cover
Contact Name
Hendra Stevani
Contact Email
Hendra Stevani
Phone
-
Journal Mail Official
mediafarmasipoltekkesmks@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota makassar,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Media Farmasi
ISSN : 02162083     EISSN : 26220962     DOI : -
Core Subject : Health, Science,
Arjuna Subject : -
Articles 185 Documents
Formulasi dan Uji Mutu Fisik Sediaan lotion Sari Kering Herba Pegagan (Centella asiatica (L.) Urban ) Dengan Variasi Konsentrasi Emulgator Span dan Tween Arisanty Arisanty; Santi Sinala; Muli Sukmawaty; Andi Masna
Media Farmasi XXX Vol 16, No 1 (2020): Media Farmasi
Publisher : Jurusan Farmasi Politeknik Kesehatan Makassar, Kementerian Kesehatan RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (309.862 KB) | DOI: 10.32382/mf.v16i1.1424

Abstract

Pegagan (Centella asiatica (L.) Urb) merupakan tanaman yang banyak tumbuh di Indonesia dan telah terbukti secara ilmiah memiliki kemampuan sebagai  antioksidan. Penelitian ini bertujuan  untuk membuat formula lotion yang mengandung sari kering herba pegagan (Centella asiatica (L.) Urban) dengan variasi konsentrasi emulgator span dan tween, dan untuk mengetahui konsetrasi span dan tween yang menghasilkan lotion dengan mutu fisik yang paling stabil menggunakan uji kestabilan dipercepat. Emulgator yang digunakan dalam penelitian ini adalah span dan tween dengan konsentrasi 5%, 7,5%, dan 10%. Stabilitas sedian lotion ditentukan berdasarkan pengamatan mutu fisik sebelum dan sesudah penyimpanan dipercepat selama 6 siklus pada suhu 5oC dan 35oC yang meliputi uji organeleptis, uji homogentias, uji pH, uji viskositas, uji daya sebar, dan penentuan tipe emulsi. Kesimpulan dari hasil penelitian pada pengujian kestabilan mutu fisik formula I (emulgator 5%) tidak memenuhi syarat pada uji daya sebar sebelum penyimpanan dipercepat, sedangkan Formula II (Emulgator 7,5%) memenuhi persyaratan mutu fisik sediaan sebelum maupun sesudah penyimpanan dipercepat, dan formula III (emulgator 10%) tidak memenuhi syarat pada uji daya sebar setelah penyimpanan dipercepat, untuk tipe emulsi pada ketiga formula tersebut merupakan tipe emulsi M/A.  Mutu fisik yang paling stabil dari ketiga sediaan tersebut adalah formula II (emulgator 7,5%). Kata kunci : Lotion, herba pegagan (Centella asiatica (L.) Urb), mutu fisik, span dan tween.
EFEK PEMBERIAN PERASAN BAWANG PUTIH LANANG ( Allium sativum ( L.) TERHADAP DAYA HAMBAT PERTUMBUHAN Candida albicans, Streptococcus mutans dan Propionibacterium acnes Sisilia Rosmala Dewi; Hiany Salim; Djuniasty Karim
Media Farmasi XXX Vol 16, No 1 (2020): Media Farmasi
Publisher : Jurusan Farmasi Politeknik Kesehatan Makassar, Kementerian Kesehatan RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (105.57 KB) | DOI: 10.32382/mf.v16i1.1415

Abstract

Solo garlic is used as a traditional medicine with alisin suspected to have a broad spectrum of antifungal and antibacterial activity. This study determines the potential of garlic juice in inhibiting the growth of Candida albicans Streptococcus mutans, and Propionibacterium acnes along with their optimal concentration. The juice is extracted using a juicer in a concentration of 25%, 50%, and 100%, then tested through the agar diffusion method. The results show an average of inhibition at concentrations of 25%, 50% and 100% for Candida albicans of 31.33 mm, 31 mm and 33.66 mm, the Streptococcus mutans of 27 mm, 31.6 mm and 37 mm and the Propionibacterium acnes of 28 mm, 32.6 mm and 37 mm. Therefore, the concentration of freshly garlic juice of 25%, 50%, and 100% inhibits the growth of Candida albicans Streptococcus mutans, and Propionibacterium acnes. However, the most optimal concentration is 100%Keywords: Inhibitory Power, Solo Garlic, Candida albicans, Streptococcus mutans: Propionibacterium acnesBawang Putih Lanang biasa digunakan sebagai obat tradisional yang mengandung alisin yang diduga memiliki spektrum luas terhadap aktivitas antifungal dan antibakteri. Penelitian ini bertujuan mengetahui potensi perasan bawang putih lanang (Allium sativum L) dapat menghambat pertumbuhan bakteri Candida albicans Streptococcus mutans, dan Propionibacterium acnes beserta konsentrasi yang optimalnya. Bawang putih Lanang diambil sarinya dengan menggunakan metode perasan menggunakan juicer lalu dibuat dalam konsentrasi 25%, 50% dan 100% kemudian diuji menggunakan metode difusi agar. Hasil yang diperoleh memperlihatkan  rata-rata daya hambat pada konsentrasi 25%, 50% dan 100% terhadap Candida albicans  sebesar 31,33 mm, 31 mm dan 33,66 mm, pada Streptococcus mutans sebesar 27 mm, 31,6 mm dan 37mm dan pada Propionibacterium acnes sebesar 28 mm, 32,6 mm dan 37 mm sehingga dapat disimpulkan bahwa konsentrasi perasan bawang putih lanang (Allium sativum L) sebesar 25%, 50% dan 100% dapat menghambat pertumbuhan bakteri Candida albicans Streptococcus mutans, dan Propionibacterium acnes dan konsentrasi yang paling optimal sebesar 100%,Kata kunci : daya hambat, bawang putih tunggal, Candida albicans, Streptococcus mutans :Propionibacterium acnes
PROFIL KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS EKSTRAK KUNYIT (Curcuma longa Linn) SEGAR DAN SIMPLISIA DENGAN VARIASI METODE EKSTRAKSI Sadwika Najmi Kautsari; Edy Djauhari Purwakusumah; Waras Nurcholis
Media Farmasi XXX Vol 16, No 1 (2020): Media Farmasi
Publisher : Jurusan Farmasi Politeknik Kesehatan Makassar, Kementerian Kesehatan RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (211.576 KB) | DOI: 10.32382/mf.v16i1.1403

Abstract

Turmeric is a rhizome plant used as traditional Indonesian medicine. Generally, the extraction process influences the efficacy of turmeric in curing a disease. This study compares the thin layer chromatography profile (TLC) of turmeric extract based on variations in the extraction method. The extraction process was carried out using 70% ethanol solvent in fresh rhizomes and turmeric simplicia. The study used maceration, sonication, and microwave assistance techniques. The thin layer chromatography profiles were analyzed using curcuminoid standards in visible and UV light visualization (254 and 366 nm). The results showed higher yields in the fresh turmeric extracts through maceration extraction, sonication, and microwave-assisted techniques, respectively. The thin layer chromatography pattern using eluent chloroform dichloromethane (32.5: 67.5 v / v) showed the extract was separated into 3 - 4 compounds, with different curcuminoid thicknesses in each treatment. The thin layer chromatography profile with the highest quality of curcuminoid content was found successively in sonication simplicia,  maceration, and microwave simplicia extracts, as well as sonication fresh turmeric extract, maceration, and microwaves. The high yield of turmeric extract does not indicate an increase in the quality of the curcuminoid levels produced.Keywords: Turmeric, Thin Layer Chromatography, curcuminoids, extraction modificationKunyit merupakan tanaman rhizoma yang telah dimanfaatkan dalam pengobatan tradisional Indonesia. Khasiat kunyit dalam menyembuhkan suatu penyakit dipengaruhi oleh proses ekstraksinya. Penelitian ini bertujuan membandingkan profil kromatografi lapis tipis (KLT) ekstrak kunyit berdasarkan variasi metode ekstraksi. Proses ekstraksi dilakukan menggunakan pelarut etanol 70% pada rimpang segar dan simplisia kunyit. Teknik ekstraksi yang dilakukan adalah secara maserasi, sonikasi dan bantuan gelombang mikro. Profil kromatografi lapis tipis dianalisis dengan menggunakan standar kurkuminoid pada visualisasi sinar tampak serta UV  (254 dan 366 nm). Hasil penelitian menunjukkan rendemen yang lebih tinggi terdapat pada jenis ekstrak kunyit segar daripada simplisianya, secara berturut-turut melalui teknik ekstraksi maserasi, sonikasi, dan bantuan gelombang mikro. Pola kromatografi lapis tipis ekstrak dengan menggunakan eluen kloroform:diklorometan (32,5:67,5 v/v) menunjukkan bahwa ekstrak terpisah menjadi 3 - 4 senyawa, dengan  ketebalan kurkuminoid yang berbeda pada masing-masing perlakuan ekstraksi. Profil kromatografi lapis tipis dengan kualitas kadar kurkuminoid tertinggi terdapat pada ekstrak simplisia secara sonikasi, disusul dengan ekstrak simplisia secara maserasi dan gelombang mikro, serta ekstrak kunyit segar secara sonikasi, maserasi, dan gelombang mikro. Rendemen yang tinggi dari ekstrak kunyit tidak mengindikasikan kualitas kadar kurkuminoid yang dihasilkan semakin baik.Kata kunci: Kunyit, Kromatografi Lapis Tipis, kurkuminoid, modifikasi ekstraksi
GAMBARAN POLA PENGOBATAN DIABETES MELITUS PADA PASIEN GERIATRI DI INSTALASI RAWAT INAP RUMAH SAKIT TK. II PELAMONIA MAKASSAR Fajar, Desi Reski; Stevani, Hendra; Kamaruddin, Kamaruddin
Media Farmasi XXX Vol 16, No 1 (2020): Media Farmasi
Publisher : Jurusan Farmasi Politeknik Kesehatan Makassar, Kementerian Kesehatan RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (266.896 KB) | DOI: 10.32382/mf.v16i1.1475

Abstract

Pola pengobatan DM pada pasien geriatri memerlukan perhatian khusus karena berbagai masalah yang disebabkan oleh faktor fisiologis seperti penurunan masa otot, cairan tubuh, faktor farmakokinetik, farmakodinamik dan penurunan daya tahan tubuh. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui  gambaran pola pengobatan DM pada pasien geriatri di instalasi rawat inap Rumah Sakit TK.II Pelamonia Makassar pada bulan Januari ? Maret tahun 2019. Metode penelitian ini adalah purposive sampling dan diperoleh total sampel penelitian yang memenuhi kriteria inklusi yaitu 15 rekam medik pasien. kriteria inklusi dalam penelitian ini adalah pasien yang terdiagnosa DM dengan usia ? 60 tahun dan pasien yang mendapat pengobatan obat antidiabetik dan insulin. Dari data yang telah dikumpulkan selanjutnya diolah dengan membandingkan pedoman pengobatan DM American Diabetes Association (ADA tahun 2018) dan pustaka yang sesuai. Hasil penelitian mengatakan bahwa obat diabetes yang paling banyak digunakan untuk terapi tunggal adalah metformin 500 mg sebanyak 7 kasus (46,67). Banyaknya obat yang diresepkan untuk pasien geriatri akan menimbulkan banyak masalah termasuk polifarmasi.Kata kunci: diabetes mellitus, geriatri, Rumah Sakit TK. II Pelamonia, pola pengobatan
EFEK PEMBERIAN EKSTRAK ETANOL BIJI CORCHORUS CAPSULARIS TERHADAP KADAR AST DAN ALT TIKUS YANG DIINDUKSI DIAZINON Mirnawati Salampe; Marwati Marwati; Rahmad Aksa
Media Farmasi XXX Vol 17, No 1 (2021): Media Farmasi
Publisher : Jurusan Farmasi Politeknik Kesehatan Makassar, Kementerian Kesehatan RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32382/mf.v17i1.1863

Abstract

Diazinon is a class of organophosphate pesticides which reportedly causes toxicity in the liver through an oxidative process. Meanwhile, jute (Corchorus capsularis) have been shown to prevent oxidative damage due to its antioxidant activity. Therefore, this research aims to determine the effect of jute seed ethanol extract (Corchorus capsularis) on AST and ALT levels in diazinon-induced rats. The sample was obtained by extracting the seeds using the reflux method with 70% ethanol as a solvent. Furthermore, a total of 16 test animals divided into 4 groups were used. The first group was normal control, the second was negative control induced with diazinon, the third was given 10 mg/kg BW jute seed ethanol extract (Corchorus capsularis) while the fourth group was given 50 mg/kg thirty minutes before diazinon induction. The dose of diazinon administered to rats was 75 mg/kg BW. Statistical results showed that there were significant differences (p <0.05) in the AST and ALT levels of rats in groups three and four compared to normal controls. However, there was no significant difference in all groups induced by diazinon. Based on the results, the adminstrationof 10 and 50 mg/kg jute seed ethanol extract  in diazinon-induced rate is unable to return the liver damage biomarkers (AST and ALT) to normal levels.Keywords : Jute, diazinon, organophosphate, rat, AST, ALTDiazinon merupakan salah satu golongan pestisida organoposfat yang dilaporkan menyebabkan toksisitas di hati melalui proses oksidatif. Salah satu tanaman yang diduga mempunyai kemampuan untuk mencegah kerusakan oksidatif terkait aktivitas antioksidan yang dimilikinya yaitu jute(Corchorus capsularis). Tujuan penelitian adalah untuk menentukan efek pemberian ekstrak etanol biji jute (Corchorus capsularis) terhadap kadar AST dan ALT pada tikus yang diinduksi diazinon. Ekstrak etanol biji jute (Corchorus capsularis) diperoleh melalui ekstraksi biji menggunakan metode refluks dengan pelarut etanol 70%. Hewan uji yang digunakan sebanyak 16 ekor dibagi ke dalam 4 kelompok. Kelompok pertama merupakan kontrol normal, kelompok kedua merupakan kontrol negatif yang diinduksi diazinon, kelompok tiga diberikan ekstrak etanol biji jute (Corchorus capsularis) 10 mg/kgBB dan kelompok empat diberikan ekstrak etanol biji jute (Corchorus capsularis) 50 mg/kgBB tiga puluh menit sebelum induksi diazinon. Dosis diazinon yang diberikan pada tikus yaitu 75 mg/kgBB. Hasil statistik menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan (p<0,05) pada kadar AST dan ALT tikus kelompok tiga dan empat dibandingkan kontrol normal dan tidak terdapat perbedaan signifikan pada semua kelompok tikus yang diinduksi diazinon. Kesimpulan penelitian, pemberian ekstrak etanol biji jute (Corchorus capsularis) 10 mg/kgBB dan 50 mg/kgBB pada tikus yang diinduksi diazinon belum mampu mengembalikan biomarker kerusakan hati (AST dan ALT) ke level normal. Kata kunci: Jute, diazinon, organoposfat, tikus, AST, ALT
Pengaruh Ekstrak Daun Pare (Momordica charantia L.) Terhadap Pertumbuhan Streptococcus pneumonia, Staphylococcus epidermidis, Staphylococcus aureus Dan Klebsiella pneumonia Penyebab Infeksi Saluran Pernapasan Akut Sesilia Rante Pakadang; hiany Salim
Media Farmasi XXX Vol 16, No 2 (2020): MEDIA FARMASI
Publisher : Jurusan Farmasi Politeknik Kesehatan Makassar, Kementerian Kesehatan RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32382/mf.v16i2.1802

Abstract

Acute Respiratory Infection (ARI) is a contagious disease that affects the respiratory tract organs such as the sinuses, middle ear cavity until the pleura. Streptococcus pneumoniae, Klebsiella pneumonia, Staphylococcus aureus and Staphylococcus epidermidis are bacteria that causes ARI. This research aums to determine the effect of bitter melon leaf extract (Momordica charantia L.) on the growth of Streptococcus pneumoniae, Klebsiella pneumonia, Staphylococcus aureus and Staphylococcus epidermidis, which causes ISPA by measuring the inhibition zone of these bacteria growth. The bitter melon (Momordica charantia L.) leaf extract was prepared by maceration using 96% ethanol solvent and tested for its bacterial growth inhibitory using the disc diffusion agar method with MHA media. Furthermore, the extract was made with a concentration of 5,000 ppm, 10,000 ppm and 15,000 ppm as well as with a comparison of 50 ppm amoxicillin and control of Na CMC. The results showed that the mean bacterial growth inhibitory (mm) of the test material respectively at concentrations of 5,000 ppm, 10,000 ppm, 15,000 ppm, amoxicillin 50 ppm and Na CMC: for Streptococcus pneumoniae were 9,36; 12; 13,53; 17,75; 0. For Staphylococcus aureus were 16,82; 17,82; 22,24; 21,61; 0. For Staphylococcus epidermidis were 16,99; 18,78; 21,81; 22,11; 0. And for Klebsiella pneumonia were 11,82; 13,45; 14,7; 15,88; 0. Conclusion; Bitter melon leaf extract (Momordica charantia L.) influences the growth of Streptococcus pneumoniae, Klebsiella pneumoniae, Staphylococcus aureus and Staphylococcus epidermidis as the cause of ARI.Keywords: bitter melon leaf, Streptococcus pneumoniae, Klebsiella pneumonia, Staphylococcus aureus, Staphylococcus epidermidis, ARIInfeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) adalah penyakit infeksi yang menyerang organ  saluran napas seperti sinus, rongga telinga tengah hingga pleura. Streptococcus pneumoniae, Klebsiella pneumonia, Staphylococcus aureus dan Staphylococcus epidermidis penyebab ISPA adalah beberapa bakteri yang sering ditemukan sebagai penyebab ISPA. Tujuan penelitian ini adalah menentukan pengaruh Ekstrak Daun Pare (Momordica charantia L.) terhadap pertumbuhan bakteri Streptococcus pneumoniae, Klebsiella pneumonia, Staphylococcus aureus dan Staphylococcus epidermidis penyebab ISPAdengan mengukur zona hambat pertumbuhan bakteri tersebut. Ekstrak Daun Pare (Momordica charantia L.) dibuat dengan cara maserasi menggunakan pelarut etanol 96% dan diuji daya hambat pertumbuhan bakteri menggunakan metode disc diffusion agar menggunakan media MHA. Ekstrak daun pare dibuat dengan konsentrasi 5.000 ppm, 10.000 ppm dan 15.000 ppm dengan pembanding amoksisilin 50 ppm dan kontrol Na CMC. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rerata daya hambat (mm) pertumbuhan bakteri berturut-turut untuk bahan uji ekstrak daun pare konsentrasi 5.000 ppm, 10.000 ppm, 15.000 ppm, amoksisilin 50 ppm dan Na CMC: untuk Streptococcus pneumoniae adalah 9,36; 12; 13,53; 17,75; 0. Untuk Staphylococcus aureus adalah 16,82; 17,82; 22,24; 21,61; 0. Untuk  Staphylococcus epidermidis adalah 16,99; 18,78; 21,81; 22,11; 0. Untuk Klebsiella pneumonia  adalah 11,82; 13,45; 14,7; 15,88; 0. Kesimpulan; ekstrak daun pare (Momordica charantia L.) berpengaruh terhadap pertumbuhan bakteri Streptococcus pneumoniae, Klebsiella pneumonia, Staphylococcus aureus dan Staphylococcus epidermidis penyebab ISPA.Kata kunci: daun pare, Streptococcus pneumoniae, Klebsiella pneumonia, Staphylococcus aureus, Staphylococcus epidermidis, ISPA
Efektivitas Suspensi Ekstrak Etanol Umbi Bawang Putih (Allium sativum L.) Sebagai Diuretik Pada Tikus Putih Jantan (Rattus norvegicus) Selvi Marcellia; Dewi Chusniasih; Aprilia Andansari
Media Farmasi XXX Vol 16, No 2 (2020): MEDIA FARMASI
Publisher : Jurusan Farmasi Politeknik Kesehatan Makassar, Kementerian Kesehatan RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32382/mf.v16i2.1693

Abstract

Garlic (Allium sativum L.) contains phallovonoids and alkaloids, which have a mild effect on urine. However, it has not been scientifically proven. This research aims to determine the effectiveness of garlic ethanol extract (Allium sativum L.) as a diuretic in Sprague dawley male white rats and to determine the optimum dose of garlic ethanol extract 96% as a diuretic. This experiment was carried out on 20 rats divided into five groups, each group consists of 4 rats. Groups I, II, III received garlic extract with a concentration of 25mg/KgBW; 35mg/KgBW and 45mg/KgBW, while group IV received 0.5% Na.CMC as a negative control and group V as a positive control received furosemide at a dose of 20mg/kgBW. Based on the results, each treatment group I, II, III, IV, and V obtained an average urine volume value of 2.95 ml, 3.27 ml, 3.76 ml, 2.3 ml, 4. 57 ml. Therefore, it was concluded that all the treatment groups using garlic extract suspension were able to increase urine volume more than the control, in which the optimal dose of garlic extract suspension was 45 mg/kgBW, but the effect was smaller compared to furosemide (p <0.05).Keywords : Garlic Extract, Allium sativum, Diuretic, Suspension, EthanolBawang putih (Allium sativum L.) memiliki kandungan falovonoid dan alkaloid, yang diduga mampu memberikan efek pelancar kemih, namun hal ini masih perlu dibuktikan secara ilmiah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas ekstrak etanol bawang putih (Allium sativum L.) sebagai diuretik pada hewan tikus putih jantan galur Sprague dawley dan untuk mengetahui dosis optimum ekstrak etanol 96% bawang putih yang berkhasiat sebagai diuretik. Percobaan ini dilakukan terhadap 20 ekor tikus yang dibagi menjadi lima kelompok tiap kelompok terdiri dari 4 ekor tikus. Kelompok I, II, III diberikan ekstrak bawang putih dengan konsentrasi 25mg/KgBB; 35mg/KgBB dan 45mg/KgBB, sedangkan kelompok IV sebagai kontrol negatif diberikan Na.CMC 0,5 % dan kelompok V sebagai kontrol positif diberikan furosemid dengan dosis 20mg/kgBB. Dari hasil penelitian masing-masing kelompok perlakuan I, II, III, IV, dan V didapat nilai rata-rata volume urin yaitu 2,95 ml, 3,27 ml, 3,76 ml, 2,3 ml, 4,57 ml. Sehingga dapat disimpulkan semua kelompok perlakuan yang menggunakan suspensi ekstrak bawang putih mampu meningkatkan volume urin lebih besar dari kontrol dimana dosis optimal suspensi ekstrak bawang putih adalah 45 mg/kgBB namun efeknya masih lebih kecil jika dibandingkan dengan furosemid (p<0,05)Kata kunci : Ekstrak Bawang Putih, Allium sativum, Diuretik, Suspensi, Etanol
FORMULASI PATCH ANTIPIRETIK YANG MENGANDUNG EKSTRAK COCOR BEBEK (Kalanchoe pinnata) Santi Sinala; Ismail Ibrahim; Sisilia Teresia Rosmala Dewi
Media Farmasi XXX Vol 17, No 1 (2021): Media Farmasi
Publisher : Jurusan Farmasi Politeknik Kesehatan Makassar, Kementerian Kesehatan RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32382/mf.v17i1.1972

Abstract

Antipyretic Patch Formulation Containing Extract (Kalanchoe Pinnata)Fever in children requires special treatments coupled with practical use of drugs. Therefore, this research aims to formulate antipyretic patch preparations containing Kalanchoe pinnata plant extracts. The plant was first extracted using the maceration method, meanwhile, the patch formulation was made with 3 different concentrations of Na CMC base. Thereafter, the extract was then added to the base patch. The three formulas were tested for the characteristics, namely organoleptic, weight uniformity, thickness, percentage of water loss, pH, and folding resistance. The results showed that the three formulas have the same organoleptic color, namely green, F1 is not homogeneous, while F2 and F3 are homogeneous. Moreover, the three formulas met the weight uniformity requirements, while in the thickness test, F3 is thicker compared to F2 and F1. F3 has a water content greater than F2 and F1, meanwhile, the three formulas have a pH of 6 and folding resistance > 300 times. Based on the results, Formula 2 (F2) has better physical stability compared to F1 and F3.Keywords: Kalanchoe pinnata, patch, antipyreticDemam pada anak membutuhkan penanganan khusus  dimana penggunaan obat harus lebih praktis. Penelitian ini akan memformulasi sediaan patch bberbahadan dasar tanaman cocor bebek. Penelitian ini bertujuan untuk memformulasi sediaan patch antipretik yang mengandung ekstrak tanaman cocor bebek. Tanaman cocor bebek terlebih dahulu diekstraksi menggunakan metode maserasi untuk menghasilkan ekstrak. Formulasi patch dibuat dengan 3 konsentrasi basis Na CMC yang berbeda. Ekstrak kemudian ditambahkan ke dalam basis patch. Ketiga formula diuji karakteristiknya meliputi uji organoleptis, keseragaman bobot, uji ketebalan, persentase kehilangan air, uji pH dan uji daya tahan lipat. Hasil pengujian diperoleh dimana ketiga formula memiliki organoleptis warna yang sama yaitu hijau, F1 tidak homogen, sedangkan F2 dan F3 homogen. Pada uji keseragaman bobot, ketiga formula memenuhi syarat keseragaman bobot. Pada uji ketebalan, F3 lebih tebal dibandingkan dari F2 dan F1. F3 memiliki kadar air yang lebih besar dibandingkan dengan F2 dan F1. Pada uji pH, ketiga formula memiliki pH 6 dan memiliki kemampuan bertahan meski telah dilipat >300 kali. Formula 2 (F2) memiliki kestabilan fisik yang lebih baik disbanding dari F1 dan F3.Kata Kunci : Cocor bebek, patch, antipiretik
Identifikasi Kandungan Daun Nggorang (Salvia occindentalis Sw) Menggunakan Spektrofotometer GC-MS Sisilia Teresia Rosmala Dewi; Djuniasti Karim; Damaris Damaris
Media Farmasi XXX Vol 16, No 2 (2020): MEDIA FARMASI
Publisher : Jurusan Farmasi Politeknik Kesehatan Makassar, Kementerian Kesehatan RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32382/mf.v16i2.1806

Abstract

Nggorang or west indian sage (Salvia occidentalis Sw.) leaf from Tenda Village, Langke Rembong Subdistrict, Manggarai Regency, NTT Province. It is empirically used as an anticancer for breasts, coughs, and nosebleeds, but the leaf compounds needs to be studied. This research aims to identify the content contained in the leaf of west indian sage (Salvia occidentalis Sw) using GC-MS spectrophotometer. The leaves were extracted using the maceration method with methanol extractor, and the contents were analyzed using GC-MS with CP-Sil 5CB as the stationary phase. The results showed that the west indian sage (Salvia occidentalis Sw.) leaf contains: 3, 7, 11, 15-Tetramethyl-2-hexadecen-1-o1 [C2OH400], n-Hexadecanoid acid [C16H32O2], 7-Isopropyl-1, 1, 4a-trimethyl-1, 2, 3, 4. 4a ,9, 10a-, octahydrophenantrene [C20H300], Phytol [C20H40O], Podocarp-7-en-3β-o1,13β-methyl-13-vinyl [C20H32O], 1-Phenantrene methanol, 1, 2, 3, 4, 4a, 9, 10, 10a-octahydro-1, 4a-dimethyl-7- (1-methyl) -[1S(1α,4aα,10aβ)] [C20H30O], Heptriacotanol [C37H76O] (Alkohol), 9-(2’, 2’-Dimethy propanoilhydrazono)-3,6-dichloro-2, 7- bis-[2-(diethylamino)-ethoxy] fluorine[C30H42C12N4O3], 1- Phenanthrene carboxylic acid, 7-ethenyl-1, 2, 3, 4, 4a, 4b, 5, 6, 7, 9, 10, 10a-dodecahydro 4a, 7 dimethyl [1R(1α, 4aβ, 4bα, 7β, 10aα)][C19H28O2], 1, 2-Dihydro-11-oxo-prednisolone 11-dehydroxy-9-thiocynato [C22H27NO5S], therefore, it was concluded that west indian sage (Salvia occidentalis Sw.) leaves contain compounds such as Terpenoida, Palmitic Acid, Steroids, Chlorophyll, Vitamin A, Beta Carotene, Alcohol, Phenolic Acid, Testosterone, Prednisolone.Keywords : Chemical Ingredients, West indian sage (Salvia occidentalis Sw) leaf, GC-MSDaun Nggorang (Salvia occidentalis Sw.) yang berasal dari Desa Tenda Kecamatan Langke Rembong Kabupaten Manggarai Provinsi NTT. Secara empiris digunakan sebagai antikanker payudara, batuk, dan mimisan namun kandungan senyawa di dalam daun ini masih perlu diteliti. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kandungan yang terdapat pada Daun Nggorang (Salvia occidentalis Sw) secara spektrofotometer GC-MS. Daun Nggorang (Salvia occidentalis Sw.) diekstraksi menggunakan metode maserasi dengan cairan penyari metanol, lalu dianalisis kandungannya menggunakan GC-MS dengan fase diam CP-Sil 5CB. Hasil penelitian menunjukan Daun Nggorang (Salvia occidentalis Sw.) mengandung : 3, 7, 11, 15-Tetramethyl-2-hexadecen-1-o1 [C2OH400], n-Hexadecanoid acid [C16H32O2], 7-Isopropyl-1, 1, 4a-trimethyl-1, 2, 3, 4. 4a ,9, 10a-, octahydrophenantrene [C20H300], Phytol [C20H40O], Podocarp-7-en-3β-o1,13β-methyl-13-vinyl [C20H32O], 1-Phenantrene methanol, 1, 2, 3, 4, 4a, 9, 10, 10a-octahydro-1, 4a-dimethyl-7- (1-methyl) -[1S(1α,4aα,10aβ)] [C20H30O], Heptriacotanol [C37H76O] (Alkohol), 9-(2’, 2’-Dimethy propanoilhydrazono)-3,6-dichloro-2, 7- bis-[2-(diethylamino)-ethoxy] fluorine[C30H42C12N4O3], 1- Phenanthrene carboxylic acid, 7-ethenyl-1, 2, 3, 4, 4a, 4b, 5, 6, 7, 9, 10, 10a-dodecahydro 4a, 7 dimethyl [1R(1α, 4aβ, 4bα, 7β, 10aα)][C19H28O2], 1, 2-Dihydro-11-oxo-prednisolone 11-dehydroxy-9-thiocynato [C22H27NO5S], sehingga dapat disimpulkan Tanaman Daun Nggorang (Salvia occidentalis Sw.) mengandung senyawa Terpenoida, Asam Palmitat, Steroid, Klorofil, Vitamin A, Beta Karoten, Alkohol, Asam Fenolik, Testosteron, Prednisolon.Kata Kunci : Kandungan Kimia, Daun Nggorang (Salvia occidentalis Sw), GC-MS.
Efek Madu Trigona Terhadap Gambaran Histopatologi Ginjal Tikus Putih (Rattus norvegicus) Yang Diinduksi Atorvastatin Mirnawati Salampe; Sukamto S Mamada
Media Farmasi XXX Vol 16, No 2 (2020): MEDIA FARMASI
Publisher : Jurusan Farmasi Politeknik Kesehatan Makassar, Kementerian Kesehatan RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32382/mf.v16i2.1667

Abstract

Trigona honey is produced by the Trigona sp. bee with a high phenolic content which have antioxidant activity. Furthermore the prolonged use and high doses of atorvastatin causes nephrotoxicity side effects. This research aims to determine the effect of trigone honey on the histopathological image of the kidneys of white rat (Rattus norvegicus) induced by atorvastatin at 20 mg/Kg BW for 3 weeks and 40 mg/Kg BW for 2 weeks. Twenty one rats were divided into 7 groups, and each group received different treatment for 5 weeks. The normal control received 0.5% NaCMC, the negative control received atorvastatin, the positive control received CoQ10 at 100 mg/kgBW orally for 2 hours before atorvastatin induction, the honey control received honey at 4.5 mL/kgBW, treatment 1 group was given honey at 1.5 mL/kgBW 2 hours before atorvastatin induction, treatment 2 group was given honey at 3 mL/kgBW 2 hours before atorvastatin induction, and treatment 3 group was given honey at 4.5 mL/kgBW 2 hours before atorvastatin induction. After 5 weeks, surgery was carried out and then observed the histopathological image of the rats' kidneys. The results, based on the evaluation of the tubular and glomerular cell score, showed that the administration of honey trigon at a dose of 4.5 ml/kg light weight protects against kidney damage by the induction of atorvastatin.Keywords : Statins, Histopathology, Kidney, Trigona HoneyMadu Trigona merupakan madu yang dihasilkan oleh lebah Trigona sp. yang dilaporkan memiliki kandungan fenolik tinggi sehingga memiliki aktivitas antioksidan. Penggunaan atorvastatin dalam jangka waktu yang lama dan dosis tinggi dapat menimbulkan efek samping nefrotoksisitas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek madu trigona terhadap gambaran histopatologi ginjal tikus putih (Rattus norvegicus) yang diinduksi atorvastatin 20 mg/Kg BB selama 3 minggu dan 40 mg/Kg BB selama 2 minggu. Dua puluh satu ekor tikus dibagi menjadi 7 kelompok. Masing-masing kelompok mendapatkan perlakuan berbeda selama 5 minggu. Kontrol normal diberikan NaCMC 0,5%, kontrol negatif diberikan atorvastatin, kontrol positif diberikan CoQ10 100 mg/kgBB secara oral 2 jam sebelum induksi atorvastatin, kontrol madu diberikan madu 4,5 mL/kgBB, kelompok perlakuan 1  diberikan madu 1,5 mL/kgBB 2 jam sebelum induksi  atorvastatin, kelompok perlakuan 2 diberikan madu 3 mL/kgBB 2 jam sebelum induksi atorvastatin, dan kelompok perlakuan 3  diberikan madu 4,5 mL/kgBB 2 jam sebelum induksi atorvastatin. Setelah pemberian selama 5 minggu, dilakukan pembedahan kemudian dilakukan pengamatan gambaran histopatologi ginjal tikus. Hasil penelitian berdasarkan penilaian skor sel tubulus dan sel glomerulus menunjukkan bahwa pemberian madu trigona pada dosis 4,5 mL/kgBB memberikan perlindungan terhadap kerusakan ginjal yang disebabkan oleh induksi atorvastatin. Kata Kunci : Statin, Histopatologi, Ginjal, Madu Trigona

Page 11 of 19 | Total Record : 185