cover
Contact Name
Harls Evan Siahaan
Contact Email
evandavidsiahaan@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
kurios@sttpb.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Kurios
ISSN : 2615739X     EISSN : 26143135     DOI : -
KURIOS (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen) merupakan wadah publikasi hasil penelitian teologi dan Pendidikan Agama Kristen dengan nomor ISSN: 2614-3135 (online), ISSN: 2406-8306 (print), yang diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa Jakarta.
Arjuna Subject : -
Articles 440 Documents
Membentuk Gen Z sebagai agen perdamaian: Pedagogi pembebasan Paulo Freire dalam revitalisasi pendidikan gerejawi di Gereja-gereja arus utama Tapanuli Utara Pestaria Naibaho; Sandy Ariawan; Simion D. Harianja; Preciliana Harianja
KURIOS Vol. 11 No. 3: Desember 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v11i3.1310

Abstract

Social violence, intergenerational intolerance, and a values crisis among young people represent concrete challenges facing Christian communities in North Tapanuli. Mainstream churches, predominantly composed of Batak denominations such as HKBP, have largely continued to apply unidirectional, transmissive, and ritually oriented church education models, thereby failing to optimally empower children as active subjects and agents of peace. This study aims to examine the relevance of Paulo Freire's liberating pedagogy for the revitalization of church education in the context of forming Gen Z children as agents of peace. Employing critical literature review and conceptual analysis, this study examines Freire's pedagogical framework, encompassing conscientização, dialogical pedagogy, and the critique of banking education, along with its limitations and implications for child theology and ecclesiology. The findings indicate that integrating liberating pedagogy into church education, grounded in the theology of imago Dei and the example of Christ, holds significant potential to foster peaceful character and critical consciousness among Gen Z children. This revitalization requires a shift from doctrinal transmission to a dialogical, transformative learning community.   Abstrak Kekerasan sosial, intoleransi antargenerasi, dan krisis nilai di kalangan generasi muda merupakan tantangan nyata bagi komunitas Kristen di Tapanuli Utara. Gereja arus utama yang didominasi oleh denominasi seperti HKBP masih cenderung menerapkan model pendidikan gerejawi yang bersifat satu arah, transmisif, dan ritualistik, sehingga belum optimal memberdayakan anak sebagai subjek aktif dan agen perdamaian. Penelitian ini bertujuan mengkaji relevansi pedagogi pembebasan Paulo Freire bagi revitalisasi pendidikan gerejawi dalam konteks pembentukan anak Gen Z sebagai agen perdamaian. Dengan menggunakan metode studi literatur kritis dan analisis konseptual, penelitian ini menelaah ke-rangka pedagogis Freire, mencakup conscientização, pedagogi dialogis, dan kritik atas banking education, beserta keterbatasannya dan implikasinya bagi teologi anak serta eklesiologi. Temuan menunjukkan bahwa integrasi pedagogi pembebasan dalam pendidikan gerejawi yang dijangkarkan pada teologi imago Dei dan teladan Kristus berpotensi signifikan membentuk karakter damai dan kesadaran kritis pada anak Gen Z. Revitalisasi ini mensyaratkan transformasi dari model transmisi doktrinal menuju komunitas belajar yang dialogis dan transformatif.
Narasi Kristiani dalam syair Bugi’: Kajian terhadap simbolisme dan makna religius Ismail Banne Ringgi; Silprilimian Mariu
KURIOS Vol. 12 No. 1: April 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v12i1.1303

Abstract

This study aims to uncover Christian narratives embedded in bu-gi' poetry, focusing on the symbolism and religious meanings in its texts. Bugi’s poetry is a traditional oral literary form of the Toraja people, rich with gospel values within cultural expression, yet it has not been theologically interpreted in Christian terms despite its practice in Christian celebratory ceremonies. This qualitative study was conducted in Sarira Village, Tana Toraja Regency, involving three purposively selected informants. Data were collected through in-depth interviews and analyzed using a hermeneutical approach to interpret the religious symbols within the poetry. Findings reveal that Christian values such as love, respect, hospitality, proclamation of God's goodness, joy, and blessing are expressed through metaphors and narrative structures in the poetry. Natural symbols, including celestial bodies, water, and wind, represent aspects of Christian teaching that have undergone inculturation within the local Torajan tradition. These findings affirm that Bugi’s poetry serves as a space of encounter between Christian faith and local wisdom, contributing to interdisciplinary studies that link regional literature, contextual theology, and cultural anthropology in Indonesia.   Abstrak Penelitian ini bertujuan mengungkap narasi Kristiani dalam syair Bugi’, dengan fokus pada simbolisme dan makna religius yang terkandung dalam teks syair. Syair Bugi’ merupakan sastra lisan tradisional masyara-kat Toraja yang sarat nilai-nilai Injil dalam budaya, namun selama ini be-lum dimaknai secara Kristiani meskipun telah dipraktikkan dalam upaca-ra sukacita orang Kristen. Penelitian kualitatif ini dilaksanakan di Kelurahan Sarira, Kabupaten Tana Toraja, melibatkan tiga informan yang dipilih secara purposif. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan dianalisis menggunakan pendekatan hermeneutik untuk menafsirkan simbol-simbol religius dalam syair. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai-nilai Kristiani seperti kasih, penghormatan, hospitalitas, proklamasi kebaikan Tuhan, sukacita, dan berkat hadir melalui metafora dan struktur naratif syair. Simbol-simbol alam seperti benda langit, air, dan angin merepresentasikan aspek ajaran Kristiani yang telah mengalami inkulturasi dengan tradisi lokal Toraja. Temuan ini menegaskan bahwa syair Bugi’ berfungsi sebagai ruang perjumpaan antara iman Kristiani dan kearifan lokal, sekaligus memberikan kontribusi bagi studi interdisipliner antara sastra daerah, teologi kontekstual, dan antropologi budaya di Indonesia.
Pedagogi sentuhan batin: Rekonstruksi kompetensi guru Sekolah Minggu melalui pendekatan afektif-kontemplatif Rifky Serva Tuju; Asep Herry Hernawan; Rusman
KURIOS Vol. 12 No. 1: April 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v12i1.1327

Abstract

Sunday school teachers occupy a foundational role in the spiritual formation of children within Christian communities. However, prevailing pedagogical frameworks remain predominantly cognitive and content-transmissive, neglecting the affective and contemplative dimensions essential to holistic spiritual formation. This article proposes "inner touch pedagogy" as a constructive theological framework for reconstructing Sunday school teacher competency. Inner touch pedagogy is defined as a theo-logically grounded disposition of interior receptivity, cultivated through contemplative practice, that enables teachers to be genuinely present to God, to self, and to learners. This narrative literature review and constructive theological reflection engage theological anthropology, contemplative spirituality, and educational philosophy to develop a reconstructed competency framework comprising four integrated dimensions: theological grounding in the imago Dei and affective anthropology; contemplative formation; affective integration; and pedagogical creativity. This reconstruction offers a theologically rooted and pedagogically viable model for contemporary Christian education ministries seeking to move beyond doctrinal transmission toward authentic spiritual formation.   Abstrak Guru Sekolah Minggu memainkan peran fundamental dalam pembentukan spiritual anak di komunitas Kristiani. Namun, kerangka pedagogis yang dominan masih bersifat kognitif dan transmisif, mengabaikan dimensi afektif dan kontemplatif yang esensial bagi pembentukan spiritualitas holistik. Artikel ini mengusulkan "pedagogi sentuhan batin" sebagai kerangka teologis konstruktif untuk merekonstruksi kompetensi guru Sekolah Minggu. Pedagogi sentuhan batin didefinisikan sebagai disposisi re-septivitas interior yang berlandaskan teologis, dikultivasi melalui praktik kontemplatif, yang memampukan guru untuk sungguh-sungguh hadir bagi Allah, bagi diri sendiri, dan bagi peserta didik. Melalui penelitian teologis kualitatif dengan kajian literatur naratif dan refleksi teologis konstruktif, studi ini mengembangkan kerangka kompetensi rekonstruktif yang mencakup empat dimensi terintegrasi: pendasaran teologis dalam imago Dei dan antropologi afektif, formasi kontemplatif, integrasi afektif, serta kreativitas pedagogis. Rekonstruksi ini menawarkan model yang berlandaskan teologis dan layak secara pedagogis bagi pelayanan pendidikan Kristiani kontemporer.
Theologia resonantiae: Teologi perjanjian sebagai fondasi rekonsiliasi dan spiritualitas ketahanan mental lansia di era digital dalam perspektif Perjanjian Lama Martina Novalina; Rinto Francius Sirait
KURIOS Vol. 12 No. 1: April 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v12i1.1529

Abstract

Indonesia's growing elderly population reveals a crisis of relational disconnection with direct consequences for the mental and spiritual health of older adults. This article proposes Theologia Resonantiae as a theo-logical framework that positions reconciliation as a spirituality of mental resilience for the elderly in the digital era. Employing a qualitative-reflec-tive approach grounded in systematic theological library research, the ar-gument unfolds in two layers: first, a critical appropriation of Hartmut Rosa's resonance theory as a sociological diagnosis of elderly alienation as a crisis of covenantal resonance; and second, a constructive retrieval of Old Testament covenant theology, specifically berith, hesed, shema, zikaron, sha-lom, and teshuvah, as the canonical grammar of divine-human resonance that both precedes and theologically undergirds Rosa's insights, while pro-viding the deepest theological foundation for the pastoral care of the el-derly in the digital age. Theologia Resonantiae enriches pastoral theology by positioning covenantal reconciliation as a contextual spirituality of mental resilience for the elderly, and recommends pastoral models grounded in relational presence, meaningful participation, and inclusive digital spaces rooted in the hesed of the God of Israel.   Abstrak Peningkatan populasi lansia di Indonesia mengungkapkan krisis keterputusan relasional yang berdampak langsung pada kesehatan mental dan spiritual lansia. Artikel ini mengusulkan Theologia Resonantiae sebagai kerangka teologis yang menempatkan rekonsiliasi sebagai spiritualitas ketahanan mental lansia di era digital. Dengan pendekatan kualitatif-reflektif berbasis studi pustaka teologis sistematis, argumen dikembangkan dalam dua lapisan: pertama, apropriasi kritis teori resonansi Hartmut Rosa seba-gai diagnosis sosiologis atas alienasi lansia sebagai krisis resonansi perjan-jian; dan kedua, penggalian teologi perjanjian dalam Perjanjian Lama, khu-susnya berith, hesed, shema, zikaron, shalom, dan teshuvah, sebagai tata bahasa kanonik resonansi ilahi-manusiawi yang mendahului dan secara teologis menopang wawasan Rosa, sekaligus menyediakan fondasi teologis terda-lam bagi pastoral lansia di era digital. Theologia Resonantiae memperkaya teologi pastoral dengan menempatkan rekonsiliasi perjanjian sebagai spiritualitas ketahanan mental yang kontekstual bagi lansia dan merekomendasikan model pastoral berbasis kehadiran relasional, partisipasi bermakna, dan ruang digital inklusif yang berakar pada hesed Allah Israel.
Imago patris dalam keluarga: Kehadiran ayah sebagai sarana pewarisan iman dan pembentukan identitas spiritual anak Sance Mariana Tameon; Mieke Yen Manu; Ezra Tari
KURIOS Vol. 12 No. 1: April 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v12i1.977

Abstract

In patriarchal cultures, child-rearing is often perceived as the mother's domain, while the father's role is confined to being the primary breadwinner. Consequently, fathers' involvement in shaping children's spiritual identity is frequently marginalized. This study examines the father's role as imago patris in the family, namely the representation of the divine fatherly image that serves as a means of faith transmission and spiritual identity formation in children. The research employs a qualitative design grounded in a literature review, drawing on theological, biblical, and scholarly sources concerning paternal involvement in faith formation. The findings reveal that faith transmission occurs through paternal transformation, understood as relational spiritual leadership. This transformation begins with a shift in the father's perception of the child, from an object of caregiving responsibility to a soul entrusted by God. Such reorientation encourages fathers to redefine their roles within the family, share responsibilities with mothers, and become more emotionally and spiritually engaged. Through consistent presence, love, and guidance, children internalize faith values as an integral part of their spiritual identity.   Abstrak Dalam budaya yang berakar pada sistem patriarki, pengasuhan anak umumnya dipandang sebagai ranah ibu, sementara peran ayah dibatasi pada fungsi pencari nafkah. Akibatnya, keterlibatan ayah dalam pembentukan identitas spiritual anak kerap terpinggirkan. Penelitian ini mengkaji peran ayah sebagai imago patris dalam keluarga, yakni representasi citra kebapaan ilahi yang menjadi sarana pewarisan iman dan pembentukan identitas spiritual anak. Kajian dilakukan dengan metode kualitatif deskriptif berbasis studi literatur, melalui penelusuran sumber teologis, biblika, dan keilmuan terkait peran ayah dalam pengasuhan iman. Hasil kajian menunjukkan bahwa pewarisan iman berlangsung melalui transformasi keayahan yang dimaknai sebagai kepemimpinan rohani relasional. Transformasi ini bermula dari perubahan cara pandang ayah terhadap anak, dari objek tanggung jawab pengasuhan menjadi jiwa yang dipercayakan Tuhan. Pemahaman tersebut mendorong ayah untuk menyesuaikan perannya dalam keluarga, berbagi tanggung jawab dengan ibu, serta terlibat secara emosional dan spiritual. Melalui kehadiran, kasih, dan bimbingan yang konsisten, anak menginternalisasi nilai iman sebagai bagian integral dari identitas spiritualnya.
Dari mimesis menjadi mandiri: Pembiasaan sebagai pedagogi teologis keluarga dalam pembentukan karakter anak usia dini Julita Herawati P.; Endang Junita Sinaga; Mei Lastri E. F. Butar-butar; Putri Sinurat
KURIOS Vol. 10 No. 3: Desember 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v10i3.1044

Abstract

The discourse on early childhood independence in Christian religious education is dominated by secular developmental psychology rooted in Enlightenment autonomy. This assumption is problematic because it negates human nature as beings living coram Deo and reduces children’s imitative dynamics to mere adaptive-behavioristic conduct. This article aims to theologically reconstruct the mimesis-habituation dynamic as a theological pedagogy of the family in shaping independent character in early childhood. The research employs a qualitative-theological-construc-tive approach, drawing on Osmer’s four tasks of practical theology. Findings show that children’s imitation of parents is not merely a behavioristic process but participation in imitatio Christi transmitted through household practices; habituation forms theological habitus directing affection; the family as ecclesia domestica is the primary pedagogical locus; and true independence emerges from internalized theonomic imitation. This article contributes a new theological framework for early childhood character formation in Indonesia’s digital era.   Abstrak Diskursus kemandirian anak usia dini dalam Pendidikan Agama Kristen didominasi oleh paradigma psikologi perkembangan sekuler yang berakar pada konsep autonomy ala Pencerahan. Asumsi ini problematik karena menegasikan hakikat manusia sebagai makhluk yang hidup coram Deo serta mereduksi dinamika peniruan anak sebagai sekadar perilaku adaptif-behavioristik. Artikel ini bertujuan merekonstruksi secara teologis dinamika mimesis-pembiasaan sebagai pedagogi teologis keluarga dalam membentuk karakter kemandirian anak usia dini. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif-teologis-konstruktif dengan kerangka empat tugas teologi praktis Osmer. Temuan menunjukkan bahwa peniruan anak terhadap orang tua bukanlah proses behavioristik semata, melainkan partisipasi dalam imitatio Christi yang diwariskan lewat praktik rumah tangga; pembiasaan adalah pembentukan habitus teologis yang mengarahkan afeksi; keluarga sebagai ecclesia domestica merupakan lokus utama pedagogis; dan kemandirian sejati lahir dari proses peniruan-teonom yang terinternalisasi. Artikel ini berkontribusi menawarkan kerangka teologis baru bagi pembentukan karakter anak usia dini di era digital Indonesia.
Gereja sebagai komunitas formatif: Landasan teologis untuk etika pendidikan Kristiani Daniel Sudibyo Tjandra
KURIOS Vol. 12 No. 1: April 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v12i1.1072

Abstract

Contemporary Christian education faces a fundamental challenge in grounding its ethical dimension within a coherent theological framework. This article argues that the church as a formative community provides the essential theological foundation for ethics in Christian education. Through library research with conceptual analysis, this study demonstrates that moral formation cannot be reduced to individual cognitive processes but requires embedding within ecclesial practices and communal narratives. The framework integrates four dimensions: ecclesiological identity, communal moral formation, the dialectic between personal piety and social responsibility, and pedagogical implications. This reconceptualization shifts Christian education from mere knowledge transmission toward transformative character formation within the believing community. The article concludes that effective ethical education requires pedagogical designs rooted in the church's formative practices and narrative identity.   Abstrak Pendidikan Kristiani kontemporer menghadapi tantangan mendasar dalam melandasi dimensi etisnya pada kerangka teologis yang koheren. Artikel ini berargumen bahwa gereja sebagai komunitas formatif menyediakan fondasi teologis yang esensial bagi etika dalam pendidikan Kristiani. Melalui penelitian kepustakaan dengan analisis konseptual, studi ini menunjukkan bahwa formasi moral tidak dapat direduksi menjadi proses kognitif individual, melainkan memerlukan penanaman dalam praktik-praktik gerejawi dan narasi komunal. Kerangka ini mengintegrasikan empat dimensi: identitas eklesiologis, formasi moral komunal, dialektika kesalehan pribadi dan tanggung jawab sosial, serta implikasi pedagogis. Rekonseptualisasi ini menggeser pendidikan Kristiani dari sekadar transmisi pengetahuan menuju formasi karakter transformatif dalam komunitas beriman. Artikel menyimpulkan bahwa pendidikan etis yang efektif memerlukan desain pedagogis yang berakar pada praktik-praktik formatif dan identitas naratif gereja.
Dari aretē ke agapē: Rekonstruksi etika kebajikan Kristiani sebagai basis pendidikan karakter Jonathan Leobisa
KURIOS Vol. 12 No. 1: April 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v12i1.1182

Abstract

The crisis of character in contemporary society demands a response that transcends merely technical pedagogical intervention. This article argues that a reconstruction of Christian virtue ethics, moving from the philosophical roots of Aristotelian aretē to the theological apex of agapē, provides a robust and integral foundation for character education in Christian religious education. Through an analytical-synthetic approach that brings classical moral philosophy into dialogue with systematic moral theology, this article traces the transformation of the concept of virtue from Aristotelian eudaimonism to Thomistic synthesis and, ultimately, to christological love ethics. Integrating MacIntyre's narrative virtue, Aquinas's doctrine of caritas as forma virtutum, and the pedagogical implications of Smith, Hauerwas, Dykstra, and Groome, this article offers a character education framework grounded in participation in divine love and actualized through community, formative practices, and faith narrative. The contribution lies in offering an integrative paradigm that bridges the philosophical and theological heritages to support the praxis of contextual Christian religious education in Indonesia.   Abstrak Krisis karakter yang melanda masyarakat kontemporer menuntut respons yang melampaui sekadar intervensi pedagogis teknis. Artikel ini mengajukan argumentasi bahwa rekonstruksi etika kebajikan Kristiani, yang bergerak dari akar filosofis aretē Aristotelian menuju puncak teologis agapē, menyediakan fondasi yang kokoh dan integral bagi pendidikan karakter dalam Pendidikan Agama Kristen. Melalui pendekatan analitis-sin-tetis yang mempertemukan tradisi filsafat moral klasik dengan teologi moral sistematika, artikel ini menelusuri transformasi konsep kebajikan dari eudaimonisme Aristotelian melalui sintesis Thomistik menuju etika kasih kristologis. Dengan mengintegrasikan perspektif MacIntyre tentang kebaikan naratif, doktrin Aquinas tentang caritas sebagai forma virtutum, serta implikasi pedagogis Smith, Hauerwas, Dykstra, dan Groome, artikel ini menawarkan kerangka pendidikan karakter yang bersumber pada partisipasi dalam kasih ilahi dan diaktualisasikan melalui komunitas, praktik-praktik formatif, dan narasi iman. Kontribusi artikel ini terletak pada penawaran paradigma integratif yang menjembatani warisan filosofis dan teologis bagi praksis PAK kontekstual di Indonesia.
Imago Dei yang lelah: Teologi pastoral holistik–feminis kontekstual atas kesehatan mental ibu rumah tangga di Jemaat GBKP Tanjung Morawa Kiri Linda Arih Ersada; Hendrawan Sudarpo
KURIOS Vol. 11 No. 1: April 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v11i1.1295

Abstract

This research constructs a novel theological framework, the Weary Imago Dei, as a holistic–feminist–contextual pastoral lens responding to the multidimensional fatigue experienced by housewives in the GBKP (Karo Batak Protestant Church) congregation of Tanjung Morawa Kiri. Prior studies, dominated by biological-psychological approaches, tend to render the theological dimension decorative ornamentation, silence women's lived experience, and neglect the cosmological worldview of the Karo customary tradition. Employing Richard Osmer's four-task qualitative-theological method (descriptive-empirical, interpretive, normative, and pragmatic) in dialogue with critical literature study and narrative exegesis of Hannah (1 Samuel 1) and Matthew 11:28-30, this research argues that maternal fatigue is neither a moral defect nor a deficiency of faith, but rather a structural condition of image-bearing exposed to patriarchal burden and the disruption of the daliken si telu social-cultural structure. The principal contribution is a novel theological framework integrating creaturely-vulnerability anthropology, the tripartite anthropology of 1 Thessalonians 5:23, feminist critique of idealized maternal roles, and Karo indigenous wisdom, alongside seven concrete pastoral-administrative implications for the GBKP Moderamen.   Abstrak Penelitian ini membangun konstruksi teologis baru bertajuk imago Dei yang lelah sebagai kerangka pastoral holistik-feminis kontekstual untuk merespons fenomena keletihan multidimensi yang dialami ibu rumah tangga di Jemaat Gereja Batak Karo Protestan (GBKP) Tanjung Morawa Kiri. Riset-riset terdahulu yang berfokus pada pendekatan biologis-psikologis cenderung menjadikan dimensi teologis sebagai aksesori dekoratif, mengabaikan suara pengalaman perempuan, dan tidak menggumuli konteks kosmologi adat Karo secara serius. Dengan menggunakan metodologi kualitatif-teologis empat tugas Richard Osmer (deskriptif-empiris, interpretatif, normatif, dan pragmatis) yang didialogkan dengan studi pustaka kritis dan eksegesis naratif Hana (1 Samuel 1) serta Matius 11:28-30, penelitian ini berargumentasi bahwa kelelahan ibu rumah tangga bukanlah cacat moral atau kelemahan iman, melainkan kondisi struktural pengembangan citra Allah yang terpapar beban patriarkal serta disrupsi struktur sosial-kultural "daliken si telu." Sumbangan utama riset adalah kerangka teologis novel yang mengintegrasikan antropologi kerentanan, antropologi tripartit 1 Tesalonika 5:23, kritik feminis terhadap konstruksi peran ideal, dan kearifan lokal Karo, beserta tujuh implikasi praksis-administratif konkret bagi Moderamen GBKP dalam pengembangan kebijakan pastoral kontekstual yang lebih bertanggung jawab terhadap pengalaman perempuan.
Diam sebagai intervensi pastoral: Kerangka konseling berbasis teologi kontemplatif bagi pendampingan desolasi spiritual Stefanus Stefanus; Nicolien Meggy Sumakul
KURIOS Vol. 11 No. 2: Agustus 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v11i2.1302

Abstract

The tradition of contemplative theology holds rich pastoral re-sources that have been almost entirely neglected in contemporary pastoral counseling practice, particularly in Pentecostal-Charismatic churches in Indonesia that tend to emphasize emotional expression and explosive spi-ritual performance. This article argues that silence is not a pastoral absence signaling a counselor's ignorance or helplessness but rather a structured, theological, and effective pastoral intervention for accompanying indivi-duals experiencing spiritual desolation. Through a systematic theological literature review of the apophatic theology tradition, Ignatian spirituality, Eastern hesychasm, and modern contemplative theology, this article identifies the anatomy of spiritual desolation, excavates theological resources from traditions of silence, and constructs a three-stage methodology con-sisting of contemplative orientation, shared silence, and post-silence integration. The central argument is that pastoral silence, when consciously and structurally practiced in the light of contemplative theology, creates an encounter space that no pastoral word, however sophisticated, can generate, because silence affirms that God's presence is most powerfully manifest precisely within the deepest silence.   Abstrak Tradisi teologi kontemplatif menyimpan sumber daya pastoral yang kaya, namun hampir seluruhnya terabaikan dalam praktik konseling pastoral kontemporer, khususnya di Gereja-gereja Pentekostal-Karismatik Indonesia yang cenderung menekankan ekspresi emosional dan performa rohani yang eksplosif. Artikel ini berargumen bahwa diam (silence) bukan-lah absensi pastoral yang menandakan ketidaktahuan atau ketidakberdayaan konselor, melainkan sebuah intervensi pastoral yang terstruktur, teologis, dan efektif dalam mendampingi individu yang mengalami desolasi spiritual. Melalui kajian pustaka teologis sistematis terhadap tradisi teologi apofatik, spiritualitas Ignatian, hesikasme Timur, dan teologi kontemplatif modern, artikel ini mengidentifikasi anatomi desolasi spiritual, menggali sumber daya teologis dari tradisi keheningan, serta membangun metodologi tiga tahap, yaitu orientasi kontemplatif, diam bersama, dan pengolahan pascadiam. Argumen sentralnya adalah diam pastoral yang dipraktikkan secara sadar dan terstruktur dalam terang teologi kontemplatif menciptakan ruang perjumpaan yang tidak dapat dihadirkan oleh kata-kata pastoral secanggih apa pun, sebab keheningan mengafirmasi bahwa kehadiran Allah justru paling kuat hadir di balik keheningan yang paling dalam.