cover
Contact Name
Les Pingon
Contact Email
lespingon21@upi.edu
Phone
+6282144647693
Journal Mail Official
hendriklempeh@gmail.com
Editorial Address
Jl. Udayana No.11, Banjar Tegal, Singaraja, Kabupaten Buleleng, Bali 81116
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Jurnal Pendidikan Seni Rupa
ISSN : -     EISSN : 26139596     DOI : http://dx.doi.org/10.23887/jjpsp.v11i2.39468
Core Subject : Education, Art,
Jurnal Pendidikan Seni Rupa Undiksha is a scientific journal published by Jurusan Pendidikan Seni Rupa, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Pendidikan Ganesha. This journal aims to accommodate articles of research results and the results of community service in the field of education and learning about education.
Articles 536 Documents
PROSES PEMBUATAN TENUN FLORES HOME INDUSTRI IBU YUSTINA NONA DI DESA TANJUNG BENOA ., I Komang Trisnayana; ., Dra. Luh Suartini; ., I Gusti Made Budiarta, S.Pd., M.Pd
Jurnal Pendidikan Seni Rupa Undiksha Vol 6, No 3 (2016)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (278.107 KB) | DOI: 10.23887/jjpsp.v6i3.7181

Abstract

Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan (1) Alat dan bahan yang digunakan dalam proses pembuatan Tenun Flores, (2) Proses pembuatan Tenun Flores, (3) Transformasi bentuk dan fungsi kain Tenun Flores. Penelitian ini dilakukan di Home Industry Ibu Yustina Nona di Desa Tanjung Benoa. Subjek penelitian ini adalah Ibu Yustina Nona, yang merupakan pengrajin tenun Flores. Objek dalam penelitian ini adalah tenun Flores yang meliputi alat dan bahan, proses pembuatan, serta transformasi bentuk dan fungsi kain tenun Flores. Metode pengumpulan data dalam penelitian ini meliputi, (1) teknik observasi, (2) teknik wawancara, (3) teknik kepustakaan, dan (4) teknik dokumentasi. Metode analisis data yang digunakan adalah analisis domain dan analisis taksonomi. Hasil penelitian ini, yaitu (1) Alat yang dipergunakan dalam proses pembuatan tenun Flores di Home Industri Ibu Yustina antara lain: lele, raa, paa pakpanggoro, todowai, tada, luja, ati, hallo, kajuana, pine, kakba pak ku aka, pheko, kugu, nubo, norutama, kaju, panci, pisau, gunting, duri landak; (2) Tahapan proses pembuatan tenun Flores Home Industry Ibu Yustina Nona antara lain: persiapan, pengelosan, pembentangan benang, proses menjadikan tali daun gebang untuk mengikat motif tenunan, membuat motif, mencelup benang, pengeringan benang, melepas ikatan motif, memberi kanji pada benang, menyiapkan benang pakan, dan proses menenun; dan (3) Transformasi yang terjadi antara kerajinan Tenun Flores pada masyarakat Flores dan kerajinan Tenun Flores pada Home Industri Ibu Yustina Nona, yaitu perubahan bentuk dan fungsi. Oleh karena itu, pengerajin di Home Industri Ibu Yustina Nona harus meningkatkan kualitas dan kuantitas kerajinan Tenun Flores yang dihasilkan.Kata Kunci : Tenun Flores, Home Industry Ibu Yustina Nona This study aims to describe (1) the tools and materials used in the manufacturing process of Flores’ woven, (2) the process of making Flores’s woven, (3) transformation of form and function of Flores’s woven fabric. This research was conducted at Mrs. Yustina Nona “Home Industry” in Tanjung Benoa village. The subject was Mrs. Yustina Nona, which is a Flores weaver. The objects of this research were Flores woven includes tools and materials, the manufacturing process, as well as the transformation of the form and function of Flores’s woven fabrics. Methods of data collection in this study include: (1) observation, (2) interview, (3) technical literature, and (4) technical documentation. Data analysis methods used were domain analysis and taxonomic analysis. The results of this study, namely (1) the tools used in the process of making Flores’s woven in Mrs. Yustina “Home Industry” include: lele, raa, paa, pakpanggoro, todowai, tada, luja, ati, hallo, kajuana, pine, kakba pakku aka, pheko, kugu, nubo, norutama, kaju, pan, knife, scissors, spikes; (2) the stages of the process of making Flores’s woven Mrs. Yustina Nona “Home Industry” are: preparation, pengelosan, expansions thread, the process of turning gebang’s leaves into the rope for binding motif woven, making motive, yarn dyeing, drying yarn, untied the motif, giving starch on yarn, preparing the weft and weave process; and (3) the transformation that occurs between Flores’s woven crafts at Flores community and Flores’s woven crafts at Mrs. Yustina Nona “Home Industry”, that are the change of form and function. Therefore, craftsmen at Mrs. Yustina Nona “Home Industry” must improve the quality and quantity of Flores’s woven crafts that they are produced.keyword : Flores’s woven, Mrs. Yustina Nona Home Industry
BENDA SENI DENGAN MENGGUNAKAN BAGIAN-BAGIAN SEPEDA BEKAS DI LOUD GALLERY BANJAR BATANANCAK, DESA MAS, KECAMATAN UBUD, KABUPATEN GIANYAR ., I Wayan Gede Adiartha; ., I Wayan Sudiarta, S.Pd,M.Si.; ., I Nyoman Rediasa, S.Sn., M.Si
Jurnal Pendidikan Seni Rupa Undiksha Vol 6, No 2 (2016)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (618.605 KB) | DOI: 10.23887/jjpsp.v6i2.8170

Abstract

Penelitian ini membahas mengenai karya seni tiga dimensi yang berbahan bagian-bagian sepeda bekas di “Loud Gallery”. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui; (1) dasar pemikiran serta metode mengenali potensi visual dan kontruktif bagian-bagian sepeda bekas menjadi bahan dalam pembuatan karya seni tiga dimensi; (2) alat dan bahan yang digunakan dalam pembuatan karya seni tiga dimensi; (3) proses pembuatan karya seni tiga dimensi; dan (4) jenis-jenis karya seni tiga dimensi berbahan dasar bagian-bagian sepeda bekas. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif kualitatif. Subjek penelitian ini adalah Proses Pembuatan karya seni tiga dimensi berbahan dasar bagian-bagian sepeda bekas. Metode pengumpulan data yang dilakukan adalah menggunakan metode observasi dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa; (1) seniman berkarya dengan dasar pemikiran atau konsep dengan melihat lingkungan sekitar tempat tinggalnya. (2) alat dan bahan yang digunakan dalam pembuatan karya seni tiga dimensi antara lain: Gerinda, gunting plat, gunting besi, las listrik (elektroda), las asetilen (karbit), tang, palu, kuas, spait, meteran, ember dan mesin kompresor. Sedangkan bahan yang digunakan antara lain: Sepeda bekas (rangka sepeda, garpu depan sepeda, velg, stang, gir), besi, plat, cat besi merek aclouse super dan merek top color, cat pewarna antik merek poinner, thinner, bensin, cairan anti karat dan cat finising merek impra dan merek aqua lacquer; (3) Adapun proses pembuatan karya yaitu: Pertama proses pemilihan bahan. Kedua proses pembuatan desain. Ketiga proses pembentukan: pembentukan badan, pembentukan kepala dan leher, pembentukan kaki, dan perakitan. Keempat proses finising, proses finising ada dua tahapan yaitu proses pengecatan dan pemberian clear; dan (4) jenis-jenis hasil karya seni tiga dimensi berbahan dasar bagian-bagian sepeda bekas berbentuk binatang kuda. karya seni tiga dimensi berbentuk kuda memiliki gerak dan ukuran yang berbeda-beda, kuda vegasus (kuda yang memiliki tanduk dan sayap) dan binatang gajah Kata Kunci : Karya seni tiga dimensi, sepeda bekas, kuda dan gajah This study discusses the three-dimensional sculpture made from old bicycle parts in "Loud Gallery". This study aims to determine; (1) rationale and methods is to identify potential visual and constructive parts used bicycle becomes an ingredient in the manufacture of three-dimensional sculpture; (2) the tools and materials used in the manufacture of three-dimensional works of art; (3) the process of making three-dimensional sculpture; and (4) the kinds of three-dimensional sculpture made of used bicycle parts. This type of research is qualitative descriptive study. The subjects were making process of three-dimensional works of art made from old bicycle parts. Methods of data collection is done using observation and interviews. The results showed that; (1) The artist works with the basic ideas or concepts to see the neighborhood where he lived. (2) the tools and materials used in the manufacture of three-dimensional sculpture, among others: burrs, scissors plate, scissors iron, electric welding (electrodes), welding acetylene (carbide), pliers, hammer, brush, spait, meter, bucket and machinery compressor. While the materials used, among others: Bike former (bike frame, front forks bicycle, wheels, handlebars, gears), iron, plate, metal paint brand aclouse super and brand top color, paint dye antique brand poinner, thinner, gasoline, liquid anti rust and paint finishing Impra brand and brand aqua lacquer; (3) The manufacturing process works as follows: First, selecting materials. Second, the designing process. The third process is formating: the formating the body, the formating the head and neck, the formating the foot, and assembly. Fourth finishing process, there are two steps, namely the process of painting and giving clear; and (4) the kinds of three-dimensional works of art made from old bicycle parts are animal-shaped horse. three-dimensional sculpture has a horse-shaped motion and different sizes, Vegasus horse (a horse with a horn and wings) and some elephants keyword : three-dimensional art work, old bicycle, horse and elephant
ANALISIS GAMBAR ANAK-ANAK DI TK AISHIYAH BUSTANUL ATHFAL SINGARAJA ., Ni Nyoman Tri Widiani; ., Dra. Luh Suartini; ., Ketut Nala Hari Wardana, S.Sn.
Jurnal Pendidikan Seni Rupa Undiksha Vol 6, No 1 (2016)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (413.988 KB) | DOI: 10.23887/jjpsp.v6i1.8734

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tentang (1) elemen gambar yang di buat anak-anak di Tk Aisyiyah Bustanul Athfal Singaraja (2) tema yang terdapat pada gambar anak-anak di Tk Aisyiyah Bustanul Athfal Singaraja (3) Analisis gambar anak-anak di Tk Aisyiyah Bustanul Athfal Singaraja. Penelitian ini menggunakan metode: (1) observasi (2) wawancara (3) dokumentasi (4) Fokus Grup Diskusi (FGD) dan (5) kepustakaan. Data dianalisis dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif. Hasil penelitian ini adalah (1) Pada penelitian ini elemen gambar yang sering ditemukan pada gambar anak yaitu, garis bergelombang, garis melingkar, garis melengkung, garis lurus vertikal dan horizontal. Walaupun anak bercerita bebas melalui gambar, pada beberapa anak pola-pola gambar yang diberikan guru masih menjadi bagian cerita dari gambar anak. Anak belum fokus kewarna karena pikiran anak lebih didominasi oleh bentuk, sedangkan masalah ruang masih belum bisa dipecahkan/dikuasai anak dengan baik; (2) tema yang paling banyak digunakan anak-anak adalah tema “diriku”, karena pada masa ini anak-anak cenderung egois dan mengutamakan dirinya sendiri. Sedangkan tema yang jarang digambar anak-anak adalah “negaraku” dan “alam semesta”, karena pada masa prabagan ini anak lebih banyak menggambarkan hal-hal yang secara langsung berhubungan dengan dirinya; (3) pada analisis gambar, jika dilihat dari segi positif terlihat anak sudah cukup mampu menggambar dengan bebas, bercerita dan mengekspresikan diri melalui gambar, dan beberapa anak sudah mampu memenuhi ruang gambar. Sedangkah dari sisi negatif dapat dilihat ada sebagian anak masih memakai pola tertentu untuk mewakili objek, ada beberapa anak yang kurang percaya diri dalam menggambar dirinya. Kata Kunci : Analisis, Gambar Anak Tk. This study aims to describe (1) picture elements that made by the children at Tk Aisyiyah Bustanul Athfal Singaraja (2) the theme which is exist in children’s picture at Tk Aisyiyah Bustanul Athfal Singaraja (3) children’s picture in Tk Aisyiyah Bustanul Athfal Singaraja. This study used: (1) Observation (2) interviews (3) documentation (4) Focus Group Discussion (FGD) and (5) literature. The data were analyzed by using descriptive qualitative method. The results of this study are (1) the picture elements which are often found in children’s picture are wavy lines, circular line, curved line, vertical line and horizontal. Even though children do free storytelling through pictures, for some children patterns of the pictures given by the teacher is still part of picture story of the child. Child do not focus on color because the child’s mind is dominated by form; (2) the theme most widely used by the children is the theme of "myself", because at this age children tend to be selfish and put themselves in the first place. The theme which rarely use by the children is the theme about "my country" and "the universe". because the children tend to draw thing that are derectly related to ther; (3) the analysis of the pictures, seen already enough for the children to draw freely, tell stories and express their feeling through picture, although there are some children still wear certain patterns to represent an object, and some children lack confidence in drawing ther self. keyword : an analysis of children’s picture, art of the children in prabagan period
TENUN RANGRANG DI DESA PEJUKUTAN KECAMATAN NUSA PENIDA KABUPATEN KLUNGKUNG ., I Wayan Sudarsana; ., Drs. Gede Eka Harsana Koriawan; ., Drs.Mursal
Jurnal Pendidikan Seni Rupa Undiksha Vol 4, No 1 (2014)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjpsp.v4i1.2415

Abstract

Pada umumnya masyarakat Bali hanya mengenal kain tenun gringsing, kain tenun songket maupun kain tenun endek. Ada jenis kain yang berasal dari Desa Pejukutan, Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung, dinamakan kain tenun rangrang. Proses pembuatan kain tenun rangrang menggunakan alat tradisional dinamakan alat tenun cagcag. Tujuan penelitian ini untuk memberikan informasi tentang sejarah keberadaan, alat dan bahan, proses pembuatan sampai motif hias yang terdapat pada kain tenun rangrang. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Populasi penelitian ini adalah perajin tenun rangrang di Dusun Karang, Desa Pejukutan yang berjumlah 81 orang. Sampel penelitian ini berjumlah 6 orang yang ditentukan melalui pendekatan porposive sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan metode observasi, wawancara, dan dokumentasi. Data yang diperoleh kemudian dianalisis dengan menggunakan analisis domain dan taksonomi. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa sejarah keberadaan tenun rangrang diperkirakan sudah ada sejak zaman kerajaan Majapahit dengan nama cerik bolong, kemudian berkembang menjadi nyrangnyang, terakhir menjadi rangrang. Setelah nyaris punah, tenun rangrang kembali diproduksi tahun 2011. Alat yang digunakan adalah tenun cagcag. Bahan yang dipergunakan: benang metris dan rayon, pewarna alami menggunakan daun tarum, daun jati, kulit kayu (jamblang, mangga, kepundung/menteng, mengkudu), dan kayu secang/sepang, penguat warna alami digunakan tunjung/mimusops elengi, kapur tohor/calcium carbonate, dan tawas/potasium alum sulfide, sedangkan pewarna kimia menggunakan pewarna direk dan nandrin, serta metanol sebagai penguat pewarna kimia. Proses pembuatan tenun rangrang, yaitu pengolahan serat, pewarnaan, dan proses tenun. Motif yang terdapat pada tenun rangrang, yaitu motif pinggiran gunung, motif utama (wajik, iled, bianglala, jalur, porosan, skoci, gablak, silang, taji, dan sirang).Kata Kunci : tenun rangrang, pewarna alami, motif hias In general, Balinese people only know about woven cloth of gringsing, woven cloth of songket and also woven cloth of endek. There is a kind of cloth which comes from Pejukutan Village, Nusa Penida, Klungkung Regency that we called woven cloth of rangrang. The process to make this woven cloth of rangrang is using a traditional tool that we called cagcag. The purpose of this research is to give information about the existence, tools, materials and also the process how to make it until the kinds of motif in woven cloth of rangrang. This research is a kind of descriptive qualitative research. The population of this research is the entire rangrang woven craftsman at Karang Orchard, Pejukutan Village with the number of 81 people. The samples of this research are 6 people who are determine by using approach technique of porposive sampling. The process of collecting the data was using methods of observation, interview and documentation. The data which was founded is then analyzed by using the technique of domain and taxonomy analysis. The result of this research shows that the history of the existence of rangrang woven was estimated exist since the era of Majapahit kingdom with the name of cerik bolong, Then it is develop become nyrangnyang, and for the last it becomes rangrang. After almost extinct, rangrang woven was reproduced again at 2011. The tool that used is called cagcag. The materials that used are: metris yarn and rayon, for natural dyes are using indigofera suffruticosa, disambiguasi, cortex of (syzygium cumini, mangifera indica, baccaurea racemosa, morinda citrifolia), and caesalpinia sappan. For strengthen the color, it is using mimusops elengi, calcium carbonate, and potassium alum sulfide. For chemical dyes are using direk and nandirin, also methanol for strengthen the color. The process how to make rangrang woven are consists of manufacturing the fiber, coloring and the process of weaving. Any kinds of motif that exist in rangrang woven are the motif of pinggiran gunung and also the main motif (wajik, iled, bianglala, jalur, porosan, skoci, gablak, silang,taji and sirang).keyword : tenun rangrang, pewarna alami, motif hias
TAMPILAN DESAIN WEB PADA PEMASARAN PRODUK KERAMIK DI CV TANTERI KERAMIK ., I Putu Aditya Diatmika; ., Drs.Jajang S,M.Sn; ., Ketut Nala Hari Wardana, S.Sn.
Jurnal Pendidikan Seni Rupa Undiksha Vol 4, No 1 (2014)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (265.589 KB) | DOI: 10.23887/jjpsp.v4i1.3513

Abstract

Penelitian ini bertujuan ini untuk memperoleh gambaran tentang (1) tampilan desain website CV Tanteri Keramik dan (2) strategi pemasaran berbasis web di CV Tanteri Keramik. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif, dengan teknik pengumpulan data menggunakan teknik observasi, teknik wawancara, dan teknik pendokumentasian. Adapun sasaran penelitian ini adalah tampilan desain web pada pemasaran produk keramik di CV Tanteri Keramik, Banjar Simpangan, Desa Pejaten, Tabanan. Hasil temuan penelitian ini menunjukkan bahwa (1) desain website CV Tanteri Keramik memiliki 3 elemen penyusun layout yang terdiri atas elemen teks, elemen visual, dan elemen tak terlihat (tata letak). Elemen teks yang secara umum terdapat pada setiap layout terdiri atas nameplate, address, menu, deskripsi, daftar artikel, dan copyright. Secara umum elemen visual yang terdapat dalam setiap layout terdiri atas logo, foto utama dan penghargaan. Foto khusus terdapat pada layout about us, products, contact us dan pada setiap artikelnya. Tata letak setiap layout tersusun secara umum dari logo, nameplate, address, foto utama, menu, deskripsi, daftar artikel, penghargaan, dan copyright.(2) strategi pemasaran yang dipergunakan adalah dengan memanfaatkan fasilitas website sebagai sarana untuk men-display produk serta menjadi alat komunikasi, baik pemesanan ataupun sekadar mencari informasi yang ditujukan untuk konsumen yang berada di luar negeri ataupun konsumen dalam negeri yang berada jauh dari perusahaan. Kata Kunci : Desain Website, Strategi Pemasaran The aim of this study was to gain an overview of (1) website design view of CV Tanteri Keramik and (2) a web marketing strategy in CV Tanteri Keramik. This study is a descriptive study with a qualitative approach, the data collection techniques using observation, interview techniques, and technical documentation. The goal of this research is the design of the web on the marketing of ceramic products in CV Tanteri Keramik, Banjar Simpangan, Desa Pejaten, Tabanan. The findings of this study indicate that (1) Website design of CV Tanteri Keramik has 3 constituent elements layout consisting of text elements, visual elements, and invisible elements (layout). Text elements that are common to every layout consist of a nameplate, address, menus, descriptions, list of articles, and copyright. In general, the visual element which is contained in each layout consists of a logo, main picture and awards. Special photo to the layout there about us, products, contact us and on every article. The layout of each layout is generally composed by a logo, nameplate, address, main picture, menus, description, list of articles, awards, and copyright. (2) marketing strategy that is used to utilize the facility as a means for websites to display products as well as being communication tool, either ordering or just looking for information intended for consumers who are overseas or domestic consumers who are far away from the company.keyword : Website Design, Marketing Strategy.
SENI PATUNG PADAS COR DI UD. EKA JAYA UKIR, DESA KUKUH, KECAMATAN MARGA, KABUPATEN TABANAN ., I Made Diana Putra; ., Drs. I Gusti Ngurah Sura Ardana,M.Sn.; ., Dra. Luh Suartini
Jurnal Pendidikan Seni Rupa Undiksha Vol 4, No 1 (2014)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (300.82 KB) | DOI: 10.23887/jjpsp.v4i1.4298

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keberadaan seni patung Padas Cor, alat dan bahan yang digunakan dalam pembuatan patung Padas Cor, proses pembuatan patung Padas Cor, dan jenis-jenis patung Padas Cor yang dihasilkan di UD. Eka Jaya Ukir, Desa Kukuh, Kecamatan Marga, Kabupaten Tabanan. Subjek penelitian adalah Bapak Made Oka Wijaya pemilik UD. Eka Jaya Ukir. Data penelitian tentang Patung Padas Cor dikumpulkan menggunakan instrumen berupa lembar instrumen observasi, instrumen wawancara dan instrumen dokumentasi.Data yang telah dikumpulkan dianalisis menggunakan teknik deskriptif kualitatif dengan menggunakan analisis domain dan analisis taksonomi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembuatan patung dengan teknik cor mempunyai daya produksi yang sangat cepat, teknik cor ini juga memanfaatkan limbah Batu Padas yang sudah tidak terpakai sehingga menghemat biaya produksi. Selama proses pencetakan patung padas cor dapat dikerjakan oleh orang yang memang bukan pematung. Tema yang diangkat dalam pembuatan Patung Padas Cor di UD. Eka Jaya Ukir tidak hanya tema-tema pewayangan seperti Ramayana, Mahabharata, mitologi Hindu dan tantri, akan tetapi juga kehidupan sehari-hari, sehingga hadir karya patung padas yang sangat variatif. Patung padas cor yang dihasilkan oleh UD. Eka Jaya Ukir, Desa Kukuh, Marga, Tabanan adalah Patung Hanoman, Dwarapala, Ganesha, Singa, Tualen, dan Nyuwun Jun. Kata Kunci : seni patung, patung padas cor, ud. eka jaya ukir This research is aim to know the existence of Padas Cor sculpture, tools and material which are used in producing Padas Cor statue, process of producing Padas Cor statue, and types of Padas Cor statue which were produced in UD. Eka Jaya Ukir, Kukuh Village, Marga Subdistrict, Tabanan Regency.The subject of the study was Made Oka Wijaya as the owner of UD. Eka Jaya Ukir. The data about Padas Cor statue was collected by conducting observation, interview, and documentation method. The collected data was analyzed by using qualitative descriptive method by applying domain and taxonomy analysis.The results of the study showed that the production of the statue by applying casting technique has rapid production power, casting technique also makes use of Padas statue waste which cannot be used, so this can decrease production cost. The process of casting Padas Cor statue can be done by non-sculptor. The themes of Padas Cor statue production in UD. Eka Jaya Ukir are not only about leather puppet performances, e.g. Ramayana, Mahabharata, Hindu mythology and tantri, but also daily life, so various Padas statues can be produced. Padas Cor statues which are produced by UD. Eka Jaya Ukir, Kukuh Village, Marga Subdistrict, Tabanan Regency are Hanoman, Dwarapala, Ganesha, Singa, Tualen, and Nyuwun Jun statue. keyword : sculpture, padas cor statue, ud. eka jaya ukir
KERAJINAN GERABAH TINGGANG DI DESA BANYUMULEK, KECAMATAN KEDIRI, LOMBOK BARAT ., Nila Kusuma Dewi; ., Dra. Luh Suartini; ., I Nyoman Rediasa, S.Sn., M.Si
Jurnal Pendidikan Seni Rupa Undiksha Vol 5, No 1 (2015)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (363.158 KB) | DOI: 10.23887/jjpsp.v5i1.6371

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk (1) mendeskripsikan sejarah keberadaan gerabah Tinggang di Desa Banyumulek, Kecamatan Kediri, Lombok Barat, (2) mendeskripsikan alat dan bahan yang digunakan dalam pembuatan gerabah Tinggang di Desa Banyumulek, Kecamatan Kediri, Lombok Barat, (3) mendeskripsikan proses pembuatan gerabah Tinggang di Desa Banyumulek, Kecamatan Kediri, Lombok Barat, (4) mendeskripsikan bentuk dan dekorasi yang digunakan pada gerabah Tinggang di Desa Banyumulek, Kecamatan Kediri, Lombok Barat. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriftif kualitatif. Objek penelitian ini adalah Kerajinan Gerabah Tinggang di Desa Banyumulek, Kecamatan Kediri, Lombok Barat. Metode pengumpulan data yang dilakukan adalah menggunakan metode observasi, wawancara, dokumentasi.Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Alat-alat yang digunakan dalam proses pembuatan gerabah Tinggang yaitu: Ayakan (Penyaring), Alat Pemutar, Alas Gerabah, Pisau Seng, Bambu, Pengkerean, Peterengan, Memeret (Kain Lap), Batu Rabak (Batu Kasar), Batu Pangan (Batu Halus), (2) Bahan-bahan yang digunakan dalam proses pembuatan gerabah tinggang yaitu: Tanaq Beak (Tanah liat), Pasir, Air, Serabut Kelapa, Kayu, Jami (Jerami), Karet Ban Dalam, (3) Proses yang dilakukan dalam pembuatan gerabah tinggang yaitu: Ngelamur (Pengolahan Tanah Liat), Ngenyun (Pembuatan Gerabah), Ngebelong (Pembuatan Leher Gerabah), Ngalusang (Menghaluskan Gerabah),dan Nenunuq (Pembakaran).Kata Kunci : Pembuatan, Gerabah Tinggang, Desa Banyumulek This research aims to (1) describing the history of existence of Tinggang pottery at Banyumulek Village, Kediri District, West Lombok, (2) describing the tools and materials used in the manufacture of Tinggang pottery at Banyumulek Village, Kediri District, West Lombok, (3) describe the manufacturing process of Tinggang pottery at Banyumulek Village, Kediri District, West Lombok, (4) describe the form and decoration are used of Tinggang pottery at Banyumulek Village, Kediri District, West Lombok. This type of research is qualitative descriptive study. The object of this study is Tinggang pottery craft at Banyumulek Village, Kediri District, West Lombok. Data collection method is to use the method of observation, interview, documentation. The results of research showed that (1) the tools used in the manufacturing process of Tinggang pottery is : filter (ayakan), basic pottery, knife, bamboo, pengkerean, peterengan, memeret (cleaner fabric), rude stone (rabak stone), smooth stone (pangan stone), (2) the materials used in the manufacturing process of gerabah Tinggang is : clay (tanak beak), sand, coconut fiber, wood, straw (jami), inner tube rubber, (3) Process conducted in manufacturing of Tinggang pottery is : thouged of the clay (ngelamur), manufacture of pottery (ngenyun), Neck manufacture of pottery (ngebelong), smoothes Pottery, and burning (nenunuq).keyword : Tinggang Pottery, Art Crafts, Banyumulek Village
Arsitektur Rumah Pacenan di Desa Nelayan Kecamatan Jangkar Kabupaten Situbondo ., Mohammad Arifurrohma; ., Drs. Gede Eka Harsana Koriawan, M.Erg; ., I Nyoman Rediasa, S.Sn., M.Si
Jurnal Pendidikan Seni Rupa Undiksha Vol 6, No 2 (2016)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (319.247 KB) | DOI: 10.23887/jjpsp.v6i2.8057

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) sejarah dan keberadaan Rumah Pacenan di Kecamatan Jangkar; (2) pola arsitektur dilihat dari pembagian ruang, fungsi, hiasan atau ornamen serta nilai estetis. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Subjek penelitian ini adalah tiga orang tukang pembuat rumah pacenan dan budayawan dan objek penelitian ini adalah rumah pacenan. Metode yang digunakan untuk pengumpulan data dalam penelitian ini adalah dokumentasi, wawancara dan kepustakaan. Dengan menggunakan analisis domain dan taksonomi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) Sejarah rumah pacenan di Kecamatan Jangkar yaitu ada seorang laki-laki yang melamar seorang gadis di Desa Jangkar yang membuatkan rumah sebagai mas kawinnya, kemudian rumah itu disebut dengan rumah pacenan karana lelaki tersebut berasal dari tanjung pecinan. Kemudian rumah tersebut dikembangkan. Keberadaan rumah pacenan di Kecamatan Jangkar sudah banyak yang mengalami modifikasi hal ini dikarenakan beberapa faktor antara lain: banyak bagian rumah yang sudah lapuk, bagian rumah pacenan dijual karena harga menggiurkan dan memodifikasi rumah pacenan karena ingin mengikuti tren hari ini. (2) pola arsitektur rumah pacenan menggunakan pola atap seperti gunung yang disebut dengan bubung, menggunakan empat tiang belakang dan dua tiang depan . ukuran rumah pacenan menggunakan ukuran kaki dan sangat bervariasi antara lain 15, 17, 19 dan 21. Rumah pacenan mempunyai 2 ruang yaitu amper/ruang tamu berfungsi tempat menerima tamu dan roma /tempat istirahat berfungsi sebagai tempat istirahat bersifat pribadi tidak sembarang orang boleh masuk kecuali orang yang sudah diizinkan oleh tuan rumah. Ornamen pada rumah pacenan kebanyakan dengan motif hewan, bunga dan geometris tidak ada nilai historis didalamnya hanya berfungsi sebagai nilai keindahan saja. Nilai estetis dari rumah pacenan terlihat saat semua bagian dari rumah pacenan berjalan dengan sebagaimana fungsinya. Kata Kunci : arsitektur, sejarah, pacenan This study aims to determine: (1) the history and existence of Home Pacenan in District Jangkar (2) architectural pattern seen from the division of space, function, decoration or ornament and aesthetic value. This research is a descriptive qualitative approach. The subjects were three other carpenters and cultural pacenan home maker and the object of this study is pacenan home. The method used for collecting data in this study are documentation, interviews and literature. By using the domain analysis and taxonomy. The results of this study indicate that: (1) The history of the house pacenan in District Jangkar there was a man who proposed to a girl in the village of Jangkar that he made the house as a dowry, then the house was called the house pacenan because these man came from the promontory of Chinatown. Then the house was developed. The existence of houses in the district pacenan in Jangkar many have been modified this is due to several factors, among others: many parts of the house that had rotted, part pacenan homes sold for an amazing price and modify pacenan houses because they want to follow the trend these days. (2) architectural pattern pacenan home using a pattern roof like a mountain ridge called, using four-pole and two-pole behind the fron.. The size pacenan home use foot size and vary considerably among others 15, 17, 19 and 21. The house has two rooms that pacenan amper / living room serves the reception area and roma / rest area serves as a place of rest is personal not just anyone allowed in except people who have been permitted by the host. Ornaments at house pacenan mostly with motifs of animals, flowers and geometric no historical value of art in it, only serves as an aesthetic value alone of art are same. Pacenan aesthetic value of art the house looks when all parts of the house pacenan running as its function. keyword : architecture, history, pacenan
Rumah Berbahan Kayu Bekas Karya Gede Kresna di Bengkala, Kubutambahan, Buleleng, Bali ., I Komang Wirya Adnyana; ., Drs. Gede Eka Harsana Koriawan, M.Erg; ., I Nyoman Rediasa, S.Sn., M.Si
Jurnal Pendidikan Seni Rupa Undiksha Vol 6, No 1 (2016)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (666.799 KB) | DOI: 10.23887/jjpsp.v6i1.8625

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) perwujudan gagasan Gede Kresna sebagai inspirator dalam pembuatan rumah berbahan kayu bekas di Bengkala, Kubutambahan, Buleleng, Bali; (2) alat yang digunakan dalam pembuatan rumah berbahan kayu bekas Gede Kresna di Bengkala, Kubutambahan, Buleleng, Bali ; (3) proses pembuatan rumah dengan berbahan kayu bekas oleh Gede Kresna di Bengkala, Kubutambahan, Buleleng, Bali. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Subjek penelitian ini adalah Gede Kresna dan tukang- tukangnya sedangkan objek penelitian ini adalah Gede Kresna dan rumah kayu bekasnya. Metode yang digunakan untuk pengumpulan data dalam penelitian ini adalah dokumentasi, wawancara dan kepustakaan. Dengan menggunakan analisis domain dan taksonomi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) perwujudan gagasan Gede Kresna menggunakan kayu bekas sebagai konstruksi rumah berangkat dari keadaan, keadaan dimana Gede Kresna sejak dulu menyukai barang- barang lama, disamping itu berangkat dari kekhawatirannya kepada kelestarian lingkungan akan penebangan pohon yang secara sembarangan, selain itu juga menggunakan kayu bekas didasarkan pada keunikan dari penampakan kayu tersebut. Perwujudan karya- karya Gede Kresna tidak berupa rumah saja tetapi berupa villa, rumah makan dan lain- lain yang memiliki peminat dari dalam maupun luar Bali. (2) Alat- Alat yang digunakan dalam pembuatan rumah kayu bekas: mesin serkel , bor listrik atau mesin pengeboran, mesin serut, mesin amplas, mesin gerinda. geregaji tangan, mesin pembuat purus/ mortising machine, berbagai jenis pahat tukang, palu, meteran gulung, penggaris siku- siku, pensil dan pulpen, kapak, dan tang. (3) Proses dalam pembuatan rumah berbahan kayu: diawali dengan membeli dan mengumpulkan material kayu- kayu bekas yang akan dijadikan rumah, kemudian membuat desain atau rancangan rumah yang akan dibuat, dilanjutkan dengan pembuatan maket. Setelah maket jadi kemudian rancangan rumah di konsulidasikan dengan tukang- tukang kemudian pemilihan bahan. Setelah itu kayu dipotong, dihaluskan kemudian dilanjutkan dengan pencoakan serta membuat purus. Setelah semua kayu dibuat coakan dan pembuatan purus kemudian proses perakitan rumah diawali dengan membuat kerangka dasar bangunan, pemasangan tiang struktur, pemasangan konstruksi kap dan kuda- kuda, dilanjutkan dengan pengerjaan detail- detail ukiran, pemasangan skur- skur, membuat kusen- kuses, membuat dinding dan lantai, pemasangan tangga dan railingnnya, pemasangan atap, kemudian yang terakhir adalah proses finishing. Kata Kunci : arsitektur, kayu bekas, Gede Kresna This research aims to determine: (1) the embodiment idea of Gede Kresna as inspiration in the manufacture of wooden houses in the former Bengkala, Kubutambahan, Buleleng, Bali; (2) the tools used in the manufacture of wooden houses in the former Gede Kresna Bengkala, Kubutambahan, Buleleng, Bali; (3) the process of making wooden house with the former by Gede Kresna in Bengkala, Kubutambahan, Buleleng, Bali. This research is a descriptive qualitative approach. The subjects were Gede Kresna and with him while the object of this study was Gede Kresna and wooden houses scars. The method used for data collection in this study is documentation, interviews and literature. By using the domain analysis and taxonomy. The results of the research indicate that: (1) the embodiment idea of Gede Kresna use scrap wood as the construction of the house departs from the state, a state where Gede Kresna had always liked the old goods, in addition to the departure of concern to the environment will be felling trees indiscriminately, but it also uses scrap wood is based on the uniqueness of the appearance of the wood. Embodiment works Gede Kresna not be home alone but in the form of villas, restaurants and others who have interest from within and outside Bali. (2) the tools used in the manufacture of wooden houses ex: serkel machine, electric drill or drilling machine, planer machines, sanding machines, grinding machines, whipsaw, mortising machine, various types of chisel, hammer, meter roll, elbow ruler, pencils and pens, axes, and pliers. (3) The process in the manufacture of wooden houses: beginning with buying and collecting material timbers that will be the former home, then create a design or a design house that will be made, followed by the manufacture of the miniature. After the miniature has finished, then the design of house in consulted with the handymans then the selection of materials. After that, cut the wood, crushed and then continued with made the coak and purus. After all the wood has made purus and coakan then home assembly process begins with the basic skeleton of the building, the installation of pole structures, construction installation hood, followed by the details carving workmanship, installation skur- skur, making kusen- kusen, walls and floors, installation of stairs and the railing, installation of roof, then the last is finishing process.keyword : architecture, scrap wood, Gede Kresna
ALIH KETERAMPILAN SENI LUKIS GAYA BATUAN OLEH KOMUNITAS BATURULANGUN BATUAN Dewi, Ni Wayan Erica; Sudarmawan, Agus; Ardana, I Gusti Ngurah Sura
Jurnal Pendidikan Seni Rupa Undiksha Vol 10, No 1 (2020)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (977.982 KB) | DOI: 10.23887/jjpsp.v10i1.28113

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan (1) Latar belakang peserta didik dari komunitas Baturulangun dalam kegiatan alih keterampilan melukis gaya Batuan, (2) Proses alih keterampilan oleh komunitas Baturulangun di dalam mengajarkan melukis gaya Batuan pada peserta didiknya, dan (3) Hasil karya para peserta didik dari komunitas Baturulangun dalam kegiatan alih keterampilan melukis gaya Batuan. Subjek dan Objek penelitian ini adalah karya lukis dan katalog dari komunitas Baturulangun sebagai refrensi belajar peserta didiknya, serta  proses alih keterampilan seni lukis gaya Batuan. Penelitian merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan teknik (1) observasi, (2) wawancara, (3) dokumentasi, dan (4) kepustakaan. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa (1) hal yang melatarbelakangi peserta didik yang mengikuti kegiatan alih keterampilan untuk belajar melukis bukan hanya sekedar hobi, namun juga karena kesadaran akan pentingnya melestarikan budaya yang sudah turun temurun. (2) Proses alih keterampilan melukis gaya Batuan diawali dengan pemahaman tentang lukis Gaya Batuan, dilanjut dengan pemahaman bentuk ornament bali dan ukiran bali, setelah itu diberikan pemahaman tahapan-tahapan dalam melukis gaya Batuan. (3) Hasil dari lukisan gaya Batuan yang dibuat murid-murid dari kelompok akademik, cantrik, dan pewarisan memiliki tingkat kemiripan yang berbeda, hasil lukisan anak-anak kelompok cantrik dan pewarisan lebih mendekati ciri-ciri dari seni lukis gaya Batuan. Walaupun hasilnya berbeda tetapi dapat memberi manfaat bagi para pembelajar antara lain melatih kreatifitas, membina sikap kecermatan dan ketekunan, kerapian dan mengembangkan sensitifitas. Selain itu, memupuk bakat dan minat dalam keterampilan melukis gaya Batuan.