cover
Contact Name
Harls Evan Siahaan
Contact Email
evandavidsiahaan@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
kurios@sttpb.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Kurios
ISSN : 2615739X     EISSN : 26143135     DOI : -
KURIOS (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen) merupakan wadah publikasi hasil penelitian teologi dan Pendidikan Agama Kristen dengan nomor ISSN: 2614-3135 (online), ISSN: 2406-8306 (print), yang diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa Jakarta.
Arjuna Subject : -
Articles 423 Documents
Pendidikan Kristiani sebagai pembentukan habitus etis: Trialektika Dallas Willard, James K. A. Smith, dan Pierre Bourdieu dalam konteks digital Indonesia Toisuta, Jakson Sespa; Pheanto, Yuli
KURIOS Vol. 11 No. 1: April 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v11i1.1114

Abstract

Christian Education (CE) in the digital age faces a fundamental anthropological crisis: the dominant paradigm that conceives of humans as thinking things fails to reach the most formative layers of human existence, desires, habits, and dispositions internalized through repeated practice. Three paradigmatic reductions deepen this crisis: cognitivism, moralism, and rootless activism, all of which are intensified by the colonization of desire through digital platform algorithms. This article reconstructs CE as the formation of ethical habitus through a critical trialectic of Dallas Willard, James K. A. Smith, and Pierre Bourdieu. Willard contributes the dimension of spiritual intentionality through spiritual disciplines and the VIM thesis; Smith contributes liturgical affectivity through the liturgical animal anthropology and cultural liturgies; Bourdieu contributes socio-critical analysis through habitus, field, and capital. Employing a constructive, practical theological approach, the article argues that this triad reads the digital age as a new formative field that demands counter-for-mation praxis while opening critical dialogue with Indonesian local wisdom as resonant, thick traditions.   Abstrak Pendidikan Kristiani (PK) di era digital menghadapi krisis antropologis yang mendasar: paradigma dominan yang memandang manusia sebagai thinking thing gagal menyentuh lapisan paling formatif keberadaan, yaitu kerinduan, kebiasaan, dan disposisi yang terinternalisasi melalui praktik berulang. Tiga reduksi paradigmatik memperdalam krisis ini: kognitivisme, moralisme, dan aktivisme tanpa akar, yang semuanya diperparah oleh kolonisasi desire oleh algoritma platform digital. Artikel ini merekonstruksi PK sebagai pembentukan habitus etis melalui trialektika kritis Dallas Willard, James K. A. Smith, dan Pierre Bourdieu. Willard menyumbang dimensi intensionalitas spiritual melalui spiritual disciplines dan tesis VIM; Smith menyumbang dimensi afektivitas liturgis melalui antropologi liturgical animal dan cultural liturgies; Bourdieu menyumbang analisis sosiologis-kritis melalui kerangka habitus, field, dan kapital. Menggunakan pendekatan teologi praktis konstruktif, artikel ini berargumentasi bahwa trialektika ini membaca era digital sebagai field formatif baru yang menuntut praksis counter-formation, sekaligus membuka dialog dengan kearifan lokal Indonesia sebagai thick traditions yang resonan.
Efektivitas teori belajar Carl Rogers melalui pendidikan agama Kristen dalam membentuk kecerdasan emosional siswa Telaumbanua, Arozatulo; Zega, Sabaria
KURIOS Vol. 12 No. 1: April 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v12i1.1318

Abstract

The formation of students' emotional intelligence has become a critical challenge amid the growing prevalence of behavioral problems, violence, and mental health disorders among adolescents in school settings. Christian Religious Education (CRE) has strategic potential to address these challenges by integrating humanistic approaches into the learning process. This study aims to analyze the effectiveness of applying Carl Rogers' learning theory in CRE to holistically develop students' emotional intelligence. A qualitative library research method was employed, examining books, academic journals, and relevant theological sources. The findings reveal that Rogers' core principles of empathy, unconditional positive regard, and genuineness align closely with the value of love in CRE, contributing significantly to students' self-awareness, emotional regulate-on, intrinsic motivation, and social skills. This study concludes that integrating Rogers' learning theory into CRE constitutes an effective and holistic pedagogical approach. CRE teachers need training grounded in a Christian humanistic approach to optimally support students' development of emotional intelligence.   Abstrak Pembentukan kecerdasan emosional siswa menjadi tantangan penting seiring meningkatnya persoalan perilaku, kekerasan, dan gangguan kesehatan mental remaja di lingkungan sekolah. Pendidikan Agama Kristen (PAK) memiliki potensi strategis untuk menjawab tantangan tersebut melalui integrasi pendekatan humanistik dalam pembelajaran. Penelitian ini bertujuan menganalisis efektivitas penerapan teori belajar Carl Rogers dalam PAK guna membentuk kecerdasan emosional siswa secara holistik. Metode yang digunakan adalah studi kepustakaan kualitatif yang menelaah buku, jurnal ilmiah, dan sumber teologis yang relevan. Hasil kajian menunjukkan bahwa prinsip empati, penerimaan tanpa syarat, dan ketulusan dalam teori Rogers selaras dengan nilai kasih dalam PAK, serta berkontribusi pada pengembangan kesadaran diri, regulasi emosi, motivasi intrinsik, dan keterampilan sosial siswa. Penelitian ini menyimpulkan bahwa integrasi teori Rogers dalam PAK merupakan pendekatan pedagogis yang efektif dan holistik. Guru PAK perlu dibekali pelatihan berbasis pendekatan humanistik Kristiani guna mendukung pembentukan kecerdasan emosional siswa secara optimal dan berkelanjutan.
Kecerdasan spiritualitas-sosial sebagai habitus teologis: Refleksi praktis-teologis atas penanganan konflik sosial personel Direktorat Samapta Kepolisian Daerah Kalimantan Tengah di Kabupaten Seruyan Arnoldus, Andreas
KURIOS Vol. 12 No. 1: April 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v12i1.1552

Abstract

The shooting of Bangkal villagers on October 7, 2023, exposes a fundamental problem in the Indonesian police’s approach to social-personal conflict. Existing academic discourse reads officers' spiritual competence through individualistic, atheological psychometric frameworks, failing to capture the social-relational dimension that is most decisive in conflict situations. This article constructs spiritual-social intelligence as a singular theological habitus uniting the vertical and horizontal dimensions of love, grounded in the double-love command (Mat. 22:37-40), Trinitarian perichoresis, and koinonia. The research employs practical-theological reflection within a case study framework using Osmer's four tasks: descriptive-empirical, interpretive, normative, and pragmatic. Three findings emerge: psychometric reduction is insufficient for forming officers as servants of peace; Christian spirituality is socially constitutive rather than merely consequential; and spiritual formation must integrate egkrateia (self-control) and eirenopoietics (peacemaking) across the entire deployment cycle. The article concludes with pastoral-practical proposals for spiritual formation among Polri personnel.   Abstrak Tragedi penembakan warga Desa Bangkal pada 7 Oktober 2023 menyingkap problema mendasar dalam pendekatan aparat kepolisian terhadap konflik sosial-personal di Indonesia. Wacana akademik selama ini membaca kompetensi spiritual aparat melalui kerangka psikometrik yang individualistis dan ateologis, sehingga gagal menangkap dimensi sosial-relasional yang paling menentukan di lapangan konflik. Artikel ini mengonstruksi kecerdasan spiritualitas-sosial sebagai habitus teologis tunggal yang menyatukan dimensi vertikal dan horizontal kasih, berpijak pada hukum kasih ganda (Mat. 22:37-40), perikoresis trinitarian, dan koinonia. Penelitian menggunakan refleksi teologi praktis berbasis studi kasus dengan kerangka empat tugas Osmer, yakni deskriptif-empiris, interpretatif, normatif, dan pragmatis. Hasil refleksi menunjukkan tiga hal: reduksi psikometrik tidak memadai untuk membentuk aparat sebagai pelayan damai; spiritualitas Kristiani berdimensi sosial-konstitutif, bukan sekadar konsekuensial; serta formasi rohani perlu mengintegrasikan egkrateia (penguasaan diri) dan eirenopoietik (membawa damai) dalam siklus tugas pengamanan. Artikel menutup dengan usulan praksis pastoral bagi pembinaan personel Polri.