cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
Jl Prof Soedarto, SH Kampus Tembalang, Semarang 50275
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Sains Akuakultur Tropis : Indonesian Journal of Tropical Aquaculture
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : 26210525     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Arjuna Subject : -
Articles 191 Documents
Pengaruh Perbedaan Metode Budidaya dan Asal Bibit Terhadap Pertumbuhan Gracilaria verrucosa yang Dibudidayakan di Tambak Desa Tambakbulusan Kecamatan Sayung Kabupaten Demak Hani Nuraini; Sri Rejeki; Rosa Amalia; Lestari L Widowati; Restiana Wisnu
Sains Akuakultur Tropis : Indonesian Journal of Tropical Aquaculture Vol 6, No 1 (2022): SAT edisi Maret
Publisher : Departemen Akuakultur FPIK UNDIP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/sat.v6i1.12575

Abstract

RINGKASANRumput laut (Gracilaria verrcosa) merupakan jenis yang dapat dibudidayakan di tambak, meskipun habitat awalnya berasal dari laut. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh metode dan lokasi asal bibit G.verrucosa. yang berbeda terhadap pertumbuhan G.verrucosa ditambak. Penelitian ini dilakukan pada bulan Agustus - November 2020 di Desa Tambakbulus Kecamatan Sayung Kabupaten Demak, Jawa Tengah. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode longline, broadcast, dan off- bottom. Bibit G.verrucosa berasal dari Tambak Demak, Semarang dan Brebes, 3 wilayah tersebut merupakan pusat pembudidaya yang menyediakan G.verrcosa di wilayah Jawa Tengah. Metode yang digunakan yaitu metoda eksperimental. Rancangan Percobaan yang digunakan yaitu RAL (Rancangan Acak Lengkap) 2 faktorial. 2 faktor tersebut yaitu faktor pertama: asal bibit (A): AS (Semarang); AD (Demak); AB (Brebes). Faktor kedua: metoda budidaya (L, O, B): L (longline); O (off-bottom); B (broadcast). Sehingga didapatkan 9 perlakuan: ASL, ASB, ASO, ADL, ADB, ADL, ABL, ABB, ABO, masing-masing perlakuan diulang 12 kali ulangan. Bibit G.verrucosa yang digunakan diawal pemeliharaan yaitu sebanyak 100 gram untuk masing – masing perlakuan dan pengulangan. Data yang dikumpulkan meliputi: pertumbuhan G.verrucosa selama pemeliharaan. Nilai SGR (Specific Growth Rate) dianalisis menggunakan ANOVA. Hasil penelitan menunjukkan bahwa asal bibit dan metoda budidaya yang berbeda berpengaruh nyata (P<0.05) terhadap SGR, SGR tertinggi yaitu pada perlakuan ASL (bibit Semarang, metoda longline) sebesar 1.67±0.22%/hari dan terendah yaitu pada perlakuan ABO (bibit Brebes, metoda broadcast) sebesar 0.52±0.14%/hari. Berdasarkan hasil pengukuran kualitas air yang diperoleh selama penelitian bahwa kualitas air pada lokasi penelitian masih dalam kisaran optimal untuk menunjang pertumbuhan G.verrucosa. Kualitas air DO berkisar 3.4-8.4, suhu (oC) berkisar 25-32.9, pH berkisar 7.4-8.7, salinitas (ppt) berkisar 25-32.9, nitrat (mg/l) berkisar 1.2-2.1, nitrit (mg/l) berkisar 0.01-0.016, fosfat (mg/l) berkisar 0.12-0.5, amoniak (mg/l) berkisar 0.03-0.4. Kata kunci: Gracilaria verrucosa, asal bibit, metode budidaya, SGR (Specific Growth Rate).
Pengaruh tepung bunga marigold (Tagetes erecta) pada pakan buatan terhadap kecerahan warna benih ikan guppy (Poecillia reticulata) Cut Qanita Hidayah; Sri Hastuti; Diana Rachmawati; Subandiyono Subandiyono; Dewi Nurhayati
Sains Akuakultur Tropis : Indonesian Journal of Tropical Aquaculture Vol 6, No 1 (2022): SAT edisi Maret
Publisher : Departemen Akuakultur FPIK UNDIP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/sat.v6i1.5644

Abstract

ABSTRAK Ikan guppy (P. reticulata) merupakan salah satu ikan hias air tawar yang banyak diminati karena variasi warna dan corak siripnya yang beragam. Warna ikan hias dipengaruhi oleh sel pigmen pada tubuh. Pigmen tersebut dihasilkan dari penambahan karotenoid pada pakan. Salah satu bahan penghasil karotenoid adalah tepung bunga marigold. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh dan mengetahui dosis terbaik tepung bunga marigold dalam pakan buatan terhadap peningkatan kecerahan warna ikan guppy. Variabel yang diamati antara lain bobot mutlak, rasio konversi pakan, laju pertumbuhan spesifik dan kelulushidupan. Ikan guppy dengan bobot 0,19 ± 0,03 g diperoleh dari pembudidaya ikan hias guppy Sleman, Yogyakarta. Penelitian dilaksanakan di Galaksi Akuatik Indonesia, Semarang pada bulan Desember 2018-Januari 2019. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan rancangan acak lengkap (RAL) yang terdiri dari 4 perlakuan dan 3 kali ulangan. Perlakuan yang diterapkan adalah penambahan tepung bunga marigold dalam pakan buatan dengan dosis A (0 mg/kg), B (25 mg/kg), C (50 mg/kg) dan D (75 mg/kg). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tepung bunga marigold berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap tingkat kecerahan warna ikan guppy, namun tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap bobot mutlak, rasio konversi pakan (FCR), laju pertumbuhan spesifik (SGR) dan kelulushidupan (SR). Perlakuan C (50 mg/kg) memberikan nilai tertinggi pada peningkatan kecerahan warna ikan guppy (P. reticulata) yaitu 4,05. Kesimpulan yang diperoleh adalah dosis tepung bunga marigold 50 mg/kg memberikan hasil tertinggi pada kecerahan warna ikan guppy (P. reticulata).                                                                                                                                                                                                Kata Kunci :  Guppy; Marigold; Pakan; Kecerahan Warna. ABSTRACT    Guppy (P. reticulata) is one of the freshwater fish that has various colour with many type of fin pattern. The colour of  ornamental fish is depend of the pigment cell. This pigment is produced by the carotenoid in diet fish. One of the carotenoid producing ingredients is marigold flour. This research is used to review and find out the best dose of marigold flour in artificial feed to increase he pigmentation of guppy fish. The parameters are the absolute weight, feed conversion rasio, specific growth rate and survival rate. Guppy fish with weight 0,19 ± 0,03 g were from ornamental guppy fish farmer Sleman, Yogyakarta. The experiment was conducted at Galaksi Akuatik Indonesia, Semarang in December 2018 till January 2019. This research used an experimental method with a complete randomized design (RAL) that consisting of 4 treatments and 3 replications respectively. The treatments are the addition of marigold flour in artificial feed with dose A (0 mg/kg), B (25 mg/kg), C (50 mg/kg) and D (75 mg/kg). The results of this research are indicate that marigold flour has a significant effect on the pigmentation of guppy fish, but does not has significant affect to absolute weight, feed conversion ratio, specific growth rate and survival rate. Treatments C (50 mg/kg) gave the highest value for increasing the pigmentation of guppy fish (P. reticulata) which is 4,05. The conclusion is the dosage of marigold flour 50 mg/kg gave the highest value for pigmentation of guppy. Keywords : Guppy, Marigold, Feed, Colour Intensity
Pengaruh Rasio Chelator dan Metal pada Media Kultur Terhadap Pola Pertumbuhan dan Kandungan Protein Sel Diatom Thalassiosira sp. Wahyudi Wahyudi; Diana Chilmawati; Istiyanto Samidjan; Suminto Suminto
Sains Akuakultur Tropis : Indonesian Journal of Tropical Aquaculture Vol 6, No 1 (2022): SAT edisi Maret
Publisher : Departemen Akuakultur FPIK UNDIP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/sat.v6i1.11755

Abstract

Pakan alami belum dapat digantikan oleh pakan buatan dalam kegiatan pembenihan. Thalassiosira sp. merupakan salah satu pakan alami sebagai pakan larva udang. Salah satu faktor yang mempengaruhi pertumbuhan pakan alami fitoplankton adalah mikronutrien. Mikronutrien tidak dapat dimanfaatkan oleh fitoplankton apabila tidak didukung adanya chelator. Chelator berfungsi untuk mensintesa mikronutrien di dalam media kultur agar bisa dimanfaatkan untuk proses metabolisme sel mikroalga. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji pengaruh rasio chelator dan metal pada media walne terhadap pola pertumbuhan dan kandungan protein Thalassiosira sp. Metode penelitian eksperimental menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 5 perlakuan 4 ulangan yaitu perlakuan A (tanpa chelator dan metal), perlakuan B (rasio chelator dan metal = 1:1), perlakuan C (rasio chelator dan metal = 2:1), perlakuan D (rasio chelator dan metal = 3:1) dan perlakuan E (rasio chelator dan metal = 4:1). Hasil penelitian menunjukkan bahwa rasio chelator dan metal berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap nilai kepadatan akhir dan tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap nilai waktu lag phase, konstanta pertumbuhan spesifik (SGR) dan puncak populasi. Nilai kepadatan akhir tertinggi pada perlakuan C dengan nilai 50.000 sel/ml. Nilai waktu lag phase, konstanta pertumbuhan spesifik (SGR) dan puncak populasi berturut-turut berkisar antara -2,68 hingga (-2,73) hari, 0,354 hingga 0,362 dan 115.883 hingga 122.500 sel/ml. Kandungan protein tertinggi pada perlakuan C sebesar 52,37%. Perlakuan rasio chelator dan metal 2:1 berpengaruh terhadap pola pertumbuhan dan kandungan nutrisi Thalassiosira sp.Kata kunci: Chelator, metal, pola pertumbuhan, Thalassiosira sp.
Pengaruh Perendaman Dosis Hormon Tiroksin (T₄) Yang Berbeda Terhadap Pertumbuhan Dan Kelangsungan Hidup Larva Ikan Cupang (Betta splendens Regan) Gilang Adi Pratama; Fajar Basuki; Tristiana Yuniarti
Sains Akuakultur Tropis : Indonesian Journal of Tropical Aquaculture Vol 6, No 2 (2022): SAT edisi September
Publisher : Departemen Akuakultur FPIK UNDIP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/sat.v6i2.13847

Abstract

Ikan cupang memiliki nama latin (Betta splendens Regan) merupakan ikan hias dengan nilai ekonomis cukup tinggi. Warna yang mencolok dan memiliki bentuk sirip yang unik menarik bagi pecinta ikan hias. Permasalahan dalam budidaya ikan cupang adalah pertumbuhan ikan cupang untuk usia siap jual yaitu 3 bulan dengan ukuran 5 cm. Perendaman hormon tiroksin pada larva ikan cupang akan membantu mempercepat pertumbuhan larva ikan cupang. Hormon tiroksin dalam tubuh memegang peranan penting dalam proses metabolism, pertumbuhan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perendaman dosis hormon tiroksin yang berbeda terhadap pertumbuhan bobot mutlak, umur panjang mutlak, laju pertumbuhan spesifik (SGR %), dan laju kelangsungan hidup (SR%) pada ikan cupang (Betta splendens Regan) serta mengetahui dosis terbaik.Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 15 Juni-30 Juli 2021 di Patriot Farm Kota Semarang. Bahan uji yang digunakan adalah larva ikan cupang usia 5-7 hari, hormon tiroksin (T₄) berupa merek Euthyrox (L-thyroxine). Metode yang digunakan adalah eksperimen dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan masing-masing 3 ulangan. Adapun perlakuan yang diterapkan adalah: A (tanpa perendaman hormon), B (perendaman hormon dengan dosis 0,05 mg/L), C (perendaman hormon dengan dosis 0,1 mg/L) dan D (perendaman hormon dengan dosis 0,15 mg/L). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perendaman hormon tiroksin pada larva ikan cupang berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap pertumbuhan bobot mutlak, pertumbuhan panjang mutlak dan laju pertumbuhan spesifik (SGR), tetapi tidak berpengaruh nyata untuk kelulushidupan (SR) larva ikan ikan cupang. Konsentrasi terbaik perendaman hormon tiroksin pada larva ikan cupang adalah 0,1 mg/L (perlakuan C) yang menghasilkan pertumbuhan bobot mutlak (0,287±0,005) g, pertumbuhan panjang mutlak (17,13±0,15) mm, laju pertumbuhan spesifik (4,15±0,13) %/hari. Kelulushidupan tertinggi didapatkan pada perlakuan 0,05 mg/L (perlakuan B) yaitu (89,17±1,44) %. Kata kunci : Betta splendens Regan; hormon tiroksin; pertumbuhan, perendaman
Performa Reproduksi Ikan Koi (Cyprinus Carpio) dengan Strain Berbeda Dewi Nurhayati; Sri Hastuti; Siti Afia Dwiastuti
Sains Akuakultur Tropis : Indonesian Journal of Tropical Aquaculture Vol 6, No 1 (2022): SAT edisi Maret
Publisher : Departemen Akuakultur FPIK UNDIP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/sat.v6i1.13009

Abstract

Ikan koi (Cyprinus carpio) merupakan salah satu komoditas ikan hias air tawar yang favorit dan banyak digemari oleh masyarakat di Indonesia. Teknik Pembenihan menjadi salah satu hal penting dalam kegiatan usaha budidaya. Kegiatan ini bertujuan untuk menghasilkan benih yang berkualitas tinggi. Ikan koi dengan strain berbeda memiliki warna corak, kontras warna, permintaan dan harga yang berbeda.  Tujuan penelitian ini adalah mengetahui performa reproduksi ikan koi dengan strain berbeda. Variabel yang diukur yaitu tingkat fekunditas, derajat pembuahan (FR), dan derajat penetasan telur pada ikan koi (HR).  Pembenihan ikan koi dilakukan  di Balai Benih Ikan (BBI) Air Tawar, Solo, Jawa Tengah dilakukan dengan pemijahan secara alami.  Proses pembenihan yang dilakukan meliputi persiapan kolam, pemeliharaan induk, seleksi induk, pemijahan, penetasan telur, pemeliharaan larva dan pengelolaan kualitas air.  Nilai Fekunditas Sanke, Benikiko, dan Kohaku masing-masing 10.000, 5000, dan 10.000 butir telur. Nilai derajat pembuahan (FR) yang didapatkan yaitu 91% dan derajat penetasan telur (HR) 86%. kisaran suhu pada wadah pemeliharaan induk yaitu 27-29 °C. Nilai pH pada kolam seleksi induk yaitu berkisar 7,6-8,3. Sementara nilai pH pada kolam pemijahan berkisar antara 8,1-8,3.
Pengaruh penggunaan minyak pohon teh (Melaeuca alternifolia) sebagai bahan anestesi pada sistem transportasi terhadap profil darah dan tingkat kelulushidupan ikan mas (Cyprinus carpio) Arifah Ilhammi Putri; Sri Hastuti; Sarjito Sarjito
Sains Akuakultur Tropis : Indonesian Journal of Tropical Aquaculture Vol 6, No 1 (2022): SAT edisi Maret
Publisher : Departemen Akuakultur FPIK UNDIP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/sat.v6i1.12846

Abstract

Ikan mas (Cyprinus carpio) merupakan salah satu komoditas perikanan air tawar yang memiliki nilai ekonomis untuk dibudidayakan. Diperlukan benih yang berkualitas untuk dibudidayakan karena benih ikan mas biasanya didatangkan dari luar daerah. Metode pengangkutan pada benih ikan mas perlu diperhatikan untuk mengurangi tingkat resiko kematian. Dengan melalui proses pembiusan dapat menjadi upaya untuk menurunkan tingkat metabolisme yang dapat mempertahankan kualitas air dalam wadah pengangkutan sehingga akan menekan angka kematian. Salah satu bahan yang dapat digunakan yaitu minyak pohon teh (Melaleuca alternifolia) yang terdiri dari hidrokarbon terpene terutama monoterpen, seskuiterpen dan alkohol. Komponen Terpinen-4-ol, 1,8-cineole dan a-terpinol yang terkandung dalam minyak pohon teh (Melaleuca alternifolia) memiliki kemampuan menyebabkan efek anestesi pada ikan.Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 3-14 Juni 2021 di Mina Patriot Farm, Semarang, Jawa Tengah. Metode yang digunakan adalah eksperimen dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) menggunakan 4 perlakuan dengan 3 pengulangan. Perlakuan yang diberikan adalah penambahan minyak pohon teh dengan dosis A 0,00 ml/L, B 0,05 ml/L, C 0,10 ml/L dan D 0,15 ml/L. Jumlah sampel yang diuji yaitu 120 ekor benih ikan mas dengan kepadatan 5 ekor/1 liter air. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan minyak pohon teh (Melaleuca alternifolia) memberikan pengaruh nyata (P<0,05) terhadap lama waktu induksi, lama waktu sedatif dan profil darah. Hasil terbaik diperoleh pada perlakuan C 0,10 ml/L dengan masa induksi 16 menit 55 detik, masa sedative 4 menit 93 detik,  presentase kelulushidupan 100% dan profil darah dalam batas normal.
Prevalence of ectoparasites in betta fish (Betta splendens R.) in Pekalongan City Linayati - Linayati; Tri - Yusufi Mardiana; Ishadiyanto Ishadiyanto; Muhammad Zulkham Yahya
Sains Akuakultur Tropis : Indonesian Journal of Tropical Aquaculture Vol 6, No 2 (2022): SAT edisi September
Publisher : Departemen Akuakultur FPIK UNDIP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/sat.v6i2.13987

Abstract

ABSTRACT In Pekalongan City, Betta fish, or Siamese fighting fish is gaining popularity. However, many problems often occur in Betta fish care, such as disease attacks from parasites, including ectoparasites. This research identified the types of ectoparasites in Betta fish and determined its prevalence and degree of infection in betta fish in Pekalongan City. In this exploratory research, data were descriptively analyzed. The data were obtained from 60 samples of betta fish measuring 3.5–5.6 cm taken from betta farmers in Pekalongan City. The results of this research revealed that Tetrahymena sp and Ichthyopthirius multifilis had different prevalence levels of 46.66% for that 3.5 – 4.5 cm in length, and 43.33% of fish with 4.6-5.6 cm long, respectively 44,6 % and 40 % for Ichtyoptirius multifilis. The infection value was 6.79/fish for Tetrahymena sp (moderate), and 4.6/fish for Ichthyopthirius multifilis (low). The water quality parameters were; the temperature of 27.1 – 28.90C, DO 5.8 – 8.2 mg/l, and a pH of 6.3 – 7.3.Keywords: Ectoparasite, Betta Fish, Prevalence, Tetrahymena
Pengaruh protein dan enzim papain dalam pakan isokalori terhadap efisiensi pemanfaatan pakan dan pertumbuhan ikan patin (Pangasius hypopthalmus) Makmuri Makmuri; Subandiyono Subandiyono; Ristiawan Agung Nugroho
Sains Akuakultur Tropis : Indonesian Journal of Tropical Aquaculture Vol 6, No 2 (2022): SAT edisi September
Publisher : Departemen Akuakultur FPIK UNDIP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/sat.v6i2.14064

Abstract

ABSTRACTCatfish (Pangasius hypopthalmus) is one of the high economically freshwater fish. There are problems in catfish culture, especially related to the low of feed utilization. This could be solved by addition of protein and papain enzyme in feeds which play an important role on protein synthesis, so that it helps increasing the fish growth. The aim of the research was to analyze the effect of protein and papain enzyme in isocaloric feeds on the feed utilization efficiency and growth of catfish (P. hypopthalmus). The research was conducted in Mei to June 2018, at the Teaching Factory, Diponegoro University, Semarang. The body length of trial fish used ranged between 7 to 9 cm. The experimental method applied was factorial randomized design with two factors (order 2 x 2). Each factor consisted of two treatment levels with 3 replicates, so that, 12 experimental units were required. The first factor was feed with protein of 26% (A1) and 32% (A2), while the second factor was feed with the addition of papain enzyme as much as 0,25 g/kg feed (B1) and 0,50 g/kg feed (B2), respectively. Results showed that combination of protein and papain in an isocaloric feed had a significant effect on the total of feeding consumption level (TFC), feed utilization efficiency (FUE), and relative growth rate (RGR), but had no significant effect on the survival rate (SR). Results showed that the optimum dose of protein and papain in isocaloric feed was 32% of protein dan 0,25 g of papain/kg feed which was able to produced TFC of 154,32±4,52 g, FUE of 58,35±2,80%, and RGR of 4,66±0,06%/day.Keywords: Catfish, Protein, Papain Enzyme, Isocaloric Feed, Growth 
Pengaruh asam amino lisin pada pakan buatan terhadap efisiensi pemanfaatan pakan, pertumbuhan dan kelulushidupan benih ikan baung (Mystus nemurus) Muhammad Ari Kusuma; Diana Rachmawati; Sarjito Sarjito
Sains Akuakultur Tropis : Indonesian Journal of Tropical Aquaculture Vol 6, No 2 (2022): SAT edisi September
Publisher : Departemen Akuakultur FPIK UNDIP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/sat.v6i2.14144

Abstract

Ikan baung (Mystus nemurus) merupakan salah satu ikan air tawar ekonomis penting. Budidaya ikan baung masih memiliki kendala berupa tingkat pertumbuhan lambat yang mana dapat memakan waktu hingga 1 tahun untuk mencapai ukuran yang dapat dipasarkan. Salah satu cara dalam meningkatkan pertumbuhan ikan baung yakni dengan meningkatkan kualitas pakan yang tersedia melalui penambahan lisin pada pakan. Lisin berperan dalam pembentukan kartnitin yang merupakan senyawa pembawa asam lemak rantai panjang Meningkatnya metabolisme asam lemak rantai panjang ketersediaan energi non protein semakin tinggi dan energi dari protein digunakan secara optimal untuk pertumbuhan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh dan dosis optimum pada penambahan lisin pada pakan buatan terhadap efisiensi pemanfaatan pakan, pertumbuhan dan kelulushidupan ikan baung (M. nemurus). Ikan baung (M. nemurus) yang digunakan dalam penelitian memiliki bobot rata-rata  43,6±4,62g. Penelitian ini dilaksanakan di Balai Perbenihan Ikan Air Tawar Ngrajek, Magelang, Jawa Tengah pada bulan Juni - Agustus 2021. Ikan uji yang digunakan adalah ikan baung dengan bobot rata-rata  43,6±4,62g/ekor. Pemberian pakan dilakukan dengan metode at satiation. Kualitas air dalam media pemeliharaan ikan baung selama penelitian telah memenuhi syarat kelayakan. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen, rancangan acak lengkap (RAL) yang terdiri atas 4 perlakuan dan 3 kali ulangan. Perlakuan yang diterapkan adalah perlakuan A, B, C, dan D masing-masing dengan penambahan lisin sebesar 0%, 0,6%, 1,2%, dan 1,8%/kg pakan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan lisin berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap RGR,TKP, EPP, PER, dan FCR namun tidak berpengaruh nyata terhadap kelulushidupan. Dosis optimum dari penambahan lisin adalah 1,05%; 1,09%; 1,14%; 1,13% dan 1,17%/kg pakan mampu menghasilkan RGR (2,87%/hari), TKP (881,59g), EPP (80,39%), PER (1,97%) dan FCR (1,63).Kata kunci : ikan baung, lisin, pertumbuhan
Pengaruh perendaman telur ikan tawes (Barbonymus gonionotus) dalam larutan daun ketapang (Terminalia cattapa) terhadap daya tetas Alfianti Triwardani; Fajar Basuki; Sri Hastuti
Sains Akuakultur Tropis : Indonesian Journal of Tropical Aquaculture Vol 6, No 2 (2022): SAT edisi September
Publisher : Departemen Akuakultur FPIK UNDIP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/sat.v6i2.14441

Abstract

Ikan tawes memiliki daya tetas telur yang rendah yaitu hanya mampu menghasilkan 22% dari 10.000 butir telur. Salah satu fase yang menentukan keberhasilan budidaya ikan tawes adalah proses penetasan telur. Kendala yang dihadapi dalam pembenihan ikan tawes diantaranya yaitu serangan jamur Saprolegnia sp. saat fase penetasan pada telur ikan. Pencegahan yang dapat dilakukan terhadap serangan jamur pada telur ikan yaitu dengan menambahkan bahan alami yang mengandung anti jamur. Perendaman telur ikan tawes dalam larutan daun ketapang (Terminalia cattapa) dapat mencegah timbulnya jamur pada telur ikan tawes, sehingga daya tetas telur ikan tawes meningkat. Perlu dilakukan penelitian untuk memperoleh banyaknya larutan daun ketapang yang tepat pada penetasan telur ikan tawes. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui larutan daun ketapang yang terbaik untuk daya tetas telur ikan tawes.Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 3 kali ulangan. Perlakuan A menggunakan larutan daun ketapang 0 ml/l, perlakuan B 1,0 ml/l, perlakuan C 1,5 ml/l, dan perlakuan D 2,0 ml/l. Bahan yang digunakan adalah 50 butir telur pada masing-masing perlakuan. Data yang diambil yaitu hatching rate, survival rate, perkembangan telur ikan tawes, dan kualitas air. Hatching rate terbaik pada perlakuan D sebesar 71,33±2,49%, diikuti perlakuan C sebesar 64,67±7,57%, perlakuan B sebesar 58,67±8,08%, dan perlakuan A sebesar 52,00±6,00%. Survival rate terbaik pada perlakuan D sebesar 59,74±3,27%, diikuti dengan perlakuan C sebesar 56,48±3,26%, perlakuan B sebesar 47,39±3,81%, dan perlakuan A sebesar 46,10±3,44%. Kualitas air masih pada kisaran layak untuk penetasan ikan tawes. Kata kunci: ikan tawes, hatching rate, daun ketapang

Page 11 of 20 | Total Record : 191