cover
Contact Name
Archana Universa
Contact Email
Archana Universa
Phone
-
Journal Mail Official
archanauniversa@an1mage.net
Editorial Address
-
Location
Kota tangerang selatan,
Banten
INDONESIA
An1mage Jurnal Studi Kultural
Published by An1mage
ISSN : 24773492     EISSN : -     DOI : -
An1mage Jurnal Studi Kultural (AJSK ISSN: 2477-3492) menerima karya yang kritis, menguak mitos, membantu yang lemah dan terpinggirkan (termarginalkan) dalam melawan balik dari ketertindasan. Mayoritas belum tentu kuat, minoritas belum tentu lemah dan terpinggirkan. Mari membangun bangsa dengan pikiran kritis, pikiran kreatif, pikiran dengan analisis yang kuat dan membangun mental kita semua agar menjadi sepadan apa pun gendernya (gender equality). AJSK tidak hanya untuk sains sosial namun juga sains eksakta, sebab di sains eksakta juga muncul konstruksi mitos-mitos yang harus dibongkar (dekonstruksi) lebih kritis. Ilmu eksakta bukanlah dogma dan bukan pula agama, ilmu eksakta terus berkembang menuju penemuan-penemuan baru. Terobosan baru dalam teknik di bidang apa pun juga AJSK menerimanya.
Arjuna Subject : -
Articles 74 Documents
Radakng sebagai Pusat Kebudayaan Suku Dayak di Kalimantan Barat Johansen, Poltak
An1mage Jurnal Studi Kultural Vol 4 No 1 (2019): An1mage Jurnal Studi Kultural
Publisher : an1mage

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (232.586 KB)

Abstract

Rumah panjang (radakng) adalah rumah adat khas Kalimantan yang terdapat di berbagai penjuru Kalimantan, terutama di daerah hulu sungai yang biasanya menjadi pusat pemukiman suku Dayak. Rumah panjang mempunyai ciri-ciri yaitu: bentuk panggung, memanjang. Pada suku Dayak tertentu, pembuatan rumah panjang haruslah memenuhi beberapa persyaratan berikut: bagian hulunya haruslah searah dengan matahari terbit dan sebelah hilirnya ke arah matahari terbenam. Hal ini dianggap sebagai simbol dari kerja keras untuk bertahan hidup mulai dari matahari terbit hingga terbenam.
Challenges In Preparing Human Resources with Global Competence: A Case Study on The Dayak Community in Kalimantan Barat Sada, Clarry
An1mage Jurnal Studi Kultural Vol 4 No 1 (2019): An1mage Jurnal Studi Kultural
Publisher : an1mage

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (217.523 KB)

Abstract

This paper will focus on the Dayak tribe. In recent time, the participation of the Dayak in all aspects of life has existed though the participation is not significantly happen. In the aspect of politics, there are some Dayak’s politicians who are seated as the member of parliament or house of representatives. They have taken part actively in building and developing this nation though it is still under their expectation. The number of Dayak’s politicians to re[present their group might be not significantly with the Dayak’s population, therefore, their struggle to support their community might be not so strong.
Perbandingan Poinukadan (Peribahasa) Kadazandusun dengan Peribahasa Dayak: Satu Tinjauan Awal Kiting, Rosliah; Ganing, Patricia anak
An1mage Jurnal Studi Kultural Vol 4 No 1 (2019): An1mage Jurnal Studi Kultural
Publisher : an1mage

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (229.057 KB)

Abstract

Poinukadan atau dalam Bahasa Melayu peribahasa merupakan salah satu puisi warisan masyarakat Kadazandusun di Borneo Sabah.  Poinukadan merupakan satu kiasan atau bunga bahasa dalam kata-kata yang mampu menggambarkan sesuatu maksud yang tertentu yang lazimnya berlainan daripada makna asal.
Membaca Hasil Pemilu Indonesia Tahun 2019 Siregar, Mangihut
An1mage Jurnal Studi Kultural Vol 4 No 2 (2019): An1mage Jurnal Studi Kultural
Publisher : an1mage

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (205.034 KB)

Abstract

Sejak reformasi tahun 1998, Indonesia sudah berhasil melangsungkan beberapa kali pemilihan umum (Pemilu) yaitu, tahun 1999, 2004, 2009, 2014 dan 2019. Setiap Pemilu selalu mengalami perubahan undang-undang (UU). Perubahan ini diakibatkan kelemahan yang masih terjadi dalam setiap UU tersebut dan juga pergantian pemenang Pemilu. Pergantian pemenang Pemilu mengakibatkan perubahan UU karena harus disesuaikan dengan kepentingan partainya dan juga koalisinya. Pemilu tahun 2019 dikatakan Pemilu yang paling rumit di dunia. Dikatakan paling rumit karena Pemilu kali ini dilangsungkan secara serentak dalam satu hari untuk memilih presiden/wakil presiden dan anggota legislatif. Banyak pujian dari negara luar akan pelaksanaan Pemilu pada tanggal, 17 April 2019 yang berjalan dengan baik. Hasil Pemilu sudah diumumkan oleh Komisi Pemilihan Umum pada tanggal, 23 Mei 2019. Untuk pemilihan presiden/wakil presiden dimenangkan Joko Widodo-Ma’ruf Amin dengan kemenangan 55,41%, dan untuk legislatif dimenangkan PDI-P sebesar 19,33%. Kelompok yang menang menyambut baik hasil Pemilu dan mengatakan Pemilu 2019 berjalan sangat baik. Sebaliknya kelompok yang kalah menyebut, Pemilu 2019 merupakan Pemilu yang terjelek selama reformasi. Penilaian ini didasari akan kepentingan kelompok masing-masing. Apabila sesuai dengan kepentingannya disebut kebenaran, sebaliknya apabila berbeda dengan kepentingan sangat jauh dari kebenaran. Kebenaran dinilai berdasarkan kepentingan bukan berdasarkan fakta dan data.
Menyoal Perubahan Paradigma dari Kosmogoni ke Kosmologi Putranto, Hendar
An1mage Jurnal Studi Kultural Vol 4 No 2 (2019): An1mage Jurnal Studi Kultural
Publisher : an1mage

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (316.655 KB)

Abstract

Kesadaran manusia tentang asal-usul dirinya dan alam semesta yang melingkupinya sudah selalu berarti kisah transformasi cara pandang.Diawali kisah penciptaan dunia(kosmogoni) yang di dalamnya manusia belum menjadi subjek penentu,bergeser ke ilmu tentang tatanan atau keteraturan semesta (kosmologi) yang di dalamnya manusia sudah ikut ambil bagian sebagaisubjek penentu dirinya.Belajar melalui kosmogoni dan kosmologi dari sejarah Yunani kuno prasokratik, manusia sekarang dapat merefleksikan status ontologis singularitas dirinya maupun pluralitas alam semesta (multiverse) dan relasi di antara keduanya. Dilema pengembaraan intelektual manusia untuk memahami diri dan alam semesta sudah selalu meletak dalam tegangan antara keterbatasan kultur,epos sejarah,dan ruangwaktu mengada, di satu sisi, sekaligus upayanya untuk melampaui batas-batas yang ia ciptakan atau yang mengondisikan dirinya,di sisi lain. Enigma dilematis ini tampaknya lebih tepat ditanggapi dengan nalar yang memuisi yang menjangkau bukan hanya fakultas akal-budi untuk memahami (understand) namun juga fakultas imajinasi untuk melampaui kedirian (self) dan pendirian(stand).
Representasi Wacana Sultanah Keraton Yogyakarta di Media Massa Daring Gunarto, Wempy
An1mage Jurnal Studi Kultural Vol 4 No 2 (2019): An1mage Jurnal Studi Kultural
Publisher : an1mage

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (289.695 KB)

Abstract

Pasca Sabda Raja, Dawuh Raja, dan Sabda Jejering Raja yang dikeluarkan Sultan Hamengku Bawono ka 10 sepanjang tahun 2015, perpecahan terjadi di internal Keraton Yogyakarta. Sultan dianggap telah melanggar paugeran (aturan pokok dalam Keraton), di antaranya melepas gelar khalifatullah dan mengangkat putri sulungnya sebagai calon putri mahkota dengan memberinya nama GKR Mangkubumi, nama yang selama ini selalu digunakan oleh laki-laki yang akan menjadi pewaris takhta di Keraton Yogyakarta.   Posisi seorang raja di Jawa yang selama ini diagungkan dan dipandang sebagai pusat kekuasaan pun seakan terdegradasi, dengan munculnya kritik terbuka terhadap sultan oleh kelompok yang menolak Sabda Raja tersebut. Menggunakan Analisis Wacana Kritik model Teun A. van Dijk, peneliti menunjukkan bagaimana wacana tentang seorang pemimpin perempuan (sultanah) ditampilkan secara negatif oleh media daring paugeran.com dan sebaliknya ditampilkan secara positif oleh Keratonjogja.id selama periode tahun 2017. Kontruksi citra positif dan negatif tersebut ditampilkan dengan menggunakan elemen-elemen teks berita.   Pasca Sabda Raja, Dawuh Raja, dan Sabda Jejering Raja yang dikeluarkan Sultan Hamengku Bawono ka 10 sepanjang tahun 2015, perpecahan terjadi di internal Keraton Yogyakarta. Sultan dianggap telah melanggar paugeran (aturan pokok dalam Keraton), di antaranya melepas gelar khalifatullah dan mengangkat putri sulungnya sebagai calon putri mahkota dengan memberinya nama GKR Mangkubumi, nama yang selama ini selalu digunakan oleh laki-laki yang akan menjadi pewaris takhta di Keraton Yogyakarta.   Posisi seorang raja di Jawa yang selama ini diagungkan dan dipandang sebagai pusat kekuasaan pun seakan terdegradasi, dengan munculnya kritik terbuka terhadap sultan oleh kelompok yang menolak Sabda Raja tersebut. Menggunakan Analisis Wacana Kritik model Teun A. van Dijk, peneliti menunjukkan bagaimana wacana tentang seorang pemimpin perempuan (sultanah) ditampilkan secara negatif oleh media daring paugeran.com dan sebaliknya ditampilkan secara positif oleh Keratonjogja.id selama periode tahun 2017. Kontruksi citra positif dan negatif tersebut ditampilkan dengan menggunakan elemen-elemen teks berita.  
Komodifikasi Budaya: Komersialisasi Budaya Dayak di Pulau Dayak Gumelar, Michael
An1mage Jurnal Studi Kultural Vol 4 No 2 (2019): An1mage Jurnal Studi Kultural
Publisher : an1mage

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (453.827 KB)

Abstract

Budaya ngayau atau berburu, memproteksi area dari gangguan lawan bahkan bila diperlukan memenggal kepala pengganggu yang berasal dari suku lainnya, dan bahkan kepala tersebut dijadikan hiasan sebagai bukti ngayau  Budaya Dayak seiring perkembangan zaman mengalami transformasi nilai, dari sakral ke komersial dan sebaliknya. Budaya adalah nilai, nilai tersebut dapat dikonversikan ke bentuk baru sesuai keperluan, yaitu untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, tak elak suatu budaya yang sesuai akan diperlukan berubah guna mengayomi masyarakat itu sendiri ke depannya, sehingga membuka potensi adanya transformasi dan komodifikasi sesuai keperluan, hal ini juga terjadi di Suku Dayak yang diterapkan pada budaya Ngayau dan upacara Mara.
Tinjauan Awal: Revitalisasi Bahasa Bisaya di Perbatasan Brunei Darussalam dan Limbang Sarawak, Malaysia Alas, Yabit
An1mage Jurnal Studi Kultural Vol 4 No 2 (2019): An1mage Jurnal Studi Kultural
Publisher : an1mage

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (239.128 KB)

Abstract

Budaya ngayau atau berburu, memproteksi area dari gangguan lawan bahkan bila diperlukan memenggal kepala pengganggu yang berasal dari suku lainnya, dan bahkan kepala tersebut dijadikan hiasan sebagai bukti ngayau  Budaya Dayak seiring perkembangan zaman mengalami transformasi nilai, dari sakral ke komersial dan sebaliknya. Budaya adalah nilai, nilai tersebut dapat dikonversikan ke bentuk baru sesuai keperluan, yaitu untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, tak elak suatu budaya yang sesuai akan diperlukan berubah guna mengayomi masyarakat itu sendiri ke depannya, sehingga membuka potensi adanya transformasi dan komodifikasi sesuai keperluan, hal ini juga terjadi di Suku Dayak yang diterapkan pada budaya Ngayau dan upacara Mara.
MODERNISASI ESOT-ESOT Amalia, Fitriati
An1mage Jurnal Studi Kultural Vol 5 No 1 (2020): An1mage Jurnal Studi Kultural
Publisher : an1mage

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (412.21 KB)

Abstract

Esot-esot merupakan salah satu jenis kesenian yang berasal dari Masbagik Lombok Timur. Kesenian ini pada awalnya menggunakan alat-alat musik tradisional, dan digunakan untuk menghibur orang yang sedang bergotong-royong. Namun seiring perkembangan zaman alat-alat musik yang digunakan dan fungsinya juga semakin berkembang. Dalam perkembanganya esot-esot lebih dikenal dengan nama kecimol, yang lebih mirip dengan orkes jalanan. Kecimol sekarang ini sangat jauh berbeda dengan generasi sebelumnya. Modernisasi kesenian esot-esot ini kemudian dikaji dengan pendekatan simulakra. Sehinga bisa ditemukan dengan gamblang bagaimana simulakra itu terjadi pada kesenian esot-esot. Adapun data yang digunakan adalah buku-buku dan data hasil penelitian terkait dengan kecimol, esot-esot dan simulakra, selain itu, data yang digunakan juga dari media online, yakni dari beberapa portal berita online.
T-SHIRT SEBAGAI MEDIA PERLAWANAN TERHADAP WACANA REKLAMASI TELUK BENOA, BALI Wisudiatmika, Ida Bagus Adi
An1mage Jurnal Studi Kultural Vol 5 No 1 (2020): An1mage Jurnal Studi Kultural
Publisher : an1mage

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1023.827 KB)

Abstract

T-shirt telah diketahui memiliki kemampuan sebagai media penyampaian pesan. Salah satu nya adalah dipakainya T-shirt tersebut dalam gerakan perlawanan masyarakat Bali terhadap munculnya wacana reklamasi Teluk Benoa, dengan berbagai isu lingkungan, budaya, sosial dan ekonomi serta segala implikasi yang menyertainya. Berbagai perdebatan pun muncul baik formal yuridis, akademis, maupun informal, seperti aksi demonstrasi dan aksi-aksi seni-budaya.   T-shirt muncul dalam beragam desain baik itu yang bertemakan Tolak Reklamasi Teluk Benoa secara umum, maupun khusus dalam identitas kelompok pemakainya menyuarakan penolakan terhadap wacana reklamasi Teluk Benoa. Melalui ragam elemen visual dan desain yang bekerja dalam sistem penandaan menjadikan T-shirt  sebagai suatu media menyampaikan pesan perlawanan dengan segala ideologi di dalamnya, baik secara individu maupun kelompok.   Penelitian ini mengungkap bagaimana sistem penandaan tersebut hadir dan bekerja, implikasi apa saja yang muncul dari praktik penandaan dalam T-shirt tersebut, dari konsep hingga ideologi apa yang melatari sistem tanda yang dihadirkan, dan bagaimana pemaknaan tanda visual pada T-shirt  tadi bekerja sebagai wujud perlawanan dari pemakainya.   Bagaimana pula relasi kuasa bekerja di balik tindakan represif yang muncul dari akibat penggunaan T-shirt tadi, baik secara langsung maupun tidak, berkaitan dengan kuasa di balik wacana reklamasi Teluk Benoa tersebut, yang seharusnya dalam era kebebasan berekspresi dan berpendapat dijamin oleh negara, terlebih kaitannya dalam mengkritisi isu lingkungan hidup seperti wacana reklamasi Teluk Benoa di Bali.