cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Ilmu Lingkungan
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : 18298907     DOI : -
Core Subject : Social,
Arjuna Subject : -
Articles 810 Documents
KONSEP PENGELOLAAN SAMPAH BERBASIS TEOLOGI Fatah, Abdul; Taruna, Tukiman; Purnaweni, Hartuti
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 11, No 2 (2013): Oktober 2013
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (273.463 KB) | DOI: 10.14710/jil.11.2.84-91

Abstract

ABSTRAKKonsep pengelolaan sampah berbasis teologi yang disebut dengan shodaqohsampah adalah modifikasi dari pengelolaan sampah berbasis 3 R (Reuse, Reduce, Recycle)dengan menambahkan unsur pendekatan teologi didalamnya. Tujuan penelitian ini adalahuntuk mengetahui fenomena yang terjadi, serta mengidentifikasi permasalahan dalampengelolaan sampah berbasis teologi di Desa Potorono, Kabupaten Bantul, DaerahIstimewa Yogyakarta.Jenis penelitian ini adalah deskriptif kualitatif yaitu penelitian yang menekankanpada penafsiran pada fenomena yang muncul di masyarakat yang menjadi objek kemudiandianalisa dan diinterpretasikan. Pendekatan yang digunakan untuk menganalisa penelitianini adalah fenomenologi. Pendekatan fenomenologi berusaha masuk dalam duniakonseptual subjek agar dapat memahami bagaimana dan apa makna yang disusun subjektersebut dalam kehidupan sehari-harinyaHasil dari penelitian dapat disimpulkan sebagai berikut, munculnya fenomenaperubahan paradigma dari masyarakat dari bershodaqoh sampah ke jual beli sampah.Manajemen pemilahan, penjualan, dan pelaporan berjalan cukup baik meskipun adakendala teknis dilapangan seperti tidak maksimalnya masyarakat dalam memanfaatkanwadah sak yang telah disediakan pangurus dan masih enggannya masyarakat untukmemilah sampah dari sumbernya, sehingga petugas pengambil sampah harus memilahulang karena sampah yang tercampur. Adanya kendala finansial dikarenakan masyarakatmulai bergeser paradigmanya dari menshodaqohkan sampah menuju jual beli sampah,mengakibatkan tersendatnya operasionalisasi shodaqoh sampah.Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan terdapat saran dan rekomendasisebagai berikut : Memberikan sentuhan teologis untuk memantapkan hati dalambershodaqoh sebagai wujud implementasi amal soleh yang diajarkan oleh agama semisaldengan meminta pengurus MLH (Majelis Lingkungan Hidup) Muhammadiyah untukmemberikan ceramah agama tentang manfaat dan pahala dari bershodaqoh salah satunyaadalah shodaqoh sampah. Perlu adanya komunikasi yang lebih intensif antara pengurusBMS (Bersih Menuju Sehat) dan masyarakat untuk memberikan pemahaman akan manfaatshodaqoh sampah untuk kemaslahatan bersama (masyarakat),Kata kunci : shodaqoh sampah, BMS (Bersih Menuju Sehat), MLH (Majelis Lingkungan Hidup)
Analisis Inkonsistensi Penggunaan Lahan di Kawasan Lindung DAS Cisadane Ianah Ianah
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 17, No 3 (2019): November 2019
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (403.511 KB) | DOI: 10.14710/jil.17.3.416-424

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kesesuaian pemanfaatan kawasan lindung dengan rencana pola ruang dan menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhinya untuk selanjutanya dapat merumuskan arahan pengen­dalian pemanfaatan ruang di kawasan lindung DAS Cisadane Kabupaten Bogor. Analisis spasial digunakan untuk mendapatkan informasi tentang penggunaan lahan, kepemilikan lahan, izin lokasi, dan evaluasi penggunaan lahan terhadap rencana pola ruang. Metode kualitatif melalui wawancara untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi inkonsistensi penggunaan lahan terhadap rencana pola ruang melalui tumpang susun peta RTRW 2016-2036 dengan tutupan lahan 2016. Perumusan arahan pengendalian pemanfaatan ruang diperoleh dengan analisis deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketidaksesuaian pemanfaatan lahan sebesar 22.7%, luas kawasan hutan yang tutupan hutan 25.35%. Faktorfaktor yang menyebabkan inkonsistensi karena ketidakpahaman masyarakat tentang rencana pola ruang kawasan lindung terutama yang bukan kawasan hutan, penegakan hukum yang lemah bagi pelanggaran ruang, kurangnya koordinasi dan transparansi dalam proses perizinan, kebutuhan lahan masyarakat sekitar hutan, Perubahan budaya bertani yang menurun dan fasilitas pertanian yang kurang men­dukung dan berpindahnya kepemilikan lahan. Oleh karena itu diperlukan instrument pengendalian melalui Trans­paransi, koordinasi dan integrasi dalam hal perizinan, RDTR perlu segera diselesaikan,  pemberian insentif dan disinsentif, dan sanksi, menumbuhkan aksi bersama dalam melakukan pengawasan dan pengendalian pemanfaatan ruang.
SOCIO-ECONOMIC FACTOR THAT INFLUENCING FARMING BEHAVIOUR AND FARMER PARTICIPATION LEVEL ON ENVIRONMENTAL MANAGEMENT IN BAUMATA VILLAGE, KUPANG DISTRICT Hendrik Ernantje; M R Pellokila; L. M Riwu Kaho
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 13, No 2 (2015): Oktober 2015
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (170.743 KB) | DOI: 10.14710/jil.13.2.104-117

Abstract

In an attempt to increase agricultural productivity and environtment, it is important to understand farmers’ behaviour and participation in agri-environmental management.   The study was conducted to analyze the influence of sosio-economic factor on farming behaviour and participation in agri-environmental management in Baumata village, Kupang District, Kupang, East Nusa Tenggara Province. The aims of this research were: 1) To find out sosio-economic factors influencing farming behaviour and participation; 2) To find out the relationship between farming behaviors and participation through environmental management. This research was a survey study of descriptive method, with samples were farmers who live and farming in Baumata Village. The respondents were 75 farmers household chosen with a ramdom sampling technique. Data analysis were conducted with Chi Square methods and Spearman Rank Correlation. Results showed that farming behaviours mean score were 17,84 (medium). The socio-economic characteristics influenced farmer’s behaviour in  agricultural activities were: age (χ2= 10,306; df = 2; p = 0,006), farming experience (χ2 = 10,720; df = 2; p = 0,005) and income (χ2 = 10,505; df = 2; p = 0,005);  while the socio-economic characteristics  that did not influence  farmer’s behaviour in agricultural activities were: education  (χ2 = 2,725; df = 4; p = 0,605), family size (χ2= 5,096 ; df = 4; p = 0,278). Participation in environmental management mean score was 17,33 (medium), there was no socio-economic characteristics  that  influence  farmer’s participation, while the socio-economic characteristics  that did not influence farmer’s participation in environmental management were: age (χ2 = 2,995; df = 2; sig = 0,224 ), education (χ2 = 4,504; df = 2; p = 0,105), family size (χ2 = 0,667; df = 2; p = 0,716), farming experience (χ2 = 2,575; df = 2; p = 0,276), and income  (χ2 = 2,150; df = 4; p = 0,341). Spearman Rank Correlation test result showed that there was significant relation between farming behaviours with level of participation in environmental manajement (rs = 0,383; p = 0,001).
Strategi Pengelolaan Hutan Mangrove Di Desa Tanggul Tlare Kecamatan Kedung Kabupaten Jepara Bekti Utomo; Sri Budiastuty; chatarina muryani
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 15, No 2 (2017): Oktober 2017
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (42.763 KB) | DOI: 10.14710/jil.15.2.117-123

Abstract

Pengelolaan hutan mangrove merupakan hal yang penting dalam mengupayakan pelestarian lingkungan di kawasan pesisir. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui dampak kegiatan rehabilitasi hutan mangrove dan strategi pengelolaan hutan mangrove di Desa Tanggul Tlare, Kecamatan Kedung, Kabupaten Jepara.Penelitian ini menggunakan pendekatan survei dengan wawancara langsung dan pengamatan lapangan. Populasi adalah seluruh penduduk pesisir di daerah penelitian, teknik pengampilan sampel menggunakan “cluster random sampling”. Dampak yang ditimbulkan dengan adanya rehabilitasi hutan mangrove di daerah penelitian adalah meningkatnya hasil tangkapanikan, mengurangi abrasi pantai, menahantiupan angin laut, semakin banyak tangkapan biota (udang, kepiting, kerang) di pesisir, danmenjadikan kawasan tersebut menjadidaerah objek wisata. Strategi yang perlu dilakukan dalam pengelolaan hutan mangrove diantaranya yaitu memanfaatkan potensi yang ada dengan dengan melakukan penanaman pohon mangrove, membentuk kawasan hutan lindung konservasi hutan mangrove agar kawasan hutan mangrove tetap terjaga baik dan lestari, memberikan sosialisasi atau pemahaman kepada masyarakat akan pentingnya menjaga hutan mangrove dan manfaat yang didapat oleh masyarakat, pentingnya kemajuan teknologi dan memberikan beasiswa kepada masyarakat yang dikira berkompeten dan aktif dalam rehabilitasi mangrove untuk melanjutkan sekolah yang lebih tinggi agar ilmu pengetahuan yang didapat bisa memberikan kontribusi yang positif untuk pengelolaan hutan mangrove yang ideal..Kata kunci: hutan mangrove, masyarakat, pengelolaanEnglish Title: Mangrove Forest Management Strategy In The Village Of Environmental Tlare District Kedung District JeparaABSTRACTManagement of mangrove forests is an important aspect in the effort to conserve the environment in coastal areas. The purpose of this research is to know the impact of mangrove forest rehabilitation and mangrove forest management strategy in Tanggul Tlare Village, Kedung Sub-district, Jepara Regency. This research uses survey approach with direct interview and field observation. Population is the entire coastal population in the study area, sample technique using cluster random sampling. The impacts of mangrove forest rehabilitation in the study area were increased fish catch, reduced coastal abrasion, retained wind breeze, more biota catches (shrimp, crabs, shells) on the coast, and made the area a tourist destination. Strategies that need to be done in the management of mangrove forests include the utilization of existing potentials by planting mangrove trees, establishing protected forest areas of mangrove forest conservation so that the mangrove forest area is maintained well and sustainably, providing socialization or understanding to the community about the importance of maintaining mangrove forests and Benefits gained by the community, the importance of technological advancement and providing scholarships to people who are thought to be competent and active in mangrove rehabilitation to continue their higher education so that the knowledge gained can contribute positively to the management of the ideal mangrove forests.Keywords: mangrove forest, community, managementCitation: Utomo, B., Budiastuti, S dan Muryani, C. (2017). Strategi Pengelolaan Hutan Mangrove Di Desa Tanggul Tlare Kecamatan Kedung Kabupaten Jepara. Jurnal Ilmu Lingkungan, 15(2), 117-123, doi:10.14710/jil.15.2.117-123
STUDI IDENTIFIKASI PENGELOLAAN LAHAN BERDASAR TINGKAT BAHAYA EROSI (TBE) (Studi Kasus Di Sub Das Sani, Das Juwana, Jawa Tengah) Wijayanti, Rathna
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 9, No 2 (2011): Oktober 2011
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (638.018 KB) | DOI: 10.14710/jil.9.2.57-61

Abstract

Kondisi Sub DAS Sani DAS Juwana, Jawa Tengah, saat ini sedang dalam kondisi kritis yang ditunjukkan dengan adanya banjir, sedimen, dan tingkat erosi tinggi. Untuk pengelolaan Sub DAS Sani, diperlukan studi untuk mengidentifikasikan dan mengkaji laju dan sebaran erosi, serta merumuskan urutan prioritas pengelolaan lahan berdasarkan TBE dan rekomendasi pengelolaan lahan guna kepentingan penanganan lahan. Hasil penelitian menunjukkan besarnya laju erosi dengan tingkat erosi normal (<15 ton/ha/thn) sebesar 64,64% dari luas wilayah, dan laju erosi berat sampai dengan sangat berat sebesar 9,498%. Berdasarkan Tingkat Bahaya Erosi (TBE), TBE dengan kategori sedang sampai dengan sangat berat seluas 4.425,92 Ha (17,42%) sehingga membutuhkan tindakan konservasi. Sebaran laju erosi maupun TBE sedang sampai sangat berat berada di lereng atas Gunung Muria dan sebagian di Perbukitan Patiayam. Semakin berat TBE maka semakin tinggi prioritas penanganannya. Hasil sebelum dan sesudah rekomendasi menunjukkan bahwa terjadi penurunan erosi yang signifikan pada laju erosi sedang sampai sangat berat yaitu dari 258.493,20 ton/ha/tahun menjadi 10.486,58 ton/ha/tahun, atau berkurang sebesar 248.006,62 ton/ha/tahun. Dari penelitian ini dapat disimpulkan: (1) TBE di Sub DAS Sani DAS Juwana yang memerlukan tindakan konservasi sebesar 4.425.92 Ha (17,42%), yang terdiri dari TBE sangat berat, berat, dan sedang, tersebar di daerah yang seharusnya menjadi lahan konservasi. Erosi ini terutama disebabkan oleh konversi lahan hutan ke bukan hutan, pengelolalaan lahan pertanian kurang atau tidak memperhatikan kaidah konservasi tanah dan air, dan belum adanya kesadaran partisipasi masyarakat dalam mengelola lahannya; (2) Berdasarkan hasil rekomendasi pada unit lahan-unit lahan dengan TBE sangat berat, berat, dan sedang, laju erosi dapat dikurangi sebesar 248.006 ton/ha/tahun. Upaya pengelolaan lahan dengan teknik konservasi yang sesuai dan memadai dapat mengurangi laju erosi. Berdasarkan urutan prioritas pengelolaan lahan dan arahan fungsi pemanfaatan lahan, rekomendasi pengelolaan lahan secara mekanik untuk lereng klas I – IV menggunakan teras gulud sedangkan lereng klas V menggunakan teras gunung. Untuk rekomendasi secara vegetatif, pengelolaan lahan disesuaikan dengan arahan pemanfaatan lahannya.
PENENTUAN PRIORITAS PENANGANAN BANJIR GENANGAN BERDASARKAN TINGKAT KERAWANAN MENGGUNAKAN TOPOGRAPHIC WETNESS INDEX Studi Kasus di DAS Solo Arina Miardini; Grace Serepina Saragih
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 17, No 1 (2019): April 2019
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1191.376 KB) | DOI: 10.14710/jil.17.1.113-119

Abstract

The increasing frequency of flood events is an indication of the failure of watershed management. Natural resource utilization activities in the Solo watershed tend to be intensive from upstream to downstream, cause a decrease in the carrying capacity of the watershed. To restore the carrying capacity of the watershed, efforts are needed to monitor and evaluate watersheds. The initial stage that needs to be done is to ensure the accuracy of the flood-prone areas by determining priority areas. The purpose of the study is to determine the flood-prone areas in the Solo watershed based on the level of flood vulnerability. Flood vulnerability is influenced by topographic conditions. The Topographic Wetness Index (TWI) method was used to determine the flood-prone areas. The high TWI value indicates that the area has high flood vulnerability and is associated with flat topography with high flow density. This method is based on raster data was derived from DEM 30 m data which is reduced to slope through spatial analysis tools and the accumulation flow is analyzed using Watershed Delineation Tools (WDT). Based on the results of the analysis, the priority of flood handling is determined in the criterion-very vulnerable area with TWI 11.65-38.30 identified as 387098.23 ha (39.68%). Flood handling in the Solo watershed is prioritized on 1) Bojonegoro Regency covering 105215.13 ha, 2) Ngawi (56810.68 ha), 3) Madiun (44102.06 ha), 4) Tuban covering an area of 43072.06 ha, and 5) Ponorogo (35853.62 ha).
Prediksi Erosi di Wilayah Jawa Timur Rhoshandhayani Koesiyanto Taslim; Marga Mandala; Indarto Indarto
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 17, No 2 (2019): Agustus 2019
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (737.533 KB) | DOI: 10.14710/jil.17.2.323-332

Abstract

Erosion is an event of eroding soil that occurs naturally.  However, human activities that change land use from natural (forestry, plantation, rural areas) to urban features can alter the erosion processes.  Rapid calculation of erosion level for the wide area is necessary for the management and conservation planning.  This research aims to analyze the erosion level in East Java area using USLE (Universal Soil Loss Equation) and GIS. The erosivity factor (R) is calculated from rainfall data. Vegetation factor (C) and the conservation factor (P) estimated from land use map.  The length and slope factor (LS) are calculated from the ASTER GDEM2, and the erodibility factor (K) is obtained from interpretation of soil map. Furthermore, all factors were analysed to calculate erosion rate. The result shows that the average erosion rate in East Java regions is 10,30 tons/ha/year.  The result also show that 78,71% area of East Java is classified as very low erosion rate (0-15 tons/ha/year); 10,75% classified as low erosion rate (15-60 tons/ha/year); 6,39% classified as  moderate erosion rate (60-180 tons/ha/year); and 2,83% is severe type (180-480 tons/ha/year). Only 1,31% from the total area is classified as very severe erosion rate (>480 tons/ha/year). The result also shows that USLE can be used to facilitate rapid erosion prediction for wide area.
HOUSEHOLD CHARACTERISTICS AND POTENTIAL INDOOR AIR POLLUTION ISSUES IN RURAL INDONESIAN COMMUNITIES USING FUELWOOD ENERGY Haryono Setiyo Huboyo
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 13, No 1 (2015): April 2015
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (607.55 KB) | DOI: 10.14710/jil.13.1.27-35

Abstract

Two rural communities using fuel wood energy in mountainous and coastal areas of Java island in Indonesia have been surveyed to know their household characteristics and the related potential indoor air pollution issues. By random sampling, we characterized fuel wood users only. The fuel wood use was mainly due to economic reason since some of the users were categorized as low-income families. Communities in the mountainous area were exposed to higher risk of indoor air pollution than those in coastal area due to their house characteristics and behavior during cooking. Both communities, however, were aware of indoor air pollution issues and indicated the sources. They also prioritized the factors to be controlled, which they perceived as the main cause of indoor air pollution problem.
Analisis Tingkat Kenyamanan Di DKI Jakarta Berdasarkan Indeks THI (Temperature Humidity Index) Wati, Trinah; Fatkhuroyan, Fatkhuroyan
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 15, No 1 (2017): April 2017
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (34.712 KB) | DOI: 10.14710/jil.15.1.57-63

Abstract

ABSTRAKFenomena iklim mempengaruhi kenyamanan fisiologis di daerah pemukiman. Analisa tingkat kenyamanan di DKI Jakarta dilakukan menggunakan THI (Temperature Humidity Index). Berdasarkan data iklim periode 1985 – 2012 stasiun Kemayoran, Tanjung Priok, Halim, Cengkareng dan Pondok Betung, hasil penelitian menunjukkan rata-rata prosentase tingkat kenyamanan harian dengan kategori tidak nyaman sebesar 22,1 % (81 hari per tahun), sebagian nyaman 71 % (259 hari per tahun) dan nyaman 7,1% (26 hari per tahun). Tingkat kenyamanan menunjukkan semakin ke tengah kota semakin besar prosentase tidak nyaman. Selama periode tersebut terjadi kecenderungan peningkatan indeks THI dengan signifikansi > 50% menunjukkan tingkat kenyamanan di DKI Jakarta cenderung semakin tidak nyaman.Kata kunci: tingkat kenyamanan, temperature humidity index, urban heat islandABSTRACTClimate phenomenon affects physiological comfortableness in residential area. Analysis of thermal comfort level in DKI Jakarta were conducted using THI (Temperature Humidity Index).  Based on climate data stations in Kemayoran, Tanjung Priok, Halim, Cengkareng dan Pondok Betung during 1985-2012 showed that the average percentage of daily thermal comfort level with categories uncomfortable were 22,1% (81 days per year), half comfortable 71 % (259 days per year) and comfortable 7,1% (26 days per year). The study showed that the greater percentage uncomfortable level, the closer into the center of the city and during 1985 to 2012 the THI index tend to increasing with significant level more than 50% meant that the thermal comfort level tend to more uncomfortable.Keywords: thermal comfort level, temperature humidity index, urban heat islandCitation: Wati, T dan Fatkhuroyan. (2017). Analisis Tingkat Kenyamanan Di DKI Jakarta Berdasarkan Indeks THI (Temperature Humidity Index). Jurnal Ilmu Lingkungan, 15(1), 57-63, doi:10.14710/jil.15.1.57-63
AKUMULASI LOGAM BERAT TIMBAL (Pb) SEBAGAI RESIDU PESTISIDA PADA LAHAN PERTANIAN (Studi Kasus Pada Lahan Pertanian Bawang Merah Di Kecamatan Gemuh Kabupaten Kendal) K Karyadi; S Syafrudin; Danny Soterisnanto
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 9, No 1 (2011): April 2011
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.9.1.1-9

Abstract

Keberhasilan pembangunan pertanian menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan terutama sumberdaya lahan. Produksi bawang merah rata-rata menurun setiap tahunnya, dikawatirkan akibat penggunaan bahan agrokimia seperti pestisida yang cenderung berlebihan baik konsentrasi maupun dosisnya, sehingga terjadi akumulasi logam-logam berat seperti Pb pada tanah. Penelitian ini bertujuan mengetahui: (i) pengaruh residu pestisida terutama logam berat Pb pada lahan pertanian bawang merah, (ii) tingkat pencemaran tanah akibat logam berat Pb, (iii) kandungan residu logam berat Pb dalam tanah. Metode penelitian adalah studi kasus pada lahan pertanian tanaman bawang merah dengan mengambil sampel tanah sebelum tanam dan sesudah panen, dan sampel pestisida yang digunakan, kemudian diuji kandungan Pb (mg/kg) baik sampel tanah maupun pestisida dengan metode uji AAS (Atomic Absorption Spectrophotometer). Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 7 (tujuh) macam pestisida yang digunakan para petani mengandung logam berat Pb, dan dalam satu musim tanam dapat menyumbang Pb dalam tanah sebanyak 2991,26 mg/Ha. Ada tambahan  logam berat Pb yang merupakan selisih antara sebelum tanam dan sesudah panen sebesar 43,071,60 mg/Ha.  Angka koefisien korelasi sebesar 0,989** menunjukkan adanya hubungan yang sangat kuat antara variabel dosis pestisida terhadap tambahan logam berat Pb. Uji regresi linier berganda variabel frekuensi penyemprotan, dosis pestisida, dan variabel kandungan Pb dalam pestisida terbukti berpengaruh sangat signifikan terhadap tambahan logam berat Pb dalam tanah. 

Page 10 of 81 | Total Record : 810


Filter by Year

2011 2025