cover
Contact Name
Hendra Stevani
Contact Email
Hendra Stevani
Phone
-
Journal Mail Official
mediafarmasipoltekkesmks@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota makassar,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Media Farmasi
ISSN : 02162083     EISSN : 26220962     DOI : -
Core Subject : Health, Science,
Arjuna Subject : -
Articles 185 Documents
Efek Antihistamin Fraksi Etil Asetat Daun Kopasanda (Chromolaena odorata L.) pada Tikus Putih (Rattus norvegicus) yang DiInduksi Perasan Udang Prayitno, Suprapto; Temarwut, Farid Fani; Febrianti, Lilis
Media Farmasi XXX Vol 19, No 1 (2023)
Publisher : Jurusan Farmasi Politeknik Kesehatan Makassar, Kementerian Kesehatan RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32382/mf.v19i1.3127

Abstract

used ethnopharmacological by the community as a medicine derived from nature and contains alkaloids, saponins, flavonoids, tannins, quinones, steroids, coumarins, and phenolics. This study aims to determine the antihistamine effect of the ethyl acetate fraction of Kopasanda leaves (Chromolaena odorata L.) on white rats (Rattus norvegicus) which were previously acclimated for a week and given shrimp juice. The design in this study used a laboratory experiment where 15 white rats were separated into 5 groups, each group consisting of 3 rats. The first group was given Loratadine suspension as a control (+), the second group was sodium carboxymetic cellulose suspension as a control (-), the third, fourth and fifth groups as the treatment group were given the ethyl acetate fraction suspension of Kopasanda leaves (Chromolaena odorata L.) with a dose of 50 each , 100 and 200 mg/Kg BW all treatments were given orally. The results showed that the ethyl acetate fraction of Kopasanda leaves (Chromolaena odorata L.) at doses of 50 mg/Kg BW, 100 mg/Kg BW, and 200 mg/Kg BW had no efficacy as an antihistamine in white rats (Rattus norvegicus) that were given shrimp juice and it can be seen based on the decrease in Ig E levels at the pretest and posttest which was not statistically significant on the T-test, there was no significant difference (P<0.05).Keywords: Antihistaminic; Ethyl Acetate Fraction; Kopasanda Leaves; White RatsKopasanda (Chromolaena odorata L.) merupakan tanaman yang berasal dari keluargaAsteraceae dan telah digunakan secara etnofarmakologi oleh masyarakat sebagai obat yang berasal dari alam dan  mengandung senyawa alkaloid, saponin, flavonoid, tannin, kuinon, steroid, kumarin, dan fenolik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Efek antihistamin fraksi etil asetat daun Kopasanda (Chromolaena odorata L.) pada tikus putih (Rattus norvegicus) yang sebelumnya diaklimitasi selama seminggu dan diberikan perasan udang. Desain dalam penelitian ini menggunakan eksperimental laboratorium dimana 15 ekor tikus putih yang dipisahkan menjadi 5 kelompok, setiap kelompok terdiri dari 3 ekor tikus.  Kelompok pertama diberikan suspensi Loratadine sebagai kontrol (+), Kelompok kedua suspensi Natrium karboksimeticelulosa sebagai kontrol (-), Kelompok ketiga, keempat dan kelima sebagai kelompok perlakuan diberikan suspensi fraksi etil asetat daun Kopasanda (Chromolaena odorata L.) dengan dosis masing-masing 50, 100 dan 200 mg/Kg BB semua perlakukan diberikan melalui oral. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Fraksi etil asetat daun Kopasanda (Chromolaena odorata L.) dengan dosis 50 mg/Kg BB, 100 mg/Kg BB dan 200 mg/Kg BB tidak memiliki khasiat sebagai antihistamin pada tikus putih (Rattus norvegicus) yang berikan perasan udang dan dapat dilihat berdasarkan penurunan kadar IgE pada pretest dan posttest yang tidak signifikan secara statistik pada uji T-test tidak ada perbedaan bermakna (P<0,05).Kata kunci : Antihistamin; Daun Kopasanda; Fraksi Etil Asetat; Tikus Putih.
Efektivitas Ekstrak Daun Kelor (Moringa oleifera L.) Untuk Ulkus Peptikum Pada Tikus Putih (Rattus norvegicus) Yang Diinduksi Aspirin Indrisari, Maulita; Khairi, Nur; Muslimin, Lukman; Awaluddin, Akbar; Arisah, Arisah
Media Farmasi XXX Vol 19, No 1 (2023)
Publisher : Jurusan Farmasi Politeknik Kesehatan Makassar, Kementerian Kesehatan RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32382/mf.v19i1.3292

Abstract

Effectiveness of Moringa Leaf Extract (Moringa oleifera L.) for Peptic Ulcuses In Aspirine-Induced White Rats (Rattus norvegicus)Moringa (Moringa oleifera L). is a plant that is known for its multipurpose, nutrient-dense, and medicinal properties. Moringa leaves contain flavonoid compounds, namely β-sitosterol which can reduce ulcers in the stomach. This research used 15 male white rats divided into 5 groups, namely the normal group, CMC Na (Negative), ranitidine (Positive), and treatment with extract doses of 100 and 300 mg/kg BW. Test animals were induced by aspirin at a dose of 500 mg/kg for 7 days, then given treatment for 7 days, except for the normal group. On the 15th day, all groups were sacrificed, then the gastric organs were visually observed, and the ulcer index was measured. the observations it was found that the administration of the extract at a dose of 300 mg/kgBB decreased the number of ulcers compared to the positive control group (p>0.05). The extract dose of 300 mg/kg BW reduces the number of aspirin-induced ulcer diameters. The results of statistics with Kruskall-Wallis, there was a significant difference after treatment (p<0.05), but there was no significant difference between groups (p>0.05). Ethanol extract of Moringa leaves at a dose of 300 mg/kgBB can be gastroprotective in aspirin-induced male white rats.Keyword: Moringa leaves, gastroprotective, gastric ulcer, aspirinKelor (Moringa oleifera L).merupakan tanaman yang dikenal multi guna, padat akan nutrisi dan bermanfaat sebagai obat. Daun kelor mengandung senyawa flavonoid, yakni β-sitosterol yang dapat mengurangi tukak pada lambung. Penelitian ini menggunakan tikus putih jantan sebanyak 15 ekor yang dibagi dalam 5 kelompok yaitu kelompok normal, Na CMC (Negatif), ranitidine (Positif), dan perlakuan dengan dosis  ekstrak 100 dan 300 mg/kgBB. Hewan uji di induksi aspirin dosis 500 mg/kgBB selama 7 hari, kemudian diberi pengobatan selama 7 hari, kecuali kelompok normal. Pada hari ke-15 semua kelompok dikorbankan kemudian diamati organ lambung secara visual diukur indeks tukak. Dari hasil pengamatan diketahui bahwa pemberian ekstrak dosis 300 mg/kgBB terjadi penurunan jumlah tukak dibandingkan dengan kelompok kontrol positif  (p>0,05). Dosis ekstrak 300 mg/kgBB memberikan efek penurunan jumlah diameter tukak akibat induksi aspirin. Berdasarkan hasil perhitungan dengan Kruskall-Wallis menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan setelah perlakuan (p<0,05), namun tidak menunjukkan perbedaan signifikan antar kelompok (p>0,05). Ekstrak etanol daun kelor dengan dosis 300 mg/kgBB memiliki kemampuan sebagai gastroprotektif pada tikus putih  jantan yang diinduksi aspirin.Keyword : Daun kelor, gastroprotektif, tukak lambung, aspirin
Kadar Gula Pereduksi Dan Kadar Air Pada Madu Yang Beredar Di Kota Makassar Abdullah, Tajuddin; Nurisyah, Nurisyah; Asyikin, Asyhari
Media Farmasi XXX Vol 19, No 1 (2023)
Publisher : Jurusan Farmasi Politeknik Kesehatan Makassar, Kementerian Kesehatan RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32382/mf.v19i1.3006

Abstract

Reducing Sugar Levels and Water Content Of Honey Circulating In Makassar CityHoney has many benefits that people can use to improve their health, but the presence of fake honey can have an unwanted impact. This study aims to determine how much-reduced sugar and water content are contained in honey samples circulating in Makassar City. Sample testing was carried out with a qualitative test and a quantitative test. Qualitative testing used the Mollish reagent, Seliwanof reagent, and Fehling reagent and showed positive results for containing reducing sugars. Quantitative testing was carried out using the Luff School method. While testing the water content of honey is done by drying method using an oven. The results showed that the reducing sugar content of the three samples, namely the Honey A sample was 77.11%, the Honey B sample was 69.52%, and the Honey C sample was 85.17%. Meanwhile, the water content obtained by honey sample A was 25.39%, honey sample B was 21.21%, and honey sample C was 19.83%. Thus, it can be concluded that honey samples A, B, and C met the requirements for honey-reducing sugar content in SNI-01-3545-2004, namely at least 65% w/w. While the water content in Honey A does not meet SNI-01-3545-2004 honey quality standards: a maximum of 22% w/w and those that meet the requirements are Honey B and C samples with a water content of less than 22% w/w.Keywords: Honey, Reducing Sugar, Moisture Content, Luff Schrool Method, Gravimetric MethodMadu memiliki banyak manfaat yang dapat digunakan oleh masyarakat untuk meningkatkan Kesehatan, namun adanya madu yang palsu malahan dapat memberikan dampak yang tidak diinginkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui berapa besar kadar gula reduksi dan kadar air yang terdapat pada sampel madu yang beredar di Kota Makassar. Pengujian sampel dilakukan dengan Uji Kualitatif dan Uji Kuantitatif. Pengujian secara kualitatif menggunakan Pereaksi Mollish, Pereaksi Seliwanof, dan Pereaksi Fehling dan menunjukkan hasil positif mengandung gula pereduksi. Pengujian secara kuantitatif dilakukan dengan metode Luff Schrool. Sedangkan pada pengujian kadar air madu dilakukan dengan metode pengeringan dengan menggunakan oven. Hasil penelitian diperoleh kadar gula reduksi dari tiga sampel yaitu sampel Madu A sebesar 77,11 %, sampel Madu B sebesar 69,52 %, dan sampel Madu C sebesar 85,17 %. Sedangkan kadar air yang diperoleh sampel madu A sebesar 25,39 %, sampel madu B sebesar 21,21 %, dan sampel madu C sebesar 19,83 %. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa sampel madu A, B, dan C memenuhi syarat kadar gula reduksi madu pada SNI-01-3545-2004 yaitu minimal 65% b/b. Sedangkan kadar air pada Madu A tidak memenuhi SNI-01-3545-2004 standar kualitas madu : maksimal 22 % b/b dan yang memenuhi syarat yaitu sampel Madu B dan C dengan kadar air kurang dari 22 % b/b.Kata Kunci : Madu, Gula Pereduksi, Kadar Air, Metode Luff Schrool, Metode Gravimetri
Potensi Lendir Ikan Lele (Clarias gariepinus) Dan Kolagen Sisik Ikan Bandeng (Chanos Chanos) Sebagai Serum Anti Jerawat Wahyuni, Yuyun Sri; Thahir, Zakiah
Media Farmasi XXX Vol 19, No 1 (2023)
Publisher : Jurusan Farmasi Politeknik Kesehatan Makassar, Kementerian Kesehatan RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32382/mf.v19i1.3230

Abstract

Potential Mucus Catfishes (Clarias gariepinus) and Collagen Scales Milkfish (Chanos chanos) asSerumAntiAcneAlong with the times, acne which was once considered a normal condition has now been classified as a chronic disease that psychologically affects the quality of life. The serum is a preparation with concentrated active ingredients and a small amount of solvent content. With its low viscosity, it delivers active substances through the skin's surface by forming a thin film so that the effect is absorbed more quickly by the skin, providing a more comfortable effect, and spreading more easily on the skin's surface. The purpose of this study was to make an anti-acne serum from catfish mucus (Clarias gariepinus) and milkfish scale collagen (Chanos chanos) and to test the physical quality of serum preparations, including organoleptic, homogeneity, pH, viscosity, spreadability and adhesion. In this study, 4 formulas were made, namely, formula 1 consisting of a base, formula 2 containing the active substance of catfish slime, formula 3 containing the active substance of milkfish scale collagen, and formula 4 consisting of a combination of the active substance of catfish slime and milkfish scale collagen. The results showed that anti-acne serum from catfish mucus (Clarias gariepinus) and milkfish scale collagen (Chanos chanos) had met the physical quality requirements of serum preparations and could inhibit the growth of Staphylococcus aureus bacteria with an inhibitory zone of 28.33 mm and the preparation did not cause irritation to the skin.Keywords: Antiacne, Clarias gariepinus, Chanos, SerumSeiring berkembangnya zaman, jerawat yang dulunya dianggap sebagai kondisi normal kini telah tergolong ke dalam penyakit yang kronik yang berpengaruh secara psikologis terhadap kualitas hidup. Serum merupakan sediaan dengan konsentrasi bahan aktif konsentrat dan sedikit kandungan pelarut. Dengan viskositasnya yang rendah menghantarkan zat aktif melalui permukaan kulit dengan membentuk lapisan film tipis sehingga efeknya lebih cepat diserap kulit, memberikan efek yang lebih nyaman dan lebih mudah menyebar di permukaan kulit. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membuat serum anti jerawat dari lendir ikan lele (Clarias gariepinus) dan kolagen sisik ikan bandeng (Chanos chanos) dan untuk menguji mutu fisik sediaan serum, meliputi organoleptik, homogenitas, pH, viskositas, daya sebar dan daya lekat. Pada penelitian ini dibuat 4 formula yaitu formula 1 hanya terdiri dari basis, formula 2 mengandung zat aktif lendir lele, formula 3 mengandung zat aktif kolagen sisik ikan bandeng, dan formula 4 terdiri dari kombinasi zat aktif lendir lele dan kolagen sisik ikan bandeng. Dari hasil penelitian diperoleh bahwa serum anti jerawat dari lendir ikan lele (Clarias gariepinus) dan kolagen sisik ikan bandeng (Chanos chanos) telah memenuhi persyaratan mutu fisik sediaan serum, dapat menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus dengan zona hambat sebesar 28,33 mm serta sediaan tidak menyebabkan iritasi pada kulit.Kata kunci : Anti jerawat, Clarias gariepinus, Chanos chanos, Serum.
Formulasi Dan Uji Efektivitas Anti Inflamasi Sediaan Krim Ekstrak Etanol Daun Sirsak (Annona muricata L.) Secara In Vitro Chalik, Raimundus; Karim, Djuniasti; Hidayati, Hidayati; Haryuni, Haryuni
Media Farmasi XXX Vol 19, No 1 (2023)
Publisher : Jurusan Farmasi Politeknik Kesehatan Makassar, Kementerian Kesehatan RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32382/mf.v19i1.3300

Abstract

Formulation and Anti-Inflammatory Effectiveness of Ethanol Extracts of Soursop Leaves (Annona Muricata L.) Using In Vitro AssayInflammation-reducing medications like steroids and non-steroid anti-inflammatory drugs (NSAIDs) are known to have considerable side effects, so an alternative with minimal side effects is needed. Besides administering anti-inflammatories orally, topical preparations are also increasingly being developed for reasons of practicality and minimal side effects that can occur. Soursop leaves (Annona muricata L.) are commonly utilized by the community as a medicinal plant for treating inflammation. Several studies have shown that soursop leaf extract has anti-inflammatory effects. This research is a laboratory experimental study that aims to test the effectiveness of anti-inflammatory cream preparations of soursop leaf extract in vitro. The cream preparations that had been formulated were tested for stability before and after accelerated storage. Anti-inflammatory effectiveness test in vitro using protein denaturation inhibition method by making each series of Na positive control solution. Diclofenac, cream preparation, and negative control were dissolved using 0.2% BSA solution in TBS solvent pH 6.2 – 6.5. Then the solution was incubated for 30 minutes and heated for 2 minutes at 1000C. After cooling, the solution was homogenized, and absorbance was measured using a UV-visible spectrophotometer at a wavelength of 660 nm. Anti-inflammatory effectiveness is seen from the IC50 value. The results showed that soursop leaf extract cream preparations could inhibit protein denaturation. An IC50 value of 291.11 µg/mL.Keywords: Soursop leaves, anti-inflammation, in vitro, protein denaturatioObat-obat anti-inflamasi seperti golongan steroid dan anti-inflamasi non steroid (AINS) diketahui memiliki efek samping yang patut diperhitungkan sehingga diperlukan suatu alternatif dengan efek samping minimal. Di samping pemberian anti inflamasi per oral, juga semakin banyak dikembangkan sediaan topikal dengan alasan kepraktisan dan efek samping minimal yang dapat ditimbulkan. Salah satu tanaman obat yang sering digunakan oleh masyarakat untuk mengobati inflamasi adalah daun sirsak (Annona muricata L.). Beberapa penelitian menunjukkan bahwa ekstrak daun sirsak memiliki efek anti-inflamasi. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratorium yang bertujuan untuk menguji efektivitas sediaan krim anti-inflamasi ekstrak daun sirsak secara in vitro. Sediaan krim yang telah diformulasi diuji stabilitasnya sebelum dan sesudah penyimpanan dipercepat. Efektivitas anti-inflamasi diuji secara in vitro menggunakan metode inhibisi denaturasi protein dengan membuat masing-masing seri larutan kontrol positif Na. Diklofenak, sediaan krim, dan kontrol negatif yang dilarutkan menggunakan larutan BSA 0,2 % dalam pelarut TBS pH 6.2 – 6.5. Kemudian larutan diinkubasi selama 30 menit dan dipanaskan selama 2 menit pada suhu 1000C. Setelah dingin, larutan dihomogenkan dan dilakukan pengukuran absorbans dengan spektrofotometer UV-Visibel pada panjang gelombang 660 nm. Hasil penelitian menunjukkan sediaan krim ekstrak daun sirsak dapat menghambat denaturasi protein dilihat. Nilai IC50 sebesar 291.11 µg/mLKata kunci : Daun sirsak, anti inflamasi, in vitro, denaturasi protein