabatan di antara bahasa-bahasa berkerabat tersebut juga didukung oleh adanya variasi fonem pada beberapa kosakata kognat berupa korespondensi vokal maupun konsonan.
HUBUNGAN PERAN ALAT DENGAN VERBA BERDASARKAN PERILAKU SEMANTIS: KAJIAN SINTAKTIS DAN SEMANTIS
Toni Heryadi;
Yudi Permadi
Kandai Vol 9, No 1 (2013): KANDAI
Publisher : Kantor Bahasa Sulawesi Tenggara
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (288.28 KB)
|
DOI: 10.26499/jk.v9i1.283
Penelitian ini merupakan salah satu bagian dari penelitian terdahulu kami yang belum kami publikasikan secara umum, kecuali dalam kegiatan perkuliahan. Pada penelitian ini, kami berusaha mengungkapkan fenomena keterkaitan peran alat dengan perilaku semantis verba dalam Bahasa Indonesia. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan dan menganalisis predikat verba yang dikuti peran alat. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Metode kajian yang digunakan dalam menganalisis data adalah metode kajian distribusional, yaitu : teknik sulih (substitusi) dan pelesapan (delesi). Hasil penelitian menunjukkan bahwa peran alat bisa hadir pada verba dinamis, baik itu verba aktivitas, verba proses, verba sensasi tubuh, verba peristiwa transisional, maupun verba momentan. Akan tetapi, peran alat tidak bisa hadir pada verba statis, baik verba persepsi dan pengertian melambat maupun verba relasional.
ASPEK SOSIOLOGIS NYANYIAN PENGANTAR TIDUR RAKYAT MUNA
NFN Mulawati
Kandai Vol 10, No 2 (2014): KANDAI
Publisher : Kantor Bahasa Sulawesi Tenggara
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1094.315 KB)
|
DOI: 10.26499/jk.v10i2.322
Masyarakat Muna mengenal nilai-nilai luhur dalam nyanyian pengantar tidur dan nyanyian orang tua untuk anak. Nilai-nilai tersebut dapat menjadi panduan dalam bermasyarakat. Apabila masyarakat Muna terbiasa mendengar dan memahami pesan-pesan tersebut, masyarakat muna yang hidup di zaman modern ini akan mengurangi keinginan untuk menimbulkan konflik sosial. Oleh karena itu, penulis tertarik memaknai nyanyian rakyat Muna dari sudut pandang sosiologis. Nyanyian-nyanyian rakyat ini akan diuraikan dengan pendekatan sosiologis, yaitu sebuah pendekatan yang mempertimbangkan segi-segi kemasyarakatan dalam sastra. Aspek sosiologis dalam nyanyian rakyat pengantar tidur untuk kelas sosial kaomu dan walaka adalah anjuran untuk memiliki ilmu sebagai bekal dalam pelaksanaan pemerintahan. Nyanyian pengantar tidur golongan maradika mengarahkan mereka untuk merasa bangga dengan peran mereka sebagai pendukung pemerintahan. Nyanyian pengantar tidur secara umum berisi pentingnya ilmu dalam masyarakat Muna. Nyanyian orang tua untuk anak berisi pesan-pesan untuk memiliki kasih sayang dan motivasi dalam hidup bermasyarakat.
ANALISIS TIGA TATARAN ASPEK SEMIOTIK TZVETAN TODOROV PADA CERPEN “PEMINTAL KEGELAPAN” KARYA INTAN PARAMADITHA
Ery Agus Kurnianto
Kandai Vol 11, No 2 (2015): KANDAI
Publisher : Kantor Bahasa Sulawesi Tenggara
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (81.214 KB)
|
DOI: 10.26499/jk.v11i2.227
Melalui tulisan ini, cerpen “Pemintal Kegelapan” karya Intan Paramaditha dikaji dari segi struktur karya dengan menggunakan pendekatan struktural Tzvetan Todorov. Teori yang digunakan untuk membedah karya ini adalah teori struktural Tzvetan Todorov. Dalam teori tersebut ada tiga hal yang dapat dikaji berdasarkan struktur karya, yaitu aspek sintaksis, aspek semantik, dan aspek verbal. Dari hasil analisis yang telah dilakukan, ditemukan bahwa dari segi aspek semantik terlihat bahwa alur cerpen “Pemintal Kegelapan” adalah alur progresif. Aspek semantik yang dalam hal ini dikaitkan dengan unsur penokohan tokoh aku dan tokoh Ibu. Tokoh aku memiliki sifat rasa ingin tahu, menghormati, dan menghargai tokoh Ibu. Sedangkan tokoh Ibu memiliki sifat introver, eksplosif, dan misterius. Dari aspek verbal, pengarang menggunakan pencerita luar dan wicara yang dialihkan.
KESATUAN TEMATIK PUISI “LAUT” DAN “SELAIN LAUT” KARYA ABDUL HADI W.M.: INTERPRETASISEMIOTIK
I Wayan Nitayadnya
Kandai Vol 10, No 1 (2014): KANDAI
Publisher : Kantor Bahasa Sulawesi Tenggara
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (976.565 KB)
|
DOI: 10.26499/jk.v10i1.313
Puisi ”Laut” (Meditasi, 1976) dan “Selain Laut” (Pembawa Matahari, 2002) karya Abdul Hadi W.M. memiliki kesatuan tematik walaupun diciptakan dalam kurun waktu yang berbeda. Masalah penelitian ini adalah bagaimanakah kesatuan tematik yang terlukis dari kedua puisi tersebut. Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mengungkap kesatuan tematik dari kedua puisi tersebut. Metode yang digunakan adalah studi pustaka, deskriptif analitik, dan informal. Dari analisis sintaksis, semantik, dan pengujaran dapat disimpulkan bahwa kedua puisi tersebut mencerminkan satu kesatuan tematik. Kesatuan tematik kedua puisi tersebut adalah hidup di alam semesta ini tidak ada yang abadi. Artinya, hidup itu terus mengalami perubahan seiring dengan perkembangan zaman danpemikiran manusia.
KEKERABATAN BAHASA KULAWI DAN BAHASA KAILI DI SULAWESI TENGAH
Siti Fatinah
Kandai Vol 13, No 2 (2017): Kandai
Publisher : Kantor Bahasa Sulawesi Tenggara
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (966.588 KB)
|
DOI: 10.26499/jk.v13i2.245
Kaili dan Kulawi languages are related and predicted they descent from common ancestral language (proto-language). Their relation need to be proved in qualitative and quantitative methode. This research applied and those methode in describing the relation between the languages. The aim of the research is describing the relation in qualitative and quantitative method. The data is based on questions and interviews which are elaborated into questionnaire with 200 Swadesh list and 873 culture vocabularies. The paper is applied method of comparative through lexicostatistic and reconstruction. The result of the paper indicates that Kaili dan Kulawi languages are in the same family languages with cognate percentage 62%. It indicates that those languages are in the same stock. The relationship of Kaili and Kulawi languages in the same family of languages proved by the qualitative data of sound correspondence, such as (1) l ≈ ɺ / - V#; (2) s ≈ h / - V#; (3) `g ≈ `k / - V#; (4) s ≈ x / # -; (5) ɓ ≈ b / # -; (6) J ≈ d / # -; -V#; (7) l ≈ ll / V-V; (8) J ≈ ʧ/ -V#; and (9) P ≈ B / # -.
KALIMAT SYAHADAT DALAM MANTRA MELAYU DI KETAPANG: STRATEGI ISLAMISASI PENDUDUK LOKAL
Dedy Ari Asfar
Kandai Vol 12, No 1 (2016): Kandai
Publisher : Kantor Bahasa Sulawesi Tenggara
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1088.128 KB)
|
DOI: 10.26499/jk.v12i1.71
Mantra merupakan peninggalan zaman animisme dalam kehidupan orang Melayu. Walaupun, mantra merupakan tradisi animisme tetapi ada ajaran dan unsur-unsur Islam dalam mantra. Mantra-mantra pada masyarakat Melayu Ketapang ini dikaji untuk melihat kandungan kalimat syahadat dalam pertuturannya. Tujuan tulisan ini adalah untuk mendeskripsikan kalimat syahadat yang muncul dalam mantra-mantra Melayu di Kabupaten Ketapang sebagai sebuah strategi dalam Islamisasi masyarakat Kalimantan Barat. Mantramantra yang terkumpul ditranskripsi secara linguistik dengan sistem International Phonetic Alphabet (IPA). Penelitian kualitatif terhadap mantra-mantra yang ada ini kemudian dianalisis dengan melihat kata-kata yang mengandung kalimat syahadatnya dengan perspektif teori keislaman. Hasilnya, terdapat sebuah strategi Islamisasi pada masyarakat Melayu di Ketapang melalui mantra. Hal ini tampak dalam pelafalan kalimat syahadat pada mantra ilmu sejuk dan panas. Dalam mantra ilmu sejuk kalimat syahadat dijadikan kunci bagi mantra pengobatan dan pengasihan sedangkan dalam mantra ilmu panas kalimat syahadat dijadikan sihir untuk mantra pelet dan kekuatan.
PENGARUH MITOS IMBU TERHADAP PELINDUNGAN ALAM LAUT KEPULAUAN WAKATOBI
NFN Asrif
Kandai Vol 11, No 1 (2015): KANDAI
Publisher : Kantor Bahasa Sulawesi Tenggara
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (102.726 KB)
|
DOI: 10.26499/jk.v11i1.218
Kemodernan masyarakat masa kini tidak serta-merta meniadakan kepercayaan terhadap mitos yang melingkupi dan mengontrol kehidupan mereka. Perubahan cara pandang masyarakat menempatkan mitos sebagai tradisi kelisanan yang tidak akurat, dongeng semata, dan tidak sesuai dengan perkembangan zaman. Namun faktanya, beragam mitos tetap ditradisikan untuk tujuan-tujuan tertentu di luar teks formal mitos itu sendiri. Penelitian ini menetapkan dua masalah pokok, yakni 1) bagaimana wacana mitos Imbu dalam masyarakat maritim Wakatobi? dan 2) bagaimana pengaruh mitos Imbu terhadap pelindungan alam laut Wakatobi. Penelitian menemukan masyarakat maritim di Wakatobi memegang teguh mitos Imbu—gurita raksasa berlengan sembilan—yang dianggap sebagai makhluk raksasa yang mampu merusak dan menenggelamkan kapal. Ingatan masyarakat akan sanksi Imbu bagi para perusak alam laut mampu menciptakan relasi keseimbangan yang positif antara manusia dan alam laut. Alam laut tidak dipandang sebagai ladang sumber daya ekonomi yang dapat diperlakukan semena-mena, tetapi sebagai alam yang perlu dijaga dan dihormati. Oleh karena itu, mitos Imbu perlu terus diwacanakan karena mampu mengontrol niat dan tindakan masyarakat yang pada akhirnya melindungi alam laut.
PEMERTAHANAN BUDAYA TIONGHOA DALAM NOVEL KAU, AKU DAN SEPUCUK ANGPAU MERAH KARYA TERE LIYE
Dewi Juliastuty
Kandai Vol 9, No 2 (2013): KANDAI
Publisher : Kantor Bahasa Sulawesi Tenggara
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (324.489 KB)
|
DOI: 10.26499/jk.v9i2.301
Tulisan ini mengkaji mengenai pemertahanan budaya Tionghoa dalam novel Kau, Aku dan Sepucuk Angpau Merah Karya Tere Liye menggunakan teori antropologi sastra dan metode deskriptif analisis. Unsur-unsur budaya dalam novel dikaji dengan pendekatan antropologi sastra sebagai studi sastra dengan relevansi manusia (anthropos). Oleh karena itu, sebuah novel dianggap mempunyai kualitas yang sama dengan masyarakat tertentu. Antropologi sastra adalah kajian yang menekankan pada warisan budaya masa lalu yang nampak pada karya sastra sehingga dapat dikaji lewat paparan etnografi yang ada pada karya sastra tersebut sebagai data. Pada novel ini terlihat budaya Tionghoa yang masih dipertahankan oleh para tokoh keturunan Tionghoa yang nampak pada arsitektur masjid, arakarakan naga, barongsai, nama diri, dan bahasa. Selain itu, hubungan sosial, perilaku sosial tokoh keturunan Tionghoa dengan warga masyarakat serta mata pencaharian dan sistem ekonominya dipengaruhi oleh ajaran Konfusius dan Tao. Ternyata, budaya Tionghoa yang dilaksanakan keturunan Tionghoa telah berubah fungsinya. Sekarang perayaan imlek menjadi ajang silaturahmi yang mengakrabkan mereka dengan warga sekitarnya karena mereka menerima kunjungan dari warga pribumi—yang mengucapkan selamat tahun baru. Kini tradisi memberikan angpau lebih didasarkan pada kemapanan secara ekonomi, makna angpau bukan sekadar uang yang ada di dalamnya. Angpau, bermakna senasib sepenanggungan, saling mengucapkan dan memberikan harapan baik.