cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
WIDYA LAKSANA
ISSN : 14104369     EISSN : 25496859     DOI : -
Core Subject : Education,
Widya Laksana is a scientific multidisciplinary journal published by Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Pendidikan Ganesha twice a year; January and August
Arjuna Subject : -
Articles 652 Documents
PELATIHAN PENGEMBANGAN ASESMEN AUTENTIK DALAM IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013 DI SEKOLAH DASAR BERBASIS LESSON STUDY BAGI GURU-GURU SD DI KECAMATAN BULELENG Jampel, I Nyoman
JURNAL WIDYA LAKSANA Vol 5 No 1 (2016)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (259.393 KB) | DOI: 10.23887/jwl.v5i1.9095

Abstract

Tujuan dari pelaksanaan P2M ini adalah untuk meningkatkan kemampuan guru (1) merencanakan pembelajaran yang akan dilaksanakan di dalam kelas. Dalam hal ini, pembuatan RPP, LKS, media pembelajaran, dan instrumen evaluasi. Dan (2) melaksanakan proses penilaian dalam implementasi kurikulum 2013 sesuai dengan pasal 19 PP No 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan dan Permendiknas no 41 Tahun 2007 tentang standar proses pendidikan. Dengan demikian, bentuk kegiatan pengabdian yang akan dilakukan berupa pendampingan lesson study di sekolah. Secara umum, urutan langkah-langkah rinci lesson study mulai dari tahap merencanakan (plan), melaksanakan (do), dan merefleksi (see). Hasil kegiatan refleksi pada siklus I adalah (1) Dalam bekerja dalam kelompok, terdapat siswa yang tidak bekerja. Hal ini dikarenakan guru model tidak memberikan tugas yang jelas kepada masing-masing siswa dalam satu kelompok. Tugas-tugas dalam kelompok sebagian besar dikerjakan oleh orang yang sama atau satu / dua orang saja. Solusi mungkin untuk pertemuan berikutnya setiap siswa diberikan tugas yang jelas kepada masing-masing kelompok. Ini dilakukan sebelum diskusi kelompok dimulai. (2) Secara umum pembelajaran yang dilaksanakan guru model sudah sangat baik, akan tetapi masih ada beberapa kelemahan yang dapat menyebabkan siswa tidak dapat belajar dengan baik. Siswa tidak ada yang mengacungkan tangan untuk bertanya, apakah karena sudah mengerti atau tidak berani karena ada observer. (3) Banyak siswa tidak dapat bekerja dalam kelompok dan harus menunggu penjelasan dari guru. Hal ini dikarenakan di awal kegiatan guru model kurang memberikan petunjuk diskusi, petunjuk penggunaan alat, dan langkah-langkah yang jelas. Dan (4) Secara garis besar, ketercapaian pembelajaran pada siklus I sudah mencapai 85%. Adapun hasil kegiatan refleksi pada siklus II adalah (1) Secara umum pembelajaran yang dilaksanakan guru model sudah sangat baik dan tujuan pembelajaran yang diharapkan sudah tercapai. (2) Guru model sudah melaksanakan pembelajaran dengan sangat kontekstual sehingga siswa benar-benar memahami materi yang disajikan dan tentunya pembelajaran ini akan sangat bermakna bagi siswa itu sendiri. (3) Siswa sangat antusias mengikuti pembelajaran yang dilaksanakan. Hal ini tidak terlepas dari persiapan yang dilakukan oleh guru model. Pembelajaran sangat kontekstual dan sangat menantang. (4) Siswa sangat termotivasi mengikuti pembelajaran. Hal ini disebabkan pembelajaran yang dilaksanakan mengutamakan partisipasi aktif seluruh siswa untuk bekerja dan belajar dengan baik. (5) Semua siswa dapat belajar dengan baik. Ini tentunya berkat kerja keras guru model untuk mempersiapkan pembelajaran dan perhatian guru dapat mencapai seluruh siswa. Dan (6) Secara garis besar, ketercapaian pembelajaran pada siklus II sudah mencapai 95%.
PROGRAM IPTEKS BAGI MASYARAKAT (IbM) PENDIDIKAN DI DESA TERPENCIL parmiti, desak putu; Sulastri, Made; Pudjawan, I Ketut
JURNAL WIDYA LAKSANA Vol 5 No 2 (2016)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (639.369 KB) | DOI: 10.23887/jwl.v5i2.9097

Abstract

Kegiatan akhir dari IbM ini adalah (1) terwujudnya 1 paket kurikulum di pesraman Widya Santhi Mandiri dan Sekha Santhi Jayanti Saraswati yang berbasis kewirausahaan, (2) terwujudnya buku penunjang pembelajaran di pesraman, (3) terwujudnya media pembelajaran yang membantu pendidikan di pesraman Widya Santhi Mandiri dan Sekha Santhi Jayanti Saraswati. Dan (4) terwujudnya unit usaha mandiri yang bisa membantu keuangan lembaga. Pesraman widya santhi mandiri adalah salah satu pesraman yang mengembangan seni budaya daerah di Desa Tianyar. Pembelajaran di Pesraman Widya Santhi Mandiri adalah pembelajaran kebudayaan seperti menari, mesatua, mekidung, nulis lontar, membuat banten, dan darma tula dan darma wecana. Sedangkan Sekha Santhi Jayanti Saraswati adalah Kelompok seni suara tradisional  yang bergerak di bidang kebudayaan mekidung/meshanti (bernyanyi) untuk orang dewasa. Kelompok ini terdiri dari 30 orang, 10 wanita dan 20 lelaki. Kedua kelompok ini masih terbatas dengan pembelajaran konvensional, tanpa kurikulum, dan media pembelajaran yang digunakan juga belum ada. Walaupun bergerak di pendidikan non formal, kurikulum, proses pembelajaran, dan media pembelajaran tetap memegang peranan penting terhadap keberhasilan siswa. Berdasarkan gambaran dari potret permasalahan yang dihadapi mitra, tolok ukur transfer iptek bagi masyarakat adalah dengan menyasar 30 anak-anak dan 30 orang dewasa perwakilan masing-masing kelompok mengimplementasikan kurikulum yang sudah dirancang. Adapun ilmu pengetahuan dan teknologi yang telah ditransfer adalah: 1) pelatihan penyusunan kurikulum pesraman, 2) Pelatihan pembuatan media pembelajaran penunjang kurikulum, dan 3) Pelatihan manajemen organisasi. Keseluruhan proses transfer iptek yang telah dilaksanakan dengan pola pendidikan dan pelatihan serta pendampingan yang meliputi: sosialisasi, pelatihan, dan pendampingan kepada pesraman Widya Santhi Mandiri dan Sekha Santhi Jayanti Saraswati diharpakan dapat menambah wawasan dan kepribadian output dari pembelajaran yang dilakukan di kedua kelompok tersebut
Pelatihan Kerajinan Tempurung Kelapa DI Desa Tianyar parmiti, desak putu
JURNAL WIDYA LAKSANA Vol 5 No 1 (2016)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (522.615 KB) | DOI: 10.23887/jwl.v5i1.9100

Abstract

ABSTRAK Tujuan umum dari pengabdian ini adalah untuk memberikan peluang usaha baru bagi kelompok Sri Amerta Sari dan Karya Santhi di desa Tianyar dengan memberikan pelatihan kerajinan tempurung kelapa dan manajemen dan administrasinya serta dilengkapi engan SIUP. Pengabdian ini dilaksanakan selama 4 Bulan yaitu mulai tanggal 1 Juni sampai dengan 30 September 2015 di Desa Tianyar Kecamatan Kubu kabupaten Karangasem. Metode yang digunakan dalam pelatihan ini adalah metode diklat dan praktek langsung yang dimulai dari perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi. Jumlah peserta yang ikut adalah 30 orang yang berasala dari kelompok Sri Amerta Sari dan Kelompok Karya Santhi. Ketentuannya dari 30 peserta pelatihan yang mengikuti program ini, pelatihan dianggap berhasil jika 95 % peserta dapat menyelesaikan seluruh program pelatihan. Namun harapan penyelenggara, seluruh peserta pelatihan (100%) agar dapat menyelesaikan program ini. Dan pembelajar dianggap berhasil bila sudah menyerap 80% materi dalam penyelesaian tugas-tugas belajar dan mampu memanfaatkan pengetahuan yang diperoleh untuk meningkatkan kualitas keterampilan kerajinan tempurung kelapa yang pada akhirnya akan dapat meningkatkan kehidupan perekonomian mereka.Hasil yang dicapai dalam pengabdian ini adalah (1) tingkat partisipasi yang tinggi dari mitra program pengabdian kepada masyarakat memberikan dampak positif bagi pelaksanaan program, terlihat dari kehadiran peserta yang tanpa ijin, dan dukungan dari kepala desa, (2) Hasil pelatihan menunjukkan bahwa dari 30 orang yang ikut pelatihan 25 orang (83,33%) masuk dalam kategori sangat mengetahui dan terampil dalam pembuatan kerajinan tempurung kelapa, 2 orang (2,66) termasuk dalam kategori kategori mengetahui dan terampil dalam pembuatan kerajinan tempurung kelapa, dan 5 orang (16,66)  termasuk dalam kategori cukup mengetahui dan terampil pembuatan kerajinan tempurung kelapa, (3) Hasil pelatihan menunjukkan bahwa dari 30 orang yang ikut pelatihan 20 orang (66,67%) masuk dalam kategori sangat mengetahui dan terampil dalam mengkreasikan kerajinan tempurung kelapa, 5 (16,66) orang termasuk dalam kategori kategori mengetahui dan terampil dalam mengkreasikan kerajinan tempurung kelapa, dan 5 orang (16,66)  termasuk dalam kategori cukup mengetahui dan terampil dalam kerajinan tempurung kelapa, dan (4) Kendala pelaksanaan program adalah sulitnya meminid waktu untuk pencapaian kesepakatan pelaksanaan kegiatan, karena umumnya peserta latihan terbentur dengan rutinitas pekerjaan harian yang menunjang perekonomian keluarga, maupun pelaksanaan kegiatan ritual adat-istiadat yang lumayan padat di banjar tunassari desa Tianyar dalam kaitannya dengan paruman desa adat untuk penyelenggaraan ritual keagamaan sebagaimana layaknya masyarakat Hindu Bali pada umumnya.
MEDIA ANTI BULLYING : PEMBIMBINGAN ANAK USIA DINI PADA TAMAN KANAK-KANAK DI KOTA SINGARAJA widiyanthi, dewi arum
JURNAL WIDYA LAKSANA Vol 5 No 1 (2016)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (202.411 KB) | DOI: 10.23887/jwl.v5i1.9101

Abstract

AbstrakMeningkatnya kejadian bullying terhadap anak usia dini menuntut upaya preventif maupun kuratif yang melibatkan pihak-pihak terkait, di antaranya adalah sekolah Taman Kanak-kanak. Upaya yang efektif dapat dilakukan dengan dukungan media sebagai perantara pesan yang ingin disampaikan pada anak usia dini. Permasalahan di lapangan merujuk pada kondisi kurangnya pemahaman guru TK tentang bullying dan pentingnya media bimbingan konseling bermuatan anti bullying untuk anak usia dini. Tujuan yang ingin dicapai melalui kegiatan P2M ini adalah meningkatkan pemahaman dan meningkatkan kemampuan guru TK di Kota Singaraja dalam membuat media bimbingan konseling bermuatan anti bullying untuk anak usia dini.Khalayak sasaran yang dilibatkan dalam kegiatan P2M ini adalah para guru TK di Kota Singaraja, yang berasal dari beberapa gugus. Kegiatan P2M ini dilaksanakan dengan metode ceramah, diskusi, dan workshop, sehingga dapat menghasilkan produk berupa media bimbingan konseling untuk menyampaikan pesan anti bullying bagi anak usia dini.Hasil kegiatan P2M menunjukkan adanya peningkatan pemahaman guru TK tentang perilaku bullying dan peran media BK sebagai sarana menyampaikan pesan yang menaik bagi anak usia dini dan juga pengetahuan tentang pembuatan media untuk menyampaikan pesan anti bullying pada anak usia dini. Pemahaman dan pengetahuan yang semakin bertambah dituangkan dalam pembuatan media. Hasil penilaian dari ahli media BK menunjukkan bahwa secara kuantitatif media yang dihasilkan oleh semua kelompok guru TK berada dalam kriteria sangat baik. Kata Kunci: pelatihan, media bimbingan konseling, anti bullying, anak usia dini.
PELATIHAN PEMBUATAN RUMPON BAGI KELOMPOK NELAYAN DI DESA LES, KECAMATAN TEJAKULA, KABUPATEN BULELENG rihendra, rihendra dantes
JURNAL WIDYA LAKSANA Vol 5 No 1 (2016)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (707.25 KB) | DOI: 10.23887/jwl.v5i1.9102

Abstract

AbstrakSeperti  yang diketahui bahwasanya kekayaan dan potensi perairan Indonesia sangatlah melimpah, yang menjadi salah satu potensi pengembang dan pendongkrak perekonomian masyarakat, khusunya para nelayan. Rumpon adalah salah satu jenis alat bantu penangkapan ikan yang dipasang dilaut, baik laut dangkal maupun laut dalam. Pembuatan rumpon ikan sebenarnya adalah salah satu cara untuk mengumpulkan ikan, dengan membentuk kondisi dasar laut menjadi mirip dengan kondisi karang–karang alami, rumpon membuat ikan merasa seperti mendapatkan rumah baru. Kegiatan ini dirancang dengan mengidentifikasi masalah yang timbul dengan menggunakan model Partisipatory Rural Apprasial (PRA). PRA adalah suatu teknik untuk menyusun dan mengembangkan program operasional dalam pembangunan tingkat desa. Metode ini ditempuh dengan memobilisasi sumber daya manusia dan alam setempat, serta lembaga lokal guna mempercepat peningkatan produktivitas, menstabilkan, dan meningkatkan pendapatan masyarakat serta mampu pula melestarikan sumberdaya setempat.Pelatihan pembuatan rumpon ikan ini mampu menjadi inspirasi bagi nelayan untuk membuat rumpon dan sekaligus mampu meningkatkan hasil tangkapan masyarakat khususnya nelayan di sekitar Desa Les. Kegiatan pelatihan pembuatan rumpon ini mampu didayagunakan dengan optimal untuk meningkatkan kesejahteraan  warga masyarakat, khususnya bagi kelompok nelayan Segara Ening maupun masyarakat sekitar di kawasan Desa Les, Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng-Bali. Kata kunci: nelayan, pelatihan, perikanan, rumpon.
PELATIHAN DAN PENDAMPINGAN REMAJA TEMAN SEBAYA PEDULI KESEHATAN REPRODUKSI DI DESA SINABUN KECAMATAN SAWAN putra, adnyana; Kurnia Widiastuti Giri, Made; Dewi Sri Wahyuni, Ni Putu; Pasek Suadnyani, Made
JURNAL WIDYA LAKSANA Vol 5 No 1 (2016)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (99.281 KB) | DOI: 10.23887/jwl.v5i1.9106

Abstract

Fase remaja merupakan fase yang sangat rentan dan perlu dijaga dengan baik. Pada fase ini salah satu hal yang penting adalah menjaga kesehatan reproduksi. Tingkat pernikahan usia muda di desa Sinabun cukup tinggi. Fakta lainnya adalah ditemukannya kasus Hal ini bertautan dengan berbagai macam faktor seperti pengetahuan mengenai kesehatan reproduksi yang kurang, tingkat pendidikan yang rendah, sosial ekonomi yang rendah, dan kurangnya fasilitas yang menunjang aktivitas remaja secara positif di luar sekolah. Masalah yang diintervensi pada program ini adalah kurangnya pengetahuan remaja mengenai kesehatan reproduksi. Metode yang dipakai adalah pelatihan serta pendampingan remaja teman sebaya yang peduli kesehatan reproduksi. Beberapa media yang diberikan antara lain booklet dan CD berisi materi kesehatan reproduksi. Karya utama program ini adalah pelatihan dan pendampingan. Kekurangan yang dihadapi dalam program ini adalah beberapa peserta kurang aktif terutama dari remaja berusia lebih muda. Pelatihan dan pendampingan yang diberikan terbukti meningkatkan pengetahuan remaja mengenai kesehatan reproduksi serta kemampuannya dalam konseling mengenai kesehatan reproduksi bagi teman sebayanya. Kegiatan ini memberikan dampak yaitu meningkatnya wawasan dan pemahaman remaja mengenai kesehatan reprdduksi sehingga mereka dapat menjaga kesehatan reproduksinya dengan lebih baik. Kesehatan reproduksi yang dijaga dengan baik ini secaa tidak langsung meningkatkan taraf ekonomi dan sosialnya karena dengan kesehatan reproduksi yang baik memungkinkan individu dapat lebih merencanakan masa depannya menjadi lebih baik.
PELATIHAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K3) PERTANIAN DI DESA ANTAPAN, KECAMATAN BATURITI, KABUPATEN TABANAN kurnia, kurnia widiastuti
JURNAL WIDYA LAKSANA Vol 5 No 1 (2016)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (202.638 KB) | DOI: 10.23887/jwl.v5i1.9107

Abstract

Petani merupakan kelompok kerja terbesar di Indonesia. Pertanian dan perkebunan dapat dianggap sebagai satu masyarakat tertutup, sehingga usaha-usaha kesehatan pun harus disesuaikan dengan sifat-sifat masyarakat demikian, dalam arti menyelenggarakan sendiri dan untuk kebutuhan sendiri. Perilaku K3 yang tepat dalam penggunaan pestisida sangat penting sebagai upaya pencegahan keracunan, sehingga perilaku K3 petani pengguna pestisida perlu disosialisasikan secara terintegrasi. Melalui wawancara awal tentang K3 dengan petugas kesehatan yang berprofesi sebagai bidan desa, diperoleh beberapa fakta yang menggambarkan kebutuhan akan penyelenggaraan  pelatihan K3 dimana 1) adanya faktor penyebab lainnya yang juga mempengaruhi tertundanya usaha promotif Puskesmas yaitu masih rendahnya pengetahuan tentang prinsip K3 pertanian yang dimiliki oleh petugas kesehatan yang wilayah kerjanya di Desa Antapan, 2) Adanya prevalensi Infeksi Saluran Pernafasan  Atas pada pasien yang bekerja sebagai petani, dan 3) Kejadian kasus keracunan pestisida  akut pernah ditangani  yang dialami oleh pasien yang merupakan petani di Desa Antapan. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara lainnya dengan  masyarakat desa Antapan yang mayoritas bekerja sebagai petani maka ditemukan beberapa hal berikut ini yaitu 1) Petani mengalami keluhan tentang kondisi kesehatan utamanya gangguan saluran pernafasan dengan beberapa diantaranya mengalami gangguan pencernaan, 2) Petani kurang memahami tentang K3 dikarenakan rendahnya pengetahuan mereka serta belum adanya pembinaan K3 bagi mereka yang mereka jadikan sebuah kebutuhan karena adanya kasus keracunan yang pernah terjadi pada petani di wilayah desa Antapan tersebut. Pelatiahn K3 diberikan dalam metode ceramah, diskusi dan praktek pendampingan berlangsung sangat efektif dengan tercapainya tujuan pengabdian berupa peningkatan wawasan. Pada saat dilaksanakan monitoring evaluasi setelah 2 minggu pelaksanaan, masyarakat petani desa Antapan telah menerapkan prinsip K3 pada keseharian mereka melakukan pekerjaannya.
IPTEKS BAGI WILAYAH (IbW) DI KECAMATAN GEROKGAK Mardana, Ida Bagus Putu
JURNAL WIDYA LAKSANA Vol 1 No 1 (2012)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (53.592 KB) | DOI: 10.23887/jwl.v1i1.9112

Abstract

Kegiatan  IbW  yang  dilakukan  pada  tahun  II  (Tahun  2011)  adalah  melakukan pemetaan asset di wilayah garapan   dan melaksanakan program ipteks peningkatan pengetahuan dan keterampilan dalam pertanian-peternakan-perikanan, pendidikan life skill  dan  kewirausahaan,  dan  pembinaan  adat-istiadat,  keagamaan,  dan  lembaga sosial. Metode pelaksanaan IBW dalam pemberdayaan masyarakat miskin adalah metode PALS (participatory action learning system) yang bersendikan pada 3(tiga) tahapan kegiatan, yakni (1) tahap penyadaran (Awareness), (2) tahap pengkapasitasan/pendampingan (participating /scaffolding), dan (3) tahapan pelembagaan (institutionalization). Hasil kegiatan IbW pada tahun II (tahun 2011) adalah terwujudnya deplot setra industri pengolahan kelapa, demplot pertanian multikultur, demplot peternakan berbasis zero waste. Dampak yang ditimbulkan dari pelaksanaan program IbW tahun II adalah adanya peningkatan kesadaran masyarakat untuk   meningkatkan  kualitas   hidup   melalui   pelipatgandaan  aktivitas   ekonomi produktif masyarakat berpijak pada potensi dan kearifan lokal yang ada, dan peningkatan penguasaan  IPTEKS  untuk  meningkatkan kapasitas  dan  diversifikasi produksi hasil tani-ternak-perikanan
IBM PENGERAJIN PANDAN BERDURI DI DESA TUMBU KARANGASEM BALI Sudana, Dewa Nyoman
JURNAL WIDYA LAKSANA Vol 1 No 1 (2012)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (53.264 KB) | DOI: 10.23887/jwl.v1i1.9113

Abstract

Desa Tumbu kabupaten Karangasem, ada pengerajin padan berduri,  pandan berduri baru hanya digunakan sebagai tikar dan sebagian kecil untuk barang kerajinan yang menunjang tradisi adat dan agama Hindu di Bali. Kondisi ini tidak akan meningkatkan pendapat pengerajin padan berduri secara keseluruhan, karena demand market kecil. Hal ini terlihat dari kondisi masyarakat Desa Tumbu yang masih banyak di bawah garis kemiskinan. Dan masih sedikit yang mampu menyekolahkan anaknya ke perguruan Tinggi. Padahal desa tumbu terletak dekat dengan obyek wisata taman Soka Ujung Karangasem. Inspirasi dari kegiatan ini adalah potensi   kerajinan dan daya dukung desa Tumbu yang belum termanfaatkan dengan baik, hal ini terlihat dari pengerajin, padan berduri kembang kempis dalam memasarkan produknya, karena desainnya monoton, maka ekspansi dan perluasan pasar enggan dikembangkan, sehingga penduduk Desa Tumbu tidak maksimal bergantung pada usaha kerajinan pandan berduri tersebut. Oleh karena itu, perlu dilakukan terobosan yang dapat membantu yakni pengembangan desain produk dan juga bantuan dalam hal penyiapan teknologi pengolahan.Metode yang digunakan adalah pendampingan dengan membuat salah satu anggota kelompok pengerajin pandan berduri, setelah pendampingan dilakukan ekspose terhadap kelompok pengerajin lainnya. Karya utamanya adalah aneka desain, seperti berbagai jenis tas dengan motif yang beraneka ragam, termasuk tas untuk patung Ganesha. Hasilnya dipasarkan sebagai tempat patung Ganesha saat wisuda, kemudian alat /tikar solat unikUlasan karya utama adalah, produks desain antara lain tikar solat yang banyak diminati oleh para tamu domestik, kemudian tas untuk tempat cindera mata patung ganesha saat wisuda, Tas untuk laptop dan map untuk wisuda dan seminar. Desain produk ini sangat luas pemasarannya. Para pengerajin tampak antusias untuk melakukan diversifikasi usaha ini.Kegiatan ini berdampak pada kepedulian pengerajin untuk bekerja tambahan, serta para kios-kios yang ada di dekat Taman Soka Ujung Karangasem telah mulai memasarkan produk-produk hasil P2M ini. Dengan demikian berdampak pada akses pasar dan pendapatan pengerajin pandan berduri di Desa Tumbu Karangasem
IBM UNTUK PETANI ANGGUR DI DESA DENCARIK, KECAMATAN BANJAR. BULELENG BALI Tika, I Nyoman
JURNAL WIDYA LAKSANA Vol 1 No 1 (2012)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (62.89 KB) | DOI: 10.23887/jwl.v1i1.9114

Abstract

Desa Dencarik merupakan sentra anggur di kabupaten Buleleng. Kondisi petani anggur sering tidak menentu. Nasib petani anggur ditentukan oleh kondisi seperti berikut: (1)musim, (2) keberadaan modal, (3)pemasaran. Perkara musim sulit diprediksi, jika terjadi musim ekstrim maka kerap petani anggur gagal panen. Akibatnya petani anggur sering kekurangan modal untuk memenuhi ongkos produksi Dalam kondisi seperti  ini petani pada umumnya meminjam ke para tengkulak, sehingga terjalin hubungan yang melemahkan posisi tawar petani anggur. Para tengkulak mempermainkan harga buah anggur. Oleh karena buah anggur adalah komoditas yang cepat rusak maka, petani menjual buah anggurnya dengan harga yang sangat murah bisa sampai Rp 300-700, per kg. Pemutusan ketergantungan petani anggur terhadap para tengkulak, telah banyak dilakukan oleh pemerintah, lembaga swadaya masyarakat, namun sampai saat ini belum berhasil, karena kepedulian petani masih rendah, disamping program itu sifatnya temporal. Inspirasi dari kegiatan ini adalah perlunya perubahan nasib petani anggur, dengan meningkatkan keterampilan agar petani anggur tidak tergantung pada tengkulak, sehingga titik strategis penanganan petani Anggur Desa Dencarik saat ini  adalah dalam bentuk pemberdayaan pengetahuan dan keterampilan dalam pengolahan buah anggur, sehingga eningkatkan nilai tawar petani Salah satu terobosan yang dibutuhkan oleh petani anggur desa Dencarik Kecamatan Banjar Kabupaten Buleleng ini untuk bisa mengatasi ketergantungan ini adalah, (1) membuat diversifikasi usaha petani anggur, membuat wine dari buah anggur dengan proses fermentasi; (2) memutuskan ketergantungan ekonomi kepada para tengkulak, dengan sesedikit mungkin meminjam sumber daya untuk ongkos produksi. Hal ini dilakukan dengan memproduksi pupuk organik berbahan baku dan biopestisida alami. Selain itu menggagas terbentuknya koperasi petani anggur Desa dencarik. Karya utama kegiatan ini adalah Wine, yang diproduksi oleh petani anggur desa Dencarik. Wine yang diproduksi menggunakan skala rumah tangga, dengan menggunakan Saccaromyces cereviceae  yang isolasi dari kota Singaraja (Isolat Lokal). Produk wine yang dihasilkan mengandung alkohol 12%, dengan  uji  panelis  menunjukkan 85%  merasakan  sangat enak, gurih dan harum. Kekhasan yang dimunculkan dari wine yang diproduksi adalah berwarna merah (red wine). (2) Pupuk organik dan biopestisida alami. Produk ini adalah produk yang digunakan untuk proses meningkatkan produksi anggur sehingga bisa merinankan beban petani. (3) Pembentukan koperasi untuk petani anggur di Desa Dencarik. Simpulan yang diperoleh adalah (1) petani anggur di Desa Dencarik dapat memproduksi wine (wine  merah), (2) petani anggur dapat memproduksi  pupuk organik dan biopestisida alami, (3)petani anggur memiliki koperasi untuk menampung kebutuhan akan pupuk organik, biopestisida dan wine. Kegiatan ini berdampak pada kepedulian petani untuk menggunakan bahan-bahan organik (sampah) dan kotoran untuk penggunaan pupuk, dan biopestisida. Serta merangsang untuk memproduksi wine sehingga dapat meningkatkan pendapatan petani anggur. Dampak kegiatan ini adalah para petani telah mampu memproduksi pupuk organik dan biopestisida alami, serta wine anggur yang menambah geliat pariwisata di dekat Lovina