cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Ilmu Lingkungan
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : 18298907     DOI : -
Core Subject : Social,
Arjuna Subject : -
Articles 12 Documents
Search results for , issue "Vol 16, No 1 (2018): April 2018" : 12 Documents clear
Zonasi, Keanekaragaman, dan Pola Migrasi Ikan di Sungai Keyang, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur Vivin Alfyana Yulia Pratami; Prabang Setyono; Sunarto Sunarto
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 16, No 1 (2018): April 2018
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4166.941 KB) | DOI: 10.14710/jil.16.1.78-85

Abstract

Zonasi, Keanekaragaman dan Pola Migrasi Ikan di Sungai Keyang, Kabupaten Ponorogo, Jawa TimurVivin Alfyana Yulia Pratami1, Prabang Setyono2, Sunarto31Program Studi Biosain, Fakultas Pascasarjana, Universitas Sebelas Maret Surakarta, email: vivin.alfyana19@gmail.com2Pascasarjana Universitas Sebelas Maret Surakarta (email: prabangsetyono@gmail.com)3Pascasarjana Universitas Sebelas Maret Surakarta (email: rm.sunarto@yahoo.co.id)  ABSTRAKIkan adalah salah satu biota air yang rentan terhadap perubahan kondisi lingkungan, sehingga dapat digunakan sebagai indikator lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui zonasi, keanekaragaman, serta pola migrasi ikan di Sungai Keyang, Kabupaten Ponorogo. Penelitian dilakukan pada bulan Oktober-November 2017 dengan metode purposive sampling pada 3 stasiun pengamatan. Pengukuran faktor fisika kimia air meliputi suhu, pH, DO, BOD, CO2, kekeruhan, kecerahan, serta padatan terlarut (TDS). Hasil penelitian yang diperoleh yaitu di Sungai Keyang terdapat 6 famili dan 11 spesies ikan. Famili tersebut adalah Poecilidae, Cyprinidae, Balitoridae, Sisoridae, Anantidae, serta Channidae. Spesies yang ditemukan yaitu Poecilia reticulata, Rasbora argyrotaenia, Rasbora dusonensis, Rasbora paviana, Rasbora tornieri, Puntius amphibious, Poropontius tawarensis, Nemacheilus fasciatus, Glyptothorax platypogon, Anabas testudineus, dan Channa striata. Spesies yang memiliki nilai kepadatan tertinggi yaitu P. reticulata sebanyak 39 individu dan R. dusonensis sebanyak 27 individu pada stasiun 2 dan 17 individu pada stasiun 3. Indeks keanekaragaman ikan pada semua stasiun termasuk dalam kategori sedang yaitu secara berturut-turut 1,57; 1,80; dan 1,45. Indeks kemerataan ikan di semua stasiun termasuk dalam kategori tinggi yaitu 1,64; 1,73; dan 1,87, sedangkan indeks dominansi ikan termasuk dalam kategori rendah yaitu secara bertutut-turut 0,28; 0,23; dan 0,28. Simpulan dari penelitian ini adalah zonasi persebaran ikan di Sungai Keyang didominasi oleh genus Poecillia dan Rasbora, keanekaragaman ikan termasuk dalam kategori sedang, serta pola migrasi masing-masing spesies ikan berbeda yaitu ada yang selalu di tepi dan ada yang menyebar baik untuk tujuan reproduksi atau mencari makan.Kata kunci: keanekaragaman ikan, pola migrasi ikan, Sungai Keyang, zonasiABSTRACTFish is one of the water organism that susceptible to change of environmental condition, so it is can be used as bioindicator of environmental pollution. This research is purposed to determine the spread zonation, diversity, and migration structure of fish in Keyang River, Ponorogo Regency. Sample was conducted in October-November 2017with purposive sampling method in 3 observation stations. The results of this research were 6 families and 11 species. The families are Poecilidae, Cyprinidae, Balitoridae, Sisoridae, Anantidae, and Channidae. The species were found Poecilia reticulata, Rasbora argyrotaenia, Rasbora dusonensis, Rasbora paviana, Rasbora tornieri, Puntius amphibious, Poropontius tawarensis, Nemacheilus fasciatus, Glyptothorax platypogon, Anabas testudineus, and Channa striata. The highest density species are P. reticulata with 39 individual and R.dusonensis with 27 individual at station 2 and 17 individual at station 3. The diversity index of fish in all observation stations was included in medium category (1,57; 1,80; and 1,45). The similarity index (Evennes index) in all stations was included in high category (1,64; 1,73; and 1,87). The Simpson’s index in all stations was included in low category (0,28; 0,23; and 0,28). The conclusions of this research are Poecillia and Rasbora was dominated the fish spread zonation, diversity of gastropods in Keyang River included in medium category, and each spesies had different migration structure, that are at the side or spead of the river with the purpose for reproduction or looking for food.Keywords:  fish biodiversity, fish migration structure, Keyang River, zoningCitation: Pratami, V. A. Yulia., Setyono, P dan Sunarto. (2018). Zonasi, Keanekaragaman Dan Pola Migrasi Ikan Di Sungai Keyang, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur. Jurnal Ilmu Lingkungan. 16(1), 78-85, doi:10.14710/jil.16.1.78-85
Kajian Kualitas Air Laut dan Indeks Pencemaran Berdasarkan Parameter Fisika-Kimia di Perairan Distrik Depapre, Jayapura Baigo Hamuna; Rosye H.R. Tanjung; Suwito Suwito; Hendra Kurniawan Maury; Alianto Alianto
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 16, No 1 (2018): April 2018
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (224.41 KB) | DOI: 10.14710/jil.16.1.35-43

Abstract

ABSTRAKKondisi kualitas air suatu perairan yang baik sangat penting untuk mendukung kelulushidupan organisme yang hidup di dalamnya. Penentuan status mutu air perlu dilakukan sebagai acuan dalam melakukan pemantauan pencemaran kualitas air. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji status mutu air dan menentukan indeks pencemaran berdasarkan parameter fisika-kimia di perairan Distrik Depapre, Kabupaten Jayapura. Pengambilan sampel kualitas air dilakukan pada bulan Oktober 2017 di lima stasiun penelitian, kemudian hasilnya dibandingkan dengan baku mutu air laut untuk biota laut berdasarkan KEPMEN-LH No. 51 Tahun 2004. Hasil penelitian menunjukkan bahwa parameter yang masih sesuai baku mutu antara lain suhu, salinitas, sulfida dan kecerahan perairan, sedangkan parameter yang telah melampaui baku mutu antara lain pH, ammonia total, nitrat dan fosfat. Berdasarkan hasil perhitungan indeks pencemaran menunjukkan bahwa perairan Distrik Depapre berada dalam kategori tercemar ringan hingga tercemar sedang.Kata kunci: Baku Mutu, Indeks Pencemaran, Kualitas Air, Parameter Fisika-Kimia, Distrik DepapreABSTRACTGood water quality is extremely important to support life of organisms. The determination of water quality status was needed as reference to monitor water pollution. This study aimed to assess the status of water quality and determine pollution index based on physical-chemical parameters in the Depapre District waters, Jayapura Regency. Sampling was carried out in October 2017 across five research stations, then the results were compared with water quality standards based on KEPMEN-LH No. 51 Tahun 2004 for marine biotas. The results showed that the parameters in according to the quality standards are temperature, salinity, sulphide and water transparency, while those that have exceeded the quality standards are pH, total ammonia, nitrate and phosphate. Based on the calculation of pollution index indicates that the Depapre District waters was in light pollution to medium categories.Keywords: Depapre District, Physical-Chemical Parameters, Pollution Index, Standards, Water QualityCitation: Hamuna, B., Tanjung, R.H.R, Suwito, Maury H.K. dan Alianto (2018).Kajian Kualitas Air Laut dan Indeks Pencemaran Berdasarkan Parameter Fisika-Kimia Di Perairan Distrik Depapre, Jayapura. Jurnal Ilmu Lingkungan, 16(1), 35-43, doi:10.14710/jil.16.135-43
Hidrokarbon Aromatik Polisiklik pada Lahan Tercemar Limbah Minyak Bumi: Tinjauan Pertumbuhan Mikro-Organisme, Proses Metabolisme dan Biodegradasi Allen Kurniawan; Yanuar Chandra Wirasembada; Indah Mutiara Ningtyas Razaad; Adi Novriansyah; Mohamad Rafi; Agus Jatnika Effendi
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 16, No 1 (2018): April 2018
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (38.4 KB) | DOI: 10.14710/jil.16.1.9-24

Abstract

ABSTRAKHidrokarbon Aromatik Polisiklik (HAP) berasal dari proses alamiah dan limbah antropogenik di lingkungan. HAP merupakan polutan di udara, tanah, dan padatan yang mengendap pada fase cair (sedimen) dan berkembang akibat pembakaran tidak lengkap material organik. Kajian ini berupa studi literatur mengenai informasi secara lebih detil tentang laju kenaikan HAP pada tanah, gambaran umum proses metabolisme, proses biodegradasi HAP melalui keterlibatan mikroorganisme, dan alternatif pengolahan sebagai media teknologi penunjang aktivitas proses degradasi. Proses degradasi HAP dan substrat hidrofobik digunakan untuk membatasi jumlah fase cair terlarut melalui sorbsi, kristalin, dan non-aqueous phase liquid (NAPL) sehingga HAP terlarut menjadi tidak tersedia. Laju peningkatan HAP di dalam tanah terbagi atas tiga fase, yaitu fase eksponensial, fase lanjutan dengan pertumbuhan pseudo-linear, dan fase pseudo-stasioner pada kondisi tidak ideal berdasarkan ciri akses bakteri tersedia dalam jumlah tidak terbatas, dan transportasi substrat adalah homogen. Pada media heterogen, seperti tanah, HAP diserap dalam partikel organik pada pori-pori dengan ukuran kecil sehingga bakteri tanah tidak dapat mengakses HAP. Pada kasus pencemaran dalam skala besar, HAP akan berbentuk semacam tar droplet sehingga membatasi bakteri untuk mendegradasi HAP. Selain bakteri, jenis organisme dan mikroorganisme spesifik pendegradasi HAP dapat ditemukan pada jamur (fungi), cyanobacteria, dan alga.Kata kunci: biodegradasi, hidrokarbon aromatik polisiklik, mikroorganisme, proses metabolisme.ABSTRACTPolycylic Aromatic Hydrocarbons (PAHs) are derived from natural processes and the anthropogenic wastes in the environment. PAHs are pollutants found in the air, soil, and sediments which are developed due to incomplete combustion of the organic materials. This review provides a more detail literature study regarding the microbial growth, the metabolic process, and PAHs microbial biodegradation processes overview. The process of PAHs and the hydrophobic substrate degradation is applied to limit the amount of dissolved aqueous phase through sorption, crystalline, and non-aqueous phase liquid (NAPL) so that the dissolved PAHs are no longer available. microbial growth on PAHs as the sole carbon source can be divided into three phases which are the exponential phase, the advance phase with pseudo-linear growth, and pseudo-stationery phase in a non-ideal condition based on the characteristic of the unlimited bacterial access and the homogenous substrate transport. In the heterogeneous medium, such as soil, PAHs are absorbed into the organic particles of small sized pores so that the PAHs become inaccessible for the soil bacteria. In large scale pollution, the PAHs are in the form of tar droplets which limit the access for soil bacteria to degrade the PAHs. Other than bacteria, the specific organisms and microorganisms to degrade PAHs are found in fungi, cyanobacteria, and algae.Keywords: biodegradation, growth rate, metabolic process, microbial, polycyclic aromatic hydrocarbons.Citation: Kurniawan A., Wirasembada, Y.C., Razaad, I.M.N., Novriansyah, A., Rafi, M., Effendi, A.J.(2018). Hidrokarbon Aromatik Polisiklik pada Lahan Tercemar Limbah Minyak Bumi: Tinjauan Pertumbuhan Mikro-Organisme, Proses Metabolisme dan Biodegradasi, Jurnal Ilmu Lingkungan, 16(1), 9-24, doi:10.14710/jil.16.1.9-24
Kajian Dispersi Panas Dampak Rencana Pembangunan PLTU Sampit-Kotawaringin Timur Propinsi Kalimantan Tengah Mardi Wibowo; Wahyu Hendriyono; Sapto Nugroho; Buddin Al Hakim; Velly Asvaliantina
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 16, No 1 (2018): April 2018
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1634.16 KB) | DOI: 10.14710/jil.16.1.86-97

Abstract

ABSTRAKSaat ini untuk memenuhi kebutuhan energi listrik pemerintah mencanangkan program pembangunan pembangkit listrik 10.000 MW. Salah satu implementasinya dengan membangun Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) berbahan bakar batubara seperti PLTU Sampit di Kabupaten Kotawaringin Timur, Propinsi Kalimantan Tengah. Permasalahan utama kegiatan PLTU adalah suhu air buangan yang jauh lebih tinggi dari suhu perairan di sekitarnya. Kenaikan suhu iniselain akan mengurangi efisiensi system pendinginan juga dapat membahayakan kehidupan aquatik. Untuk meminimalkan dampak perlu dilakukan pemodelan adveksi/dispersi panas sebelum dilakukan pembangunan PLTU. Dengan pemodelan ini akan diketahui sebaran panas buangan PLTU sehingga sejak awal dapat dilakukan upaya-upaya untuk mengurangi dampak negatif yang muncul. Selain itu model ini dapat dipakai sebagai bahan pertimbangan dalam penentuan lokasi intake dan outfall sistem air pendingin. Studi ini dilakukan dalam beberapa skenario dengan menggunakan perangkat lunak MIKE-21. Berdasarkan hasil pemodelan diketahui bahwapola arus di perairan sekitar PLTU Sampit lebih dipengaruhi pasang surut dan debit sungai dari hulu. Pada musim timur, suhu air pada lokasi intake cukup terpengaruh oleh suhu air bahang pada outfall khususnya ketika air laut pasang. Perubahan temperaturair pada intake berkisar antara 30,1 – 32 oC. Kenaikan tertinggi terjadi ketika air menuju pasang naik maksimum. Pada musim angin barat, suhu air pada lokasi intake hanya sedikit terpengaruh oleh suhu air bahang pada outfall, perubahan temperatur air pada intake hanya berkisar antara 29,99 – 30,1 oC. Kenaikan tertinggi terjadi ketika air menuju pasang naik maksimum. Resirkulasi air pendingin dengan intensitas cukup besar (+ 2oC) diprediksi terjadi saat air pasang. Hal ini dapat menjadi lebih parah bila debit sungai dari hulu berkurang yaitu ketika musim kemarau.Kata kunci: dispersi panas, PLTU, air bahang, intake, outfallABSTRACTNow to comply the electricity needs, government announced the construction of 10,000 MW power plant. One of its implementation by building Steam Power Plant (PLTU) with coal-fired power such as Sampit in the District of Eastern Kotawaringin, Province of Center of Kalimantan. The main problem of power plant activities is the waste water temperatures much higher than the temperature of the surrounding waters. The rise of temperature will not only reduce the efficiency of the cooling system but also be harmful to aquatic life. To minimize the impact needs to be done advection/dispersion modeling of heat water prior to the construction of the power plant. With this modeling will be known distribution of heat waste from power plant in 2-dimensional, so that can be done since the beginning of efforts to reduce the negative impacts that arise. In addition, this model can be used as a consideration in the determination of the location of the intake and outfall system cooling water. This study was conducted in several scenarios using software MIKE-21. Based on modeling results is known that the current pattern in the waters around the Sampit power plant is more affected by tidal and river flow from upstream. In east monsoon, the water temperature at the intake is quite affected by the heat water temperature at the outfall especially when high tides. Water temperatur changes in intake ranged from 30.1 to 32 oC. The highest increase occurred when the water toward the maximum high tide. In the west monsoon, the water temperature at intake only slightly affected by the heat water temperature on the outfall. Eater temperatur changes on the intake only ranged from 29.99 to 30.1°C. The highest increase occurred when the water toward the maximum high tide. Recirculation cooling water with considerable intensity (+ 2°C) could occur during high tide. It can be more severe if the river flow from upstream is reduced like as at the dry season.Keywords: thermal dispersion, steam powerplant, heat waste water, intake, outfallCitation: Wibowo, M., Hendriyono, W., Nugroho, S., Al Hakim, B., Velly Asvaliantina. V.  (2017). Kajian Dispersi Panas Dampak Rencana Pembangunan PLTU Sampit-Kotawaringin Timur Propinsi Kalimantan Tengah. Jurnal Ilmu Lingkungan, 16(1), 86-97, doi:10.14710/jil.16.1.86-97
Kearifan Lokal Masyarakat sebagai Upaya Konservasi Hutan Pelawan di Kabupaten Bangka Tengah, Bangka Belitung Henri Henri; Luchman Hakim; Jati Batoro
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 16, No 1 (2018): April 2018
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1733.24 KB) | DOI: 10.14710/jil.16.1.49-57

Abstract

ABSTRAKPenurunan keanekaragaman hayati umumnya disebabkan oleh adanya degradasi sumberdaya hayati dan kurangnya upaya konservasi. Oleh karena itu, salah satu upaya konservasi sumberdaya alam dapat dilakukan dengan mengintegrasikan kearifan lokal masyarakat dalam melestarikan lingkungan yang berkelanjutan. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Oktober 2016-Februari 2017 di Hutan Pelawan, Kabupaten Bangka Tengah, Bangka Belitung. Metode penelitian yang digunakan adalah observasi, wawancara secara mendalam (In-depth Interview) dan FGD (Focus Group Discussion) yang terbagi menjadi small group discussion dan final group discussion. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sejarah penamaan Hutan Pelawan berasal dari pohon pelawan (Tristaniopsis merguensis Griff.) yang mendominasi kawasan hutan tersebut. Hutan ini mengalami pro dan kontra sebelum ditetapkan sebagai kawasan Taman Keanekaragaman Hayati (Taman Kehati) Kabupaten Bangka Tengah. Pada saat ini, kondisi hutan tersebut  telah memiliki tiga fungsi utama yaitu: konservasi sumberdaya hayati, pembangunan berkelanjutan, dan logistic support (penelitian, pendidikan, dan monitoring). Kearifan lokal masyarakat yang masih terjaga dan berkaitan langsung dengan upaya konservasi sumberdaya alam Hutan Pelawan masih dapat ditemukan seperti tradisi musung madu dengan cara membuat sunggau untuk mendapatkan hasil berupa air madu dari Apis dorsata (madu liar). Selain itu, masyarakat juga masih mempercayai tentang mitos tumbuh jamur Pelawan (Heimioporus sp.) yang hanya dapat tumbuh pada inang pohon T. merguensis disaat adanya hujan petir. Oleh karena itu, perlunya mengintegrasikan kearifan lokal masyarakat dalam mendukung upaya konservasi dengan merevitalisasi dan mereaktualisasi kearifan lokal tersebut yang diberi dasar hukum sebagai dasar kekuatan masyarakat, serta perlunya kajian penelitian yang ilmiah dalam mendukung kearifan lokal sebagai upaya konservasi lingkungan sehingga memberi dampak positif bagi kehidupan masyarakat tersebut.Kata kunci: Kearifan lokal, sumberdaya hayati, konservasi, hutan pelawan.ABSTRACTThe decrease in biodiversity is generally caused by the degradation of biological resources and the lack of conservation efforts. Therefore, one of nature resource conservation efforts can be done by integrating local wisdom of society in preserving environment sustainable. This research was conducted on October 2016-February 2017 in Pelawan Forest, Central Bangka Regency, Bangka Belitung. The research method used is observation, In-depth Interview and FGD (Focus Group Discussion) divided into small group discussion and final group discussion. The results show that the history of naming the Pelawan Forest comes from the tree of Pelawan (Tristaniopsis merguensis Griff.) that dominate the forest area. This forest is experiencing pros and cons before it is designated as Biodiversity Park of Central Bangka Regency. At the moment, the forest condition already has three functions, namely: biological resource conservation, sustainable development, and logistic support (research, education, and monitoring). Local wisdom community who are still awake and directly related to natural resources conservation Pelawan Forests can still be found as a tradition musung madu how to make a honey with sunggau to get the results in the form of honey of Apis dorsata (Wild Honey). In addition, people also still believe in the myth of growing mushrooms Pelawan (Heimioporus sp.) which can only grow on the host tree T. merguensis in the presence of thunderstorms. Therefore, the need to integrate the local wisdom of communities in support of conservation efforts by revitalization and the implementation of the local wisdom is given the basic law as the basis of power of the community, as well as the need for a review scientific research in support of local wisdom as environmental conservation efforts so as to give a positive impact to the lives of the community.Keywords: Local wisdom,  biodiversity, conservation, Pelawan forest.Citation: Henri, Hakim, L., dan Batoro, J. (2018). Kearifan Lokal Masyarakat sebagai Upaya Konservasi Hutan Pelawan di Kabupaten Bangka Tengah, Bangka Belitung. Jurnal Ilmu Lingkungan, 16(1), 49-57,doi:10.14710/jil.16.1.49-57
Uji Toksisitas Akut Dalam Penentuan LC50-96H Insektisida Klorpirifos Terhadap Dua Jenis Ikan Budidaya Danau Kembar, Sumatera Barat Taufiq Ihsan; Tivany Edwin; Nailul Husni; Widia Detiari Rukmana
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 16, No 1 (2018): April 2018
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (150.841 KB) | DOI: 10.14710/jil.16.1.98-103

Abstract

ABSTRAKPenggunaan insektisida klorpirifos mencapai 99,8% oleh petani di Provinsi Sumatera Barat. Fungsi utama klorpirifos dalam pertanian adalah melindungi tanaman jagung, kapas dan buah-buahan terhadap hama serangga. Klorpirifos yang telah disemprotkan ke tanaman, berpotensi terbilas oleh air dan mengalir ke wilayah perairan sehingga dapat mencemari ekosistem perairan. Salah satu biota perairan adalah ikan. Tak terkecuali kegiatan pertanian dan perkebunan di Kawasan Danau Kembar (Danau Di Ateh dan Danau Di Bawah), Sumatera Barat. Klorpirifos yang biasa digunakan para petani di kawasan ini adalah merk Dursban. Konsentrasi klorpirifos terdeteksi sebesar 0,007 mg/L di perairan danau tempat melakukan budidaya ikan. Jenis ikan yang biasa dibudidayakan di Danau Kembar adalah Ikan Mas (Cyprinus carpio L) dan Ikan Nila (Oreochromis niloticus). Penelitian ini bertujuan untuk melakukan uji toksisitas akut dan menganalisis nilai LC50-96h insektisida klorpirifos dengan menggunakan hewan uji dua jenis ikan budidaya tersebut pada skala laboratorium. Penentuan nilai LC50-96h mengacu pada Metode USEPA. Jumlah hewan uji untuk masing-masing jenis ikan adalah 240 ekor dengan umur ± 1 bulan. Penelitian dilakukan dengan dua kali pengulangan dengan metode static test. Uji toksisitas akut ini meliputi uji pendahuluan dan uji dasar. Pengujian berlangsung dalam kondisi fisik air sesuai batas yang diizinkan untuk pemeliharaan ikan budidaya yaitu pH 6 – 9, DO minimal 3 mg/L dan suhu 25 – 30 oC. Hasil penelitian uji toksisitas akut ini diperoleh nilai LC50-96h dengan menggunakan Metode Probit sebesar 0,03 mg/L (ikan mas) dan 0,08 mg/L (ikan nila). Berdasarkan nilai LC50-96h yang diperoleh, klorpirifos termasuk kategori sangat toksik, sehingga monitoring terhadap penggunaan insektisida ini sangat diperlukan.Kata kunci: Danau Kembar, Ikan Mas, Ikan Nila, Klorpirifos, LC50-96h, Toksisitas Akut.ABSTRACTThe use of chlorpyrifos insecticide reached 99.8% by farmers in West Sumatera Province. The main function of chlorpyrifos in agriculture is to protect corn, cotton and fruit trees against insect pests. Chlorpyrifos that have been sprayed into plants, potentially flushed by water and flowed into the water body so as to pollute the aquatic ecosystems. One of the aquatic biota is the fish. No exception agricultural and plantation activities in the area of Twin Lakes (Di Ateh Lake and Di Bawah Lake), West Sumatra. Chlorpyrifos commonly used by farmers in this region is the brand Dursban. Measurements of chlorpyrifos concentration was 0.007 mg/L in the waters of the lake where fish cultivation. Types of fish commonly cultivated in Twin Lakes are Common carp (Cyprinus carpio L) and Nile tilapia (Oreochromis niloticus). This study aims to perform the acute toxicity test and analyze the value of LC50-96h chlorpyrifos insecticide by using the test animals of two species of fish cultivation on the laboratory scale. The determination of the LC50-96h value refers to the USEPA Method. The number of test animals for each species of fish is 240 with an age of ± 1 month. The study was conducted with two repetitions using static test method. These acute toxicity tests include preliminary and baseline tests. The test takes place in the physical condition of the water according to the permitted limits for the maintenance of the aquaculture fish ie pH 6 - 9, DO at least 3 mg/L and temperature 25 - 30oC. The results of this acute toxicity test obtained LC50-96h value using Probit Method of 0.03 mg/L (carp) and 0.08 mg/L (tilapia). Based on the value of LC50-96h obtained, chlorpyrifos is a highly toxic category, so monitoring of the use of insecticides is important.Keywords: Twin Lakes, Common carp, Nile tilapia, Chlorpyrifos, LC50-96h, Acute ToxicityCitation: Ihsan, T., Edwin, T., Husni, N., dan Rukmana, W.D. (2018). Uji Toksisitas Akut dalam Penentuan LC50-96h Insektisida Klorpirifos terhadap Dua Jenis Ikan Budidaya Danau Kembar, Sumatera Barat. Jurnal Ilmu Lingkungan, 16(1), 98-103, doi:10.14710/jil.16.1.98-103
Analysis of land cover change and its impact on peak discharge in Jelap Sub-Watershed, Sintang District Diah Auliyani
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 16, No 1 (2018): April 2018
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (552.615 KB) | DOI: 10.14710/jil.16.1.61-67

Abstract

ABSTRAKInformasi mengenai debit puncak sangat penting dalam perencanaan pembangunan infrastruktur. Debit puncak dapat diprediksi menggunakan data dari alat pengukur tinggi muka air yang di pasang di outlet Daerah Aliran Sungai (DAS). Namun demikian, tidak semua DAS memiliki alat tersebut, terutama yang berada pada daerah dengan tingkat aksesibilitas rendah. Teknologi penginderaan jauh dapat menggantikan cara tersebut dalam menyediakan data dan informasi sumberdaya alam maupun pemantauan lingkungan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh perubahan penutupan lahan terhadap debit puncak di Sub DAS Jelap. Sub DAS Jelap merupakan bagian dari DAS Kapuas yang berada di Kabupaten Sintang, Propinsi Kalimantan Barat. Data curah hujan diperoleh dari stasiun pengamatan curah hujan Bandara Susilo. Debit puncak dihitung menggunakan metode Rational dengan memanfaatkan data satelit penginderaan jauh berupa Digital Elevation Model/ Shuttle Radar Topography Mission (DEM/ SRTM). Selama 1990-2016, hutan lahan kering sekunder dan hutan rawa sekunder mengalami penurunan seluas 1298 ha dan 338 ha, sedangkan semak belukar, semak belukar rawa, pertanian lahan kering campur semak, perkebunan dan area pertambangan mengalami peningkatan sebesar 78 ha, 102 ha, 814 ha, 640 ha, dan 2 ha. Perubahan penutupan lahan tersebut telah meningkatkan koefisien runoff dengan rata-rata peningkatan sebesar 0,14%. Dengan luas daerah terbangun kurang dari 1%, debit puncak yang dihasilkan berdasarkan analisis spasial memiliki pola yang hampir sama dengan fluktuasi curah hujan maksimum. Hal ini menunjukkan bahwa dibandingkan faktor lainnya, curah hujan maksimum merupakan faktor yang sangat menentukan nilai debit puncak di Sub DAS Jelap.Kata kunci: Penutupan lahan, curah hujan, debit puncak, Jelap, SintangEnglish title: Analysis of land cover change and its impact on peak discharge in Jelap Sub-Watershed, Sintang DistrictABSTRACTInformation on peak discharge is crucial in infrastructure development planning. Peak discharge could be predicted using data from water level gauges which installed at the watershed outlet. However, not all of the watersheds have such tools, especially those in areas with low accessibility levels. Remote sensing technology could replace such tools in providing data and information of natural resources as well as environmental monitoring. The objective of this research was to analyze the land cover change and its impact on peak discharge at Jelap Sub-Watershed. Jelap Sub-Watershed is part of Kapuas Watershed located in Sintang District, West Kalimantan Province. The rainfall data were collected from Susilo Airport Rainfall Station. Peak discharge was calculated using a rational method by utilizing remote sensing satellite data in the form of Digital Elevation Model/ Shuttle Radar Topography Mission (DEM/ SRTM). Throughout 1990-2016, the area of secondary dry land forest and secondary swamp forest declined by 1298 ha and 338 ha, while shrubs, swamp shrubs, mixed dry land agriculture, plantations, and mining areas increased by 78 ha, 102 ha, 814 ha, 640 ha, and 2 ha. The change in land cover has increased the runoff coefficient with 0,14% average increment. With built area less than 1%, the peak discharge generated spatially had a similar pattern with the fluctuation of maximum rainfall. Compared to other factors, the maximum rainfall was the most decisive factor to determine peak discharge in Jelap Sub-Watershed.Keywords: Landcover, Rainfall, Peak discharge, Jelap, SintangCitation: Auliyani, D. (2018). Analisis perubahan penutupan lahan dan pengaruhnya terhadap debit puncak di Sub Daerah Aliran Sungai Jelap, Kabupaten Sintang. Jurnal Ilmu Lingkungan, 16(1),61-67, doi:10.14710/jil.16.1.61-67
Utilization of Water Hyacinth As Acquired Biogas, Liquid Fertilizer And Control Its Spread Agus Hadiyarto; Alfiyanti Alfiyanti; Deo Reynaldo Alwi; Indra Riadi; Istiana Norita Rahma; Noor Hanifah Angga Putra
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 16, No 1 (2018): April 2018
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (505.454 KB) | DOI: 10.14710/jil.16.1.58-60

Abstract

ABSTRACTCalombo hamlet, Semarang Regency has a population of 1,125 peoples, live at coast side of Rawapening Lake. Much of the water hyacinth covered Rawapening Lake thus decreasing fisheries production. The growth of water hyacinth has been decreased by using it as craft materials and compost, but not optimally. Need other efforts to reduce the density for example convert or utilize water hyacinth for biogas and liquid fertilizer. The objectives of the programs are approach the society by socializing about the benefits of water hyacinth convert to biogas and liquid fertilizer, to train skilled of people to build a biogas unit. The result of this programs makes a biogas unit MERCEDES (Mesophilic Reactor Anaerobic Digestion) which produces biogas and liquid fertilizer. The economic potential is obtained if all households apply them (equivalent with energy) about IDR 17.112 million per year, a liquid fertilizer about IDR 200.000 per household per day, the environmental potential reduction of water hyacinth growth about 6-15% per year, providing knowledge to the community to build a biogas unit and Mr. Musyafa has been utilize the biogas and fertilizer and have formed the structure of the organization  to manage and develop the biogas unit for sustainability the program.Keywords: biogas, liquid fertilizer, calombo hamlet, water hyacinth, rawapening lake.Citation: Hadiyarto, A., Alfiyanti, Alwi, D.R., Riadi, I., Rahma, I.N., Putra, N.H.A.(2018). Utilization of Water Hyacinth As Acquired Biogas, Liquid Fertilizer And Control Its Spread, Jurnal Ilmu Lingkungan, 16(1), 58-60, doi:10.14710/jil.16.1.58-60
Menakar Kapasitas Adaptasi Perubahan Iklim Petani Padi Sawah (Kasus Kabupaten Pasuruan Jawa Timur) Yudi L.A Salampessy; Djuara P Lubis; Istiqlal Amien; Didik Suhardjito
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 16, No 1 (2018): April 2018
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (12.8 KB) | DOI: 10.14710/jil.16.1.25-34

Abstract

ABSTRAKPerubahan iklim mensyaratkan kapasitas beradaptasi yang memadai dari petani karena pengelolaan SUT padi sawah sangat bergantung pada daya dukung iklim. Musim menjadi tidak menentu dan cuaca sulit diprediksi. Petani mulai kesulitan menentukan awal dan komoditas tanam, sementara serangan organisme pengganggu tanaman (OPT), banjir, dan kekeringan sebagai dampak negatif dari perubahan iklim semakin sering terjadi. Melalui survey terhadap 96 petani, penelitian ini menakar kapasitas beradaptasi perubahan iklim petani padi sawah di daerah pertanaman padi di dataran rendah, sedang, dan tinggi yang pernah menjadi wilayah percontohan program pengembangan kapasitas adaptasi perubahan iklim. Hasil penelitian menunjukkan kapasitas adaptasi petani padi sawah masih rendah dan memengaruhi tingkat penerapan adaptasi perubahan iklim mereka. Disarankan untuk dilakukan evaluasi terhadap strategi program-progran sejenis melalui penelitian mengenai faktor-faktor penentu kapasitas adaptasi perubahan iklim petani padi sawah.Kata kunci: kapasitas adaptasi, padi sawah, perubahan iklim, petani    ABSTRACTClimate change requires adequate adaptation capability of farmers as the management of rice farming systems which is highly dependent on climate carrying a previously considered stable. Through a survey of 96 farmers, this study measured the adaptive capacity to climate change of rice farmers in the lowland, medium and highland rice cultivation areas as pilot zone in which improvement program in climate change adaptation has been established. The result shows rice farmers adaptive capacity is considered low and affects their adaptation level to climate change. It is necessary to evaluate the strategy of similar program by studying the determinant factors of climate change adaptation capacity of rice farmers.Keywords: Adaptive capacity, climate change, farmerCitation: Salampessy, Y.L.A., Lubis, D.P., Amien, I., Suhardjito, D. 2018. Menakar Kapasitas Adaptasi Perubahan Iklim Petani Padi Sawah (Kasus Kabupaten Pasuruan Jawa Timur). Jurnal Ilmu Lingkungan, 16(1), 25-34, doi:10.14710/jil.16.1.25-34
Sebaran Klorofil a, Nitrat, Fosfat dan Plankton Sebagai Indikator Kesuburan Ekosistem Mangrove Tugurejo Semarang Anik Prihatin; Prabang Setyono; Sunarto Sunarto
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 16, No 1 (2018): April 2018
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4706.556 KB) | DOI: 10.14710/jil.16.1.68-77

Abstract

ABSTRAKEkosistem mangrove merupakan suatu interaksi yang terjadi antara tanaman – tanaman mangrove dengan faktor lingkungan perairan mangrove sehingga dapat menyebabkan terjadinya kesuburan perairan dan sebagai tempat mencari makan alami bagi biota – biota perairan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui sebaran klorofil-a, nitrat dan fosfat serta plankton pada ekosistem mangrove yang berguna untuk kelestarian hidup biota – biota perairan Mangrove. Penelitian ini dilaksanakan bulan Oktober – November 2017 di Mangrove Tapak Tugurejo Semarang. Hasil penelitian ini didapatkan kandungan klorofil a rata – rata 0,165 mg/l, kandungan nitrat rata – rata 2,188 mg/l dan kandungan fosfat rata – rata 0,045 mg/l. Kelimpahan fitoplankton ditemukan sebanyak 23 spesies dan zooplankton ditemukan sebanyak 5 spesies. Berdasarkan status indeks trofik perairan Mangrove Tapak Tugurejo Semarang termasuk dalam kategori perairan mesotrofik, yakni unsur hara dan nutrien dalam perairan mangrove kurang tersedia banyak atau sedang dan belum tercemar. Kondisi kesuburan ekosistem mangrove terpantau cukup baik bila dibandingkan dengan kandungan – kandungan unsur hara, klorofil a dan plankton yang melimpah di perairan penelitian, sehingga memungkinkan banyak terdapat kehidupan biota – bioata perairan. Kesimpulan dari penelitian ini adalah kandungan unsur hara (nitrat dan fosfat) dan klorofil a serta plankton diperairan mangrove sangat mempengaruhi kesuburan ekosistem perairan, serta plankton yang mendominasi tempat penelitian ialah dari kelas Baccilariophyceae sebanyak 21 spesies.Kata kunci: Status trofik, Plankton, Ekosistem Mangrove,  Mangrove Tapak Tugurejo Semarang.ABSTRACTMangrove ecosystem is an interaction that occurs between mangrove plants with environmental factors of mangrove waters that can cause the occurrence of water fertility and as a place of natural foraging for aquatic biota. The purpose of this research is to know the distribution of chlorophyll a, nitrate and phosphate and plankton in mangrove ecosystem which is useful for the preservation of biota life of Mangrove waters. This research was conducted in October - November 2017 at Tapak Mangrove Tugurejo Semarang. The results of this study obtained an average chlorophyll-1 content of 0.165 mg / l, an average nitrate content of 2.188 mg / l and an average phosphate content of 0.045 mg / l. Abundance of phytoplankton found as many as 23 species and zooplankton found as many as 5 species. Based on the trophic index status of Mangrove waters Tapak Tugurejo Semarang included in the category of mesotrophic waters, the nutrients and nutrients in the mangrove waters are less available or moderate and not contaminated. The condition of mangrove ecosystem fertility is observed quite well when compared with nutrient content, chlorophyll-a and plankton abundant in research waters, thus allowing many life biota - bioata waters. The conclusion of this research is the content of nutrients (nitrate and phosphate) and chlorophyll a and plankton in mangrove waters greatly affect the fertility of aquatic ecosystems, and the plankton that dominate the research site is from the Baccilariophyceae class of 21 species.Keywords : Trophic Status, Plankton, Mangrove Ecosystem, Mangrove Tapak Tugurejo SemarangCitation: Prihatin, A, Setyono, P dan Sunarto (2018). Sebaran Klorofil-a, Nitrat, Fosfat dan Plankton Sebagai Indikator Kesuburan Ekosistem di Mangrove Tapak Tugurejo Semarang. Jurnal Ilmu Lingkungan, 16(1), 68-77, doi:10.14710/jil.16.1.68-77

Page 1 of 2 | Total Record : 12


Filter by Year

2018 2018