cover
Contact Name
I Wayan Putra Yasa
Contact Email
yanputra666@gmail.com
Phone
+6285238950355
Journal Mail Official
yanputra666@gmail.com
Editorial Address
Jalan Udayana No. 11, Singaraja-Bali
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Widya Winayata: Jurnal Pendidikan Sejarah
ISSN : 25992635     EISSN : 2599140X     DOI : http://dx.doi.org/10.23887/jjps.v8i2
Widya Winayata: Jurnal Jurusan Pendidikan Sejarah is a scientific journal published by the Department of History Education, Faculty of Law and Social Sciences, Universitas Pendidikan Ganesha. This journal aims to accommodate articles of research results and results of community service in education and history learning. In the end, this journal can describe the development of science and technology in the field of historical education for the academic community. This journal is published three times a year.
Arjuna Subject : -
Articles 544 Documents
TRADISI TER-TERAN (PERANG API) DI DESA PAKRAMAN JASRI, KECAMATAN KARANGASEM DAN POTENSINYA SEBAGAI SUMBER PEMBELAJARAN SEJARAH DI SMA ., Dewa Ayu Made Satriawati; ., Drs. I Wayan Mudana,M.Si.; ., Drs. I Gusti Made Aryana,M.Hum
Widya Winayata: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol 5, No 3 (2017)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjps.v5i3.3612

Abstract

Tradisi lokal kemasyarakatan merupakan bentuk kebudayaan yang berlangsung secara turun temurun. Tanpa tradisi tidak mungkin suatu kebudayaan akan hidup dan langgeng.Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui (1) latar belakang adanya tradisi Ter-teran (Perang Api) di Desa Pakraman Jasri, (2) prosesi pelaksanaan tradisi Ter-teran (Perang Api) di Desa Pakraman Jasri dan (3) aspek-aspek dari Tradisi Ter-teran (Perang Api) yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber pembelajaran sejarah. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah rancangan deskriptif. Data dalam penyusunan penelitian ini terdiri atas data primer dan data sekunder yang dikumpulkan melalui wawancara, observasi, studi dokumentasi. Selanjutnya data yang terkumpul dianalisis menggunakan metode analisis deskriftif kualititatif. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa (1) Latar belakang dilaksanakannya Tradisi Ter-teran oleh masyarakat Desa Pakraman Jasri yaitu mengikuti dari adanya lontar tattwa yang mengharuskan melaksanakan upacara ngusabha dalem dan ngeterin, kekhawatiran akan marabahaya dan takut akan hal-hal yang gaib, mempertebal keyakinan tentang Agama Hindu, dan meningkatkan solidaritas sosial. (2) Proses pelaksanaan Tradisi Ter-teran dimulai dari melaksanakan upacara ngusaba dalem yaitu ngatag nyerit menghaturkan banten caru menuju tepi laut kemudian melaksanakan tradisi ngeterin dan Ter-teran. (3) Aspek-aspek dari prosesi Tradisi Ter-teran yang dimanfaatkan sebagai sumber pembelajaran sejarah yaitu aspek historis yang berkaitan dengan proses sejarah adanya tradisi terteran yang wajib diketahui oleh siswa, aspek pendidikan yang berkaitan dengan materi pembelajaran sesuai dengan kurikulum 2013 yaitu karakteristik masyarakat dan kebudayaan Tradisi Ter-teran dan aspek sosial berkaitan dengan pengetahuan siswa dalam melestarikan budaya lokal dan mengetahui arti penting hidup bermasyarakat. Kata Kunci : Tradisi Ter-teran, sumber belajar, sejarah. Local tradition is a form of civic culture that lasted for generations. Without a cultural tradition may not beliving and lasting. The purpose of this research was to determine the presence of (1) background of tradition Ter-teran in Pakraman Jasri Village (2) implementation procession tradition Ter-teran (Fire War) in Pakraman Jasri and (3) to know aspects of the tradition Ter-teran (Fire War) were used as a source of learning history. The design used in this study is a descriptive design. The data in the preparation of this study consisted of primary data and secondary data were collected through interviews, observation, documentation and literature. Furthermore, the data were analyzed using qualitative descriptive analysis method. The results of this study are (1) Background implementation terteran tradition by villagers Pakraman Jasri that follow from the existence of lontar tattwa which requires implementing ngusabha dalem ceremonies and ngeterin, fears of distress and fear of things that are unseen, reinforcing the belief of the Hindu religion, and enhancing social solidarity. (2) Terteran tradition begin the implementation process of carrying out ceremonial ngusaba dalem offerings that deliver to ngatag nyerit,caru towards the water front and then carry out the tradition ofter-teran. (3) Aspects of the procession tradition Ter-teran (Fire War) isutilized as a source of learning the history of the historical aspectsrelating to the history, the tradition of terteran that must be known by the students, the educational aspects related to the learning materials according to the curriculum in 2013 that is characteristic society and culture terteran traditions and social aspects related to the knowledge of students in preserving local culture and know the importance of community life.keyword : Ter-Teran Tradition, learning resources, history
Pemertahanan Tradisi Lomba Layar Gapel pada Etnis Bajau di Kecamatan Sapeken Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur (sumbangannya bagi sumber belajar Sejatah di SMA) ., ENI ILYANI; ., Drs. I Gusti Made Aryana, M.Hum.; ., Dra. Desak Made Oka Purnawati,M.Hum
Widya Winayata: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol 6, No 3 (2018)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjps.v6i3.14670

Abstract

Penelitian ini tergolong penelitian deskritif kualitatif yang bertujuan untuk mengetahui : (1) latar belakang pemertahanan Tradisi Lomba Layar Gapel (2) strategi pemertahanan tradisi lomba layar gapel (3) potensi apa yang dapat dimanfaatkan dari tradisi sumber belajar sejarah di SMA. Data dikumpulkan dengan Acuan Wawancara,observasi, dan studi dokumen. Sedangkan analisis datanya digunakan deskriptik dan kualitatif temuan penelitian lain: (1) latar belakang pemertahanan Tradisi Lomba Layar Gapel adalah karena beberapa alasan yaitu alasan historis dipertahankannya Tradisi Lomba Layar Gapel karena tradisi tersebut adalah warisan dari nenek moyang Etnis Bajau yang dianggap sebagai tradisi besar Etnis Bajau. Tradisi Lomba Layar Gapel juga memiliki nilai-nilai kebersamaan dan kekeluargaan. Masyarakat yang dulunya belum akrab, mejadi akrab ketika ikut dalam Tradisi Lomba Layar Gapel, (2) strategi pemertahanan tradisi lomba layar gapel dilakukan melalui sosialisasi diantaranya sosialisasi keluarga dilakukan oleh orang tua kepada anaknya dengan memberikan ajaran-ajaran yang berlaku menurut adat, teman sebaya, Sekolah, sosialisasi di masyarakat, dan sosialisasi di media massa. (3) Potensi apa yang dapat dimanfaatkan dari tradisi sumber belajar sejarah di SMA adanya Nilai-nilai Tradisi Layar Gapel yang bisa Diimplementasikan kedalam Pelajaran Sejarah diantaranya: (a) Religius pikiran, perkataan, dan tindakan seseorang yang diupayakan selalu berdasarkan pada nilai-nilai Ketuhanan dan atau ajaran agamanya, (b) Bertanggung jawab (c) Disiplin. (d) Kerja keras (e) Kreatif (f) kerja sama.Kata Kunci : Kata Kunci : Etnis Bajo, Desa Pagerungan Kecil, Pemertahanan Tradisi Lomba Layar Gapel This research is categorized as qualitative descriptive research which aims to know: (1) background of Gapel Screening Preservation Tradition (2) strategy of preservation of gapel display race tradition (3) what potency can be utilized from tradition of history learning resource in SMA. Data were collected by Interviews, observations, and document studies. While the data analysis is used descriptive and qualitative findings of other researches: (1) the background of preservation Gapel Screening Contest Tradition is for several reasons that is the historical reason to preserve the Tradition of Gapel Screening Contest because the tradition is the inheritance of the ancestors of Ethnic Bajau which is considered a great tradition of Ethnic Bajau . Tradition Screening Contest Gapel also has the values of togetherness and kinship. Communities that were not familiar yet, became familiar when participated in the Gapel Screening Contest, (2) the strategy of preserving the gapel sailing tradition was done through socialization such as family socialization conducted by parents to their children by giving the teachings according to custom, Schools, socialization in the community, and socialization in the mass media. (3) What potentials can be utilized from the tradition of learning resources of history in SMA the values of Tradition Screen Gapel that can be Implemented into the Lesson of History include: (a) Religious thoughts, words, and actions of one pursued always based on the values of God and / or his religious teachings, (b) Responsible (c) Discipline. (d) Hard work (e) Creative (f) cooperation.keyword : Bajo Ethnic, Pagerungan Kecil Village, Traditional Gathering Contest Race
Monumen Perjuangan Wira Bhuwana Di Desa Gitgit, Sukasada, Buleleng (Latar Belakang Pendirian, Bentuk Serta Potensinya Sebagai Media Pembelajaran IPS) ., Gede Adi Putra; ., Drs. I Ketut Margi, M.Si; ., Ketut Sedana Arta, S.Pd.
Widya Winayata: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol 2, No 2 (2014)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjps.v2i2.3817

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) Latar belakang pendirian Monumen Perjuangan Wira Bhuwana; (2) Bentuk Monumen Perjuangan Wira Bhuwana dan (3) Potensi yang bisa dikembangkan sebagai media pembelajaran IPS dari Monumen Perjuangan Wira Bhuwana. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan langkah-langhkah: (1) Penentuan lokasi penelitian; (2) Metode penentuan informan; (3) Metode pengumpulan data (observasi, wawancara, dan analisis dokumen); (4) Metode penjaminan keaslian data (triangulasi data dan triangulasi metode); dan (5) Metode analisis data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Monumen Perjuangan Wira Bhuwana didirikan atas tekad dari para veteran kecamatan Sukasada. Ada tiga faktor yang melatar belakangi pendiriannya yakni, faktor historis, faktor sosial, dan faktor religi, (2) Bentuk Monumen Perjuanan Wira Bhuwana mengambil konsep Tri Mandala dalam ajaran agama Hindu. Bentuk Monumen Perjuangan Wira Bhuwana termasuk ke dalam tampilan bangunan figuratif dan non figuratif. Bukti bangunan figuratif pada Monumen Perjuangan Wira Bhuwana adalah adanya beberapa patung-patung berwujud manusia pada areal halaman luar monumen yang melambangkan kesembilan pasukan pribumi yang gugur dalam pertempuran di Kilometer 17 Pangkung Bangka, Desa Gitgit pada 12 Mei 1946. Sedangkan bukti bangunan non figuratif pada Monumen Perjuangan Wira Bhuwana adalah adanya sebuah bangunan tugu pada areal halaman tengah monumen dan terdapat beberapa relief-relief pada dinding halaman luar monumen serta terdapat pelinggih Padmasana pada bagian halaman utama monumen. (3) Potensi Monumen Perjuangan Wira Bhuwana yang dapat dikembangkan sebagai media pembelajaran IPS, yakni Sejarah dan Artefak ( Arsitektur Monumen Perjuangan Wira Bhuwana). Kata Kunci : Media pembelajaran IPS , Potensi, Sejarah Monumen Perjuangan Wira Bhuwana This study aimed to determine (1) the establishment Background of Monumen Perjuangan Wira Bhuwana; (2) Form of Monumen Perjuanan Wira Bhuwana and (3) the potential that could be developed as a learning media of social science studies from Monumen Perjuangan Wira Bhuwana. This study used a qualitative approach: (1) Determining the location of the study; (2) Method of determination of the informant; (3) Data collection methods (observation, interviews, and document study); (4) Method of guaranteeing the authenticity of the data; (5) The method of data analysis; and (6) The method of research results. The results showed that (1) Monumen Perjuangan Wira Bhuwana founded on the determination of the veterans Sukasada districts. There are three factors namely the establishment background, historical factors, social factors, and religious factors, (2) Monumen Perjuanan Wira Bhuwana shape take the concept of Tri Mandala in the Hindu’s religion. Forms of Monumen Perjuangan Wira Bhuwana included in the display of figurative and non-figurative building. Evidence figurative building on Monumen Perjuangan Wira Bhuwana is the presence of some form human statues on the outside courtyard area of the monument that symbolizes the nine native troops who died in battle at Kilometer 17 Pangkung Bangka, Gitgit village on May 12 1946. While evidence of non-figurative building on Monumen Perjuangan Wira Bhuwana is the existence of a building pillar in the middle of the courtyard area of the monument and there are some reliefs on the walls of the courtyard outside the monument and there Padmasana shrine monument on the main page (3) Potential of Monumen Perjuangan Wira Bhuwana that could be developed as a learning media of social science studies is the History and Artifacts (Architecture of Monumen Perjuangan Wira Bhuwana).keyword : Learning Media of Social Studies, Potential, History of Monumen Perjuangan Wira Bhuwana,
Sejarah dan Struktur Banua Menyali, di Buleleng - Bali : Sebagai Sumber Belajar Sejarah di SMA ., I Komang Edi Heliana; ., Dr. Drs. I Made Pageh, M.Hum.; ., Ketut Sedana Arta, S.Pd., M.Pd.
Widya Winayata: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol 7, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjps.v7i2.18131

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui (1) Latar belakang empat desa yang memiliki sebuah ikatan membentuk suatu Banua Meyali, (2) Hubungan sosial keagamaan empat desa sebagai pencerminan dari hubungan Banua Menyali, (3) Sejarah dan struktur Banua Menyali di Buleleng – Bali dapat digunakan sebagai sumber belajar sejarah di SMA. Penelitian ini merupakan penelitian sejarah, sehingga langkah-langkah yang dilakukan adalah (1) Heuristik; (2) Kritik Sumber; (3) Interpretasi; (4) Historiografi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa, (1) Banua Menyali telah ada pada tahun 1044-an, dilatarbelakangi seorang tokoh dari Desa Menyali bernama Jero Pasek Sakti Menyali melakukan persemedian di Pura Puncak Mangu (di daerah Desa Lemukih). Dan mendapatkan paica (anugrah) berupa Padi Berbuah Ketupat, dan Kapas Mebuah Kamen ; (2) Hubungan sosial keagamaan empat desa sebagai pencerminan dari hubungan Banua Menyali nampak pada aspek Ritual Bersama (Keagamaan), Pelaksanaan Gotong Royong, dan aspek Pengaturan Sistem Perkawinan; (3) Banua Menyali di Buleleng – Bali dapat digunakan sebagai sumber belajar Sejarah di SMA karena mengandung nilai historis sebagai salah satu peninggalan sistem kemasyarakatan dari konsep Bali Aga yang dapat dijadikan sumber belajar sejarah lokal di SMA.Kata Kunci : Banua Menyali, Pencerminan Hubungan Banua, dan Sebagai Sumber Belajar The purpose of this study was to find out (1) the background of the four villages that had a bond forming a Banua Meyali, (2) the social relations of the four villages as a reflection of Banua's relationship, (3) the history and structure of Banua in Baleleng - Bali used as a source of historical learning in high school. This research is a historical research, so the steps taken are (1) Heuristics; (2) Source Criticism; (3) Interpretation; (4) Historiography. The results of this study indicate that, (1) Banua Menyali existed in the year 1044, against the background of a figure from Menyali Village named Jero Pasek Sakti Conducting a ceremony at Puncak Mangu Temple (in the Lemukih Village area). And get paica (gift) in the form of Padi Berbuah Ketupat, and Kapas Mebuah Kamen; (2) The socio-religious relationship of the four villages as a reflection of the Banua Menyali relationship appears in the aspects of the Joint Ritual (Religious), the Implementation of Mutual Cooperation, and aspects of the Regulation of the Marriage System; (3) Banua Spread in Buleleng - Bali can be used as a source of learning History in high school because it contains historical value as one of the social system inheritance from the Bali Aga concept which can be used as a source of learning local history in high school.keyword : Banua Menyali, Reflection of Relationships Banua and As Learning Resources
PEMERTAHANAN TRADISI BUDAYA PETIK LAUT OLEH NELAYAN HINDU DAN ISLAM DI DESA PEKUTATAN, JEMBRANA -BALI ., Ida Ayu Komang Sintia Dewi; ., Dra. Luh Putu Sendratari,M.Hum; ., Drs. I Wayan Mudana,M.Si.
Widya Winayata: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol 2, No 3 (2014)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjps.v2i3.4153

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui, (1) latar belakang masyarakat Desa Pekutatan tetap mempertahankan tradisi Petik Laut; (2) Proses pelaksanaan tradisi Petik Laut di Desa Pekutatan, (3) Aspek-aspek dari tradisi Petik Laut yang dapat di pakai untuk pengembangan suplemen Sejarah Bahari. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yaitu: (1) teknik penentuan informan; (2) teknik pengumpulan data (observasi, wawancara, studi analisis/content atau dokumentasi); (3) teknik analisis data; (4) teknik penulisan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa latar belakang pemertahanan tradisi Petik Laut di Desa Pekutatan berkaitan erat dengan fungsi dari tradisi yaitu; (1) pemenuhan kebutuhan fisik yaitu: (1) fungsi individu yang berkaitan erat dengan kekuatan rasa aman dan suatu kepuasan diri secara emosional; (2) fungsi sosial berkaitan erat dengan peningkatan solidaritas sosial antara sesama sehingga menumbuhkan rasa integrasi sosial antar masyarakat sehingga dapat bekerja sama dengan baik; (2) pemenuhan kebutuhan psikologis yaitu: (1) keyakinan atau kepercayaan, hal ini berkaitan erat untuk memohon keselamatan dalam melaut, menghindari diri dari mara bahaya dalam melaut serta rasa takut oleh hal yang bersifat gaib, yang ada di luar kemampuan dan nalar manusia atau alam niskala. Proses pelaksanaan tradisi Petik Laut meliputi : (1) tahap persiapan, (2) tahap pelaksanaan; (3) tahap penutup. Aspek-aspek dari tradisi Petik Laut yang dapat di pakai untuk pengembangan suplemen Sejarah Bahari diantaranya: (1) aspek materi ajar; (2) aspek media pembelajaran. Kata Kunci : Latar belakang, pemertahanan tradisi, Petik Laut sebagai suplemen Sejarah Bahari This study aims to determine, (1) the background Pekutatan villagers still maintain the tradition of Petik Laut; (2) The process of implementation of Petik Laut tradition in the village Pekutatan, (3) Aspects of Marine Pick tradition that can be used to supplement the development of Maritime History. This study used a qualitative approach, namely: (1) a technique of determining the informant; (2) data collection techniques (observation, interview, study analysis / content or documentation); (3) data analysis techniques; (4) the techniques of writing. The results showed that the background retention Pick tradition in the Pekutatan Village Sea closely related to the function of tradition; (1) physical needs, namely: (1) the individual functions are strongly associated with strength and a sense of emotional self-satisfaction; (2) social function is closely related to an increase in social solidarity among fellow that foster a sense of social integration among the people so that they can work well together; (2) the fulfillment of psychological needs, namely: (1) belief or trust, it relates closely to invoke the safety at sea, prevent themselves from danger in the sea as well as by the fear of the supernatural, that is beyond the capability and human reasoning or abstract nature. Petik Laut tradition implementation process include: (1) preparation, (2) the implementation phase; (3) closing stages. Aspects of Marine Pick tradition that can be used for the development of Maritime History supplements include: (1) aspects of teaching materials; (2) aspects of learning media. keyword : Background, retention tradition, Petik Laut Maritime History as a supplement
PEMBANTAIAN MASSAL PENGIKUT GERAKAN 30 SEPTEMBER 1965 DI SETRA PEMASAHAN, DESA PAKRAMAN TIANYAR, KUBU KARANGASEM, BALI DAN POTENSINYA SEBAGAI SUMBER BELAJAR SEJARAH DI SMA ., I Gede Putra; ., Dra. Desak Made Oka Purnawati,M.Hum; ., Dra. Luh Putu Sendratari,M.Hum
Widya Winayata: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol 2, No 3 (2014)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjps.v2i3.4273

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) latar belakang sejarah pembantaian massal di Setra Pemasahan yang terdapat di Desa Pakraman Tianyar, Kubu, Karangasem. (2) proses pembantaian terhadap orang-orang yang dicurigai sebagai anggota dan simpatisan PKI, dan (3) Aspek-aspek dari peristiwa pembantaian di Setra Pemasahan sebagai sumber belajar sejar di SMA. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan langkah-langkah, yakni: (1) penentuan lokasi penelitian, (2) penentuan informan, (3) pengumpulan data (teknik observasi, wawancara, studi dokumen), (4) teknik penjaminan keaslian data (triangulasi data, triangulasi metode), (5) teknik analisis data (reduksi data, display data, kesimpulan dan verifikasi), dan (6) penulisan hasil penelitian. Hasil penelitian menunjukan bahwa latar belakang sejarah peristiwa pembantaian massal di Setra Pemasahan tidak dapat dilepaskan dengan gerakan penumpasan G30S diberbagai daerah di Indonesia. Selain itu juga pembantaian yang terjadi selalu disertai dengan rasa sentimen pribadi. Proses pembantaian massal di Setra Pemasahan berlangsung selama satu hari. Korban pembantaiannya mencapai 150 orang dan mereka merupakan orang-orang yang berasal dari luar Desa Pakraman Tianyar. Aspek-aspek pembantaian massal di Setra Pemasahan yang bisa dikembangkan sebagai sumber belajar sejarah di SMA, yaitu; (1) aspek kognitif (2) aspek afektif dan (3) aspek psikomotor.Kata Kunci : Setra Pemasahan, kuburan massal, pembantaian massal, ABSTRACT This study aimed to determine (1) the background of the massacre in the history of Setra Pemasahan contained in Pakraman Tianyar, Kubu, Karangasem. (2) the massacre of suspected PKI members and sympathizers, and (3) aspects of the massacre at Setra Pemasahan as a learning resource in school history. The method used in this study is a qualitative method steps, namely: (1) determining the location of the research, (2) determination of the informant, (3) data collection (observation, interviews, document studies), (4) the technique guarantees the authenticity of the data (data triangulation, triangulation method), (5) data analysis (data reduction, data display, conclusion and verification), and (6) that the results of the study. The results showed that the background of the massacre in the history of the events Setra Pemasahan can not be released by crushing the movement of the G-30 in various regions in Indonesia. In addition, the massacre is always accompanied by a sense of personal sentiment. The process of mass murder at Setra Pemasahan lasts for one day. Victims of massacre of 150 people and they are people who come from outside Pakraman Tianyar. Aspects of the massacre at Setra Pemasahan that could be developed as a source of learning history in high school, that is; (1) cognitive, (2) the affective aspect and (3) psychomotor aspect. keyword : Setra Pemasahan, mass graves, mass murder
KOMUNITAS MUSLIM SASAK BAYAN DI BANJAR DINAS KAMPUNG ANYAR, BUKIT, KARANGASEM, BALI (LATAR BELAKANG SEJARAH DAN POTENSINYA BAGI SUMBER BELAJAR SEJARAH DI SMA) ., I Wayan Widiarta; ., Dra. Tuty Maryati,M.Pd; ., Dra. Desak Made Oka Purnawati,M.Hum
Widya Winayata: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol 5, No 1 (2017)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjps.v5i1.5313

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengetahui bagaimana sejarah keberadaan Komunitas Muslim Sasak di Banjar Dinas Kampung Anyar, Desa Bukit, Karangasem, Bali, (2) mengetahui bagaimana hubungan Kerajaan Karangasem dengan Komunitas Muslim Sasak di Banjar Dinas Kampung Anyar Desa Bukit dalam konteks yang masih bertahan hingga saat ini, (3) mengetahui aspek – aspek apa saja dari keberadaan Komunitas Muslim Sasak di Banjar Dinas Kampung Anyar Desa Bukit yang dapat di gunakan sebagai sumber belajar Sejarah di SMA. Metode yang di gunakan dalam penelitian ini adalah penelitian sejarah dengan langkah – langkah yakni, (1), Heuristik (teknik penentuan informan, observasi, wawancara, dan dokumen), (3) Kritik (kritik eksternal dan kritik internal), (4) Interpretasi, (5) Historiografi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) latar belakang berdirinya Komunitas Muslim Sasak Bayan di Kampung Anyar, Desa Bukit, Karangasem, Bali tak bisa dilepaskan dari sejarah Kerajaan Karangasem yang melakukan perluasan kekuasaan ke Lombok (Seleparang dan Pejanggik) yang kemudian membawa tawanan politik berupa orang – orang Sasak, (2) keberadaan perkampungan Islam yang ada di Karangasem merupakan suatu kesatuan dengan Puri Karangasem. Masyarakat Kampung Islam di sekitar Puri Karangasem menempati posisi – posisi tertentu yang berada di sekitar puri atau ibukota kerajaan. Hal ini secara alami menjadi benteng besar yang dapat dipakai sebagai pertahanan kota. Hingga saat ini masyarakat Kampung Anyar masih terikat dengan Kerajaan Karangasem dalam bentuk hubungan patron – klien. (3) aspek – aspek yang bisa di kembangkan menjadi sumber belajar sejarah dari keberaan Komunitas Muslim Sasak Bayan di Kampung Anyar yakni, (1) aspek kognitif, (2) aspek afektif, (3) aspek psikomotorik.Kata Kunci : Komunitas, Muslim Sasak Bayan, Sumber Belajar Sejarah This study aims to: (1) knowing how historical existence Sasak Muslim community in Kampung Banjar Anyar Department, Bukit Desa, Karangasem, Bali, (2) determine how the relationship with the Kingdom of Karangasem Sasak Muslim community in Banjar Anyar village Kampung Bukit Office in context still survive to this day, (3) determine aspects - what aspect of existence Sasak Muslim community in Banjar Anyar village Kampung Bukit Office that can be used as a learning resource in school history. The method used in this research is the study of history by step - a step that is, (1), heuristic (technique of determining the informant, observations, interviews, and documents), (3) Criticism (external criticism and internal criticism), (4) Interpretation , (5) Historiography. The results showed that (1) the background of the establishment of the Muslim community in Kampung Anyar Sasak Bayan, Hill Village, Karangasem, Bali can not be separated from the history of the Kingdom of Karangasem who perform extended powers to Lombok (Seleparang and Pejanggik) which then takes the form of the political prisoners - Sasak people, (2) the existence of Islamic villages in Karangasem is a unity with Puri Karangasem. Ohoislam community around Puri Karangasem positions - certain positions that were around the castle or the royal capital. This is naturally a huge fortress that can be used as a defense of the city. Until now, people in Kampung Anyar still bound by the Kingdom of Karangasem in the form of patron - client. (3) aspects - aspects that can be developed into a source of learning the history of keberaan Sasak Muslim community in Kampung Anyar Bayan namely, (1) cognitive, (2) the affective aspects, (3) psychomotor aspects.keyword : Community, Sasak Muslim Bayan, Learning Resources History
TARI GANDRUNG DI DESA BATUKANDIK, NUSA PENIDA, KLUNGKUNG, BALI (SEBAGAI MEDIA BELAJAR SEJARAH KEBUDAYAAN) Eka Boy Pramana, I Gede
Widya Winayata: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol 2, No 1 (2014):
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjps.v2i1.1010

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui 1) Latar Belakang tari gandrung sebagai tarian sakral, 2) pola-pola pementasan tari gandrung, 3) aspek-aspek dalam tari gandrung sebagai sumber belajar sejarah kebudayaan. Penelitian ini menggunakan pendekatan sosial yaitu: (1) tehnik penentuan informan; 2) tehnik pengumpulan data (observasi, wawancara, studi dokumen) dan; (3) analisis data. Berdasarkan temuan dilapangan menunjukkan bahwa latar belakang tari gandrung di dirikan oleh Ida Pedanda Bagus Pucuk yang bertujuan agar warga terhindar dari segala wabah penyakit. Dari inilah kemuadian tari gandrung di sakralkan. Pola-pola pementasan tari gadrung ada empat tahapan yaitu : (1) persiapan pementasan tari gandrung, (2) Pementasan tari gandrung pada upacara ngusabha di Pura Puseh Batukandik, (3) tata busana dalam pementasan tari gandrung, (4) gerak-gerak dalam pementasan tari gandrung. Aspek-aspek yang terkandung pada tari gandrung yaitu: (1) aspek sistem keseniannya yaitu tari gandrung yang ada di desa Batukandik yang tari gandrung tersebut merupakan warisan leluhur/nenek moyang yang di jalankan sampai saat ini oleh masyarakat desa Butukandik, (2) aspek sistem komunikasi yaitu tari gandrung merupakan wadah sebagai sistem komunikasi yang saling berinteraksi antara kelian tari gandrung, para penari, pemangku, serta warga masyarakat setempat, (3) aspek sistem organisasi sosial tari gandrung merupakan salah satu perkumpulan/organisasi yang ada di desa Batukadik yang menghasilkan suatu keterampilan di bidang kesenian, dan (4) aspek sistem kepercayaan di mana tari gandrung di percaya atau di yakini oleh masyarakat desa Batukandik bahwa tari gandrung tersebut merupakan tari yang sakral dan di percaya sebagai persembahan agar terhindar dari segala wabah penyakit.
PENINGGALAN SARKOFAGUS DAN NEKARA DI DESA PAKRAMAN MANIKLIYU, KINTAMANI, BANGLI, BALI (STUDI TENTANG BENTUK, FUNGSI DAN POTENSINYA SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN SEJARAH DI SMA) ., Ni Komang Sukasih; ., Dra. Desak Made Oka Purnawati,M.Hum; ., Ketut Sedana Arta, S.Pd.
Widya Winayata: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol 4, No 3 (2016)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjps.v4i3.6290

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) Bentuk sarkofagus dan nekara yang terdapat di Desa Pakraman Manikliyu; (2) fungsi sarkofagus dan nekara yang terdapat di Desa Pakraman Manikliyu; dan (3) sarkofagus dan nekara yang ada di Desa Pakraman Manikliyu sebagai media pembelajaran sejarah di SMA sesuai dengan RPP berbasis Kurikulum 2013. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yaitu: (1) teknik penentuan informan; (2) Metode pengumpulan data (observasi, wawancara dan studi dokumen); (3) teknik pengolahan data/analisis data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, (1) sarkofagus di Desa Pakraman Manikliyu memiliki bentuk persegi panjang dengan sisi berbentuk lengkung, masing-masing sisi memiliki tonjolan berbentuk persegi empat dan nekara memiliki bentuk seperti sebuah dandang terbalik, bagian atasnya tertutup dan bagian bawahnya (kaki) terbuka dengan tutup berbentuk silinder, (2) sarkofagus dan nekara berfungsi sebagai peti jenazah atau sebagai kuburan atau peti mayat, sarkofagus digunakan oleh orang yang memiliki kedudukan atau status sosial yang tinggi seperti kepada petinggi, ketua suku, atau kaum bangsawan dari penduduk setempat di masa itu, sedangkan nekara pada umumnya kebanyakan ditemukan dipura-pura sebagai tempat media pemujaan roh leluhur. Akan tetapi, nekara di Desa Pakraman Manikliyu ditemukan diluar pura dan memiliki fungsi yang berbeda yaitu sebagai wadah kubur, (3) aspek-aspek yang terdapat pada peninggalan sarkofagus dan nekara di Desa Pakraman Manikliyu yang bisa dikembangkan menjadi media pembelajaran sejarah di SMA sesuai dengan RPP berbasis Kurikulum 2013 yaitu, aspek bentuk fisik bangunan, aspek historis, aspek keyakinan atau kepercayaan, dan aspek budaya. Kata Kunci : Sarkofagus dan Nekara, Media Pembelajaran Sejarah. The purposes of this study are to determine (1) The shape of the sarcophagus and nekara contained in Pakraman Manikliyu; (2) the function of the sarcophagus and nekara contained in Pakraman Manikliyu; and (3) the sarcophagus and nekara in Pakraman Manikliyu as a medium of teaching history in high school curriculum-based lesson plans in accordance with 2013. This study used qualitative approach, namely: (1) a technique of determining the informant; (2) The data collection method (observation, interviews and document study); (3) engineering data processing / data analysis. The results showed that, (1) the sarcophagus in Pakraman Manikliyu has a rectangular shape with sides curved, each side has protrusions rectangular and nekara has a shape like a cormorant upside down, top closed and bottom (foot) open with closed cylindrical, (2) the sarcophagus and nekara serve as a coffin or a grave or coffin, sarcophagus used by people who have a position or a high social status as the top brass, the head of the tribe, or the nobility of the local population in that period while nekara generally found mostly dipura posed as a media worship ancestral spirits. However, nekara in Pakraman Manikliyu found outside the temple and have different functions, namely as a container tomb, (3) the aspects contained in the relics of a sarcophagus and nekara in Pakraman Manikliyu that could be developed into a medium of learning history in school according to RPP based curriculum in 2013, namely, the physical aspects of the building, the historical aspect, the aspect of belief or faith, and cultural aspects keyword : Sarcophagus And Nekara, Median Learning History
PURA BEJI SEBAGAI CAGAR BUDAYA DALAM PERSPEKTIF PENDIDIKAN DI DESA SANGSIT, SAWAN, BULELENG, BALI Yogi Adi Prawira, I Gede
Widya Winayata: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol 1, No 2 (2013)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjps.v1i2.1026

Abstract

Tujuan penelitian ini (1) Untuk mengetahui faktor-faktor yang melatarbelakangi pura Beji dijadikan Cagar Budaya, (2) Untuk mengetahui aspek-aspek yang terdapat di pura Beji yang memiliki nilai-nilai pendidikan. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif, dengan langkah-langkah yaitu (1) Teknik penentuan informan menggunakan teknik snow ball; (2) Teknik pengumpulan data menggunakan studi dokumen, observasi, dan wawancara; (3) Teknik analisis data menggunakan reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ini menunjukkan (1) faktor-faktor yang melatarbelakangi pura Beji dijadikan Cagar Budaya adalah faktor politik yaitu adanya usulan dari tetua desa Sangsit untuk melestarikan pura Beji sebagi Cagar Budaya hal ini dilakukan untuk menghindari klaim masyarakat Sangsit terhadap benda-benda peninggalan sejarah tersebut yang diperkirakan berdiri pada abad XV pada masa pemerintahan Pasek Sakti Batu Lepang, dan faktor budaya yaitu pura Beji memiliki keunikan khas Buleleng yaitu motif ukiran bunga yang bercukilan lebar, dangkal tapi runcing (2) aspek-aspek di pura Beji yang memiliki nilai-nilai pendidikan terdapat pada jajaran palinggih-palinggih yang semuanya itu mengandung fungsi religius, fungsi sosial, fungsi pelestarian budaya, dan dan fungsi pendidikan. Pura Beji juga mengandung nilai-nilai pendidikan seperti pendidikan tatwa, pendidikan ritual, pendidikan etika dan pendidikan estetika. Kata Kunci : Pura Beji, Cagar Budaya, Pendidikan.