cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota medan,
Sumatera utara
INDONESIA
Journal of Contemporary Islam and Muslim Societies
ISSN : 25286110     EISSN : 25287435     DOI : -
Core Subject : Social,
Journal of Contemporary Islam and Muslim Societies (JCIMS) is a peer reviewed academic journal, established in 2016 as part of the Universitas Islam Negeri (UIN) Sumatera Utara, Medan, dedicated to the publication of scholarly articles in various branches of contemporary Islam and Muslim societies in Indonesia, by which exchanges of ideas as research findings and contemporary issues are facilitated. JCIMS welcomes contributions of articles on Indonesian Islam studies, especially local Islamic studies.
Arjuna Subject : -
Articles 91 Documents
DINAMIKA ORGANISASI MUHAMMADIYAH DI SUMATERA UTARA Dja'far Siddik
Journal of Contemporary Islam and Muslim Societies Vol 1, No 1 (2017)
Publisher : UIN Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (234.256 KB) | DOI: 10.30821/jcims.v1i1.322

Abstract

Abstrak: Dari berbagai organisasi Islam yang tumbuh dan berkembang di Nusantara, bisa dikatakan bahwa NU dan Muhammadiyah menjadi dua organisasi Islam terbesar. Sebagai organisasi Islam, Muhammadiyah memiliki amal usaha yang sangat besar, dan telah berdiri di seluruh wilayah Indonesia. Cukup disayangkan, kajian selama ini masih terfokus pada Muhammadiyah secara nasional, tetapi kurang merambah sampai ke wilayah daerah, padahal Muhammadiyah di daerah relatif sukses dalam menanamkan ideologinya. Artikel ini akan mengkaji dinamika organisasi Muhammadiyah di Sumatera Utara. Kajian ini merupakan studi kepustakaan, di mana datanya berasal dari telaah terhadap dokumen terutama dokumen resmi organisasi ditambah dengan referensi karya para ahli tentang gerak juang organisasi ini baik secara nasional maupun lokal. Kajian ini mengajukan temuan bahwa Muhammadiyah telah memasuki daerah Sumatera Utara sejak masa kolonial, dimana organisasi ini banyak mendapatkan penentangan dari penjajah dan pihak kesultanan di Sumatera Timur, meskipun akhirnya kondisi sosial politik di Sumatera Utara di era kemerdekaan membuat Muhammadiyah dapat dengan leluasa mengembangkan paham dan gerakannya hingga menjadi organisasi besar di kawasan ini menyaingi Al Washliyah dan Al Ittihadiyah. Kajian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi pengkajian Islam di Nusantara, dan memperkuat referensi tentang Islam dan Muhammadiyah di luar Jawa. Kata Kunci: Organisasi Islam, Muhammadiyah, Tapanuli, Sumatera TimurAbstract: The Dynamics of Muhammadiyah Organization in North Sumatera. From various Islamic organizations which growing and developing in Indonesia archipelago, it can be said that NU and Muhammadiyah become the two largest Islamic organizations. As an Islamic organization, Muhammadiyah has a huge business charity spread throughout the territory of Indonesia. Unfortunately studies on Muhammadiyah have so far scrutinized this organization at national level, tending to overlook some of its interesting and sometimes peculiar local developments.  This article will examine the dynamics of the Muhammadiyah in North Sumatra. The data of this study is obtained from official documents of the organization plus primary works of experts about the movement of this organization nationally and locally. This study proposes that Muhammadiyah has established itself in North Sumatra (then, East Sumatra) since the colonial era, where this organization has received much opposition from the colonists and the existing sultanates. The independence changes the socio-political conditions of North Sumatra, providing Muhammadiyah more freedom to develop its religious understanding and movement, until it became a large organization in the North Sumatra opposing Al Washliyah and Al Ittihadiyah. This study is expected to contribute to the study of Islam in the Indonesia archipelago, and strengthen the reference of Islam and Muhammadiyah outside of Java. Keywords: Islamic Organization, Muhammadiyah, Tapanuli, East Sumatera
SYEKH ABDUL HALIM HASAN, 1901-1969: Akar Tradisi Intelektual di Sumatera Timur Awal Abad XX Zaini Dahlan
Journal of Contemporary Islam and Muslim Societies Vol 2, No 1 (2018)
Publisher : UIN Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (195.109 KB) | DOI: 10.30821/jcims.v2i1.1738

Abstract

Abstrak: Penelitian ini mengkaji biografi dan kiprah intelektual Syekh Abdul Halim Hasan di Sumatera Timur. Keberlangsungan tradisi intelektual di Sumatera Timur dipengaruhi, salah satunya, oleh kemunculan ulama-ulama di kawasan ini. Sebagian mereka berasal dari etnis Melayu, dan tidak sedikit dari mereka merupakan ulama yang berasal dari etnis Mandailing yang merantau dari kawasan Tapanuli ke Sumatera Timur. Studi ini mengkaji bagaimana peran Syekh Abdul Halim Hasan yang berasal dari etnis Mandailing dalam mengembangkan tradisi intelektual Islam di Sumatera Timur. Dengan menggunakan pendekatan sosiologis-historis, studi ini mengajukan temuan bahwa Syekh Abdul Halim Hasan memberikan kontribusi bagi penguatan tradisi intelektual Islam di Sumatera Timur. Ia tidak saja menghasilkan karya akademik dalam berbagai bidang keislaman, tetapi juga mampu melahirkan ulama berbakat selain turut memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan di tanah kelahirannya.     Abstract: Syekh Abdul Halim Hasan, 1901-1969: The Roots of Intellectual Tradition of East Sumatra in Early 20th Centuries. This study examines the biography and intellectual work of Syekh Abdul Halim Hasan in East Sumatra. The continuation of intellectual traditions in East Sumatra is influenced, among others, by the emergence of scholars in the region. Some of these scholars were local Malays; but a few of them were from Mandailing ethnic who had migrated from South Tapanuli. This study examines the role of Syekh Abdul Halim Hasan, a migrating scholar from Mandailing, in developing Islamic intellectual traditions in East Sumatra. Using a sociological-historical approach, this study proposes the findings that Syekh Abdul Halim Hasan had indeed contributed significantly in strengthening Islamic intellectual traditions of the region. He authored academic works in various fields of Islam, trained younger talented scholars, and also involved in independence struggle in his homeland. Kata Kunci: Mandailing, Melayu, Sumatera Timur, Syekh Abdul Halim Hasan
PENDIDIKAN ISLAM DI TANAH MELAYU: Sistem Pendidikan Madrasah al-Jam’iyatul Chalidiyah di Langkat, 1941-2016 Rafika Nisa
Journal of Contemporary Islam and Muslim Societies Vol 1, No 2 (2017)
Publisher : UIN Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (190.357 KB) | DOI: 10.30821/jcims.v1i2.1033

Abstract

Abstrak: Artikel ini mengkaji sistem pendidikan di Madrasah Al-Jam’iyatul Chalidiyah di Langkat. Kajian ini dilatari oleh keyakinan bahwa ada banyak lembaga pendidikan Islam yang didirikan sepanjang era kolonial, dan terus bertahan sampai era kemerdekaan. Secara khusus, kajian ini hendak meneliti eksistensi Madrasah Al-Jam’iyatul Chalidiyah ditinjau dari perspektif ilmu pendidikan Islam, sehingga akan dianalisa tujuan, pendidik dan peserta didik, kurikulum, metode, dan fasilitas pendidikan madrasah ini. Objek kajian akan didekati dengan pendekatan sejarah, dan data penelitian diperoleh melalui kegiatan telaah dokumen. Kajian ini menemukan bahwa sistem pendidikan di Madrasah Al-Jam’iyatul Chalidiyah telah mengalami banyak perubahan setelah berusia 75 tahun yang dapat dibagi menjadi tiga fase, yakni fase sebelum kemerdekaan Indonesia, sesudah kemerdekaan Indonesia dan reformasi. Kajian ini diyakini dapat memperkaya referensi dalam bidang sejarah pendidikan Islam di luar Jawa, khususnya di dunia Melayu.Abstract: Islamic Education in Malay Land: The Education System of Madrasah al-Jam’iyatul Chalidiyah in Langkat, 1941-2016. This article examines the education system at Madrasah Al-Jam'iyatul Chalidiyah in Langkat. This study is based on the belief that there are many Islamic educational institutions established throughout the colonial era, and continue to survive until the era of independence. In particular, this study will examine the existence of Madrasah Al-Jam'iyatul Chalidiyah from the perspective of Islamic education science, so that will be analyzed purposes, educators and learners, curriculum, methods, and educational facilities of this madrasah. The object of the study will be approached with a historical approach, and research data is obtained through document review activities. This study found that the education system at Madrasah Al-Jam'iyatul Chalidiyah has undergone many changes after 75 years of age which can be divided into three phases, the pre-independence phase of Indonesia, after Indonesian independence and reform. This study is believed to enrich references in the history of Islamic education outside Java, especially in the Malay world.Kata Kunci: sistem pendidikan, madrasah, Melayu, Langkat, Al-Jam’iyatul Chalidiyah
AL-FÂTIHAH DALAM PERSPEKTIF MUFASIR NUSANTARA: Membandingkan Tafsir al-Qur’anul Majid an-Nur dan Tafsir al-Azhar Arivaie Rahman
Journal of Contemporary Islam and Muslim Societies Vol 2, No 1 (2018)
Publisher : UIN Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (213.682 KB) | DOI: 10.30821/jcims.v2i1.1742

Abstract

Abstrak: Artikel ini mendiskusikan tentang penafsiran surah al-Fâtihah menurut mufasir Indonesia, Hasbi ash-Shiddieqy dengan karyanya tafsir al-Qur’anul Majid an-Nur dan Hamka dengan karyanya tafsir al-Azhar. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif-analisis-komparatif. Penafsiran terhadap surah al-Fâtihah dapat diklasifikasikan mejadi dua komponen penting: komponen eksternal dan komponen internal. Komponen eksternal membicarakan tentang unsur-unsur luar surah al-Fâtihah, yaitu tentang penamaan surah, tempat dan periode turunnya surah, jumlah ayat dalam satu surah, fadhilah surah, asbâb al-nuzûl, lafal ta‘awudz dan âmîn. Sedangkan komponen internal merupakan unsur dalam surah al-Fâtihah, yaitu tauhid, janji dan ancaman, ibadah, jalan memperoleh kebahagiaan, dan kisah umat terdahulu. Hasil penelaahan terhadap kedua tafsir tersebut ditemui titik-titik perbedaan, namun perbedaan itu tidak prinsipil tetapi menarik untuk diungkap, misalnya Hasbi meyakini bahwa basmallâh merupakan ayat tersendiri yang terpisah dari surah al-Fâtihah. Hal ini berbeda dengan Hamka dan kebanyakan ahli tafsir yang umumnya menganggap basmallâh merupakan ayat pertama dari surah al-Fâtihah.  Abstract: Perspectives of Nusantara’s Mufassirs on al-Fâtihah: Comparing Tafsir al-Qur’anul Majid an-Nur and Tafsir al-Azhar. Using descriptive-analytical-comparative approach, this article discusses the interpretations of surah al-Fâtihah according to Hasbi ash-Shiddieqy’s masterpiece Tafsir al-Qur’an al-Majîd al-Nûr and Hamka’s Tafsir al-Azhar. The interpretation of surah al-Fâtihah can be classified into two important components: external components and internal components. The external components speak about the external elements of the surah al-Fâtihah, namely: the naming of surah, places and periods of revelation of the surah, its number of verses, asbâb al-nuzûl, pronunciation ta‘awudz and âmîn. While the internal component is the messages contained surah al-Fâtihah, namely: monotheism, promises and threaths, worship, the way of gaining happiness, and story of the past. The study found that the two authors differ at some points, although not principel ones. For example, Hasbi believes that basmallâh is a separate verse from surah al-Fâtihah, while Hamka, as do most commentators, considers basmallâh as the first verse of surah al-Fâtihah.Kata Kunci: quran, mufasir, Nusantara, HAMKA, M. Hasbi ash-Shiddieqy
PEMBELAJARAN KITAB KUNING DI PESANTREN MUSTHAFAWIYAH, MANDAILING NATAL Al Rasyidin
Journal of Contemporary Islam and Muslim Societies Vol 1, No 1 (2017)
Publisher : UIN Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (193.841 KB) | DOI: 10.30821/jcims.v1i1.324

Abstract

Abstrak: Kitab kuning sejak lama menjadi bagian penting studi Islam di Indonesia, sejak era pertumbuhannya sampai kini. Pesantren, dan agak belakangan madrasah, menjadi garda terdepan dalam pengkajian dan pelestarian khazanah kitab kuning di Nusantara. Kitab-kitab yang dikaji meliputi bidang tafsir, hadis, tauhid, fikih, sampai bidang tasawuf. Penelitian pembelajaran kitab kuning selama ini memang dirasa masih berfokus pada kawasan Jawa yang memang bisa dikatakan basis pesantren di Nusantara. Selain itu diketahui ada sejumlah perubahan dalam sistem pembelajaran kitab kuning di pesantren. Secara khusus, artikel ini mengkaji sistem pembelajaran kitab kuning di Pesantren Musthafawiyah. Berdasarkan penelitian lapangan terhadap sistem pembelajaran kitab kuning di pesantren tersebut, di mana data diperoleh dari kegiatan wawancara, observasi, dan telaah dokumen, artikel ini mengajukan temuan bahwa pembelajaran kitab kuning di pesantren Musthafawiyah tidak mengalami perubahan. Kitab yang dikaji selalu sama sejak berdiri sampai sekarang, meskipun ada penambahan kitab yang bukan dalam katagori kitab kuning. Kajian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi kajian sejarah pendidikan Islam di Indonesia, khususnya pendidikan Islam di luar Jawa.  Kata Kunci: Mandailing, pesantren, pembelajaran, kitab kuning, Musthafawiyah Abstract: Learning System of Kitab Kuning at Pesantren Musthafawiyah, Mandailing Natal. The kitab kuning (literally ‘Yellow Book’, pre-modern books on Islam) has been the core of Indonesian Islamic studies for a long time. Right from the beginning, pesantrens, to be joined by madradsas at a later period, have taken the responsibility of preserving and teaching kitab kuning throughout the Indonesia archipelago.  The kitab kuning-based studies encompass a variety of subjects such as Qur’anic Exegesis, Prophetic Tradition, Islamic Theology, Islamic Law, and Sufism.  Very much of the existing studies about kitab kuning was undertaken in Java pesantrens and very seldom cover those pesantrens outside Java. Considering that, as well as many developments and changes in kitab kuning studies, the present studies concentrate on Pesantren Musthafawiyah of Mandailing Natal, North Sumatra. The data obtained suggest that in Pesantren Musthafawiyah the kitab kuning curriculum has remained the same from its initial operation in early 20th century to the present. It means that the books studied have always been the same. Although some new books enter the lists, but they are by no means replacing the kitab kuning.  Keywords: Mandailing, pesantren, learning, yellow book, Musthafawiyah
NARASI PENDIDIKAN DARI TANAH BETAWI: Pemikiran Sayyid Usman tentang Etika Akademik Radinal Mukhtar Harahap
Journal of Contemporary Islam and Muslim Societies Vol 2, No 2 (2018)
Publisher : UIN Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (180.038 KB) | DOI: 10.30821/jcims.v2i2.2919

Abstract

Abstrak: Studi ini mengkaji pemikiran Sayyid Usman tentang etika pendidikan dalam perspektif Islam. Studi ini perlu dilakukan mengingat belum banyak studi tentang tokoh lokal dari Nusantara yang berkontribusi dalam bidang pendidikan Islam. Artikel ini merupakan hasil penelitian kepustakaan yang mengandalkan metode analisis isi, dan mengajukan temuan bahwa Sayyid Usman menulis sebuah karya dalam bidang etika yang berjudul Âdâb al-Insân. Kitab ini relatif kurang diteliti dalam sudut pandang pendidikan Islam. Berdasarkan telaah terhadap naskah Nusantara ini, penulisnya menegaskan bahwa pendidikan merupakan solusi utama dalam rangka memperbaiki adab orang-orang jahat dengan mengajarkan serangkaian adab yang melingkupi aspek kepribadian, sosial dan profesionalitas. Studi ini berkontribusi dalam penguatan gugusan literatur dalam bidang pendidikan Islam mengingat tidak banyak tokoh Nusantara yang dikenalkan dan dikaji di perguruan tinggi Islam.Abstract: Paedagogical Narrative from Betawi Land: Sayyid Usman’s Thoughts on Educational Ethics. This study examines Sayyid Usman’s thinking concerning the ethics of education in an Islamic perspective. This study is necessary considering the scarcity of research on local scholars who have contributed to the field of Islamic education. This article is the result of library research that relies on the method of content analysis, and proposes findings that Sayyid Usman wrote a work in the field of ethics, entitled Âdâb al-Insân. This book is relatively under-researched in the perspective of Islamic education. Based on a review of this archipelago script, the author emphasizes that education is the main solution in improving the ethics of bad people by teaching a series of âdâb which covers aspects of personality, social and professionalism. This study contributes to the strengthening of the literature in the field of Islamic education considering that there are not many Nusantara figures introduced and studied in Islamic Higher Education institutions.Kata Kunci: pendidikan, etika, Nusantara, Betawi, Sayyid Usman
GERAKAN PEMBARUAN PENDIDIKAN AL ITTIHADIYAH DI SUMATERA TIMUR, 1935-1975 Soiman Soiman
Journal of Contemporary Islam and Muslim Societies Vol 2, No 2 (2018)
Publisher : UIN Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (140.327 KB) | DOI: 10.30821/jcims.v2i2.2752

Abstract

Abstrak: Studi ini mengkaji gagasan pendidikan Al Ittihadiyah meliputi bidang pendidikan dan metode pendidikan. Studi ini dilatarbelakangi oleh kelangkaan referensi tentang organisasi asal Sumatera Timur ini, terutama gerakan dan gagasan Al Ittihadiyah dalam bidang pendidikan. Studi ini merupakan hasil penelitian kualitatif. Data diperoleh dari kegiatan studi dokumen yang dianalisis dengan metode analisis isi dan diperkaya dengan menggunakan teknik wawancara. Kajian ini mengajukan temuan bahwa Al Ittihadiyah berkontribusi bagi pengembangan pendidikan Islam di Sumatera Timur, dimulai dari era Kolonial sampai pasca kemerdekaan. Sebagaimana organisasi Islam pembaharu lain, Al Ittihadiyah sebelum masa kemerdekaan telah melakukan pembaruan kurikulum dan metode pendidikan, sehingga organisasi ini berperan dalam memperbaiki kualitas pendidikan kaum Muslim di Nusantara. Tetapi belakangan ini, terlihat organisasi ini relatif kurang memainkan peran dalam pengembangan pendidikan Islam mengingat lembaga-lembaga pendidikan tidak lagi dikelola oleh organisasi secara sentralistis.Abstract: Al Ittihadiyah Education Modernisation Movement in East Sumatra, 1935-1975. This study examines the ideas of Al Ittihadiyah’s education in the fields of education and education methods. This study was motivated by the scarcity of references about organizations from East Sumatra, especially Al Ittihadiyah’s movements and ideas in the field of education. This study is the result of qualitative research. Data obtained from document study activities which was then analyzed by the method of content analysis and enriched using interview techniques. This study proposes findings that Al Ittihadiyah contributed to the development of Islamic education in East Sumatra, starting from the Colonial era to post-independence. As with other reforming Islamic organizations, Al Ittihadiyah prior to independence had carried out reforms in curriculum and educational methods, so that this organization played a role in improving the quality of education of Muslims in the archipelago. However, in the latest development, it appears that this organization has relatively little role to play in the development of Islamic education since educational institutions are no longer managed by organizations centrally.Kata Kunci: Al Ittihadiyah, pendidikan, Sumatera Timur, Melayu
KESULTANAN PEUREULAK DAN DISKURSUS TITIK NOL PERADABAN ISLAM NUSANTARA Misri A. Muchsin
Journal of Contemporary Islam and Muslim Societies Vol 2, No 2 (2018)
Publisher : UIN Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (151.2 KB) | DOI: 10.30821/jcims.v2i2.3154

Abstract

Abstrak: Pada Maret 2017, pemerintah Indonesia menetapkan Barus sebagai titik nol peradaban Islam Indonesia, yang ditandai dengan pembangunan sebuah monumen sederhana yang diresmikan langsung oleh Presiden RI. Para sejarawan Muslim memberikan respons terhadap kebijakan tersebut, ada yang mendukung dan ada yang tidak. Penulis merasa penting untuk sekali lagi menekankan bahwa Peureulak di pantai timur Sumatra adalah kerajaan Islam tertua di Indonesia bahkan Asia Tenggara. Sesungguhnya ini sudah merupakan kesimpulan dari sejumlah kajian para sejarawan. Sebab itu, dari perspektif akademik, penetapan Barus sebagai titik nol peradaban Islam masih perlu dikaji dan ditinjau kembali. Sebab meskipun Barus menjadi lokasi pertama yang menerima Islam pertama sekali, tetapi masyarakat Muslim di sana tidak membentuk kekuatan politik, melainkan Peureulak lah yang sukses mencapai kekuatan politik Islam pertama di Nusantara.Abstract: Peureulak Sultanate and the Discourse on ‘Zero Point of Nusantara’s Islamic Civilization’. In March 2017, Indonesian Government officially recognized Barus, a historical small city at the western coast of Sumatra, as the zero point of Indonesian Islamic Civilization. This recognition was marked by a relatively modest monument, inaugurated by the President of the Republic of Indonesia. Muslim historians responded differently: some agree and others disagree. The present author finds it very important to underline once again that Peureulak Sultanate at the eastern coast of Aceh was the first sizeable Islamic Kingdom of not just the Indonesia archipelago but also of the whole Southeast Asian archipelago. As a matter of fact, this has been the conclusion of several historical studies. Therefore, from scholarly point of view, the placement of this important monument at Barus needs to be studied and revisited. While Barus was indeed the first point of the arrival of Islam, the Muslim community there did not form any sizeable socio-political force. Peureulak, on the other hand, was successful in doing so.Kata Kunci: Peureulak, Aceh, Nusantara, politik
POLEMIK SAYYID USMAN BETAWI DAN SYEKH AHMAD KHATIB MINANGKABAU TENTANG SALAT JUMAT Ahmad Fauzi Ilyas
Journal of Contemporary Islam and Muslim Societies Vol 2, No 2 (2018)
Publisher : UIN Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (174.833 KB) | DOI: 10.30821/jcims.v2i2.3194

Abstract

Abstrak: Penelitian ini membahas polemik antara Sayyid Usman Betawi dan Syekh Ahmad Khatib Minangkabau tentang pelaksanaan salat Jumat di dua masjid di Palembang. Artikel ini merupakan hasil penelitian kepustakaan dengan memanfaatkan metode analisis isi. Kajian ini dimulai dari pengungkapan biografi kedua ulama dan polemik kedua ulama dalam bidang fikih, khususnya tentang salat Jumat. Perdebatan ini memang menyita perhatian Sayyid Usman yang menulis sepuluh karya tentang objek yang diperdebatkan. Studi ini menunjukkan bahwa tradisi kritik tidak saja berlaku pada ulama di era klasik, tetapi juga ulama Nusantara di era Kolonial. Perdebatan di antara dua ulama dalam satu persoalan terjadi pada satu masa tetapi berbeda tempat. Studi ini berkontribusi bagi pengkajian hukum Islam di era kolonial Belanda, sekaligus telah membuktikan bahwa ulama-ulama Nusantara berkontribusi dalam pengkajian hukum Islam di Nusantara.Abstract: Polemic of Sayyid Usman Betawi and Shaykh Ahmad Khatib Minangkabau about Friday Prayer. This study discusses the polemic between Sayyid Usman Betawi and Shaykh Ahmad Khatib Minangkabau about carrying out Friday prayers in two mosques in Palembang. This article is the result of library research using the content analysis method. This study begins with the disclosure of the biographies of the two ulemas and polemics of the two scholars in the field of jurisprudence, especially regarding Friday prayers. This debate indeed caught the attention of Sayyid Usman, who wrote ten works on the debated objects. This study shows that the tradition of criticism not only applies to the ulama in the classical era, but also the scholars of the Archipelago in the Colonial era. The debate between the two scholars in one problem occurred at one time but at a different place. This study contributes to the study of Islamic law in the Dutch colonial era, while also proving that the archipelago’s scholars contributed to the study of Islamic law in the archipelago region.Kata Kunci: fikih, ulama, naskah, Haramain, Nusantara
HISTORIOGRAFI ILMU FALAK DI NUSANTARA: Sejarah, Motivasi dan Tokoh Awal Arwin Juli Rakhmadi Butar-Butar
Journal of Contemporary Islam and Muslim Societies Vol 2, No 2 (2018)
Publisher : UIN Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (155.208 KB) | DOI: 10.30821/jcims.v2i2.2928

Abstract

Abstrak: Studi ini mengkaji perkembangan ilmu falak di Nusantara. Perkembangan studi falak memang relatif tertinggal jauh dari perkembangannya di pusat-pusat peradaban Islam seperti Damaskus, Baghdad, Kairo dan Cordova. Ilmu falak baru berkembang di Kepulauan Nusantara sejak abad 19-20 M. Penulisan karya-karya ilmu falak oleh ulama Nusantara abad 19-20 pun lebih didasari oleh pemenuhan kebutuhan ibadah sehari-hari, khususnya salat dan puasa. Dalam konteks ini, penggambaran historiografi dan transmisi perkembangan ilmu falak dari Timur Tengah ke Nusantara masih terhitung sebagai kajian terlantar. Karena itu, diperlukan kajian komprehensif tentang perkembangan studi ilmu falak di Indonesia. Sebagai studi awal, artikel ini merupakan hasil penelitian kepustakaan dengan pendekatan sejarah dimana datanya didasarkan pada telaah dokumen. Kajian ini mengemukakan bahwa ilmu falak mulai berkembang di Nusantara mulai abad ke-19, dimana para ulama Nusantara mendalami ilmu tersebut dari Timur Tengah dengan ragam motivasi, dan kemudian mereka mengembangkannya di tanah kelahiran dan mewariskan sejumlah karya dalam bidang ini.Abstract: Historiography of the Science of Astronomy in Indonesian Archipelago: History, Motivation and Early Figures. This study examines the development of astronomy in Indonesian archipelago which was relatively left behind by its development in the centers of Islamic civilization such as Damascus, Baghdad, Cairo and Cordova. As a matter of fact, astronomy did not develop in the Archipelago until in the 19th and 20th centuries, when some works on the field were identified. These works of the 19th and 20th century scholars mostly fulfilled the needs of daily worship, especially prayer and fasting. The historiography of astronomy in Indonesia and its transmission from the Middle East present an interesting field of research that has not been. The present article is a result of a preliminary library research focusing on history, motivation, and the early scholars of the field. Apparently, local scholars studied astronomy in different seats of knowledge in the Middle East and then brought it home. In order to meet local need they authored several books on the field which need to be be studied further in the coming years.Kata Kunci: astronomi, ulama, Nusantara, Timur Tengah

Page 2 of 10 | Total Record : 91