cover
Contact Name
Muhammad Syahrir
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
ma.puslitbangkan@gmail.com
Editorial Address
Jl. Sungai Musi Km. 09 Tanete Riattang Timur Kabupaten Bone, Sulawesi
Location
Kab. bone,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Media Akuakultur
ISSN : 19076762     EISSN : 25029460     DOI : 10.15578/ma
Media Akuakultur as source of information in the form of the results of research and scientific review (review) in the field of applied aquaculture including genetics and reproduction, biotechnology, nutrition and feed, fish health and the environment, and land resources in aquaculture.
Arjuna Subject : -
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 14, No 2 (2019): (Desember, 2019)" : 7 Documents clear
STUDI KOMPARATIF EFEK PENGGUNAAN PAKAN MANDIRI DAN PAKAN KOMERSIAL DALAM BUDIDAYA IKAN NILA SRIKANDI (Oreochromis aureus x O. niloticus) DI KABUPATEN BREBES, JAWA TENGAH Shofihar Sinansari; Bambang Priono; Priadi Setyawan
Media Akuakultur Vol 14, No 2 (2019): (Desember, 2019)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (61.98 KB) | DOI: 10.15578/ma.14.2.2019.105-111

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengevaluasi penggunaan pakan mandiri dan pakan komersil untuk pakan ikan nila srikandi di Brebes, Jawa Tengah. Pemeliharaan ikan nila srikandi dilakukan menggunakan tambak yang berukuran ± 3.000 m2 sebanyak tiga unit di mana setiap petak tambak disekat menjadi dua sehingga terdapat enam unit petak percobaan. Setiap unit percobaan ditebar sebanyak 10.000 ekor benih ikan. Ikan nila srikandi dipelihara selama empat bulan dan diberi pakan harian sebanyak 1%-2% dari bobot tubuh pada pukul 07.00, 12.00, dan 17.00. Ikan diberi pakan uji pada bulan ke-1 dan ke-2 sebanyak 1% dari bobot tubuh, kemudian pemberian pakan ditingkatkan menjadi 2% pada pemeliharaan bulan ke-3 dan ke-4. Performa ikan nila srikandi (pertumbuhan, laju pertumbuhan, dan kelangsungan hidup) yang diberi pakan mandiri dan pakan komersil diuji dengan menggunakan uji-T. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan ikan nila srikandi tidak berbeda nyata antara yang diberi pakan pakan mandiri dengan yang diberi pakan komersil (P>0,05). Kemudian, hasil produksi ikan nila srikandi yang diberi pakan mandiri mencapai 2.214 ± 172,69 kg dan pakan komersil 2.248,5 ± 234,85 kg. Berdasarkan hasil analisis usaha penggunaan pakan mandiri pada budidaya nila srikandi lebih direkomendasikan dibandingkan dengan pakan komersil.The purpose of this study was to determine the effects of locally-produced and commercial feeds on the growth of Srikandi tilapia cultured in fish farming areas of Brebes Regency, Central Java. Tilapia Srikandi were cultured in three ponds sized approximately ± 3,000 m2. Each pond was divided into two sections divided by a net, which resulted in six experimental plots. Each experimental plot was stocked with 10,000 fish seeds. Srikandi tilapia were maintained for four months and given daily feed as much as 1%-2% of body weight with feeding time at 07.00, 12.00, and 17.00. The fish were given test feeds in the 1st and 2nd month as much as 1% of body weight. The feeding level was increased to 2% in the 3rd and 4th months. The performances of Srikandi tilapia (growth, growth rate, and survival) fed with the two feed types were tested using the T-test. The results showed that there was no statistically significant difference on growth performance between fish fed with locally-produced feed and commercial feed (P>0.05). The total harvest of Srikandi tilapia fed with the locally produced feed reached 2,214 ± 172.69 kg and 2,248.5 ± 234.85 kg for the commercial feed. This study suggests that in terms of economic efficiency, the use of the locally-produced feed in Srikandi tilapia farming is more profitable compared to the use of commercial feed.
PENGARUH SUMBER SPERMATOFORA PADA INSEMINASI BUATAN INDUK BETINA UDANG WINDU TURUNAN PERTAMA (F-1) TERHADAP PEMIJAHAN, KUALITAS TELUR, DAN LARVA TURUNANNYA (F-2) Samuel Lante; Usman Usman
Media Akuakultur Vol 14, No 2 (2019): (Desember, 2019)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (87.101 KB) | DOI: 10.15578/ma.14.2.2019.63-71

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pemijahan udang windu betina F-1 dan mutu telur, serta larva turunannya (F-2) dengan inseminasi buatan menggunakan sumber spermatofora udang jantan yang berbeda. Perlakuan yang dicobakan adalah induk udang windu betina F-1 diinseminasi menggunakan spermatofora dari sumber induk jantan berbeda yaitu: spermatofora induk jantan F-1 hasil budidaya (S-1), dan spermatofora induk jantan alam (S-A). Data pemijahan induk betina, kualitas telur, dan profil asam amino pada daging dan hepatopankreas jantan, serta morfologi larva dianalisis secara deskriptif, sedangkan data uji vitalitas larva dianalisis uji t. Hasil penelitian menunjukkan bahwa induk udang windu betina F-1 yang diinseminasi dengan perlakuan S-1 memiliki tingkat pemijahan 67%; fekunditas 179.257 butir/induk; total produksi telur 1.434.053 butir; tingkat pembuahan telur 86,2%; daya tetas telur 59,8%; dan total produksi nauplii 738.439 ekor yang lebih rendah dibandingkan pada induk udang F-1 yang diinseminasi perlakuan S-A yang memiliki tingkat pemijahan 75%; fekunditas 215.489 butir/induk; total produksi telur 1.939.399 butir; tingkat pembuahan telur 88,9%; daya tetas telur 62,7%; dan total produksi nauplii 1.081.140 ekor. Sementara diameter telur (248-255 µm) dan mutu larva relatif sama di antara kedua perlakuan. Profil asam amino hepatopankreas dan daging pada induk udang jantan alam lebih tinggi dibandingkan pada induk udang jantan F-1. Penggunaaan spematofora jantan alam masih lebih baik daripada jantan budidaya pada inseminasi induk betina F-1 udang windu.This study was aimed at evaluating the spawning rate of F-1 female tiger shrimp and the quality of their egg and larvae derivatives (F-2) by artificial insemination using different sources of male shrimp spermatophore. The treatments consisted of broodstock of F-1 female tiger shrimp inseminated with different male spermatophores, namely: cultivated F-1 male spermatophore (S-1), and wild male spermatophore (S-A). Data on spawning performance of F-1 female tiger shrimp and amino acid profile in the hepatopancreas and muscle of male tiger shrimp and larval morphology were analyzed descriptively.The vitality of larvae was analyzed using t-test. The results showed that the broodstock of F-1 female tiger shrimp inseminated with S-1 treatment had spawning rate of 67%; fecundity of 179,257 egg; total egg production of 1,434,053 eggs; egg fertilization rate of 86.2%; hatching rate of 59.8%; and total nauplii production of 738,439 ind. Broodstock of F-1 female inseminated with S-A treatment had higher values for spawning rate of 75%, fecundity of 215,489 egg; total egg production of 1,939,399 egg; egg fertilization rate of 88.9%; hatching rate of 62.7%; and total nauplii production of 1,081,140 ind. The produced egg diameter (248-255 ¼m) and larva quality were relatively same between the two treatments. Amino acid profiles in the hepatopancreas and muscle were higher in the wild male broodstock compared to the cultivated (F-1) male broodstock. In conclusion, wild male spermatophore is generally better than the cultivated F-1 male spermatophore for artificial insemination of female broodstock F-1. 
SUPLEMENTASI RAGI ROTI (Saccharomyces cerevisiae) DALAM PAKAN PEMBESARAN IKAN BARONANG (Siganus guttatus) Kamaruddin Kamaruddin; Lideman Lideman; Usman Usman; Bunga Rante Tampangallo
Media Akuakultur Vol 14, No 2 (2019): (Desember, 2019)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (90.498 KB) | DOI: 10.15578/ma.14.2.2019.97-104

Abstract

Pemanfaatan Saccharomyces cerevisiae yang disuplementasikan dalam pakan buatan berbasis protein nabati mampu meningkatkan pertumbuhan beberapa jenis ikan budidaya. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh suplementasi S. cerevisiae dalam pakan pembesaran ikan baronang. Hewan uji yang digunakan adalah ikan baronang dengan bobot awal antara 30-32 g/ekor. Perlakuan yang dicobakan adalah pakan dengan: tanpa suplementasi S. cerevisiae (S0; kontrol), suplementasi S. cerevisiae 2% (S2), suplementasi S. cerevisiae 4% (S4), dan suplementasi S. cerevisiae 6% (S6). Wadah penelitian yang digunakan adalah waring hitam berukuran 1 m x 1 m x 2 m, dengan kedalaman air 1,5 m; ditebari ikan uji dengan kepadatan 20 ekor/wadah. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen dengan menggunakan rancangan acak lengkap (RAL). Pemberian pakan dilakukan dua kali sehari sebanyak 4% dari biomassa ikan uji. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan 2% S. cerevisiae dalam pakan memberikan respons pertambahan bobot dan laju pertumbuhan spesifik yang lebih tinggi (P<0,05) dibandingkan dengan perlakuan lainnya. Nilai koefisien kecernaan total pakan relatif sama antara perlakuan S2, S4, dan S6, namun ketiganya lebih tinggi dan berbeda nyata (P<0,05) dengan kontrol (S0). Jumlah sel darah merah (eritrosit) dan aktivitas fagositosis mengalami peningkatan secara signifikan (P<0,05) seiring dengan penambahan S. cerevisiae dibanding kontrol (S0). Suplementasi S. cerevisiae dapat dilakukan sebanyak 2% dalam formulasi pakan ini untuk pembesaran ikan baronang.The utilization of Saccharomyces cerevisiae supplemented in artificial feed of protein plant-based can increase the growth of several of aquaculture fish species. This study was aimed to evaluate the effect of S. cerevisiae supplementation in artificial diet on the growth performance of rabbitfish. The test animals used were rabbitfish with an initial weight of 30-32 g/fish. The treatments tried were artificial diets with: no supplementation of S. cerevisiae (S0; control), supplementation of S. cerevisiae 2% (S2), supplementation of S. cerevisiae 4% (S4), and supplementation of S. cerevisiae 6% (S6). The fish were reared in twelve net cages of 1 m x 1 m x 2 m, with a density of 20 ind./cage. Completely randomized design was used in this experiment. The fish were fed with test diets twice a day as much as 4% of total biomass. The results showed that the supplementation of 2% S. cerevisiae in diet gave higher weight gain and specific growth rate (P<0.05) than those of other treatments. The value of total feed digestibility coefficient was relatively the same between treatments S2, S4, and S6, but the three of them were higher and significantly different (P<0.05) than the control (S0). The number of red blood cells (erythrocytes) and phagocytic activity increased significantly (P<0.05) along with the supplementation of S. cerevisiae compared to control (S0). Supplementation of S. cerevisiae could be done as much as 2% in feed formulation for grow-out of rabbitfish. 
DOMESTIKASI IKAN BELIDA LANGKA, Chitalalopis (Bleeker, 1851): PEMBENIHAN SECARA TERKONTROL DI LUAR HABITAT ALAMI Raden Roro Sri Pudji Sinarni Dewi; Estu Nugroho; Jojo Subagja; Bambang Priono
Media Akuakultur Vol 14, No 2 (2019): (Desember, 2019)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (56.301 KB) | DOI: 10.15578/ma.14.2.2019.73-81

Abstract

Penelitian pemeliharaan ikan belida, (Chitala lopis Bleeker, 1851) secara ex-situ bertujuan untuk mendapatkan teknik pembenihan yang tepat di luar habitat alaminya. Serangkaian eksperimen dilakukan adalah: 1) pemeliharaan benih dalam akuarium dengan padat tebar berbeda (45, 90, dan 180 ekor/90 L); 2) pemeliharaan benih dalam akuarium dengan jenis pakan berbeda (pakan buatan dan cacing tubifex); 3) pemeliharaan benih dalam waring dengan padat tebar berbeda (10 dan 20 ekor/m2); dan 4) pembesaran dalam waring dengan jenis pakan berbeda (cacing tubifex; cacing tubifex + pakan buatan, dan pakan buatan). Pemeliharaan benih dalam akuarium menggunakan ukuran awal 3,4 cm selama 30 hari memperlihatkan kepadatan 45 ekor/90 L memberikan laju pertumbuhan bobot terbaik sebesar 3,1%/hari dengan sintasan 96,7 ± 1,33%. Pemeliharaan lanjutan selama dua bulan dalam akuarium dengan pemberian jenis pakan berbeda menghasilkan pertumbuhan bobot tertinggi pada benih yang diberi pakan cacing tubifex sebesar 2%/hari dengan sintasan 29 ± 3,42%. Pemeliharaan benih ukuran 4,9 cm dalam waring yang diletakkan dalam kolam tanah menghasilkan pertumbuhan dan sintasan yang lebih tinggi pada padat tebar 10 ekor/m2 dengan laju pertumbuhan bobot 2,6% per hari dengan tingkat sintasan sebesar 77,3%. Pembesaran benih dalam waring dengan ukuran tebar 8-9 cm selama dua bulan menghasilkan pertumbuhan bobot yang lebih tinggi pada benih yang diberi pakan cacing tubifex (1,3%/hari) dibandingkan dengan pakan buatan (0,6%/hari) dan campuran pakan buatan + cacing tubifex (1,0%/hari).Research on the domestication of featherback fish, (Chitala lopis Bleeker, 1851) outside of their natural habitat was carried out primarily to obtain its feasible breeding techniques. A series of experiments was carried out including 1) seed rearing in aquariums with different stocking densities (45, 90, and 180/90 L); 2) rearing of seeds in aquariums with different types of feed (artificial feed and tubifex); 3) seeds rearing in net cage with different stocking densities (10 and 20 fish/m2); and 4) grow-out in net cage with different types of feed (tubifex; tubifex + artificial feed, and artificial feed). The results showed that seeds with an initial size of 3.4 cm reared in an aquarium for 30 days with a density of 45 fish/90 L produced the best weight growth of 3.1%/day with survival rate of 96.7 ± 1.33%. Two months of continued rearing carried out in an aquarium produced the highest weight growth for seeds fed with tubifex of 2%/day with survival rate of 29 ± 3.42%. Rearing of seeds sized 4.9 cm in net cage placed in earthen pond resulted in higher growth and survival than that of aquariums. The best density was 10 fish/m2 with weight growth rate of 2.6% per day and survival rate of 77.3%. Seeds sized of 8-9 cm cultured in net cage for two months produced higher weight growth when feed with tubifex (1.3%/day) than that of feed with artificial feed (0.6%/day) and mixture artificial feed + tubifex (1.0%/day).
APLIKASI ASTAXANTHIN DARI HAEMATOCOCCUS PADA BENIH KERAPU SUNU (Plectropomus leopardus) TERHADAP TOTAL KAROTENOID DAN PROFIL DARAH Daniar Kusumawati; Ketut Mahardika; Ketut Maha Setiawati
Media Akuakultur Vol 14, No 2 (2019): (Desember, 2019)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (287.706 KB) | DOI: 10.15578/ma.14.2.2019.113-122

Abstract

Haematococcus merupakan alga yang kaya karotenoid dari jenis astaxanthin yang tidak hanya berpotensi sebagai sumber pigmen merah tetapi juga sebagai antioksidan. Aplikasi haematococcus telah dilakukan pada larva kerapu sunu dan menunjukkan adanya perbaikan peformansi warna merah yang cukup signifikan. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui pengaruh haematococcus sebagai sumber astaxanthin terhadap pertumbuhan, total karotenoid, dan profil darah (hematokrit dan haemoglobin) pada juvenil ikan kerapu sunu. Benih kerapu sunu ukuran panjang rata-rata 14,07 ± 0,07 cm dan bobot rata-rata 45,92 ± 6,35 g dipelihara dalam jarring berukuran 0,5 m x 0,5 m x 1 m yang diletakkan dalam bak beton ukuran 3 m x 1,2 m x 1,2 m. Kepadatan ikan tiap jaring adalah lima ekor. Perlakuan yang diujicobakan adalah penambahan haematococcus ke dalam pakan buatan dengan dosis dan kompisisi sebagai berikut: A) 1% dari berat pakan, B) 1% dari berat pakan + 10% minyak ikan, dan C) 0% (kontrol). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan haematococcus ke dalam pakan tidak memberikan perbedaan nyata terhadap pertumbuhan mutlak panjang dan bobot, serta laju pertambahan panjang dan bobot (P value > 0,05). Penambahan haematococcus memberikan perbedaan nyata (P value < 0,05) terhadap konversi pakan di mana perlakuan A (1,99 ± 0,09); B (2,12 ± 0,14); dan C (2,28 ± 0,09). Penambahan haematococcus memberikan peningkatan terhadap akumulasi kandungan total karoten, hematocrit, dan haemoglobin darah.Haematococcus, an alga rich in carotenoids of the astaxanthin type, not only has the potential as a source of red pigment but also as an antioxidant. The purpose of this study was to determine the effects of hematococcus as astaxanthin source on the growth, total carotenoids, and blood profile (hematocrit and hemoglobin) of coral trout grouper juvenile. Coral trout grouper seed with an average length of 14.07± 0.07 cm and an average weight of 45.92 ± 6.35 g were maintained in a net cage measuring 0.5 m x 0.5 m x 1 m placed in a 3 m x 1.2 m x 1.2 m concrete tank. Fish density per net was five fish. The treatment tested was the addition of haematococcus into the artificial feed with the following dosages and compositions: A) 1% of the weight feed, B) 1% of the weight feed + 10% fish oil, C) 0% (control). The results showed that the addition of haematococcus to the feed did not give a significant difference to the absolute growth of length and weight and also specific growth and length rate (P-value > 0.05). The addition of haematococcus gave a significant difference (P-value < 0.05) to feed conversion ratio between treatment A, B and C with the values of 1.99 ± 0.09, 2.12 ± 0.14, and 2.28 ± 0.09, respectively. The addition of haematococcus also increased the levels of total carotene content, hematocrit, and hemoglobin. This study suggests that the application of haematococcus could significantly improve the red color performance of trout grouper larvae.
KERAGAAN PERTUMBUHAN IKAN TAMBAKAN (Helostoma temminckii Cuvier, 1829) DENGAN KEPADATAN BERBEDA Otong Zenal Arifin; Wahyulia Cahyanti; Vitas Atmadi Prakoso
Media Akuakultur Vol 14, No 2 (2019): (Desember, 2019)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (93.242 KB) | DOI: 10.15578/ma.14.2.2019.83-87

Abstract

Padat tebar merupakan salah satu faktor yang berpengaruh terhadap keragaan pertumbuhan dalam budidaya ikan. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kepadatan optimum untuk pertumbuhan ikan tambakan. Penelitian ini dilakukan di Instalasi Riset Plasma Nutfah Perikanan Air Tawar, Cijeruk, Balai Riset Perikanan Budidaya Air Tawar dan Penyuluhan Perikanan (BRPBATPP), Bogor. Ikan tambakan generasi ke-2 dengan panjang total 2,10 ± 0,18 cm dan bobot 4,83 ± 0,17 g yang diperoleh melalui program domestikasi dipelihara di kolam bak beton yang diberi sekat (ukuran 3 m x 3,5 m x 1 m). Pakan komersial berupa pelet terapung (protein 39%-41%; lemak 5%) diberikan sebanyak 3% per hari dari biomassa dengan frekuensi pemberian sebanyak tiga kali. Perlakuan kepadatan yang dilakukan pada penelitian adalah 25, 50, dan 75 ekor/m2 dengan tiga ulangan. Pengambilan data dilakukan setiap 30 hari sebanyak 30 ekor dari setiap ulangan selama 150 hari masa pemeliharaan terhadap panjang, bobot, kelangsungan hidup, biomassa, dan rasio konversi pakan. Pengukuran kualitas air juga dilakukan sebagai data pendukung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan panjang baku, panjang total, bobot, dan sintasan tertinggi diperoleh pada kepadatan 25 ekor/m2.Stocking density is one of the influencing growth performance indicators in aquaculture. This study was conducted to determine the optimum stocking density in optimizing the growth rate of kissing gourami. The study was carried out at the Research Station for Freshwater Fisheries Germplasm, Cijeruk, RIFAFE Bogor. A second generation of kissing gourami with total length of 2.10 ± 0.18 cm and body weight of 4.83 ± 0.17 g produced from a domestication program were reared in separated-nets concrete ponds (pond division: 3 m x 3,5 m x 1 m) and fed using commercial floating pellets (protein: 39%-41%; lipid: 5%). Feed was given 3% of biomass per day with a feeding frequency of three times per day. Stocking density treatments in this study were 25, 50, and 75 fish/m2 with three replications. Data collection was conducted every 30 days from 30 fish in each replicate during 150 days of rearing period on growth parameters including length, weight, survival rate, biomass, and feed conversion ratio. Water quality measurement was also conducted as supplementary data. The results showed that the highest values on standard length gain, absolute length gain, weight gain, and survival rate were found in the fish population with a stocking density of 25 fish/m2.
TINGKAT KESUBURAN DAN POTENSI PRODUKSI UDANG VANAME DI TAMBAK UPT PERIKANAN AIR PAYAU DAN LAUT PROBOLINGGO Setya Widi Ayuning Permanasari; Samuel Saputra; Kusriani Kusriani; Putut Widjanarko
Media Akuakultur Vol 14, No 2 (2019): (Desember, 2019)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (74.073 KB) | DOI: 10.15578/ma.14.2.2019.89-95

Abstract

Keberlanjutan kegiatan pertambakan sangat tergantung pada kondisi kualitas lingkungan perairan dalam mendukung potensi produksi biota budidaya. Namun, dalam pengelolaan juga perlu diketahui potensi lingkungan dalam memproduksi biota. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur tingkat kesuburan perairan pada tambak serta mengestimasi produksi udang yang dihasilkan dengan pendekatan Produktivitas Primer. Penelitian dilakukan di tambak UPT Probolinggo, Fakultas Perikanan dan Ilmu Keluatan, Universitas Brawijaya. Analisis kesuburan perairan tambak dilakukan menggunakan metode Tropic State Index (TSI), dan pendugaan produksi udang dengan pendekatan metode Beveridge dengan mengkonversi nilai Produktivitas Primer, dimana nilai Produktivitas Primer dapat dihitung dengan mentransformasi nilai Klorofil-a. Rata-rata hasil pengukuran klorofil-a pada tambak 1 sebesar 23,06 mg/m3 dan pada tambak 2 sebesar 20,62 mg/m3. Tingkat kesuburan pada kedua tambak menunjukkan perairan eutrofik sedang. Rata-rata potensi produksi udang pada tambak 1 adalah 13,22 ton C-udang/2700m2/tahun; dan tambak 2 adalah 10,90 ton C-udang/2700m2/tahun. Korelasi antara nilai klorofil-a dan estimasi produksi udang menunjukkan nilai korelasi < 0,199 yang artinya keeratan kedua variabel sangat rendah. Namun korelasi antara klorofil-a dan PP memiliki hubungan yang sangat kuat yaitu > 0,99. The sustainability of aquaculture activities highly depends on the water quality conditions of the aquatic environment. Thus, determining the existing environmental condition of fish culture followed by regular monitoring is necessary to ensure the optimum production of farmed fish. The purpose of this current research was to determine the eutrophication level in shrimp ponds and estimate its shrimp production using the approach of Primary Productivity. The study was conducted in the shrimp ponds managed by the Probolinggo Technical Extension Office, Faculty of Fisheries and Marine Science, Brawijaya University. The eutrophication level was determined used the Tropic State Index (TSI) method. Shrimp production was estimated using the Beveridge Method by which the primary productivity values were calculated by transforming the Chlorophyll-a values. The results showed that the average contents of chlorophyll-a in pond 1 and pond 2 were 23.06 mg.m-3 and 20.62 mg.m-3, respectively. The eutrophication levels in both ponds indicate moderate eutrophic water. The estimated shrimp productions in ponds 1 and 2 were 13.22 and 10.90 tons C-shrimp 2700m-2 year-1, respectively. The correlation value between the chlorophyll-a levels and estimated shrimp productions was <0.199 which means that the relationship between the two variables is unsubtantial. On the other hand, the chlorophyll-a and primary productivity had a very strong relationship indicated by the correlation value of > 0.99.

Page 1 of 1 | Total Record : 7