cover
Contact Name
Endang Sriyati
Contact Email
jppi.puslitbangkan@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jppi.puslitbangkan@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kab. karawang,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia
ISSN : 08535884     EISSN : 25026542     DOI : -
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia accepts articles in the field of fisheries, both sea and inland public waters. The journal presents results of research resources, arrest, oceanography, environmental, environmental remediation and enrichment of fish stocks.
Arjuna Subject : -
Articles 1,072 Documents
EKSTRAKSIGELATIN DARI KULIT IKAN PATIN (Pangasius hypopthalmus) SECARA PROSES ASAM Rosmawaty Peranginangin; Nurul Haq; Widodo Farid Ma'ruf; Arham Rusli
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 10, No 3 (2004): (Vol. 10 No. 3 2004)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5029.342 KB) | DOI: 10.15578/jppi.10.3.2004.75-84

Abstract

Ekstraksi gelatin dari kulit ikan patin (Pangasius hypopthalmus) telah dilakukan dengan perlakuan perendaman kulit dalam asam sitrat dalam berbagai pH yailu. 2, 3 dan 4 dengan variasi fama perendaman 12,24 dan 36 jam.
PENGARUH BEBERAPA JENIS PAKAN TERHADAP PERFORMANSI IKAN KERAPU BEBEK (Cromiteptes attivetis) DI KERAMBAJARING APUNG Tatam Sutarmat; Adi Hanafi; Ketut Suwirya; Suko Ismi; Wardoyo Wardoyo; Shogo Kawahara
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 9, No 4 (2003): Vol. 9 No. 4 2003)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4506.687 KB) | DOI: 10.15578/jppi.9.4.2003.31-36

Abstract

Percobaan ini dilakukan di Balai Besar Riset Perikanan Budidaya Laut, Gondol dengan menggunakan keramba jaring apung (KJA) yang berlokasi di Teluk Pegametan.
PENDUGAAN PARAMETER POPULASI DAN TINGKAT PEMANFAATAN IKAN MADIDIHANG (Thunnus albacares) YANG DIDARATKAN DI BENOA, BALI Hety Hartaty; Ririk Kartika Sulistyaningsih
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 20, No 2 (2014): (Juni 2014)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (250.056 KB) | DOI: 10.15578/jppi.20.2.2014.97-103

Abstract

Parameter biologi seperti umur dan pertumbuhan sangat penting untuk pengkajian stok sumber daya ikan dan pengelolaan perikanan agar pemanfaatan sumber daya ikan dapat dilakukan secara berkelanjutan. Informasi mengenai parameter pertumbuhan dari ikan madidihang di Samudera Hindia khususnya di Indonesia masih sangat terbatas. Penelitian ini ditujukan untuk memberikan informasi mengenai parameter pertumbuhan ikan madidihang. Pengumpulan data dilakukan selama tahun 2011, dengan cara pengukuran dan pengamatan langsung terhadap hasil tangkapan rawai tuna yang didaratkan di Pelabuhan Benoa, Bali. Total sampel yang diamati berjumlah 3.092 ekor. Kisaran panjang cagak (FL; fork length) ikan madidihang antara 75-179 cm dan kisaran bobot antara 8-101 kg. Dari hasil analisis data frekuensi panjang ikan madidihang diperoleh parameter pertumbuhan sebagai berikut: panjang asimtotik (L∞) 185,85 cm, koefisien  pertumbuhan (K) 0,59 dan umur pada saat panjang 0 cm (t0) -0,22.  Estimasi umur ikan madidihang yang didaratkan di Benoa tahun 2011 berkisar antara 1-5 tahun dengan laju pertumbuhan sebesar 2,95 cm/tahun. Pola pertumbuhan madidihang bersifat allometrik negatif. Pertumbuhan madidihang tidak akan mencapai ukuran panjang maksimum karena laju eksploitasi (E = 0,75) yang melebihi laju eksploitasi optimum (E opt = 0,5).Biological parameters suchas age and growth are very important information for accuracy of stock assessments and management to ensure that fisheries develop sustainably. Growth parameter information of Indian Ocean yellowfin tuna in Indonesia is still very limited. This research was aimed to determine the age and growth rate of yellowfin tuna that landed at Benoa port, Bali. Data of fork length (FL) and weight was collected during 2011. The data were measured and observed directly on the catch of tuna longline at Benoa Port, Bali. With numbers of fish samples was 3.092 fish. Age and growth rate was analyzed based on the FL using Von Bertalanffy model. The results showed that yellowfin tuna had range of FL between 75-179cm and weight range of 8-101kg.  The growth parameter of yellowfin tuna has asymtotic length (L∞) 185,85 cm, K = 0,59 and t0 = -0,22. The age of yellowfin tuna landed in Benoa estimated between 1-5 years and growth rate was 2.95cm/year. Growth pattern of yellowfin tuna was allometric negative. The yellowfin growth will not reach the maximum length because the exploitation rate (E = 0,75) exceeds the optimum exploitation rate (E opt = 0,5).
ESTIMASI STOK SUMBER DAYA IKAN DENGAN METODE HIDROAKUSTIK DI PERAIRAN KABUPATEN BENGKALIS Asep Priatna; Wijopriono Wijopriono
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 17, No 1 (2011): (Maret 2011)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3812.025 KB) | DOI: 10.15578/jppi.17.1.2011.1-10

Abstract

Perairan Bengkalis termasuk wilayah pengelolaan perikanan Selat Malaka, merupakan kawasan dengan status pemanfaatan tinggi sehingga diperlukan tahapan pemantauan yang intensif dan penelitian potensi sumber daya ikan. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan nilai estimasi biomassa dan kepadatan stok sumber daya ikan dengan metode akustik. Data kuantitatif yang diperoleh akan menjadi sumber informasi terkini dari kondisi sumber daya ikan di perairan Kabupaten Bengkalis. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Oktober 2009 di perairan Kabupaten Bengkalis yang merupakan bagian dari Selat Malaka. Perangkat akustik yang digunakan adalah split beam echosounder Simrad EY60 dengan frekuensi 120 kHz. Data hasil tangkapan dengan trawl dari jenis ikan pelagis dan demersal yang dominan di perairan ini digunakan untuk memverifikasi data akustik. Estimasi biomassa pada luas daerah 5.433 km2 adalah 9.374 ton dengan kepadatan stok 0,44 ton/km2 untuk ikan pelagis dan 4.441,5 ton dengan kepadatan stok 0,17 ton/km2 untuk ikan demersal. Bengkalis waters was included in the regional fisheries management of Malacca Strait, having high utilization in fisheries. Therefore intensive monitoring as well as research on fish stock is needed. The aim of the research was to estimate fish biomass and stock density based on acoustic method. The quantitative data are source of current information for fish resources condition in Bengkalis waters. The survey was conducted in October 2009 in Bengkalis waters. Simrad EY60 split beam echosounder with frequency 120 kHz was used for acquisition of acoustic data. Both pelagic and demersal fish as dominant species caught were used for verification acoustic data. The biomass estimation on 5,433 km2 covered area was about 9,374 ton with stock density about 0.44 ton/km2 for pelagic fish, while 4,441.5 ton with stock density about 0.17 ton/km2 for demersal fish.
DAMPAK PEMBERLAKUAN MORATORIUM PERIZINAN TANGKAP TERHADAP UPAYA PENANGKAPAN DAN PRODUKSI RAWAI TUNA SKALA INDUSTRI YANG BERBASIS DI PELABUHAN BENOA-BALI Fathur Rochman; Bram Setyadji; Irwan Jatmiko
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 22, No 3 (2016): (September) 2016
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (215.712 KB) | DOI: 10.15578/jppi.22.3.2016.181-188

Abstract

PERMEN KP Nomor 56 tahun 2014  dan PERMEN KP Nomor 10 tahun 2015 berguna untuk mewujudkan pengelolaan perikanan yang bertanggung jawab dan penanggulangan terhadap Illegal, Unreported and Unregulated (IUU) Fishing di Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP) Indonesia.  Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui dampak moratorium perizinan perikanan tangkap terhadap upaya penangkapan dan produksi rawai tuna yang berbasis di pelabuhan Benoa-Bali.Analisis data didasarkan pada hasil enumerasi oleh enumerator Loka Penelitian Perikanan Tuna (LPPT) di pelabuhan Benoa, dari Januari 2012 sampai dengan Desember 2015. Moratorium perizinan perikanan tangkap efektif diberlakukan pada tanggal 3 Nopember 2014. Hasil studi menunjukkan terjadi kenaikan pada rata-rata  produksi, upaya dan CPUE perikanan tuna skala industri di pelabuhan Benoa di tahun 2015 (setelah moratorium). Kenaikan produksi, CPUE dan upaya penangkapan perikanan tuna skala industri di pelabuhan Benoa berturut turut sebesar 6-18%, 3,3-16% dan 4-11% dari rata-rata produksi, CPUE dan upaya penangkapan 3 tahun sebelum moratorium.  Meskipun terjadi kenaikan produksi, CPUE, dan upaya penangkapan namun setelah di uji statistik tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan (tidak berdampak nyata). The Minister of Marine Affairs and Fisheries Regulation number 56 year 2014  and number 10 year 2015 are directed to realize a responsible fisheries management and counter-measures of Illegal, Unreported and Unregulated (IUU) Fishing in Indonesian Fisheries Management Area (FMA). The contents of the regulation is a temporary suspension (moratorium) and temporary licensing of capture fisheries  imposed to the boat constructed overseas and restriction of fisheries transshipment. The objectives of this study is to identify the impact of this regulation on the efforts and productivity rate of the industrial longline tuna based in Benoa port, Bali. This study was the result of analysis on data collected by Research Institute for Tuna Fisheries (RITF) in Benoa port, Bali during 2012-2015. The moratorium was started on 3 November 2014. The results  of the study showed that production, effort and CPUE were increased after this regulation been in forced. Within the period of 3 years, the average increasing production, CPUE and effort of the industrial scale tuna longline in Benoa port were at the range of 6-18%, 3.3-16% and 4-11%, respectively, although, it was found that the results were statistically not significant.
FLUKTUASI BULANAN HASIL TANGKAPAN CANTRANG YANG BERBASIS DI PELABUHAN PERIKANAN PANTAI TEGAL SARI, KOTA TEGAL Tri Ernawati; Bambang Sumiono
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 15, No 1 (2009): (Maret 2009)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (122.516 KB) | DOI: 10.15578/jppi.15.1.2009.69-77

Abstract

Penelitian mengenai perikanan cantrang yang berkaitan dengan sumber daya ikan demersal sebagai hasil tangkapan utama dilaksanakan selama tahun 2006 - 2007. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui fluktuasi bulanan hasil tangkapan cantrang yang berbasis di Pelabuhan Perikanan Pantai Tegal Sari. Metode yang digunakan adalah survei yang meliputi pengambilan contoh dari hasil tangkapan, pencatatan buku bakul dan statistik perikanan pelabuhan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah trip armada cantrang periode 2006 - 2007 didominansi oleh kapal berukuran 21 - 30 GT. Produksi bulanan Pelabuhan Perikanan Pantai Tegal Sari dari tahun 2004 - 2007 berfluktuasi. Secara umum, produksi bulanan pada bulan Nopember 2005 - Desember 2006 jauh lebih tinggi dibanding pada bulan-bulan di tahun 2004 dan 2007. Hal ini karena dipengaruhi oleh fluktuasi jumlah trip dan perkembangan unit penangkapan. Komposisi hasil tangkapan cantrang tahun 2006 berdasarkan pada hasil pengambilan contoh, didominansi oleh ikan coklatan (Scolopsis taeniopterus) (22%), kuniran (Upeneus spp.) (17,4%), dan swangi atau demang (Priachantus sp.) (9,7%). Ratarata laju tangkap pada tahun 2006 dan 2007 berturut-turut 333,6 dan 424 kg/hari. Laju tangkap tahun 2006 cenderung, dipengaruhi oleh fluktuasi musiman, sedangkan laju tangkap tahun 2007 cenderung naik, tidak terpengaruh oleh fluktuasi musiman. Daerah penangkapan armada cantrang yang berbasis di Pelabuhan Perikanan Pantai Tegal Sari adalah di sekitar pantai timur Lampung, Tanjung Selatan (Kalimantan Selatan), dan Tanjung Puting (Kalimantan Tengah). The research on danish seine fishery related to demersal fish resources as the main catch was carried out from 2006 - 2007. The research aimed to know monthly fluctuation of the danish seine catch in Tegal Sari landing base. The survey was conducted by sampling the catch, recording data from retailer’s book and landing base statistic. The results showed that number of trip from 2006 - 2007 was dominated by 21 to 30 GT vessel. Monthly production in Tegal Sari landing base on 2004 to 2007 was fluctuated. Generally, monthly production on November 2005 - Desember 2006 was higher than other months on 2004 and 2007. It was caused by fluctuation of trips number and unit fishing developement. The catch composition in 2006 based on sampling result, was dominated by lattice monocle bream (Scolopsis taenipterus) (22%), goatfish (Upeneus spp.) (17.4%), and purple spotted bigeye (Priachantus spp.) (9.7%). Average of catch rate in 2006 and 2007 was 335.6 and 424 kg per day, respectively. The catch rate in 2006 danish seine, Tegal Sari tended to be influenced by season fluctuation. While catch rate in 2007 increased and was not influenced by season. Fishing grounds of danish seine fleet in Tegal Sari landing base were in eastern coast of Lampung waters, Tanjung Selatan (South Kalimantan) and Tanjung Puting (Central Kalimantan), respectively.
KETIDAKSTABILAN BESARAN STOK IKAN DARI MODEL PRODUKSI SURPLUS Suherman Banon Atmaja
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 13, No 1 (2007): (April 2007)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (146.206 KB) | DOI: 10.15578/jppi.13.1.2007.1-11

Abstract

Selama ini, kerangka pengelolaan sumber daya ikan berdasarkan pada titik acuan nilai potensi dan kriteria maksimum (maximum sustainable yield), mengabaikan laju pertumbuhan stok ikan dan tanpa memperhatikan dinamika perikanan yang terjadi. Dari kombinasi data yang tersedia diperoleh hasil besaran nilai stok ikan yang bersifat dinamis, akibat perubahan yang terjadi pada parameter–parameter model produksi surplus. Tingkat maximum sustainable yield menunjukkan CMSY darimetode Gompertz lebih tinggi dibandingkan dengan metode logistik, sebaliknya tingkat EMSY lebih rendah dibandingkan dengan metode logistik. Konsekuensi perbedaan tersebut menghasilkan tingkat BMSY dan tercapai puncak titik jenuh dari perikanan pukat cincin berbeda, untuk metode Gompertz (37% dari biomassa awal) terjadi pada kurun waktu tahun 1978 sampai dengan 1981, sedangkan untuk metode logistik (50% dari biomassa awal) terjadi pada kurun waktu tahun 1990 sampai dengan 1992. Kondisi trend biomassa menunjukkan penurunan biomassa berkisar 92 sampai dengan 96,5% dari biomassa awal untuk metode Gompertz, sedangkan untuk metode logistik berkisar 70 sampai dengan 93%. Tampak perkembangan perikanan pukat cincin catch effort mengikuti fungsi pertumbuhan logistik daripada fungsi pertumbuhan Gompertz. Bagaimanapun, penyusutan stok ikan pelagis didukung oleh trend hasil tangkapan yang menurun, sedangkan hari operasi cenderung meningkat. During the time, framework of fisheries resources management was based on reference point of potency value and criteria (maximum sustainable yield), while net growth of fish stock and fisheries dynamics have been ignored. From data combination available obtaining result of size of fish stocks was dynamic due to change of parameters of surplus production. The Level maximum sustainable yield showes that CMSY method of Gompertz was higher than logistics method, on the contrary EMSY compared to lower than logistics method. Consequently, these results were obtained the level of BMSY (biomass at level maximum sustainable yield) and the peaks of exploitation from purse seine fishery were also diffrent, for Gompertz method revealed that the level of BMSY (37% from initially biomass) occurred in the period of 1978 to 1981, while logistics method (50% from initially biomass) occurred in the period of 1990 to 1992. Trend biomass in state of decline reached 92 to 96,5% from intially biomass for Gompertz method, while for the method of logistics reached 70 to 93% from intially biomass. Seems that the development of purse seine fisheries (catch effort) followed function growth logistics rather than the function growth Gompertz. However, the decrease of fish stock pelagic supported by the catch of pelagic fish showed a declining trend, while fishing days have tend to increase.
INFEKSI IRIDOVIRUS PADA INDUK KERAPU LUMPUR (Epinephelus coioidesl Ketut Mahardika; lsti Koesharyani; Agus Prijono; Kei Yuasa
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 9, No 1 (2003): (Vol.9 No.1 2003)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5033.844 KB) | DOI: 10.15578/jppi.9.1.2003.49-54

Abstract

Pada bulan Januari 2001 terjadi kasus kematian induk ikan kerapu lumpur (Epinephelus coioides) di Balai Besar Riset Perikanan Budidaya Laut, Gondol-Bali. Maksud penelitian iniadalah untuk mengetahui jasad penyebab penyakit dan mengetahui perubahan histopatologi yang terjadi akibat infeksi tersebut.
Selain pakan. faktor lingkungan lnerupakan kendala dominan dalam pemeliharaan larva kerapu bebek. Satu di antara faktor linPEMELIHARAAN LARVA KERAPU BEBEK, Cromileptes altvelis DALAM WADAH BERBEDA WARNA Titiek Aslianti; Wardoyo Wardoyo; Jhon H. Hutapea; Suko Ismi; Ketut Maha Setiawati
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 4, No 3 (1998): (Vol.4 No.3 1998)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2924.695 KB) | DOI: 10.15578/jppi.4.3.1998.25-31

Abstract

Selain pakan, faktor lingkungan merupakan kendala dominan dalam pemeliharaan larvakerapu bebek. Satu di antara faktor lingkungan yang diduga berpengaruh terhadap pertumbuhan dan sintasan larva adalah warna wadah.
PENGENDALIAN Vibrio harveyi SECARA BIOLOGIS PADA LARVA UDANG WINDU (Penaeus monodon): APLIKASI BAKTERI PENGHAMBAT Des Roza; Zafran Zafran; Imam Taufik; Moral Abadi Girsang
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 3, No 4 (1997): (Vol.3 No.4 1997)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (6756.157 KB) | DOI: 10.15578/jppi.3.4.1997.1-10

Abstract

Vibrio hctru,yd merupakan ancaman serius pada usaha perbenihan udang windu (Penaeus monodon.) vang menyebabkan kematian massal larva. Cara umum untuk pengendalian penyakit ini biasanya dengan penggunaan bahan kimia maupun antibiotik tetapi kurang efektif karena tingkat keberhasilanya masih sangat rendah.

Page 86 of 108 | Total Record : 1072


Filter by Year

1995 2026


Filter By Issues
All Issue Vol 32, No 1 (2026): (Maret 2026) Vol 31, No 4 (2025): (Desember 2025) Vol 31, No 3 (2025): (September 2025) Vol 31, No 2 (2025): (Juni 2025) Vol 31, No 1 (2025): (Maret 2025) Vol 30, No 4 (2024): (Desember 2024) Vol 30, No 3 (2024): (September) 2024 Vol 30, No 2 (2024): (Juni) 2024 Vol 30, No 1 (2024): (Maret) 2024 Vol 29, No 4 (2023): (Desember) 2023 Vol 29, No 3 (2023): (September) 2023 Vol 29, No 1 (2023): (Maret) 2023 Vol 28, No 4 (2022): (Desember) 2022 Vol 28, No 3 (2022): (September) 2022 Vol 28, No 2 (2022): (Juni) 2022 Vol 28, No 1 (2022): (Maret) 2022 Vol 27, No 4 (2021): (Desember) 2021 Vol 27, No 3 (2021): (September) 2021 Vol 27, No 2 (2021): (Juni) 2021 Vol 27, No 1 (2021): (Maret) 2021 Vol 26, No 4 (2020): (Desember) 2020 Vol 26, No 3 (2020): (September) 2020 Vol 26, No 2 (2020): (Juni) 2020 Vol 26, No 1 (2020): (Maret) 2020 Vol 25, No 4 (2019): (Desember) 2019 Vol 25, No 3 (2019): (September) 2019 Vol 25, No 2 (2019): (Juni) 2019 Vol 25, No 1 (2019): (Maret) 2019 Vol 24, No 4 (2018): (Desember) 2018 Vol 24, No 3 (2018): (September) 2018 Vol 24, No 2 (2018): (Juni 2018) Vol 24, No 1 (2018): (Maret 2018) Vol 23, No 4 (2017): (Desember 2017) Vol 23, No 3 (2017): (September 2017) Vol 23, No 2 (2017): (Juni 2017) Vol 23, No 1 (2017): (Maret, 2017) Vol 22, No 4 (2016): (Desember 2016) Vol 22, No 3 (2016): (September) 2016 Vol 22, No 2 (2016): (Juni 2016) Vol 22, No 1 (2016): (Maret 2016) Vol 21, No 4 (2015): (Desember 2015) Vol 21, No 3 (2015): (September 2015) Vol 21, No 2 (2015): (Juni 2015) Vol 21, No 1 (2015): (Maret 2015) Vol 20, No 4 (2014): (Desember 2014) Vol 20, No 3 (2014): (September 2014) Vol 20, No 2 (2014): (Juni 2014) Vol 20, No 1 (2014): (Maret 2014) Vol 19, No 4 (2013): (Desember 2013) Vol 19, No 3 (2013): (September 2013) Vol 19, No 2 (2013): (Juni 2013) Vol 19, No 1 (2013): (Maret 2013) Vol 18, No 4 (2012): (Desember 2012) Vol 18, No 3 (2012): (September 2012) Vol 18, No 2 (2012): (Juni) 2012 Vol 18, No 1 (2012): (Maret 2012) Vol 17, No 4 (2011): (Desember 2011) Vol 17, No 3 (2011): (September 2011) Vol 17, No 2 (2011): (Juni 2011) Vol 17, No 1 (2011): (Maret 2011) Vol 16, No 4 (2010): (Desember 2010) Vol 16, No 3 (2010): (September 2010) Vol 16, No 2 (2010): (Juni 2010) Vol 16, No 1 (2010): (Maret 2010) Vol 15, No 4 (2009): (Desember 2009) Vol 15, No 3 (2009): (September 2009) Vol 15, No 2 (2009): (Juni 2009) Vol 15, No 1 (2009): (Maret 2009) Vol 14, No 4 (2008): (Desember 2008) Vol 14, No 3 (2008): (September 2008) Vol 14, No 2 (2008): (Juni 2008) Vol 14, No 1 (2008): (Maret 2008) Vol 13, No 3 (2007): (Desember 2007) Vol 13, No 2 (2007): (Agustus 2007) Vol 13, No 1 (2007): (April 2007) Vol 12, No 3 (2006): (Desember 2006) Vol 12, No 2 (2006): (Agustus 2006) Vol 12, No 1 (2006): (April 2006) Vol 11, No 9 (2005): (Vol. 11 No. 9 2005) Vol 11, No 8 (2005): (Vol. 11 No. 8 2005) Vol 11, No 7 (2005): (Vol. 11 No. 7 2005) Vol 11, No 6 (2005): (Vol. 11 No. 6 2005) Vol 11, No 5 (2005): (Vol. 11 No. 5 2005) Vol 11, No 4 (2005): (Vol. 11 No. 4 2005) Vol 11, No 3 (2005): (Vol. 11 No. 3 2005) Vol 11, No 2 (2005): (Vol. 11 No. 2 2005) Vol 11, No 1 (2005): (Vol. 11 No. 1 2005) Vol 10, No 7 (2004): (Vol. 10 No. 7 2004) Vol 10, No 6 (2004): (Vol. 10 No. 6 2004) Vol 10, No 5 (2004): (Vol. 10 No. 5 2004) Vol 10, No 4 (2004): (Vol. 10 No. 4 2004) Vol 10, No 3 (2004): (Vol. 10 No. 3 2004) Vol 10, No 2 (2004): (Vol. 10 No. 2 2004) Vol 10, No 1 (2004): (Vol. 10 No. 1 2004) Vol 9, No 7 (2003): (Vol.9 No.7 2003) Vol 9, No 6 (2003): (Vol.9 No.6 2003) Vol 9, No 5 (2003): Vol. 9 No. 5 2003) Vol 9, No 4 (2003): Vol. 9 No. 4 2003) Vol 9, No 3 (2003): (Vol.9 No.3 2003) Vol 9, No 2 (2003): (Vol, 9 No. 2 2003) Vol 9, No 1 (2003): (Vol.9 No.1 2003) Vol 8, No 7 (2002): (Vol.8 No.7 2002) Vol 8, No 6 (2002): (Vol.8 No.6 2002) Vol 8, No 5 (2002): (Vol.8 No.5 2002) Vol 8, No 4 (2002): (Vol.8 No.4 2002) Vol 8, No 3 (2002): (Vol.8 No.3 2002) Vol 8, No 2 (2002): (Vol. 8 No. 2 2002) Vol 8, No 1 (2002): (Vol.8 No.1 2002) Vol 7, No 4 (2001): (Vol. 7 No. 4 2001) Vol 7, No 2 (2001): (Vol.7 No. 2 2001) Vol 6, No 3-4 (2000): (Vol.6 No.3-4 2000) Vol 6, No 2 (2000): (Vol.6 No.2 2000) Vol 6, No 1 (2000): (Vol.6 No.1 2000) Vol 5, No 2 (1999): (Vol.5 No.2 1999) Vol 5, No 1 (1999): (Vol.5 No. 1 1999) Vol 4, No 4 (1998): (Vol.4 No.4 1998) Vol 4, No 3 (1998): (Vol.4 No.3 1998) Vol 4, No 2 (1998): (Vol.4 No.2 1998) Vol 4, No 1 (1998): (Vol.4 No.1 1998) Vol 3, No 4 (1997): (Vol.3 No.4 1997) Vol 3, No 3 (1997): (Vol.3 No.3 1997) Vol 3, No 2 (1997): (Vol.3 No.2 1997) Vol 3, No 1 (1997): (Vol.3 No.1 1997) Vol 2, No 4 (1996): (Vol.2 No.4 1996) Vol 2, No 3 (1996): (Vol.2 No.3 1996) Vol 2, No 2 (1996): (Vol.2 No.2 1996) Vol 2, No 1 (1996): (Vol.2 No.1 1996) Vol 1, No 4 (1995): (Vol.1 No.4 1995) Vol 1, No 3 (1995): (Vol.1 No.3 1995) Vol 1, No 2 (1995): (Vol.1 No.2 1995) Vol 1, No 1 (1995): (Vol.1 No.1 1995) More Issue