cover
Contact Name
I Wayan Putra Yasa
Contact Email
yanputra666@gmail.com
Phone
+6285238950355
Journal Mail Official
yanputra666@gmail.com
Editorial Address
Jalan Udayana No. 11, Singaraja-Bali
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Widya Winayata: Jurnal Pendidikan Sejarah
ISSN : 25992635     EISSN : 2599140X     DOI : http://dx.doi.org/10.23887/jjps.v8i2
Widya Winayata: Jurnal Jurusan Pendidikan Sejarah is a scientific journal published by the Department of History Education, Faculty of Law and Social Sciences, Universitas Pendidikan Ganesha. This journal aims to accommodate articles of research results and results of community service in education and history learning. In the end, this journal can describe the development of science and technology in the field of historical education for the academic community. This journal is published three times a year.
Arjuna Subject : -
Articles 544 Documents
ETNIK BUGIS MANDAR DI DUSUN MANDAR SARI, DESA SUMBERKIMA, GEROKGAK, BULELENG, BALI (SEJARAH, PEMERTAHANAN IDENTITAS ETNIK DAN KONTRIBUSINYA BAGI PEMBELAJARAN SEJARAH) ., Dania Fakhrunnisa; ., Drs. I Ketut Margi, M.Si; ., Drs. I Made Pageh,M.Hum.
Widya Winayata: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol 6, No 3 (2018)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjps.v6i3.8709

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan (1) Mendeskripsikan latar belakang Sejarah Suku Bugis Mandar di Desa Sumberkima, (2) Mendeskripsikan Strategi dan Alasan Masyarakat Bugis Mandar di Desa Sumberkima dalam mempertahankan identitas kesukuannya hingga saat ini, (3) Medeskripsikan Kontribusi Sejarah kedatangan Suku Bugis Mandar ke Desa Sumberkima dan strategi pemertahanan identitas kesukuannya bagi Pembelajaran Sejarah. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan tahap-tahap; (1) Tehnik penentuan lokasi penelitian, penelitian ini berlokasi di Desa Sumberkima, Kecamatan Gerokgak, Kabupaten Buleleng, (2) Pendekatan penelitian menggunakan pendekatan kualitatif, (3) Tehnik penentuan informan, penentuan informan dalam penelitian ini yaitu purposive sampling, (4) Tehnik pengumpulan data, melalui observasi, wawancara, dan kajian dokumen, (5) Tehnik validasi keabsahan data, dan triangulasi data, (6) Teknik analis data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Sejarah Suku Bugis Mandar di Desa Sumberkima dilatar belakangi oleh dua faktor, yaitu faktor pendorong dan faktor penarik. Faktor pendorong disebabkan karena adanya Hegemoni VOC di Sulawesi abad XVI dan adanya pemberontakan komunis tahun 1926-1927. Dan faktor penarik disebabkan karena letak desa Sumberkima yang sangat strategis terletak di pesisir pantai dan memilliki tanah yang subur untuk dijadikan lahan pemukiman dan perkebunan. Strategi pemertahanan identitas etnik Bugis mandar yaitu menggunakan sistem sosialisasi dalam keluarga, masyarakat dan sekolah. Strategi yang digunakan untuk mempertahankan identitas etnik yaitu dengan sosialisasi melalui agen keluarga, sosialisasi melalui agen masyarakat dan sosialisasi melalui agen keluarga, serta alasan pemertahanan identitas etnik yaitu karena warisan leluhur dan takut untuk kehilangan identitas sebagai suku pendatang. Adapun kontribusi dari sejarah Suku Bugis Mandar di desa Sumberkima serta strategi dan alasan pemertahanan identitas kesukuannya bagi pembelajaran sejarah yaitu dapat dijadikan sumber belajar sejarah dan juga dijadikan sebagai media pembelajaran sejarah pada kurikulum 2013. Kata Kunci : Kata kunci: Suku Bugis Mandar, strategi dan alasan pemertahanan identitas etnik. ABSTRACT This study aims to (1) describe the background history of the Bugis Mandar village Sumberkima, (2) Describe the strategy and reasons Society Bugis Mandar village Sumberkima in maintaining the identity of the tribal till today, (3) Medeskripsikan Contributions history of the arrival of the Bugis Mandar to village Sumberkima and tribal identity preservation strategies for Teaching History. This study uses a qualitative method by stages; (1) Technical determining the location of research, this study is located in the village of Sumberkima, Gerokgak, Buleleng, (2) research approach uses a qualitative approach, (3) Technical determination of the informant, the determination of the informants in this research is purposive sampling, (4) Technical data collection, through observation, interviews, and a review of documents, (5) Technical validation of the validity of the data, and triangulation of data, (6) Technical data analyst. The results showed that the history of the Bugis Mandar village Sumberkima motivated by two factors, namely push and pull factors. The driving factor due to the hegemony of the VOC in Sulawesi sixteenth century and the communist insurgency in 1926-1927. And a pull factor due Sumberkima village is very strategically located on the coast and memilliki arable land to be used as residential land and plantations. Bugis ethnic identity preservation strategy mandated that use the system of socialization in the family, community and school. The strategy used to maintain ethnic identity is by socialization through the agency of family, community and socialization through agents of socialization through the agency of the family, as well as ethnic identity preservation reasons, namely because of the heritage and afraid to lose their identity as ethnic migrants. The contribution of the history of the Bugis Mandar village Sumberkima strategy and tribal identity preservation reasons for teaching history which can be used as a source of learning the history and also serve as a medium of teaching history in the curriculum of 2013. keyword : Keywords: Bugis Mandar, strategy and reason for preservation of ethnic identity.
Persepsi Peserta Didik Terhadap Proses Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) ( Studi Kasus di Kelas VIII A SMP Bhaktiyasa Singaraja) ., Ni Wayan Suratni; ., Dra. Tuty Maryati,M.Pd; ., Ketut Sedana Arta, S.Pd.
Widya Winayata: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol 3, No 3 (2015)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjps.v3i3.2306

Abstract

Penelitian ini bertujuan (1) Mengetahui permasalahan dalam pembelajaran IPS di kelas VIII A; (2) Mengetahui model-model pembelajaran yang dikembangkan oleh guru IPS di kelas VIII A SMP Bhaktiyasa Singaraja; (3) Mengetahui persepsi peserta didik terhadap model pembelajaran IPS yang dikembangkan oleh guru di kelas VIII A SMP Bhaktiyasa Singaraja. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan langkah-langkah: (1) penentuan lokasi penelitian; (2) teknik penentuan informan; (3) teknik pengumpulan data (observasi, wawancara, kuisioner, studi dokumentasi dan studi pustaka); (4) teknik penjaminan keabsahan data; dan (5) teknik analisis data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa; (1) Permasalahan dalam pembelajaran IPS adalah beban mengajar guru, kualifikasi pendidikan guru IPS yang belum berlatar belakang Sarjana Pendidikan IPS, permasalahan dalam menerapkan konsep IPS Terpadu, kurangnya fasilitas pembelajaran IPS yaitu kurangnya ketersediaan buku penunjang pembelajaran IPS yang dimiliki siswa dan input (Siswa), kurangnya semangat belajar; (2) Model-model Pembelajaran yang Dikembangkan oleh Guru IPS sudah cukup variatif tidak hanya pada metode ceramah tetapi sudah mengembangkan model pembelajaran kooperatif tipe STAD; (3) persepsi peserta didik terhadap pembelajaran IPS secara umum mengarah ke arah positif, hal ini tampak pada komponen minat kesukaan siswa terhadap pelajaran IPS, dan pandangan siswa mengenai pentingnya pelajaran IPS. Persepsi siswa terhadap model pelajaran IPS, guru sudah menggunakan model pembelajaran inovatif yang menyebabkan minat belajar siswa semakin meningkat. Kata Kunci : Persepsi, Peserta didik, Proses Pembelajaran The purpose of this research (1) Knowing the problem of IPS subject in class VIII A; (2) Knowing the learning models which were developed by the teacher of IPS in class VIII A, Bhaktiyasa Singaraja Junior High School; (3) Knowing the perception of learners to learning model of IPS which was developed by the teacher from class VIII A, Bhaktiyasa Singaraja Junior High School. This research is using a qualitative approach with some steps: (1) determination of research location, (2) determination informant technique, (3) collection data technique (observation, interview, questionnaire, documentation study and literature study), (4) guaranty of validity data technique, and (5) data analysis technique. The result of this research showing that: (1) the problem of IPS teaching load of teachers, education qualification of IPS teacher who don’t have IPS scholars background, the problem of applying concept IPS integrated, lack of IPS studying facilities, availability of the IPS books which is owned by the students dan input (students), lack of studying spirits, (2) the learning model which is developed by the IPS teachers are varied enough and not only a lecture method but it has developed a cooperative learning method STAD, (3) the students perception of IPS subject generally aims to positive thing, this can be seen from the component of studens interest to IPS subject, and the vision important that IPS subject. The studens perception about IPS subject that teachers have been using innovative learning model which effects studens interest is increasingkeyword : perception, the learner, learning process.
PURA AGUNG DALEM DIMADE DI DESA GULIANG, BANGLI, BALI (POTENSINYA SEBAGAI SUMBER BELAJAR SEJARAH LOKAL DI SMA) ., Ni Luh Sulandari; ., Dra. Desak Made Oka Purnawati,M.Hum; ., Drs. I Made Pageh,M.Hum.
Widya Winayata: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol 7, No 3 (2019)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjps.v7i3.11405

Abstract

Penelitian ini dilakukan di Desa Pakraman Guliang Kangin, Bangli, Bali yang bertujuan untuk mengetahui : (1) Guliang dijadikan sebagai Pengasingan dan Sejarah berdirinya Pura Agung Dalem Dimade di Desa Pakraman Guliang Kangin; (2) Pura Agung Dalem Dimade sebagai Pemujaan Dinasti Kepakisan; dan (3) Potensi sebagai sumber pembelajaran sejarah Lokal. Penelitian ini merupakan penelitian sejarah, sehingga langkah yang dilakukan adalah (1) teknik penentuan lokasi penelitian, (2) teknik penentuan informan, (3) Heuristik (pengumpulan data) dengan menggunakan teknik observasi, wawancara, studi dokumen, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi. Pencarian informan ditentukan dengan cara Snowball sampling. Penentuan informan diawali dengan menentukan informan kunci, kemudian dikembangkan sampai data lengkap. Berdasarkan hasil penelitian ditemukan bahwa : (1) Pura Agung Dalem Dimade berdiri pada tahun 1665 (pada abad ke-17), sejarah berdirinya Pura ini dilatarbelakangi pada saat Ida Dalem kesah ke Desa Guliang, karena terjadinya pemberontakan di Gelgel, sehingga beliau diasingkan ke Desa Guliang, disana beliau membangun Puri serta Merajan untuk memuja para leluhurnya di pengasingan, setelah beliau wafat Puri dan Merajannya dijadikan Pura oleh masyarakat Desa Guliang. (2) Pura Agung Dalem Dimade kini dijadikan sebagai Pemujaan Dinasti Kepakisan di Bali yang piodalannya diperingati 210 hari atau pada hari Anggar Kasih Prangbakat. (3) Potensi yang ada di Pura Agung Dalem Dimade yang bisa dijadikan sebagai sumber belajar sejarah adalah dari aspek sejarah, aspek politik, aspek gotong-royong dan kebersamaan.Kata Kunci : Sejarah, Pura Agung Dalem Dimade dan Sumber Belajar Sejarah. This research was conducted in Pakraman Guliang Kangin village, Bangli, Bali which aims to know : (1) Guliang serve as exile and history of the establishment Agung Dalem Dimade temple in the Pakraman Guliang Kangin village; (2) Agung Dalem Dimade temple as worship dynasty of Kepakisan; and (3) Potential as a source of local history learning. This research is a historical research, so the steps that must be done is (1) the technique of determining the location of research, (2) technique for determining informants, (3) Heuristics (data collection) by using observation, interview, study documents, source criticism, interpretation, and historiography. Informant search is determined by snowball sampling. The determination of informant begins with determining key informants, then developed until the complete data. Based on the results of the study found that : (1) the Agung Dalem Dimade temple stood in 1665 (in the 17th century), the history of the founding of this temple was motivated when Ida Dalem moved to the Guliang village, because of the rebellion in the Gelgel, so he was exiled to the Guliang village, there he built “Puri” and “Merajan” to worship his ancestors in exile, after he died the “Puri” and the “Merajannya” was made a temple by the villagers Guliang. (2) the Agung Dalem Dimade temple is used as worship of dynasty Kepakisan in Bali which ceremony commemorated 210 days or on Anggar Kasih Prangbakat day. (3) the potential that exists in the Agung Dalem Dimade temple that can be used as a source of learning history is from aspects of history, political aspects, aspects of mutual cooperation and mutuality. keyword : History, Agung Dalem Dimade temple,and source of learning history.
PURA MANIK CORONG DI DESA PEJENG, TAMPAKSIRING, GIANYAR DILIHAT DARI PERSPEKTIF SEJARAH, STRUKTUR, DAN POTENSINYA SEBAGAI SUMBER BELAJAR SEJARAH. ., I Gede Raka Hariwarmajaya; ., Drs. I Gusti Made Aryana,M.Hum; ., Dra. Desak Made Oka Purnawati,M.Hum
Widya Winayata: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol 4, No 1 (2016)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjps.v4i1.2617

Abstract

Penelitian ini bertujuan umtuk mengetahui : 1) Sejarah Pura Manik Corong di Desa Pejeng, Tampaksiring, Gianyar, Bali; 2) Struktur Pura Manik Corong; dan 3) Potensi yang terdapat di Pura Manik Corong yang dapat dijadikan sebagai sumber belajar sejarah. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif yaitu : 1) Metode Penentuan Informan, 2) Metode Pengumpulan Data, 3) Validitas Data, 4) Metode Analisis Data, dan 5) Metode Penulisan. Hasil penelitian ini menunjukan Pura Manik Corong didirikan sekitar abad VIII – X Masehi sesuai dengan keberadaan arca Budha yang ada di Pura tersebut. Selain itu pendirian Pura Manik Corong tak bisa dipisahkan dari keberadaan Pura Pusering Jagat. Sebagai pusatnya jagat, dalam filosofi masyarakat Bali dikatakan bahwa Pura Manik Corong merupakan pusat dalam meneropong keberadaan Bali secara keseluruhan. Struktur Pura Manik Corong terdiri dari dua mandala yakni madya mandala dan utama mandala sebagai simbol Angkasa dan Pretiwi. Pada bagian mandya mandala terdapat beberapa bangunan yakni Candi Bentar, Bale Kulkul, Bale Pesantian, Wantilan, Apit Lawang Kiwa, Apit Lawang Tengen, Kori Agung. Sedangkan pada bagian utama mandala terdapat beberapa beberapa bangunan tempat suci sebagai linggih Ida Bhatara yaitu Pangungan, Lubang Tempat Nerang, Pelingih Bebaturan, Pelinggih Hyang Manik Galang, Penyawangan Hyang Pasupati, Piasan, Bale Penegtengan Ida Bhatara Sri, Bale Pesselang. Adapun potensi yang terdapat di Pura Manik Corong yang dapat di jadikan sumber sejarah ialah dapat di lihat dari di stanakannya arca Budha dan linga yoni. Dengan adanya konsep lingga yoni menggambarkan keseimbangan hidup, yaitu keyakinan adanya keharmonisan.Kata Kunci : Pura, Sejarah, Potensi The purpose if this research is ti find out about : 1) The History of Manik Corong temple in Pejeng village, Tampaksiring, Gianyar, Bali; 2) The structure of Manik Corong Temple; 3) The potencial of Manik Corong temple which can be used as a resource in learning about history. This research uses descriptive qualitative methods, such as : 1) Diving Information Method; 2) Data Gathering; 3) Data Analysis; 4) Written Method. Yhis reseasch shows that Manik Corong temple was built in approximately VIII-X century based on the existence of Buddhist arch in that temple. Besides that its contruction cannot also be devided from the existence of Pusering Jagat temple. As the center of universe, in Balinese said that Manik Corong temple is the center in looking of the whole Bali existence. The structure of Manik Corong temple consist of two mandala, there are Madya Mandala and Utama Mandala as the symbol of Akasa and Pertiwi. There are some buildings in Madya Mandala part such as Candi Bentar, Bale Kul-kul, Bale Pesantian, Wantilan, Apit Lawang Kiwe Tengen, Kori Agung. Whereas in Utama Mandala there are some holy buildings as the place of Ida Bhatara such as Panggungan, Pelinggih Bebaturan, Pelinggih Hyang Manik Galang, Penyawangan Hyang Pasupati, Piyasan, Bale Penegtegan Ida Bhatara Sri, Bale Peselang. The potential in Manik Corong temple which can be used as the history resource can be seen from the Buddhist arch and lingga yoni. With the existence of lingga yoni is interpreting about the balance of life it is about the belief of harmonitation.keyword : Pura, Sejarah, Potensi
Monumen Tugu Bambu Runcing di Desa Lendang Nangka, Kecamatan Masbagek, Kabupaten Lombok Timur (Sejarah dan Potensinya Sebagai Sumber Belajar Sejarah di SMA) ., Muh. Reza Khaeruman Jayadi; ., Dr. Tuty Maryati,M.Pd; ., Ketut Sedana Arta, S.Pd., M.Pd.
Widya Winayata: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol 8, No 1 (2020)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjps.v8i1.13633

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ;1) Latar belakang pendirian Monumen Tugu Bambu Runcing di Desa Lendang Nangka, 2) Proses pembangunan Monumen Tugu Bambu Runcing di Desa Lendang Nangaka, 3) fungsi dan nilai-nilai yang terkandung di Monumen Tugu Bambu Runcing yang bisa dijadikan sumber belajar sejarah di SMA. Motede penelitan yang digunakan pada penelitian ini adalah metode kualitatif dengan langkah-langkah: 1) Penentuan lokasi penelitian, 2) Teknik penetuan informan, 3) Metode pengumpulan data, 4) teknik validasi , 5) Teknik analisis data. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa,1) Latar belakang pendirian Monumen Tugu Bambu Runcing ini karena tiga faktor yaitu faktor historis, faktor sosial, dan faktor politik. 2) Proses pembangunan Monumen Tugu Bambu melalui tiga tahap yaitu ide dari masyarakat Desa Lendang nangka, pengajuan ide ke pemerintah daerah, dan pembanguan monumen. 3) Monumen Tugu Bambu Runcing memilki fungsi yaitu edukatif, inspiratif dan rekreatif. Sedangkan Nilai-nilai yang terkandung adalah nilai patriotisme, nasionalisme, pendidikan, dan persatuan dan kesatuan,Kata Kunci : Monumen , Desa Lendang Nangka, Sumber belajar Sejarah This study aims to in order to know; 1) the background pf the establisment monoment Bambu Runcing in the village Lendang Nangka, 2) the development Monoment Bambu Runcing in the village Lendang Nangka (3) the function and values contained in Monoment Bambu Runcing that can be as source of learning history in high school. The research used in this study is a method kualitatif with the steps; (1) determining of rsearch location, 2) he technique of determining the informant, 3) data collection method, 4) validation of the technique. 5) he technique of of the data analysis. This research result indicates that, 1) background the establishment of the Monement Bambu Runcing is because of three factors factor historis, factor social and facktor politics 2) the development Monoment Bambu through theree stages the idea of the village Lendang Nangkacommonity, the submissioof the local goverment, 3) Monoment Bambu Runcing have fungtion education, inspiration and recreation. While the value of the value contained is the value of patriotism, nationalism, education and unity.keyword : Monoment Village Lendang Nngka, Learning Resources History.
TRADISI NGREKES DI DESA PAKRAMAN MUNTIGUNUNG, KUBU, KARANGASEM BALI (LATAR BELAKANG, SISTEM RITUAL DAN POTENSI NILAI-NILAINYA SEBAGAI MEDIA PENDIDIKAN KARAKTER DALAM PEMBELAJARAN SEJARAH DI SMA) ., Ni Wayan Nonoriati; ., Dra. Luh Putu Sendratari,M.Hum; ., Ketut Sedana Arta, S.Pd.
Widya Winayata: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol 4, No 2 (2016)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjps.v4i2.3810

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui, (1) latar belakang masyarakat Desa Pakraman Muntigunung tetap mempertahankan tradisi Ngrekes; (2) sistem ritual pelaksanaan tradisi Ngrekes, (3) Nilai- nilai karakter yang terdapat pada tradisi Ngrekes yang dapat dipakai sebagai sumber pembelajaran sejarah di SMA. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yaitu: (1) teknik penentuan informan; (2) teknik pengumpulan data (observasi, wawancara, studi analisis/content); (3) teknik analisis data; (4) teknik penulisan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa latar belakang pemertahanan tradisi Ngrekes di Desa Pakraman Muntigunung berkaitan erat dengan fungsi dari tradisi yaitu; (1) pemenuhan kebutuhan fisik yaitu: (1) fungsi individu yang berkaitan erat dengan kekuatan rasa aman dan suatu kepuasan diri secara emosional; (2) fungsi sosial berkaitan erat dengan peningkatan solidaritas sosial antara sesama sehingga menumbuhkan rasa integrasi sosial antar masyarakat sehingga dapat bekerja sama dengan baik; (2) pemenuhan kebutuhan psikologis yaitu: (1) keyakinan; (2) memohon keselamatan dan umur yang panjang; (3) historis, hal ini berkaitan erat untuk menghindarkan diri dari mara bahaya serta rasa takut oleh hal yang bersifat gaib, yang ada di luar kemampuan dan nalar manusia atau alam niskala. Adapun upaya pemertahanan tradisi Ngrekes diantaranya; (1) sosialisasi yang terjadi di keluarga; (2) sosialisasi masyarakat; (3) sosialisasi di sekolah. Sistem ritual pelaksanaan tradisi Ngrekes meliputi aspek-aspek : (1) lokasi upacara yaitu di Catus Pata Desa; (2) waktu pelaksanaan; (3) peserta upacara. Rangkaian pelaksanaan upacara Ngrekes diantaranya: (1) tahap perisiapan mencari dewasa ayu;( 2) ngulemin pemangku; (3) bakti piuning; (4) upacara memutus. Nilai-nilai karakter yang terdapat pada tradisi Ngrekes secara umum dapat dibagi menjadi lima diantaranya: (1) nilai religius; (2) cinta damai; (3) disiplin; (4) tanggung jawab; (5) peduli sosial. Berdasarkan potensi nilai yang dimiliki tradisi Ngrekes sehingga dapat dimanfaatkan sebagai sumber pembelajaran sejarah di SMA.Kata Kunci : Kata Kunci : Ngrekes, Potensi, Pendidikan Karakter. This study aims to determine, (1) background people Pakraman Muntigunung maintain the tradition Ngrekes, (2) system implementation ritual tradition Ngrekes, (3) karakter values contained in the tradition Ngrekes that can be used as a source of teaching history in high school. This study used a qualitative approach is: (1) determination techniques informant; (2) data collection techniques (observation, interviews, analysis study/ content our documentation); (3) data analysis techniques; (4) writing techniques. Results showed that the background retention in the tradition Ngrekes Pakraman Muntigunung closely related to the function of tradition, namely : (1) physical needs, ie: (1) individual functions are closely related to strength and a sense of self satisfaction emotionally; (2) social function is closely related to an increase in social solidarity among fellow that foster a sense of social integration among the people so that they can work well together; (2) fulfillment of psychological needs, namely: (1) confidence; (2) invoke the safety and long life; (3) historically, it relates closely to avoid distress an fear by the things that are unseen, that is beyond the ability of human reason or nature and abstract. The preservation efforts such Ngrekes tradition; (1) socialization that occurs in the family; (2) community outreach; (3 socialization in schools. The system rituals implementation tradition Ngrekes aspects of cover : (1) the location of the ceremony is in catus pata village;(2) execution time; (3) participants of the ceremony. Series implementation of ceremonies such Ngrekes: (1) stage of preparation looking for adult ayu; (2) ngulemin pemangku; (3) bakti piuning; (4) upacara memutus. Character values contained in Ngrekes tradition in general can be divided among five: (1) value rilegius; (2) love peace; (3) discipline; (4) responsibility; (5) social care. Based on the pontential value of owned Ngrekes tradition that can be used as a source of teaching history in high school. keyword : Keywords: Ngrekes, potential,character education
Sejarah Madrasah Syamsul Huda Di Desa Tegallinggah, Buleleng-Bali Tahun 2006-2016 (Studi Tentang Sejarah Pendidikan Dan Kontribusinya Bagi Pembelajaran Sejarah Di MA) ., ABDULLAH; ., Dr. I Wayan Mudana,M.Si.; ., Dra. Desak Made Oka Purnawati,M.Hum
Widya Winayata: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol 7, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjps.v7i1.15255

Abstract

Penelitian ini dilakukan di Madrasah Aliayah Syamsul Huda Tegallinggah bertujuan untuk mengetahui (1) sejarah Madrasah Syamsul Huda Di Desa Tegallinggah, Buleleng-Bali; (2) Perkembangan Madrasah Syamsul Huda Dari Tahun 2006-2016; (3) Aspek-aspek yang apa yang disumbangkan bagi pembelajaran sejarah di MA. Penelitian merupakan penelitian sejarah, sehingga langkah-langkah yang digunakan adalah (1) Heuristik dengan cara mengumpulkan jejak sejarah lewat pengamatan terhadap lokasi penelitian, wawancara dan telaah dokumen yang relevan, (2) Kritik Sumber (kritik ekstern dan kritik intern) yaitu menentukan keabsahan sumber yang didapat terkait derkait dengan permaslahan yang di kaji, (3) Interpretasi, yaitu menganasis dan mensintesis data-data yang telah didapatkan yang dikaitnak dengan permasalahan yang dikaji, (4) Historiografi (menulis sejarah pendidikan). Informan dalam penelitian ini adalah pengasuh Madrasah, Kepala sekolah, dan guru-guru. Berdasarkan hasil temuan di lapangan latar belakang berdirinya MA Syamsul Huda adalah untuk mempermudah masyarakat muslim Desa Tegallinggah melanjutkan pendidikan yang berbasis keagamaan khusunya masyarakat muslim karena kebanyakan setelah lulus Mts tidak melanjutkan sekolah karena biaya yang kurang mendukung dan tempat yang jauh dari sekolah SMA/MA, selain mempermudah masyarakat muslim Tegallinggah, di Desa Tegallinggah juga belum ada MA hal ini yang mendorong Bapak Ustadz Jamhuri beserta istrinya dan dibantu guru-guru lainnya untuk mengelola dan mendirikan MA di Desa Tegallinggah. Didalam perkembangannya MA Syamsul Huda mengalami perkembanga yang sangat signifikan, baik dari fisik dan non-fisiknya. Dari segi fisiknya terdapat perubahan fasilitas atau sarana dan prasarana sedangkan dari non-fisiknya mengalami perubahan kurikulum yang disesuaikan dengan kurikulum nasional namun dalam penerapannya disesuaikan dengan kemampuan siswanya. Kata Kunci : Kata Kunci: perkembangan, pendidikan, MA Syamsul Huda Tegallinggah. This research was conducted in Madrasah Aliayah Syamsul Huda Tegallinggah aims to know (1) the history of Madrasah Syamsul Huda In Tegallinggah Village, Buleleng-Bali; (2) Development of Madrasah Syamsul Huda From 2006-2016; (3) What aspects are contributed to the study of history in MA. Research is a historical study, so the steps used are (1) Heuristics by collecting traces of history through observation of the location of research, interviews and review of relevant documents, (2) Source Criticism (external criticism and internal criticism) that determines the validity of the source (3) Interpretation, which is to analyze and synthesize the data that have been obtained that dikaitnak with the problems studied, (4) Historiography (writing history of education). The informants in this study were the caregivers of Madrasahs, principals, and teachers. Based on the findings in the field of the background of the establishment of the MA Syamsul Huda is to facilitate the Muslim community of Tegallinggah Village to continue the religious-based education especially the Muslim community because most after graduated Mts did not continue the school because the cost is less supportive and a place far from high school / MA, facilitate the Muslim community Tegallinggah, in the village of Tegallinggah also there is no MA this matter that encourage Mr. Ustadz Jamhuri and his wife and assisted other teachers to manage and establish MA in the village of Tegallinggah. In its development, MA Syamsul Huda experienced a very significant development, both from physical and non-physical. In terms of physical there is a change of facilities or facilities and infrastructure while the non-physically experienced curriculum changes tailored to the national curriculum but in its application tailored to the ability of students. keyword : Keywords: development, education, MA Syamsul Huda Tegallinggah.
IDENTIFIKASI POTENSI MONUMEN BHUWANA KERTA SEBAGAI SUMBER BELAJAR SEJARAH DI SMA ., Gede Senjaya; ., Drs. I Ketut Margi, M.Si; ., Dra. Luh Putu Sendratari,M.Hum
Widya Winayata: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol 6, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjps.v6i2.3967

Abstract

Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif, dengan tahap-tahap yang dilakukan dalam penelitian adalah 1) penentuan rancangan penelitian, 2) penentuan lokasi penelitian, 3) penentuan informan, 4) pengumpulan data, 5) validitas data, dan 6) analisis data. Penelitian ini dilakukan di Desa Panji, Kecamatan Sukasada yang bertujuan untuk mengetahui; 1) Latar belakang dibangunnya monumen Bhuwana Kerta di Desa Panji; 2) Bentuk dan struktur monumen Bhuwana Kerta di Desa Panji; dan 3) Aspek-aspek sejarah Monumen Bhuwana Kerta yang dapat dijadikan sebagai sumber pembelajaran sejarah. Berdasarkan wawancara, observasi, studi dokumentasi di lapangan diketahui bahwa, 1) pendirian monumen dilatarbelakangi oleh perjuangan pertempuran panji; 2) bentuk monument dan struktur monumen Bhuwana Kerta terdiri dari dasar, badan, dan kepala, Monumen Bhuwana Kerta bertinggi 17 meter, merupakan visualisasi simbolik angka keramat kemerdekaan bangsa Indonesia. Puncak monumen berwujud padmasana dan api, merupakan simbol Tuhan yang memberi anugerah kemerdekaan bagi bangsa Indonesia. Di bawah wujud padmasana dan api terdapat wujud delapan helai daun teratai simbol asthadala, manifestasi Tuhan dalam keyakinan Hindu. Selain itu, bentuk ini merupakan simbol dari bulan kemerdekaan bangsa Indonesia. Bentuk badan monumen yang polos adalah simbol dari keluhuran, kesucian dan kejujuran perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia di Bali. Adanya bentuk dulang dengan wujud visual bercelah-celah sebanyak 45 buah di bagian bawah badan monumen, merupakan simbol dari tahun kemerdekaan bangsa Indonesia. Aspek-aspek dari monumen Bhuana Kerta yang bisa dijadikan sumber pembelajaran sejarah adalah aspek sejarahnya dan nilai-niulai yang terkandung dalam simbol-simbol monumen,seperti nilai edukatif, nilai pengetahuan,nilai artistic,nilai kepahlawanan dan nilai rekreatif Kata Kunci : Monumen,Potensi sumber belajar sejarah This research is qualitative, with the stages in the research done is 1) the determination of the study design, 2) determining the location of the study, 3) determination of the informants, 4) data collection, 5) the validity of the data, and 6) data analysis. This research was conducted in the village of Panji, District Sukasada which aims to find out; 1) Background Bhuwana Kerta monument built in the village of Panji; 2) The shape and structure of the monument in the village of Panji Bhuwana Kerta; and 3) the historical aspects Bhuwana Kerta monument that can be used as a source of learning history. Based on interviews, observation, field study documentation in mind that, 1) the establishment of the monument is motivated by struggles battle flag; 2) the shape and structure of the monument Bhuwana Kerta monument consists of a base, body, and head, Monument Bhuwana Kerta plays 17 yards, a sacred number symbolic visualization of Indonesian independence. Peak padmasana and fire tangible monument, a symbol of God's grace that gives independence for Indonesia. Under the form of padmasana and fire are eight strands form symbols asthadala lotus leaf, the manifestation of God in the Hindu faith. In addition, the shape of the moon is a symbol of Indonesian independence. Physique plain monument is a symbol of nobleness, purity and honesty of the struggle for independence of Indonesia in Bali. The presence of a platter with a slotted-slit visual form as many as 45 pieces at the bottom of the monument, a symbol of the independence of Indonesia. Aspects of the monument Bhuana Kerta that can be used as a source of learning history is an aspect of its history and value-niulai contained in symbols monuments, such as the educational value, the value of knowledge, artistic value, the value of heroism and recreational values keyword : Monument, potential sources of learning history
Persepsi Siswa Terhadap Guru Sejarah yang Ideal (Studi Kasus Pada Kelas X Matematika Sains Tahun pelajaran 2014/2015 di SMA Negeri 1 Ubud, Gianyar, Bali) ., Ni Made Wiyanthini; ., Prof. Dr. Nengah Bawa Atmadja,MA; ., Drs. I Ketut Margi, M.Si
Widya Winayata: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol 3, No 1 (2015)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjps.v3i1.4178

Abstract

Penelitian ini bertujuan (1) Mengetahui persepsi siswa kelas X Matematika Sains SMA Negeri 1 Ubud tentang guru sejarah yang ideal dilihat dari penampilan fisikal; (2) Mengetahui persepsi siswa kelas X Matematika Sains di SMA Negeri 1 Ubud tentang guru sejarah yang ideal dilihat dari sistem pengajaran; (3) Mengetahui persepsi persepsi siswa kelas X Matematika Sains di SMA Negeri 1 Ubud tentang hubungan sosial antara guru dengan siswa di luar proses pembelajaran. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan langkah-langkah: (1) penentuan lokasi penelitian; (2) teknik penentuan informan; (3) teknik pengumpulan data (observasi, wawancara, kuisioner, studi dokumentasi dan studi pustaka); (4) teknik penjaminan keabsahan data; dan (5) teknik analisis data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa; (1) Persepsi siswa tentang penampilan fisikal guru sejarah yang ideal yaitu berpenamilan bersih, berpenampilan rapi, berpenampilan sopan, dan berpenampilan menarik; (2) Persepsi siswa tentang sistem pengajaran guru sejarah yang ideal yaitu harus mampu melakukan kegiatan pra pembelajaran, membuka pelajaran, penguasaan materi pembelajaran, pendekatan/strategi pembelajaran, pemanfaatan sumber/media pembelajaran, pembelajaran yang memicu dan memelihara keterlibatan siswa, penilaian proses dan hasil belajar, dan menutup pelajaran; (3) Persepsi siswa tentang hubungan sosial antara guru dengan siswa di luar proses pembelajaran yaitu guru yang ideal harus bertegur sapa, memberika senyuman, dan membimbing siswa ketika mengalami kesulitanKata Kunci : Persepsi, Siswa, Guru Ideal The purpose of this research (1) Knowing the perception of class X Mathematics Science Senior High School 1 Ubud about the ideal teacher of history seen from physical appearance; (2) Knowing the perception of class X Mathematics Science Senior High School 1 Ubud about the ideal teacher of history seen from a system of teaching; (3) Knowing the perception of class X Mathematics Science Senior High School 1 Ubud about the ideal teacher of history seen from social relationships between teachers and students outside the learning process. This research is using a qualitative approach with some steps: (1) determination of research location, (2) determination informant technique, (3) collection data technique (observation, interview, questionnaire, documentation study and literature study), (4) guaranty of validity data technique, and (5) data analysis technique. The result of this research showing that: (1) Students' perceptions about physical appearance that is an ideal history teacher berpenamilan clean, well groomed, decently dressed, and attractive; (2) Students' perceptions about the teaching system that is an ideal history teacher must be able to perform pre learning activities, open learning, mastery learning materials, approach / strategy defenders, utilization of resource / learning media, learning that trigger and maintain student engagement, assessment processes and learning outcomes, and closing lessons, (3) Students' perceptions of the social relationships between teachers and students outside the learning process that is ideal teacher should greet, smile gives, and guiding students when experiencing difficulties.keyword : perception, the learner, ideal teacher.
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE ROLE PLAYING UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PROSES PEMBELAJARAN DAN HASIL BELAJAR SEJARAH INDONESIA SISWA KELAS XI IBBU SMA NEGERI 2 SINGARAJA TAHUN PELAJARAN 2014/2015 ., I Kadek Parmadi; ., Ketut Sedana Arta, S.Pd.; ., Dra. Desak Made Oka Purnawati,M.Hum
Widya Winayata: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol 5, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjps.v5i2.4908

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui peningkatan kualitas proses pembelajaran sejarah siswa kelas XI IBBU SMA Negeri 2 Singaraja tahun pelajaran 2014/2015 melalui penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Role Playing, (2) mengetahui peningkatan hasil belajar siswa kelas XI IBBU SMA Negeri 2 Singaraja tahun pelajaran 2014/2015 melalui penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Role Playing, (3) mengetahui respon siswa kelas XI IBBU SMA Negeri 2 Singaraja tahun pelajaran 2014/2015 melalui penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Role Playing. Penelitian ini merupakan jenis Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Tahap-tahap yang dilakukan dalam penelitian tindakan kelas (PTK) yaitu: (1) penentuan subjek penelitian, (2) membuat rencana tindakan, (3) melaksanakan tindakan, (4) melakukan observasi, (5) melakukan refleksi dan evaluasi. Hasil penelitian ini menunjukkan: (1) persentase rata-rata kualitas proses pembelajaran siswa kelas IBBU SMA Negeri 2 Singaraja pada siklus I adalah 65,87% dengan predikat baik, meningkat menjadi 88,37%. pada siklus II dengan predikat sangat baik; (2) persentase rata-rata hasil belajar siswa kelas XI IBBU SMA Negeri 2 Singaraja pada siklus I adalah 82,88%. dengan kategori baik, meningkat menjadi 89,31% pada siklus II dengan kategori baik; (3) respon siswa kelas XI IBBU SMA Negeri 2 Singaraja terhadap penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Role Playing mencapai kategori positif. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa dengan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Role Playing dapat meningkatkan kualitas proses pembelajaran dan hasil belajar Sejarah Indonesia siswa kelas XI IBBU SMA Negeri 2 Singaraja tahun pelajaran 2014/2015.Kata Kunci : Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Role Playing, Kualitas Proses Pembelajaran, Hasil Belajar. This research is aimed at (1) determining the improvement of the learning process quality of students in class XI IBBU SMA Negeri 2 Singaraja year 2014/2015 through the implementation of cooperative learning model type Role Playing on History lesson of Indonesia, (2) deciding the improvement of the learning outcome of the students in class XI IBBU SMA Negeri 2 Singaraja year 2014/2015 through the implementation of cooperative learning model type Role Playing, (3) determining the response of the students in class XI IBBU SMA Negeri 2 Singaraja towards the implementation of cooperative learning model type Role Playing on History lesson of Indonesia. This research is a classroom action research (CAR) done through phases: (1) determining the subject of research, (2) creating a plan of action, (3) implementing the action, (4) conducting observations, (5) conducting reflection and evaluation. The results of present research showed that: (1) the average percentage of the learning process quality of students in class XI IBBU SMA Negeri 2 Singaraja in the first cycle was 65,87% categorized as good, increased to 88,37% in the second cycle categorized as very good; (2) the average percentage of the learning outcome of students in class XI IBBU SMA Negeri 2 Singaraja in the first cycle was 82,88% categorized as good, increased to 89,31% in the second cycle categorized as good; (3) the response of students in class XI IBBU SMA Negeri 2 Singaraja towards the implementation of cooperative learning model type Role Playing was categorized as positive. It can be concluded that the implementation of cooperative learning model type Role Playing can improve the learning process quality and the learning outcome of Indonesian History study of students in class XI IBBU SMA Negeri 2 Singaraja year 2014/2015.keyword : Cooperative Learning Model Type Role Playing, Learning Process Quality, Learning Outcome