cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota ternate,
Maluku utara
INDONESIA
Prosiding Seminar Nasional Kemaritiman dan Sumber Daya Pulau-Pulau Kecil
Published by Universitas Khairun
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 18 Documents
Search results for , issue "Vol 1, No 1 (2016)" : 18 Documents clear
ANALISIS KESESUAIAN EKOWISATA HUTAN MANGROVE DI KAWASAN TELUK JAILOLO KABUPATEN HALMAHERA BARAT Irmalita Tahir; Rustam Effendi; Nebuchadnezzar Akbar
Prosiding Seminar Nasional Kemaritiman dan Sumber Daya Pulau-Pulau Kecil Vol 1, No 1 (2016)
Publisher : Prosiding Seminar Nasional Kemaritiman dan Sumber Daya Pulau-Pulau Kecil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (905.661 KB)

Abstract

Ekosistem mangrove merupakan salah satu ekosistem utama di wilayah pesisir yang sangat produktif namun sangat rentan terhadap perubahan lingkungan. Pengelolaan hutan mengrove harus memperhatikan keterpaduan secara ekologis, ekonomis dan sosial-budaya masyarakat agar pengelolaan secara optimal dan lestari tercapai.  Potensi sumber daya ekosistem mangrove di Kawasan Teluk Jailolo cukup besar tetapi kondisi hutan mangrove belum terdata optimal. Tujuan dari penelitian ini menganalisis kesesuaian lahan dan potensi hutan mangrove bagi peruntukan kegiatan konservasi dan ekowisata mangrove dengan harapan agar pemanfaatan potensi hutan mangrove dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat.  Metode  yang  digunakan  dalam  penelitian  ini dilakukan  dengan pendekatan teknologi penginderaan jauh dalam memperoleh data dan informasi spasial luas mangrove dan pengukuran langsung (survey lapangan) untuk memperoleh data dan kondisi fisik hutan mangrove di kawasan pesisir Teluk  Jailolo,  analisis  area  kesesuaian  lahan  diketahui  berdasarkan  analisis spasial dengan pemanfaatan Sistem Informasi Geografis (SIG). Hasil analisis data Citra Alos Avnir-2 bahwa luas mangrove yang terdapat di Teluk Jailolo adalah 393.77 ha, sebagian besar menyebar disekitar garis pantai bagian Timur Teluk Jailolo. Sedangkan berdasarkan hasil analisis SIG diketahui bahwa luas kesesuaian mangrove untuk ekowisata dikatahui bahwa kategori sesuai 123. 79 ha, kategori cukup sesuai 157.83 ha, dan kategori kurang sesuai 112.15 ha.  Kata Kunci : Teluk Jailolo, hutan mangrove, analisis kesesuaian lahan, ekowisata
KESESUAIAN LAHAN BUDIDAYA IKAN KERAPU (Ephinephelus ssp) BERDASARKAN PARAMETER FISIK,KIMIA DAN BIOLOGI DI PERAIRAN LANGGE KABUPATEN GORONTALO UTARA Citra Panigoro
Prosiding Seminar Nasional Kemaritiman dan Sumber Daya Pulau-Pulau Kecil Vol 1, No 1 (2016)
Publisher : Prosiding Seminar Nasional Kemaritiman dan Sumber Daya Pulau-Pulau Kecil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (263.442 KB)

Abstract

Ikan Kerapu (Ephinephelus sp)  merupakan  komoditas perikanan yang memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi, sehingga sangat sesuai untuk dikembangkan sebagai salah satu komoditas perikanan budidaya di Kabupaten Gorontalo Utara. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kesesuaian lahan untuk pengembangan budidaya ikan kerapu (Ephinephelus spp) berdasarkan parameter fisika, kimia dan biologi perairan. Pengambilan data dilakukan secara langsung pada tiga stasiun penelitian yang telah ditentukan. Data penelitian difokuskan pada 12 parameter perairan yang terdiri dari kedalaman, kecerahan perairan, kecepatan arus, suhu perairan, substrat dasar, pH, oksigen terlarut, salinitas, phospat, nitrat dan kepadatan phytoplankton. Data dianalisa dengan menggunakan indeks kesesuaian berdasarkan skoring dan  matriks kesesuaian budidaya ikan kerapu dan dilanjutkan dengan menggunakan SIG untuk membuat peta kesesuaian. Kesesuaian lahan dikategorikan kedalam tiga kelas yaitu sangat sesuai (S1), sesua (S2) dan tidak sesuai (S3). Hasil penelitian menunjukkan bahwa tiga stasiun penelitian yang terdapat di perairan Langge termasuk dalam kategori sangat sesuai (S1) untuk dijadikan lokasi pengembangan budidaya laut dengan total nilai indeks kesesuaian antara 86 – 94 berdasarkan skor pada matriks kesesuaian budidaya ikan Kerapu.  Kata Kunci : Ephinephelus sp, Kesesuaian Lahan, Parameter Fisik, Kimia dan biologi Perairan,
Intensitas Ektoparasit Monogenea (Cichlidogyrus sp) pada Benih Ikan Nila (Oreochromis niloticus) Melalui Pemberian Larutan Daun Sirih (Piper Betle Linn) Yang Ramah Lingkungan Juliana Juliana
Prosiding Seminar Nasional Kemaritiman dan Sumber Daya Pulau-Pulau Kecil Vol 1, No 1 (2016)
Publisher : Prosiding Seminar Nasional Kemaritiman dan Sumber Daya Pulau-Pulau Kecil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (178.037 KB)

Abstract

Penyakit yang disebabkan oleh ektoparasit merupakan salah satu masalah yang dihadapi oleh pembudidaya ikan khususnya spesies ikan air tawar termasuk ikan Nila.  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui intensitas serangan ektoparasit monogenea (Cichlidogyrus sp) pada ikan Nila (Oreochromis niloticus) melalui pemberian larutan daun sirih (Piper Betle Linn). Metode penelitian adalah metode eksperimen yaitu melakukan secara langsung melali percobaan berdasarkan perlakuan yang telah ditetapkan. Hewan uji pada penelitian adalah benih ikan nila yang telah terinfeksi ektoparasit monogenea (Cichlidogyrus sp). Perlakuan pada penelitian terdiri dari empat perlakuan yaitu perlakuan A (Kontrol) yaitu tanpa pemberian larutan daun sirih, perlakuan B (2,5 gr/100 ml), perlakuan C (5 gr/100 ml), dan perlakuan D (7,5 gr/100 ml). Hewan uji kemudian diendam dalam larutan daun sirih selama 30 menit, kemudian dipelihara selama enam hari dan selama pemeliharaan dilakukan pengamatan terhadap kondisi fisiologi hewan uji. Intensitas ektoparasit menogenea dianalisis dengan cara melakukan identifikasi dan perhitungan biomassa pada laboratorium. Data di analisis dengan menggunakan metode deskripsi dan analisis regresi untuk mengetahui hubungan pemberian larutan daun sirih terhadap intensitas ektoparasit monogenea (Cichlidogyrus sp). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan D merupakan perlakuan terbaik dengan intesitas bakteri yang rendah. Hasil analisis  regresi untuk mengetahui hubungan antara setiap perlakuan dan nilai intensitas ektoparasit monogenea (Cichlidogyrus sp)  pada ikan Nila (Oreochromis niloticus) pada perlakuan D menghasilkan hubungan positif dengan persamaan y = -0,4x + 2,977 dan hubungan korelasi (R) yaitu 0,83, artinya pengurangan intensitas ektoparasit monogenea (Cichlidogyrus sp) sebesar 83%.Kata Kunci : Cichlidogyrus sp, Daun Sirih, Ektoparasit Monogenea, Ikan Nila
PENENTUAN KARAKTER PASANG SURUT DENGAN METODE MANZILAH UNTUK MENDUKUNG UPAYA PERENCANAAN, PEMANFAATAN DAN PENGELOLAAN WILAYAH PESISIR Salnuddin Salnuddin
Prosiding Seminar Nasional Kemaritiman dan Sumber Daya Pulau-Pulau Kecil Vol 1, No 1 (2016)
Publisher : Prosiding Seminar Nasional Kemaritiman dan Sumber Daya Pulau-Pulau Kecil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1652.133 KB)

Abstract

Aktifitas masyarakat pesisir sangat ditentukan dengan dinamika perairan, salah satu adalah pasang surut. Pengetahuan tentang variasi tinggi air sangat membantu dalam perencanaan aktifitas diwilayah pesisir. Metode dalam menetukan variasi tinggi air masih belum effektif dalam mengaplikasikannya dan berbeda dengan Metode Manzilla (MM) yang merupakan suatu pendektan ethnoastronomy terhadap ethnooceanographyn dari “suku pelaut”. MM adalah metode penentuan karakter tinggi air pasang surut berdasarkan penanggalan Hijriah dengan merujuk posisi bulan terhadap Rasi Bintang 7 (RB7). Hasil analisis diperoleh hasil bahwa terdapat karakter pergerakan pasang surut dalam siklus bulanan pergerakan pasang surut di setiap fase bulan Hijriah, Metode Manzillah effektif dalam mengidentifikasi waktu dalam penanggalan Hijriah (bulan dan tahun Hijriah); makin jauh bulan dari ekuator langit (RB 7) dengan Deklinasi negatif maka peak I < peak II pada siklus harian pergerakan pasang surut dan sebaliknya jika berdeklinasi positif maka peak I > peak II, posisi bulan berada di sekitar ekuator langit maka peak I  peak II, variasi peak pergerakan pasang surut menjadi informasi penting dalam upaya perencanaan, pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya pesisir.Kata kunci : Wilayah pesisir, Metode Manzillah, Rasi Bintang 7, ethnoastronomy, ethnooceanography, peak
STATUS TERKINI KONDISI KOMUNITAS MANGROVE DI TAMAN WISATA PERAIRAN GILI MATRA, LOMBOK UTARA, NTB I Wayan Eka Dharmawan; Nebuchadnezzar Akbar
Prosiding Seminar Nasional Kemaritiman dan Sumber Daya Pulau-Pulau Kecil Vol 1, No 1 (2016)
Publisher : Prosiding Seminar Nasional Kemaritiman dan Sumber Daya Pulau-Pulau Kecil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (360.329 KB)

Abstract

Ekosistem mangrove memiliki peranan yang sangat penting bagi keseimbangan ekosistem pesisir di pulau-pulau kecil. Taman Wisata Perairan (TWP) Gili Matra memiliki ekosistem mangrove yang kurang diperhatikan baik dalam penelitian atau pengelolaan kawasan. Pengelolaan kawasan difokuskan untuk pengembangan industri pariwisata. Tekanan yang meningkat pada komunitas mangrove di TWP Gili Matra menjadi pemicu penelitian ini dilakukan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis kondisi terkini komunitas mangrove di Pulau Gili Trawangan dan Pulau Gili Meno berdasarkan nilai persentase tutupan kanopi dan kondisi vegetasinya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi komunitas mangrove di dalam kawasan tergolong baik. Namun, simpangan data yang cukup lebar merepresentasikan mangrove di Pulau Gili Trawangan memiliki potensi penurunan kondisi di masa mendatang jika tidak dikelola lebih baik. Pengelolaan kawasan mangrove berbasis ekoturisme dan wisata edukasi layak dikembangkan dan diharapkan dapat mendukung pelestarian mangrove dalam kawasan. Kata Kunci: mangrove, pengelolaan, persentase tutupan kanopi, ekoturisme, wisata edukasi
KAPASITAS ADAPTIF EKOSISTEM MANGROVE DI PULAU-PULAU KECIL (STUDI DI GUGUS PULAU GURAICI) KABUPATEN HALMAHERA SELATAN PROVINSI MALUKU UTARA Riyadi Subur
Prosiding Seminar Nasional Kemaritiman dan Sumber Daya Pulau-Pulau Kecil Vol 1, No 1 (2016)
Publisher : Prosiding Seminar Nasional Kemaritiman dan Sumber Daya Pulau-Pulau Kecil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (393.809 KB)

Abstract

Hutan mangrove merupakan komunitas vegetasi pantai tropis yang didominasi oleh beberapa spesies pohon mangrove yang  mampu tumbuh dan berkembang pada daerah pasang surut pantai berlumpur. Komunitas vegetasi ini umumnya tumbuh pada daerah intertidal  dan supratidal yang cukup mendapat aliran air, dan terlindung dari gelombang besar serta arus pasang surut yang kencang. Sebagai salah satu ekosistem khas diwilayah pesisir dan pulaupulau kecil, mengrove memiliki berbagai fungsi diantaranya sebagai pelindung garis pantai dengan mereduksi kecepatan gelombang dan badai, pelindung pantai dari aberasi, pencegah intrusi air laut, penahan lumpur dan perangkap sedimen yang diangkut oleh aliran air permukaan.  Keberadaan ekosistem tersebut pada suatu suatu wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil berperan penting dalam meningkatkan kapasitas adaptif suatu pulau terhadap bencana alam karena berperan sebagai pelindung alami. Tujuan penelitian adalah menghitung dan menilai kapasitas adaptif ekosistem mangrove yang ditemukan tumbuh pada perairan sekitar pulau-pulau kecil dalam gugus Guraici. Penelitian ini dilakukan pada 17 pulau yang terdapat dalam gugus pulau Guraici. Pengukuran kapasitas adaptif ekosistem mangrove dilakukan dengan menganalisis enam parameter yaitu Indeks Dimensi mangrove (IDMg), Spesies Mangrove Dominan, Kerapatan pohon per hektar (pohon/ha), Jumlah Genera, Tipe Substrat, Jarak Ekosistem Mangrove dari Pemukiman. Nilai kapasitas adaptif ekosistem mangrove berada pada kisaran antara 0.0-1.0, dengan lima kategori kapasitas yaitu “sangat rendah, rendah, sedang, tinggi dan sangat tinggi”. hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ekosistem mangrove yang ditemukan pada tumbuh pada pulau-pulau kecil dalam gugus pulau Guraici tergolong kedalam tiga kategori kapasitas adaptif yaitu “sedang”, “rendah” dan “sangat rendah”, dengan nilai kapasitas adaptif yang terdistribusi antara 0.0-0.51. Sebanyak tiga belas pulau, memiliki ekosistem mangrove dengan kapasitas adaptif  berkategori “sedang”, dua pulau berkategori “rendah” dan dua pulau berkategori “sangat rendah”.Kata Kunci: Kapasitas Adaptif, Ekosistem Mangrove
IMPLEMENTASI PERMEN KP NOMOR 1 TAHUN 2015 TERHADAP PENGELOLAAN PERIKANAN KEPITING BAKAU BERBASIS PESISIR DAN PULAU-PULAU KECIL DI TELUK TOMINI Mohammad Zamrud; Aras Syazili
Prosiding Seminar Nasional Kemaritiman dan Sumber Daya Pulau-Pulau Kecil Vol 1, No 1 (2016)
Publisher : Prosiding Seminar Nasional Kemaritiman dan Sumber Daya Pulau-Pulau Kecil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (543.287 KB)

Abstract

Kepiting bakau merupakan salah satu komoditas perikanan yang memperkuat ketahanan pangan berbasis ikan yang sekarang terancam krisis perikanan global. Hal ini dicerminkan dengan terjadinya penurunan produksi tangkapan perikanan  dunia. Salah satu penyebab ancaman krisis perikanan dunia tersebut adalah Illegal, Unreported and Unregulated Fishing (IUU Fishing) dan penangkapan yang tidak ramah lingkungan. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis kebijakan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 1 tahun 2015 dan implementasinya serta menyusun strategi dalam pengelolaan perikanan kepiting bakau yang berkelanjutan. Penelitian dilaksanakan di kota Palu dan teluk Tomini pada Bulan Juli – Desember 2015. Metode penelitian yang digunakan adalah observasi, wawancara dan pengambilan data primer secara time series yaitu data lalu lintas perdagangan selama Januari sampai dengan Desember 2015 yang telah divalidasi. Data primer diambil dari aplikasi Sister Karoline (Sistem Komputerisasi Karantine Ikan Online) yang dijalankan secara real time. Observasi dan wawancara dilakukan dengan responden yang melakukan usaha perikanan kepiting bakau di pesisir teluk Tomini kemudian dianalisa dengan melihat status perlindungannya. Analisa data dilakukan secara deskriptif dalam bentuk gambar, tabel dan grafik. Analisa pembanding yang dilakukan adalah analisa kebijakan menggunakan AWOT yang merupakan analisa gabungan antara Analytical Hierarchy Process dan SWOT Analysis. Analisa AWOT menghasilkan strategi, yaitu: perlunya pembenahan pendataan perikanan kepiting bakau, peningkatan pengawasan dan penegakan hukum, penguatan peran karantina ikan serta kampanye penyadaran stakeholder.  Kata kunci: Kepiting bakau, Permen KP Nomor 1 tahun 2015, AWOT, stakeholder
PENAMBAHAN EKSTRAK KUNYIT ( Curcuma domestica) TERHADAP PERTUMBUHAN BENIH IKAN NILA (Oreochromis niloticus) Fatma Muchdar; Juharni Juharni
Prosiding Seminar Nasional Kemaritiman dan Sumber Daya Pulau-Pulau Kecil Vol 1, No 1 (2016)
Publisher : Prosiding Seminar Nasional Kemaritiman dan Sumber Daya Pulau-Pulau Kecil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (507.34 KB)

Abstract

Ikan merupakan sumber protein hewani untuk memenuhi kebutuhan gizi masyarakat.Salah satunya adalah  ikan nila (Oreochromis niloticus). Produksi budidaya dapat ditingkatkan dengan penyediaan  bahan pakan yang berkualitas. Maka perlu ada upaya untuk membuat pakan dengan memanfaatkan bahan alamiagar menjadi murah dan biaya produksi menurun. Pakan yang dibuat dengan komposisi nutrisi sesuai dengan kebutuhan ikan. Bahan baku seperti kunyit yang  memiliki zat-zat minyak,kurkuminoid, protein, fosfor, kalium, besi dan vitamin C dan antibiotik.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dari perbandingan dosis yang berbeda terhadap nafsu makan dan pertumbuhan ikan nila.Bahan yang digunakan ikan rucah, tulang ikan, dedak, jagung dan kunyit diproses sehingga menjadi tepung.Hewan uji yang digunakan benih ikan nila ukuran 12 cm, dengan jumlah 72 ekor yang dipelihara dalam akuariummasing masing diisi 6 ekor. Kunyit dicampur dalam pakan akan menghasilkan  aroma anyir yang kurang sebagaimana C (1,5 gr kunyit dalam pellet)  memiliki bau yang kurang dibandingkan dengan perlakuanyang lain. Kunyit memberikan efek antimikroba sehingga dapat di manfaatkan sebagai pengawet makanan yang mampu menghambat (bakterisidal) terhadap bakteri golongan Bacillus caerus, Bacillus subtilis, dan Bacillus megetenium dan respon yang berbeda-beda. Laju pertumbuhan bobot harianterbesar (100%). Kualitas air berada pada kisaran layak untuk budidaya. Kata Kunci :Pakan buatan, Ekstrak kunyit,Benih ikan nila,Curkumin
KAJIAN GENETIKA KETAM KENARI (Birgus latro) DI KABUPATEN HALMAHERA BARAT DAN PULAU TERNATE, PROVINSI MALUKU UTARA Rugaya H Serosero; Suryani Suryani; Rina Rina
Prosiding Seminar Nasional Kemaritiman dan Sumber Daya Pulau-Pulau Kecil Vol 1, No 1 (2016)
Publisher : Prosiding Seminar Nasional Kemaritiman dan Sumber Daya Pulau-Pulau Kecil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (300.997 KB)

Abstract

Maluku Utara merupakan salah satu wilayah distribusi ketam kenari (Birgus latri) di Indonesia. Keberadaanya tidak pada semua daerah di Maluku Utara namun hanya pada beberapa daerah tertentu. Penelitian tentang ketam kenari di Maluku Utara masih jarang dilakukan. Beberapa tahun terakhir ini baru dilakukan penelitian di Kabupaten Halmahera Tengah khususnya di Pulau-Pulau Patani, Yoi, oleh beberapa peneliti namun keberadaan ketam kenari di daerah lainnya di Maluku Utara belum diteliti dan dikaji secara detil. Ketam kenari merupakan salah satu sumberdaya perikanan yang tergolong langka dan dilindungi serta tergolong sebagai sumberdaya yang kekurangan data. Oleh karena itu penelitian ini dilakukan untuk mengungkapkan informasi tentang ketam kenari di Maluku Utara khususnya di Kabupaten Halmahera Barat dan Pulau Ternate yang meliputi kajian ekologi dan biologi serta ganetikanya sehingga dapat dijadikan sebagai informasi dalam kegiatan domestikasinya. Hasil kajian di lokasi studi terlihat bahwa ketam kenari sebagai salah satu sumberdaya yang dilindungi memiliki potensi yang cukup besar di Desa Idamdehe Kabupaten Halmahera Barat dan Kelurahan Takome Pulau Ternate Provinsi Maluku Utara. Secara ekologi, karakteristik habitat di kedua lokasi berbeda tetapi memiliki vegetasi yang sama. Pengamatan parameter biologi yaitu tingkah laku makan dengan kamera CCTV menunjukkan bahwa ketam kenari lebih menyukai kelapa disbanding makanan lainnya namun makanan yang lain tetap dimakan meskipun jumlahnya tidak banyak. Hasil pengamatan juga terlihat bahwa aktivitas ketam kenari aktif di atas jam 18.00 sedangkan di siang hari ketam terlihat beristirahat. Berdasarkan pengamatan isi lambung terlihat bahwa kelapa memiliki frekuensi kejadian 100%. Kelangsungan hidup ketam kenari selama pengamatan adalah 100%. Berdasarkan hasil analisis matriks jarak dan konstruksi pohon filogenetik terlihat bahwa kepiting kelapa antara Desa Idamdehe Kecamatan Jailolo Kabupaten Halmahera Barat dan Desa Takome Pulau Ternate memiliki hubungan kekerabatan yang erat di dalam spesies yang sama.Kata kunci: Ketam kenari, ekologi, biologi, genetika, Idamdehe, Takome
STRATEGI PENGELOLAAN SUMBERDAYA KEPITING KELAPA (Birgus latro) DI PULAU LAIGOMA KABUPATEN HALMAHERA SELATAN Supyan Supyan; Suryani Suryani
Prosiding Seminar Nasional Kemaritiman dan Sumber Daya Pulau-Pulau Kecil Vol 1, No 1 (2016)
Publisher : Prosiding Seminar Nasional Kemaritiman dan Sumber Daya Pulau-Pulau Kecil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (884.545 KB)

Abstract

Kepiting kelapatermasuk salah satu biota penyusun ekosistem pantai yang saat ini mengalami ancaman penurunan populasi.  Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor di antaranya adalah tingkat eksploitasi yang tinggi, rusaknya habitat alaminya, pembukaan lahan pemukiman, dan pekebunan.  Kepiting kelapaini dilindungi melalui Surat keputusan Menteri Kehutanan No.12/KPTS-II/Um/1987, dan menurut International Union for Conservation of the Nature (IUCN), kepiting kelapasudah dikatagorikan sebagai spesies yang jarang dan terancam punah  ‘’endengared spesies’’ atau tercatat dalam Red Data Book.  Di Indonesia Kepiting kelapa atau kepiting kelapatersebar di bagian timur yakni di pulau-pulau Sulawesi Utara, Kepulauan Togian sampai Kepulauan Talaud, Maluku, Maluku Utara, Irian Jaya dan di bagian timur Nusa tenggara Timur, dan sebagian wilayah Indonesia bagian Utara, dan Timur.  Walaupun hewan ini sudah terancam punah, namun hingga saat ini upaya perlindungan terhadap hewan ini  hanya sebatas penetapan hewan ini sebagai hewan yang dilindungi. Belum ada upaya penetapan suatu daerah atau kawasan konservasi bagi keberlangsungan hidup Kepiting yang jarang ini. Konflik antara kepentingan pelestariaan Kepiting kelapa pada alam asli dan desakan permintaan konsumen menyebabkan populasi kepiting kelapasemakin berkurang. Dengan berbagai kepentingan diatas, maka perlu dilakukan suatu penelitian mengenai perspektif masyarakat dalam pengelolaan dan upaya konservasi kepiting kelapa(Birgus latro).  Penelitian ini dilakukan dari bulan April sampai bulan Oktober 2016 di Pulau Laigoma Kabupaten Halmahera Selatan Propinsi Maluku Utara. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode pastipasipasi langsung dilapangan dengan fokus kajian karakteristik populasi kepiting kelapadan perspektif masyarakat terhadap pengelolaan kepiting kenari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa saat ini kepadatan populasi kepiting kelapa di Pulau Laigoma masih tinggi dengan nilai kepadatan 0.018 m2  atau dapat dikatakan bahwa dalam 57 m2 terdapat 1 ekor individu. Di lokasi penelitian, sebagian besar telah memahami dan menerima bahwa populasi kepiting kelapadi wilayah mereka telah terjadi penurunan. Rendahnya pengatahuan mereka tentang pentingnya mengatur waktu tangkap dan ukuran tangkap terhadap sumberdaya alam ini menjadi penyebab terjadinya over eksploitasi terhadap hewan ini.  Hasil analisis SWOT menunjukkan bahwa pengembangan dan pengelolaan Kepitng kelapa harus diprioritaskan pada peningkatan pemahaman masyarakat mengenai status hukum Kepiting kelapa, melakukan kajian yang komprehensip terhadap aspek bioekologi Kepiting kelapa, proteksi area pemijahan dan pembesaran dengan metode penangkaran untuk menyediakan stok F2, pemantauan secara sistematis terhadap populasi kepiting kelapa yang ada di Pulau Laigoma oleh instansi yang berwenang di bidang lingkungan atau masyarakat sekitar pulau yang peduli dengan kepiting ini.   Kata kunci : Birgus latro, populasi, pengelolaan, persepsi masyarakat, Laigoma

Page 1 of 2 | Total Record : 18


Filter by Year

2016 2016