cover
Contact Name
Darwanto
Contact Email
bawal.puslitbangkan@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
bawal.puslitbangkan@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Bawal : Widya Riset Perikanan Tangkap
ISSN : 19078229     EISSN : 25026410     DOI : -
Bawal Widya Riset Perikanan Tangkap dipublikasikan oleh Pusat Riset Perikanan yang memiliki p-ISSN 1907-8226; e-ISSN 2502-6410 dengan Nomor Akreditasi RISTEKDIKTI: 21/E/KPT/2018, 9 Juli 2018. Terbit pertama kali tahun 2006 dengan frekuensi penerbitan tiga kali dalam setahun, yaitu pada bulan April, Agustus, Desember. Bawal Widya Riset Perikanan Tangkap memuat hasil-hasil penelitian bidang “natural history” (parameter populasi, reproduksi, kebiasaan makan dan makanan), lingkungan sumber daya ikan dan biota perairan.
Arjuna Subject : -
Articles 395 Documents
PENANGKAPAN IKAN DI SUNGAI MARO, MERAUKE Yayuk Sugianti; Hendra Satria
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 1, No 5 (2007): (Agustus 2007)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1437.518 KB) | DOI: 10.15578/bawal.1.5.2007.197-201

Abstract

Sungai Maro berada di Wilayah administrasi Kabupaten Merauke Propinsi Papua berfungsi untuk kegiatan transportasi dan perikanan tangkap sehingga merupakan salah satu sungai di Kabupaten Merauke yang memberi kontribusi perikanan yang besar antara lain merupakan daerah penangkapan ikan arwana Irian (Sclerophages jardini). Penelitian bertujuan untuk mengetahui jenis ikan, alat tangkap, status, dan aspek sosial ekonomi sebagai informasi yang berguna untuk mendukungkonstribusi dalam pengelolaan perikanan di Sungai Maro, Merauke. Penelitian dilakukan dengan metode survei dan wawancara pada bulan April, Juli, September, dan Nopember 2006. Lokasi penelitian ditentukan berdasarkan pada daerah yang merupakan sentra ikan arwana yaitu Toray, Bupul, Kweel, Barkey, Kaliwango (Distrik Sota), dan Tanas (Distrik Elikobel). Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil tangkapan terdapat 19 jenis ikan dengan 8 macam alat tangkap. Penangkapan ikan di Sungai Maro belum optimal karena nelayan banyak menggunakan alat tangkap tradisional.
BIOLOGI REPRODUKSI IKAN BETUTU (Oxyeleotris marmorata) DI WADUK KEDUNGOMBO PROPINSI JAWA TENGAH Khoirul Fatah; Susilo Adjie
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 5, No 2 (2013): (Agustus 2013)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (386.969 KB) | DOI: 10.15578/bawal.5.2.2013.89-96

Abstract

Ikan betutu (Oxyeleotris marmorata) merupakan jenis ikan yang mempunyai nilai ekonomis penting di Waduk Kedungombo. Ikan betutu di Waduk Kedungombo termasuk jenis ikan yang dominan dan digemari masyarakat. Penelitian ini mengetahui mengenai biologi reproduksi ikan betutu, dilakukan pada bulan Maret, Mei, Juli dan Oktober 2011. Penelitian ini dilakukan melalui metode survei dengan pengambilan contoh dilakukan secara purposive sampling. Untuk mengetahui tingkat kematangan gonad diamati secara morfologi dan penentuan fekunditas dihitung dengan metode gravimetrik. Hasil penelitian menunjukan bahwa ikan betutu memijah secara bertahap (parsial) dimulai pada bulan Maret, nilai ukuran pertama kali matang gonad pada ukuran 16,5-18,1 cm. Fekunditas berjumlah antara 6414-56.302 butir  dengan diameter telur pada kisaran antara 0,2 – 0,67 mm, serta indeks kematangan gonad ikan betutu jantan berkisar antara 0,03 % - 0,65 %, untuk ikan betutu betina berkisar antara 0,11 % - 5,57 % . Betutu (Oxyeleotris marmorata)  is one of fish species having the economically important value in Kedungombo reservoir. In Kedungombo betutu is a kind of fish which is dominant and it is liked by the people. The objectives of the research were to get data and information on biology reproduction such as gonadal maturity, fecundity and egg diameter has been carried on March, May, July and October 2011. The research is done with survey method, meanwhile the samples taken by purposive sampling. The gonadal maturity is used by morphology, meanwhile fecundity is counted by gravimetric. The result of the research shows that betutu spawning by partial which is started on March, the size of the fish first mature gonads ranged from 16,5-18,1 cm, Fecundity of betutu shows that the total egg varied between 6414-56.302 with egg diameter is between 0,2 – 0,67 mm, Meanwhile index maturity of gonad male is between 0,03 % - 0,65 % and famale between 0,11 % - 5,57 % . Based on the aspects some water quality.  
KAJIAN BIOLOGI UDANG JERBUNG (Penaeus merguiensis De Man, 1888) DI PERAIRAN UTARA JAWA TENGAH Tirtadanu Tirtadanu; Tri Ernawati
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 8, No 2 (2016): (Agustus 2016)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (244.43 KB) | DOI: 10.15578/bawal.8.2.2016.109-116

Abstract

Penangkapan berlebih dapat menyebabkan penurunan stok udang jerbung di Perairan Utara Jawa Tengah sehingga mengancam kelestariannya. Oleh sebab itu, diperlukan penelitian tentang kajian biologi udang jerbung sebagai dasar pengelolaan perikanan udang di Perairan Utara Jawa Tengah. Penelitian dilakukan di tempat pendaratan udang di Cirebon dan Pemalang dari bulan April – Agustus 2015. Tujuan penelitian adalah mengkaji aspek biologi udang jerbung melalui pengamatan frekuensi panjang, hubungan panjang berat, faktor kondisi, nisbah kelamin, tingkat kematangan gonad, rata-rata panjang karapas udang matang gonad (Lm) dan rata-rata panjang karapas udang tertangkap (Lc). Hasil penelitian menunjukkan, modus panjang karapas udang jantan dan betina sebesar 28 mm. Pertambahan panjang udang jantan dan betina, lebih cepat dari beratnya dengan tingkat kegemukan yang rendah. Nisbah kelamin seimbang pada bulan April-Mei dan tidak seimbang pada bulan Juli dan Agustus. Persentase tertinggi udang betina matang gonad yaitu pada bulan Mei sebesar 40,2 %. Nilai Lc sebesar 29,4 mmCL lebih rendah dari Lm sebesar 42,85 mmCL yang berarti rata-rata udang yang tertangkap merupakan udang yang belum matang gonad. Biological information of banana prawn as crucial for managing shrimp fishery in the northern waters of Central Java. The research aims to biological aspects of banana prawn. The study was conducted in landing site of prawn in Cirebon and Pemalang on April-August 2015. Length frequency, length weight relationship, Condition Factor, sex ratio, gonadal maturity, length at first capture (Lc) and length at first mature at gonad maturity (Lm) were determined. The results showed that the mode of carapace length was 28 mm. The growth of length (both male and female) were faster than the weight. The sex ratio was equal on April-Mei and unequal on July and August. The highest percentage of mature female was on May (40.2%) which indicates as spawning season. The length at first capture was 29.4 mmCL which was lower than length at first mature (42.85 mmCL). That finding implied that the average size of prawn being captured was immature prawns.
PENCEMARAN DI SUNGAI BENGAWAN SOLO ANTARA SOLO DAN SRAGEN, JAWA TENGAH Agus Djoko Utomo; Mohamad Rasyid Ridho; Edward Saleh; Dinar Dwi Anugerah Putranto
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 3, No 1 (2010): (April 2010)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (497.328 KB) | DOI: 10.15578/bawal.3.1.2010.25-32

Abstract

Bengawan Solo merupakan sungai yang sudah banyak mengalami perubahan oleh Waduk, Bendungan, Sodetan, dan lain-lain. Bengawan Solo melewati Provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur yang padat penduduk, sekitar 15,2 juta jiwa berdomisili di satuan wilayah Sungai Bengawan Solo dan juga banyak terdapat industri. Permasalahan tersebut dapat berpengaruh langsung terhadap kehidupan organisme air kajian tentang parameter físika-kimia perairan diharapkan dapat memberikan informasi tentang status kualitas perairan di Bengawan Solo. Parameter yang diamati dalam penelitianini adalah oksigen terlarut, karbondioksida, pH, fenol, minyak-lemak, amonia, Cd, Cr, Zn, Pb, Cu, dan CN. Terdapat indikasi bahwa Bengawan Solo di daerah Solo-Sragen dan sekitarnya telah tercemar bobot dengan kualitas air buruk yaitu oksigen rendah (beberapa lokasi kurang dari 2 mg/L, karbon dioksida tinggi (8,8-34,32 mg/L), NH3-N bebas tinggi (beberapa lokasi lebih dari 0,2 mg/L), COD tinggi (1,64-172 mg/L), fenol tinggi (0,087-1,431 mg/L), minyak lemak tinggi (2,6-54,6 mg/L).Konsentrasi logam bobot pada beberapa lokasi yaitu Kampung Sewu, Bak Kramat, dan Tundungan cukup tinggi yaitu Cr= 0,180- 0,375 mg/L, Cu=0,026-0,293 mg/L, dan Zn=0,515-2,892 mg/L. Demikian juga kandungan logam bobot pada ikan sapu-sapu (Liposarcus pardalis) cukup tinggi pada beberapa lokasi Kampung Sewu, Tundungan, Bak Kramat, dan Butuh; Cr=0,856- 2,154 mg/kg, Cu=3, 69-198,48 mg/kg, Pb=1,067 - 2,006 mg/kg, dan Zn=53,516-102,285 mg/kg. Perlu dilakukan pengendalian pencemaran di Bengawan Solo dengan cara meningkatkan kesadaran bersama, pemantauan pembuangan limbah, dan penindakan bagi para pelanggaran. Bengawan Solo River is highly modified by dams, impoundment, reservoir, channelization, etc. It traverse through Central Java and East Java province in its passage from headwaters to the sea. Industries and heavy population (approximately 15.2 million people) near the river have potentially wreaked havoc upon the river. Study on physical and chemical parameters expected provide enough information on water quality condition in Bengawan Solo River. Parameters under study were disolved oxygen, carbondioxid, pH, fenol, NH3-N, oil, and grease, COD, Cr, Cd, Pb, Zn, Cu, and CN. An overview of water quality of Bengawan Solo River in Solo-Sragen region indicates that the segments is already strongly polluted as indicated as low oxygen (some location less than 2 mg/L) and high amount of CO2 (8,8-34.32), high free NH3-N (some location more than 0,2 mg/L), COD (1,64-172 mg/L), fenol (0.087- 1,431 mg/L), and oil and grease (2,6-54.6 mg/L). Heavy metals content of some location at Kampung Sewu, Bak Kramat, and Butuh were Cr=0,180-0,375 mg/L, Cu=0,026-0,293 mg/L, Zn=0,515-2,892 mg/L. Heavy metals content in fish tissue of sapu-sapu were high enough at some location (Kampung Sewu, Tundungan, Bak Kramat, and Butuh); Cr=0,856-2,154 mg/kg, Cu=3,69-198,48 mg/kg, Pb=1,067- 2,006 mg/kg, and Zn=53,516-102,285 mg/kg.
KEBERADAAN PESUT (Orcaella brevirostris) DI SUNGAI MAHAKAM, KALIMANTAN TIMUR*) Dian Oktaviani; Syahroma Husni Nasution; Dharmadi Dharmadi
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 1, No 4 (2007): (April 2007)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1785.106 KB) | DOI: 10.15578/bawal.1.4.2007.127-132

Abstract

Pesut atau dalam bahasa Inggris dikenal dengan sebutan Irrawaddy dolphin dengan nama ilmiah (Orcaella brevirotris) adalah spesies mamalia air tawar yang dilindungi baik secara nasional maupun internasional. Sungai Mahakam yang berada di Propinsi Kalimantan merupakan salah satu habitat pesut di Indonesia, dan sampai dengan saat ini dapat dilihat keberadaan. Populasi pesut yang semakin turun sehingga memerlukan perhatian dalam upaya mempertahankan keberadaan. Upaya tersebut memerlukan koordinasi yang baik antara pemerintah dan masyarakat dalam menjaga kualitas habitat dan pesut.
BIOLOGI REPRODUKSI IKAN TENGGIRI (Scomberomorus commerson Lacepede, 1800) DI PERAIRAN TELUK KWANDANG, LAUT SULAWESI Tegoeh Noegroho; Thomas Hidayat; Umi Chodriyah; Mufti P Patria
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 10, No 1 (2018): April (2018)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (290.4 KB) | DOI: 10.15578/bawal.10.1.2018.69-84

Abstract

Penelitian tentang aspek biologi tenggiri di Indonesia masih jarang dilakukan, padahal upaya pemanfaatannya telah lama dilakukan oleh nelayan. Ikan tenggiri di Teluk Kwandang penangkapannya dilakukan dengan alat tangkap purse seine dan pancing ulur. Data-data terkait biologi reproduksi ikan tenggiri di perairan Kwandang belum tersedia dengan baik, oleh sebab itu perlu dilakukan kajian yang lebih lengkap. Pelabuhan Perikanan Pantai Kwandang merupakan pelabuhan baru, sehingga informasi terkait perikanan tenggiri pada khususnya sangat bermanfaat dalam pendataan dan rencana pengelolaannya. Penelitian telah dilakukan pada Februari-Desember 2012 di perairan Teluk Kwandang, Kabupaten Gorontalo Utara, dengan tujuan mengkaji aspek perikanan meliputi struktur ukuran, panjang bertama kali tertangkap dan biologi reproduksi meliputi: Tingkat Kematangan Gonad, Gonado Somatic Index (GSI), nisbah kelamin, panjang pertama kali matang gonad, diameter dan jumlah telur. Dari penelitian ini diperoleh struktur ukuran pada kisaran 25-138 cmFL, dengan rata-rata modus 60 cmFL. Panjang pertama kali tertangkap dengan purse seine dan pancing ulur masing-masing 64,7 cmFL dan 71,9 cmFL. Tingkat Kematangan Gonad ikan tenggiri didominasi oleh gonad belum matang 61,2%, dan kondisi matang gonad 38,8%. Puncak Gonado Somatic Index (GSI) terjadi pada bulan Mei, sehingga ikan tenggiri di Teluk Kwandang diduga memijah pada Mei-Juli. Nilai GSI mencapai puncaknya pada panjang ikan 98 cmFL, dan akan turun pada panjang ikan lebih dari 100 cmFL. Panjang pertama kali matang gonad ikan tenggiri adalah 80,4 cmFL, pada kisaran 79,3-81,6 cmFL. Jumlah telur ikan tenggiri berkisar 417.360-9.476.520 butir pada panjang ikan 65-103 cmFL. Berdasarkan perkembangan diameter telur setiap bulan menunjukkan tipe pemijahan ikan tenggiri adalah asynchronous dengan pola pemijahan partial spawner.The study on biological aspects of spanish mackerel in Indonesia is uncommon, whereas the exploitation have been conducted historically. Spanish mackerel in the Kwandang Bay caught by purse seiner and handliner. The reproductive biology of mackerel fish in Kwandang waters was unavailable, therefore more study needed. Kwandang is a new port, so the information related to Spanish mackerel in particular is very useful in data collection and management plan. This research aims to assess biological aspect such as the size structure, the length at first captured and reproductive biology aspects (gonad maturity stage, Gonado Somatic Index (GSI), sex ratio, length at first maturity, number and diameter of oosit). The study was conducted in February-December 2012 in the Kwandang Bay waters, North Gorontalo regency. The results showed that the size structure ranged between 25-138 cmFL, with average mode 60 cmFL. The length at first capture caught (Lc) with purse seine and handline by 64,7 cmFL and 71,9 cmFL, respectively. The gonad maturity stage of the was dominated by 61,2% of immature and 38,8% of mature gonad. Gonado Somatic Index (GSI) peak was reached in May, and from this GSI value it is concluded that the Spanish mackerel spawned in May-July. The maximum GSI reached at 98 cmFL and decreased at fish length exceeded 100 cmFL. Length at first maturity (Lm) of the gonad was approximately 80,4 cmFL, within the size range between 79,3-81,6 cmFL. The number of spanish mackerel oosit ranged between 417.360-9.476.520, with size ranged between 65-103 cmFL. The monthly fluctuations of oosit diameter implied that spawning type of spanish mackerel was asynchronous with partial spawner spawning pattern.
INTERAKSI PEMANFAATAN PAKAN ALAMI OLEH KOMUNITAS IKAN DI WADUK PENJALIN, JAWA TENGAH Dimas Angga Hedianto; Kunto Purnomo; Andri Warsa
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 5, No 1 (2013): (April 2013)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (397.548 KB) | DOI: 10.15578/bawal.5.1.2013.33-40

Abstract

Faktor ketersediaan pakan alami di perairan waduk dapat menentukan komposisi dan penyebaran serta proses adaptasi beberapa jenis ikan (adaptasi dari lingkungan mengalir menjadi tergenang). Tujuan dari penelitian ini adalah mengkaji interaksi dalam memanfaatkan pakan alami yang tersedia dari komunitas ikan di Waduk Penjalin. Pengambilan ikan contoh dilakukan pada bulan Juni dan Agustus 2011 menggunakan jaring insang percobaan (ukuran 1-3 inci dengan interval 0,25 inci) dan hasil tangkapan nelayan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ikan beunteur (Puntius binotatus), nila (Oreochromis niloticus) dan tawes (Barbonymus gonionotus) tergolong sebagai planktivora dengan makanan utama berupa fitoplankton masing-masing sebesar 92,23%, 86,91% dan 70,00%. Ikan nilem (Osteochilus vittatus) tergolong sebagai herbivora dengan makanan utama berupa tumbuhan/makrofita sebesar 100,00%. Ikan betutu (Oxyeleotris marmorata) dan manila gift (Parachromis managuensis) tergolong sebagai predator dengan makanan utama berupa ikan masing-masing sebesar 89,33% dan 95,34%. Ikan manila gift merupakan jenis ikan introduksi yang saat ini mendominasi perairan Waduk Penjalin. Interaksi komunitas ikan dalam memanfaatkan pakan alami cenderung memiliki kompleksitas yang rendah. Hal ini diduga akibat tingginya tingkat predasi oleh ikan predator asing, sehingga mengakibatkan ketidakseimbangan antara jumlah ikan predator dan ikan yang dimangsa.The availability of food resources in water reservoir determine the composition, dispersal rate and adaptation of some species of fish (an adaptation from riverine to lacustrine). The purpose of this study is to analysing the interaction in utilizing the available of natural resources by fish communities in Penjalin Reservoir. Research was done on June and August 2011 using experimental gillnets (size 1-3 inches with intervals about 0.25 inches) and the catch of fishermen. The results showed that spotted barb (Puntius binotatus), nile tilapia (Oreochromis niloticus) and silver barb (Barbonymus gonionotus) classified as planktivora with the primary food were phytoplankton respectively 92.23%, 86.91% and 70.00%. Bonylip Barb (Osteochilus vittatus) classified as herbivores with the primary food were plant/macrophyte 100.00%. Marble goby (Oxyeleotris marmorata) and jaguar guapote (Parachromis managuensis) classified as a predator with the primary food were fish (prey) respectively 89.33% and 95.34%. Jaguar guapote was aliens species who dominated Penjalin Reservoir. Interaction of food resource utilization of fish communities in Penjalin Reservoir tend to have a lower complexity. This is due to the high levels of predation by dominance of alien predatory species, thus resulting in an imbalance comparison between population of predator and prey.
STUDITENTANGBIOLOGIREPRODUKSI BEBERAPASPESIES IKANPELAGISKECILDI PERAIRANLAUT BANDA Achmad Zamroni; Suwarso Suwarso
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 3, No 5 (2011): (Agustus 2011)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (572.284 KB) | DOI: 10.15578/bawal.3.5.2011.337-344

Abstract

Studimengenai biologi reproduksi ikan pelagis kecil yangmeliputi rasio jenis kelamin, perkembangan kematangan gonad, dan panjang ikan pertama kali matang gonad, telah dilakukan terhadap beberapa spesies utama ikan pelagis kecil yang dominan tertangkap di perairan Laut Banda. Tujuan dari penelitian ini adalah untukmemperoleh informasi tentang aspek reproduksi ikan pelagis kecil di Laut Banda yang informasinya dapat dipergunakan untuk kepentingan pengelolaan perikanan. Hasil penelitianmenunjukkan bahwa rasio jenis kelamin ikan tidakmenunjukkan perbedaan. Tingkat kematangan gonad tinggi lebih banyak terdapat pada ikan yang berukuran besar.Nilai indeks gonadmeningkat selaras dengan pertambahan ukuran ikan. Fluktuasi nilai indeks gonad berdasarkan atas musim dari beberapa spesies ikan pelagis kecilmenunjukkan bahwa pada musimtimur nilainya cenderung lebih tinggi dan diindikasikan adanya pemijahan pada musim tersebut. Decapterus macarellusmencapai kematangan gonad yang pertama (length at first mature) pada ukuran 26,6 cm FL, Decapterus macrosoma pada ukuran 20,3 cm FL, Rastrelliger kanagurta pada ukuran 24,63 cm FL dan Selar crumenophthalmus pada ukuran 21,85 cm FL. Study on reproductive biology of some small pelagic fishes have been carried out for those collected around the Banda Seas. The aims of this study is to know some biological reproduction aspect such as sex ratio, fish maturity, and the length of fish at firsmaturity, this information could be use for fisheries management purposes. The sex ratio of fish indicated no difference. The maturity showed that most of the fish samples (92%) were unriped, except for relatively big size of fish such as Decapterus macarellus, Decapterus macrosoma, Rastrelliger kanagurta, and Selar crumenophthalmus. The length of fish at the firstmaturity were obtained only for 4 spesies namely Decapterus macarellus with size 26,6 cm in FL, Decapterus macrosoma with size 20,3 cm FL, Rastrelliger kanagurta with size 24,63 cm FL, and Selar crumenophthalmus with size 21,85 cm FL, respectively. The other rest of fishes can not be detected.
KOMPOSISI JENIS, KEPADATAN STOK, ASPEK BIOLOGI, DAN DISTRIBUSI KEPITING DI PERAIRAN ARAFURA Wedjatmiko Wedjatmiko
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 2, No 2 (2008): (Agustus 2008)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (300.338 KB) | DOI: 10.15578/bawal.2.2.2008.75-82

Abstract

Penelitian tentang komposisi jenis, kepadatan stok, aspek biologi dan distribusi kepiting di perairan Arafura telah dilakukan pada bulan Oktober-Nopember 2006. Kepiting adalah salah satu hewan yang termasuk golongan krustase dan merupakan bycatch dalam penangkapan udang. Survei trawl di Laut Arafura menunjukkan bahwa hasil tangkapan kepiting cukup tinggi, terbukti menduduki urutan ketiga pada tahun 2006, bahkan menduduki urutan kedua pada tahun 2003 setelah ikan demersal. Komposisi jenis kepiting diperoleh 6 famili, yaitu Portunidae (95,40%), Calappidae (4,38%), Majidae (0,17%), Eriphiidae (0,03%), Latreillidae (0,01%), dan Parthenopidae (0,01%). Sedangkan spesies dominan adalah Charybdis sp. (90,79%) dari total famili Portunidae. Kepiting jenis tersebut adalah bycatch yang tidak komersial dan tidak dapat dikonsumsi (non edible crabs), karena ukurannya relatif kecil (2-4 cm) dan kandungan daging juga sangat sedikit. Penyebaran kepiting hampir terdapat di seluruh stasiun penelitian, dengan dominansi di sekitar perairan Digul dan perairan bagian barat Dolak, dengan laju tangkap antara 200-250 kg per jam.
PARAMETER POPULASI HIU KEJEN (Carcharhinus falciformis) DI PERAIRAN SELATAN NUSA TENGGARA BARAT Umi Chodrijah; Irwan Jatmiko; Agus Arifin Sentosa
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 9, No 3 (2017): (Desember) 2017
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (702.192 KB) | DOI: 10.15578/bawal.9.3.2017.175-183

Abstract

Hiu kejen atau silky shark (Carcharhinus falciformis) merupakan salah satu spesies hiu dari famili Carcharhinidae yang banyak tertangkap di Samudera Hindia Selatan Jawa. Berdasarkan keputusan sidang CoP-17 di Johannesburg species ini masuk dalam daftar merah Apendik II CITES, sejak saat itu pengelolaan hiu kejen menjadi perhatian khusus pada perikanan tangkap. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan informasi parameter populasi ikan hiu kejen di perairan Samudera Hindia bagian Selatan Nusa Tenggara. Penelitian dilakukan di Tempat Pendaratan Ikan Tanjungluar, Lombok Timur tahun 2016. Pengukuran contoh hiu meliputi panjang total tubuh, nisbah kelamin serta panjang klasper. Hasil penelitian terhadap 3002 ekor ikan contoh menunjukkan bahwa kisaran panjang total hiu kejen (Carcharhinus falciformis) antara 65-300 cm (betina) dan 74-315 cm (jantan). Rerata ukuran panjang total adalah 187,66 cm (betina) dan 195 cm (jantan). Parameter pertumbuhan menurut Von Bertalanffy, meliputi laju pertumbuhan (K), panjang asimptotik (L) dan umur ikan pada saat panjang ke-0 (t0), masing-masing sebesar 0,42/tahun; 331,28 cmTL dan -0,20/ tahun. Persamaan kurva pertumbuhan von Bertalanffy untuk hiu kejen yaitu Lt = 331,28[1–e–0.,42(t+0.20)]. Parameter mortalitas hiu kejen meliputi laju kematian total (Z), laju kematian alamiah (M) dan laju kematian karena penangkapan (F) masing-masing sebesar 2,79/tahun; 0,49/tahun dan 2,30/tahun. Laju eksploitasi (E) hiu kejen sebesar 0,82 menandakan eksploitasi terhadap spesies ini cenderung sudah tinggi.Silky shark (Carcharhinus falciformis) is one of the family Carcharhinidae that commonly caught in the Indian Ocean South of Java. The purpose of this study was to obtain information on the populations parameters of silky shark caught in the waters of Indian Ocean Southern part of Nusa Tenggara. The study was conducted at fish landing sites in Tanjungluar, East Lombok from January to December 2016. The method used in this research was survey method. Observations included total body length, sex ratio and clasper length measured with direct measurements and visual observations in the field. From a total 3002 fish samples showed that the total length range for silky shark (Carcharhinus falciformis) caught in the waters of the Indian Ocean landed in Tanjungluar were between 65-300 cm TL (female) and 74-315 cmTL (male), with the average length of 187, 66 cmTL (female) and 195 cm TL (male). The estimated Von Bertalanffy growth parameters of length infinity (L), growth rate (K) and theoretical age of fish at zero length (t0) were 331.28 cmTL, 0.42 / year and -0.20 years, respectively. The Von Bertalanffy growth equation for silky shark was Lt = 331.28 [1-e-0.42(t+0.20)]. The calculated Parameters for silky shark mortality including total mortality rate (Z), the natural mortality rate (M) and the fishing mortality rate (F) were 2.79 / year, 0:49 / year and 2.30 / year, respectively. The exploitation rate (E) of silky shark of 0.82 indicates the exploitation of this species has already high.

Filter by Year

2006 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 17, No 3 (2025): Desember 2025 Vol 17, No 2 (2025): Agustus 2025 Vol 17, No 1 (2025): April 2025 Vol 16, No 3 (2024): Desember 2024 Vol 16, No 2 (2024): AGUSTUS 2024 Vol 16, No 1 (2024): (APRIL) 2024 Vol 15, No 3 (2023): (DESEMBER) 2023 Vol 15, No 2 (2023): (AGUSTUS) 2023 Vol 15, No 1 (2023): (APRIL) 2023 Vol 14, No 3 (2022): (DESEMBER) 2022 Vol 14, No 2 (2022): (Agustus) 2022 Vol 14, No 1 (2022): (APRIL) 2022 Vol 13, No 3 (2021): (DESEMBER) 2021 Vol 13, No 2 (2021): (AGUSTUS) 2021 Vol 13, No 1 (2021): (April) 2021 Vol 12, No 3 (2020): (Desember) 2020 Vol 12, No 2 (2020): (AGUSTUS) 2020 Vol 12, No 1 (2020): (April) 2020 Vol 11, No 3 (2019): (Desember) 2019 Vol 11, No 2 (2019): (Agustus) 2019 Vol 11, No 1 (2019): (April) 2019 Vol 10, No 3 (2018): (Desember) 2018 Vol 10, No 2 (2018): (Agustus) 2018 Vol 10, No 1 (2018): April (2018) Vol 9, No 3 (2017): (Desember) 2017 Vol 9, No 2 (2017): (Agustus 2017) Vol 9, No 1 (2017): (April, 2017) Vol 8, No 3 (2016): (Desember, 2016) Vol 8, No 2 (2016): (Agustus 2016) Vol 8, No 1 (2016): (April 2016) Vol 7, No 3 (2015): (Desember 2015) Vol 7, No 2 (2015): (Agustus 2015) Vol 7, No 1 (2015): (April 2015) Vol 6, No 3 (2014): (Desember 2014) Vol 6, No 2 (2014): (Agustus 2014) Vol 6, No 1 (2014): (April 2014) Vol 5, No 3 (2013): (Desember 2013) Vol 5, No 2 (2013): (Agustus 2013) Vol 5, No 1 (2013): (April 2013) Vol 4, No 3 (2012): (Desember 2012) Vol 4, No 2 (2012): (Agustus 2012) Vol 4, No 1 (2012): (April 2012) Vol 3, No 6 (2011): (Desember 2011) Vol 3, No 5 (2011): (Agustus 2011) Vol 3, No 4 (2011): (April 2011) Vol 3, No 3 (2010): (Desember 2010) Vol 3, No 2 (2010): (Agustus 2010) Vol 3, No 1 (2010): (April 2010) Vol 2, No 6 (2009): (Desember 2009) Vol 2, No 5 (2009): (Agustus 2009) Vol 2, No 4 (2009): (April 2009) Vol 2, No 3 (2008): (Desember 2008) Vol 2, No 2 (2008): (Agustus 2008) Vol 2, No 1 (2008): (April 2008) Vol 1, No 6 (2007): (Desember 2007) Vol 1, No 5 (2007): (Agustus 2007) Vol 1, No 4 (2007): (April 2007) Vol 1, No 3 (2006): (Desember 2006) Vol 1, No 2 (2006): (Agustus 2006) Vol 1, No 1 (2006): (April 2006) More Issue