cover
Contact Name
Endang Sriyati
Contact Email
jppi.puslitbangkan@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jppi.puslitbangkan@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kab. karawang,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia
ISSN : 08535884     EISSN : 25026542     DOI : -
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia accepts articles in the field of fisheries, both sea and inland public waters. The journal presents results of research resources, arrest, oceanography, environmental, environmental remediation and enrichment of fish stocks.
Arjuna Subject : -
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 18, No 2 (2012): (Juni) 2012" : 8 Documents clear
DINAMIKA SPASIAL PERIKANAN PUKAT CINCIN DI LAUT JAWA DAN SAMUDERA HINDIA Suherman Banon Atmaja; Muhamad Natsir; Bambang Sadhotomo
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 18, No 2 (2012): (Juni) 2012
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (207.454 KB) | DOI: 10.15578/jppi.18.2.2012.69-76

Abstract

Nelayan mempunyai kemampuan yang fleksibel dan adaptif dalam usaha perikanan. Mereka terus menerus dihadapkan pada suatu situasi perubahan lingkungan eksternalnya, seperti cuaca, perubahan harga ikan dan akses terhadap sumber daya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keberlanjutan perikanan purse seine terjadi melalui ekspansi daerah penangkapan. Kini daerah operasi pukat cincin tidak hanya terbatas di wilayah teritorial dan perairan Nusantara tetapi sudah sampai ke perairan Samudera. Rata-rata CPUE (tawur) terendah dijumpai di perairan Laut Jawa bagian timur, yakni 1,4 ton per tawur dan hasil tangkapan didominasi oleh ikan pelagis kecil, sedangkan CPUE (tawur) yang tertinggi diperoleh di Selatan Pulau Jawa bagian timur, dimana hasil tangkapan didominasi oleh ikan pelagis besar. Walaupun CPUE (jumlah hari di daerah penangkapan) menunjukkan aktivitas penangkapan di Samudera Hindia namun kerapkali operasi penangkapan dipengaruhi oleh kondisi cuaca yang buruk. Sementara itu, kapal yang masih beroperasi di Laut Jawa dan sekitarnya dalam menghadapi ketidakpastian dan rendahnya peluang keberhasilan, melakukan perpanjangan masa melaut dari rata-rata sebulan menjadi dua hingga empat bulan.Fishermen have flexible and adaptive ability in the fisheries business. They are constinuosly faced with a situation change of external environment, such as weather, fish prices and access to the fish resources. The research indicated that the sustainability of purse seine fisheries due to the expansion of fishing ground. The purse seine operation was not only limited in the territory and territorial waters of the archipelago, but also to the Ocean. The lowest average of catch per haul found in the waters of the eastern part of Java Sea around 1,4 ton/haul which was dominated by small pelagic fish. While the highest CPUE was obtained in the South eastern part of Java Island and the catch was dominated by large pelagic fish. Although CPUE (number of day in the fishing ground) indicates the activity of fishing in the Indian Ocean, their operation was often influenced by bad weather conditions. Meanwhile, the vessels still operate in the Java Sea and its adjacent waters in the face of uncertainty and low probability of success, they do extension of the day at sea from an average of one month to two until four months.
KEANEKARAGAMAN JENIS IKAN KARANG DAN KONDISI KESEHATAN KARANG DI PULAU GOF KECIL DAN YEP NABI KEPULAUAN RAJA AMPAT Anthony Sisco Panggabean
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 18, No 2 (2012): (Juni) 2012
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (457.979 KB) | DOI: 10.15578/jppi.18.2.2012.109-115

Abstract

Terumbu karang merupakan suatu ekosistem yang mendukung kondisi produktivitas suatu perairan laut. Kondisi stok dan produksi ikan karang sangat bergantung kepada habitatnya atau ekosistem terumbu karang. Untuk melindungi kondisi ekosistem terumbu karang diperlukan tindakan konservasi sumberdaya ikan. Tujuan penelitian untuk mendeskripsikan kondisi kesehatan terumbu karang dalam kaitannya dengan keanekaragaman jenis ikan karang. Aspek yang diteliti meliputi persentase tutupan karang, komposisi dan keanekaragaman jenis ikan karang di Pulau Gof Kecil dan Yep Nabi, Kepulauan Raja Ampat. Persentase tutupan karang dihitung dengan metoda Life Form Transek (Line Intercept Transec) sedangkan komposisi dan keanekaragaman jenis ikan karang dianalisis dengan metoda Census Visual (Visual Census). Hasil pengamatan menunjukkan bahwa persentase tutupan karang di Pulau Gof Kecil 28,17% (kondisi rusak) dan di Pulau Yep Nabi 63,43 % (kondisi baik). Jenis ikan karang terdiri dari 15 famili (kelompok ikan mayor 3 famili, ikan target 11 famili dan ikan indikator 1 famili). Keanekaragaman jenis ikan di Pulau Gof Kecil dan Pulau Yep Nabi menunjukkan keanekaragaman sedang dengan jumlah individu tiap jenis relatif sama dan tidak ada jenis ikan yang mendominasi. Hal ini disebabkan tekanan terhadap ekosistem terumbu karang dan komunitas ikan karang tidak terlalu intensif.Coral reef is the most important ecosystem to support marine productivity. Stock and productivity of coral reef fishes depend on coral reef ecosystem healthy. A study aimed to investigate the coral reef condition and their fish biodiversity has been conducted at Gof Kecil and Yep Nabi Islands of Raja Ampat Islands. Some aspects studied were the coverage of coral reef, species composition and biodiversity of reef fishes. Line Intercept Transec method was used to study the live coral reef coverage and the Visual Census method was used to investigate the species composition and biodiversity of reef fishes. The results showed that the coral reef coverage of Gof Kecil Island was 28,17% its mean in bad condition while of Yep Nabi island was 63,43% or in good condition. There are 15 families of reef fishes were found (3 families of major group species, 11 families of target group species and 1 family of indicator group species). The diversity of coral reef fishes of Gof Kecil Island and Yep Nabi Island were relatively same and there is no species dominated due to pressure on the coral reef and reef fishes community was not intensive.
PRODUKSI DAN MUSIM PENANGKAPAN CUMI-CUMI (Loligo spp.) DI PERAIRAN REMBANG (JAWA TENGAH) Setya Triharyuni; Reny Puspasari
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 18, No 2 (2012): (Juni) 2012
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (628.537 KB) | DOI: 10.15578/jppi.18.2.2012.77-83

Abstract

Penelitian ini dilakukan pada bulan April dan Oktober 2011 dengan tujuan untuk mendeskripsikan perikanan cumi-cumi (Loligo spp.) yang meliputi produksi, musim penangkapan dan komposisi jenis cumi-cumi. Data yang dihimpun meliputi data produksi perjenis hasil tangkapan dan trip penangkapan kapal pukat cincin tahun 1996-2011. Data dianalisis menggunakan analisis runtun waktu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komposisi cumi-cumi di Rembang tahun 2005-2009 sebesar 27,36% dari produksi Jawa Tengah dan hanya sekitar 2,91% dari produksi di perairan utara Jawa. Selama periode 1996-2011, produksi tahun 2002 merupakan produksi tertinggi dan produksi tahun 1996 merupakan produksi terendah, sedangkan rata-rata produksi bulanan, tertinggi pada bulan Juni dan produksi terendah pada bulan Januari-Februari. Musim penangkapan cumi-cumi di Rembang terjadi pada bulan Maret sampai Mei, dan November. Jenis cumi-cumi yang didaratkan di Rembang adalah jenis Loligo chinensis, Loligo singhalensis, Loligo edulis dan Loligo duvaucelli, dimana L. duvaucelli merupakan jenis yang paling dominan.The research was conducted in April and October 2011, to investigate the production, fishing seasons and composition of squids (Loligo spp). Data of production by effort (trip) and species composition of purse seine was collected. The data were analyzed using time series analysis. The results showed that the squid production in Rembang was 27.36% of the total production in Central Java and was 2,91% of production in the northern waters of Java (2005-2009). During the period of 1996-2011, the highest squids production occurred in 2002 and the lowest production occurred in 1996. The average monthly production of the squids was highest in June and was lowest in January- February. The Squid fishing season occurs in March-May, and November. There were four species of squids in the catch i,e. Loligo chinensis, Loligo singhalensis, Loligo edulis and Loligo duvaucelli. Among them L. duvaucelli is the dominant species.
KELIMPAHAN DAN SEBARAN LARVA UDANG PENAEID DI PERAIRAN PEMANGKAT DAN SEKITARNYA Duranta Diandria Kembaren; Bambang Sumiono
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 18, No 2 (2012): (Juni) 2012
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (260.487 KB) | DOI: 10.15578/jppi.18.2.2012.117-124

Abstract

Penelitian tentang kelimpahan dan sebaran larva udang penaeid di perairan Pemangkat, Kalimantan Barat telah dilakukan pada bulan Mei, Juni, Agustus, Oktober dan Desember 2010. Larva udang ditangkap dengan menggunakan bongo net (larvae net). Berdasarkan hasil identifikasi diperoleh bahwa larva udang penaeid yang terdapat di perairan ini adalah genera Penaeus dan Metapenaeus dengan komposisi masing-masing secara berurutan sebesar 42% dan 58%. Kelimpahan larva udang penaeid ini dominan diperoleh pada bulan Oktober dan mencapai puncaknya pada bulan Desember, sehingga diduga puncak pemijahan udang penaeid di perairan ini terjadi pada bulan Nopember. Hasil sebaran larva udang penaeid menunjukkan bahwa kelimpahan larva udang penaeid paling dominan diperoleh di bagian utara muara sungai Sambas yang merupakan wilayah perairan Jawai. Berdasarkan hasil analisa statistik, diperoleh bahwa kelimpahan larva udang penaeid berkorelasi positif dengan kelimpahan fitoplankton, kecerahan, salinitas, dan pH, sedangkan dengan suhu dan oksigen terlarut berkorelasi negatif.A study on the distribution and abundance of penaeid larvae in Pemangkat waters, West Borneo was conducted on May, June, August, October, and December 2010. Larvae net (bongo net) was used to collect the larvae. The result showed that the larvae was dominated by genera Penaeus and Metapenaeus, which the percentage of 42% and 58%, respectively. Penaeid larvae was in higher abundant in October and then reached its peak in December. Based on this result, the spawning peak season of Penaeid shrimps in Pemangkat waters was estimated in November. The distribution of Penaeid larvae was most abundant in the north side of the mouth of Sambas’s river (Jawai waters). The statistical analysis showed that the Penaeid larvae abundance has positive correlation to the phytoplankton abundance, light intensity, salinity, and pH, and has the negative correlation.to the temperature and dissolved oxygen.
KOMPOSISI IKAN HASIL TANGKAPAN JARING INSANG DI KAWASAN SUAKA PERIKANAN TELUK RASAU, SUMATERA SELATAN Melfa Marini; Khoirul Fatah
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 18, No 2 (2012): (Juni) 2012
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (283.893 KB) | DOI: 10.15578/jppi.18.2.2012.125-134

Abstract

Teluk Rasau merupakan salah satu kawasan suaka perikanan rawa banjiran yang berfungsi untuk menjaga atau meningkatkan produksi perikanan di daerah aliran Sungai Lempuing. Sampai saat ini informasi mengenai efektivitas suaka perikanan terhadap sumber daya ikan belum banyak diketahui. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui komposisi jenis ikan dengan menganalisis ikan hasil tangkapan jaring insang dari berbagai ukuran mata jaring di kawasan suaka perikanan Teluk Rasau. Analisis komposisi jenis ikan ini digunakan untuk menilai efektivitas suaka perikanan Teluk Rasau. Survei lapangan dilakukan sebanyak 3 kali yaitu Agustus, Oktober dan November 2009. Sampel jenis-jenis ikan didapatkan dari koleksi enumerator dan hasil tangkapan nelayan serta hasil tangkapan percobaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat sekitar 31 spesies ikan yang tergolong dalam 15 familia. Cyprinidae merupakan familia yang paling dominan, dengan komposisi hasil tangkapan terbesar diperoleh pada jaring insang ukuran 0,75 inci baik pada Agustus yaitu musim kemarau, maupun pada musim hujan yaitu pada Oktober-November dengan nilai komposisi hasil tangkapan sebesar 93,1%, 92,8% dan 78,3%. Komposisi hasil tangkapan terkecil pada musim kemarau (Agustus) diperoleh pada alat tangkap jaring insang ukuran 2,25 inci yaitu sebesar 0,86% sedangkan pada musim hujan (Oktober-November) diperoleh pada jaring insang ukuran 3 inci masing-masing sebesar 0,63% dan 2,23%. Hasil analisis jumlah jenis ikan yang tertangkap dan beberapa parameter ekologis perairan serta populasi ikan menunjukkan bahwa suaka Teluk Rasau kurang berfungsi dan kurang efektif sebagai kawasan suaka perikanan.Teluk Rasau, one of the floodplain fisheries reserves in Lempuing Rivers, has a function to increase fisheries production in that area. However, the effectiveness of this reserve to conserve and increase fish resources in that area has not been evaluated yet. Therefore, a study on fish composition from different mesh sizes of gillnet catches, the most operated fishing gears in Teluk Rasau fisheries reserve, was conducted three times in August, October and November 2009. Fish samples were collected from multi mesh size gillnet experiment and from fishers catches. The of results indicated that 31 fish species were found of 15 families, dominated by Cyprinidae. Most of this family included in catches by 0.75 inche mesh size both in August (dry season) and October-November (wet season) with percentage of 93.10, 92.8, and 78.3%, respectively. In August, the lowest fish composition (0.86%) was recorded from the mesh size of 2.25 inch, is while in October and November was recorded in 3 inche mesh size, 0.63 and 2.23%, respectively. Based on the score analyzed of the number of fish species, fish population and ecological parameter, Teluk Rasau floodplain fisheries reserve is classifield into the low function and less effective as fish sanctuary area in the increasing fish productivity.
KARAKTERISASI DEKSRIPTOR AKUSTIK IKAN INTRODUKSI AIR TAWAR Zulkarnaen Fahmi; Wijopriono Wijopriono
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 18, No 2 (2012): (Juni) 2012
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (87.799 KB) | DOI: 10.15578/jppi.18.2.2012.93-99

Abstract

Identifikasi spesies secara langsung merupakan salah satu tantangan dan keterbatasan teknik akustik sebagai alat dalam pengkajian stok sumberdaya ikan. Untuk itu, tujuan identifikasi spesies langsung dari data akustik merupakan kontribusi penting untuk ketepatan estimasi akustik atas kelimpahan sumberdaya ikan. Penelitian telah dilakukan untuk mengidentifikasi spesifik karakteristik spesies yang memudahkan pengklasifikasian, menggunakan deskriptor yang diekstraksi dari data akustik yaitu volume backscattering (Sv), Target strength (TS), area backscattering strength (Sa), skewness, kurtosis, Kedalaman, tinggi dan Ketinggian relatif ikan. Tiga spesies introduksi ikan air tawar yang dianalisis adalah : ikan mas (Cyprinus carpio), nila (Oreochromis niloticus), dan patin (Pangasionodon hypophthalmus). Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan amplitudo pancar-balik gema antar spesies tersebut, dan intensitas gema bervariasi dalam dan antar spesies. Target strength berbeda antar spesies, tergantung pada ukuran dan orientasi ikan. Variabel skewness dan kedalaman berkontribusi paling tinggi dalam klasifikasi (15- 20%), diikuti Target strength, kurtosis dan ketinggian relatif (10–15%), sedangkan variabel lainnya kurang dari 10% dapat membedakan ketiga jenis ikan tersebut.Direct species identification is one of the main challenges and limitations of hydroacoustic techniques as fish stock assessment tools. Hence, the objective identification of species directly from acoustic data may make an important contribution to the accuracy of acoustic abundance estimates. Study has been made to identify species-specific characteristics that facilitate the classification of species, using descriptors extracted from acoustic data, i.e., volume backscattering (Sv), Target strength (TS), area backscattering strength (Sa), skewness, kurtosis, depth, height and relative altitude. Three species of introduced freshwater fishes were analyzed: carp (Cyprinus carpio), tilapia (Oreochromis niloticus), and catfish (Pangasionodon hypophthalmus). The results showed that backscatter amplitude differences exist among these species and echo intensities were variable within and among species. Target strength differed among species, and were dependent on fish size and body orientation. Variables of skewness and depth gave highest contribution to the classification (15-20%), following by TS, kurtosis and relatif heigh of fish (10–15%), while those of the others were less than 10%.
POTENSI KONFLIK DARI INTERAKSI PERIKANAN PUKAT HELA DALAM PEMANFAATAN SUMBER DAYA IKAN DI PERAIRAN ARAFURA Andhika Prima Prasetyo
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 18, No 2 (2012): (Juni) 2012
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (123.559 KB) | DOI: 10.15578/jppi.18.2.2012.101-108

Abstract

Armada penangkapan dominan yang berkembang di Laut Arafura ialah pukat udang dan pukat ikan. Kedua armada tersebut memiliki kesamaan dalam hal lokasi penangkapan, musim penangkapan dan hasil tangkapan, namun spesifikasi alat tangkap tersebut berbeda. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji interaksi perikanan pukat hela dan potensi konflik dalam pemanfaatan sumberdaya ikan di Laut Arafura. Metode yang digunakan ialah analisis kualitatif (conflict wheel dan conflict tree) statistik deskriptif menggunakan data perikanan PPN Ambon tahun 2007-2010. Hasil analisis potensi konflik menunjukkan interaksi kedua perikanan tersebut berpeluang menjadi konflik, karena faktor dinamis sulit dikonsolidasikan pada kondisi kebijakan pengelolaan saat ini. Peringkat peluang penerapan penyelesaian masalah dari penelitian sebelumnya berturut-turut, yakni: (1) pemanfaatan hasil tangkapan sampingan; (2) penerbitan izin yang selektif dan ketat; (3) pengelolaan berbasis kelompok (kluster); (4) pemasangan TED dengan disain yang optimal; serta (5) moratorium penangkapan.Dominant fishing fleet that is growing in Arafuru sea is shrimp trawl and midwater trawl. Both fleets have the same fishing ground, fishing seasons and catch, but different in specifications of the gears. This study aims to assess the trawl fishery interactions and potential conflicts in the utilization of fish resources in Arafura Sea. The method used was qualitative analysis (wheel conflict and conflict tree) descriptive statistics using data from Ambon Archipelagic Fishing Port in 2007-2010. The results showed that interaction between both trawl fisheries have opportunity to become conflict, because dynamic factors difficult to be compromise in are current management policy. Furthermore, opportunity level of solution from previous studies: (1) utilization of the catch side, (2) selective and strict licensing, (3) management based groups (clusters), (4) installation TED with an optimal design; and (5) moratorium of fishing licensing respectively.
VARIASI UKURAN DAN SEBARAN TANGKAPAN IKAN SIDAT (Anguilla marmorata) DI SUNGAI POSO, SULAWESI TENGAH Krismono Krismono; Masayu Rahmia Anwar Putri
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 18, No 2 (2012): (Juni) 2012
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (485.895 KB) | DOI: 10.15578/jppi.18.2.2012.85-92

Abstract

Ikan sidat (Anguilla marmorata) merupakan salah satu potensi sumber daya ikan lokal terbesar yang ada di Sulawesi Tengah. Ikan sidat merupakan ikan katadromus yang tahap perkembangannya terjadi di perairan estuari, sungai dan danau serta area pemijahannya terjadi di laut lepas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis variasi ukuran dan sebaran tangkapan ikan sidat di Sungai Poso. Pengambilan sampel ikan sidat dilakukan dengan menggunakan alat tangkap bubu, pancing, sero dan wayamassapi yang didapat dari data enumerator di Muara, Sungai Poso (Pandiri dan Sulewana) serta Danau Poso (Tentena). Ikan sidat diukur panjang dan beratnya untuk dianalisis menurut lokasi, jenis alat tangkap dan waktu penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ikan sidat tertangkap setiap bulan dengan puncaknya terjadi pada Juli dan Agustus. Ikan ini tertangkap pada berbagai ukuran dari Muara Sungai Poso, Sungai Poso dan sampai Danau Poso. Penangkapan ikan sidat menggunakan bubu, sero, wayamassapi dan pancing yang merupakan alat tangkap yang paling banyak digunakan oleh penangkap sidat, terutama di daerah muara. Tangkapan ikan sidat ukuran panjang (0-15 sampai 135-150 cm panjang total) di Muara Poso, sedangkan di lokasi lainnya panjang ikan sidat yang tertangkap rata-rata lebih besar dari 30 cm panjang tiotal. Ikan sidat yang tertangkap di Muara Poso masih dalam fase yellow eel (6-50 cm panjang total) sedangkan ikan sidat yang tertangkap di Tentena lebih banyak dalam fase silver eel (lebih besar dari 50 cm panjang total). Tentena merupakan tempat penangkapan sidat dewasa dengan ukuran bobot ± 3 kali lebih besar (3.186 g ekor-1) dibandingkan ikan sidat yang tertangkap di lokasi penelitian lainnya dengan bobot antara 1.003-1.696 g ekor-1.Eel (Anguilla marmorata) is one of the biggest local potential fish in the Central Sulawesi. Eel is a catadromous fish, its development stages occur in the estuary, river and Poso Lake, and the eel’s spawning ground occurs in the deep sea. This research aims to determine the size and catch distribution of eels in Poso River. Fish sampling was carried out by using the traps, hooks, set traps (sero and wayamasapi) and the data were collected by enumerators in Estuary, River Poso (Pandiri and Sulewana) and Lake Poso (Tentena). Total length and weight of eels were measured, and then the data were analyzed by location, gear type and time studies to determine the distribution of eel in the River Poso. Eels with different lengths (between 0-15 to 135-150 cm of total length) were found in the Estuary of Poso, while in other locations, the length average of eels was greater than 30 cm length. Eels caught in the estuary were still in yellow eel phase (6-50 cm of total length) while more eels were caught in Tentena in silver eels phase (greater than 50 cm of total length). Hooks is the most widely used by the fishers, especially in the estuary. In 2010, eels were mostly caught for every month with their peak were occurred in July and August. Tentena was a fishing ground for an adult eels with eels weight about 3 times greater (weight 3186 g fish-1) than the eels caught in the other study sites which the weight ranging between 1,003-1,696 g-1 fish.

Page 1 of 1 | Total Record : 8


Filter by Year

2012 2012


Filter By Issues
All Issue Vol 31, No 4 (2025): (Desember 2025) Vol 31, No 3 (2025): (September 2025) Vol 31, No 2 (2025): (Juni 2025) Vol 31, No 1 (2025): (Maret 2025) Vol 30, No 4 (2024): (Desember 2024) Vol 30, No 3 (2024): (September) 2024 Vol 30, No 2 (2024): (Juni) 2024 Vol 30, No 1 (2024): (Maret) 2024 Vol 29, No 4 (2023): (Desember) 2023 Vol 29, No 3 (2023): (September) 2023 Vol 29, No 1 (2023): (Maret) 2023 Vol 28, No 4 (2022): (Desember) 2022 Vol 28, No 3 (2022): (September) 2022 Vol 28, No 2 (2022): (Juni) 2022 Vol 28, No 1 (2022): (Maret) 2022 Vol 27, No 4 (2021): (Desember) 2021 Vol 27, No 3 (2021): (September) 2021 Vol 27, No 2 (2021): (Juni) 2021 Vol 27, No 1 (2021): (Maret) 2021 Vol 26, No 4 (2020): (Desember) 2020 Vol 26, No 3 (2020): (September) 2020 Vol 26, No 2 (2020): (Juni) 2020 Vol 26, No 1 (2020): (Maret) 2020 Vol 25, No 4 (2019): (Desember) 2019 Vol 25, No 3 (2019): (September) 2019 Vol 25, No 2 (2019): (Juni) 2019 Vol 25, No 1 (2019): (Maret) 2019 Vol 24, No 4 (2018): (Desember) 2018 Vol 24, No 3 (2018): (September) 2018 Vol 24, No 2 (2018): (Juni 2018) Vol 24, No 1 (2018): (Maret 2018) Vol 23, No 4 (2017): (Desember 2017) Vol 23, No 3 (2017): (September 2017) Vol 23, No 2 (2017): (Juni 2017) Vol 23, No 1 (2017): (Maret, 2017) Vol 22, No 4 (2016): (Desember 2016) Vol 22, No 3 (2016): (September) 2016 Vol 22, No 2 (2016): (Juni 2016) Vol 22, No 1 (2016): (Maret 2016) Vol 21, No 4 (2015): (Desember 2015) Vol 21, No 3 (2015): (September 2015) Vol 21, No 2 (2015): (Juni 2015) Vol 21, No 1 (2015): (Maret 2015) Vol 20, No 4 (2014): (Desember 2014) Vol 20, No 3 (2014): (September 2014) Vol 20, No 2 (2014): (Juni 2014) Vol 20, No 1 (2014): (Maret 2014) Vol 19, No 4 (2013): (Desember 2013) Vol 19, No 3 (2013): (September 2013) Vol 19, No 2 (2013): (Juni 2013) Vol 19, No 1 (2013): (Maret 2013) Vol 18, No 4 (2012): (Desember 2012) Vol 18, No 3 (2012): (September 2012) Vol 18, No 2 (2012): (Juni) 2012 Vol 18, No 1 (2012): (Maret 2012) Vol 17, No 4 (2011): (Desember 2011) Vol 17, No 3 (2011): (September 2011) Vol 17, No 2 (2011): (Juni 2011) Vol 17, No 1 (2011): (Maret 2011) Vol 16, No 4 (2010): (Desember 2010) Vol 16, No 3 (2010): (September 2010) Vol 16, No 2 (2010): (Juni 2010) Vol 16, No 1 (2010): (Maret 2010) Vol 15, No 4 (2009): (Desember 2009) Vol 15, No 3 (2009): (September 2009) Vol 15, No 2 (2009): (Juni 2009) Vol 15, No 1 (2009): (Maret 2009) Vol 14, No 4 (2008): (Desember 2008) Vol 14, No 3 (2008): (September 2008) Vol 14, No 2 (2008): (Juni 2008) Vol 14, No 1 (2008): (Maret 2008) Vol 13, No 3 (2007): (Desember 2007) Vol 13, No 2 (2007): (Agustus 2007) Vol 13, No 1 (2007): (April 2007) Vol 12, No 3 (2006): (Desember 2006) Vol 12, No 2 (2006): (Agustus 2006) Vol 12, No 1 (2006): (April 2006) Vol 11, No 9 (2005): (Vol. 11 No. 9 2005) Vol 11, No 8 (2005): (Vol. 11 No. 8 2005) Vol 11, No 7 (2005): (Vol. 11 No. 7 2005) Vol 11, No 6 (2005): (Vol. 11 No. 6 2005) Vol 11, No 5 (2005): (Vol. 11 No. 5 2005) Vol 11, No 4 (2005): (Vol. 11 No. 4 2005) Vol 11, No 3 (2005): (Vol. 11 No. 3 2005) Vol 11, No 2 (2005): (Vol. 11 No. 2 2005) Vol 11, No 1 (2005): (Vol. 11 No. 1 2005) Vol 10, No 7 (2004): (Vol. 10 No. 7 2004) Vol 10, No 6 (2004): (Vol. 10 No. 6 2004) Vol 10, No 5 (2004): (Vol. 10 No. 5 2004) Vol 10, No 4 (2004): (Vol. 10 No. 4 2004) Vol 10, No 3 (2004): (Vol. 10 No. 3 2004) Vol 10, No 2 (2004): (Vol. 10 No. 2 2004) Vol 10, No 1 (2004): (Vol. 10 No. 1 2004) Vol 9, No 7 (2003): (Vol.9 No.7 2003) Vol 9, No 6 (2003): (Vol.9 No.6 2003) Vol 9, No 5 (2003): Vol. 9 No. 5 2003) Vol 9, No 4 (2003): Vol. 9 No. 4 2003) Vol 9, No 3 (2003): (Vol.9 No.3 2003) Vol 9, No 2 (2003): (Vol, 9 No. 2 2003) Vol 9, No 1 (2003): (Vol.9 No.1 2003) Vol 8, No 7 (2002): (Vol.8 No.7 2002) Vol 8, No 6 (2002): (Vol.8 No.6 2002) Vol 8, No 5 (2002): (Vol.8 No.5 2002) Vol 8, No 4 (2002): (Vol.8 No.4 2002) Vol 8, No 3 (2002): (Vol.8 No.3 2002) Vol 8, No 2 (2002): (Vol. 8 No. 2 2002) Vol 8, No 1 (2002): (Vol.8 No.1 2002) Vol 7, No 4 (2001): (Vol. 7 No. 4 2001) Vol 7, No 2 (2001): (Vol.7 No. 2 2001) Vol 6, No 3-4 (2000): (Vol.6 No.3-4 2000) Vol 6, No 2 (2000): (Vol.6 No.2 2000) Vol 6, No 1 (2000): (Vol.6 No.1 2000) Vol 5, No 2 (1999): (Vol.5 No.2 1999) Vol 5, No 1 (1999): (Vol.5 No. 1 1999) Vol 4, No 4 (1998): (Vol.4 No.4 1998) Vol 4, No 3 (1998): (Vol.4 No.3 1998) Vol 4, No 2 (1998): (Vol.4 No.2 1998) Vol 4, No 1 (1998): (Vol.4 No.1 1998) Vol 3, No 4 (1997): (Vol.3 No.4 1997) Vol 3, No 3 (1997): (Vol.3 No.3 1997) Vol 3, No 2 (1997): (Vol.3 No.2 1997) Vol 3, No 1 (1997): (Vol.3 No.1 1997) Vol 2, No 4 (1996): (Vol.2 No.4 1996) Vol 2, No 3 (1996): (Vol.2 No.3 1996) Vol 2, No 2 (1996): (Vol.2 No.2 1996) Vol 2, No 1 (1996): (Vol.2 No.1 1996) Vol 1, No 4 (1995): (Vol.1 No.4 1995) Vol 1, No 3 (1995): (Vol.1 No.3 1995) Vol 1, No 2 (1995): (Vol.1 No.2 1995) Vol 1, No 1 (1995): (Vol.1 No.1 1995) More Issue