cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Ilmu Lingkungan
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : 18298907     DOI : -
Core Subject : Social,
Arjuna Subject : -
Articles 821 Documents
VOLUME SEDIMEN DAN VALUASI EKONOMI SUMBERDAYA AIR EMBUNG DI KOTA KUPANG Dethan, Maxi Nikodemus; Pelokilla, Marthen Roby
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 12, No 2 (2014): Oktober 2014
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (206.039 KB) | DOI: 10.14710/jil.12.2.118-128

Abstract

Masalah yang dikaji dalam penelitian ini adalah analisis jumlah sedimen dalam kantung embung dan valuasi ekonomi sumberdaya air embung, dengan mengambil 3 (tiga) lokasi embung di Kota Kupang. Tujuan dari penelitian ini menghitung dan mengetahui jumlah sedimen dalam kantung embung dan valuasi ekonomi sumberdaya air embung. Hasil perhitungan sedimen embung Nononesnab diperoleh jumlah sedimen sebesar 1382,96 m3, embung Nonopasi  sebesar 976,82 m3, dan  embung Kampung Lama sebesar 186,18 m3. Nilai valuasi ekonomi sumberdaya air embung dilihat dari hasil perhitungan Total WTP sebagai berikut, untuk penawaran 1 (satu) embung sebesar Rp. 437.234,04, untuk penawaran 2 (dua) embung sebesar Rp. 295.744,68, untuk penawaran 3 (tiga)  embung sebesar Rp.225.531,91, untuk penawaran 4 (empat) embung sebesar Rp. 166.489,36 dan untuk penawaran 5 (lima) embung sebesar Rp. 100.638,30. Dari hasil nilai valuasi ekonomi sumberdaya air embung menunjukkan bahwa semakin tinggi penawaran penambahan pembangunan embung baru semakin rendah tingkat kesediaan masyarakat untuk membayar. This research has been done to analyse the sediment in quarries and economic valuation of water resources. The locations were at 3 quarries in Kupang City.  The result of sediment Nonoesnab quarry was 1.382,96 m3, Nonopasi quarry was 976,82 m3, and Kampung Lama quarry was 186,18 m3.  Economic valuation water resources as total WTP as follows, WTP of  1 quarry was Rp. 437.234,04, WTP of 2 quarries was Rp. 295.744,68, WTP of 3 quarries was Rp. 225.531,91,WTP of 4 quarries was Rp. 166.489,36 and WTP of 5 quarries was Rp. 100.638,30. Based on economic valuation of water resources showed that the higher the additional development of the quarry, the lower the public's willingness to pay.
Conflicting Role of Land Office and Forestry Department: A Comparative Discussion Regarding to Forest Offences Prevention in Malaysia Azizan, Muhammad Uzair; Bing, Tham Sikh; Mohd Raid, Maryanti; Mohammad, Mohammad Tahir Sabit; Hussin, Khadijah; Megat Abd Rahman, Megat Mohd Ghazali; Nadzri, Muhammad Izuan
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 15, No 1 (2017): April 2017
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1027.018 KB) | DOI: 10.14710/jil.15.1.11-19

Abstract

This article study the discrepancy between theory and practice, especially the roles play by Land Office and Forestry Department in term of overlapping of power and penalties between Land Office and Forestry Department especially the forest on the state land leading to susceptibility in monitoring and enforcement system. The whole empirical works took place in the Central Region of Peninsular Malaysia namely as Negeri Sembilan. The total area of permanent reserved forest in that state is 155,531 hectares including the Permanent Reserved Forest Johol which was selected as the case study in this research. An exploratory research design was adopted in this research. Therefore, in-depth interviews have been done with officers from the Land Office and Forestry Department regarding their role and powers in monitoring and enforcement system to combat forest offences in Permanent Reserved Forest Johol. While data collected was analyzed using the descriptive analysis method. Content analysis was used to identify the similarities and dissimilarities of acts that empower Land Office and Forestry Department to taking action against forest offences. Theoretically, there are overlapping powers occurs between Land Office and Forestry Department identified in National Land Code 1965 and National Forestry Act 1984 in terms of arrestment of the forest offenders and seized their equipment. However, penalties imposed by both acts are very different. Practically, both authorities have divided their responsibility and power accordingly to avoid overlapping. Issues and challenges that faced by them have been found and most of them are similar. There should be an amendment to the acts in terms of the penalty imposed by both authorities. The penalty stated in both acts should be synchronized or the related sections be removed if the authorities do not implement it practically to avoid overlapping and conflicting of action imposed between two acts.Keywords: state land, forest, forest offences, penalties, monitoring, enforcement, overlapping of powerCitation: Azizan, M.U., Bing, T.S., Raid, M.M., Mohammad, M.T.S, Hussin, K., Rahman, M.M.G.A., and Nadzri, M.I. (2017). Conflicting Role of Land Office and Forestry Department: A Comparative Discussion Regarding to Forest Offences Prevention in Malaysia. Jurnal Ilmu Lingkungan, 15(1), 11-19, doi:10.14710/jil.15.1.11-19
Pengaruh Paparan Medan Magnet 0,2 mT pada Ion Logam Fe dan Zn dalam media pertumbuhan terhadap produksi Protease Bacillus sp Sumardi Sumardi; Rochmah Agustrina; Bambang Irawan; Indah Selfiana
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 16, No 2 (2018): Oktober 2018
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (709.614 KB) | DOI: 10.14710/jil.16.2.173-177

Abstract

ABSTRAKTujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh paparan medan magnet 0.2 mT pada ion logam Fe dan Zn dalam media pertumbuhan terhadap produksi protease Bacillus sp.  Ion logam yang digunakan yaitu Fe dan Zn dalam bentuk garam FeCl3 dan ZnCl2. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ion logam Fe (0.01% b/v) yang terpapar medan magnet   mempunyai nilai Indeks Proteolitik 3,36 dengan lama inkubasi 10 jam, dan indeks proteolitik 2,74 dengan lama inkubasi 18 jam. Sedang ion logam Fe (0.01% b/v) yang tidak terpapar medan magnet mempunyai nilai Indeks Proteolitik 1,79 dengan lama inkubasi 10 jam, dan indeks proteolitik 2,12 dengan lama inkubasi 18 jam. Sedangkan pada ion logam Zn (0.005% b/v) yang terpapar medan magnet dan tidak terpapar medan magnet menyebabkan aktivitas Bacillus mati. Larutan ion logam Fe 0,01% dalam media cair menghasilkan produksi protease lebih baik (0,06 U/ml) dibandingkan dengan produksi protease tanpa dipemapar medan magnet (0,00 U/ml).Kata kunci: Bacillus sp., paparan medan magnet, indeks proteolitik.ABSTRACTThe purpose of this study was to determine the effect of metal ions Fe and Zn were exposed to a magnetic field of 0.2 mT to the production of proteases in Bacillus sp. The metal ions used are Fe and Zn in the form of FeCl3 and ZnCl2 salts. The results showed that the culture medium containing metal ions Fe (a 0.01% w/v) were exposed by the magnetic field has a value of proteolytic index of 3.36 with 10 hour long incubation, and proteolysis index of 2.74 with 18 hour incubation time. Culture medium containing metal ions Fe (a 0.01% w/v) which are not being exposed to the magnetic field has a value of proteolytic index of 1.79 with 10-hour long incubation, and proteolysis index of 2.12 with 18 hour incubation time. While the culture medium containing metal ions Zn (0.005% w/v) either exposed or not exposed to the magnetic field causes the activity of Bacillus sp die. The solution of 0.01% Fe metal ion in liquid medium resulted in better protease production (0.06 U/ml) than production of proteases without exposure to magnetic fields (0.00  U/ml)Keywords: Bacillus sp., magnetic field, proteolytic index, and proteolysis indexSitasi: Sumardi, Agustrina R., Irawan B., dan I. Selfiana. (2018). Pengaruh Paparan Medan Magnet 0,2 mT pada Ion Logam Fe dan Zn dalam media pertumbuhan terhadap produksi Protease Bacillus sp. Jurnal Ilmu Lingkungan, 16(2), 173-177,doi:10.14710/jil.16.2.173-177
ANALISIS PENAATAN PEMRAKARSA KEGIATAN BIDANG KESEHATAN DI KOTA MAGELANG TERHADAP PENGELOLAAN DAN PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP Goesty, Prathika Andini; Samekto, Adji; Sasongko, Dwi P
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 10, No 2 (2012): Oktober 2012
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (812.595 KB) | DOI: 10.14710/jil.10.2.89-94

Abstract

ABSTRAK Salah satu instrumen untuk mengelola dampak lingkungan adalah UKL-UPL, namun pemrakarsa belum sepenuhnya melakukan pengelolaan dan pemantauan lingkungan, tercermin dari data yang dimiliki Kantor Lingkungan Hidup Kota Magelang bahwa jumlah pelaporan rutin pemrakarsa sebesar 0%.  Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis ketaatan  serta kendala pemrakarsa dalam mengimplementasikan UKL-UPL serta pengawasan oleh Kantor Lingkungan Hidup Kota Magelang. Objek penelitian adalah 6 kegiatan di bidang kesehatan. Penelitian dilakukan menggunakan metode observasi dengan pendekatan analisis bersifat preskriptif berbasis data kualitatif.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemrakarsa belum taat, dikarenakan :  1) Belum menyadari bahwa lingkungan hidup adalah kepentingan publik yang tidak boleh dirusak, 2) SDM dan sarana kurang memadai, 3) Anggaran besar.  Pengawasan yang dilakukan Kantor Lingkungan Hidup Kota Magelang belum berjalan sebagaimana diharapkan.  Pengawasan dan koordinasi yang ada selama ini bersifat reaktif. Kata kunci: UKL-UPL bidang kesehatan, analisis penaatan, pengelolaan dan pemantauan lingkungan ABSTRACT Environmental Management and Monitoring Effort (UKL-UPL) is one of important instruments for maintaining environmental impact management. however, the effort has not been properly implemented in Magelang territory, according to data reported by the Municipal Office of Environmental Affairs of Magelang. It is disappointing that the local initiators did not give any routine report concerning the implementation progress. This study aimed to analyze degree of compliance and problems faced by the environmental initiators in implementing the UKL-UPL as well as monitoring by the Municipal Office of Environmental Affairs of Magelang. The study was obtained by an observation method using a prescriptive analytical approach based on qualitative data. Result of the study showed that the initiators’ lacking degree of compliance had caused poor quality of the environmental management and monitoring. Problems that faced the initiators included 1) poor awareness of the importance of preserving and sustaining the environment for common good, 2) poor quality of human resource and facilities, and 3) lacking budget. The Municipal Office of Environmental Affairs of Magelang had not performed monitoring properly. Both monitoring and co-ordination were still reactionary whenever a problem arose. Keywords: UKL-UPL based environmental health, analysis of compliance, management and monitoring
POTENSI KARBON PADA LIMBAH PEMANENAN KAYU Acacia Crassicarpa (Carbon Potential of Waste Timber Harvesting Acacia Crassicarpa) Y, Yuniwati; Suhartana, Sona
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 12, No 1 (2014): April 2014
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (136.192 KB) | DOI: 10.14710/jil.12.1.21-31

Abstract

ABSTRAK Pemanfaatan limbah kayu akibat pemanenan kayu merupakan suatu upaya untuk meningkatkan efisiensi pemanfaatan kayu sehingga dicapai kesimbangan antara berkurangya pasokan kayu bulat dari hutan alam dengan kebutuhan bahan baku kayu bulat. Selama ini pemanfaatan limbah kayu belum optimal, sehingga banyak limbah kayu yang ditinggalkan di dalam hutan dan dibiarkan membusuk di dalam hutan. Kegiatan tersebut mengakibatkan terjadinya proses dekomposisi pada limbah kayu. Proses pembusukan tersebut berarti emisi karbon ke atmosfer. Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui potensi karbon yang ada pada limbah pemanenan kayu Acacia crassicarpa. Metode penelitian adalah pengukuran potensi massa karbon pada tegakan Acacia crassicarpa kelas umur 2,3,4 dan 5 tahun dan pada areal setelah pemanenan kayu kelas umur 0 tahun untuk pengukuran massa karbon limbah kayu, bagian-bagian pohon dan limbah dianalisis uji laboratorium untuk mengukur kadar karbon serta penggunaan persamaan alometrik. Penelitian dilaksanakan di areal HTI rawa gambut PT Riau Andalan Pulp and Paper Sektor Pelalawan Riau pada tahun 2010. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata potensi karbon pada limbah kayu Acacia crassicarpa mengalami penurunan sebesar 2,62% dari tegakan sebelum pemanenan (tegakan umur 2,3,4 dan 5 tahun). Limbah kayu berupa tunggak merupakan limbah yang memiliki rata-rata potensi karbon yang lebih tinggi daripada jenis limbah yang lain, hal tersebut dikarenakan volume kayu pada limbah tunggak lebih besar. Volume kayu tunggak yang tinggi disebabkan kurang terampilnya operator chainsaw saat penebangan. Semakin banyak limbah kayu yang ditinggalkan di dalam hutan maka semakin besar potensi karbon akan hilang teremisi akibat pembusukan. Kata Kunci : Limbah kayu, pemanenan kayu, potensi karbon
Peningkatan Produksi Mocaf dengan Rancang Bangun Alat Pemotong Widayat Widayat; H Hadiyanto; Hantoro Satriadi; Meiny Suzery; Irawan Arif Budianto
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 17, No 3 (2019): November 2019
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (824.075 KB) | DOI: 10.14710/jil.17.3.515-521

Abstract

Singkong merupakan tanaman pangan berupa perdu dengan nama lain ubi kayu, singkong atau kasape. Singkong dapat diubah menjadi tape, alkohol, MOCAF (Modified Cassava Flour) dan juga diambil tepung tapiokanya. MOCAF adalah tepung singkong yang telah mengalami proses modifikasi baik fisika, kimia atau biologi. PT Mocaf Solusindo merupakan produsen MOCAF dan berdomisili di Sukoharjo. Dalam perkembangan telah melakukan pemberdayaan masyarakat Kecamatan Matesih Kabupaten Karanganyar untuk mengolah singkong menjadi produk MOCAF. Penelitian ini berhasil melakukan suatu rancang bangun alat pemotong singkong bermesin. Alat pemotong terdiri dari pisau pemotong yang dihubungkan oleh tuas dan digerakkan leh motor penggerak. Alat ini dapat meningkatkan kapasitas pemotongan yang semula hanya 50-56 kg per jam menjadi 250 kg/jam. Dengan demikian dapat meningkatkan 0mzet dari PT. Mocaf Solusindo dari Rp. 21.000.000, menjadi Rp.35.000.000,- per bulan.
Analisis Kualitas Air Sungai Guna Menentukan Peruntukan Ditinjau Dari Aspek Lingkungan Dedy Anwar Saleh Pohan; Budiyono Budiyono; Syafrudin Syafrudin
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 14, No 2 (2016): Oktober 2016
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1157.886 KB) | DOI: 10.14710/jil.14.2.63-71

Abstract

ABSTRAKSungai Kupang adalah salah satu sungai yang mengalir di Kota Pekalongan yang menerima limbah, baik dari industri, pertanian maupun domestik, Perkembangan industri dan pemukiman di sepanjang aliran sungai Kupang telah mempengaruhi kualitas air sungai. Penurunan kualitas air ditandai dengan perubahan warna air dan bau padahal sebahagian masyarakat di pinggiran sungai masih memanfaatkan air Sungai Kupang untuk kebutuhan sehari-hari. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kualitas air sungai Kupang berdasarkan baku mutu kualitas air sungai menurut PP Nomor 82 Tahun 2001, menghitung beban pencemar Sungai Kupang dan menentukan Status Mutu Air serta merekomendasi upaya pengelolaan kualitas air Sungai Kupang Pekalongan. Pengukuran kualitas air dilakukan pada 6 titik pengambilan sampel. Parameter yang diukur dan diamati adalah parameter Temperatur, TSS, pH, DO, BOD, COD, Kromium dan Phosphat. Untuk analisis Status mutu air Sungai Kupang dengan menggunakan metode indeks pencemaran dan daya tampung beban pencemaran dengan menggunakan metode Qual2Kw. Hasil penelitian pada kualitas air Sungai Kupang menunjukkan parameter  COD di beberapa titik telah melebihi baku mutu. Sedangkan untuk parameter BOD di semua titik telah melebihi baku mutu yang dipersyaratkan. Nilai konsentrasi BOD terendah adalah sebesar 5,75 mg/l, sedangkan nilai BOD tertinggi sebesar 27 mg/l. Kandungan BOD meningkat diduga karena sepanjang aliran sungai yang di mulai dari hulu hingga hilir banyak menerima limbah buangan, sementara berdasarkan status mutu air menunjukkan penurunan kualitas air dari hulu sampai ke hilir sungai, dimana pada bagian hilir telah tercemar ringan. Dan untuk hasil perhitungan beban pencemaran Sungai Kupang dari hulu ke hilir mengalami peningkatan, untuk beban pencemaran konsentrasi TSS adalah sebesar 20.670,334 kg/hari, sedangkan konsentrasi COD adalah sebesar 16.517,777 kg/hari, dan konsentrasi BOD yaitu sebesar 6.618,643 kg/hari.Kata kunci: Water Quality, Pollution Load, Kupang River ABSTRACTSungai Kupang is one of the rivers that flow in Pekalongan city that receives the waste, both from industrial, agricultural and domestic, industrial and residential development along the river Kupang have affected the quality of river water. Water quality degradation characterized by changes in water color and odor when sebahagian riverside communities still use river water Kupang for everyday needs. This study aimed to analyze the water quality of the river Kupang based on river water quality standards in accordance with Regulation No. 82 of 2001, calculating the pollutant load Sungai Kupang and determine Air Quality Status and recommend management measures Pekalongan Kupang River water quality. Water quality measurements performed at 6 sampling points. Parameters measured and observed are the parameters of temperature, TSS, pH, DO, BOD, COD, chromium and Phosphate. For the analysis of the water quality of Sungai Kupang status using the pollution index and pollution load capacity using Qual2Kw.The results of research on water quality of Sungai Kupang shows COD parameter at some point has exceeded the standard quality. As for the parameters BOD at all points have exceeded the quality standards required. BOD value is the lowest concentration of 5.75 mg / l, while the highest value of BOD of 27 mg / l. The content of BOD increased presumably because the watershed is in from upstream to downstream received many waste dumps, while based on the status of water quality showed a decrease in water quality from upstream to downstream, which in part has been lightly polluted downstream. And also for the calculation of pollution loads Kupang River from upstream to downstream has increased, to the pollution load of TSS concentration amounted 20670.334 kg / day, while the COD concentration is equal to 16517.777 kg / day, and the BOD concentration is equal to 6618.643 kg /day.Keywords:  Water Quality, Pollution Load, Kupang RiverCara sitasi: Pohan, D. A. S., Budiyono, Syafrudin. (2016). Analisis Kualitas Air Sungai Guna Menentukan Peruntukan Ditinjau dari Aspek Lingkungan di Sungai Kupang Kota Pekalongan. Jurnal Ilmu Lingkungan,14(2),63-71, doi:10.14710/jil.14.2.63-71
Uji Toksisitas Akut Dalam Penentuan LC50-96H Insektisida Klorpirifos Terhadap Dua Jenis Ikan Budidaya Danau Kembar, Sumatera Barat Taufiq Ihsan; Tivany Edwin; Nailul Husni; Widia Detiari Rukmana
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 16, No 1 (2018): April 2018
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (150.841 KB) | DOI: 10.14710/jil.16.1.98-103

Abstract

ABSTRAKPenggunaan insektisida klorpirifos mencapai 99,8% oleh petani di Provinsi Sumatera Barat. Fungsi utama klorpirifos dalam pertanian adalah melindungi tanaman jagung, kapas dan buah-buahan terhadap hama serangga. Klorpirifos yang telah disemprotkan ke tanaman, berpotensi terbilas oleh air dan mengalir ke wilayah perairan sehingga dapat mencemari ekosistem perairan. Salah satu biota perairan adalah ikan. Tak terkecuali kegiatan pertanian dan perkebunan di Kawasan Danau Kembar (Danau Di Ateh dan Danau Di Bawah), Sumatera Barat. Klorpirifos yang biasa digunakan para petani di kawasan ini adalah merk Dursban. Konsentrasi klorpirifos terdeteksi sebesar 0,007 mg/L di perairan danau tempat melakukan budidaya ikan. Jenis ikan yang biasa dibudidayakan di Danau Kembar adalah Ikan Mas (Cyprinus carpio L) dan Ikan Nila (Oreochromis niloticus). Penelitian ini bertujuan untuk melakukan uji toksisitas akut dan menganalisis nilai LC50-96h insektisida klorpirifos dengan menggunakan hewan uji dua jenis ikan budidaya tersebut pada skala laboratorium. Penentuan nilai LC50-96h mengacu pada Metode USEPA. Jumlah hewan uji untuk masing-masing jenis ikan adalah 240 ekor dengan umur ± 1 bulan. Penelitian dilakukan dengan dua kali pengulangan dengan metode static test. Uji toksisitas akut ini meliputi uji pendahuluan dan uji dasar. Pengujian berlangsung dalam kondisi fisik air sesuai batas yang diizinkan untuk pemeliharaan ikan budidaya yaitu pH 6 – 9, DO minimal 3 mg/L dan suhu 25 – 30 oC. Hasil penelitian uji toksisitas akut ini diperoleh nilai LC50-96h dengan menggunakan Metode Probit sebesar 0,03 mg/L (ikan mas) dan 0,08 mg/L (ikan nila). Berdasarkan nilai LC50-96h yang diperoleh, klorpirifos termasuk kategori sangat toksik, sehingga monitoring terhadap penggunaan insektisida ini sangat diperlukan.Kata kunci: Danau Kembar, Ikan Mas, Ikan Nila, Klorpirifos, LC50-96h, Toksisitas Akut.ABSTRACTThe use of chlorpyrifos insecticide reached 99.8% by farmers in West Sumatera Province. The main function of chlorpyrifos in agriculture is to protect corn, cotton and fruit trees against insect pests. Chlorpyrifos that have been sprayed into plants, potentially flushed by water and flowed into the water body so as to pollute the aquatic ecosystems. One of the aquatic biota is the fish. No exception agricultural and plantation activities in the area of Twin Lakes (Di Ateh Lake and Di Bawah Lake), West Sumatra. Chlorpyrifos commonly used by farmers in this region is the brand Dursban. Measurements of chlorpyrifos concentration was 0.007 mg/L in the waters of the lake where fish cultivation. Types of fish commonly cultivated in Twin Lakes are Common carp (Cyprinus carpio L) and Nile tilapia (Oreochromis niloticus). This study aims to perform the acute toxicity test and analyze the value of LC50-96h chlorpyrifos insecticide by using the test animals of two species of fish cultivation on the laboratory scale. The determination of the LC50-96h value refers to the USEPA Method. The number of test animals for each species of fish is 240 with an age of ± 1 month. The study was conducted with two repetitions using static test method. These acute toxicity tests include preliminary and baseline tests. The test takes place in the physical condition of the water according to the permitted limits for the maintenance of the aquaculture fish ie pH 6 - 9, DO at least 3 mg/L and temperature 25 - 30oC. The results of this acute toxicity test obtained LC50-96h value using Probit Method of 0.03 mg/L (carp) and 0.08 mg/L (tilapia). Based on the value of LC50-96h obtained, chlorpyrifos is a highly toxic category, so monitoring of the use of insecticides is important.Keywords: Twin Lakes, Common carp, Nile tilapia, Chlorpyrifos, LC50-96h, Acute ToxicityCitation: Ihsan, T., Edwin, T., Husni, N., dan Rukmana, W.D. (2018). Uji Toksisitas Akut dalam Penentuan LC50-96h Insektisida Klorpirifos terhadap Dua Jenis Ikan Budidaya Danau Kembar, Sumatera Barat. Jurnal Ilmu Lingkungan, 16(1), 98-103, doi:10.14710/jil.16.1.98-103
APLIKASI FITOREMEDIASI LIMBAH JAMU DAN PEMANFAATANNYA UNTUK PRODUKSI PROTEIN Hadiyanto, H; Christwardana, M
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 10, No 1 (2012): April 2012
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (721.867 KB) | DOI: 10.14710/jil.10.1.32-37

Abstract

ABSTRAK Industri jamu di Indonesia berkembang dengan pesat. Meningkatnya jumlah industri jamu berpengaruh terhadap kenaikan limbah yang dihasilkan, yang biasanya secara normal diproses dalam bak anaerobik menggunakan proses kimia dan biologi. Namun proses tersebut tidak ekonomis dan karena itu metode alternatif menggunakan sumber alami sangat dibutuhkan. Fitoremediasi adalah metode yang ramah lingkungan untuk mengurangi kontaminan menggunakan tanaman. Metode ini menggunakan tanaman air untuk menurunkan kadar COD dan nutrien yang terkandung dalam limbah jamu. Selama limbah mempunyai kandungan nutrien yang tinggi, sangat potensial untuk dijadikan media pertumbuhan alga Spirulina. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi penggunaan variasi jenis tanaman (eceng gondok dan teratai) pada penurunan kontaminan dan mencari komposisi nutrien yang optimal dari media pertumbuhan mikroalga. Fitoremediasi dilakukan 3-8 hari dan tinggi dari cairan pada reaktor dijaga konstant 5 cm. Efluen dari fitoremediasi kemudian digunakan untuk kultivasi Spirulina denga waktu kultivasi 15 hari. Nutrien eksternal ditambahkan setiap 2 hari dan konsentrasi biomass diukur dengan optical density-nya. Spirulina tumbuh dengan baik pada limbah jamu yang telah difitoremediasi menggunakan teratai selama 3 hari dan mempunyai rasio CNP sekitar 57,790 : 9,281 : 1 dengan laju pertumbuhan 0,271/hari. Kata Kunci: Fitoremediasi, tanaman air, Spirulina, limbah jamu, biomassa ABSTRACT Herbal medicine industry in Indonesia is progressing very rapidly. Increasing number of herbal medicine industries lead to an increase of the waste which are normally processed in anaerobic ponds by using chemical and biological process. However this process are not economical feasible and therefore an alternative method by using natural resource is required. Phytoremediation is an environmental friendly method to reduce contaminant using plant. This method uses water plant to reduce COD and nutrients content in the waste. Since the waste still high content of nutrient, therefore it is potential for medium growth of algae Spirulina. This study was aimed to evaluate the use of various plant species (water hyacinth and lotus) in decreasing contaminant and to determine optimal nutrient composition of the microalgae growth media. The phytoremediation was performed in 3-8 days and height of liquid in the tank was maintained constant at 5 cm. The effluent of first phytoremediation was transferred to second stage for cultivation of Spirulina with 15 days of cultivation time. The external nutrients were added each 2 days and the concentration of biomass was measured for its optical density. Spirulina grow well in herbal medicine waste that has been phytoremediation with lotus for 3 days and had a CNP ratio amounted to 57.790 : 9.281 : 1 with a growth rate of 0.271/day. Keywords: Phytoremediation, water plants, Spirulina, herbal medicine waste, biomass
Forest Change Monitoring and Environmental Impact in Gunung Palung National Park, West Kalimantan, Indonesia Nurul Ihsan Ihsan Fawzi; Angela Meike Indrayani; Keva DeKay
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 17, No 2 (2019): Agustus 2019
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (664.317 KB) | DOI: 10.14710/jil.17.2.197-204

Abstract

Gunung Palung National Park were protected since 1937 and become remain conserve largest dipterocarp forest in Borneo. The park has severe forest loss caused by anthropogenic activities and forest fire. To help inform conservation efforts about pattern and distribution of deforestation in the park, we measured forest cover change in the protected area using 11 multi-temporal Landsat series images with path/row 121/61. We found the park already loss 10.68% of its forest area in 1989 and 26% from an initial loss in 1989 in 1997 caused by El Niño event. Currently, deforestation rate is 0.21%, higher than global rate cause El Niño of 2015/16 event and make severe forest fire. The direct impact of deforestation and or degradation in a protected area is biodiversity loss and shortage water storage or flooding. This biodiversity loss created by habitat loss, fragmentation, or genetic drifting. Different wildlife and vegetation have a different response for habitat change and will reach the new equilibrium.

Page 9 of 83 | Total Record : 821


Filter by Year

2011 2025