cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Ilmu Lingkungan
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : 18298907     DOI : -
Core Subject : Social,
Arjuna Subject : -
Articles 810 Documents
Analysis of Development Patterns of Built Land and Spatial Structure in Bandung City Using Landsat 8 Image Data Mukhoriyah Mukhoriyah; Samsul Arifin; Esthi Kurnia Dewi; Silvia Silvia
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 19, No 1 (2021): April 2021
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.19.1.36-42

Abstract

The development of an urban area and the increasing totally of population growth greatly affect the need for land. To satisfy these needs, the land changes into built land which causes the density of an area. This study aims to analyze the development pattern of built land and the spatial structure of Bandung City. The data used are the 2015-2020 Landsat 8 time series imagery, the 2019 SPOT-6 imagery, and the administrative boundary map. The analytical methods used to identify and differentiate between built and non-built land classes are NDVI (Normalized Difference Vegetation Index) and the OTSU method with a threshold of 0.1. Based on the analysis, the results obtained are that the changes in the area of built and non-built land in 2015 amounted to 7,115.9 Ha and in 2017 it was 5,977.3 Ha and for 2 years the area decreased by 4%. Meanwhile, in 2017-2019 there was an increase of 2%, and in 2020 it decreased by 2% again. Based on the results of the analysis, the development pattern of land developed in the city of Bandung generally spreads from the city center to the suburbs, which are used as service / government centers, trade and service areas, and infrastructure. With this spreading pattern, the spatial structure is in the form of multiple nuclei or evenly distributed throughout the city of Bandung, where the City Center or CBD is used as a landmark for the surrounding areas. The high development pattern of built land has an impact on the surrounding environment, especially residential areas that have high building density causing the settlement area to become slum and reduce water catchment areas. The conclusion of this study is that the changes in the built-in land from 2015-2020 decreased by 3%, with the development pattern of the constructed land spreading out following the form of the road network, both arterial, collector and local roads.
Analisis Keberlanjutan Biogas Skala Mikro di Pedesaaan (Studi Kasus di Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat) Ramdhan Aziz Al Batistuta; Arya Hadi Dharmawan; Bayu Eka Yulian
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 19, No 1 (2021): April 2021
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.19.1.181-190

Abstract

Penggunaan bioenergi sebagai energi terbarukan sudah mulai menggantikan penggunaan energi fosil secara bertahap. Upaya pemerintah dalam mendukung penggunaan bioenergi dengan membuat program Desa Mandiri Energi di berbagai tempat yang memiliki potensi sumber energi terbarukan. Keberlanjutan bioenergi sangat penting untuk dinilai agar kebutuhan energi saat ini dan kebutuhan energi dimasa yang akan datang dapat terpenuhi. Tujuan dari penulisan ini adalah untuk menganalisis status keberlanjutan biogas, mengidentifikasi atribut sensitif multidimensi keberlanjutan, serta merumuskan strategi pengembangan tata kelola sistem biogas secara berkelanjutan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif yang didukung oleh data kualitatif. Analisis data dilakukan dengan metode Multi Dimensional Scalling (MDS), menggunakan modifikasi program Rapfish dengan tinjauan pada lima dimensi yaitu dimensi sosial, ekonomi, lingkungan, teknologi dan kelembagaan. Penelitian ini dilaksanakan di Kampung Ciaul dan Kampung Babakan, Desa Cisondari, Kecamatan Pasir Jambu, Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat yang dipilih secara sengaja (purposive). Penentuan sampel dengan menggunakan teknik simple random sampling. Data yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari data primer dan data sekunder. Instrumen yang digunakan untuk pengumpulan data primer dalam penelitian ini adalah kuisioner dan pertanyaan terstruktur sebagai pedoman dalam melakukan wawancara mendalam. Hasil dari penelitian ini menunjukkan status keberlanjutan biogas secara dimensi sosial, lingkungan, teknologi, dan kelembagaan tergolong cukup berkelanjutan. Keberlanjutan biogas secara dimensi ekonomi tergolong kurang berkelanjutan. Setiap dimensi keberlanjutan terdapat dua atribut sensitif yang mempengaruhi secara signifikan. Atribut sensitif ditentukan berdasarkan nilai Root Mean Square (RMS) dari setiap atributnya. Rumusan strategi yang telah disusun berdasarkan atribut sensitif yang sudah ditentukan. Hal ini untuk memprioritaskan strategi-strategi dalam upaya meningkatkan status keberlanjutan biogas.
Pengaruh Beban Hidrolik pada Biofilter Anaerobik untuk Mengolah Air Limbah Rumah Potong Ayam dengan Menggunakan Persamaan Eckenfelder Muhammad Al Kholif; Sugito Sugito
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 18, No 3 (2020): November 2020
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.18.3.446-454

Abstract

Industri Rumah Potong Ayam (RPA) bergerak dalam fungsi pemotongan ayam hidup dan mengolah menjadi karkas yang siap konsumsi. Industri RPA menghasilkan limbah baik dalam proses itu sendiri serta dalam mencuci peralatan dan fasilitas, hal ini ditandai dengan tingginya konsentrasi zat organik dan padatan tersuspensi. Tujuan penelitian ini adalah mengkaji pengaruh beban hidrolik pada biofilter anaerobik dengan menggunakan persamaan Eckenfelder berdasarkan variasi konsentrasi air limbah. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen yang dilakukan dalam skala laboratorium. Variasi beban hidrolik yang digunakan yaitu 0,0015 m3/m2.hari, 0,0022 m3/m2.hari, dan 0,0035 m3/m2.hari. Media yang digunakan sebagai tempat tumbuh dan berkembangbiaknya mikroorganisme adalah media bio ball dan media koral. Penerapan teknologi pengolahan air limbah dengan sistem anaerobik meiliki keunggulan tersendiri bila dibandingkan dengan pengolahan air limbah secara aerobik. Penggunaan nilai konstanta 0,5 diperoleh nilai tertinggi sebesar 1,90 yang terjadi pada reaktor 3 (R3) pada media bio ball dan 0,99 pada media koral. Hal ini menunjukan bahwa penerapan persamaan Eckenfelder pada sistem anaerobik lebih baik dari sistem aerobik. Biofilter anaerobik memberikan efisiensi yang sama pada beban hidrolik yang rendah yaitu sebesar 0,0015 m3/m2.hari. Rata-rata efisiensi penyisihan beban pencemaran BOD5 dan COD mencapai 96 % pada reaktor 1 (R1).AbstractThe chicken slaughterhouse industry is engaged in the function of cutting live chickens and processing them into carcasses that are ready for consumption. The chicken slaughterhouse industry generates waste both in the process itself and in washing equipment and facilities, this is characterized by high concentrations of organic matter and suspended solids. The objective of this study is to examine the effect of hydraulic loads on anaerobic biofilter using the Eckenfelder equation based on variations in wastewater concentration. The method used in this study is an experimental method conducted on a laboratory scale. The hydraulic load is used namely 0,0015 m3/m2.day, 0,0022 m3/m2.day, and 0,0035 m3/m2.day. Media that is used as a growth and cultivation of microorganisms is bio ball media and coral media. The application of wastewater treatment technology with the anaerobic system has its advantages when compared to aerobic wastewater treatment. The use of a constant value of 0,5 obtained the highest value of 1,90 which occurred in reactor 3 (R3) on bio-ball media and 0,99 on coral media. This shows that the application of the Eckenfelder equation to anaerobic systems is better than aerobic systems. Anaerobic biofilter provides the same efficiency at low hydraulic loads in the amount of 0,0015 m3/m2.day. The average removal efficiency of BOD5 and COD pollution load reaches 96% in reactor 1 (R1).
Potensi Chlorella sp. dan Pseudomonas sp. dari Areal Tambang Emas sebagai Mikroorganisme Potensial Pereduksi Merkuri Liswara Neneng; Ardianoor Ardianoor; Hepryandi Luwyk Djanas Usup; Chaidir Adam; Zakaria Zakaria; Arintiana Ghazella; Srininta Br Perangin-angin; Vivin Alvianita
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 18, No 3 (2020): November 2020
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.18.3.617-625

Abstract

Kawasan hutan maupun sungai-sungai di Kalimantan Tengah, telah terdampak akibat kegiatan penambangan emas skala kecil (ilegal) selama puluhan tahun. Para penambang menggunakan merkuri sebagai bahan kimia utama dalam prosesekstraksi emas, dan setiap tahun melepaskan tidak kurang dari 1.000ton bahan berbahaya ini ke lingkungan, baik udara maupun air. Pencemaran merkuri di lingkungan perairan, dapat dikurangi atau dihilangkan dengan menggunakan sekelompok mikroorganisme yang mampu untuk mereduksi merkuri yang disebut dengan bioremediasi. Metode bioremediasi lebih ekonomis, karena mikroorganisme memiliki kemampuan untuk mendegradasi kontaminan ke dalam bentuk yang tidak berbahaya. Bakteri dan alga yang hidup di perairan sekitar tambang emas diduga memiliki kemampuan resistensi terhadap kontaminan logam berat merkuri. Sampel bakteri dan alga yang diambil dari sekitar tambang diseleksi dengan perlakuan merkuri (Hg) untuk mengetahui potensinya sebagai bioremediator logam berat. Penelitian ini bertujuan untuk Eksplorasi dan Optimasi Mikroorganisme Potensial untuk Bioremediasi Merkuri dari Areal Tambang Emas di Sungai Kahayan. Pengambilan sampel dilakukan di 5 titik yang teridiri 3 titik di areal tambang (T1, T2, T3), 1 titik di hulu tambang (HU), dan 1 titik di hilir tambang (HI). Hasil penelitian menunjukkan: (1) mikroalga potensial bioremediasi merkuri dari areal tambang emas sungai Kahayan termasuk ke dalam genus Chlorella dan mampu bertahan dengan perlakuan konsentrasi Hg sampai 7 ppm; dan (2) bakteri potensial bioremediasi merkuri dari areal tambang emas sungai Kahayan mampu bertahan dengan perlakuan konsentrasi Hg sampai 13 ppm yang terdiri dari 3 isolat, yakni I1 (bakteri dari sampel air), I2 (bakteri dari sampel air), dan I3 (bakteri dari sampel sedimen). Ketiga isolat bakteri potensial termasuk ke dalam kelompok bakteri Gram Negatif. Isolat 1 dan isolat 3 merupakan spesies Pseudomonas sp. berdasarkan kemampuannya menghasilkan pigmen berwarna kuning pada media cair.ABSTRACTForest areas and rivers in Central Kalimantan have been affected by small-scale (illegal) gold mining activities for decades. Miners use mercury as the main chemical in the gold extraction process, and annually release no less than 1,000 tons of this hazardous material into the environment, both air and water. Mercury pollution in aquatic environments can be reduced or eliminated by using a group of microorganisms capable of reducing mercury known as bioremediation. The bioremediation method is more economical, because microorganisms have the ability to degrade contaminants into harmless forms. Bacteria and algae that live in the waters around the gold mine are thought to have the ability to resist mercury heavy metal contaminants. Bacteria and algae samples taken from around the mine were selected with mercury (Hg) treatment to determine their potential as a heavy metal bioremediator. This research aims to explore and optimize potential microorganisms for bioremediation of mercury from the gold mine area in the Kahayan River. Sampling was carried out at 5 points consisting of 3 points in the mine area (T1, T2, T3), 1 point upstream of the mine (HU), and 1 point downstream of the mine (HI). The results showed: (1) the potential microalgae bioremediation of mercury from the gold mining area of the Kahayan River was included in the Chlorella genus and was able to survive the treatment of Hg concentrations up to 7 ppm; and (2) potential mercury bioremediation bacteria from the gold mining area of the Kahayan River were able to survive with a treatment of up to 13 ppm Hg concentrations consisting of 3 isolates, namely I1 (bacteria from water samples), I2 (bacteria from water samples), and I3 (bacteria from sediment samples). The three potential bacterial isolates belong to the Gram negative bacteria group. Isolate 1 and isolate 3 are Pseudomonas sp. species based on their ability to produce yellow pigment in liquid media.
Kategorisasi Karakteristik Ruang Terbuka Hijau Publik untuk Menunjang Kenyamanan Kota Yogyakarta Ayu Candra Kurniati; Akhmad Zamroni
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 19, No 1 (2021): April 2021
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.19.1.127-139

Abstract

Pentingnya ketersediaan RTH bukan hanya secara kualitatif namun juga kualitas bagi sebuah Kota diharapkan mampu untuk menunjang tingkat kenyamanan Kota. Kondisi lingkungan yang buruk dapat meningkatkan stres masyarakat karena terbatasnya ketersediaan ruang terbuka untuk berinteraksi sosial. Kenyamanan Kota Yogyakarta memiliki nilai terendah pada ketersediaan fasilitas ruang terbuka hijau. Terdapat beberapa RTHP di Kota Yogyakarta yang kurang ramah terhadap lansia, anak dan disabiltas karena kurangnya fasilitas dan kontur tanah lokasi RTHP yang dekat dengan sungai. Selain itu, terdapat 14 RTHP atau sebesar 29,79% yang memiliki kualitas kenyamanan tertinggi/sangat nyaman, 26 RTHP atau sebesar 55,32% yang memiliki kualitas kenyamanan sedang/nyaman dan 7 RTHP atau sebesar 14,89% yang memiliki kualitas kurang nyaman di Kota Yogyakarta. Berangkat dari pemikiran-pemikiran tersebut tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi karakteristik RTHP dalam menunjang kenyamanan Kota Yogyakarta. Hasil perbedaan karakteristik RTHP akan diklasifikasikan berdasarkan tujuh variabel kenyamanan Kota, yaitu variabel sirkulasi, kebersihan, keamanan, keindahan, bentuk, kebisingan dan penerangan.  Metode yang dipergunakan adalah analisis deskriptif kualitatif yang digambarkan dengan peta kategori RTHP masing-masing variabel. Kategori yang memiliki nilai kesamaan karakteristik dominan adalah kategori yang hanya terdiri dari dua-tiga kode kategori, seperti pada variabel keamanan, penerangan dan sirkulasi. Hal ini menunjukkan bahwa pada ketiga variabel tersebut pemerintah memiliki konsep yang matang dan pemahaman mengenai kenyamanan RTHP. Kategori yang memiliki variasi karakteristik yang cukup luas (banyak memiliki perbedaan karakteristik) yaitu pada variabel keindahan dengan 12 kode kategori. Selanjutnya,  kategori prioritas untuk meningkatkan kenyamanan pada variabel sirkulasi adalah kategori A, variabel kebersihan adalah kategori G, variabel keamanan adalah kategori A, variabel keindahan adalah kategori D, variabel bentuk adalah kategori E, kebisingan adalah kategori D dan penerangan adalah kategori A. Untuk perencanaan dan pembangunan RTHP selanjutnya, diharapkan pemerintah memiliki standar dalam mengidentifikasi variabel kenyamanan, sehiggga baik pengunjung maupun masyarakat sekitar dapat lebih nyaman beraktivitas di RTHP yang juga dapat menunjang kenyamanan Kota Yogyakarta.
Estimasi Emisi Partikulat (PM10) akibat Ragam Aktivitas Urban di Kota Surakarta Prabang Setyono; Widhi Himawan; Natasha Nancy
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 18, No 3 (2020): November 2020
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.18.3.556-564

Abstract

Pelaksanaan inventarisasi emisi PM10 di Surakarta bertujuan mengetahui nilai emisi tahunan PM10 dan sebaran kontributornya pada aktivitas masyarakat. Metode pengumpulan data dilakukan secara bottom up pada tahun 2014 terhadap tiga sumber utama emisi yaitu : sumber area, sumber titik dan sumber bergerak serta top down pada tahun 2019. Perhitungan emisi menggunakan formula baku emisi dengan faktor emisi berdasarkan EMEP/EEA Corinair. Khusus untuk transportasi pada ruas jalan utama, data bottom up dianalisis menggunakan software Mobilev 3.0. Hasil inventarisasi emisi PM10 menemukan nilai emisi total di Surakarta sebesar 220,20 ton/tahun. Nilai tersebut mayoritas dikontribusikan oleh sumber bergerak senilai 122,25 ton/tahun (55%), diikuti oleh sumber area (39%) dan sumber titik (6%). Nilai tersebut menurun menjadi 182,61 ton/tahun pada inventarisasi berbasis data top down tahun 2019. Transportasi menjadi kontributor utama emisi PM10 di wilayah administratif Surakarta pada inventarisasi tahun 2014 maupun 2019. Penelitian ini menunjukkan nilai penting penggunaan data bottom up untuk menurunkan ketidakpastian pada estimasi sekaligus meningkatkan validitas dan reliabilitas mitigasi. Penggunaan data bottom up menyediakan akses ke sumber emisi penting yang kerap tidak terdokumentasi oleh data sekunder seperti konsumsi bahan bakar kayu dan arang untuk industri dan kuliner jalan raya.ABSTRACTThe aim of this inventory is to estimate annual emission of PM10 and their anthropogenic contribution. This research was divided into two phase, distinguished by data collection method (bottom up method in 2014 and top down in method 2019). The estimation used are based on a basic emission formula from IPCC and an emission factors of EMEP/EEA Corinair, except for transportation emission which analyzed with an assistance of the Mobilev 3.0 software. The emission source was classified into three cluster referred to the IPCC Guideline (2006): area sources, point sources and mobile sources. The total emission calculated was 220,20 tonnes PM10 annually.  This value was contributed by the mobile sources (55%), followed by area sources (39%) and point sources (6%). The emission value reduced to 182,61 tonnes PM10 annually in 2019 with approaches of topdown method. Transportation was the main contributor of PM10 emission either on 2014 or 2019. Result shows an advantage of using a topdown approaches, which is to reduce research uncertainties and to increase on mitigation validity and reliability. Bottom up approach provides an access to a unique emission source which generally unidentified and not documented in secondary data, for example : charcoal and woodwaste consumption and the street food vendors
Community Development in Kemijen Village, East Semarang: A Corporate Social Responsibility in Practice Hartuti Purnaweni; Irzaldi Yazid; Mutia Nur Arifah; Anis Qomariah
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 19, No 1 (2021): April 2021
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.19.1.83-88

Abstract

Companies, either state-owned and private which operates in the field and/or related to natural resources must implement Corporate Social Responsibility (CSR), such as by PT Indonesia Power (PT. IP) UBP-Tambaklorok which is located nearby Tanjung Mas Harbor, Tambaklorok Village, North Semarang District. Semarang City. The CSR implementation should benefit for both sides, the company for its image and the local community for the implemented programs. Therefore it is important to analyse perception of the local community as well as their opinions about the company's CSR activities in their village, in this case is the people of Kemijen village which is located adjacent to the PT. IP’s area. This research is descriptive qualitative, done in 2019, describing the phenomenon of CSR implementation by PT. IP, and the perception of the local community of Kemijen village towards the CSR activities implemented by PT. IP. The informants were taken using purposive sampling technique, covering both formal and informal leaders, the local people, as well as community development officer of PT. IP. Primary data was gathered using in-depth interview technique and observation. Secondary data consist of documents. Primary and secondary data was then coded and analysed interactively. PT. IP has formulated and implemented the Company’s strategies into CSR Roadmap 2015-2019, which is the grand strategy and a milestone of CSR implementation to integrate CSR strategy into the Company’s strategy, in the sectors of education, health, economy, and infrastructure. According to the perception of the Kemijen villagers, there have been both benefit and insufficiency of the PT. IP’s CSR implementation. They expect more programs to be implemented, in order to allowing them more opportunities for poverty alleviation.
Ekologi Tradisional Dayak Tamambaloh Efriani Efriani; Jagad Aditya Dewantara; Dewi Utami; Indah Listyaningrum
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 18, No 3 (2020): November 2020
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.18.3.503-514

Abstract

Penduduk lokal khususnya yang tersebar di Nusantara memiliki beragam ekologi tradisional yang memiliki nilai-nilai konservatif. Di Kalimantan Barat, pada etnis Dayak Tamambaloh, terdapat fenomena pengelolaan lingkungan alam yang menjunjung nilai-nilai kelestarian. Mengkaji lebih dalam praktek ekologi tradisional Dayak Tamambaloh, menjadi tujuan utama penelitian ini. Data terkait praktek ekologi tradisional ini dikumpulan dengan wawancara mendalam, pengamatan lapangan dan studi dokumen. Tamanggung Tamambaloh, para petani, kelompok pengambil kebijakan dan pemangku adat Tamambaloh, ditentukan menjadi sumber informasi. Tindakan dalam pemanfaatan hutan dan isinya menjadi objek pengamatan. Beberapa buku terkait dengan profil ketamanggungan Tamambaloh, menjadi sumber informasi tertulis pada penelitian ini. Dari sejumlah data yang diperoleh di lapangan, ekologi tradisional Dayak Tamambaloh dapat dibagi dalam 4 kategori, yakni 1) pembagian kawasan adat berdasarkan peruntukannya, dan berdasarkan akses sumber daya, 2) Aturan akses sumber daya alam, 3) Proses pengambilan keputusan Pemanfaatan Sumber daya Alam, 4) Pengetahuan Gentika, dan 5) Kalender Musim. Kelima ekologi tradisional ini dapat direduksi ke dalam 4 model konservasi, yakni 1)Model Environmental Norms, 2) Model Proenvironmental Behavior  dan Environmental Concern, 3)Model Community Involvemen, dan 4) Model enviromental Dicision ABSTRACTThe Indigenous people, especially those scattered in the archipelago, has a variety of traditional ecologies that have conservative values. In West Kalimantan, the Dayak Tamambaloh ethnicity, there is a phenomenon of natural environmental management that upholds the importance of sustainability. Examining deeper into the traditional ecological practice of Dayak Tamambaloh is the main objective of this research. Data related to traditional ecological practices were collected through in-depth interviews, field observations and document studies. Tamanggung Tamambaloh, peasants, policy-making groups and Tamambaloh customary stakeholders were determined to be sources of information. Actions in forest utilization and their contents are objects of observation. Several books related to the Tamambaloh profile are the source of written information on this research. From a number of data obtained in the field, the traditional ecology of Dayak Tamambaloh can be divided into four categories, namely 1) division of common areas based on their designation and based on access to resources, 2) rules of access to natural resources, 3) Decision-making processes for the Use of Natural Resources, 4) scientific knowledge, and 5) seasonal calendars. These five traditional ecologies can be reduced to 4 conservation models, namely 1) Environmental Norms Model, 2) Proenvironmental Behavior and Environmental Concern Model, 3) Community Involvement Mode, and 4) Environmental Dicision Model.
Local Ecological Knowledge on Food Materials of Land Plant Origin in Kabola Ethnic Communities in Alor District, East Nusa Tengara Province Sanherip Laalobang; I. W. Mudita; Yosep Seran Mau
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 19, No 1 (2021): April 2021
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.19.1.43-52

Abstract

Local Ecological Knowledge (LEK) regarding local food plants is knowledge that is owned by local communities and is passed down from generation to generation. LED is obtained through a long process of adaptation and is used by local communities to address environmental problems. The Kabola ethnic group also has LEK regarding food plants used to solve food problems on dry land, but the LEK owned by the Kabola ethnic community is in danger of being lost. The method used is a mixed method (Mixed Methodology), which combines qualitative methods and quantitative methods, data collection begins with an exploration using a qualitative case study method by means of in-depth interviews followed by a quantitative survey method of the plant species mentioned during the interview. The results showed that the Kabola ethnic group still collects wild food plants from forests, former gardens and riverbanks, even though they have cultivated various types of food crops; The Kabola ethnic group community collects food plants during the rainy season and dry season, but most food gathering activities are carried out at the end of the rainy season and during the dry season; The people of the Kabola ethnic group collect food by using simple tools while leaving certain parts of the plant from which the food is collected; The people of the Kabola ethnic group still pass on local knowledge about foodstuffs to the younger generation through stories, personal experiences and providing examples or direct practices about plants that can be used to meet food needs; The Kabola ethnic group cultivates local food plants, but these cultivation efforts are only carried out individually and have not received support from the local government.
Validasi Metode Analisis Penentuan Kadar Logam Berat Pb, Cd dan Cr Terlarut dalam Limbah Cair Industri Tekstil dengan Metode Inductively Coupled Plasma Optical Emission Spectrometry Prodigy7 Arif Susanto; Tri Mulyani; Sandi Nugraha
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 19, No 1 (2021): April 2021
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.19.1.191-200

Abstract

Konsep pembangunan secara berkelanjutan diperlukan seiring dengan perkembangan industri. Aktivitas industri menghasilkan limbah buangan yang harus diolah sebagai salah satu konsep penerapan pembangunan berkelanjutan. Kehadiran logam berat dalam limbah cair industri yang melebihi baku mutu air buangan dapat mencemari lingkungan dan berbahaya bagi mahluk hidup. Keberadaan logam berat seperti timah hitam (Pb), cadmium (Cd) dan kromium (Cr) berbahaya bagi lingkungan di perairan karena toksisitas yang cukup tinggi dan non-biodegradable. Metode pengujian penentuan konsentrasi logam berat Pb, Cd dan Cr dalam limbah cair industri tekstil diperlukan untuk mendapatkan metode yang valid. Penelitian validasi metode dalam penelitian ini yaitu menggunakan proses pengujian melalui tahap preparasi dekstruksi basah, kemudian diuji dengan Inductively Coupled Plasma Optical Emission Spectrometry (ICP-OES) Prodigy 7. Metode ini bertujuan untuk mendapatkan 3 (tiga) kadar logam berat dalam satu waktu yang dibandingkan terhadap standar terukur. Validasi metode yang dilakukan untuk penentuan kadar logam tersebut telah memenuhi persyaratan validasi, dimana persentase Recovery sampel harus berada pada rentang 98-102% dengan nilai RSD <2%. Pada pengujian akurasi, presisi dan nilai regresi linear koefisien korelasi (R) >0,997 dan koefisien determinasi (R2) >0,995. Metode yang telah valid tersebut digunakan untuk pengujian terhadap salah satu sampel cair limbah industri yang bergerak di bidang tekstil yang berada di Kota Bandung. Hasil kandungan kadar Cd pada inlet 0,0010± 0,0002 mg/L dan kandungan kadar Cd outlet 0,0006± 0,0001 mg/L, kandungan kadar Cr inlet 0,0035± 0,0009 mg/L dan kandungan kadar Cr outlet 0,0000± 0,0000 mg/L, serta kandungan kadar Pb inlet 0,0565± 0,0157 mg/L dan kandungan kadar Pb outlet 0,0161± 0,0045 mg/L.

Filter by Year

2011 2025