cover
Contact Name
Archana Universa
Contact Email
Archana Universa
Phone
-
Journal Mail Official
archanauniversa@an1mage.net
Editorial Address
-
Location
Kota tangerang selatan,
Banten
INDONESIA
An1mage Jurnal Studi Kultural
Published by An1mage
ISSN : 24773492     EISSN : -     DOI : -
An1mage Jurnal Studi Kultural (AJSK ISSN: 2477-3492) menerima karya yang kritis, menguak mitos, membantu yang lemah dan terpinggirkan (termarginalkan) dalam melawan balik dari ketertindasan. Mayoritas belum tentu kuat, minoritas belum tentu lemah dan terpinggirkan. Mari membangun bangsa dengan pikiran kritis, pikiran kreatif, pikiran dengan analisis yang kuat dan membangun mental kita semua agar menjadi sepadan apa pun gendernya (gender equality). AJSK tidak hanya untuk sains sosial namun juga sains eksakta, sebab di sains eksakta juga muncul konstruksi mitos-mitos yang harus dibongkar (dekonstruksi) lebih kritis. Ilmu eksakta bukanlah dogma dan bukan pula agama, ilmu eksakta terus berkembang menuju penemuan-penemuan baru. Terobosan baru dalam teknik di bidang apa pun juga AJSK menerimanya.
Arjuna Subject : -
Articles 74 Documents
Cultural Design: Bencana Alat Transportasi Massal Implikasi Buruk bagi Indonesia sebagai Negara Nonprodusen Teknologi Gumelar, Michael Sega
An1mage Jurnal Studi Kultural Vol 3 No 2 (2018): An1mage Jurnal Studi Kultural
Publisher : an1mage

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (544.914 KB)

Abstract

Desain budaya (cultural design) bidang teknologi di Indonesia dibentuk karena impak globalisasi dan kepentingan negara lain yang membuat penduduk dan pemerintahan Indonesia menjadi sasaran pasar dari negeri produsen teknologi. Pemerintahan di Indonesia juga dikendalikan secara ideologi oleh negara lain sebagai negara target pasar. Hal ini membuat Indonesia cenderung menjadi negara “makelar” dengan hegemoni informasi dari negara lainnya sehingga Indonesia menjadi budak (hegeformaslaves) di bidang teknologi. Pemerintah, pebisnis, dan warga negara Indonesia yang telah menjadi hegeformaslaves ini  cenderung akan kehilangan nilai-nilai budaya aslinya dan mengelu-elukan produk serta budaya dari negara-negara pengendalinya (hegeformaslavers), negara-negara cengkeramannya kuat di Indonesia dalam bidang teknologi yang juga mengendalikan ekonomi di Indonesia ini adalah Jepang, Amerika Serikat, Jerman, Korea, China, India, dan beberapa negara-negara produsen lainnya. Lalu apa hubungannya dengan ragam bencana alat transportasi massal yang terjadi di Indonesia? Ada, karena Indonesia hanya sebagai negara target pasar dan didesain secara budaya agar dibuat tidak mengerti teknologi pembuatannya. Membuat Indonesia memiliki ketergantungan sangat tinggi kepada negara produsen teknologi. Sedangkan Indonesia saat ingin membuat sendiri teknologi tersebut tidak bisa, kemudian ingin menambah jumlah armada alat transportasi massal seperti bus, kapal laut, kereta, dan pesawat terbang menjadi semakin mahal, sedangkan keperluan ekonomi dan jumlah penduduk semakin meningkat.  Sehingga pada suatu titik keputusan secara logis cenderung membeli dan mengganti suku cadangnya saja. Seiring waktu  keserakahan bisnis karena kebutuhan ekonomi yang semakin memingkat juga muncul, hal ini membuat beban alat transportasi massal yang digunakan dipaksakan melebihi kemampuan alat transportasi massal tersebut, di sisi lainnya, ragam suku cadang untuk pengganti seadanya dengan kualitas buruk karena ketidakmampuan membeli suku cadang asli apalagi mesin sudah mulai tua, membuat implikasi potensi kecelakaan meningkat dari waktu ke waktu, hal ini telah terjadi. Lalu bagaimana tanggung jawab negara produsen? Ini hanya bisnis, tentu saja para negara hegeformaslavers bagi Indonesia tidak akan menyerahkan teknologinya kepada hegeformaslaves-nya (budak) sebab hal ini akan membuat Indonesia berubah menjadi negara produsen teknologi.
Kesetaraan Gender di Atas Rel Christin, Lidwina Hana
An1mage Jurnal Studi Kultural Vol 3 No 2 (2018): An1mage Jurnal Studi Kultural
Publisher : an1mage

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1053.219 KB)

Abstract

Kejadian yang melibatkan kesalahan persepsi gender ternyata banyak di Kereta Rel Listrik (KRL) Commuter Line. Transportasi massa yang menyediakan gerbong khusus wanita di bagian depan dan belakang rangkaian kereta ini tidak lantas menyelesaikan permasalahan, bahkan menimbulkan problematika baru seperti perkelahian antar penumpang perempuan di gerbong istimewa tersebut. Gerbong khusus wanita disediakan dengan alasan banyaknya kasus pelecehan seksual di Commuter Line, meski begitu tidak ada data pembanding apakah gerbong khusus ini sungguh memberikan manfaat nyata. Jika perempuan ingin sejajar dengan laki-laki, baiknya tidak berharap mendapatkan keistimewaan termasuk ketika menggunakan transportasi publik. Ketika di atas rel, perempuan terkadang menginginkan keistimewaan untuk duduk bahkan di fasilitas Tempat Duduk Prioritas (TDP), yang sesungguhnya diperuntukkan bagi orang tua lanjut usia, wanita hamil, kaum difabel, dan ibu yang membawa anak. Perempuan mesti menyadari, berjenis kelamin perempuan tidak lantas masuk kategori penumpang yang berhak atas TDP. Kesadaran dan empati perempuan untuk memberikan tempat duduk bagi penumpang yang berhak di KRL juga minim.
Komodifikasi Gantung-Gantungan dan Tamiang di Bali Ciptasari, Manik; Marbun, Saortua
An1mage Jurnal Studi Kultural Vol 3 No 2 (2018): An1mage Jurnal Studi Kultural
Publisher : an1mage

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (786.457 KB)

Abstract

Dalam dekade terakhir gantung-gantungan dan tamiang (gagantam) telah dikomodifikasikan. Halitu terjadi karena banyak kegiatan budaya masyarakat itu sendiri, dan banyak orang di Bali lebih suka membeli gagantam. Selain itu, ideologi pasar membuat orang merasa nyaman untuk membeli gagantam daripada membuatnya sendiri. Kondisi ini berkontribusi pada peluang bagi pedagang untuk mendapatkan keuntungan. Pedagang Bali dan orang-orang dari agama lain memiliki pekerjaan alternatif lain dengan menjual gagatam di pasar tradisional. Pasar tradisional di Bali memperkenalkan gantung-gantungan dan tamiang sebagai komoditas, di mana penjual dan pembeli melakukan pertukaran. Biasanya, mereka memesan gagantam dari penduduk desa yang memasok toko-toko seni mereka di pasar tradisional. Kondisi ini memberi peluang bagi pedagang di pasar untuk mengembangkan gagantam sebagai industri budaya secara kreatif. Meskipun keuntungan dari penjualan gagantam tidak banyak, mereka biasanya menjualnya pada malam menjelang liburan seperti Galungan, Kuningan, Tumpek Landep dan hari libur utama lainnya karena pada saat liburan ada peningkatan permintaan gagantam oleh Umat Hindu di Bali.
Komodifikasi Pura Keluarga di Bali Dewi, Ni Made Dwi Maharani; Marbun, Saortua
An1mage Jurnal Studi Kultural Vol 3 No 2 (2018): An1mage Jurnal Studi Kultural
Publisher : an1mage

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (745.106 KB)

Abstract

Kata Pura berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti kota atau benteng. Pura saat ini dalam konteks Hinduisme di Bali berarti tempat ibadah kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Bait keluarga dibangun agar setiap anggota keluarga dapat berdoa setiap hari. Pengusaha memproduksi, dan mendistribusikan bangunan pura keluarga dan menjualnya. Umat mendapatkan kenyamanan karena layanan dari para pembuat kuil. Penduduk setempat berpendapat bahwa komodifikasi pura keluarga sangat berharga bagi pengusaha untuk mempromosikan ekonomi dan tradisi. Produksi dan distribusi pura keluarga di Bali menunjukkan dinamisme penetrasi kapitalis. Para pelaku bisnis pura keluarga bersaing memanfaatkan berbagai modal untuk menciptakan bangunan pura keluarga dengan kualitas, ukuran, dan harga bervariasi untuk memenuhi permintaan pasar lokal dan internasional. Memang, seseorang dapat menghasilkan, mendistribusikan, menjual, atau membayar, misalnya, pura keluarga, tetapi tidak ada yang dapat memproduksi, mendistribusikan, dan menjual atau membayar berkat ilahi.
Perempuan Bali dalam Pergulatan Gender Rahmawati, Ni Nyoman
An1mage Jurnal Studi Kultural Vol 1 No 1 (2016): An1mage Jurnal Studi Kultural
Publisher : an1mage

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (492.842 KB)

Abstract

Gender merupakan interaksi sosial masyarakat yang membedakan perilaku antara laki-laki dan perempuan secara proporsional menyangkut moral etika dan budaya. Kekeliruan dalam merefleksikan konsep purusa dan pradana dalam wujud laki-laki dan perempuan dalam kehidupan sosial di masyarakat telah menimbulkan adanya ketimpangan dan ketidakadilan terhadap perempuan di Bali, yang memandang laki-laki memiliki kedudukan yang lebih istimewa dari pada perempuan. Hal ini tercermin dari pemberlakuan hukum adat yang masih belum memiliki kesetaraan gender  walaupun dari hasil penelitian terdahulu menyatakan bahwa Kaum Perempuan Bali tidak merasa mengalami ketidakadilan gender karena memaknai setiap perannya sebagai suatu kewajiban, walaupun sebenarnya Perempuan Bali merasakan beban kerja akibat ketimpangan peran yang diterimanya.  Hal ini kontradiktif dengan Pandangan Hindu yang memuliakan kaum perempuan sebagai kekuatan  sakti, yang memiliki  peran yang penting dalam penciptaan alam semesta .
Hegeformaslavery: OJS dan Jebakan Saling Tuding sebagai Jurnal Predator Gumelar, Michael Sega
An1mage Jurnal Studi Kultural Vol 3 No 1 (2018): An1mage Jurnal Studi Kultural
Publisher : an1mage

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (925.497 KB)

Abstract

Open journal system menjadi salah satu acuan bahwa suatu terbitan jurnal sudah membuka akses (open access system) kepada umum agar setiap artikel yang ada di dalamnya dapat diakses dan diunduh secara gratis. Tetapi ada juga open journal system di mana si penulis membayar biaya akses untuk open journal system tersebut. Kemudian ada content management system (CMS) yang juga bernama Open Journal System (OJS) menambah kebingungan arti dari istilah open journal system itu sendiri. Apa open journal system itu? Lalu mengapa ada banyak versi? Versi mana yang benar? Studi ini membahas tuntas apa itu open journal system. Juga secara relatif membuka jebakan dari beberapa penerbit yang bersaing secara ekonomi murni (kapitalisme) dan berhasil masuk pada jurnal yang di-index oleh Elsevier, Scopus. Kemudian terjadi inkonsistensi oleh Scopus karena beberapa jurnal yang sudah masuk dikeluarkan dari Scopus journal indexing system. Ada apakah? Karena ketidakmampuan para penerbit itu membayar biaya open access system? Atau karena kualitas yang buruk? Lalu mengapa Elsevier yang memiliki Scopus membuat Mendeley? Penulis juga memberikan solusi sebagai usulan kepada Pemerintah Indonesia yang selama ini telah menjadi hegeformaslaves dari para hegeformaslaver dalam sistem hegeformaslavery.
Genealogi Teori dan Metodologi di Cultural Studies Kumbara, A.A. Ngr Anom
An1mage Jurnal Studi Kultural Vol 3 No 1 (2018): An1mage Jurnal Studi Kultural
Publisher : an1mage

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (722.933 KB)

Abstract

Tujuan artikel ini adalah membahas  genealogi teori dan metodologi kajian budaya dalam hubungannya dengan disiplin lain yang menaruh perhatian terhadap fenomena budaya. Metode yang digunakan adalah studi kepustakaan. Hasil penelitian ini menemukan bahwa latar belakang munculnya cultural studies adalah  untuk melawan ketidakadilan dan ketidakpedulian masyarakat kapitalis terhadap budaya massa yang diproduksi oleh industri budaya. Teori utama yang digunakan cultural studies adalah hegemoni dan konstruksi budaya sembari memanfaatkan berbagai teori kritis yang berkelindan dengan disiplin-disiplin lain. Pendekatan yang digunakan adalah interdisipliner reflektif, yang dalam analisisnya membatasi antara subjek-subjek lain dan dirinya sendiri.
Komunikasi dalam Konteks Protokol Bisnis Multikultural Farhaeni, Mutria
An1mage Jurnal Studi Kultural Vol 1 No 2 (2016): An1mage Jurnal Studi Kultural
Publisher : an1mage

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (727.229 KB)

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh dan mengkaji informasi tentang komunikasi dalam konteks protokol bisnis multikultural. Multikultural bukanlah sesuatu yang akan hilang pada waktu mendatang, yang memungkinkan merencanakan strategi berdasarkan asumsi saling memahami. Asumsi itu sendiri merupakan suatu fenomena dengan kekayaannya sendiri, eksplorasi yang dapat menghasilkan keuntungan yang tak terhitung bagi kita, baik dari segi visi yang lebih luas maupun kebijakan dan kegiatan yang lebih menguntungkan. Protokol bisnis melibatkan bentuk perayaan, etiket, dan kode perilaku yang benar, penting untuk mengerti peraturan tersebut dalam transaksi bisnis. Bagaimanapun, seperti aturan perilaku pada umumnya, “peraturan” bisnis berkaitan dengan budaya. Metode pengumpulan data dilakukan dengan metode deskriptif dengan pendekatan kepustakaan. Hasil kajian ini kemudian dideskripsikan, dinarasi serta diinterpretasi dan disusun dalam bentuk makalah. Dari hasil kajian dapat disimpulkan bahwa protokol bisnis ini melibatkan bentuk perayaan, etiket, dan kode perilaku yang benar. Beberapa variasi protokol bisnis perlu diperhatikan untuk mencapai tujuan komunikasi bisnis multikultural ini.  Variasi tersebut seperti hubungan awal, cara menyapa, penampilan pribadi, pemberian hadiah, dan topik percakapan yang tabu.
Perjuangan Kritis Agama Kaharingan di Indonesia Etika, Tiwi
An1mage Jurnal Studi Kultural Vol 4 No 1 (2019): An1mage Jurnal Studi Kultural
Publisher : an1mage

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (280.897 KB)

Abstract

Kaharingan adalah agama yang lahir di Pulau Kalimantan, dipegang teguh oleh orang dan beberapa suku di Dayak, Kalimantan. Dipertahankan sebagai salah satu warisan leluhur dari salah satu suku di Dayak, dibudayakan ke generasi penerusnya, generasi pengikut Agama Kaharingan, berjuang, bertumbuh, mencari jati diri secara kritis dengan tantangan yang ada sesuai zamannya untuk generasi penerus di masa depan.
Interpretasi Istilah Mandi dalam Entelah (Teka-teki) di Masyarakat Suku Dayak Iban Ganing, Patricia anak; Kiting, Rosliah
An1mage Jurnal Studi Kultural Vol 4 No 1 (2019): An1mage Jurnal Studi Kultural
Publisher : an1mage

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (529.356 KB)

Abstract

Menafsirkan atau menginterpretasikan istilah yang terkandung dalam satu entelah atau disebut teka-teki di masyarakat suku Dayak, Iban, salah satu pecahan suku Dayak ini memiliki keunikan tersendiri. Setiap entelah mengandung makna tersendiri, dan entelah ini dikhususkan pada hal-hal yang berkaitan dengan istilah-istilah yang dilakukan saat dan untuk upacara mandi yang ada di Iban.