cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Ilmu Lingkungan
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : 18298907     DOI : -
Core Subject : Social,
Arjuna Subject : -
Articles 810 Documents
Perilaku Membuang Sampah Makanan dan Pengelolaan Sampah Makanan di Berbagai Negara: Review Mochammad Chaerul; Sharfina Ulfa Zatadini
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 18, No 3 (2020): November 2020
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.18.3.455-466

Abstract

Dalam beberapa tahun terakhir, sampah makanan mejadi salah satu isu global. Peningkatan timbulan sampah makanan dapat menimbulkan masalah bagi rantai penyediaan makanan dan pelestarian lingkungan secara global di masa mendatang. Sampah makanan dapat dihasilkan pada semua tahap rantai pasokan makanan. Salahsatu kontributor utama dalam peningkatan timbulan sampah makanan di suatu wilayah adalah sektor rumahtangga. Tujuan studi ini untuk memberikan suatu tinjauan terhadap berbagai studi tentang food waste behavior, yaitu perilaku seseorang terkait sampah makanan dan konsep pengelolaan sampah makanan pada sektor rumah tangga yang dapat diterapkan di Indonesia berdasarkan implementasi pengelolaan sampah makanan di beberapa Negara. Selain dari berbagai macam laporan terkait pengelolaan sampah makanan di berbagai Negara, studi ini juga mereview paper ilmiah yang telah dipublikasikan di berbagai jurnal internasional. Pendekatan psikologi termasuk perilaku, keadaan sosio-demografi, dan rutinitas dan praktik terkait perencanaan makanan diidentifikasi ke dalam faktor yang mempengaruhi peningkatan timbulan sampah makanan. Selanjutnya, dapat ditentukan strategi pencegahan dan pengurangan sampah makanan dari faktor yang telah teridentifikasi diatas. Beberapa Negara telah mencoba melakukan pengelolaan sampah makanan secara terpadu dalam suatu sistem pengelolaan sampah skala Kota dimana kunci keberhasilannya adalah dilakukannya pemilahan sampah makanan yang lebih baik mulai di sumber untuk lebih memaksimalkan potensi pemanfaatannya di tahapan penanganan selanjutnya. Konsep yang serupa dapat pula diaplikasikan untuk kondisi Indonesia, terlebih dengan mempertimbangkan proporsi sampah makanan yang cukup signifikan ditemui dalam aliran sampah di area perkotaan.AbstractIn last few years, food waste becomes a global issue. Increasing of food waste generation leads to various problems for food supply chain and for environmental preservation globally in the future. Food waste could be generated from all stages of food supply chain. A main contributor for increasing food waste generation in a region is household sector. The study aims to provide a review of various previous studies related to food waste behavior and concept of food waste management from household that may be adopted for Indonesia based on best practices of those in several countries. In addition of those countries‘ report , the study reviews scientific papers that have been already published in several international journals. Psychological approach such as behavior, socio-demogrphic situation, and habit and practices related to a food preparation was identified to be an influencing factor for increasing food waste. Subsequently, measures for prevention and reduction of food waste from the factor indentified above. Several countries attempt to conduct the integrated food waste management within municipal solid waste management in a city in which the key to its success is a better food waste segregation starting at source to maximize the recovery in the next stage of handling system. In fact, similar concept could be adopted for Indonesian situation, especially by considering the siginficant proportion of food waste found in the stream of municipal solid waste from urban area.
Estimation of Communities and Tourists Willingness to Pay for Tsunami Disaster Mitigation of Marine Tourism in the Kalianda Coastal Area, South Lampung Regency Permana Ari Soejarwo; Rismawaty Rusdi; Taryono Kodiran; Umi Muawanah
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 19, No 1 (2021): April 2021
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.19.1.1-9

Abstract

Indonesia coastal areas have considerable natural disaster potential including in Kalianda District South Lampung Regency. Natural disasters such as earthquakes, tsunamis and volcanic activity are likely to occur in coastal areas. The disaster has an impact on economic losses in the marine tourism area. In order to mitigate tsunami disasters in the marine tourism area of Kalianda District, South Lampung Regency, 3 (three) types of tsunami mitigation are needed, namely: construction of coastal protection, installation of the Tsunami Early Warning System (TEWS) and planting of coastal vegetation. This study aims to determine the value of willingness to pay (WTP) of community and tourists in supporting the management of the three types of tsunami disaster mitigation above by using economic valuation / Contingent Valuation Method (CVM). The results of this study indicate that the WTP value of community for coastal protection management is Rp 15.547/person/month while the WTP value of tourist is Rp 12.030/one time entry. Meanwhile, for the WTP value of TEWS management is obtained Rp 12.174/person/month. WTP value for the management of coastal vegetation is Rp 12.444/person/month. The WTP calculation is based on consideration of 3 (three) factors, namely age, income, livelyhood and education level. This research shows that the community and tourists are willing to pay for the management of the three types of tsunami disaster mitigation through BUMDes and entrance fees for marine tourism area. The three types of tsunami disaster mitigation can protect, provide security and calm to the community and tourists in the marine tourism area of Kalianda District, South Lampung Regency from future tsunami.
Valuasi Ekonomi Ekosistem Mangrove Berbasis Ekowisata pada Hutan Desa di Kecamatan Batu Ampar Kalimantan Barat Abdul Jabbar; Rossie Wiedya Nusantara; Aji Ali Akbar
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 19, No 1 (2021): April 2021
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.19.1.140-152

Abstract

Ekosistem mangrove Batu Ampar terletak di muara sungai terpanjang di Indonesia yaitu Sungai Kapuas. Ekosistemnya memiliki permasalahan seperti ekosistem mangrove pada umumnya yang mengalami tekanan akibat pertambahan penduduk. Sebagian besar masalah tersebut merupakan dampak penggunaan lahan oleh masyarakat sekitar ekosistem. Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh kondisi ekosistem mangrove terhadap partisipasi masyarakat dan valuasi ekosistem mangrove berupa ekowisata dan hutan desa di Kecamatan Batu Ampar, Kalimantan Barat. Desa-desa yang diteliti berdasarkan intensitas pengelolaan ekowisata mangrove, dari yang paling lama hingga yang terbaru, yaitu Batu Ampar, Nipah Panjang, dan Medan Mas. Penilaian jasa ekosistem mangrove dihitung berdasarkan Total Economic Value (TEV) yang meliputi manfaat langsung, tidak langsung, keberadaan, dan pilihan. Valuasi mangrove untuk tiap desa dari yang tertinggi hingga terendah adalah Medan Mas (Rp 95.354.976/ha/tahun), Nipah Panjang (Rp 76.645.333/ha/tahun) dan Batu Ampar (Rp 68.195.913/ha/tahun). Kondisi ekosistem mangrove di kawasan Batu Ampar berdasarkan persentase luas mangrove terhadap luas desa, persentase kelas kerapatan tinggi dan ketebalan mangrove di masing-masing desa dari yang terbaik adalah Desa Batu Ampar 58,2%; 93,8%; 42.271 m, Desa Nipah Panjang 6.4%; 98,6%; 24.088 juta dan Medan Mas 4,5%; 80,2%; 7.236 m. Persepsi masyarakat tentang ekosistem dan ekowisata mangrove di kawasan mangrove Batu Ampar berbeda nyata antar desa. Secara berurutan, persepsi tertinggi hingga terendah adalah Nipah Panjang (3,7), Medan Mas (3,6) dan Batu Ampar (3,5). Kondisi mangrove yang baik tidak selalu berkontribusi positif dalam membentuk persepsi masyarakat yang tinggi dan meningkatkan valuasi ekonomi di Desa Batu Ampar. Namun demikian, persepsi masyarakat yang tinggi dapat membentuk valuasi ekonomi yang tinggi dan menjamin kondisi ekosistem mangrove di Desa Nipah Panjang. Selain itu, valuasi ekonomi yang tinggi tidak selalu memberikan kontribusi positif bagi ekosistem mangrove dan persepsi masyarakat di Desa Medan Mas.
Emisi Karbon Dioksida (CO2) dari Pertanian Skala Kecil di Lahan Gambut Jamaludin Jamaludin; Evi Gusmayanti; Gusti Zakaria Anshari
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 18, No 3 (2020): November 2020
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.18.3.582-588

Abstract

Pembukaan lahan gambut menyebabkan emisi gas karbon dioksida (CO2) ke atmosfer, termasuk alih fungsi hutan rawa gambut menjadi pertanian rakyat (skala kecil).Tujuan penelitian untuk mengukur emisi CO2 dari pertanian skala kecil di lahan gambut, yaitu perkebunan karet (Hevea brasiliensis) berumur 8-10 tahun, kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq) berumur 5-6 tahun, dan jahe (Zingiber officinale) berumur 0-6 bulan. Sampel gas CO2 diambil dengan metode sungkup tertutup (closed chamber). Pengukuran konsentrasi gas CO2 dilakukan dengan gas kromatografi. Sungkup ditempatkan pada dua kondisi lahan, yaitu perlakuan pemotongan akar (trenching) untuk mewakili respirasi heterotrofik, dan tanpa pemotongan akar untuk mewakili respirasi total. Hasil penelitian mendapatkan bahwa emisi CO2 dari pertanian rakyat memiliki kontribusi dalam meningkatkan konsentrasi CO2 di atmosfer. Total emisi CO2 dari kebun karet, kelapa sawit dan jahe, masing-masing sebesar 42,6 ton CO2 ha-1 th-1, 35,9 ton CO2 ha-1 th-1, dan 34,4 ton CO2 ha-1 th-1. Nilai respirasi heterotrofik dari kebun karet diperkirakan sebesar 61,4%, dan kelapa sawit 57,4%.  Pemotongan akar (trenching) pada pertanian jahe tidak efektif karena sistem perakaran serabut yang tidak menyebar jauh, sehingga respirasi heterotropik tidak dapat dipisahkan dari respirasi total.   Muka air tanah menunjukan hubungan yang negatif terhadap nilai emisi (r = -0,197, p-value = 0,023) dari ketiga penggunaan lahan. Besarnya emisi carbon dari pertanian skala kecil pada lahan gambut yang terdrainase mendekati nilai patokan (default value) IPCC 2014, yang antara 40 – 73 ton CO2 ha-1 th-1. Pengendalian emisi karbon dari pertanian skala kecil pada laham gambut berkontribusi penting dalam upaya untuk mencapai target penurunan emisi gas rumah kaca dari sektor pertanian.ABSTRACTConversion of peatland to smallholder agriculture leads carbon dioxide (CO2) emission into the atmosphere. This research aims to measure CO2 emissions from smallholder agriculture on tropical peatlands used for rubber (Hevea brasiliensis) 8-10 years, oil palm (Elaeis guineensis Jacq) 5-6 years,  and ginger (Zingiber officinale) 0-6 months. We collected gas samples from a closed chamber and measured CO2 emissions for four months, using gas chromatography. We separated heterotrophic from total respiration by trenching. The results showed that CO2 emissions from smallholder agriculture had a contribution to increase the concentration of CO2 in the atmosphere. Carbon emissions were 42.6 t CO2 ha-1 yr-1, 35,9 t CO2 ha-1 yr-1, and 34,4 t CO2 ha-1 yr-1 from rubber, oil palm, and ginger. The estimated autotrophic respiration in rubber and oil palm plantations was 38,6% and 42,8%, respectively. Water table depth shows a negative correlation to the CO2 emission (r = -0,197, p-value = 0,023). In conclusion, this research found a large carbon emission from small-scale agriculture on tropical peatlands, which is almost similar to carbon emission from other large-scale commercial plantations on drained tropical peat according to the 2014 IPCC default value, which ranges 40-73 t CO2 ha-1 yr-1. Reducing carbon emission from small scale agricultures on peatlands would significantky contribute to achieve the reduction of green house gas target in agricultural sector.
Penggunaan Bahan Bakar Alternatif dalam Pengelolaan Tambang Batubara sebagai Sumber Energi yang Ramah terhadap Lingkungan Frances Roi Seston Tampubolon; Arief Sabdo Yuwono; Armansyah Halomoan Tambunan; Noer Azam Achsani
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 19, No 1 (2021): April 2021
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.19.1.89-97

Abstract

Penggunaan alternative di masa masa seperti sekarang ini sangat diperlukan. Hal yang paling signfikan adalah penggunaan bahan bakar untuk pengolahan bahan mineral seperti batubara, nikel, tembaga dan lain sebagainya. Dengan penggunaan bahan bakar alternative akan memberikan solusi apabila dibandingkan dengan penggunaan bahan bakar fosil seperti minyak bumi yang sebentar lagi akan mulai habis. Batubara berkontribusi terhadap hujan asam dan kabut asap, terutama ketika dibakar tanpa scrubber. Studi LCA lengkap yang berisi analisis dampak (endpoint impact category) berdasarkan beberapa kategori kesehatan manusia (human health), ekosistem (ecosystem), dan sumber daya air (water resources). Analisis siklus hidup ini dilakukan untuk jenis logam di industri pertambangan. Analisis siklus hidup digunakan untuk menganalisis dampaknya terhadap kesehatan manusia dan pemanasan global. Akan dibutuhkan pengolahan dan penggunaan bahan bakar alternative tersebut sebagai sumber energi. Di dalam penelitian pengolahan data akan sangat dibutuhkan apabila pada saat melihat pengaruh dari penggunaan bahan bakar alternative terhadap kondisi lingkungan yang ada di sekitarnya. Dampak penggunaan listrik yang dikonsumsi untuk proses penambangan akan memberikan pengaruh terhadap meningkatnya efek pada pemanasan global. Fuzzy logic yang akan dikombinasikan dengan penggunaan metode LCA di dalam penelitian ini untuk membantu proses di dalam hal mengumpulkan data menggunakan kuesioner yang dipandu selama fase tujuan dan ruang lingkup (goal and scope) dan analisis persediaan. Selanjutnya metode open LCA untuk melihat hasil yang diperoleh dari data sekunder pada database yang diperoleh sebagai data sekunder. Dari hasil penelitian memberikan nilai 2,5 untuk proses land clearing dan top soil hauling dan nilai 2 untuk over burden stripping nilai 2 over burden disposal, nilai 2 untuk coal hauling dan hasil output memberikan nilai 0,529 untuk global warming potential.
Analisis Vegetasi Hutan Mangrove di Kabupaten Buton Utara (Studi Kasus di Kecamatan Kulisusu Barat, Kabupaten Buton Utara, Sulawesi Tenggara) Satya Agustina Laksananny; Erny Poedjirahajoe; Ris Hadi Purwanto; Muh Taufik Tri Hermawan
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 18, No 3 (2020): November 2020
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.18.3.515-521

Abstract

Kabupaten Buton Utara merupakan salah satu daerah yang potensial hutan mangrovenya dipengaruhi oleh kondisi ekologisnya. Lokasi penelitian ini di Desa Dampala Jaya dan Bumi Lapero, Kecamatan Kulisusu Barat, Kabupaten Buton Utara. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui : jenis vegetasi mangrove; struktur vegetasi penyusun hutan mangrove; Indeks Nilai Penting mangrove; Indeks keanekaragaman mangrove. Metode penelitian menggunakan kombinasi desain jalur dan metode garis berpetak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 5 (lima) jenis vegetasi mangrove, yaitu Bruguiera gymnorrhyza, Rhizophora stylosa, Xylocarpus granatum, Heriteria littoralis, Bruguiera parviflora. Indeks Nilai Penting di Desa Dampala Jaya yang tertinggi spesies Bruguiera gymnorrhyza di tingkat semai 100,05, tiang atau pancang 93,93 dan pohon 95,75; sedangkan terendah di tingkat semai Heriteria littoralis 12,71, tingkat tiang atau pancang dan tingkat pohon adalah spesies Bruguiera parviflora, masing-masing dengan nilai 17,71 dan 17,93. Indeks Nilai Penting tertinggi di Desa Bumi Lapero tingkat semai adalah Bruguiera gymnorrhyza  yaitu 82,28, tingkat pancang atau tiang Rhizophora stylosa yaitu 114,07, tingkat pohon Bruguiera gymnorrhyza 106,04, sedangkan yang terendah adalah spesies Bruguiera parviflora di tingkat semai 8, tingkat tiang atau pancang 12,66 dan tingkat pohon 22,78. Indeks keanekaragaman (H’) di Desa Dampala Jaya tertinggi di tingkat semai spesies Bruguiera parviflora 0,21, sedangkan tingkat tiang atau pancang dan pohon adalah spesies Bruguiera gymnorrhyza dan Rhizophora stylosa masing-masing 0,37, baik di tingkat pancang atau tiang dan pohon. Nilai Indeks Keanekaragaman di Desa Dampala yang tertinggi Rhizophora stylosa di tingkat semai 0,36, tingkat pancang atau tiang dan tingkat pohon spesies Bruguiera gymnorrhyza  dan Rhizophora stylosa yaitu 0,37. Indeks keanekaragaman di Desa Bumi Lapero tertinggi di tingkat semai spesies Rhizophora stylosa yaitu 0,36, di tingkat pancang atau tiang Bruguiera gymnorrhyza yaitu 0,37, di tingkat pohon Rhizophora stylosa yaitu 0,37. Nilai Indeks Keanekaragaman di Desa Dampala Jaya dan Desa Bumi Lapero rendah.ABSTRACTNorth Buton Regency is one of the areas where its mangrove forest potential impacted by its ecological conditions. The research was conducted at Dampala Jaya and Bumi Lapero village, Kulisusu Barat District, North Buton. The study aimed to determine the types of mangrove vegetation; the vegetation structure of the mangrove forest; Mangrove Importance Value Index; Mangrove diversity index. The research method used was a combination of path design and checkered line method. The results showed there were 5 types of mangrove vegetation, Bruguiera gymnorrhyza, Rhizophora stylosa, Xylocarpus granatum, Heriteria littoralis, Bruguiera parviflora. The Value Index in Dampala Jaya village showed Bruguiera gymnorrhyza has the highest index with 100,05 seedling level, 93.93 sapling level and 95.75 trees level; The lowest were Heriteria littoralis with 12,71 seedling level and Bruguiera parviflora with 17,71 saplings level and 17,93 trees level. The highest Importance Value Index in Bumi Lapero village were Bruguiera gymnorrhyza with 82,28 seedling level, Rhizophora stylosa with 114,07 sapling level, Bruguiera gymnorrhyza with 106,04 trees level; the lowest were Bruguiera parviflora with 8 seedling level, 12,66 sapling level and 22,78 trees level. The highest diversity index (H ') in Dampala Jaya village were Bruguiera parviflora with 0,21 seedling level, Bruguiera gymnorrhyza and Rhizophora stylosa both with 0,37 sapling level and trees level. The highest diversity index value in Dampala village were Rhizophora stylosa at the 0,36 seedling level, Bruguiera gymnorrhyza and Rhizophora stylosa both with 0,37 sapling level and trees level. The highest diversity index in Bumi Lapero village were Rhizophora stylosa with 0,36 seedling level, Bruguiera gymnorrhyza with 0,37 sapling level, Rhizophora stylosa with 0,37 trees level. The value of diversity index in Dampala Jaya and Bumi Lapero villages were low.
The Effect of Activator Addition to the Compost with Biopore Infiltration Hole (BIH) Method Yenni Ruslinda; Rizki Aziz; Larasati Sekar Arum; Novita Sari
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 19, No 1 (2021): April 2021
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.19.1.53-59

Abstract

The composition of organic waste reaches 59% of the total municipal solid waste in Indonesia. One way to process organic waste is composting by utilizing microorganisms to break down waste into compost. Naturally, the composting process took a long time but can be accelerated by adding microorganisms to the activator. This study analyzes the quality and quantity of compost using the Biopore Infiltration Hole (BIH) method with activator addition. Composting was duplicated in the yard area with clay soil type and water infiltration rate of 0,3 cm/hour. The BIH was made in a 10 cm diameter, a 100 cm depth, and the distance between the holes was 50 cm. Composting variations consist of variations in the composition of the raw materials and the activators' uses. Variations in the raw material composition consisted of 100% yard waste, 100% food waste, 50% yard waste and 50% food waste, and 70% food waste and 30% yard waste. In contrast, the activator variations consisted of no activator, EM4 activator, and Stardec activator. Compost analysis consists of maturity, quality of physical and macro elements, and quantity of compost. The results showed that all variations of composting had met the standard of maturity and quality of physical and macro elements according to SNI 19-7030-2004. The addition of activator affected composting time and compost quantity. The composting time in BIH with activator ranges from 41-60 days. In BIH without activator ranges from 65-75 days, there was a reduction in composting time by 15-25 days with the activator addition. However, the activator addition caused reducing the compost quantity by 10-20%. The selection of compost variations by scoring results in compost with a composition of 50% yard waste and 50% food waste and the addition of Stardec activators was the best variation in terms of compost maturity, quality, and quantity.
Bauran Pemasaran dan Perilaku Pengunjung Wisata Minat Khusus di Objek Wisata Kali Suci Caving dan Tubing Purwanto Purwanto; Nana Haryanti; S. Agung Sri Raharja
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 18, No 3 (2020): November 2020
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.18.3.467-475

Abstract

Kawasan karst merupakan ekosisten unik dan dijumpai gua-gua yang merupakan objek wisata yang potensial untuk dikembangankan. Salah satu kawasan wisata gua yakni Kali Suci Caving dan Tubing. Kelompok Sadar Wisata Desa Pacarejo (KSWDP), Kecamatan Ponjong, Kabupaten Gunungkidul mengelola Kali Suci Caving dan Tubing (KSCT) sejak tahun 2012. Untuk merespon keinginan pengunjung area wisata  maka perilaku manejemen pengelola dan perilaku pengunjung sebaiknya dikaji namun sedikit sekali pengelola area wisata mengkaji hal tersebut. Bagaimana KSWDP tersebut mengelola KSCT untuk merespon keinginan pengunjung dilakukan kajian perilaku pengelola dan perilaku pengunjung. Bauran pemasaran diaplikasikan pada kajian ini. Parameter yang dikaji yakni produk yang ditawarkan pengelola wisata kepada pengunjung, penentuan harga tiket dan penilaian pengunjung terhadap harga tiket, dan jenis promosi yang dilaksanakan oleh pengelola. Tokoh kunci dan responden yang diwawancarai yakni: Kepala Desa Pacarejo, Ketua KSWDP, dan pemandu wisata.   Data bauran pemasaran tersebut dianalisis dengan pendekatan kualitatif sedangkan untuk mengetahui perilaku pengunjung  dilakukan survei terhadap 72 orang responden dan dianalisis dengan pendekatan kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1). Objek Wisata Kali Suci merupakan objek wisata minat khusus yang terdiri dari gua, di dalamnya terdapat sungai bawah tanah yang memiliki daya tarik untuk caving dan tubing dengan menghabiskan waktu sekitar 35 – 40 menit. Untuk meningkatkan kepuasan pengunjung, maka 1) secara fisik objek wisata KSCT perlu diperpanjang ke arah hulu Sub DAS Kali Suci, sehingga waktu pengunjung untuk menikmati wisata caving dan tubing menjadi lebih lama, 2). Harga tiket kegiatan rekreasi sebesar Rp. 80.000,-/orang dan dikatakan wajar oleh seluruh pengunjung yang diwawancarai, sesuai dengan jasa wisata yang ditawarkan, dan 3). Promosi telah dilakukan oleh pengelola area wisata Kali Suci melaui media sosial, biro travel, dan melalui pengunjung yang pernah mengunjungi Kali Suci, namun demikian jumlah pengunjung mulai tahun 2016 mengalami penurunan.  Menurut pengelola KSCT, penurunan jumlah pengunjung akibat dari Badai Cempaka yang terjadi pada tahun 2017. Di sisi lain, jumlah kunjungan wisata di Kabupaten Gunungkidul sebagai daerah semestanya memengalami kenaikan sejak tahun 2008–2017. Oleh karena itu, pengelola KSCT perlu memahami lingkungan bisnis pariwisata dan perilaku pengunjung objek wisata minat khusus yang memiliki segmen pasar: petualang yang sebagian besar berumur muda, dan berpendidikan. Promosi perlu difokuskan pada segmen pasar tersebut. Di samping penguasaan  caving dan tubing, pemandu wisata perlu dibekali pengetahuan tentang pembentukan dan ekosistem gua, sehingga dapat menjelaskan secara komprehensif tentang ekosistem gua tersebut.AbstractKarst area is an unique ecosystem and there are found caves which potential for  tourist objects. One of the cave tourism area is Kali Suci Caving and Tubing. The Pacarejo Village Tourism Awareness Group (KSWDP), Ponjong District, Gunungkidul Regency has been managing Kali Suci Caving and Tubing (KSCT) since 2012. To respond  the need of visitors, management behavior and visitors behavior should be studied, however, this research is rarely carried out by the tourism area managers. The marketing mix is applied in this study. The parameters studied are the products offered by the tour manager to visitors, the determination of ticket prices and visitors' assessment of ticket prices, and the types of promotions carried out by the manager. Key persons  and respondents interviewed were: Head of Pacarejo Village, Head of KSWDP, and tour guides. The marketing mix data were analyzed using a qualitative approach, while to determine visitor behavior, a survey was conducted of 72 respondents and analyzed using a quantitative approach. The results show: 1). Kali Suci tourism area is an uniq interest tourism object consisting of a cave which has an underground river. The area has an attraction for caving and tubing. The activities takes 35 – 40 minutes. To increase visitor satisfaction, the physical attractions should  be extended  upstream of Kali Suci Sub Watershed so that the time for visitors to enjoy the tour is longer, 2). Ticket price for recreational activities is Rp. 80,000/person and was said to be reasonable by all visitors who interviewed according to the tour services offered, and 3). Promotion has been carried out by the manager of the Kali Suci tourism area through social media, travel agents, and visitors who have visited Kali Suci but the number of visitors starting in 2016 has decreased. According to the management of KSCT, the decrease in the number of visitors was due to the Cempaka Storm that occurred in 2017. On the other hand, the number of tourist visits in Gunungkidul Regency has increased. For this reason, KSCT managers need to understand the tourism business environment, visitor behaviors, and market segment of KSCT (adventurers who are mostly young and educated peoples). Promotion needs to focus on these market segments. Besides mastering in caving and tubing techniques, tour guides need to be trained with knowledge about the formation and ecosystem of the cave so that it can explain comprehensively about the ecosystem of the cave.
The Impact of Tidal Flooding on Decreasing Land Values in the Areas of Tugu District, Semarang City Westi Utami; Yuli Ardianto Wibowo; Fajar Buyung Permadi
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 19, No 1 (2021): April 2021
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.19.1.10-20

Abstract

Semarang City as one of the areas on the north coast has a serious problem related to tidal flooding. The impact of this disaster has implications for changes in land use, a decrease in environmental quality and health, the emergence of slum settlements, a decrease in income and also a decrease in land value. This study aims to map the impact of tidal flooding on changes in land values based on the Land Value Zone Map (ZNT) and map land prices based on spatial data analysis. The study was carried out through spatial analysis by overlaying (join intersection) the 2014, 2016, 2018 and 2019 ZNT maps to determine changes in land value, while mapping land prices, especially in Mangunharjo Village, was based on land use maps, positive accessibility (road network) and negative accessibility (prone flood rob). The results of the study show that land which is permanently affected by tidal flooding and cannot be used anymore makes it a lost / destroyed land, while periodically inundated land has experienced a price decline in the range of Rp 100.000 – 200.000, -/m2. Meanwhile, the results of the study from the ZNT map for 2014 to 2019 show a very significant difference in price between zone 1 and a price increase of ± Rp 3.500.000; zone 2 price increase ± Rp 575.000, -, zone 3 at a price range of Rp 385.000, and zone 4 as the tidal flood prone zone only experienced an increase of Rp 250.000,-. In this context, the variable of tidal flooding vulnerability greatly affects the stagnation of land prices and even decreases in land prices, while the positive accessibility variable is the location of land on national and local roads that has experienced a very high price increase.
Efektivitas Pengelolaan Taman Wisata Alam (TWA) Seblat di Provinsi Bengkulu dan Sejarah Status Fungsi Kawasannya Gunggung Senoaji; Guswarni Anwar; Edi Suharto
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 19, No 1 (2021): April 2021
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.19.1.153-162

Abstract

Taman Wisata Alam (TWA) Seblat di Provinsi Bengkulu, Indonesia, dengan luas 7.732,80 ha, merupakan kawasan hutan konservasi yang tujuan utamanya dimanfaatkan untuk kepentingan pariwisata alam dan rekreasi. Ekosistem hutan tropis dataran rendah dengan keanekaragaman hayati didalamnya dan adanya pusat latihan gajah (PLG) merupakan obyek daya tarik wisata kawasan TWA ini. Sebelum ditunjuk sebagai TWA kawasan ini merupakan hutan produksi.  Adaya habitat gajah dan satwa liar lainnya di dalamnya menjadikan alasan kawasan ini berubah fungsi menjadi hutan konservasi TWA. Pengelola hutan konservasi TWA Seblat adalah Balai Kosevasi Sumberdaya Alam Bengkulu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi penggunaan lahan saat ini, sejarah status fungsi hutannya dan tingkat efektivitas pengelolaan TWA Seblat.  Kondisi penggunaan lahan ditentukan dengan metode pemetaan dan survey lapangan. Pendekatan sejarah digunakan untuk mengetahui dinamika perubahan status fungsi kawasan hutannya, sedangkan efektivitas pengelolaan ditentukan dengan metode METT (Management Effektiviness Tracking Tools).  Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan lahan di kawasan Taman Wisata Alam Seblat yang berupa hutan luasnya sekitar 5.015 ha (64,9%), semak belukar sekitar 2.142 ha (27,7%), pertanian lahan kering campur sekitar 381 ha (4,9%), perkebunan sekitar 59,1 ha (0,8%), tanah kosong sekitar 109 ha (1,4%) dan sawah sekitar 6 ha (0,1%). Sebelum tahun 1995. status fungsi kawasan hutan TWA Seblat ini adalah  hutan produksi, pada tahun 1995 berubah menjadi hutan produksi tujuan khusus Pusat Latihan Gajah (PLG), dan sejak tahun 2011 berubah menjadi hutan konservasi TWA.  Tingkat effektivitas pengelolaan TWA Seblat termasuk dalam kategori efektif, dengan nilai 71%.  Untuk mengoptimalkan fungsi wisata alam dan rekreasi diperlukan penambahan fasilitas dasar, fasilitas wisata, dan rencana pengelolaan jangka pendek. 

Filter by Year

2011 2025