cover
Contact Name
Dr. Ir. Lestari Ujianto, M.Sc.
Contact Email
ujianto@unram.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
cropagro@unram.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota mataram,
Nusa tenggara barat
INDONESIA
CROP AGRO, Scientific Journal of Agronomy
Published by Universitas Mataram
ISSN : 19788223     EISSN : 26215748     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal ilmiah yang diterbitkan oleh Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Mataram yang memuat tulisan berupa hasil penelitian yang terkait dengan bidang budidaya tanaman, terbit enam bulan sekali. Redaksi menerima naskah dalam bahasa Indonesia atau Inggris.
Arjuna Subject : -
Articles 209 Documents
RESPON SUHU TANAH TERHADAP PAPARAN MUSIM DINGIN AUSTRALIA DAN DAMPAKNYA PADA TANAMAN LEGUME DI TANAH VERTISOL LOMBOK Ir. Padusung MP.
CROP AGRO, Scientific Journal of Agronomy Vol 11 No 2 (2018): Jurnal cropagro juli 2018
Publisher : Department of Agronomy Faculty of Agriculture University of Mataram and Indonesian Society of Agronomy Branch NTB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1520.618 KB) | DOI: 10.29303/caj.v11i2.202

Abstract

Kemampuan tanah sebagai faktor produksi pertanian tidak cukup ditera lewat penilaian kesuburan kimia semata, melainkan harus tetap mempertimbangkan gatra kesuburan fisik dan biologi tanah. Namun jarang dihajatkan untuk mengelola suhu tanah. Argumentasinya sangat praktis dimana parameter suhu tanah variasinya sangat kecil di daerah tropis, baik secara musimam, bulanan bahakan pada level harian. Tidak dipungkiri, suhu tanah menjadi faktor esensial bagi kehidupan organisme tanah, pertumbuhan dan perkembangan akar, serta proses perkecambahan biji, termasuk pengaruhnya terhadap perkembangan bakteri penambat nitrogen yang bersimbiose dengan bakteri bintil akar. Posisi Indonesia di selatan katulistiwa, terutama yang secara geografis berdekatan dengan benua Australia, seperti pulau Bali, NTB dan NTT ternyata memperoleh imbas musim dingin di benua Australia bulan Juni, Juli dan Agustus. Nomenklatur diberikan terhadap fenomena cuaca dingin tersebut, seperti masyarakat Lombok mengenalnya dengan istilah bor minyak, yaitu kenampakan embun yang secara fisik menyerupai minyak di permukaan daun yang dikenal dengan istilah embun jelaga. Suhu dingin mengganggu tanaman legum, karena paparan suhu dingin sejak awal fase vegetative.Penelitian ini memunculkan suatu dugaan sementara (hypothesis), bahwa penyebab terhambatnya pertumbuhan tanaman legum sebagai akibat dari penurunan suhu tanah secara signifikan sebagai respon terhadap penurunan suhu udara, sehingga mengganggu aktivitas bakteri bintil akar yang bersimbiose dengan tanaman legume. Gangguan tersebut dapat berdampak langsung terhadap efektivitas penambatan nitrogen dari udara oleh Rhizobium sp. Penelitian membuktikan, respon suhu tanah terhadap suhu udara, secara kuantitatif dinyatakan sebagai berikut: a) Suhu tanah pada kedalaman 5 cm akan meningkat sebesar 1,55o C setiap kenaikan 1oC suhu udara, sedangkan suhu tanah pada kedalaman 10 cm akan meningkat sebesar 0,44oC setiap kenaikan 1oC suhu udara; b) Efek paparan suhu dingin mulai terdeteksi di wilayah Lombok bagian selatan pada bulan Juni sampai Agustus, dan puncak dingin terjadi pada bulan Juli; c) Perbedaan suhu maksimum dan minimum di wilayah Lombok Tengah bagian selatan berkisar antara 6,5 - 10oC.
KELIMPAHAN DAN KOMPOSISI SPESIES LALAT BUAH PADA LAHAN KERING DI KABUPATEN LOMBOK BARAT M. Sarjan *1; Hendro Yulistiono2; Hery Haryanto 1
CROP AGRO, Scientific Journal of Agronomy Vol 3 No 2 (2010): Jurnal Crop Agro
Publisher : Department of Agronomy Faculty of Agriculture University of Mataram and Indonesian Society of Agronomy Branch NTB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Pengamatan (monitoring) lalat buah pada daerah lahan kering merupakan kegiatan yang sangat penting dan mendasar dalam penerapan PHT, karena dari pengamatan lalat buah di lapangan dapat diperoleh informasi tentang spesies (jenis), kepadatan populasi, luas dan intensitas serangan, perkembangan populasi serta faktor-faktor iklim yang mempengaruhi perkembangan lalat buah. Hal lain yang sangat penting adalah adanya persamaan persepsi/pemahaman tentang kelimpahan, komposisi spesies lalat buah yang ada pada suatu wilayah/lokasi, terutama daerah lahan kering Lombok Barat. Data dan informasi tentang kelimpahan, spesies lalat buah di lahan kering masih kurang, oleh karena itu telah dilakukan penelitian tentang bagaimana kelimpahan dan komposisi spesies lalat buah pada lahan kering di Lombok Barat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Bactrocera philippinensis merupakan spesies lalat buah yang paling dominan dengan nilai kelimpahan paling tinggi 64,76 % di wilayah lahan kering Kabupaten Lombok Barat, dan kelimpahan paling rendah adalah B. badius 0,02 %. Komposisi spesies lalat buah Bactrocera spp. di wilayah lahan kering Kabupaten Lombok Barat berturut-turut dari yang paling besar sampai yang paling kecil adalah B. Philippinensis, B. Limbifera, B. cucurbitae, B. pepayae, B. caudata, B. beckerae, B. albistrigata, B. Umbrosa, B. calumniata, dan B. Badius. ABSTRACT Monitoring of fruit flies in dry land is a very important and fundamental activities related to the implementation of Integrated Pest management that will provide the crusial information of the species including abundance of population, attack intensity, development of population, as well as the climate factors affect the fruit flies population. In addition, from those monitoring would achieve the same perseption /undersanding of abundance and compisition of fruit flies in the specific location , particul;arly in dry land of West Lombok. Currently, there is a lack of data and information on the abundance and composition of fruit flies species. Therefor, the invantigation on the abundance and composition of fruit flies spesies on dry land of West Lombok has been conducted. Ther result of this investigation shows that the most dominat of fruit flies species in dry land of West Lombok is Bactrocera philippinensis with the highest abundance value about 64,76 % and the lowest one is B. badius about 0,02 %. The highest composition of Bactrocera spp is B. Philippinensis, followed by B. Limbifera, B. cucurbitae, B. pepayae, B. caudata, B. beckerae, B. albistrigata, B. umbrosa, B. calumniata, and B. Badius., respectively.
APLIKASI LIMBAH BIOGAS (SLURRY) SEBAGAI PUPUK ORGANIK ALTERNATIF UNTUK MENGURANGI PENGGUNAAN PUPUK ANORGANIK PADA BUDIDAYA TANAMAN CABAI BESAR (CAPSICUM ANNUUM L.) 1Suparman, 2Karwati Zawani, dan 2Jayapu
CROP AGRO, Scientific Journal of Agronomy Vol 5 No 1 (2012): Jurnal Crop Agro
Publisher : Department of Agronomy Faculty of Agriculture University of Mataram and Indonesian Society of Agronomy Branch NTB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Proses budidaya cabai besar yang terlalu banyak mengaplikasikan pupuk anorganik menyebabkan produknya memiliki mutu dan kuantitas yang menurun. Oleh karena itu pemakaian pupuk organik menjadi alternatif dalam mengembangkan pertanian yang ramah lingkungan. Salah satu pupuk organik yang bisa dijadikan sebagai alternatif adalah limbah biogas atau yang selanjutnya disebut Bio Slurry. Namun petani (khususnya pulau Lombok) belum banyak yang memanfaatkan Bio Slurry sebagai pupuk, karena belum banyak informasi tentang penggunaan Bio Slurry tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian Bio Slurry terhadap pertumbuhan dan hasil cabai besar (Capsicum annum) dan peluangnya sebagai pengganti pupuk anorganik. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan percobaan di lapangan yang menggunakan pola dasar rancangan acak kelompok (RAK) yang terdiri dari perlakuan lima kombinasi pupuk Bio Slurry dengan pupuk anorganik (Urea, TSP dan KCl). Hasil penelitian menunjukan bahwa aplikasi Bio Slurry sebagai pupuk organik alternatif untuk mengurangi penggunaan pupuk anorganik pada budidaya tanaman cabai besar memberikan pengaruh yang tidak berbeda nyata pada semua parameter yang diamati kecuali pada parameter panjang buah. Abstract Application of inorganic fertilizers on big red chili has been reported to reduce the quality and quantity of big red chiili production. Therefore, the use of organic fertilizer as an alternative fertilizers in developing environmentally friendly farming system has been recommended . One of organic fertilizer that can be used as an alternative is a waste biogas or is referred to Bio Slurry. This study was aimed to determine the effect of Bio Slurry on growth and yield of big red chili (Capsicum annum) and it chances as a substitute for inorganic fertilizer. This study was an experimental field study by using Randomized Block Design (RBD) that consisted five treatments of Bio Slurry combined with inorganic fertilizers ( Urea , TSP and KCl ) . The results showed that the application of Bio Slurry showed not significant effect in all parameters, excep on fruit length.
EVALUASI KARAKTERISTIK HASIL PERSILANGAN BLEWAH DENGAN MELON (Cucumis melo L.) Armi Zulham; Lestari Ujianto; Karwati Zawani
CROP AGRO, Scientific Journal of Agronomy Vol 9 No 2 (2016): jurnal Crop Agro Januari 2016
Publisher : Department of Agronomy Faculty of Agriculture University of Mataram and Indonesian Society of Agronomy Branch NTB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi karakteristik F1 hasil persilangan blewah (endes) dengan melon (Cucumis melo L.) dari segi kuantitatif maupun kuantitatif. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimental dengan percobaan di lapangan. Percobaan dilakukan dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 8 perlakuan yaitu 4 tetua dan 4 F1 hasil persilangan blewah dengan melon. Semua parameter pengamatan dianalisa dengan menggunakan analisis keragaman pada taraf nyata 5%. Jika terdapat perlakuan yang berbeda nyata (P < 0.05) maka dilakuakn uji lanjut dengan uji Duncan Multiple Range Test (DMRT). Hasil penelitian menunjukan terjadi perubahan karakteristik pada keempat F1 hasil persilangan blewah dengan melon, perubahan karakter terdapat pada beberapa sifat yaitu, panjang tanaman, umur tanaman saat berbunga betina, umur panen, lingkar buah, panjang buah, bobot buah segar, berat brangkasan basah tanaman dan berat brangkasan kering tanaman. Parameter yang tidak mengalami perubahan karakteristik yaitu diameter batang, jumlah bunga jantan dan betina, jumlah cabang produktif dan umur tanaman saat berbunga jantan. ABSTRACT The objective of this research was to evaluate the characteristics on F1 from hybridization between cantaloupe and melon (Cucumis melo L.) both quantitative and quantitative traits. The method used in this study is the experimental with experiments in the field. The field design used was a randomized completely block design with 8 treatments, four parents and the four F1 from crossing between cantaloupe and melon . The observed data were analyzed using analysis of variance at 5% significant level and the Duncan Multiple Range Test Test (DMRT) if the effect of treatments was significantly different. The results showed that there wes a characteristic change of F1 on the length of plant, the days for flowering of the female flower, days for harvesting, fruit circumference, length of fruit , fresh fruit weight , weight of plant fresh matter and weight of plant dry matter. The unchanged characters of F1 compared to their paents were stem diameter, number of male and female flowers, the number of productive branches and the days for flowering of male flower.
KERAGAAN AKSESI KACANG KOMAK (Lab-lab purpureus (L.) Sweet) PULAU LOMBOK PADA LAHAN BASAH DAN KERING Erna Listiana; Sumarjan .
CROP AGRO, Scientific Journal of Agronomy Vol 1 No 2 (2008): Jurnal Crop Agro
Publisher : Department of Agronomy Faculty of Agriculture University of Mataram and Indonesian Society of Agronomy Branch NTB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan (1) Untuk mengevaluasi karakter kuantitatif dari aksesi kacang komak pada dua tipe lahan. (2) Untuk mengetahui potensi dari masing-masing aksesi untuk dikembangkan melalui program pemuliaan tanaman. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan tiga blok sebagai ulangan. Evaluasi dilakukan terhadap 10 aksesi kacang komak Lombok yang sekaligus sebagai perlakuan. Pengamatan dilakukan terhadap karakter-karakter kuantitatif yaitu umur berbunga (hst), umur berbuah (hst), jumlah biji per polong, umur panen (hst), jumlah daun, berat brangkasan basah (gram), berat brangkasan kering (gram), berat biji per tanaman (gram) dan berat 100 butir biji (gram). Data hasil pengamatan dianalisa menggunakan Analisis keragaman pada taraf nyata 5%. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa keragaan kacang komak Lombok lebih baik ketika ditanam pada lahan kering daripada lahan basah. Sedangkan aksesi K11 memiliki daya hasil tertinggi baik pada penanaman di lahan basah (sawah) maupun kering (tegalan). Oleh karena itu aksesi tersebut berpotesi untuk dikembangkan lebih lanjut dalam program pemuliaan tanaman ABSTRACT The objectives of this research are (1) To evaluate quantitative characters of hyacine bean accessions in two types of land. (2) To know the potential of each accession to be develops further through plant breeding programs. This research used experimental method, Randomized Complete Block Design (RCBD) with 3 block as a replication. Evaluation was done on 10 accessions of hyacine bean as a treatment. Observation was done on quantitative characters, that are age of flowering (day), age of fruiting (day), number of seeds/pod, age of harvest (day), number of leaves, weight of wet biomass (gr), weight of dry biomass (gr), weight of seeds/plant (gr) and weight of 100 seeds (gr). The observed data was analyzed by Analysis of Variance at level of 5% of significant. The results of this research revealed that accession K11 has the highest yield on wet and dry land. Therefore it is a potential accession to be develops through plant breeding programs. Furthermore, the performance of quantitative characters of Lombok accessions of hyacine beans was better while grown in dry land compare to wet land.
EFEK PEMBERIAN RESIDU SLURRY BIOGAS TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN PAKCOY (Brassica rapa chinensis) SERTA KETERSEDIAAN UNSUR HARA P DAN S PADA ENTISOL. Ijtihad Purnama; R.Sri Tejo Wulan; Ni Wayan Dwiani Dulur
CROP AGRO, Scientific Journal of Agronomy Vol 11 No 1 (2018): Jurnal Ilmiah Budidaya Pertanian
Publisher : Department of Agronomy Faculty of Agriculture University of Mataram and Indonesian Society of Agronomy Branch NTB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (697.73 KB)

Abstract

ABSTRAK Slurry biogas merupakan limbahdari proses ekstraksi gas metan yang bahan utamanya berasal dari campuran kotoran hewan yang telah mengalami proses anaerobik di dalam tabung reaktor. slurry biogas mengandung berbagai unsur hara, antibiotik, berbagai hormon dan telah terbukti mampu meningkatkan kualitas kesuburan kimia tanah dan hasil tanaman. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui efek residu pemberian slurry biogas terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman pakcoy (Brassica rapa chinensis) serta ketersediaan P dan S pada Entisol. Penelitian ini dilakukan di rumah kaca Fakultas Pertanian Universitas Mataram dengan menggunakan metode eksperimental pada pot percobaan. Rancangan percobaan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan menggunakan 6 contoh tanah residu perlakuan pemberian slurry biogas (0; 0,5; 1; 1,5; 2; 2,5 liter) dan satu contoh residu tanah yang dipupuk NPK sesuai dengan dosis rekomendasi (300 kg/ha Urea, 150 kg/ha SP 36, dan 150 kg/ha KCl). Masing-masing perlakuan dibuat 4 ulangan sehingga diperoleh 28 unit pot percobaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa efek residu pemberian slurry biogas memberikan pengaruh yang berbeda nyata terhadap kualitas kimia tanah, pertumbuhan, dan hasil tanaman pakcoy. Perlakuan pemberian slurry biogas dengan dosis sebesar 2,5 liter/pot memberikaan hasil tertinggi pada variable pH 6,82, P-tersedia 3,11 ppm, S-tersedia 16.58 ppm, KTK 6,57 me/100 g, C-organik 0,86 % ,. Sedangkan hasil tertinggi untuk tinggi tanaman 8,85 cm, jumlah daun 19 lembar, berat berangkasan basah 102,7 gram, dan berat brangkasan kering tanaman 8,51gram diperoleh pada perlakuan penambahan slurry biogas dengan dosis 2 liter/pot. Korelasi antara kualitas tanah dengan hasil brangkasan basah dan brangkasan kering tanaman memberikan nilai korelasi yang positif. Hasil korelasi tertinggi diperoleh dari variabel C-organik dengan brangkasan basah (r=0,93) dan brangkasan kering(r=0,83). ABSTRACT Biogas slurry is a waste of methane gas extraction processs contains main ingredient of a mixture of animal waste, other agricultural wastes, and water which has undergone anaerobic processes in the reactor tube. Biogas slurry contains a variety of nutrients, antibiotics, hormones and has been shown to improve the quality of soil chemical fertility and crop yields. The aim of this study was to determine the residual effect of provision of biogas slurry on the growth and yield pakcoy (Brassica rapa chinensis) as well as the availability of P and S in Entisol. This research was conducted in the greenhouse of the Faculty of Agriculture, University of Mataram by using experimental methods in the pot experiment. The experimental design used in this research is completely randomized design (CRD) using 6 soil residual that had been treated with dosages of biogas slurry (0; 0,5; 1; 1,5; 2; 2,5 liters) and one residual soil NPK fertilized according to the dosage recommendation (300 kg/ha of urea, 150 kg/ha SP 36, and 150 kg/ha KCl). Each treatment was made 4 replicates in order to obtain 28 units of pot experiment. The results showed that the residual effects of biogas slurry gave a significantly different effect on the quality of soil chemistry, growth, and yield. Biogas slurry treatment administration at a dose of 2.5 liter/pot been of the highest yields on variable pH of 6.82, 3.11 ppm available P, S-available 16:58 ppm, CEC of 6.57 me/100 g, C-organic 0,86%,. While the highest yield to 8.85 cm plant height, leaf number 19 pieces, berangkasan wet weight of 102.7 grams, and the weight of dry stover obtained at treatment plants 8,51gram addition of biogas slurry with a dose of 2 liter/pot. The correlation between the quality of the soil with the results stover wet and dry stover crops provide positive correlation value. The highest correlation results obtained from variable C-organic wet stover (r= 0.93) and dry stover
MORPHOLOGY AND PHYSIOLOGY OF PITAYA AND IT FUTURE PROSPECTS IN INDONESIA I Komang Damar Jaya
CROP AGRO, Scientific Journal of Agronomy Vol 3 No 1 (2010): Jurnal Crop Agro
Publisher : Department of Agronomy Faculty of Agriculture University of Mataram and Indonesian Society of Agronomy Branch NTB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT Pitaya or known as dragon fruit (Hylocereus spp.) is a fleshy fruit of climbing cacti, originated from America tropics. In Indonesia, this fruit is relatively new but has already got a good place and good price in the markets. The three most common pitaya species available in Indonesia are red skin with white flesh (Hylocereus undatus Haw. Britton&Rose), red skin with red flesh (Hylocereus sp.) and red skin with strong red flesh (Hylocereus polyrhizus Webb. Britton&Rose). Other two species available in small quantity are red skin with red-purple flesh (Hylocereus costaricencis Web. Britton&Rose) and yellow pitaya (Selenicereus megalanthus A. Berger Riccob). On the island of Lombok, pitaya plantations were first established in 2006 and the first production was in 2008. Cultural practices are very basic and some areas, such as stand (support systems), pruning, and fertilizer, pest, as well as disease managements need some improvements. Physiology, flowering behaviour, pollination, and fruit growth and development of pitaya are discussed in this paper. ABSTRAK Pitaya atau banyak dikenal dengan nama buah naga (Hylocereus spp.) adalah buah berdaging segar dari kaktus merambat yang berasal dari benua Amerika tropik. Di Indonesia, buah ini relatif baru dan sudah mendapatkan tempat dan harga yang baik di pasaran. Tiga spesies buah naga yang umum terdapat di Indonesia adalah buah naga merah dengan daging buah putih (Hylocereus undatus Haw. Britton&Rose), buah naga kulit merah dengan daging buah merah (Hylocereus sp.) dan kulit merah dengan daging buah sangat merah (Hylocereus polyhirzus Web. Britton&Rose). Dua spesies lainnya yang dijumpai dalam jumlah yang relatif sedikit adalah buah naga kulit merah dengan daging buah merah keunguan (Hylocereus costaricencis Web. Britton&Rose) dan buah naga kuning (Selenicerius megalanthus A. Berger Riccob). Di pulau Lombok, kebun-kebun buah naga pertama kali dijumpai sekitar tahun 2006 dan produksi pertama pada tahun 2008. Teknik budidaya yang diterapkan sangat sederhana sehingga dalam beberapa hal, seperti tiang penyangga, pemangkasan, pemupukan serta pengelolaan hama dan penyakit perlu dilakukan perbaikan. Fisiologi, perilaku pembungaan, penyerbukan, pertumbuhan dan perkembangan buah tanaman buah naga dibahas dalam tulisan ini.
PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN PADI (Oryza sativa L.) DI MEDIA VERTISOL DAN ENTISOL PADA BERBAGAI TEKNIK PENGATURAN AIR DAN JENIS PUPUK Cepy *1; Wayan Wangiyana
CROP AGRO, Scientific Journal of Agronomy Vol 4 No 2 (2011): Jurnal Crop Agro Pertanian
Publisher : Department of Agronomy Faculty of Agriculture University of Mataram and Indonesian Society of Agronomy Branch NTB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ditujukan untuk menentukan apakah aplikasi pupuk organik berupa Bokashi pupuk kandang sapi pada teknik budidaya padi hemat air (Gogo rancah dan SRI) memberikan dampak positif terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman padi (Oryza sativa L.) varietas Ciherang pada dua jenis tanah, dibandingkan dengan teknik budidaya padi secara konvensional. Dari hasil percobaan pot dalam rumah kaca Fakultas Pertanian Universitas Mataram, dapat disimpulkan bahwa pertumbuhan tanaman padi tidak berbeda nyata antara aplikasi pupuk organik (30 t/ha) dan pupuk anorganik, tetapi komponen hasil (jumlah anakan produktif, jumlah gabah berisi, berat 100 gabah dan hasil gabah kering panen) masih lebih tinggi pada pemupukan anorganik. Demikian pula pengaruh teknik pengaturan air, teknik penggenangan secara konvensional memberikan hasil gabah tertinggi dibandingkan dengan Gogo rancah dan SRI. Namun demikian, ada interaksi antara teknik pengaturan air dan jenis tanah, di mana di tanah entisol, jumlah anakan produktif sedikit lebih tinggi pada sistem Gogo rancah daripada konvensional. Jika dikaitkan dengan jenis pupuk, pada teknik konvensional di tanah entisol, hasil gabah tidak berbeda nyata antara aplikasi pupuk organik dan anorganik. Karena sifat “slow release” pupuk organik, perlu dilakukan penelitian jangka panjang dalam usaha transformasi dari sistem anorganik menjadi organik, terutama pada teknik budidaya padi hemat air (Gogo rancah dan SRI). ABSTRACT This research was aimed to examine if application of organic fertilizer in the form of EM-4 fermented cattle manure (Bokashi) on water thrifty techniques of growing rice (“Gogo rancah” and SRI) gives positive impacts on growth and yield of rice (Oryza sativa L.) var. Ciherang on two types of soil, compared with the conventional technique. Based on the results obtained from a pot experiment conducted in the glasshouse of the Faculty of Agriculture, Mataram University, it was concluded that growth or rice plants was not significantly different between application of organic (30 t/ha) and inorganic fertilizers, but its yield components (number of productive tillers, filled grains, weight of 100 seeds, and grain yield) were still higher on inorganic fertilization. So did the effect of water management technique, in which the conventional (flooding) technique resulted in the highest grain yield compared with “Gogo rancah” and SRI techniques. However, there were interaction effects between water management technique and soil type, in which number of productive tillers was slightly higher on “Gogo rancah” than the conventional technique. When related to fertilizer types, in the conventional technique, grain yield was not significantly different between organic and inorganic fertilization on entisol. Due to the “slow release” nature of organic fertilizer, a more long-term research needs to be conducted in an effort to convert from inorganic to organic system, especially on water thrifty techniques of growing rice (“Gogo rancah” and SRI).
PENGARUH FREKUENSI PEMBERIAN PUPUK CAIR BATUAN SILIKAT BERPESTISIDA NABATI DAN DOSIS NP TERHADAP PRODUKSI TANAMAN PADI (Oryza sativa L) DI DESA KEKAIT LOMBOK BARAT Safprada Rizma H.A; Joko Priyono; Zainal Arifin
CROP AGRO, Scientific Journal of Agronomy Vol 9 No 1 (2016): jurnal Crop Agro Januari 2016
Publisher : Department of Agronomy Faculty of Agriculture University of Mataram and Indonesian Society of Agronomy Branch NTB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Pupuk cair batuan silikat berpestisida nabati atau Biopesticidal Fertilizer (BF) merupakan produk pupuk yang baru sehingga perlu dilakukan pengujian dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh frekuensi pemberian pupuk cair batuan silikat yang mengandung pestisida nabati dan dosis NP terhadap produksi pada tanaman padi (Oryza sativa L) dan (2) mengetahui frekuensi penyemprotan pupuk cair tersebut yang tepat. Penelitian ini dilakukan di lahan sawah desa Kekait, Lombok Barat. Rancangan penelitian yang diterapkan adalah rancangan acak kelompok (RAK) ber-blok (3 blok). Perlakuan yang diterapkan adalah dosis N, P (50 dan 75 %) dari rekomendasi dan frekuensi pemberian pupuk batuan silikat cair berpestisida nabati (BF) 0. 3 dan 5 kali penyemprotan hingga vegetatif maksimum. Aplikasi BF mampu meningkatkan hasil produksi gabah kering giling (GKG) 26-37 %, bobot 1000 butir GKG (6 – 8 %) dan jumlah anakan produktif (JAP) 91,7 % terhadap kontrol. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa pengunaan BF mampu meningkatkan hasil padi sawah dan frekuensi aplikasi BF yang tepat adalah 5 kali penyemprotan. ABSTRACT Liquid fertilizer Silica Rock or pesticidal fertilizer (BF) appearance of new fertilizer product, so that need to treat experiment with aim to know that influence of supply liquid fertilizer silica rocks which contain of bio pesticide and doses N,P toward product of plant rice (Oryza Sativa L) and (2) to know that frequency to spray that liquid fertilizer exactly. This research doing at wet rice field in Kekait village, West Lombok. Design of this research is Randomized Block Design (RBD) content of three blocks (3 block).The treatment is doses N, P with (50 – 75 %) from recommended and supply frequency liquid fertilizer silica rocks with bio fertilizer (BF). BF treatment to be able to reach result product dry polished rice (GKG), 26-37 % ; weight 1000 grain of rice (GKG) 6-8 % and amount of productive small plant (JAP) (91,7%) to control. Based of this research result can be conclude that using pesticidal fertilizer to be able to reach result and frequency of apply BF exactly is 5 times spray.
EVALUASI SIFAT KUANTITATIF TANAMAN F1 DAN HETEROSIS HASIL PERSILANGAN ANTAR VARIETAS GANDUM Baiq Eka Septiani; Uyek Malik Yakop; Dwi Ratna Anugrahwati
CROP AGRO, Scientific Journal of Agronomy Vol 10 No 2 (2017): Jurnal Crop Agro Juli 2017
Publisher : Department of Agronomy Faculty of Agriculture University of Mataram and Indonesian Society of Agronomy Branch NTB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (551.538 KB)

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi sifat kuantitatif generasi F1 hasil persilangan antara varietas gandum nasional dengan gandum introduksi, dan untuk memperoleh informasi heterosis dari persilangan tiga tetua tanaman gandum. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode eksperimental dengan percobaan pot di lapangan pada bulan Oktober sampai dengan Desember 2015. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri atas 9 perlakuan: 3 tetua dan 6 keturunannya yaitu Estoc (P1), Dewata (P2), Gladius (P3), ED (P1♀ x P2♂), DE (P2♀ x P1♂), GD (P3♀ x P2♂), DG (P2♀ x P3♂), GE (P3♀ x P1♂) dan EG (P1♀ x P3♂). Setiap perlakuan diulang sebanyak 3 kali sehingga dalam penelitian ini terdapat 27 unit percobaan. Hasil percobaan menunjukkan bahwa parameter umur berbunga pada persilangan antar varietas gandum menunjukkan nilai yang berbeda antar genotipe, F1 DG (hasil persilangan antara gandum Dewata dengan Gladius) memiliki umur berbunga tercepat. Parameter tinggi tanaman dan umur berbunga menunjukkan nilai heterosis yang negatif, baik untuk nilai heterosis Tetua Tertinggi (Hight Parent) maupun Rata-Rata Tetua (Mid Parent). ABSTRACT This study aimed to evaluate the quantitative characters of F1 generation from crosses between a national variety with introduced wheats, and to obtain information an heterosis of crosses between three parental of the wheat crop. Method used in this study was pot experiment from October to December 2015. Experimental design used was completely randomized design (CRD), which consisted of 9 treatments, 3 parents: Estoc (P1), the Dewata (P2), Gladius (P3), and 6 F1: ED (P1 ♀ x P2♂), DE (P2♀ x P1♂), GD (P3♀ x P2♂), DG (P2♀ x P3♂), GE (P3♀ x P1♂) and EG (P1♀ x P3♂). Each treatment was repeated 3 times so that there are 27 experimental units. Results showed that flowering time on cross between wheat varieties showed significantly different among genotypes, F1 DG (a cross between Dewata and Gladius) showed the earliest flowering time. The value of heterosis parameters plant height and flowering time were negative, both for Hight Parent Heterosis and Mid Parent Heterosis.

Page 11 of 21 | Total Record : 209