cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Buletin Anatomi dan Fisiologi (Bulletin of Anatomy and Physiology)
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : 25276751     EISSN : 25410083     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 254 Documents
Pertumbuhan dan Produksi Tanaman Kentang (Solanum tuberosum L. var. Granola) pada Sistem Budidaya yang Berbeda Partiyani Hidayah; Munifatul Izzati; Sarjana Parman
Buletin Anatomi dan Fisiologi Volume 2, Nomor 2, Tahun 2017
Publisher : Departemen Biologi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/baf.2.2.2017.218-225

Abstract

Kentang merupakan tanaman semusim yang penting dan memiliki potensi untuk diekspor ke negara lain serta banyak digunakan sebagai sumber karbohidrat atau makanan pokok bagi masyarakat dunia setelah gandum, jagung dan beras. Kentang sebagian besar dibudidayakan pada tanah yang miring dan di lahan yang memacu erosi tanah sehingga dapat menimbulkan tanah longsor. Hal ini disebabkan karena cara budidaya dengan penggemburan tanah sehingga tanah akan mudah lepas. Oleh karena itu, perlu dilakukan metode budidaya dalam polybag. Tujuan penelitian ini untuk mengkaji penanaman kentang di polybag dan lahan dalam meningkatkan pertumbuhan dan produksi kentang serta mengkaji perbedaan pertumbuhan dan produksi kentang yang ditanam dalam planterbag, polybag dan di lahan. Parameter yang diamati yaitu tinggi tanaman, jumlah daun, jumlah tunas yang tumbuh, jumlah umbi dan bobot umbi serta morfologi umbi. Perlakuan dilakukan dengan penanaman umbi kentang pada lahan, polybag dan planterbag atau 3 perlakuan dan 7 ulangan. Data penelitian dianalisis dengan Analysis of Variance (ANOVA) pada taraf kepercayaan 95% dan dilanjutkan dengan Uji Beda Nyata Terkecil (BNT). Hasil analisis menunjukkan bahwa penanaman kentang dalam tempat penanaman yang berbeda dapat meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman kentang dibandingkan dengan yang di lahan, meskipun yang berbeda nyata hanya tinggi tanaman dan jumlah daun. Kentang yang ditanam dalam polybag menghasilkan pertumbuhan yang lebih baik seperti tinggi tanaman, jumlah daun, dan jumlah tunas demikian juga dengan bobot umbinya dibandingkan dengan planterbag dan lahan. Sedangkan kentang yang ditanam di dalam planterbag menghasilkan jumlah umbi yang lebih banyak dibandingkan dengan polybag dan lahan. Budidaya tanaman kentang di dalam Polybag layak dilakukan karena dapat meningkatkan pertumbuhan dan produksi kentang varietas Granola. Kata kunci: pertumbuhan; produksi; kentang; polybag
Pengaruh Alelokimia Ekstrak Gulma Pilea microphylla terhadap Kandungan Superoksida dan Perkecambahan Sawi Hijau (Brassica rapa var. parachinensis) Hesti Siti Astuti; Sri Darmanti; Sri Haryanti
Buletin Anatomi dan Fisiologi Volume 2, Nomor 1, Tahun 2017
Publisher : Departemen Biologi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/baf.2.1.2017.86-93

Abstract

Sawi Hijau (Brassica rapa var. parachinensis) merupakan salah satu sayuran yang banyak dikonsumsi  masyaraka, namun produksinya sering menurun akibat  gangguan gulma, diantaranya adalah gulma Pilea microphylla. Penelitian ini bertujuan mengkaji pengaruh pemberian ekstrak alelokimia Pilea microphylla terhadap akumulasi superoksida, perkecambahan dan pertumbuhan awal kecambah sawi hijau. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) satu factor berupa konsentrasi ekstrak alelokimia Pilea microphylla yaitu : 0%, 25%, 50%, 75% dan 100% ,  masing-masing perlakuan dengan lima ulangan. Parameter yang diamati adalah kandungan fenol total Pilea microphylla serta kandungan superoksida, laju perkecambahan, persentase perkecambahan, panjang hipokotil, tinggi kecambah, panjang akar, bobot basah, bobot kering dan warna daun gulma Pilea microphylla. Data dianalisis dengan  Analisys of Variance (ANOVA) dan dilanjutkan dengan uji Duncan’s Multiple Range Test (DMRT) pada taraf kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan kandungan fenol total  dalam 100% ekstrak Pilea microphylla adalah 8.242 µg/g. Semakin tinggi konsentrasi alelokimia ekstrak Pilea microphylla menyebabkan kandungan superoksida sawi hijau semakin meningkat dan penurunan pertumbuhan awal kecambah  tetapi tidak berpengaruh terhadap  laju perkecambahan dan daya perkecambahan sawi hijau.Kata kunci : alelopati; gulma; fenolik; superoksida; Pilea microphylla
Multiplikasi Tunas Tebu (Saccharumo officinarum L Var. Bululawang) dengan Perlakuan Konsentrasi BAP dan Kinetin Secara In Vitro Chory Praseptiana; Sri Darmanti; Erma Prihastanti
Buletin Anatomi dan Fisiologi Volume 2, Nomor 2, Tahun 2017
Publisher : Departemen Biologi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/baf.2.2.2017.153-160

Abstract

Tebu (Saccharum officinarum L var. Bululawang) merupakan tebu varietas unggul yang memiliki daya adaptasi dan stabilitas baik pada berbagai jenis tanah, tetapi bibit yang dihasilkan masih sedikit karena dominansi apikal yang tinggi sehingga untuk memperbanyak bibitnya diperlukan teknik khusus. Multiplikasi tunas dengan teknik kultur in vitro merupakan teknik alternatif untuk memperbanyak bibit tebu yang berkualitas, dalam jumlah yang besar dan waktu yang singkat. Sitokinin merupakan ZPT yang berperan dalam multiplikasi tunas. Pemberian konsentrasi sitokinin berupa BAP dan kinetin diharapkan mampu menjelaskan multiplikasi tunas. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh konsentrasi BAP dan kinetin terhadap waktu munculnya tunas dan pertumbuhan tunas tebu Bululawang secara in vitro. Eksplan yang digunakan berupa mata tunas tebu Bululawang umur 6-8 bulan yang terdapat pada bagian nodus. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 12 perlakuan, masing-masing 3 ulangan. Eksplan dikulturkan selama 8 minggu pada media MS dengan konsentrasi BAP (0, 0,5, 1, dan 2 mg/l) dan kinetin (0, 0,5, dan 1 mg/l). Parameter yang diamati, yaitu: waktu munculnya tunas (HST), panjang tunas (cm), jumlah tunas, jumlah daun (helai), dan warna daun. Data yang diperoleh kemudian dianalisis menggunakan uji ANOVA pada taraf signifikan 95%. Hasil analisis data menunjukkan tidak adanya pengaruh pemberian BAP dan kinetin sampai konsentrasi 2 mg/l dan 1 mg/l terhadap parameter multiplikasi tunas tebu var. Bululawang. Kata kunci : tunas; Bululawang; BAP; kinetin
Perubahan Histologi dan Fisiologi Latisifer pada Tanaman Karet (Hevea brasiliensis Muell Arg.) yang diberi Asam Jasmonat dan Asam Naftalen Asetat Eksogen Radite Tistama; Vahnoni Lubis; Isnaini Nurwahyuni
Buletin Anatomi dan Fisiologi Volume 2, Nomor 1, Tahun 2017
Publisher : Departemen Biologi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/baf.2.1.2017.1-10

Abstract

Produktivitas tanaman karet tergantung pada faktor dominan seperti jumlah latisifer dan aktivitas metabolism lateks. Perkembangan histologi dan fisiologi latisifer tanaman karet dipengaruhi oleh jenis klon dan interaksi antara zat pengatur tumbuh eksogen dengan klon. Perubahan histologi dan fisiologi latisifer Hevea brasiliensis diteliti dengan aplikasi asam jasmonat, asam naftalen asetat dan kombinasi keduanya pada permukaan tunas lateral muda. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa zat pengatur tumbuh menginduksi jumlah pembuluh kateks tetapi mengurangi perkembangan tebal kulit dan ukuran sel latisifer. Kombinasi JA dengan NAA paling efektif menginduksi jumlah pembuluh lateks pada klon metabolisme tinggi PB 260. Zat pengatur tumbuh memacu perubahan aktivitas fisiologi pada klon metabolisme rendah IRR 42. Analisis histologi kulit dan fisiologi lateks pada tunas muda tanaman karet dapat digunakan sebagai pendeteksi potensi produktivitas dan sifat metabolisme tanaman karet. Kata kunci: Latisifer Hevea; asam jasmona; asam naftalen asetat; metabolisme lateks
Efek Suplemen Kulit Kayu Manis dan Daun Pegagan terhadap Produktivitas Puyuh Petelur Strain Australia (Coturnix coturnix australica) Sunarno Sunarno
Buletin Anatomi dan Fisiologi Volume 3, Nomor 1, Tahun 2018
Publisher : Departemen Biologi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/baf.3.1.2018.89-96

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dan menganalisa pengaruh suplemen dari kulit kayu manis dan daun pegagan terhadap bobot dan jumlah telur serta produktivitas puyuh. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah rancangan acak lengkap yang terdiri atas 8 perlakuan dengan 3x ulangan. Delapan perlakuan tersebut, meliputi kontrol (pakan tanpa pemberian suplemen tepung kulit kayu manis dan daun pegagan), pakan yang diberi suplemen tepung kulit kayu manis 5% atau 10%, pakan yang diberi suplemen tepung daun pegagan 5% atau 10%, pakan yang diberi suplemen tepung kulit kayu manis dan pegagan (5%:5%, 5%:10% atau 10%:5%). Pemberian perlakuan di lakukan secara ad libitum setiap hari sebanyak 2 kali. Perlakuan pakan bersuplemen terhadap hewan uji diberikan selama 30 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa suplemen tepung kulit kayu manis dan daun pegagan dalam pakan dapat meningkatkan bobot tubuh, bobot telur, namun menurunkan jumlah dan produktivitas telur. Kesimpulan dari penelitian ini adalah, suplemen dari kulit kayu manis dengan konsentrasi 5% atau kombinasi suplemen dari kulit kayu manis-daun pegagan dengan rasio 5%:10% dapat meningkatkan produktivitas puyuh. Kata kunci: telur puyuh; kayu manis; pegagan; suplemen; kolesterol; antioksidan
Pertambahan Berat Badan Mencit (Mus musculus L.) Setelah Perlakuan Ekstrak Air Biji Pepaya (Carica papaya Linn.) Secara Oral Selama 21 Hari Siti Muflichatun Mardiati; Agung Janika Sitasiwi
Buletin Anatomi dan Fisiologi Volume 1, Nomor 1, Tahun 2016
Publisher : Departemen Biologi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/baf.1.1.2016.75-80

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efek ekstrak air biji pepaya terhadap reproduksi mencit betina ditinjau dari aspek pertambahan berat badan. Mencit strain Swiss Webster betina digunakan sebagai hewan uji. Hewan uji dibagi dalam 5 kelompok perlakuan, yaitu K(-), bahan perlakuan berupa akuades; K(+), bahan perlakuan sediaan pil kontrasepsi merk X dengan dosis ; P1, bahan perlakuan ekstrak air biji pepaya dengan dosis 1,4 mg/ekor/hari; P2, bahan perlakuan ekstrak air biji pepaya dengan dosis 3,5 mg/ekor/hari; P3, bahan perlakuan ekstrak air biji pepaya dengan dosis 1,4 mg/ekor/hari. Masing-masing kelompok perlakuan diulang 7 kali. Biji pepaya diperoleh dari pohon pepaya lokal diJawa Tengah. Pemberian bahan perlakuan secara oral selama 21 hari berturut-turut.Pemberian pakan dan minum dilakukan secara ad libitum. Parameter yang diamati adalah pertambahan berat badan, konsumsi pakan, dan konsumsi minum. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan analisis variansi dengan taraf kepercayaan 95% dan uji lanjut Duncan.Hasil penelitian menunjukkan tidak terdapat perbedaan nyata terhadap pertambahan berat badan (P>0,05) padasemua kelompok hewan, terdapat perbedaan nyata pada konsumsi pakan (P<0,05) antara K(+) dan P1dan terdapat perbedaan nyata pada konsumsi minum (P<0,05) antara P2 dengan K(+) dan P1. Kesimpulan penelitian adalah pemberian biji pepaya dengan paparan kronis tidak mempengaruhi pertambahan berat badan mencit.Kata kunci: Mencit; biji pepaya; pertumbuhan; berat badan
Pengaruh Hormon dan Ukuran Eksplan terhadap Pertumbuhan Mata Tunas Tanaman Pisang (Musa paradisiaca var. Raja Bulu) Secara In Vitro Fifit Yuniati; Sri Haryanti; Erma Prihastanti
Buletin Anatomi dan Fisiologi Volume 3, Nomor 1, Tahun 2018
Publisher : Departemen Biologi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/baf.3.1.2018.20-28

Abstract

 Penggunaan eksplan mata tunas pisang (Musa paradisiaca var. Raja Bulu)  diduga lebih efektif  membentuk tunas secara langsung ,sehingga dapat memotong satu tahapan kultur in vitro. Tujuan penelitian ini mengetahui kombinasi hormon dan ukuran eksplan yang terbaik untuk pertumbuhan mata tunas secara in vitro. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial (4x2) dengan 3 kali ulangan. Faktor pertama hormon (P) yaitu P0: tanpa zat pengatur tumbuh, P1: IAA 0,5 mg/l + BA 4,5 mg/l, P2: IAA 3 mg/l + BA 7 mg/l, P3: IAA 5,5 mg/l + BA 9,5 mg/l. Faktor kedua ukuran eksplan  yaitu B:  mata tunas besar (3 - 4 cm) dan K: mata tunas kecil (1 - 2 cm). Parameter yang diamati adalah bobot, diameter, warna, morfologi mata tunas dan browning. Data dianalisis dengan Analysis of Variance (ANOVA) dan jika ada beda pengaruh diuji lanjut Duncan’(DMRT) signifikansi 95%. Hasil penelitian menunjukkan  terdapat interaksi perlakuan kombinasi hormon dan ukuran mata tunas terhadap diameter mata tunas, namun tidak terdapat interaksi terhadap bobot mata tunas. Perlakuan hormon dan ukuran mata tunas masing – masing berpengaruh nyata terhadap bobot mata tunas. Interaksi  hormon IAA 5,5 mg/l + BA  9,5 mg/l dan mata tunas besar menghasilkan  diameter mata tunas paling tinggi, sedangkan masing-masing perlakuan menghasilkan bobot mata tunas paling tinggi. Kombinasi hormon IAA 0,5 mg/l + BA  4,5 mg/l menghasilkan  diameter paling tinggi pada mata tunas kecil. Semua perlakuan kombinasi hormon dan mata tunas menyebabkan eksplan membengkak dan mengelupas kecuali pada kombinasi hormon IAA 3 mg/l + BA 7 mg/l eksplan hanya membengkak.  Warna eksplan menjadi hijau seiring dengan bertambahnya bobot. Kata kunci : mata tunas; Raja Bulu; IAA; BA
Ukuran rongga udara, pH telur dan diameter putih telur, ayam ras (Gallus L.) setelah pencelupan dalam larutan rumput laut dan disimpanan beberapa waktu Muhammad Anwar Djaelani
Buletin Anatomi dan Fisiologi Volume 1, Nomor 1, Tahun 2016
Publisher : Departemen Biologi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/baf.1.1.2016.19-23

Abstract

Telur ayam merupakan sumber protein hewani yang murah dan mudah untuk didapatkan oleh masyarakat Indonesia. Senyawa penyusun telur merupakan bahan organik yang mudah rusak. Salah satu faktor yang menyebabkan rusaknya telur adalah lama waktu penyimpanan . Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kualitas telur ayam berdasar ukuran rongga udara, pH telur  dan diameter putih telur  setelah pencelupan dalam larutan rumput laut . Sampel yang digunakan adalah telur ayam ras yang diambil pada hari pertama telur dioviposisikan. Digunakan Rancangan acak  lengkap dengan 9 kelompok perlakuan yaitu P0 sampel disimpan pada suhu kamar tanpa perlakuan, diamati pada hari ke 1, P1 sampel disimpan pada suhu kamar tanpa perlakuan, diamati pada hari ke 7, P2 sampel dicelupkan ke dalam larutan rumput laut sebelum disimpan pada suhu  kamar, diamati pada hari ke 7. P3 sampel disimpan pada suhu kamar tanpa perlakuan, diamati pada hari ke 14. P4 sampel dicelupkan ke dalam larutan rumput laut sebelum disimpan pada suhu  kamar, diamati pada hari ke 14, P5 sampel disimpan pada suhu kamar tanpa perlakuan, diamati pada hari ke 21, P6 sampel dicelupkan ke dalam larutan rumput laut sebelum disimpan pada suhu  kamar, diamati pada hari ke 21, P7 sampel disimpan pada suhu kamar tanpa perlakuan, diamati pada hari ke 28, P8 sampel dicelupkan ke dalam larutan rumput laut sebelum disimpan pada suhu  kamar, diamati pada hari ke 28. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan ANOVA dengan taraf signifikansi 5%. Hasil penelitian menunjukkan semua variabel penelitian menunjukkan penurunan seiring dengan bertambahnya waktu penyimpanan. Pencelupan ke dalam rumput laut tidak mampu mepertahankan kualitas telur Penurunan kualitas kemungkinan disebabkan faktor lamanya penyimpanan yang menyebabkan perubahan kondisi telur. Kata kunci : penyimpanan telur; diameter putih telur; rongga udara; pH telur
Efek Amelioratif VCO terhadap Heterofil Ayam Broiler yang divaksinasi AI Enny Yusuf Wachidah Yuniwarti
Buletin Anatomi dan Fisiologi Volume 2, Nomor 2, Tahun 2017
Publisher : Departemen Biologi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/baf.2.2.2017.193-197

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan jumlah heterofil sebagai efek baik VCO terhadap pencegahan penyakit avian influenza (AI) pada ayam pedaging melalui peningkatan daya tahan tubuh. Penelitian ini menggunakan 40 ekor ayam broiler umur satu hari. Desain penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap dengan kelompok pertama, kedua, ketiga, keempat, kelima merupakan kelompok ayam yang divaksin AI dengan penambahan VCO masing-masing 0, 6, 12, 15 dan 18 mL/kg pakan, kelompok enm, tujuh, delapan, sembilan dan sepuluh merupakan  ayam yang tidak divaksin AI dan penambahan VCO masing-masing 0, 6, 12, 15 dan 18 mL/kg pakan. Ayam broiler dikelompokkan dalam 10 kelompok perlakuan dan dilakukan pengulangan dalam 4 unit percobaan. Pakan dan minum diberikan ad libitum selama 4 minggu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah heterofil tidak dipengaruhi oleh vaksinasi AI maupun pemberian VCO, sehingga dapat disimpulkan jika peningkatan derajad kesehatan ayam setelah pemberian VCO dan vaksinasi AI tidak melalui peningkatan jumlah heterofil. Kata kunci: avian influenza; ayam pedaging; VCO; heterofil
Pengaruh Pemberian Pupuk Nanosilika terhadap Tinggi Tanaman dan Jumlah Anakan Padi Beras Merah (Oryza sativa L.var. indica) Skolastika Dara Sabatini; Rini Budihastuti; Sri Widodo Agung Suedy
Buletin Anatomi dan Fisiologi Volume 2, Nomor 2, Tahun 2017
Publisher : Departemen Biologi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/baf.2.2.2017.128-133

Abstract

Padi beras merah (Oryza sativa L. var. indica) merupakan salah satu pangan fungsional. Selain kaya karbohidrat, beras merah juga mengandung antosianin sebagai antioksidan yang bermanfaat untuk kesehatan manusia. Kendala budidaya padi merah saat ini adalah pertumbuhan dan produksi yang masih rendah. Pertumbuhan dan produktivitas padi yang rendah, antara lain dapat disebabkan oleh ketersediaan Silika (Si) yang rendah. Lahan pertanian di Indonesia banyak mengalami leaching sehingga Si yang tersedia di tanah sawah tidak banding lurus dengan kandungan totalnya. Silika merupakan unsur yang memiliki peran penting dalam meningkatkan pertumbuhan tanaman khususnya kelompok Gramineae seperti padi. Silika dibutuhkan tanaman monokotil akumulator yang dapat mendukung pertumbuhan karena dapat memperbaiki proses fotosintesis. Aplikasi penggunaan silika saat ini dikembangkan dalam bentuk nanosilika karena langsung mencapai target, dan dibutuhkan dalam jumlah yang sedikit. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh pupuk nanosilika terhadap pertumbuhan tinggi tanaman, jumlah anakan dan pola pertumbuhannya. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan perlakuan konsentrasi pupuk nanosilika yaitu: P0 (0ml/L), P1 (2,5ml/L), P2 (5ml/L), P3 (7,5ml/L), P4 (10ml/L). Parameter pertumbuhan yang diamati yaitu tinggi tanaman, jumlah anakan dan pola pertambahan tinggi tanaman serta jumlah anakan dari 10-40 HST. Data dianalisis dengan Analysis of Variance (ANOVA) dan dilanjutkan dengan uji Duncan’s Multiple Range Test (DMRT) pada taraf signifikansi 95%. Hasil penelitian yang didapat adalah perlakuan pupuk nanosilika P1-P4 memberikan hasil peningkatan tinggi tanaman dan jumlah anakan padi beras merah. Perlakuan P4 (10ml/L) memberikan pengaruh yang paling baik dan hasil tertinggi yaitu tinggi tanaman 106,40cm dan jumlah anakan 40,20 anakan. Pola pertumbuhan tinggi tanaman cenderung masih meningkat sampai 40 HST, namun pola pertumbuhan anakan vegetatif cenderung melambat pada 40 HST. Kata kunci : beras merah; pertumbuhan; nanosilika

Page 4 of 26 | Total Record : 254