cover
Contact Name
Endang Sriyati
Contact Email
jppi.puslitbangkan@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jppi.puslitbangkan@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kab. karawang,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia
ISSN : 08535884     EISSN : 25026542     DOI : -
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia accepts articles in the field of fisheries, both sea and inland public waters. The journal presents results of research resources, arrest, oceanography, environmental, environmental remediation and enrichment of fish stocks.
Arjuna Subject : -
Articles 1,072 Documents
PENGARUH UKURAN BENANG DAN LEBAR MATA JARING TRAMMEL TERHADAP HASIL TANGKAPAN IKAN DEMERSAL Wudianto Wudianto; Heri Harifin
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 5, No 2 (1999): (Vol.5 No.2 1999)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5937.283 KB) | DOI: 10.15578/jppi.5.2.1999.35-43

Abstract

Penelitian pengaruh ukuran benang dan mata jaring trammel terhadap hasil tangkapan ikan demersal telah dilakukan di Perairan Indramayu
UJI DAYA HAMBAT BERBAGAI JENIS BAKTERI TERHADAP PERKEMBANGAN Vibrio harveyi PADA PEMELIHARAAN LARVA KEPITING BAKAU (Scylla serrata) Imam Taufik; Zafran Zafran
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 3, No 1 (1997): (Vol.3 No.1 1997)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3238.154 KB) | DOI: 10.15578/jppi.3.1.1997.36-43

Abstract

Rendahnya sintasan larva kepiting bakau (Scylla sercata) antara lain disebabkan karena infeksi bakteri Vibrio haruel-i. Upaya penanggulangan yang efektif dan aman dapat dilakukan secara biologis dengan memanfaatkan bakteri lain yang bersifat sebagai kompetitor bagi V. harueyi.
IDENTIFIKASI STRUKTUR STOK IKAN CAKALANG (Katsuwonus pelamis Linnaeus, 1758) DI SAMUDRA HINDIA (WPP NRI 573) MENGGUNAKAN ANALISIS BENTUK OTOLITH Arief Wujdi; Bram Setyadji; Suciadi Catur Nugroho
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 23, No 2 (2017): (Juni 2017)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (11964.688 KB) | DOI: 10.15578/jppi.23.2.2017.77-88

Abstract

Ikan cakalang (Katsuwonus pelamis Linnaeus, 1758) yang tersebar luas di Samudra Hindia selatan Jawa, Bali dan Nusa Tenggara telah dieksploitasi secara terus menerus dengan berbagai alat tangkap. Pengelolaannya saat ini belum rasional karena masih diasumsikan sebagai unit stok tunggal tanpa adanya bukti ilmiah sehingga rentan mengalami lebih tangkap. Penelitian ini bertujuan untuk mengindentifikasi struktur stok ikan cakalang dengan teknik analisis bentuk otolith. Sampel otolith (saggittae) dikumpulkan pada bulan April, Agustus, dan September tahun 2016 di 4 lokasi, yaitu: Binuangeun, Sadeng, Prigi, dan Labuhan Lombok. Rekonstruksi bentuk otolith dilakukan dengan pendekatan outline analysis menggunakan teknik transformasi discrete wavelet. Uji statistik multivariate dengan kluster analisis menggunakan canonical analysis ofprincipal (CAP) dan uji ANOVA-like permutation juga diterapkan untuk menentukan signifikansi antar populasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa analisis bentuk otolith dapat digunakan sebagai penanda yang akurat untuk mengidentifikasi struktur stok. Bentuk otolith ikan cakalang bervariasi khususnya pada bagian rostrum, namun tidak berbeda nyata antar populasi (p>0,001). Hal tersebut berarti struktur stok ikan cakalang di Samudra Hindia (WPP NRI573) terdiri dari 1 populasi yang bergerak mengikuti pola perubahan lingkungan perairan di sepanjang Samudra Hindia. Skipjack tuna (Katsuwonus pelamis Linnaeus, 1758) distributed vastly along the Indian Ocean south of Java, Bali and Nusa Tenggara. It has been exploited by various fishing gear yet it always assumed to be a single stock. It was not based on scientific evidence but merely based on “a scientific assumption”, so that vulnerable to subject of overfishing. This research aims to examine the alternative tool for identifying the stock structure based on the otolith shape. Sampling location took place in four regions, namely: Binuangen, Sadeng, Prigi and Labuhan Lombok. The otolith (sagittae) samples was collected during April, August, and September 2016. The otolith shape was reconstructed using outline analysis with discrete wavelet transformation technique. A multivariate statistic using canonical analysis of principal (CAP) and ANOVA-like permutation test were also used to determine the signification among populations. The result showed that skipjack’s otolith shape was varied from one and another, especially in the rostrum. But it was not statistically different among regions (p>0.001), which means a single stock for skipjack in the Indian Ocean (Indonesian territory of FMA 573). This study also proved that otolith shape can be useful marker tool to identify stock structure for management purpose.
VARIASI UKURAN IKAN LEMURU (Sardinella lemuru Bleeker,1853) SECARA TEMPORAL DAN SPASIAL DI PERAIRAN SELAT BALI Wudianto Wudianto; Arief Wujdi
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 20, No 1 (2014): (Maret 2014)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (433.32 KB) | DOI: 10.15578/jppi.20.1.2014.9-17

Abstract

Ikan lemuru (Sardinella lemuru) merupakan hasil tangkapan utama alat tangkap pukat cincin di perairan Selat Bali.Sampai saat ini terindikasi bahwa penangkapan ikan lemuru di perairan Selat Bali dilakukan tanpa mengikuti kaidah-kaidah pengelolaan sumberdaya perikanan yang benar. Hal itu ditunjukkan dengan masih berlangsungnya penangkapan ikan lemuru berukuran kecil (“sempenit”). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola distribusi ukuran ikan lemuru menurut waktu dan daerah penangkapan. Hasil analisis faktorial koresponden menunjukkan bahwa terdapat 5 kelompok yang menggambarkan asosiasi antara bulan dan ukuran panjang ikan, yaitu: (1) November 2011 tertangkap ikan berukuran 6,5-8,5 cm; (2) Agustus 2010 dan Juli 2011tertangkap ikan berukuran: 9,5-10,5 cm; (3) September 2010 dan Maret 2011 tertangkap ikan berukuran: 11,5-13,5 cm; (4) Oktober 2010 serta Februari, Agustus dan Desember 2011 tertangkap ikan berukuran: 14,5 cm; (5) November-Desember 2010 serta Januari, April, September-Oktober 2011 tertangkap ikan berukuran: 15,5-19,5 cm. Meskipun bulannya sama ternyata ukuran ikan lemuru yang tertangkap berbeda. Ikan lemuru berukuran kecil umumnya menyebar di bagian utara perairan, sedangkan ikan yang berukuran lebih besar terdapat di bagian tengah dan selatan perairan Selat Bali. Pengetahuan tentang pola penyebaran ukuran lemuru berdasarkan lokasi dan waktu dapat digunakan sebagai dasar untuk melakukan pengelolaan perikanan lemuru terutama apabila diterapkannya opsi pengelolaan dengan melakukan penutupan musim penangkapan di wilayah bagian utara perairan Selat Bali. Bali sardinella or lemuru (Sardinella lemuru) is the main target catch of purse seine fishery in Bali Strait waters. The lemuru fishing activities is still existing without any regulation of fisheries resources management, so farthis is indicated that the fishes of small size of fish (called “sempenit)were tended to be caught dominantly by purse seine. This study aims to determine the size distribution pattern of lemuru based on time and fishing ground in the Bali Strait. The result of correspondence factorial analysis showsthat there were 5 groups that describe the association between month and length of fish, i.e.: (1) November 2011 caught fish sized:6,5-8,5 cm; (2) August 2010 and July 2011caught fish sized: 9,5-10,5 cm; (3) September 2010 and March 2011caught fish sized: 11,5-13,5 cm; (4) Oktober 2010 and also February, August and December 2011caught fish sized: 14,5 cm; and (5) November-December 2010 also January, April, September-October 2011caught fish sized: 15,5-19,5 cm. Those result indicated that the size of fish caught by purse seine was different eventhough in same month fishing activities. Small size of fish caught abudantly in the northern part of Bali Strait waters mainly on August-September 2010 also February-March, July and November 2011, while large size lemuru more abundant in the middle and southern areas.This knowledge on the distribution pattern could be used for appropriate fisheries management measure of lemuru, especially for implementation of management option on closedfishing season in the northern part area of Bali Strait waters.
PENGUKURAN DAN ANALISIS NILAI HAMBUR BALIK AKUSTIK UNTUK KLASIFIKASI DASAR PERAIRAN DELTA MAHAKAM Ellis N Ningsih; Freddy Supriyadi; Syarifa Nurdawati
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 19, No 3 (2013): (September 2013)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (327.721 KB) | DOI: 10.15578/jppi.19.3.2013.139-146

Abstract

Substrat dasar perairan memiliki peranan yang penting bagi organisme akuatik. Perubahan kualitas substrat akan mempengaruhi komposisi organisme bentik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menghitung nilai hambur balik akustik dasar perairan dengan menggunakan teknologi hidroakustik sistem bim terbagi dan mengklasifikasikan substrat dasar perairan. Pengumpulan data dilakukan pada bulan Maret 2012 di Delta Mahakam, Kalimantan Timur menggunakan instrumen hidroakustik SIMRAD EY60 dengan frekuensi operasi 120 kHz. Pengambilan contoh substrat digunakan untuk data validasi menggunakan van veen grab. Hasil penelitian ini menggambarkan nilai hambur balik permukaan (SS) untuk pasir (-12,97 dB), pasir berlumpur (-13,96 dB), lumpur berpasir (-15,64 dB), dan lumpur (-19,25 dB). Hal ini juga menunjukkan bahwa substrat pasir memiliki tingkat kekerasan dan ukuran butir yang lebih besar dibandingkan jenis substrat lumpur substrat. Pada akustik nilai hambur balik pasir akan lebih tinggi dibandingkan lumpur. Riverbed substrate is important habitat for aquatic organisms. Changes in substrate quality will influence the composition of benthic organisms. The aims of this study are to calculate the value of the bottom acoustic backscattering strength using split beam hydroacoustic system to quantify and classify riverbed substrate. Data were collected on March 2012 in Delta Mahakam, East Kalimantan province using hydroacoustics instrument Simrad EY60, with operating 120 kHz frequency. Sampling substrate was taken for ground truth data using van veen grab. The results of this study described the value of surface backscattering strength (SS) for sand (-12.97 dB), muddy sand (-13.96 dB), sandy mud (-15.64 dB), and mud (-19.25 dB). It shows also that sand has a high substrate roughness, hardness, and grain size larger than the type of mud substrate. In acoustic backscattering values of sand were greater than mud.
TOKSISITAS AKUT FORMUI-ASI INSEKTISIDA ENDOSULFAN, KLORPIRIFOS, DAN KLORFLUAZURON PADA TIGA JENIS IKAN AIR TAWAR DAN UDANG GALAH Santosa Koesoemadinata
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 6, No 3-4 (2000): (Vol.6 No.3-4 2000)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (6124.178 KB) | DOI: 10.15578/jppi.6.3-4.2000.36-43

Abstract

Salah satu upaya untuk mencegah pencemaran pestisida pada sumber daya dan lingkungan perikanan air tawar ialah dengan penggunaan bahan aktif pestisida secara selektif, yakni yang tidak berdaya racun tinggi pada ikan dan hewan akuatik lainnya.
HIDRODINAMIKA JARING KEJER PADA KONDISI ARUS DAN DAYA APUNG YANG BERBEDA Dl FLUME TANK Dahri Iskandar; Zulkarnain Zulkarnain; Singgih Prihadi
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 15, No 3 (2009): (September 2009)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5274.416 KB) | DOI: 10.15578/jppi.15.3.2009.249-255

Abstract

Tujuan penelitian ini untuk menentukan hidrodinamika jaring kejer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada kecepatan arus 15, 20, 25, dan 30 cm/detik,  jaring kejer dengan mesh size  3,5 inci secara berturut-turut mengalami drag force  7,78, 13,51, 20,78,  dan 29,72 gf. Jaring kejer dengan mesh size 4,0 inci mengalami drag force 6,66, 11,55, 17,76, dan 25,41 gf. Tinggi jaring kejer dengan mesh size 3,5 inci ketika dipasang pada flume tank dengan kecepatan arus yang sama sedikit lebih pendek dibanding jaring kejer dengan mesh size 4,0 inci. Tinggi jaring kejer dengan mesh size 3,5 dan 4,0 inci yang menggunakan pelampung kontrol ketika dipasang pada kecepatan arus 15 em/ detik secara berturut-turut 47,2 dan 48, 5 em. Penambahan daya apung menjadi 1,5 kali dari daya apung pelampung kontrol, merubah ketinggian jaring kejer dengan mesh size 3,5 dan 4,0 inei menjadi 56,4 dan 60,8 em. The objective  of this experiment  was to determine  hydrodynamic of jaring kejer (bottom  gil/net). Result of this ex periment indicates that at current speed of 15, 20, 25, and 30 cmls, jaring kejer of 3. 5 inch mesh size encountered  drag force of 7. 78, 13.51, 20.78, and 29.72 gf, respectively Whilstjaring kejer of 4.0 inch mesh size encountered  drag force of 6.66, 11. 55, 17. 76, and 25.41 gf, respectively Net height of jaring kejer of 3. 5 inch mesh size was slightly lower than jaring kejer of 4.0 inch mesh size during  encounter of similar  current  speed. Net height of jaring  kejer using control buoyancy  for 3.5 and 4.0 inch mesh  sizes during  encountered current speed  of 15 cmls  were  47.2 and 48.5 em. Increasing  of buoyancy to 1.5 times  of control  buoyancy  might  increases  net height  of jaring kejer using 3.5 and 4.0 inch mesh sizes to 56.4 and 60.8 em, respectively.
KELIMPAHAN STOK, SEBARAN PANJANG, DAN KEMATANGAN IKAN COKLATAN (Scolopsis taeniopterus) DI PERAIRAN LAUT JAWA Tri Ernawati; Badrudin Badrudin
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 13, No 3 (2007): (Desember 2007)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (588.189 KB) | DOI: 10.15578/jppi.13.3.2007.213-221

Abstract

Ikan coklatan (Scolopsis taeniopterus) yang secara taksonomis termasuk famili Nemipteridae adalah salah satu jenis ikan demersal ekonomis penting di Laut Jawa. Data yang dianalisis merupakan sebagian hasil riset dengan K. M. Bawal Putih I pada tahun 2005 dan 2006, serta hasil pengambilan contoh di pangkalan pendaratan ikan Blanakan. Dugaan kepadatan stok pada ke-2 cruise tersebut adalah sekitar 7,0 dan 9,0 kg km-2. Dari sebaran frekuensi panjang teridentifikasi bahwa contoh ikan coklatan terdiri atas 1 kelompok umur yang kuat (strong cohort) dengan modus ukuran panjang 16,5 cm. Setelah dipisahkan antara jantan dan betina tampak bahwa, ikan jantan didominasi oleh kelompok ukuran 17,5 cm, sedangkan ikan betina oleh ukuran 16,0 cm. Data tersebut menyiratkan bahwa ukuran ikan coklatan jantan lebih panjang dibandingkan dengan ikan betina. Dari sebaran persen frekuensi kumulatif di mana 50% dari sebaran tersebut yang mencerminkan Lc (panjang pertama kali tertangkap) tampak bahwa ukuran ikan betina dengan Lc=15,5 cm lebih kecil dari ikan jantan dengan Lc=17,5 cm. Melalui analisis kematangan ovarium, dapat dihitung ukuran ikan coklatan mencapai matang ovarium untuk pertama kali pada panjang Lm=15,0 cm. Dari ukuran-ukuran tersebut dapat disimpulkan bahwa sebagian besar ikan coklatan yang tertangkap sudah melewati ukuran pertama kali matang gonad, atau Lc>Lm. Jika kondisi tersebut dapat terus dipertahankan, maka stok ikan coklatan di Laut Jawa pada tingkat upaya yang sama mempunyai peluang yang lebih besar untuk dimanfaatkan secara berkelanjutan. Lattice monocle bream (Scolopsis taeniopterus) that taxonomically belong to the family Nemipteridae provide one of the economically important demersal fish resources in the Java Sea. Data analyzed were part of the R/V Bawal Putih I cruise results carried out in 2005 until 2006, and from sampling in Blanakan landing place. The estimated stock density of the fish were 7.0 dan 9.0 kgs km-2. From the overall length frequency distribution it is likely that the population of the lattice monocle bream consisted of one strong cohort, with the modus of 16,5 cm. When sexually separated, it is revealed that the male group was dominated by the size of 17,5 cm length, while the female was dominated by the size of 16,0 cm length. From these data is likely that average size of the male fish during this observation was bigger than the size of female. From the cumulative percent frequencies distribution it was also observed that 50% of the distribution that can be assummed as equal to the length of first capture of the female fish, Lc=15,5 cm, seem to be smaller size compare with the male of the Lc=17,5 cm. Through maturity analysis it was calculated that the length of first maturity, Lm=15,0 cm length. From these size observations it can be concluded that most of the fish caugth have been mature, where Lc>Lm. Provided that this condition could be maintained at the same level of effort, exploitation of the lattice monocle bream stock could likely be achieved sustainably.
PENGARUH JARAK KISI PADA TED TIPE SUPER SHOOTER TERHADAP HASIL TANGKAPAN SAMPINGAN TRAWL UDANG Mahiswara Mahiswara; Ronny l. Wahju; Daniel R. Monintja
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 10, No 4 (2004): (Vol. 10 No. 4 2004)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4966.881 KB) | DOI: 10.15578/jppi.10.4.2004.11-19

Abstract

Trawl merupakan alat tangkap udang yang efektif. Permasalahan utama pada perikanan trawl udang adalah banyaknya hasil tangkapan sampingan (HTS) yang tidak dimanfaatkan, dan dibuang kembali ke laut. Buangan ini memiliki dampak buruk terhadap sumber daya dan lingkungan. Super Shoofer Tuftle Excluder Device (IED,) merupakan salah satu perangkat yang digunakan untuk menurunkan HTS pada trawl udang. Penelitian dengan metode uji coba penangkapan telah dilaksanakan di perairan utara Jawa untuk mengetafui pengaruh penggunaan super shooter fED terhadap HTS
PERAN STAKEHOLDER DALAM PENGELOLAAN PERIKANAN UDANG SKALA KECIL DI KABUPATEN CILACAP PROPINSI JAWA TENGAH Drama Panca Putra; Mulyono S Baskoro; Eko Sri Wiyono; Sugeng Hari Wisudo; Wudianto Wudianto
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 20, No 3 (2014): (September 2014)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (187.342 KB) | DOI: 10.15578/jppi.20.3.2014.161-168

Abstract

Kabupaten Cilacap merupakan penghasil utama udang di perairan Selatan Jawa dan sebagian besar merupakan hasil tangkapan nelayan skala kecil. Namun demikian, saat ini (periode tahun 2004 – 2010) terjadi penurunan produksi udang rata-rata sekitar 7,61%. Kondisi ini harus dicermati dengan serius oleh stakeholders perikanan terkait. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat peran stakeholders perikanan dalam pengelolaan sumberdaya udang skala kecil. Peran ini akan menentukan bentuk ko-manajemen untuk diterapkan dalam pengelolaan udang. Metode yang digunakan adalah structural equation modelling (SEM). Hasil analisis menunjukkan bahwa pemerintah, nelayan, dan swasta mempunyai peran yang positif dalam mendukung pengelolaan perikanan udang skala kecil di perairan Kabupaten Cilacap dengan nilai EE masing-masing 0,484, 6,873, dan 2,622, namun pihak swasta yang terbukti memiliki peran secara nyata terhadap pengelolaan perikanan udang (P < 0,05).Cilacap Regency, Central Java Province is the main producer of shrimp in the waters of the South Java which was dominated by the small-scale fishermen. However, currently (in the period from 2004 to 2010) the shrimp production has been declining at an average around 7,61%. This condition should be considered seriously by the relevant fisheries stakeholders. This study aimed to analyze the role of fishery stakeholders in managing of small-scale shrimp resource. The stakeholders are an important role in the establishment of co-management which being applied in the management of shrimp fisheries. The structural equation modeling (SEM) was used in the analysis. The results of the analysis showed that the government, fishermen, and the private sectors had a positive role in supporting the management of small-scale shrimp fisheries in the waters of Cilacap Regency (EE value search 0,484, 6,873, and 2,622), however, only the private sector have significantly affected on the shrimp fisheries management (P <0,05, namely 0,004).

Page 88 of 108 | Total Record : 1072


Filter by Year

1995 2026


Filter By Issues
All Issue Vol 32, No 1 (2026): (Maret 2026) Vol 31, No 4 (2025): (Desember 2025) Vol 31, No 3 (2025): (September 2025) Vol 31, No 2 (2025): (Juni 2025) Vol 31, No 1 (2025): (Maret 2025) Vol 30, No 4 (2024): (Desember 2024) Vol 30, No 3 (2024): (September) 2024 Vol 30, No 2 (2024): (Juni) 2024 Vol 30, No 1 (2024): (Maret) 2024 Vol 29, No 4 (2023): (Desember) 2023 Vol 29, No 3 (2023): (September) 2023 Vol 29, No 1 (2023): (Maret) 2023 Vol 28, No 4 (2022): (Desember) 2022 Vol 28, No 3 (2022): (September) 2022 Vol 28, No 2 (2022): (Juni) 2022 Vol 28, No 1 (2022): (Maret) 2022 Vol 27, No 4 (2021): (Desember) 2021 Vol 27, No 3 (2021): (September) 2021 Vol 27, No 2 (2021): (Juni) 2021 Vol 27, No 1 (2021): (Maret) 2021 Vol 26, No 4 (2020): (Desember) 2020 Vol 26, No 3 (2020): (September) 2020 Vol 26, No 2 (2020): (Juni) 2020 Vol 26, No 1 (2020): (Maret) 2020 Vol 25, No 4 (2019): (Desember) 2019 Vol 25, No 3 (2019): (September) 2019 Vol 25, No 2 (2019): (Juni) 2019 Vol 25, No 1 (2019): (Maret) 2019 Vol 24, No 4 (2018): (Desember) 2018 Vol 24, No 3 (2018): (September) 2018 Vol 24, No 2 (2018): (Juni 2018) Vol 24, No 1 (2018): (Maret 2018) Vol 23, No 4 (2017): (Desember 2017) Vol 23, No 3 (2017): (September 2017) Vol 23, No 2 (2017): (Juni 2017) Vol 23, No 1 (2017): (Maret, 2017) Vol 22, No 4 (2016): (Desember 2016) Vol 22, No 3 (2016): (September) 2016 Vol 22, No 2 (2016): (Juni 2016) Vol 22, No 1 (2016): (Maret 2016) Vol 21, No 4 (2015): (Desember 2015) Vol 21, No 3 (2015): (September 2015) Vol 21, No 2 (2015): (Juni 2015) Vol 21, No 1 (2015): (Maret 2015) Vol 20, No 4 (2014): (Desember 2014) Vol 20, No 3 (2014): (September 2014) Vol 20, No 2 (2014): (Juni 2014) Vol 20, No 1 (2014): (Maret 2014) Vol 19, No 4 (2013): (Desember 2013) Vol 19, No 3 (2013): (September 2013) Vol 19, No 2 (2013): (Juni 2013) Vol 19, No 1 (2013): (Maret 2013) Vol 18, No 4 (2012): (Desember 2012) Vol 18, No 3 (2012): (September 2012) Vol 18, No 2 (2012): (Juni) 2012 Vol 18, No 1 (2012): (Maret 2012) Vol 17, No 4 (2011): (Desember 2011) Vol 17, No 3 (2011): (September 2011) Vol 17, No 2 (2011): (Juni 2011) Vol 17, No 1 (2011): (Maret 2011) Vol 16, No 4 (2010): (Desember 2010) Vol 16, No 3 (2010): (September 2010) Vol 16, No 2 (2010): (Juni 2010) Vol 16, No 1 (2010): (Maret 2010) Vol 15, No 4 (2009): (Desember 2009) Vol 15, No 3 (2009): (September 2009) Vol 15, No 2 (2009): (Juni 2009) Vol 15, No 1 (2009): (Maret 2009) Vol 14, No 4 (2008): (Desember 2008) Vol 14, No 3 (2008): (September 2008) Vol 14, No 2 (2008): (Juni 2008) Vol 14, No 1 (2008): (Maret 2008) Vol 13, No 3 (2007): (Desember 2007) Vol 13, No 2 (2007): (Agustus 2007) Vol 13, No 1 (2007): (April 2007) Vol 12, No 3 (2006): (Desember 2006) Vol 12, No 2 (2006): (Agustus 2006) Vol 12, No 1 (2006): (April 2006) Vol 11, No 9 (2005): (Vol. 11 No. 9 2005) Vol 11, No 8 (2005): (Vol. 11 No. 8 2005) Vol 11, No 7 (2005): (Vol. 11 No. 7 2005) Vol 11, No 6 (2005): (Vol. 11 No. 6 2005) Vol 11, No 5 (2005): (Vol. 11 No. 5 2005) Vol 11, No 4 (2005): (Vol. 11 No. 4 2005) Vol 11, No 3 (2005): (Vol. 11 No. 3 2005) Vol 11, No 2 (2005): (Vol. 11 No. 2 2005) Vol 11, No 1 (2005): (Vol. 11 No. 1 2005) Vol 10, No 7 (2004): (Vol. 10 No. 7 2004) Vol 10, No 6 (2004): (Vol. 10 No. 6 2004) Vol 10, No 5 (2004): (Vol. 10 No. 5 2004) Vol 10, No 4 (2004): (Vol. 10 No. 4 2004) Vol 10, No 3 (2004): (Vol. 10 No. 3 2004) Vol 10, No 2 (2004): (Vol. 10 No. 2 2004) Vol 10, No 1 (2004): (Vol. 10 No. 1 2004) Vol 9, No 7 (2003): (Vol.9 No.7 2003) Vol 9, No 6 (2003): (Vol.9 No.6 2003) Vol 9, No 5 (2003): Vol. 9 No. 5 2003) Vol 9, No 4 (2003): Vol. 9 No. 4 2003) Vol 9, No 3 (2003): (Vol.9 No.3 2003) Vol 9, No 2 (2003): (Vol, 9 No. 2 2003) Vol 9, No 1 (2003): (Vol.9 No.1 2003) Vol 8, No 7 (2002): (Vol.8 No.7 2002) Vol 8, No 6 (2002): (Vol.8 No.6 2002) Vol 8, No 5 (2002): (Vol.8 No.5 2002) Vol 8, No 4 (2002): (Vol.8 No.4 2002) Vol 8, No 3 (2002): (Vol.8 No.3 2002) Vol 8, No 2 (2002): (Vol. 8 No. 2 2002) Vol 8, No 1 (2002): (Vol.8 No.1 2002) Vol 7, No 4 (2001): (Vol. 7 No. 4 2001) Vol 7, No 2 (2001): (Vol.7 No. 2 2001) Vol 6, No 3-4 (2000): (Vol.6 No.3-4 2000) Vol 6, No 2 (2000): (Vol.6 No.2 2000) Vol 6, No 1 (2000): (Vol.6 No.1 2000) Vol 5, No 2 (1999): (Vol.5 No.2 1999) Vol 5, No 1 (1999): (Vol.5 No. 1 1999) Vol 4, No 4 (1998): (Vol.4 No.4 1998) Vol 4, No 3 (1998): (Vol.4 No.3 1998) Vol 4, No 2 (1998): (Vol.4 No.2 1998) Vol 4, No 1 (1998): (Vol.4 No.1 1998) Vol 3, No 4 (1997): (Vol.3 No.4 1997) Vol 3, No 3 (1997): (Vol.3 No.3 1997) Vol 3, No 2 (1997): (Vol.3 No.2 1997) Vol 3, No 1 (1997): (Vol.3 No.1 1997) Vol 2, No 4 (1996): (Vol.2 No.4 1996) Vol 2, No 3 (1996): (Vol.2 No.3 1996) Vol 2, No 2 (1996): (Vol.2 No.2 1996) Vol 2, No 1 (1996): (Vol.2 No.1 1996) Vol 1, No 4 (1995): (Vol.1 No.4 1995) Vol 1, No 3 (1995): (Vol.1 No.3 1995) Vol 1, No 2 (1995): (Vol.1 No.2 1995) Vol 1, No 1 (1995): (Vol.1 No.1 1995) More Issue