cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Ilmu Lingkungan
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : 18298907     DOI : -
Core Subject : Social,
Arjuna Subject : -
Articles 30 Documents
Search results for , issue "Vol 22, No 2 (2024): March 2024" : 30 Documents clear
Green Environmental Management Practices in Schools in The Implementation of the Deming Cycle: A Narrative Inquiry Approach Ambar Sri Lestari; Imelda Wahyuni; Jumardin La Fua
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 22, No 2 (2024): March 2024
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.22.2.347-354

Abstract

The aim of this research is to apply the Deming cycle to green environmental management to improve sustainable practices in schools. Using an inquiry-narrative approach by collecting data through semi-structured interviews with school principals, teachers, and students to explore green environmental management practices at Adiwiyata schools Analysis is carried out interpretatively by expanding, exploring, retelling, and fictionalising the data. The findings presented in green environmental management practices show four main themes in translating strategies into operational practices, including planning, implementation, learning, and action, to assist in identifying and analysing environmental practices reflectively. This research has implications for pro-environmental behaviour through a scientific approach to environmental management in schools.
Perencanaan Infrastruktur Pengelolaan Sampah di Kampus Universitas Muhammadiyah Surakarta Syakir Maghfuri; Budi Murtiyasa; Sri Sunarjono; Nurul Hidayati
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 22, No 2 (2024): March 2024
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.22.2.491-502

Abstract

Tanggungjawab masyarakat yang rendah dan paradigma kumpul-angkut-buang sampah membuat kegiatan pengelolaan sampah kurang optimal. Masalah ini juga terjadi pada kawasan universitas, termasuk Universitas Muhammadiyah Surakarta. Penelitian ini bertujuan untuk membuat rencana desain infrastruktur pengolahan sampah Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) dengan memperhatikan peraturan yang berlaku. Data yang digunakan berupa data eksisting kondisi sarana dan prasarana pengelolaan sampah beserta pola pelayanannya, serta jumlah mahasiswa, dosen dan tenaga pendidik. Perencanaan infrastruktur Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) didasarkan pada Permen PU No. 03/PRT/M/2013. Hasil penelitian didapatkan jenis sampah yang ada berupa plastik, organik, kardus dan kertas, kaca, konstruksi, laboratorium, balokan, elektronik, dan B3 non medis. Pola pelayanan pengelolaan sudah baik namun kegiatan pemilahan sampah dari sumber belum dikoordinasi oleh pihak UMS. Prioritas daerah layanan untuk semua kawasan menempati peringkat 1 kecuali Kampus 3. Proyeksi timbulan sampah Tahun 2031 didapatkan total 25,97 m3/hari dan digunakan untuk merencanakan sarana TPST mencakup pengadaan 263 tempat sampah ukuran 50 L, dan 78 buah ukuran 150 L, 1 kontainer 4 m3, dan 3 unit Arm Roll Truck kapasitas 6 m3. Jumlah tersebut juga untuk mendesain prasarana yang meliputi Bangunan Hanggar, Jembatan Timbang, Bengkel, Bank Sampah, Kantor, Musholla, Rumah Genset, Menara Air, dan Tempat Cuci Kendaraan. Pola pelayanan rencana mengikuti eksisting dengan menambahkan kegiatan pengolahan sampah di TPST.
Pemanfaatan Larva Ulat Jerman (Zophobas morio) sebagai Agen Biodegradasi Stirofoam yang Ramah Lingkungan Amnan Haris; Miranita Khusniati; Andhina Putri Heriyanti; Trida Ridho Fariz; Ni Luh Tirtasari
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 22, No 2 (2024): March 2024
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.22.2.296-301

Abstract

Stirofoam banyak digunakan sebagai kemasan makanan, minuman dan kemasan barang elektronik. Bentuknya yang mudah dicetak, ringan dan harganya yang murah menyebabkan stirofoam diminati masyarakat. Biasanya stirofoam hanya dipakai sekali dan dibuang meskipun masih layak pakai. Stirofoam menimbulkan masalah lingkungan seperti penyumbatan saluran air dan bendungan serta menjadi sarang nyamuk, lalat dan hewan vektor penyakit lainnya. Maka dari itu, perlu upaya untuk mendegradasinya. Ada berbagai cara yang bisa dipilih seperti pembakaran atau pelelehan dengan bensin atau aseton, namun seringkali masih meninggalkan residu dan membutuhkan energi dan biaya yang tidak sedikit. Penggunaan larva ulat jerman diharapkan menjadi solusi inovatif dan ramah lingkungan. Fase larva digunakan karena larva membutuhkan makanan dalam jumlah besar untuk pertumbuhannya. Makanan larva berupa sampah organik seperti buah, sayur, dedaunan, nasi dan lain-lain. Faktanya stirofoam termasuk sampah organik karena terbuat dari minyak bumi yang mengandung hidrokarbon. Diharapkan larva ulat jerman mampu menjadi solusi permasalahan lingkungan yang bersih, hemat energi dan hemat biaya sehingga bisa diaplikasikan di masyarakat secara luas. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis kemampuan larva ulat jerman sebagai agen biodegradasi stirofoam. Tahapan penelitian yaitu budidaya larva ulat jerman selama 30 hari dan analisis yang meliputi analisis viabilitas, kandungan senyawa kimia pada larva menggunakan FTIR dan SEM. Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimental dengan pengambilan data secara kuantitatif. Pada penelitian kami, pertumbuhan ulat jerman menunjukkan sinergi negatif, sedangkan bobotnya mengalami naik-turun. Hasil uji FTIR dan SEM menunjukkan bahwa ulat jerman tidak benar-benar menelan stirofoam sehingga penelitian perlu dilakukan dengan menggunakan strain ulat jerman lainnya.
Kajian Pemanfaatan Zeolit Alam Ende sebagai Katalis dalam Pirolisis Polietilena dari Sampah Plastik Gregorio Antonny Bani
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 22, No 2 (2024): March 2024
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.22.2.447-454

Abstract

Plastik merupakan salah satu material yang paling banyak digunakan sehari-hari yang akhirnya berujung pada penumpukan sampah plastik di Tempat Pembuangan Akhir sampah. Untuk itu, metode pirolisis dapat dijadikan solusi untuk mengatasi permasalahan penumpukan sampah plastik. Permasalahan utama dalam menjalankan pirolisis adalah kebutuhan sumber energinya yang sangat besar. Oleh karena itu, penggunaan katalis sangat dibutuhkan, seperti Zeolite Socony Mobile (ZSM) yang berasal dari jenis sintetis yang memiliki harga yang tergolong mahal. Kabupaten Ende memiliki deposit zeolit alam yang cukup besar, sehingga dapat juga dimanfaatkan untuk dijadikan katalis murah dalam proses pirolisis sampah plastik. Tetapi, aktivitas katalitik zeolit alam sangat bergantung pada metode aktivasinya, jenis reaktan dan karakteristik alami dari zeolit tersebut. Oleh karena itu, dibutuhkan kajian mengenai karakteristik dan aktivitas katalitik dari zeolit alam Ende dalam pirolisis polietilena dari sampah plastik yang meliputi Energi aktivasi hingga kualitas minyak yang dihasilkan. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dipaparkan sebelumnya, maka terdapat beberapa pokok penting yang disimpulkan dari penelitian ini, antara lain: (1) Proses aktivasi dapat merubah sifat kimia dan sifat fisika zeolit alam Ende meliputi kristalinitas, luas permukaan, volume pori dan jejari pori, serta keasamannya untuk dijadikan sebagai katalis. (2) Katalis zeolit alam aktif Ende pada proses pirolisis polietilena dari sampah plastik mampu menurunkan energi aktivasi hingga 4.371,1 cal/mol pada perlakuan komposisi katalis 0,10. (3) Suhu operasi pirolisis di atas 400 oC adalah perlakuan suhu terbaik yang sangat mempengaruhi waktu, volume dan kualitas cairan pirolisis polietilena dari sampah plastik. (4) Komposisi 0,10 merupakan komposisi terbaik dari penggunaan zeolit alam aktif Ende sebagai katalis dalam proses pirolisis polietilena dari sampah plastik. (5) Interaksi terbaik antara suhu dan katalis zeolit alam aktif Ende adalah pada perlakuan suhu 400 oC dan komposisi katalis 0,10.
Kelimpahan Mikroplastik pada Air Limbah Domestik dan Penyisihannya di IPAL Bojongsoang, Kota Bandung Nurul Setiadewi; Cynthia Henny; Denalis Rohaningsih; Agus Waluyo; Prayatni Soewondo
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 22, No 2 (2024): March 2024
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.22.2.401-407

Abstract

Mikroplastik dapat masuk ke Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) melalui jaringan perpipaan air limbah. Keberadaan IPAL berpotensi mengurangi jumlah mikroplastik yang masuk sebagai influen. Meski demikian, efluen IPAL masih mengandung mikroplastik dengan rentang konsentrasi yang bervariasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi keberadaan mikroplastik serta karakterisasinya pada air limbah yang berasal dari IPAL perkotaan di Bojongsoang Kota Bandung. Metode pengambilan sampel, ekstraksi, kuantifikasi, dan karakterisasi dilakukan berdasarkan penelitian sebelumnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mikroplastik terdeteksi di influen IPAL Bojongsoang dengan konsentrasi sebesar 15,45 partikel/liter dan berkurang menjadi sebesar rata-rata 1,49 partikel/liter di efluen. Berdasarkan bentuknya, fiber ditemukan paling dominan berada baik di influen maupun efluen, dengan kisaran 60,51-79,01%. Bentuk lainnya yang mendominasi adalah fragmen dengan rentang persentase 19,41-36,89%. Sementara, bentuk mikroplastik film, foam, dan microbead tidak banyak terdeteksi pada air limbah, dengan persentase rata-rata di bawah 5%. Mikroplastik berukuran 1000-5000 μm paling banyak ditemukan di inlet dibandingkan ukuran yang lebih kecil, dengan persentase sebesar 31,71%. Di titik outlet, mikroplastik banyak ditemukan yang berukuran di bawah 500 μm, dengan kisaran 7,27 - 24,95%. Warna mikroplastik di influen dan efluen yang ditemukan paling banyak adalah putih atau transparan (34,87 - 40,13%) dan hitam (14,54 - 23,14%). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa keberadaan IPAL Bojongsoang dapat menyisihkan mikroplastik yang terdapat pada air limbah secara efektif, dengan efisiensi penyisihan sebesar 89,97%.
Analisis Nilai Manfaat Teknologi Methane Capture bagi Pabrik Kelapa Sawit Fhardi Suganda; Fadjar Goembira; Mahdi Mahdi
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 22, No 2 (2024): March 2024
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.22.2.551-564

Abstract

Dalam upaya membatasi kenaikan suhu global 1,5 derajat Celsius pada tahun 2050, peserta COP26 pada November 2021 sepakat untuk menurunkan akumulasi gas metana. Gas metana merupakan salah satu gas rumah kaca yang memberikan dampak yang besar bagi peningkatan pemanasan global. Potensi reduksi gas metana di Indonesia terdapat pada teknologi menangkap gas metana (methane capture) dari limbah cair yang bersumber dari pabrik pengolahan kelapa sawit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar reduksi gas metana yang bisa ditangkap oleh teknologi methane capture serta mengetahui nilai finansial pemanfaatan gas metana baik dari sisi finansial perusahaan maupun bagi lingkungan hidup. Penelitian ini menggunakan metode mixed method explanatory. Dari aspek lingkungan, pemanfaatan methane capture mampu menangkap gas metana sebanyak 17.517,79 t-CO2e (93,81%) pada kolam anaerobik. Valuasi ekonomi dari gas metana diperoleh dalam NPV adalah sebesar Rp. 31.219.230.000 selama 20 tahun umur ekonomisnya yang dihitung dari nilai ISCC Insentif. Nilai ini menjadi semakin besar, yakni Rp. 63.808.660.000 apabila gas metana tersebut dimanfaatkan untuk membangkit tenaga listrik. Namun, perusahaan akan merugi apabila tidak mendapatkan ISCC insentif dari pasar Eropa dan Amerika Serikat, yakni NPV menjadi sebesar Rp. -6.444.990.000. Kerugian ini lebih besar dibandingkan dengan perusahaan yang menggunakan pembangkit listrik diesel yang berbahan bakar fosil, yakni dengan NPV Rp. -4.857.560.000. Ada selisih sebesar Rp. -1.587.430.000 yang menjadi disinsentif bagi perusahaan kelapa sawit dalam menggunakan teknologi methane capture. Apabila diterapkan pajak karbon untuk pabrik kelapa sawit yang tidak menggunakan teknologi methane capture, berdasarkan UU nomor 7 tahun 2021, maka pembebanan biaya yang lebih besar sehingga nilai NPV Rp. -15.446.640.000 dibanding sebelum diterapkannya pajak karbon.
Review Metode Kompos Aerob: Windrow, Takakura dan Composter Bag Ajeng Destiasari; Sri Sumiyati; Titik Istirokhatun
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 22, No 2 (2024): March 2024
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.22.2.355-364

Abstract

Kenaikan penduduk setiap tahunnya menjadikan Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) semakin padat oleh sampah sehingga diperlukannya pengolah sampah seperti pengomposan. Sampah organik dapat diubah menjadi humus dan dimanfaatkan kembali sebagai pupuk dengan pengomposan aerobik. Kompos aerob membutuhkan oksigen, porositas, dan kadar air yang berfungsi sebagai alat stabilisasi limbah padat dengan variabel seperti suhu, kelembaban, dan oksigen. Proses pengomposan memiliki beberapa fase yaitu fase dekomposisi, fase pendinginan, dan fase pematangan. Kualitas kompos dipengaruhi oleh pemilihan teknologi, limbah hijau yang digunakan, tingkat kejenuhan pada wadah yang digunakan untuk pengolahan, rasion C/N, pH, kelembaban, dan lama waktu pengomposan. Pembuatan kompos dengan teknik aerob bisa menggunakan macam-macam metode seperti Metode Vermicomposting merubah cacing menjadi kascing, Metode Takakura menggunakan box atau drum berongga, dan Metode Windrow sistem terbuka dengan tumpukan statis. Berdasarkan kajian literatur bahwa pewadahan ketiga metode tersebut dapat digantikan dengan Composting Bag. Composting Bag merupakan wadah kompos yang dapat digunakan untuk proses pembuatan kompos yang sederhana menggunakan teknik aerob. Berbahan dasar UV Resisten dan memiliki tekstur rongga menjadikan Composting Bag mampu bertahan di berbagai cuaca sehingga kestabilan proses pengomposan terjaga dan memberikan pertukaran udara yang bagus karena oksigen merupakan hal penting bagi pengomposan aerob. Selain itu, Composting Bag menjadi solusi untuk lahan yang sempit.
Portrait of Environmental Governance in Waste Management in Malang City Rosyidatuzzahro Anisykurlillah; Stefanus Sampe
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 22, No 2 (2024): March 2024
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.22.2.503-511

Abstract

The government has set the main national targets for waste management, namely 30% waste reduction and 70% waste handling by 2025. However, waste generation in Malang City continues to increase yearly and is included in the high category in East Java. This study aims to analyze waste management in Malang City from an environmental governance perspective. The environmental governance perspective can be analyzed using Belbase's theory with seven indicators of good environmental governance, namely 1. the rule of law, 2. participation and representation, 3. access to information, 4. transparency and accountability, 5 decentralization, 6. institutions and institutions, 7. access to justice. Data collection was carried out using interviews, observation, and literature study. The data analysis used in this study is the interactive model analysis of Miles, Huberman, and Saldana. The portrait of environmental governance in Malang City waste management must fully reflect the principles of good environmental governance. This is because there are still records in the indicators of the rule of law, participation, and representation, as well as institutions and institutions. Constraints faced in waste management in Malang City include needing to be fully implemented, not yet maximal public awareness in reducing and sorting household waste, as well as institutions and institutions that could be more optimal in waste management.
Nilai Willingness To Pay Birdwatching di Indonesia Insan Kurnia; Harnios Arief; Ani Mardiastuti; Rachmad Hermawan
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 22, No 2 (2024): March 2024
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.22.2.302-312

Abstract

Birdwatching merupakan wisata pengamatan burung di alam bebas. Penelitian aspek penawaran telah banyak dilakukan, namun penelitian aspek permintaan masih sangat terbatas termasuk nilai willingness to pay (WTP). Penelitian bertujuan untuk menganalisis nilai WTP birdwatcher di Indonesia. Penelitian dilakukan pada Februari sampai Mei 2020 menggunakan kuesioner tertutup secara online dengan responden dari seluruh Indonesia. Nilai WTP dihitung dengan travel cost method (TCM) dari 1.062 responden yang mengisi kuesioner lengkap. Nilai rerata nilai WTP untuk setiap aspek adalah Rp 2.577.872,00 (aspek peralatan), Rp 1.482.257,00 (aspek perlengkapan khusus), Rp 1.772.410,00 (aspek transportasi), Rp 868.738,00 (aspek penginapan), Rp 918.832,00 (aspek makan dan minum), serta Rp 622.881,00 (aspek pemanduan). Proporsi nilai WTP paling tinggi adalah aspek perlengkapan (31%), sementara paling rendah adalah aspek biaya pemandu (8%). Nilai WTP meningkat seiring jarak lokasi tujuan birdwatching dari domisili. Semakin jauh tujuan maka nilai WTP juga semakin tinggi. Nilai WTP paling rendah adalah tujuan lingkungan rumah sebesar Rp 2.114.286,00 dan nilai paling tinggi adalah tujuan luar negeri sebesar Rp 23.583.333,00. Nilai total WTP untuk setiap individu birdwatcher adalah sebesar Rp 8.243.690,00.
Vegetasi Riparian Telaga Pengilon dan Gangguan Antropogenik Jumari Jumari; Tri Retnaningsih Soeprobowati
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 22, No 2 (2024): March 2024
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.22.2.455-463

Abstract

Telaga Pengilon merupakan satu dari sejumlah telaga yang ada di Dataran Tinggi Dieng. Alih fungsi lahan , menjadi acaman serius bagi kelestarian Kawasan Dieng, termasuk keberadaan Telaga yang banyak dijumpai di Dieng. Vegetasi riparian Telaga berperan penting dalam menjaga keberadaan dan kualitas perairan telaga. Penelitian ini bertujuan mengkaji struktur dan komposisi jenis, Indeks Nilai Penting (INP) vegetasi dan dampaknya terhadap gangguan antropogenik. Lokasi penelitian dibagi 2 stasiun: Stasiun 1 (pinggir telaga); Stasiun 2 (kawasan perbukitan sekitar Telaga Pengilon). Sampling vegetasi menggunakan plot kuadrat, penentuan titik secara sistematik random sampling. Hasil penelitian didapatkan komposisi jenis tumbuhan penyusun vegetasi riparian Kawasan Telaga Pengilon meliputi 9 jenis pohon, 16 jenis semak-perdu dan 17 jenis herba. Vegetasi pada kawasan pinggir telaga (St1) didominasi oleh jenis herba. Jenis herba yang dominan adalah rumput Lempuyang (Panicum repens; INP 128,45%) dan kodominan rumput Wlingi (Actinoscirpus grossus; INP 58,65%). Pada tingkat semak, jenis dominan Glonggong (Arundo donax; INP 141,94%) dan kodominan Kecubung Hutan (Brugmansia. soaveolens; INP 62,79%) menutupi pinggir telaga yang berbatasan dengan kawasan perbukitan. Kawasan perbukitan didominasi oleh jenis pohon Kasia (Acacia decurrens) dan Puspa (Schima walichii). Aktifitas manusia dalam pengambilan air telaga dengan jumlah besar mempercepat pendangkalan air telaga terutama di musim kemarau. Tergesernya dominasi Rumput Wlingi (A. grossus) oleh jenis Rumput Lempuyang (P. repens), mengindikasikan semakin cepatnya pendangkalan Telaga Pengilon.

Page 1 of 3 | Total Record : 30


Filter by Year

2024 2024