cover
Contact Name
Muhammad Syahrir
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
ma.puslitbangkan@gmail.com
Editorial Address
Jl. Sungai Musi Km. 09 Tanete Riattang Timur Kabupaten Bone, Sulawesi
Location
Kab. bone,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Media Akuakultur
ISSN : 19076762     EISSN : 25029460     DOI : 10.15578/ma
Media Akuakultur as source of information in the form of the results of research and scientific review (review) in the field of applied aquaculture including genetics and reproduction, biotechnology, nutrition and feed, fish health and the environment, and land resources in aquaculture.
Arjuna Subject : -
Articles 12 Documents
Search results for , issue "Vol 5, No 2 (2010): (Desember 2010)" : 12 Documents clear
VARIASI GENETIK IKAN JELAWAT HASIL BUDIDAYA DAN TANGKAPAN ALAM DI PONTIANAK DENGAN MENGGUNAKAN MARKER DNA-RAPD (RANDOM AMPLIFIED POLYMORPHISM DNA) Estu Nugroho; Sri Sundari; Nunung Nur Rachman
Media Akuakultur Vol 5, No 2 (2010): (Desember 2010)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (526.326 KB) | DOI: 10.15578/ma.5.2.2010.115-117

Abstract

Evaluasi variasi genetik ikan jelawat yang dikoleksi dari alam dan kegiatan budidaya telah dilakukan dengan menggunakan marker RAPD. Sampel berupa sirip dari kedua stok tersebut diekstraksi dan diamplifikasi dengan menggunakan primer OPA 1-20. Secara genetik tidak terdapat perbedaan yang nyata antara kedua stok ikan jelawat yang diuji. Tingkat heterozigositas berdasarkan 2 primer RAPD (OPA 2 dan OPA 3) adalah 0,1450 terdapat pada ikan jelawat hasil tangkapan alam sedangkan pada ikan jelawat hasil budidaya adalah 0,1350. Jarak genetik Nei antara keduanya adalah 0,3881.
PENYEBAB, DAMPAK, DAN MANAJEMEN PENYAKIT KARANG DI EKOSISTEM TERUMBU KARANG Ofri Johan
Media Akuakultur Vol 5, No 2 (2010): (Desember 2010)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (639.172 KB) | DOI: 10.15578/ma.5.2.2010.144-152

Abstract

Penelitian tentang penyakit karang sudah berkembang dan banyak peneliti yang menekuninya di negara asing, namun berbeda dengan di negara Indonesia yang merupakan negara kepulauan dan sebagian besar pulaunya memiliki karang, malah belum ada penelitian dan data tentang penyakit karang, kalaupun ada baru dimulai pada 1 atau 2 lokasi dengan peneliti yang menekuni 1 atau 2 orang saja se-Indonesia. Berbagai faktor lingkungan sebagai penyebab terjadinya penyakit karang di antaranya disebabkan oleh faktor abiotik yaitu oleh stres temperatur, sedimentasi, zat kimia, nutrien tidak seimbang, radiasi ultra-violet, dan faktor biotik seperti predasi, kompetisi dengan alga, dan terinfeksi penyakit. Banyak informasi yang akan dibahas pada tulisan ini sebagai pengantar untuk memahami penyakit karang di antaranya tentang faktor penyebab, jenis, dan dampak penyakit, penelitian di Indonesia, dan manajemen serta pengelolaan yang perlu dilakukan apabila terjadi serangan penyakit di suatu ekosistem terumbu karang.
BUDIDAYA UDANG VANAME SISTEM BIOFLOK Brata Pantjara; Agus Nawang; Usman Usman; Rachman Syah
Media Akuakultur Vol 5, No 2 (2010): (Desember 2010)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1507.452 KB) | DOI: 10.15578/ma.5.2.2010.93-97

Abstract

Problem utama pada budidaya tambak udang intensif adalah menurunnya kualitas air yang layak selama pemeliharaan udang dan munculnya penyakit. Upaya mengurangi permasalahan tersebut adalah pemanfaatan bioflok di tambak. Bioflok merupakan campuran dari berbagai mikroba, fitoplankton, zooplankton, protozoa, detritus, partikel organik. Teknologi bioflok dapat meningkatkan kualitas air, meminimalkan pergantian air (tanpa pergantian air), efisiensi pakan, dan menghambat berkembangnya penyakit selama budidaya. Budidaya udang vaname intensif sistem bioflok dengan padat penebaran 100 ekor/m2 selama 95 hari diperoleh produksi sebesar 10,375 kg/ha (FCR 1,3) dan tanpa bioflok 9,176 kg/ha (FCR 1,6).
DOMESTIKASI DAN EVALUASI TINGKAT KEMATANGAN GONAD IKAN TILAN MERAH (Mastacembelus erytrotaenia) Sudarto Sudarto
Media Akuakultur Vol 5, No 2 (2010): (Desember 2010)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1160.906 KB) | DOI: 10.15578/ma.5.2.2010.118-122

Abstract

Ikan tilan merah merupakan salah satu jenis ikan hias yang sampai saat ini belum dibudidayakan. Potensi sebagai ikan hias dan ikan konsumsi sangat bagus. Untuk itu, dilakukan pembudidayaan di luar habitatnya dengan memelihara calon induk sebanyak 150 ekor di dalam wadah bak beton masing-masing 75 ekor untuk melakukan adaptasi terhadap pakan buatan dan pakan alami berupa cacing tanah selama 2 bulan. Setelah itu dilakukan pengamatan di dalam bak fiberglass ukuran 60 cm x 70 cm x 80 cm (volume air 250 L) dengan sistem resirkulasi tertutup. Setiap bak diisi 15 ekor ikan dan dibagi ke dalam 3 perlakuan dengan 3 ulangan, tiap perlakuan diulang 3 kali. Perlakuan pertama diberi pakan buatan 100%, perlakuan kedua diberikan pakan alami (cacing tanah) 100%, dan perlakuan ketiga diberikan 50% pakan buatan dan 50% pakan alami. Sampling pertumbuhan dilakukan setiap bulan selama 6 bulan. Kualitas air dilakukan setiap minggu meliputi O2, alkalinitas, pH, CO2, nitrat, nitrit, amonia, konduktivitas. Pada akhir penelitian dilakukan pembedahan untuk melihat perkembangan gonad. Hasilnya menunjukkan bahwa ikan dengan bobot kurang dari 250 g mempunyai variasi perkembangan gonad dengan TKG III hingga V, sedangkan bobot di atas 250 g sudah dijumpai gonad pada TKG VI.
KERAGAAN BUDIDAYA TAMBAK DI SULAWESI SELATAN DENGAN MENGGUNAKAN DATA SENSUS Akhmad Mustafa; Irmawati Sapo; Mudian Paena
Media Akuakultur Vol 5, No 2 (2010): (Desember 2010)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1726.134 KB) | DOI: 10.15578/ma.5.2.2010.153-161

Abstract

Data sensus yang runut waktu dari perikanan budidaya tambak telah tersedia yang diharapkan dapat digunakan semaksimal mungkin agar dapat memberikan informasi yang maksimal pula. Oleh karena itu, dilakukan suatu kegiatan yang memanfaatkan data runut waktu dari perikanan budidaya tambak di Sulawesi Selatan untuk menginformasikan keragaan budidaya tambak termasuk daya dukung ekonomis tambak. Data yang digunakan adalah data yang berasal dari Laporan Statistik Perikanan Sulawesi Selatan dari tahun 1985 sampai 2004. Keragaan budidaya tambak yang diinformasikan meliputi: perubahan luas, produksi dan produktivitas tambak pada tiga pantai yang berbeda di Sulawesi Selatan serta produksi berdasarkan kelompok komoditas. Analisis daya dukung ekonomis tambak ditentukan dengan metode analisis regresi polinomial. Hasil kegiatan ini menunjukkan bahwa luas tambak di Sulawesi Selatan (termasuk Sulawesi Barat) meningkat dari 64.741 ha pada tahun 1985 menjadi 111.425 ha pada tahun 2004. Produksi total tambak tertinggi pada tahun 1985 didapatkan di pantai barat yang mencapai 26.323,9 ton yang didominasi oleh ikan dan pada tahun 2004 didapatkan di pantai timur yang mencapai 66.294,1 ton yang didominasi oleh rumput laut. Produktivitas tambak tertinggi pada tahun 1985 didapatkan di pantai barat yaitu 772,2 kg/ha/tahun dan pada tahun 2004 didapatkan di pantai timur yaitu 7.127,6 kg/ha/tahun. Lahan Kabupaten Pinrang yang merupakan sentra produksi tambak di Sulawesi Selatan, hanya bisa mendukung luas total tambak sekitar 13.136 ha dan daya dukung ekonomis tambak hanya bisa memproduksi udang dan ikan sekitar 1.286 kg/ha/tahun.
SUMBERDAYA GENETIK IKAN, ASET YANG MASIH TIDUR Muhammad Hunaina Fariduddin Ath-thar; Rudhy Gustiano
Media Akuakultur Vol 5, No 2 (2010): (Desember 2010)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (169.674 KB) | DOI: 10.15578/ma.5.2.2010.98-101

Abstract

Berkaitan dengan sumberdaya alam kekayaan sumberdaya genetik ikan, Indonesia merupakan negara terkaya di dunia. Kajian mengenai sumberdaya genetik atau keanekaragaman hayati memerlukan suatu pendekatan genetika evolusi. Seiring perkembangan zaman, keanekaragaman hayati yang kita miliki harus diarahkan untuk memperkuat ketahanan pangan dalam negeri. Untuk itu, dibutuhkan spesies ikan yang mudah dibudidayakan, harganya relatif terjangkau oleh masyarakat dan produktivitasnya tinggi. Jenis nila, patin, dan lele diharapkan dapat mengawal ketahanan pangan nasional yang dapat dipersiapkan untuk membantu ketergantungan masyarakat terhadap unggas. Dari segi pengelolaan dan pelestarian, spesies-spesies yang memainkan peranan penting dalam proses ekologi akan mendapatkan prioritas yang lebih tinggi untuk dikonservasi. Pendekatan ekologi dengan sistematik dapat dijadikan acuan ke mana program konservasi yang akan kita jalankan untuk melindungi kekayaan hayati yang kita miliki.
STEAM DALAM PEMBUATAN PAKAN UNTUK KOMODITAS AKUAKULTUR Sukarman Sukarman
Media Akuakultur Vol 5, No 2 (2010): (Desember 2010)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (990.955 KB) | DOI: 10.15578/ma.5.2.2010.123-128

Abstract

Kualitas fisik pakan (pelet) untuk hewan akuakultur sangat penting, karena akan dimasukkan ke dalam air dan diharapkan tidak banyak mencemari lingkungan. Salah satu faktor yang berpengaruh dalam menjaga kualitas fisik pakan adalah penambahan dan pengaturan steam pada saat proses pembuatan pelet. Steam adalah aliran gas yang dihasilkan oleh air pada saat mendidih. Steam dibagi menjadi 3 jenis yaitu steam basah, saturated steam, dan superheated steam. Steam yang digunakan dalam proses pembuatan pelet adalah saturated steam. Pengaruh penambahan steam pada kualitas pelet bisa mencapai 20%. Penambahan steam dengan jumlah dan kualitas yang tepat akan menghasilkan pelet berkualitas. Sedangkan jika pengaturan dan penambahannya tidak tepat, maka kualitas fisik pelet akan rendah dan kemungkinan bisa merusak kandungan nutrisi seperti vitamin dan protein. Penambahan steam yang benar bisa dilakukan di dalam kondisioner dengan mengatur retention time, sudut kemiringan paddle conditioner, kecepatan putaran bearing dan menjaga kualitas steam dari mesin boiler sampai dengan kondisioner.
MANAJEMEN PEMELIHARAAN INDUK ABALON (Haliotis asinina) HASIL TANGKAPAN DARI ALAM Septyan Andriyanto; Nurbakti Listyanto
Media Akuakultur Vol 5, No 2 (2010): (Desember 2010)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2548.168 KB) | DOI: 10.15578/ma.5.2.2010.162-168

Abstract

Abalon merupakan satu jenis kekerangan yang mempunyai nilai gizi yang cukup tinggi serta kelezatan rasanya. Usaha budidaya abalon memiliki nilai ekonomis yang tinggi, namun untuk produksinya sebagian masih mengandalkan hasil tangkapan dari alam. Dalam rangka menghasilkan induk dengan tingkat produksi yang tinggi diperlukan pengetahuan terkait manajemen pemeliharaan induk terutama yang berasal dari alam. Manajemen pemeliharaan induk yang sesuai prosedur meliputi pengumpulan induk, seleksi induk, penanganan induk, pengelolaan pakan dan penyakit, serta pengelolaan air media pemeliharaan. Apabila seluruh aspek tersebut dijalankan sesuai standar dan prosedur yang ditetapkan, diharapkan akan diperoleh induk dengan tingkat produksi yang tinggi serta benih yang berkualitas, sehingga produksi tidak selalu mengandalkan dari alam.
SEKILAS TENTANG BEBERAPA JENIS IKAN HIAS AIR TAWAR YANG DILARANG MASUK KE INDONESIA Bambang Priono; Darti Satyani
Media Akuakultur Vol 5, No 2 (2010): (Desember 2010)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2552.025 KB) | DOI: 10.15578/ma.5.2.2010.102-108

Abstract

Sebagai negara yang kaya akan keragaman hayati khususnya biota perikanan air tawar, memberikan peluang usaha yang sangat baik, di antaranya usaha budidaya ikan hias. Jenis-jenis ikan hias air tawar yang diusahakan jumlahnya sangat banyak dan beragam, baik yang berasal asli Indonesia maupun introduksi dari negara lain. Perolehan nilai ekonomi dari usaha ikan hias cukup besar sehingga mengakibatkan terjadinya perdagangan ikan hias yang kadang tidak memperhatikan aspek kelestariannya di masa mendatang. Akhir-akhir ini banyak muncul berbagai jenis ikan hias air tawar impor yang secara ilmiah ikan-ikan tersebut dapat merugikan kesinambungan usaha ikan hias. Para pengusaha seolah melupakan bahwa pemerintah telah mengeluarkan peraturan mengenai jenis-jenis ikan yang dilarang masuk ke Indonesia. Untuk itu, tulisan ini sengaja dilakukan agar para pelaku menyadari betapa berbahayanya membudidayakan ikan-ikan hias impor yang termasuk kategori dilarang.
BUDIDAYA IKAN HIAS SEBAGAI PENDUKUNG PEMBANGUNAN NASIONAL PERIKANAN DI INDONESIA Eni Kusrini
Media Akuakultur Vol 5, No 2 (2010): (Desember 2010)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (818.296 KB) | DOI: 10.15578/ma.5.2.2010.109-114

Abstract

Indonesia diharapkan menjadi Negara Penghasil Produk Kelautan dan Perikanan Terbesar Tahun 2015. Sektor kelautan dan perikanan sebagai salah satu penggerak utama (prime mover) perekonomian, perlu terus ditingkatkan produksinya sehingga akan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat kelautan dan perikanan. Ikan hias yang diperdagangkan di dunia mencapai 1.600 jenis, di mana 750 jenis di antaranya adalah ikan air tawar. Pada tahun 2010, Indonesia menargetkan ekspor ikan hias akan meningkat sebesar 10%. Upaya dalam mendorong pengembangan kawasan perikanan budidaya di daerah-daerah dalam rangka meningkatkan pertumbuhan perekonomian, maka dilakukan program minapolitan. Dukungan penelitian terhadap program minapolitan khususnya budidaya ikan hias antara lain dalam pengembangan ikan hias yang bersifat konvensional (maskoki, guppy, cupang hias); pemanfaatan sumberdaya genetik baru dari alam yang dapat didomestikasi (rainbow), peningkatan produksi ikan hias dengan nilai ekonomi tinggi/mahal (arwana, botia), dan tren (tigerfish) baik berupa paket teknologi maupun penerapan di masyarakat secara langsung. Dalam tulisan ini dikemukakan prospek dan peluang serta program pengembangan dan dukungan penelitian bagi pengembangan budidaya ikan hias.

Page 1 of 2 | Total Record : 12