cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
Jl Prof Soedarto, SH Kampus Tembalang, Semarang 50275
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Sains Akuakultur Tropis : Indonesian Journal of Tropical Aquaculture
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : 26210525     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Arjuna Subject : -
Articles 196 Documents
PENGARUH PEMBERIAN PAKAN ALAMI Moina sp. DENGAN DOSIS YANG BERBEDA DALAM Feeding Regime TERHADAP PERTUMBUHAN DAN KELULUSHIDUPAN LARVA IKAN BAUNG (Hemibagrus nemurus) Anggi Trisna Dewi; Suminto Suminto; Ristiawan Agung Nugroho
Sains Akuakultur Tropis : Indonesian Journal of Tropical Aquaculture Vol 3, No 1 (2019): SAT edisi Maret
Publisher : Departemen Akuakultur FPIK UNDIP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (647.373 KB) | DOI: 10.14710/sat.v3i1.3267

Abstract

Baung (Hemibagrus nemurus) is one of the endogeneous freshwater fish that has economic value. Baung still rarely cultivated and only relies on catches, so its need to be cultivated. Live feed must be given the appropriate amount because the fish will grow not optimally if the feed is a few or too much. Moina sp. is one of the live feeds that can be given to baung larvae. The nutritions content of Moina sp. were 37.38% protein, 13.29% fat, 0.00% crude fiber, 11.00% ash, and 99.60% moisture content. Size of Moina sp. that suitable for larvae ranges is 500 – 1,000 μm.The aim of this study was to evaluate the effect of live feed Moina sp. with different doses in feeding regime on growth and survival of larvae baung and to determine the best dose of Moina sp. on growth and survival larvae baung. The research was carried out at the Technical Implementation Unit of the Fish Larvae Center (UPT BBI) Sawangan, Magelang District in March – May 2018. The individuals of D3 larvae with a length of 0.6 ± 0.1 cm were used in the culture. The research was conducted using experimental method with completely randomized design (CRD) with 4 treatments and 3 replicates. Those treatments  were treatment A (5ind / ml), B (10 ind / ml), C (15 ind / ml), and D (20 ind / ml).The results showed that the different dose of live feed Moina sp. significantly affected (P <0.01) on TKP, Pm, SGR, EPP, PER and RGR but not significantly affected  (P>0.05) on SR. in. treatment D showed the best value of absolute length, SGR and SR in D3D15 stage were 0.9 ± 0.10, 7.04 ± 0.5, 90 ± 3.3,respectivel. In other addition of  D15-D28 had absolute length, SGR, FCR, Feed utilization efficiency, PER, RGR and SR were 0.8 ± 0.10, SGR 3.55 ± 0.17 , 1.31 ± 0.1, 76.76 ± 6.2,1.53 ± 0.1, 5.24 ± 0.5, 85.22 ± 3.5. However,20 ind/ml of Moina sp dosage which be recommend for baung larval rearing in hatchery.
PENGARUH SILASE CACING TANAH (Lumbricus sp.) SEBAGAI SUBSTITUSI TEPUNG IKAN DALAM PAKAN BUATAN TERHADAP PEMANFAATAN PAKAN DAN PERTUMBUHAN IKAN BAWAL AIR TAWAR (Colossoma macropomum) Siti Maryam; Sri Hastuti; Diana Rachmawati
Sains Akuakultur Tropis : Indonesian Journal of Tropical Aquaculture Vol 3, No 1 (2019): SAT edisi Maret
Publisher : Departemen Akuakultur FPIK UNDIP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (508.026 KB) | DOI: 10.14710/sat.v3i1.3929

Abstract

 Pertumbuhan ikan bawal meningkat jika kandungan protein sesuai dengan kebutuhan dan mempunyai profil asam amino hampir mirip dengan tubuh ikan. Harga pakan terus meningkat tanpa diiringi dengan kenaikan harga ikan. Hal tersebut menjadikan pengusaha budidaya perikanan terus berinovasi mencari alternatif bahan lokal. Salah satu alternatif yang digunakan yaitu silase cacing tanah. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh silase cacing tanah (Lumbricus sp.) sebagai substitusi tepung ikan dalam pakan buatan terhadap pemanfaatan pakan dan pertumbuhan ikan bawal tawar serta menentukan komposisi terbaik silase cacing tanah (Lumbricus sp.) sebagai substitusi tepung ikan dalam pakan buatan. Ikan uji yang digunakan yaitu benih ikan bawal tawar dengan bobot tubuh rata-rata 2,98±0,01 g/ekor, dipelihara selama 35 hari, padat tebar 1 ekor/L. Pakan yang digunakan berbentuk pellet dengan protein 31% diberikan secara at satiation dua kali sehari. Eksperimen menggunkan rancangan acak lengkap (RAL) 4 perlakuan dan 3 ulangan, substitusi silase cacing tanah yang digunakan yaitu perlakuan A (0%), B (25%), C (50%) dan D (75%). Variabel yang diamati meliputi total konsumsi pakan (TKP), efisiensi pemanfaatan pakan (EPP), rasio konversi pakan (FCR), protein efisiensi rasio (PER), laju pertumbuhan relatif (RGR) dan kelulushidupan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa silase cacing tanah sebagai substitusi tepung ikan memberikan pengaruh nyata (P<0,05) terhadap TKP, EPP, FCR, PER dan RGR, namun tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap kelulushidupan. Komposisi terbaik silase cacing tanah sebagai substitusi tepung ikan yaitu perlakuan C 50% tepung ikan dan 50 % silase cacing tanah memberikan nilai TKP 145,13±2,90 g, EPP 75,11±3,36%, FCR 1,33±0,06, PER 2,36±0,11%, RGR 5,22±0,36%/hari dan kelulushidupan 90,00±5,00%.
PENGARUH PEMBERIAN TEPUNG CACING TANAH (Lumbricus sp.) SEBAGAI ATRAKTAN DALAM PAKAN TERHADAP TINGKAT KONSUMSI PAKAN, EFISIENSI PAKAN DAN PERTUMBUHAN IKAN PATIN (Pangasius sp.) Rizkiana Amalia; Sri Hastuti; Agung Sudaryono
Sains Akuakultur Tropis : Indonesian Journal of Tropical Aquaculture Vol 3, No 1 (2019): SAT edisi Maret
Publisher : Departemen Akuakultur FPIK UNDIP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (897.784 KB) | DOI: 10.14710/sat.v3i1.3901

Abstract

Catfish (Pangasius sp.) is a dominant consumption fish and it is targeted that production will be increase every year. Catfish have a low feed efficiency value which is causes the growth of catfish to be less optimal, so it is necessary to add ingredient into the diets so that the fish are interested in eating the diets given. The use of earthworm meal as an attractant was expected to increase of feed consumption, feed efficiency and growth of catfish. This experiment aimed to study the effect of dietary earthworm meal as an attractant on feed consumption level, feed efficiency and growth of catfish (Pangasius sp.). The catfish used with an initial average body weight of 6,78±0,68 g/fish. The fishes were cultured in the aquarium for 42 days with the stocking dencity of 1 fish/2L. The experimental method used was completely randomize design (RCD) with 4 treatments and 3 replicates.  The treatments were addition of earthworm meal (Lumbricus sp.) as an attractant with a dose of 0%, 5%, 10% and 15% in the diets. The data showed that  the use of earthworm meal (Lumbricus sp.) inclusion in the diets resulted in significant effects (P <0,05) on feed consumption  (159,73 g), FE (81.06%), PER (2,31%), G (9,76 g) and SGR (1,97%/day) but not significant effect (P>0,05) on survival rate (84.44-93,33%). The best food preference test in treatment C dose 10% of earthworm meal with percentage 44% fish approaching diets. The water quality parameters during this study varied between suitable range for the catfish (Pangasius sp.) life, i.e temperatures 27,70-30,900C; pH 7,00; DO 5,37-5,52 mg/L and NH3 0,0036-0,0095 mg/L. It was concluded  that catfish (Pangasius sp.) fed with the diet containing 10% attractants of earthworm meal resulted in better feed consumption, feed efficiency and growth. 
PENGARUH BERBAGAI SUMBER ATRAKTAN DALAM PAKAN BUATAN TERHADAP RESPON PAKAN, TOTAL KONSUMSI PAKAN, DAN PERTUMBUHAN BENIH IKAN GABUS (Channa striata) Bagus Putra Arditya; Subandiyono Subandiyono; Istiyanto Samidjan
Sains Akuakultur Tropis : Indonesian Journal of Tropical Aquaculture Vol 3, No 1 (2019): SAT edisi Maret
Publisher : Departemen Akuakultur FPIK UNDIP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (907.504 KB) | DOI: 10.14710/sat.v3i1.3132

Abstract

Rendahnya total konsumsi pakan pada ikan gabus (Channa striata) mengindikasikan bahwa tingkat palatabilitas pakan rendah.  Salah satu upaya untuk meningkatkan palatabilitas pakan melalui penambahan atraktan pada pakan uji.  Sumber atraktan yang digunakan berasal dari bahan pakan tepung bekicot, tepung cumi, dan tepung rebon yang memiliki kandungan asam amino berupa glisin serta prolin yang mampu berperan sebagai sumber atraktan alami.  Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh penambahan berbagai jenis atraktan dalam pakan uji terhadap respon dan pertumbuhan benih ikan gabus.  Penelitian ini menggunakan dua sistem wadah pemeliharaan, masing-masing untuk mengetahui respon pakan berupa stryrofoam dan pertumbuhan ikan berupa ember.  Benih ikan gabus berukuran 0,94±0,09 g.  Penelitian ini menggunakan metode rancangan acak lengkap dengan 4 perlakuan dan 3 kali ulangan.  Perlakuan tersebut A, B, C, dan D masing-masing adalah tanpa maupun dengan penambahan atraktan tepung bekicot, tepung cumi dan tepung rebon.  Dosis penambahan atraktan sebesar 3%.  Variabel yang diamati meliputi respon pakan, total konsumsi pakan (TKP), rasio konversi pakan (FCR), rasio efiisiensi protein (PER), laju pertumbuhan spesifik (SGR), dan tingkat kelulushidupan (SR).  Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan atraktan pada pakan uji berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap respon pakan, TKP, FCR, PER, SGR, tetapi tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap SR.  Perlakuan C (penambahan atraktan tepung cumi) memberikan hasil terbaik untuk respon pakan dengan presentase sebesar 78,67±3,21 % dalam waktu <0,30 detik/cm.  Nilai presentase dalam merespon, mendekati, dan menkonsumsi pakan uji sebesar 100%.  Perlakuan C juga memiliki nilai tertinggi untuk TKP 54,36±1,36 g; PER 2,17±0,05 %; SGR 2,78±0,08 %bobot/hari; nilai terendah untuk FCR 1,15±0,03.  Kualitas air pada kisaran yang layak untuk media pemeliharaan.  Kesimpulan yang diperoleh adalah penambahan tepung cumi sebagai bahan atraktan memberikan hasil terbaik terhadap respon pakan, total konsumsi pakan, dan pertumbuhan benih ikan gabus.
Pengaruh pengkayaan Brachionus rotundiformis dengan dosis vitamin (B1, B6, B12 dan vitamin C) berbeda dalam feeding regimes terhadap kelulushidupan dan pertumbuhan larva bandeng (Chanos chanos) Gina Salsabila; Suminto Suminto; Ristiawan Agung Nugroho
Sains Akuakultur Tropis : Indonesian Journal of Tropical Aquaculture Vol 3, No 2 (2019): SAT Edisi September
Publisher : Departemen Akuakultur FPIK UNDIP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1104.027 KB) | DOI: 10.14710/sat.v3i2.3363

Abstract

Ikan bandeng (Chanos chanos) merupakan komoditas perikanan air payau yang sangat potensial untuk dikembangkan dalam budidaya. Produksi larva bandeng dipengaruhi oleh jenis pakan alami rotifer. Peningkatan nutrisi rotifer dapat dilakukan melalui pengkayaan (enrichment) dengan vitamin B1, B6, B12 dan C. Kombinasi vitamin ini diharapkan mampu meningkatkan pertumbuhan dan kelulushidupan larva. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh pengkayaan B. rotundiformis dengan dosis vitamin (B1, B6, B12 dan C) yang berbeda terhadap kelulushidupan dan pertumbuhan larva. Pengambilan data dilakukan saat larva berusia D3 – D15 dan D15 – D20. Larva D3 dipelihara selama 20 hari di dalam 15 bak plastik yang berisi 30L air payau dengan kepadatan 600 ekor/bak. Penelitian menggunakan metode eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) terdiri atas 5 perlakuan dengan 3 kali pengulangan, yaitu: A (Pengkayaan rotifer 0 µg/mL vitamin B12 dan 0 µg/mL vitamin C), B (0,7 µg/mL vitamin B12 dan 4 µg/mL vitamin C), C (1,4 µg/mL vitamin B12 dan 4 µg/mL vitamin C), D (2,1 µg/mL vitamin B12 dan 4 µg/mL vitamin C), E (2,8 µg/mL vitamin B12 dan 4 µg/mL vitamin C). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengkayaan rotifer dengan vitamin B1, B6, B12 dan C berpengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap Pertumbuhan Panjang Relatif (PPR) dan SR larva D3 – D15 dan berpengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap FCR, EPP, PER, RGR, PPR dan SR larva D15 – D20. Pengkayaan rotifer dengan vitamin B12 1,4 µg/mL dan vitamin C 4 µg/mL memberikan nilai terbaik pada SR periode pemeliharaan D3 – D15 (53,11±0,45%) pada periode D15 – D20 (96,86±0.03%), sedangkan pengkayaan rotifer dengan vitamin B12 0,7 µg/mL dan vitamin C 4 µg/mL memberikan nilai terbaik pada FCR (0,72±0,033), EPP(139,09±5,954%), PER (3,48±0,14%), RGR(5,36±0,22%/hari) and PPR (2,94±0,039%/hari).
Performa efisiensi pemanfaatan pakan dan pertumbuhan lele sangkuriang yang dibudidaya di desa tambaksari, kecamatan rowosari, kabupaten kendal melalui penambahan enzim papain dalam pakan buatan Diana Rachmawati; Istiyanto Samidjan; Johannes Hutabarat; Seto Windarto; Ristiawan Agung Nugroho
Sains Akuakultur Tropis : Indonesian Journal of Tropical Aquaculture Vol 3, No 2 (2019): SAT Edisi September
Publisher : Departemen Akuakultur FPIK UNDIP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (534.85 KB) | DOI: 10.14710/sat.v3i2.5366

Abstract

Salah satu faktor penting dalam pemeliharaan lele sangkuriang (Clarias sp) adalah pakan. Biaya pakan dihitung sekitar 60-70% dari total biaya dalam satu siklus produksi. Tingginya porsi biaya pakan disebabkan oleh ketidakefisienan pakan. Salah satu solusi untuk mengatasi masalah tersebut adalah dengan menambahkan enzim papain dalam pakan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji pengaruh suplementasi enzim papain dalam pakan terhadap pertumbuhan dan tingkat kelangsungan hidup lele sangkuriang (Clarias sp) yang dipelihara di kolam, di Desa Tambaksari, Kecamatan Rowosari, Kabupaten Kendal, Provinsi Jawa Tengah, Indonesia. Bibit lele sangkuriang yang digunakan memiliki berat rata-rata 2,23 ± 0,56 g / benih. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap. Percobaan dilakukan dalam 4 (empat) perlakuan dan setiap perlakuan memiliki 4 (empat) pengulangan. Perlakuan terdiri dari penambahan enzim papain protease ke dalam pakan dengan dosis 0 mg / kg pakan (A), 0,75 mg / kg pakan (B), 1,5 mg / kg pakan (C) dan 2 , 25 mg / kg pakan (D). Hasil penelitian menunjukkan bahwa suplemen enzim papain dalam pakan secara signifikan (P <0,01) memengaruhi Specific Growth Rate (SGR); dan tidak berpengaruh signifikan (P> 0,05) Survival Rate  (SR) lele sangkuriang (Clarias sp). Dosis terbaik penambahan enzim papain adalah pada level 1,5 mg / kg pakan (perlakuan C) yang memiliki efek optimal pada pertumbuhan ikan. Parameter kualitas air masih dalam kisaran layak untuk membudidayakan lele sangkuriang (Clarias sp).
Pengaruh penambahan madu dengan dosis berbeda dalam media pengencer NaCl fisiologis terhadap kualitas sperma ikan tawes (Barbonymus gonionotus) Oni Septiana Devi; Titik Susilowati; Ristiawan Agung Nugroho
Sains Akuakultur Tropis : Indonesian Journal of Tropical Aquaculture Vol 3, No 2 (2019): SAT Edisi September
Publisher : Departemen Akuakultur FPIK UNDIP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (572.875 KB) | DOI: 10.14710/sat.v3i2.3904

Abstract

Silver barb (Barbonymus gonionotus) is one of the freshwater fish that is native in Indonesia. One of the problems in hatching of silver barb is because the maturation period of gamete broodstock male and female fish does not happen together. The solution to solving this problem is through the application of reproductive biotechnology in form of sperm storage. High sperm concentration can inhibit spermatozoa activity and affect sperm to find microphils. The addition of honey in dilute solution of physiological NaCl is expected to be able to improve the quality of sperm of silver barb. The aim this research was to know the effect and the best honey dosage in physiological NaCl on sperm quality of silver barb. The test fish that will be used in this research is 1 broodstock male and 1 broodstock female with 1-1,5 years old. In this research, the Completely Randomized Design experimental method is used. This research also using 4 treatments and 3 repetitions. Those treatment were A (0 ml honey + 100 ml physiological NaCl), B (0,2 ml honey + 99,8 ml physiological NaCl), C (0,4 ml honey + 99,6 ml physiological NaCl), D (0,6 ml honey + 99,4 ml physiological NaCl). The result of this research shows, addition of honey with different doses in dilute solution of physiological NaCl gave significant effect (p < 0,05) on fertilization rate and hatching rate of silver barb. The treatment D (0,6 ml honey + 99,4 ml physiological NaCl) gave the best on fertilization rate 90,67% and hatching rate 86,67%.
Pengaruh penggunan fermentasi tepung kulit buah kakao ( Theobroma cacao L.) dalam pakan terhadap efisiensi pemanfaatan pakan dan pertumbuhan ikan mas ( Cyprinus carpio.) Seravina Seravina; Subandiyono Subandiyono; Agung Sudaryono
Sains Akuakultur Tropis : Indonesian Journal of Tropical Aquaculture Vol 3, No 2 (2019): SAT Edisi September
Publisher : Departemen Akuakultur FPIK UNDIP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (971.042 KB) | DOI: 10.14710/sat.v3i2.3932

Abstract

Cacao pod husk (Theobroma cacao L.) is waste or by-products of agro-industry that was produced from cacao plants. The nutritional content of cacao pod husk consisted of 9,15% protein, 1,96 % lipid, 25,64 % crude fiber, 10,39% ash, and 52,86% nitrogen-free extract  (NFE). Crude fiber from cacao pod husk was difficult to be digested by fish.  The solution for that constraint was by applying fermentation proccess. This experiment was aimed to observe the influence of cacao pod husk flour which has been fermented first before added into the practical diets, on the feed efficiency and growth of carp (Cyprinus carpio). The trial fish used were carp (C. carpio) with an initial average body weight of 6,54 ± 0,07 g/fish. Feeding frequency applied was twice a day, i.e. at 08.00 a.m and 16.00 p.m. and by appliying an at satiation method. The fishes were cultured for 42 days with the stocking density of 1 fish/ 2L. The experimental method used was completely randomize design (RCD) with 4 treatments and 3 replicates. The treatment of A, B, C, and D were the trial diets with the concentration of cacao pod husk flour of 0, 10, 20, and 30%, respectively. The data measured were feed consumption, feed efficiency (FE), protein efficiency ratio (PER), growth (G), spesific growth rate (SGR), and survival rate (SR). The data showed that the use of fermented cacao pod husk flour in the diets resulted significant by effects (P<0,05) on the feed consumption, FE, PER,G, SGR, and SR. Treatment C resulted on the values of feed consumption i.e. 190.1±2.98g, FE i.e. 88.19±8.09%, PER i.e. 2.66±0.24%, G i.e. 7,26±0,11, SGR i.e. 1.68±0.13%, and SR i.e. 96,00±4,00%. The water quality parameters during this observe were varied between suitable range for fish life. It was concluded that the diet containing 20% of fermented cacao pod husk flour resulted on better feed efficency and growth of the carp.
Pertumbuhan dan produksi telur harpacticoida, Tigriopus sp. dengan salinitas media yang berbeda Suminto Suminto; Sarjito Sarjito; Rosalina Safitri; Diana Chilmawati
Sains Akuakultur Tropis : Indonesian Journal of Tropical Aquaculture Vol 3, No 2 (2019): SAT Edisi September
Publisher : Departemen Akuakultur FPIK UNDIP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (708.648 KB) | DOI: 10.14710/sat.v3i2.3957

Abstract

Tigriopus sp. merupakan salah satu copepoda harpaticoida yang digunakan sebagai pakan alami zooplankton untuk pakan ikan air laut dan udang. Tigriopus sp. lebih toleran terhadap perubahan kondisi lingkungan seperti suhu dan salinitas, yang dapat berpengaruh terhadap produktivitas dan kepadatan individu. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh salinitas media kultur yang berbeda terhadap pertumbuhan dan produksi telur Tigriopus sp. dan mengetahui salinitas terbaik serta salinitas optimal bagi pertumbuhan dan produksi telur Tigriopus sp. Rancangan yang digunakan ialah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 6 perlakuan dan 5 kali ulangan. Tigriopus sp. dengan kepadatan awal 1 ind/ml pada masing-masing perlakuan, dikultur pada media dengan salinitas yang berbeda selama 20 hari pemeliharaan. Salinitas media tersebut diantaranya 14 ppt (perlakuan A), 18 ppt (perlakuan B), 22 ppt (perlakuan C), 26 ppt (perlakuan D), 30 ppt (perlakuan E) dan 34 ppt (perlakuan F). Diet mikroalga yang diberikan ialah dari jenis Chaetoceros calcitrans dan Isochrysis galbana dengan kebutuhan 511.349:231.129 sel/ind/hari. Hasil menunjukkan bahwa salinitas berpengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap pertumbuhan namun tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap produksi telur Tigriopus sp. Hasil terbaik ditunjukkan pada perlakuan B (salinitas media 18 ppt) yang menghasilkan pertumbuhan dengan jumlah individu diakhir pemeliharaan sebanyak 47,8±0,31 ind/10 ml dan produksi telur Tigriopus sp. sebanyak 17,67±0,58 ind/10 ml. Jumlah individu terdiri dari stadia nauplii sebanyak 39,4±2,3 ind/10 ml, stadia copepodit sebanyak 3,8±1,1 ind/10 ml dan stadia dewasa sebanyak 5,4±2,1 ind/10 ml.
PRODUKSI PEMBENIHAN LELE DUMBO (Clarias gariepinus) STRAIN MUTIARA DAN PAYTON DENGAN PAKAN ALAMI CACING SUTERA DARI KULTUR YANG MEMANFAATKAN LIMBAH PERTANIAN Suminto Suminto; Titik Susilowati; Sarjito Sarjito; Diana Chilmawati
Sains Akuakultur Tropis : Indonesian Journal of Tropical Aquaculture Vol 3, No 1 (2019): SAT edisi Maret
Publisher : Departemen Akuakultur FPIK UNDIP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (574.036 KB) | DOI: 10.14710/sat.v3i1.4199

Abstract

Ikan lele dumbo (C. gariepinus) merupakan salah satu ikan konsumsi air tawar yang banyak digemari oleh masyarakat Indonesia. Jenis ikan lele strain mutiara dan payton, sebagai hasil pemuliaan mulai dikembangkan produksi benihnya guna memenuhi konsumsi pasar. Peningkatan produksi benih ikan lele, baik strain mutiara maupun payton, dapat dilakukan dengan penggunaan jenis pakan alami berupa cacing sutera yang dikultur di media dari limbah pertanian sehingga dapat mengurangi biaya produksi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui produksi benih ikan lele dari strain mutiara dan payton dengan pemberian jenis pakan alami berupa cacing sutera yang dikultur menggunakan limbah pertanian. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental, rancangan acak lengkap (RAL) dengan 2 perlakuan 5 kali ulangan. Ikan uji yang digunakan yaitu induk lele dumbo strain mutiara (rerata bobot betina 2.6±0.3 kg dan bobot jantan 1.5±0.1 kg) dan strain payton (rerata bobot betina 2.4±0.5 kg dan bobot jantan 1.2±0.2 kg). Perlakuan yang digunakan yaitu perlakuan A (strain mutiara) dan perlakuan B (strain payton). Variabel data yang diukur meliputi data produksi benih diantaranya jumlah telur (butir), HR (%) dan jumlah larva (ekor). Data lain yaitu TKP, FCR, RGR dan SR. Kualitas air pada media pemeliharaan tergolong dalam kisaran yang layak untuk pemeliharaan. Hasil penelitian menunjukkan produksi telur strain mutiara 94510±1423.7 butir dan strain payton 93010±1970.3 butir. Nilai HR strain mutiara 85.35±0.51% dan strain payton 84.02±1.29%. Jumlah larva yang dihasilakn induk strain mutiara 81064.8±1034.3 ekor dan strain payton 78595.6±2400.3 ekor. Hasil TKP strain mutiara sebesar 7.92±0.51 gr/ind dan payton 5.53±0.52gr/ind. Nilai FCR benih lele mutiara sebesar 1.15±0.00 dan lele payton 1.25±0.00. Nilai RGR benih lele mutira sebesar 7.1±0.00% dan strain lele payton sebesar 6.9±0.00% dan nilai SR benih lele mutiara 85.00±0.00% dan benih lele payton sebesar 80.00±0.00%.

Page 4 of 20 | Total Record : 196