cover
Contact Name
Endang Sriyati
Contact Email
jppi.puslitbangkan@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jppi.puslitbangkan@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kab. karawang,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia
ISSN : 08535884     EISSN : 25026542     DOI : -
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia accepts articles in the field of fisheries, both sea and inland public waters. The journal presents results of research resources, arrest, oceanography, environmental, environmental remediation and enrichment of fish stocks.
Arjuna Subject : -
Articles 1,072 Documents
PENGARUH FOSFOLIPID DALAM PAKAN TERHADAP PEMATANGAN GONAD UDANG WINDU (Penaeus monodon) ASAL TAMBAK Ketut Suwirya; M. Marzuqi
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 4, No 1 (1998): (Vol.4 No.1 1998)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3690.105 KB) | DOI: 10.15578/jppi.4.1.1998.75-79

Abstract

Fosfolipid berperan dalam transpor lenrak dan kholesterol antar organ danjaringan. Studi penambahan fosfolipid pakan induk udang windu dilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan kadar fosfolipid pakan yang optimal dalam pematangan induk udang windu
DIAGNOSIS CEPAT TERHADAP PENYAKIT BAKTERIAL Aeromonas hydrophila DENGAN MENGGUNAKAN METODE SEROLOGI Hambali Supriyadi; Hariyadi Mangunwiryo; Johan Effendi K
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 3, No 1 (1997): (Vol.3 No.1 1997)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3911.582 KB) | DOI: 10.15578/jppi.3.1.1997.16-20

Abstract

Keterlambatan serta kurang tepatnya diagnosis suatu penyakit ikan merupakan salah satu faktor penyebab lambatnya dan salahnya tindakan pengobatannya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan cara diagnosis yang tepat dan cepat terhadap penyakit bakterial, khususnya yang disebabkan oleh bakteri Aeromonas hydrophilo dengan menggunakan metode serologi.
PENGARUH SUHU, KEPADATAN DAN WAKTU TRANSPORTASI TELUR BANDENG (Chonos chanos) TERHADAP KUALITAS TELUR DAN LARVANYA Gede S. Sumiarsa; Ketut Sugama
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 2, No 3 (1996): (Vol.2 No.3 1996)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5021.002 KB) | DOI: 10.15578/jppi.2.3.1996.65-71

Abstract

Lokasi panti benih lengkap sebagai pemasok telur bandeng umumnya berjauhan dengan panti benih skala rumah tangga. Oleh karena itu, diperlukan metode yang terbaik dalam mengangkut telur bandeng. Tujuan penelitian pendahuluan ini adalah untuk mengetahui pengaruh b--erbagaiperiode penggoyangan(shaking) serta berbagai kepadatan, waktu transportasi dan suhu terhadap kualitas telur dan larva bandeng.
APLIKASI MODEL SURPLUS PRODUKSI NON-EKUILIBRIUM PADA PERIKANAN LAYANG ( Decapterus macrosoma) DI LAUT JAWA Suherman Banon Atmaja; Bambang Sadhotomo; Duto Nugroho
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 23, No 1 (2017): (Maret, 2017)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (9425.98 KB) | DOI: 10.15578/jppi.23.1.2017.57-66

Abstract

Ikan layang (Decapterus macrosoma) dikelompokkan sebagai ikan pelagis yang menyukai habitat oseanik. Kajian ini membahas pendugaan biomassa dengan pendekatan model surplus produksi (MSY) pada spesies layang berdasarkan himpunan data runtut CPUE dan produksi perikanan pukat cincin yang berasal dari Pekalongan dan Juwana selama kurun waktu 1976-2009. Analisis menggunakan pendekatan non-ekuilibrium dengan bantuan perangkat aplikasi ASPIC 7. Hasil penelitian menunjukan sejak tahun 1991 sampai dengan 2005, status biomassa cenderung terus menurun dan tingkat eksploitasi telah melampaui ambang batas untuk menentukan pengelolaan dengan besaran keseimbangan Fmsy dan Bmsy =1. Sejak 2006, penurunan secara drastis baik jumlah armada pukat cincin maupun aktivitas penangkapannya telah memberikan peluang terhadap pemulihan stok menuju tingkat biomassa optimal. Keterbatasan kemampuan pengendalian terhadap dinamika perikanan berakibat pada peningkatan upaya penangkapan, perubahan kapasitas maupun taktik penangkapan. Pergeseran teknologi tersebut cenderung lebih rasional untuk peningkatan produktivitas dan abai terhadap tingkat mortalitas penangkapan yang sedang berjalan (Ft). Untuk itu, upaya pengendalian yang lebih konservatif tentang risiko terhadap pembiaran pola eksploitasi yang sedang berjalan sangat diperlukan. Evaluasi terhadap jumlah armada aktif merupakan landasan untuk mendapatkan status pemanfaatan yang sedang berjalan dan penutupan izin masuknya armada baru merupakan tindakan pengelolaan patut dilakukan untuk memperbesar peluang pemulihan stok pada tingkat optimal.The scads (Decapterus macrosoma) were grouped into pelagic fish associated with oceanic habitat. This study deal with the estimation of biomass and MSY of shortfin scads base on CPUE and production of purse seiners fishery in Pekalongan and Juwana during 1976-2009. Analysis was carried out using non-equilibrium approach through programs package of ASPIC 7. The results showed that since 1991 to 2005, the trend of biomass continued to decline and exploitation rates exceed management benchmarks i.e. Fmsy and Bmsy = 1. Since 2006, drastic decline in number of purse seine and their activity indicates that the probability of recovery biomass to optimum level were increased. However, due to limited capacity on managing the dynamics of fishing activity under the scheme of productivity and ignoring the increasing fishing mortality (Ft), the biomass tends to decline. Therefore, revisiting the fisheries system on input control should be more rational to maintain fishing mortality at equal to Fmsy. A conservative approach on restrictive licencing for new entrance would be necessary to increase the probability of rebuilding the pelagic fish stock at optimal level.
PENGARUH PERBEDAAN VOLUME PERGANTIAN AIR TERHADAP LAJU SINTASAN DAN PERTUMBUHAN YUWANA SOTONG BULUH, Seproteuthis lessoniana Lesson Usman Usman; M S. Hamzah; Tatrfik Ahmad
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 6, No 2 (2000): (Vol.6 No.2 2000)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3060.095 KB) | DOI: 10.15578/jppi.6.2.2000.92-95

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan persentase volume air yang optimal dalampemeliharaan yuwana sotong buluh, Sepioteuthis lessoniana dengan sistem air mengalir. Wadah pemeliharaan berupa bak serat gelas sebanyak sembilan buah, diisi air laut masing-masing sebanyak 150 L/bak. Hev'ran uji brerupa yuwana sotong buluh umur nol hari dengan bobot awal rata-rata 0,0250 g dan panjang nrantel awal rata-rata 5,0 mm, ditebar ke dalam wadah pemeliharaan dengan kepadatan 1.000 ekor/bak
FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN APLIKASI MOTORISASI PENANGKAPAN (STUDI KASUS DI KECAMATAN SALAHUTA KABUPATEN MALUKU TENGAH PROVINSI MALUKU) Franklin Syauta
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 4, No 3 (1998): (Vol.4 No.3 1998)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4605.36 KB) | DOI: 10.15578/jppi.4.3.1998.60-71

Abstract

Nelayan akan dapat mengaplikasikan motorisasi penangkapan bila mereka mempunyaikemauan, kemampuan dan kesempatan. Kemauan, kemampuan dan kesempatan akan dimiliki nelayan. bila didukung oleh faklor internal dan faktor ekstelnal.
PENGARUH AKLIMATISASI TERHADAP SINTASAN BENIH IKAN KAKAP PUTIH Lates calcarifer SETELAH PROSES ANGKUT Asmanelli Asmanelli; Agus lrianto
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 2, No 1 (1996): (Vol.2 No.1 1996)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1364.207 KB) | DOI: 10.15578/jppi.2.1.1996.22-30

Abstract

Penelitian telah dilakukan terhadap benih ikan kakap putih yang baru diangkut dari Tanjung Balai Karimun ke Selat Dompak, dengan tujuan untuk memusnahkan parasit yang dibawa dari daerah asal dan untuk mencegah terjadinya infeksi patogen di daerah yang baru.
PERUBAIIAN HEMA'TOLOGI DAN JARINGAN IKAN LELE DUMBO Clarias gariepinus YANG DIINFEKSI CENDAWA(Aphanomyces spt Dayat Bastiawan; Taukhid Taukhid; Mohamad Alifuddin; Tri S. Dermawati
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 1, No 2 (1995): (Vol.1 No.2 1995)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5358.359 KB) | DOI: 10.15578/jppi.1.2.1995.106-115

Abstract

Tuiuh puluh ekor lele dumbo dikerok begian punggungnya, spora cendawan Aphanomyces sp. diinfeksikan dengan kepadatan 200 spora/ml, Setiap dua hari sekalidilakukan pengambilan sampel untuk pembuatan histologi dan pengamatan perubahangembaren dareh meliputi: kadar hematokrit, haemoglobin, iumlah eritrosit dandiferensisi leukosit meliputi limfosit, monosit den neutrofil.
KARAKTERISTIK UPAYA DAN DAERAH PENANGKAPAN PUKAT CINCIN PELAGIS BESAR YANG BERPANGKALAN DI PPS BITUNG Sandi Wibowo; Suryanto Suryanto; Duto Nugroho
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 22, No 1 (2016): (Maret 2016)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1317.396 KB) | DOI: 10.15578/jppi.22.1.2016.51-60

Abstract

Pelabuhan Perikanan Samudra Bitung berperan penting dalam mendukung operasi armada perikanan pukat cincin pelagis besar yang ditujukan untuk memanfaatkan sumberdaya ikan tuna di WPPNRI 714, 715, 716 dan 717 yang mewakili perairan kepulauan, ZEEI dan laut lepas. Analisis deskriptif terhadap data logbook 2011-2013 perikanan pukat cincin pelagis besar ditujukan untuk mendapatkan karakteristik armada, sebaran daerah dan aktivitas penangkapan pukat cincin yang berpangkalan di PPS Bitung. Karakteristik upaya ditekankan pada rerata dimensi dan ukuran panjang kapal pukat cincin pelagis besar yang beroperasi memberikan informasi bahwa armada yang beroperasi pada 2013 berukuran rata-rata panjang 22,9 m (dengan kisaran 12,7 – 33,5) dengan ukuran bobot kapal 69,6 GT (18-200) serta kekuatan mesin sebesar 317,5 DK (80-1200). Operasional penangkapan menggambarkan kisaran jarak dan durasi antar tawur pada rumpon. Hasil analisis memberikan indikasi bahwa dari 106 unit kapal pukat cincin yang beroperasi 49% diantaranya aktif menangkapi 1 WPP, 41% di 2 WPP, dan 10% di 3 WPP, tidak ditemukan kapal yang beroperasi di empat WPP. Sebaran aktivitas penangkapan tertinggi pada 2013 ditemukan di WPP 715 sebesar 1828 tawur sedangkan terendah ditemukan di laut lepas sejumlah 9 tawur. Laju tangkap tertinggi pada 2013 (20,9 ton/tawur) terdapat di WPP 714 sedangkan hasil tangkapan per tawur terendah (6,11 ton/tawur) ditemukan di WPP 716. Musim penangkapan yang diwakili oleh frekuensi upaya tawur bulanan tidak menggambarkan adanya perbedaan yang nyata. Ocean fishing port of Bitung has an essential role provides fishing operation needs of tuna and skipjack purse seine fishery that operating their fleets in four Fisheries Management Areas (FMAs) 714, 715, 716 and 717 represent archipelagic, IZEE and high seas waters. Fisheries logbook and Vessel Monitoring System (VMS) data were collected during the port performance research program in 2014.  Exploratory data analyses were applied to data of 2011 to 2013. The objective of this study is to describe the purse seine fleet characteristics, distribution of fishing grounds including estimate of catch rates. Integrating VMS data and logbook were explored to estimate range of distance and duration between fishing activities. The average length over all (LOA) of active vessels in 2013 was 22.9 m (12.7 – 33.5 m) with tonnage of 69.6 GT (18-200 GT) and engine power of 317.5 HP (80-1200 HP). Descriptive analysis indicates that 49% of 106 vessels operate only in one FMA, 41% in two FMAs and the last 10% operate in three FMAs, no fleet operate in four FMAs. The highest fishing activities in 2013 found in FMA 715 with 1828 hauls while the lowest are found on the high seas with 9 hauls. The highest catch per unit effort in 2013 was found on FMA 714 (20.9 tons/setting) while the lowest was found in FMA 716 (6.11 tons/setting). Fishing season is represented by frequency of gear setting indicated that there is no significantly seasonal difsference. 
HASIL TANGKAPAN CUCUT YANG TERTANGKAP DENGAN JARING INSANG TUNA PERMUKAAN DI PERAIRAN SAMUDERA HINDIA Dharmadi Dharmadi; Setya Triharyuni; Joko Rianto
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 16, No 4 (2010): (Desember 2010)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.227 KB) | DOI: 10.15578/jppi.16.4.2010.285-291

Abstract

Penelitian ini dilakukan di lokasi pendaratan ikan utama Pelabuhan Perikanan Samudera Cilacap selama tahun 2006-2008. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui fluktuasi catch per unit of effort, komposisi, dan fluktuasi hasil tangkapan cucut yang tertangkap dengan jaring insang tuna permukaan. Metode penelitian dengan pengamatan langsung di lapangan dan pengumpulan data hasil tangkapan oleh enumerator. Data hasil tangkapan cucut (Requiem shark sp.) diperoleh berdasarkan atas catatan harian dari sejumlah kapal yang menggunakan jaring insang tuna permukaan yang beroperasi di perairan Samudera Hindia selama tahun 2007 dan 2008 masing-masing 821 dan 791 unit. Hasil penelitian ini menunjukan telah terjadi indikasi penurunan catch per unit of effort cucut secara bulanan. Nilai catch per unit of effort tahun 2008 mulai menurun setelah bulan Juli sampai Desember, jika dibandingkan tahun 2007 pada periode yang sama (p<0,05). Komposisi hasil tangkapan cucut bervariasi secara bulanan berdasarkan atas spesies yang didominansi oleh Alopias pelagicus (59,4%) dan Alopias superciliosus (21,1%). Fluktuasi hasil tangkapan dari delapan spesies cucut menunjukan variasi yang hampir sama dan puncak hasil tangkapan terjadi pada bulan Juni dan Juli. This study has been conducted at major fish landing sites, Ocean Fishing Port of Cilacap during the period of 2006-2008. The aim of this research is to find out catch per unit of effort fluctuations, composition, and fluctuations of shark catches are caught by surface tuna gillnet. Research methods with direct observation and catch data collection by enumerator. Shark catch data obtained from daily records from 821 units in 2007 and 791 units in 2008 of the vessels surface tuna gillnet operating in the Indian Ocean. The results show there have been indications of a decrease shark catch per unit of effort based on a monthly (P<0,05). Catch per unit of effort values in 2008 began to decline after the month of July until December, when compared to the year 2007 in the same period. The composition of shark catches was vary monthly based on species that are dominated by Alopias pelagicus (59.4%), and Alopias superciliosus (21.1%). Catch fluctuation of the eight species of shark showed similar variations and peak catches occurred in June and July.

Page 81 of 108 | Total Record : 1072


Filter by Year

1995 2026


Filter By Issues
All Issue Vol 32, No 1 (2026): (Maret 2026) Vol 31, No 4 (2025): (Desember 2025) Vol 31, No 3 (2025): (September 2025) Vol 31, No 2 (2025): (Juni 2025) Vol 31, No 1 (2025): (Maret 2025) Vol 30, No 4 (2024): (Desember 2024) Vol 30, No 3 (2024): (September) 2024 Vol 30, No 2 (2024): (Juni) 2024 Vol 30, No 1 (2024): (Maret) 2024 Vol 29, No 4 (2023): (Desember) 2023 Vol 29, No 3 (2023): (September) 2023 Vol 29, No 1 (2023): (Maret) 2023 Vol 28, No 4 (2022): (Desember) 2022 Vol 28, No 3 (2022): (September) 2022 Vol 28, No 2 (2022): (Juni) 2022 Vol 28, No 1 (2022): (Maret) 2022 Vol 27, No 4 (2021): (Desember) 2021 Vol 27, No 3 (2021): (September) 2021 Vol 27, No 2 (2021): (Juni) 2021 Vol 27, No 1 (2021): (Maret) 2021 Vol 26, No 4 (2020): (Desember) 2020 Vol 26, No 3 (2020): (September) 2020 Vol 26, No 2 (2020): (Juni) 2020 Vol 26, No 1 (2020): (Maret) 2020 Vol 25, No 4 (2019): (Desember) 2019 Vol 25, No 3 (2019): (September) 2019 Vol 25, No 2 (2019): (Juni) 2019 Vol 25, No 1 (2019): (Maret) 2019 Vol 24, No 4 (2018): (Desember) 2018 Vol 24, No 3 (2018): (September) 2018 Vol 24, No 2 (2018): (Juni 2018) Vol 24, No 1 (2018): (Maret 2018) Vol 23, No 4 (2017): (Desember 2017) Vol 23, No 3 (2017): (September 2017) Vol 23, No 2 (2017): (Juni 2017) Vol 23, No 1 (2017): (Maret, 2017) Vol 22, No 4 (2016): (Desember 2016) Vol 22, No 3 (2016): (September) 2016 Vol 22, No 2 (2016): (Juni 2016) Vol 22, No 1 (2016): (Maret 2016) Vol 21, No 4 (2015): (Desember 2015) Vol 21, No 3 (2015): (September 2015) Vol 21, No 2 (2015): (Juni 2015) Vol 21, No 1 (2015): (Maret 2015) Vol 20, No 4 (2014): (Desember 2014) Vol 20, No 3 (2014): (September 2014) Vol 20, No 2 (2014): (Juni 2014) Vol 20, No 1 (2014): (Maret 2014) Vol 19, No 4 (2013): (Desember 2013) Vol 19, No 3 (2013): (September 2013) Vol 19, No 2 (2013): (Juni 2013) Vol 19, No 1 (2013): (Maret 2013) Vol 18, No 4 (2012): (Desember 2012) Vol 18, No 3 (2012): (September 2012) Vol 18, No 2 (2012): (Juni) 2012 Vol 18, No 1 (2012): (Maret 2012) Vol 17, No 4 (2011): (Desember 2011) Vol 17, No 3 (2011): (September 2011) Vol 17, No 2 (2011): (Juni 2011) Vol 17, No 1 (2011): (Maret 2011) Vol 16, No 4 (2010): (Desember 2010) Vol 16, No 3 (2010): (September 2010) Vol 16, No 2 (2010): (Juni 2010) Vol 16, No 1 (2010): (Maret 2010) Vol 15, No 4 (2009): (Desember 2009) Vol 15, No 3 (2009): (September 2009) Vol 15, No 2 (2009): (Juni 2009) Vol 15, No 1 (2009): (Maret 2009) Vol 14, No 4 (2008): (Desember 2008) Vol 14, No 3 (2008): (September 2008) Vol 14, No 2 (2008): (Juni 2008) Vol 14, No 1 (2008): (Maret 2008) Vol 13, No 3 (2007): (Desember 2007) Vol 13, No 2 (2007): (Agustus 2007) Vol 13, No 1 (2007): (April 2007) Vol 12, No 3 (2006): (Desember 2006) Vol 12, No 2 (2006): (Agustus 2006) Vol 12, No 1 (2006): (April 2006) Vol 11, No 9 (2005): (Vol. 11 No. 9 2005) Vol 11, No 8 (2005): (Vol. 11 No. 8 2005) Vol 11, No 7 (2005): (Vol. 11 No. 7 2005) Vol 11, No 6 (2005): (Vol. 11 No. 6 2005) Vol 11, No 5 (2005): (Vol. 11 No. 5 2005) Vol 11, No 4 (2005): (Vol. 11 No. 4 2005) Vol 11, No 3 (2005): (Vol. 11 No. 3 2005) Vol 11, No 2 (2005): (Vol. 11 No. 2 2005) Vol 11, No 1 (2005): (Vol. 11 No. 1 2005) Vol 10, No 7 (2004): (Vol. 10 No. 7 2004) Vol 10, No 6 (2004): (Vol. 10 No. 6 2004) Vol 10, No 5 (2004): (Vol. 10 No. 5 2004) Vol 10, No 4 (2004): (Vol. 10 No. 4 2004) Vol 10, No 3 (2004): (Vol. 10 No. 3 2004) Vol 10, No 2 (2004): (Vol. 10 No. 2 2004) Vol 10, No 1 (2004): (Vol. 10 No. 1 2004) Vol 9, No 7 (2003): (Vol.9 No.7 2003) Vol 9, No 6 (2003): (Vol.9 No.6 2003) Vol 9, No 5 (2003): Vol. 9 No. 5 2003) Vol 9, No 4 (2003): Vol. 9 No. 4 2003) Vol 9, No 3 (2003): (Vol.9 No.3 2003) Vol 9, No 2 (2003): (Vol, 9 No. 2 2003) Vol 9, No 1 (2003): (Vol.9 No.1 2003) Vol 8, No 7 (2002): (Vol.8 No.7 2002) Vol 8, No 6 (2002): (Vol.8 No.6 2002) Vol 8, No 5 (2002): (Vol.8 No.5 2002) Vol 8, No 4 (2002): (Vol.8 No.4 2002) Vol 8, No 3 (2002): (Vol.8 No.3 2002) Vol 8, No 2 (2002): (Vol. 8 No. 2 2002) Vol 8, No 1 (2002): (Vol.8 No.1 2002) Vol 7, No 4 (2001): (Vol. 7 No. 4 2001) Vol 7, No 2 (2001): (Vol.7 No. 2 2001) Vol 6, No 3-4 (2000): (Vol.6 No.3-4 2000) Vol 6, No 2 (2000): (Vol.6 No.2 2000) Vol 6, No 1 (2000): (Vol.6 No.1 2000) Vol 5, No 2 (1999): (Vol.5 No.2 1999) Vol 5, No 1 (1999): (Vol.5 No. 1 1999) Vol 4, No 4 (1998): (Vol.4 No.4 1998) Vol 4, No 3 (1998): (Vol.4 No.3 1998) Vol 4, No 2 (1998): (Vol.4 No.2 1998) Vol 4, No 1 (1998): (Vol.4 No.1 1998) Vol 3, No 4 (1997): (Vol.3 No.4 1997) Vol 3, No 3 (1997): (Vol.3 No.3 1997) Vol 3, No 2 (1997): (Vol.3 No.2 1997) Vol 3, No 1 (1997): (Vol.3 No.1 1997) Vol 2, No 4 (1996): (Vol.2 No.4 1996) Vol 2, No 3 (1996): (Vol.2 No.3 1996) Vol 2, No 2 (1996): (Vol.2 No.2 1996) Vol 2, No 1 (1996): (Vol.2 No.1 1996) Vol 1, No 4 (1995): (Vol.1 No.4 1995) Vol 1, No 3 (1995): (Vol.1 No.3 1995) Vol 1, No 2 (1995): (Vol.1 No.2 1995) Vol 1, No 1 (1995): (Vol.1 No.1 1995) More Issue