cover
Contact Name
Darwanto
Contact Email
bawal.puslitbangkan@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
bawal.puslitbangkan@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Bawal : Widya Riset Perikanan Tangkap
ISSN : 19078229     EISSN : 25026410     DOI : -
Bawal Widya Riset Perikanan Tangkap dipublikasikan oleh Pusat Riset Perikanan yang memiliki p-ISSN 1907-8226; e-ISSN 2502-6410 dengan Nomor Akreditasi RISTEKDIKTI: 21/E/KPT/2018, 9 Juli 2018. Terbit pertama kali tahun 2006 dengan frekuensi penerbitan tiga kali dalam setahun, yaitu pada bulan April, Agustus, Desember. Bawal Widya Riset Perikanan Tangkap memuat hasil-hasil penelitian bidang “natural history” (parameter populasi, reproduksi, kebiasaan makan dan makanan), lingkungan sumber daya ikan dan biota perairan.
Arjuna Subject : -
Articles 395 Documents
PARAMETER POPULASI LOBSTER BAMBU (Panulirus versicolor) DI PERAIRANUTARAKABUPATENSIKKADANSEKITARNYA Tri Ernawati; Duranta D Kembaren; Suprapto Suprapto; Bambang Sumiono
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 6, No 3 (2014): (Desember 2014)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (163.823 KB) | DOI: 10.15578/bawal.6.3.2014.169-175

Abstract

Lobster bambu (Panulirus versicolor) adalah salah satu komoditas perikanan penting yang sudah banyak dieksploitasi oleh nelayan tradisional. Sejalan dengan peningkatan pengusahaan, maka perlu tersedia data dan informasi terbaru tentang parameter populasi lobster yang dapat dijadikan bahan pertimbangan dalampengelolaan sumberdaya lobster. Penelitian dilaksanakan pada bulanMaret sampai dengan Desember 2011 di perairan utara Kabupaten Sikka dan sekitarnya. Tulisan ini bertujuan untuk mengestimasi parameter populasi lobster bambu. Hasil penelitian diperoleh rata-rata ukuran pertama kali tertangkap (Lc) = 73,67 mmCL. Laju pertumbuhan (K) = 0,44 per tahun dan pencapaian panjang karapas asimtotik (CL ) adalah sebesar 146,7 mm. Laju mortalitas alami (M) 0,68 per tahun dan laju kematian akibat penangkapan (F) sebesar 0,99 per tahun. Tingkat eksploitasi (E) sebesar 0,59 atau rentan terhadap overfishing. Penambahan baru ke dalam populasi berlangsung sepanjang tahun dan mencapai puncaknya pada bulan Agustus dan September bersamaan dengan musim timur.The painted Spiny lobster (Panulirus versicolor) was one of the important fishery commodity that have been exploited by traditional fishermen. The increased of lobster utilization, it’s necessary to update available data and information about lobster’s population parameters that could be used as amaterial consideration to manage lobster resources. The study was conducted in March to December 2011 in the Northern waters of Sikka district and adjacent waters. The objectives of this study were to assess population parameters of P. versicolor. The result showed that mean size at first capture (Lc) is 73.67 mmCL. The lobster growth rate (K) is 0.44 per year and achieving the infinitive carapace length (CL ) is 146.7 mm. The natural mortality (M) is 0.68 per year and fishing mortality (F) is 0.99 per year. The exploitation rate (E) of lobster is 0.59. It’s reached the condition are vulnerable to overfishing. Recruitment occurred throughout the year with peak recruitment was occurred in August and September.
SPESIFIKASI, CARA OPERASI, DAN HASIL TANGKAPAN ALAT TANGKAP BLAD (BEACH BARRIER TRAP) DI PERAIRAN ESTUARI YANG BERMUARA DI SELAT BANGKA, SUMATERA SELATAN Rupawan Rupawan; Abdul Karim Gaffar; Khoirul Fatah
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 2, No 1 (2008): (April 2008)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1439.575 KB) | DOI: 10.15578/bawal.2.1.2008.1-7

Abstract

Perairan estuaria merupakan wilayah pertemuan air tawar dari sungai dengan air laut, mempunyai karakteristik habitat yang khas dan dinamis, keanekaragaman hayati tinggi, aktivitas perikanan tangkap dengan bermacam jenis alat tangkap cukup berkembang. Penelitian untuk mengetahui spesifikasi, cara operasi, dan hasil tangkapan alat tangkap blad dilakukan dengan metode survei pada tahun 2006 di perairan estuari yang bermuara di Selat Bangka, Sumatera Selatan. Hasil penelitianmenunjukkan bahwa alat tangkap blad dibuat dari bahan jaring mesh size 4 mm, ukuran panjang 100 sampai dengan 400 m, lebar 2,0 sampai dengan 3,0 m. Alat tangkap pasif, dipasang memanjang garis pantai pinggiran sungai, menjebak ikan yang bermigrasi secara lateral saat air pasang. Dapat dioperasikan 14 sampai dengan 18 hari per bulan sepanjang tahun, dominan musim kemarau. Hasil tangkapan terdiri atas 54 jenis ikan dan 7 jenis udang, komposisi bobot ikan 73% dan udang 27%. Nilai indek keragaman jenis 1,95 sampai dengan 2,87 (tingkat sedang). Hasil tangkapan per unit upaya (catch per unit of effort) 2,31 sampai dengan 8,75 kg per 100 m jaring blad per trip operasi.
KARAKTERISTIKHABITATDANBIOLOGI IKANMUJAER (Oreochromismossambicus) DI DANAURANAU, SUMATERASELATAN Samuel Samuel; Subagja Subagja
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 3, No 5 (2011): (Agustus 2011)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1116.45 KB) | DOI: 10.15578/bawal.3.5.2011.287-297

Abstract

Penelitian tentang karakteristik habitat dan biologi ikan mujaer (Oreochromis mossambicus) telah dilakukan di Danau Ranau pada bulan September dan Oktober 2009. Hasil penelitian terhadap beberapa parameter kualitas air pada lima stasiun penelitian, menunjukkan bahwa sifat fisika, kimia, dan biologi perairan ideal untuk mendukung kehidupan dan perkembangbiakkan ikan. Danau Ranau dapat digolongkan sebagai perairan subur dengan tingkatan meso eutrofik dan tingkat pencemaran air dalam kategori tidak tercemar sampai tercemar ringan. Ikan mujaer mempunyai sifat pertumbuhan isometrik di mana kecepatan pertumbuhan panjang sebanding dengan kecepatan pertumbuhan bobot dan termasuk jenis ikan omnivor.Analisis aspek reproduksi ikan menunjukkan pemijahan lebih dari satu kali dalam setahun dengan musim pemijahan terjadi pada bulan Oktober sampai Desember. Ukuranpertama kali matang gonad untuk ikan betina berkisar antara 19,14-19,66 cm panjang total dan terjadi pada bulan September dan Oktober. Research on habitat and biological characteristics of java tilapia (Oreochromis mossambicus) have been carried out in the Ranau Lake in September and October 2009. The result investigations of several water quality parameters at 5 research stations, showed that the physical, chemical properties, and biology of waters were still ideal for supporting life and fish breeding. Ranau Lake can be classified as productive waters by the level of meso eutrophic and water pollution levels in uncontaminated category until lightly polluted. Java tilapia fish had the nature of isometric growth in which growth velocity was proportional to the length and weight growth rate and included the type of omnivor fish. Analysis of the reproductive aspects showed that the spawning fish was more than once a year with the spawning season occured in October until December. The first gonado maturity size of female fish ranged between 19.14-19.66 cm total length and occured in September and October.
BEBERAPA PARAMETER POPULASI UDANG PUTIH (Penaeus merguiensis de Mann) DI PERAIRAN TARAKAN, KALIMANTAN UTARA Umi Chodrijah; Ali Suman
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 9, No 2 (2017): (Agustus 2017)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (531.127 KB) | DOI: 10.15578/bawal.9.2.2017.85-92

Abstract

Tingkat eksploitasi udang putih (Penaeus merguiensis) sangat intensif. Hal ini terindikasi dengan hasil tangkapan udang di WPP-NRI 716 selama 9 tahun terakhir meningkat. Tujuan penelitian ini untuk mengkaji beberapa parameter populasi dan aspek biologi udang putih di perairan Tarakan. Data panjang karapas dan tingkat kematangan gonad udang putih dikumpulkan dari tempat pendaratan udang di Selumit Pantai, Tarakan, Kalimantan Utara pada Januari sampai dengan November 2016. Pendugaan parameter populasi dengan aplikasi model analisis menggunakan program ELEFAN 1. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata ukuran udang putih pertama kali tertangkap (Lc) pada panjang karapas 32,51 mm dan rata-rata ukuran pertama kali matang gonad 33,58 mm. Puncak musim pemijahan terjadi pada Maret dan Agustus. Laju pertumbuhan (K) sebesar 1,33 per tahun (betina) dan 1,55 per tahun (jantan). Laju kematian total (Z) sebesar 7,5 per tahun (betina) dan 8,85 per tahun (jantan), laju kematian alamiah (M) sebesar 1,82 per tahun (betina) dan 2,16 per tahun (jantan) serta laju kematian akibat penangkapan (F) sebesar 5,68 per tahun (betina) dan 6,69 per tahun (jantan). Laju pengusahaan (E) udang putih di perairan Tarakan adalah sebesar 0,76 per tahun. Hal ini menunjukkan tingkat pemanfaatan udang putih telah mengalami lebih tangkap (overfishing). Kondisi ini menggambarkan perlunya dilakukan pengurangan upaya sekitar 52 %.  The banana prawn (Penaeus merguiensis) have been exploited intensively. For instance, within nine years the number of shrimp production in FMA 716 increased dramatically. This research aims to identify the some population parameters of banana prawn in the Tarakan waters. This research was carried out from January to November 2016. Data were analyzed using the analytical model application with ELEFAN I. The result showed that the length at first capture (Lc) of banana prawn was 32,51 mmCL and the length at first maturity (Lm) was 33,58 mm CL. The peak season of spawning period was indicated on March and August. The growth rate (K) was 1,33 /year (female) and 1.55/year (male). Total mortality rate (Z) was 7.5/year (female) and 8,85/year (male), natural mortality rate (M) rate was 1.82/year (female) and 2.16/year (male) and fishing mortality rate ( F) were 5.68/ year (female) and 6.69/year (male). The exploitation rate (E) of banana prawn in the Tarakan waters was 0.76 per year. Therefore, level of existing fishing effort of the banana prawn should reduced about 52 % in the next year.
KARAKTERISTIK HABITAT IKAN KERAPU DI KEPULAUAN KARIMUN JAWA, JAWA TENGAH Mujiyanto Mujiyanto; Amran Ronny Syam
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 7, No 3 (2015): (Desember 2015)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (325.534 KB) | DOI: 10.15578/bawal.7.3.2015.147-154

Abstract

Perairan Kepulauan Karimunjawa merupakan pemasok ikan kerapu bagi wilayah Pantai Utara Jawa. Permintaan dan harga pasar yang sangat tinggi mendorong nelayan lebih intensif dalammelakukan penangkapan ikan kerapu. Kegiatan penangkapan ikan kerapu selama ini dilakukan pada malam hari dengan alat bantu kompresor dan tembak. Kegiatan tersebut merupakan salah satu usaha untuk mendapatkan jumlah tangkapan yang tinggi tanpa memperhatikan kelestarian habitat dasar perairannya. Penelitian bertujuan untukmengetahui keeratan hubungan ikan kerapu dengan karakteristik habitatnya. Metode yang digunakan adalah deskriptif eksploratif. Penelitian dilaksanakan selama 3 tahun (2011; 2012 dan 2013), waktu sampling masing-masing tahun penelitian berdasarkan musim. Pengamatan visual sensus sepanjang garis transek pada dua kedalaman 5-6 m dan 10-11 m. Hasil penelitian menunjukkan habitat ikan kerapu pada kedalaman ±5-6 meter adalah non karang serta substrat mati lainnya. Selain itu, ikan-ikan kerapu cenderung bergerak ke perairan yang lebih dalam. Karakteristik habitat pada kedalaman ±10-11 meter menunjukkan ikan kerapu lebih menyukai dasar perairan dengan habitat karang keras yang didominasi oleh gundukan karangmassive yang membentuk celah atau lubang lubang. Perilaku ikan kerapu bergerak dan berpasangan di tempat yang agak gelap (rendah visibilitas) dengan intensitas cahaya yang rendah. Perbedaan habitat kehidupan ikan kerapu pada kedalaman 5-6 dan 10-11 meter adalah dominasi karang jenis Pavona sp dengan tingkat visibilitas perairan yang rendah.Karimunjawa Islands is a supplier of grouper fish for the north coast of Java. Grouper fishing activities have been carried out fishing done at night with a compressor and shooting aids. Fishing activity is an effort to get the number of catches were high regardless habitat resources of waters. The research aims to determine the correlation grouper fish with habitat characteristics. Method be used is descriptive exploratory method. The research was done in over three years (2011; 2012 and 2013), each sampling of research based on season time. The observations visual census along on line transect at two depths (± 5-6 and ± 10-11 meters). The results showed that habitat in depth ± 5-6 meters, that grouper fish was found in non-reef habitats and other death substrates, as well as show grouper fish tend to move to deeper waters. Characteristics habitats in a depth of ±10-11 meters prefers bottom waters with hard coral habitats with dominated by massive coral mounds are a lot of gaps or holes. Behavior grouper fish move and paired witha low visibility (low intensity of light). Differences habitats of grouper fish life in depth ± 5-6 and ± 10-11 meters is coral dominated by Pavona sp and low visibility of water level.
DAERAH PENANGKAPAN, LAJU PANCING DAN PARAMETER POPULASI IKAN GINDARA (Lepidocybium flavobrunneum) DI SAMUDERA HINDIA Andi Bahtiar; Abram Barata; Dian Novianto
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 8, No 1 (2016): (April 2016)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (444.571 KB) | DOI: 10.15578/bawal.8.1.2016.49-56

Abstract

 Ikan gindara atau escolar (Lepidocybium flavobrunneum), umumnya tertangkap sebagai hasil tangkapan sampingan (bycatch) pada perikanan rawai tuna Indonesia.  Penelitian dilakukan dengan metode observasi onboard pada armada rawai tuna yang berbasis di Pelabuhan Benoa mulai bulan Agustus 2005 - Desember 2009 yang beroperasi di Samudera Hindia. Tujuan penelitian ini adalah memberikan informasi daerah penangkapan, menganalisis parameter populasi (umur, pertumbuhan, mortalitas) dan laju eksploitasi ikan gindara hasil tangkapan kapal rawai tuna di Samudera Hindia. Hasil penelitian menunjukan  ikan gindara yang tertangkap oleh kapal rawai tuna menyebar pada posisi geografis antara  90-330 LS dan 760-1270 BT dengan nilai laju pancing (HR) ikan gindara tertinggi  pada tahun 2007 sebesar 0,15 dan terendah tahun 2005 yaitu 0,04, atau  rata-rata HR sebesar 0,10.  Ikan  yang tertangkap memiliki ukuran panjang cagak antara 35-193 cm dengan rata-rata 87,4 cm. Parameter populasi yang dianalisa dengan program FiSAT II diperoleh panjang asimtotik (L∞) = 201,60 cmFL, koefisien laju pertumbuhan (K) = 0,21 per tahun dan t0 = -0,4755 tahun. Nilai dugaan mortalitas total (Z) sebesar 0,85 per tahun, nilai dugaan mortalitas alami (M) = 0,37 per tahun dan laju mortalitas penangkapan (F) = 0,48 per tahun. Laju eksploitasi (E = 0,56) menunjukkan bahwa pemanfaatan gindara di Samudera Hindia diatas nilai optimum yang disarankan yaitu E = 0,50.Escolar (Lepidocybium flavobrunneum) commonly caught as bycatch in Indonesia tuna longline fisheries. The study was conducted on August 2005 - December 2009 with onboard observation of tuna longliner  based in Benoa fishing  port. The objectives of this study are provide information about fishing ground, analyzing parameters of population (age, growth, mortality) and exploitation rate of escolar caught by Indonesia tuna longliner in the Indian Ocean. The results showed that escolar caught by tuna fleets longliner spread on latitude and longitude 900-330 S and 760-1270 E with highest hook rate in 2007 at 0.15 and lowest hook rate occurred in 2005 at 0.04, with average HR at 0.10. Length frequency distribution of escolar were 35-193 cmFL with length average of 87.4 cm. The Von Bertalanffy growth parameter for escolar in Indian Ocean were L∞ = 201.60 cm, K = 0.21 year-1 and t0 = -0,4755 years. The annual instantaneous rate of total mortality (Z) was 0.85 year-1. The natural mortality (M) was 0.37 year-1 and the fishing mortality (F) was 0.48 year-1. The exploitation rate (E = 0.56) indicating that escolar in the Indian Ocean has reached the optimum limit.
BIOLOGI REPRODUKSI IKAN GOLSOM (Hemichromis elongatus, Guichenot 1861) DI WADUK CIRATA, JAWA BARAT Dimas Angga Hedianto; Sri Endah Purnamaningtyas
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 5, No 3 (2013): (Desember 2013)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (418.396 KB) | DOI: 10.15578/bawal.5.3.2013.159-166

Abstract

Ikan golsom (Hemichromis elongatus, Guichenot 1861) merupakan jenis ikan introduksi yang tidak disengaja masuk ke perairan Waduk Cirata. Populasi ikan ini telah mengalami peningkatan yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji aspek biologi reproduksi ikan golsom meliputi nisbah kelamin, dugaan musim pemijahan TKG, ukuran pertama kali matang gonad, fekunditas dan sebaran diameter telur. Pengambilan ikan contoh dilakukan pada bulan Maret, Mei, Juli dan September 2011 menggunakan jaring insang percobaan dengan ukuran mata jaring yang berbeda. Ikan golsom yang diamati berjumlah 316 ekor dengan nisbah kelamin adalah 1:1,20. Nisbah kelamin berada pada kondisi seimbang pada setiap waktu penelitian. Ikan golsom dapat memijah lebih dari satu kali dalam setahun dengan dugaan puncak pemijahan pada musim kemarau, dimulai pada bulan Maret hingga Juli. Ikan jantan mencapai pertama kali matang gonad pada ukuran panjang 11,3 cm (kisaran antara 10,5-12,2 cm), sedangkan ikan betina pada ukuran 10,7 cm (kisaran antara 10,1-11,5 cm). Fekunditas berkisar antara 511-4.900 butir (rata-rata 2.131 butir), diameter telur berukuran antara 0,28-1,58 mm dengan tipe pemijahan bersifat partial spawner.Banded jewel cichlid (Hemichromis elongatus, Guichenot 1861) is unintentional introduced fish in Cirata Reservoir. These fish populations have significant increased in the last five years. The objective of this research were to analyze reproductive biological aspects of banded jewel cichlid such as sex ratio, spawning season, length at first maturity, fecundity and distribution of egg diameter. Research was conducted in March, May, July and September 2011. Experimental gillnet segregated into seven different mesh size were used for fish sampling. Banded jewel cichlid samples observed were 316 fishes with sex ratio of 1:1.20. Sex ratio indicated balanced conditions. The fish spawned more than once a year with peak spawning period was occurred at dry seasons, from March until July. Total length at first maturity of banded jewel male was 11.3 cm (range of 10.5 to 12.2 cm), while for the female it was 10.7 cm (range of 10.1 to 11.5 cm). Fecundity of this fish in the ranged of 511 to 4,900 eggs (average of 2,131 eggs), with eggs diameter in the range of 0.28 to 1.58 mm indicating that banded jewel was categorized as partial spawner fish.
KAJIAN KUALITAS AIR DAN POTENSI PRODUKSI SUMBER DAYA IKAN DI DANAU TOWUTI, SULAWESI SELATAN Danu Wijaya; Samuel Samuel; Petrus Rani Pong Masak
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 2, No 6 (2009): (Desember 2009)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (229.156 KB) | DOI: 10.15578/bawal.2.6.2009.291-297

Abstract

Danau Towuti merupakan danau terbesar di kompleks Danau Malili, Sulawesi Selatan dan danau terbesar kedua di Indonesia setelah Danau Toba. Danau Towuti termasuk danau dengan tingkat endemisitas tinggi untuk jenis ikan perairan umum. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas perairan dan potensi produksi ikan di Danau Towuti. Penelitian ini dilaksanakan dengan tiga kali survei di tahun 2008. Aspek ekologi yang diamati terdiri atas beberapa parameter fisika, kimia, dan biologi perairan. Potensi produksi ikan dihitung berdasarkan pada hasil pengukuran produktivitas primer dari setiap stasiun penelitian. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kualitas perairan Danau Towuti, baik secara fisik, kimia, dan biologi mendukung kehidupan dan perkembangan ikan.Berdasaran pada nilai kandungan phosfat, nitrat, plankton, produktivitas primer dan kandungan khlorofil-a, Danau Towuti diklasifikasikan dalam oligo mesotrofik yaitu tingkat kesuburan rendah sampai sedang. Potensi produksi ikan Danau Towuti dari hasil pengukuran produktivitas primer adalah ±195 ton/tahun.
KEBIASAANMAKAN DANBIOLOGI REPRODUKSI IKANMOTAN (Thynnichthys polylepis) DIWADUK KOTOPANJANG, RIAU Asyari Asyari; Khoirul Fatah
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 3, No 4 (2011): (April 2011)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (612.895 KB) | DOI: 10.15578/bawal.3.4.2011.217-224

Abstract

Ikan motan (Thynnichthys polylepis) merupakan jenis ikan yang mempunyai nilai ekonomi yang cukup penting di Kabupaten Kampar. Ikanmotan diWaduk Kotopanjang termasuk jenis ikan yang dominan dan digemarimasyarakat. Penelitian ini untuk mendapatkan data dan informasi mengenai kebiasaan makan dan biologi reproduksi dilakukan pada bulan Agustus sampai Nopember 2009. Penelitian ini dilakukan melalui metode survei dengan pengambilan contoh dilakukan secara purposive sampling. Untuk mengetahui kebiasaan makan digunakan metode Indeks Preponderan, kematangan gonad diamati secara morfologi dan penentuan fekunditas dihitung dengan metodegravimetrik. Hasil penelitian inimenunjukan bahwa ikan motan tergolong jenis ikan herbivora dengan pakan utama makrofita 49,9%, pakan pelengkapnya adalah phytoplankton 22,6% dan detritus 17,4%, dan pakan tambahan terdiri atas protozoa 0,8%, rotifera 0,5%, dan crustaceae 0,4%. Selain itu makanan yang tak teridentifikasi 8,4%. Ikan motan memijah secara bertahap (parsial) dimulai pada bulan Nopember. Fekunditas ikan motan berjumlah antara 25.360-61.198 butir dengan diameter telur pada kisaran antara 0,31-0,90mm, serta indeks kematangan gonad antara 6,65-17,56%. Motan (Thynnichthys polylepis) is one of fish species having the economically important value in Kampar Regency. In Kotopanjang Reservoir motan is a kind of fish which is dominant and it is liked by the people. The objectives of the research were to get data and information of food habit and the biology reproduction such as gonadal maturity, fecundity, and egg diameter has been carried out on August to November 2009. The research is done with the survey method, meanwhile the samples taken by purposive sampling. Food habit can used an index of preponderance method, the gonadal maturity is used by the morphology, meanwhile fecundity is counted by gravimetric. The result of the research shows that motan is belong to a herbivore fish with a mean food macrophyta of 49.9% as a mean food, phytoplankton of 22.6% and detritus of 17.4% as complement food. Meanwhile the addition food such as protozoa of 0.8%, rotiferas of 0.5%and crustaceae of 0.4%. Beside that, the unidentify part is 8.4%. Motan spawning by partial which is started on November. Fecundity of motan shows that the total egg varied between 25,360-61,198 with egg diameter is between 0.31-0.90 mm. Meanwhile index maturity of gonads is between 6.15-17.56 %. Based on the aspects some water quality.
ASPEK BIOLOGI DAN PARAMETER POPULASI UDANG JINGA (Metapenaeus affinis H. Milne Edwards, 1837) DI PERAIRAN KOTABARU, KALIMANTAN SELATAN Tirtadanu Tirtadanu; Suprapto Suprapto; Ali Suman
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 9, No 1 (2017): (April, 2017)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (924.229 KB) | DOI: 10.15578/bawal.9.1.2017.11-20

Abstract

Udang jinga (Metapenaeus affinis H. Milne Edwards, 1837) merupakan salah satu jenis udang ekonomis penting yang diusahakan di perairan Kotabaru dan saat ini produksinya cenderung mengalami penurunan. Salah satu data dan informasi yang diperlukan dalam mengkaji tingkat pemanfaatan dan dasar pengelolaannya adalah aspek biologi dan parameter populasi. Penelitian ini bertujuan mengkaji aspek biologi dan parameter populasi udang jinga sebagai bahan kebijakan pengelolaan perikanan udang di perairan Kotabaru, Kalimantan Selatan. Penelitian dilakukan pada bulan Januari – November 2016 di perairan Kotabaru. Parameter pertumbuhan diestimasi berdasarkan pergeseran modus struktur ukuran panjang dengan metode ELEFAN I. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata ukuran udang jinga (M. affinis) betina yang tertangkap adalah 23,6 ± 3,45 mmCL dengan modus ukuran 24 mmCL dan rata-rata ukuran udang jantan adalah 20,7 ± 2,9 mm dengan modus ukuran 18 mmCL. Nisbah kelamin udang jinga jantan dan betina adalah 1 : 2,5. Musim pemijahan udang jinga diduga berlangsung sepanjang tahun dan puncak pada bulan Maret. Ukuran rata-rata pertama kali tertangkap (Lc) udang lebih kecil dari ukuran rata-rata pertama kali matang gonad (Lm) (21,7 < 28,5 mm CL) sehingga sebagian besar udang tertangkap berukuran kecil dan belum memijah. Persamaan pertumbuhan udang jinga jantan  CL(t)=35,95(1-e-2.02(t+0,31) dan udang jinga betina CL(t)= 38,3(1-e-1,92(t+0,29)). Tingkat pemanfaatan udang (E) menunjukkan lebih tangkap (overfishing) yakni 0,70/tahun pada jantan dan 0,73/tahun pada betina. Dengan demikian disarankan untuk melakukan pengurangan upaya penangkapan sebesar 40% dan penutupan musim penangkapan di bulan Maret.The jinga shrimp (Metapenaeus affinis H. Milne Edwards, 1837) was one of important commodity that was exploited in Kotabaru Waters, yet the production tend to be declined recently. The data and information on biological aspects and population parameters are needed to investigate the exploitation level and the basis of management measures. This research aims to investigate the biological aspects and population parameters of jinga shrimp Kotabaru waters, South of Kalimantan. This research was conducted on January – November 2016. The growth parameters were estimated as movement of length frequency mode by ELEFAN I method. The results showed that the mean size of female jinga shrimp (M. affinis) was 23,6 ± 3,45 mm CL and the mode was 24 mmCL. While, the mean size of male jinga shrimp was 20,7 ± 2.9 mm CL and the mode was 18 mmCL. The sex ratio of male and female shrimp was 1 : 2,5 . Spawning season of jinga shrimp was estimated throughout the year and the peak was in March. The length at first captured (Lc) was shorter than length at first matured (Lm) (21,7 < 28,5 mm CL). That means most of the catches was immature. The growth function of male and female jinga shrimp were and, CL(t)=35,95(1-e-2.02(t+0,31) respectively and CL(t)= 38,3(1-e-1,92(t+0,29)). The exploitation rate (E) of male and female shrimp fishing were  0,70/year 0,73/year, respectively. The reduction of fishing effort needed by 40% of the actual combined with the temporal fishing closure March.

Filter by Year

2006 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 17, No 3 (2025): Desember 2025 Vol 17, No 2 (2025): Agustus 2025 Vol 17, No 1 (2025): April 2025 Vol 16, No 3 (2024): Desember 2024 Vol 16, No 2 (2024): AGUSTUS 2024 Vol 16, No 1 (2024): (APRIL) 2024 Vol 15, No 3 (2023): (DESEMBER) 2023 Vol 15, No 2 (2023): (AGUSTUS) 2023 Vol 15, No 1 (2023): (APRIL) 2023 Vol 14, No 3 (2022): (DESEMBER) 2022 Vol 14, No 2 (2022): (Agustus) 2022 Vol 14, No 1 (2022): (APRIL) 2022 Vol 13, No 3 (2021): (DESEMBER) 2021 Vol 13, No 2 (2021): (AGUSTUS) 2021 Vol 13, No 1 (2021): (April) 2021 Vol 12, No 3 (2020): (Desember) 2020 Vol 12, No 2 (2020): (AGUSTUS) 2020 Vol 12, No 1 (2020): (April) 2020 Vol 11, No 3 (2019): (Desember) 2019 Vol 11, No 2 (2019): (Agustus) 2019 Vol 11, No 1 (2019): (April) 2019 Vol 10, No 3 (2018): (Desember) 2018 Vol 10, No 2 (2018): (Agustus) 2018 Vol 10, No 1 (2018): April (2018) Vol 9, No 3 (2017): (Desember) 2017 Vol 9, No 2 (2017): (Agustus 2017) Vol 9, No 1 (2017): (April, 2017) Vol 8, No 3 (2016): (Desember, 2016) Vol 8, No 2 (2016): (Agustus 2016) Vol 8, No 1 (2016): (April 2016) Vol 7, No 3 (2015): (Desember 2015) Vol 7, No 2 (2015): (Agustus 2015) Vol 7, No 1 (2015): (April 2015) Vol 6, No 3 (2014): (Desember 2014) Vol 6, No 2 (2014): (Agustus 2014) Vol 6, No 1 (2014): (April 2014) Vol 5, No 3 (2013): (Desember 2013) Vol 5, No 2 (2013): (Agustus 2013) Vol 5, No 1 (2013): (April 2013) Vol 4, No 3 (2012): (Desember 2012) Vol 4, No 2 (2012): (Agustus 2012) Vol 4, No 1 (2012): (April 2012) Vol 3, No 6 (2011): (Desember 2011) Vol 3, No 5 (2011): (Agustus 2011) Vol 3, No 4 (2011): (April 2011) Vol 3, No 3 (2010): (Desember 2010) Vol 3, No 2 (2010): (Agustus 2010) Vol 3, No 1 (2010): (April 2010) Vol 2, No 6 (2009): (Desember 2009) Vol 2, No 5 (2009): (Agustus 2009) Vol 2, No 4 (2009): (April 2009) Vol 2, No 3 (2008): (Desember 2008) Vol 2, No 2 (2008): (Agustus 2008) Vol 2, No 1 (2008): (April 2008) Vol 1, No 6 (2007): (Desember 2007) Vol 1, No 5 (2007): (Agustus 2007) Vol 1, No 4 (2007): (April 2007) Vol 1, No 3 (2006): (Desember 2006) Vol 1, No 2 (2006): (Agustus 2006) Vol 1, No 1 (2006): (April 2006) More Issue