cover
Contact Name
I Wayan Putra Yasa
Contact Email
yanputra666@gmail.com
Phone
+6285238950355
Journal Mail Official
yanputra666@gmail.com
Editorial Address
Jalan Udayana No. 11, Singaraja-Bali
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Widya Winayata: Jurnal Pendidikan Sejarah
ISSN : 25992635     EISSN : 2599140X     DOI : http://dx.doi.org/10.23887/jjps.v8i2
Widya Winayata: Jurnal Jurusan Pendidikan Sejarah is a scientific journal published by the Department of History Education, Faculty of Law and Social Sciences, Universitas Pendidikan Ganesha. This journal aims to accommodate articles of research results and results of community service in education and history learning. In the end, this journal can describe the development of science and technology in the field of historical education for the academic community. This journal is published three times a year.
Arjuna Subject : -
Articles 544 Documents
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF (COOPERTIVE LEARNING) TIPE MIND MAPPING UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI DAN HASIL BELAJAR IPS PADA SISWA KELAS VIII C SMP NEGERI 7 SINGARAJA SEMESTER GENAP TAHUN AJARAN 2014/2015 ., Ni Kadek Rustini Wati; ., Drs. I Ketut Margi, M.Si; ., Drs. I Wayan Mudana,M.Si.
Widya Winayata: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol 5, No 1 (2017)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjps.v5i1.5314

Abstract

Penelitian ini bertujuan (1) mengetahui peningkatan motivasi belajar siswa kelas VIII C SMP Negeri 7 Singaraja semester genap tahun ajaran 2014/2015 melalui penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Mind Mapping pada pelajaran IPS, (2) mengetahui peningkatan hasil belajar siswa kelas VIII C SMP Negeri 7 Singaraja semester genap tahun ajaran 2014/2015 melalui penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Mind Mapping pada pelajaran IPS, (3) mengetahui peningkatan respon siswa kelas VIII C SMP Negeri 7 Singaraja semester genap tahun ajaran 2014/2015 melalui penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Mind Mapping pada pelajaran IPS. Penelitian ini merupakan jenis Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Tahap-tahap yang dilakukan dalam penelitian tindakan kelas (PTK) yaitu (1) penentuan subjek penelitian, (2) membuat rencana tindakan, (3) melaksanakan tindakan, (4) melakukan observasi, (5) evaluasi dan refleksi. Hasil penelitian menunjukkan: (1) persentase rata-rata motivasi belajar siswa kelas VIII C SMP Negeri 7 Singaraja pada siklus I adalah 25,30% dengan kategori tinggi, meningkat menjadi 26,50% pada siklus II dengan kategori tinggi; (2) rata-rata hasil belajar siswa kelas VIII C SMP Negeri 7 Singaraja pada siklus I adalah 72,88% dengan kategori sedang, dan ketuntasan belajar siswa mencapai 50,00%, meningkat menjadi 83,07% dengan kategori tinggi dan ketuntasan belajar mencapai 84,61% pada siklus II; (3) respon siswa kelas VIII C SMP Negeri 7 Singaraja terhadap model pembelajaran kooperatif tipe Mind Mapping pada siklus I mencapai rata-rata 33,73% dengan kategori cukup postif, meningkat menjadi 36, 73% dengan kategori positif pada siklus II. Berdasarkan hasil penelitian ini diketahui bahwa melalui penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Mind Mapping dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar IPS pada siswa kelas VIII C SMP negeri 7 Singaraja. Kata Kunci : Model Pembelajaran Kooperatif tipe Mind Mapping, Motivasi Belajar, Hasil Belajar, Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). This research aims to (1) determine the enhancement of students' motivation class of VIII C SMP Negeri 7 Singaraja second semester of academic year 2014/2015 through the implementation of cooperative learning model Mind Mapping in social studies, (2) improve student learning outcomes in grade VIII C SMP 7 Singaraja semester 2014/2015 academic year through the implementation of cooperative learning model Mind Mapping in social studies, (3) determine the enhancement in response to class VIII C SMP Negeri 7 Singaraja second semester of academic year 2014/2015 through the implementation of cooperative learning model type Mind Mapping in social studies. This research is a classroom action research (CAR). The stages are done in the classroom action research (CAR), namely (1) the determination of research subjects, (2) make a plan of action, (3) implement measures, (4) to make observations, (5) evaluation and reflection. The results showed: (1) the average percentage of eighth grade students' learning motivation C SMP Negeri 7 Singaraja in the first cycle was 25.30% with a high category, raised to 26.50% in the second cycle with high category; (2) the average results of student learning C class VIII SMP Negeri 7 Singaraja in the first cycle was 72.88% with medium category, and mastery learning students reached 50.00%, increased to 83.07% with the high category and mastery learning reached 84.61% in the second cycle; (3) the response class VIII C SMP Negeri 7 Singaraja toward cooperative learning model Mind Mapping in the first cycle reached an average of 33.73% with a quite positive category, increased to 36.73% with a positive category in the second cycle. Based on the results of this research note that through the implementation of cooperative learning model Mind Mapping can improve motivation and learning outcomes IPS in the class VIII C SMP Negeri 7 Singarajakeyword : Cooperative Learning Model type of Mind Mapping, Motivational Learning, Learning Outcomes, Social Sciences (IPS)
Identifikasi Pura Wayah Dalem Majapahit di Desa Lembongan, Nusa Penida, Klungkung, Bali ( Kajian Tentang Sejarah, Struktur dan Potensinya Sebagai Sumber Pembelajaran Sejarah di SMA Wisata Dharma) Yasa Dana, I Made
Widya Winayata: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol 2, No 1 (2014):
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjps.v2i1.1011

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memecahkan masalah terkait dengan tujuan penelitian: 1) sejarah Pura Wayah Dalem Majapahit di Desa Lembongan. 2) struktur dan fungsi dari pura tersebut bagi masyarakat Bali, khususnya Nusa Penida. 3). potensi Pura Wayah Dalem Majapahit sebagai sumber pembelajaran sejarah di SMA Wisata Darma. Penelitian ini dilakukan di Desa Lembongan, Kecamatan Nusa Penida, Klungkung, Bali. Pencarian informan ditentukan dengan cara purposive sampling. Penentuan informan diawali dengan menentukan informan kunci, kemudian dikembangkan memakai teknik snow ball sampling. Teknik analisis data antara lain: (1) pengumpulan data; (2) penyajian data; (3) reduksi data; (4) menarik kesimpulan/verifikasi. Dari hasil penelitian ini diketahui bahwa (1) Pura Wayah Dalem Majapahit keberadaannya terkait dengan kedatangan Dalem Ketut Shri Kresna Kepakisan ke Nusa Lembongan untuk melakukan Meditasi, dalam meditasinya beliau mendapatkan wahyu dari Sang Hyang Pasupati untuk mendirikan kahyangan suci di Ceningan yang diperkirakan pembuatan kahyangan suci tersebut pada tahun 1273 caka (2) Struktur Pura Wayah Dalem Majapahit di Desa Lembongan terdiri dari tiga halaman, yakni nista mandala, madya mandala, dan utama mandala. Fungsi Pura Wayah Dalem Majapahit dapat dibagi tujuh yakni, (1) Fungsi Religius (2) Fungsi Sosial (3) Fungsi Pendidikan (4) Fungsi Budaya (5) Fungsi Politik (6) Fungsi Ekonomi (7) Fungsi Rekreasi Spiritual. (3) Potensi Pura Wayah Dalem Majapahit sebagai sumber pembelajaran sejarah yaitu Pura ini dibangun zaman kerajaan Hindu-Budha pada keemasan Kerajaan Majapahit. sebagai bukti pura ini peninggalan dari kerajaan Majapahit terdapat Pelinggih Siwa Budha dan juga Arca Gajah Mada.
PURA BUKIT DHARMA DURGA KUTRI DI DESA BURUAN, GIANYAR, BALI (SEJARAH, STRUKTUR, DAN FUNGSI SERTA POTENSINYA SEBAGAI SUMBER BELAJAR SEJARAH DI SMA) ., Ngakan Made Viky Purnama Teja; ., Prof. Dr. Nengah Bawa Atmadja,MA; ., Ketut Sedana Arta, S.Pd.
Widya Winayata: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol 4, No 3 (2016)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjps.v4i3.6291

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui, (1) sejarah berdirinya Pura Bukit Dharma Durga Kutri di Desa Buruan, Blahbatuh, Gianyar, Bali, (2) struktur dan fungsi Pura Bukit Dharma Durga Kutri di Desa Buruan, Blahbatuh, Gianyar, Bali, (3) potensi yang terdapat di Pura Bukit Dharma Durga Kutri, Desa Buruan, Gianyar, Bali yang dapat dijadikan sebagai sumber belajar sejarah di SMA berdasarkan kurikulum 2013. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yaitu: (1) penentuan lokasi penelitian; (2) teknik penentuan informan; (3) teknik pengumpulan data (observasi, wawancara, studi dokumen); (3) teknik validitas data; (4) analisis data dan (5) teknik penulisan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sejarah berdirinya Pura Bukit Dharma Durga Kutri di Desa Buruan berkaitan erat dengan permaisuri Raja Udayana yang bernama Ratu Gunapriyadharmapatni. Struktur Pura Bukit Dharma Durga Kutri terdiri tiga halaman yaitu nista mandala atau jaba sisi, madya mandala atau jaba tengah dan utama mandala atau jeroan. Fungsi Pura Bukit Dharma Durga Kutri secara umum dapat dibagi menjadi enam, (1) fungsi religius; (2) fungsi sosial; (3) fungsi pendidikan; (4) fungsi budaya ; (5) fungsi ekonomi ; (6) fungsi rekreasi. Adapun potensi yang dimiliki Pura Bukit Dharma Durga Kutri yang dapat dijadikan sebagai sumber belajar sejarah di SMA, yaitu: (1) Struktur berundak; (2) peninggalan arca dan (3) fragmen candi. Kata Kunci : Sejarah, Struktur dan Fungsi, Sumber Belajar Sejarah di SMA This research aims to find out, (1) the history of the Bukit Dharma Durga Kutri temple at Buruan village, Blahbatuh, Gianyar, Bali, (2) the structure and function of Bukit Dharma Durga Kutri Kutri temple at Buruan village, Blahbatuh, Gianyar, Bali, (3) the potential contained in Bukit Dharma Durga Kutri temple at Buruan village, Gianyar, Bali which can be used as a source of history learning in high school based on curriculum 2013. This research used the qualitative approach, namely: (1) the determination of the location; (2) the technique of determination of the informant; (3) data collection techniques (observation, interview, document studies); (3) the technique of validity of data; (4) data analysis and (5) the techniques of writing. The results showed that the history of the Pura Bukit Dharma Durga Kutri at Buruan village is closely related to King Udayana named Queen Gunapriyadharmapatni. Bukit Dharma Durga Temple structure Kutri consists of three of these namely nista mandala or jaba sisi, madya mandala or jaba tengah and utama mandala or jeroan. The function of Pura Bukit Dharma Durga Kutri can generally be divided into six, (1) religious function; (2) social functions; (3) the functions of education; (4) the function of culture; (5) economic function; (6) a recreational function. As for the potential of Bukit Dharma Durga Kutri temple which can serve as a source of learning history in high school, namely: (1) the structure of the stairs; (2) a relic statue and (3) fragments of the ancient temple. keyword : history, structure and function, the source of Learning History in high school
PEWARISAN NILAI – NILAI KEPAHLAWANAN MELALUI PEMENTASAN BARIS JANGKANG DI DESA PAKRAMAN PELILIT, NUSA PENIDA, KLUNGKUNG, BALI Wantiasih, Ayu
Widya Winayata: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol 1, No 2 (2013)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjps.v1i2.1027

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) sejarah keberadaan Baris Jangkang di Desa Pakraman Pelilit, Nusa Penida, Klungkung, Bali; (2) prosesi pementasan Baris Jangkang dalam kaitannya dengan ritual di Pura Desa di Desa Pakraman tersebut; dan (3) nilai-nilai kepahlawanan yang bisa diwariskan kepada masyarakat di Desa Pakraman setempat lewat pementasan Baris Jangkang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yaitu: (1) metode penentuan informan; (2) metode pengumpulan data (observasi, wawancara, dan studi dokumentasi); (3) metode penjaminan keabsahan data; (4) metode analisis data; dan (5) metode penulisan hasil penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Baris Jangkang terlahir dari kemenangan yang diperoleh oleh Desa Pelilit melawan Desa Watas dan Desa Tanglad dalam sebuah perang perebutan wilayah kekuasaan yang terjadi di Desa Pelilit. Nama Baris Jangkang sendiri berasal dari kalahnya musuh melawan Desa Pelilit dengan berlari terjengkang-jengkang, sehingga oleh I Jero Kulit diciptakanlah sebuah tarian yang disebut dengan Baris Jangkang karena melibatkan barisan pasukan. Prosesi pementasan Baris Jangkang diawali dengan tabuh oleh sekaa gong. Jro mangku nyakap banten, sedangkan penari merias diri. Sebelum pementasan dimulai, semua penari, penabuh, dan alat musik diberikan tirtha penglukatan untuk menyucikan agar tidak terjadi hal yang tidak diharapkan dilanjutkan dengan melakukan persembahyangan untuk memohon agar Ida Sang Hyang Widhi Wasa merestui dan menghidupkan tarian sehingga memiliki taksu. Pementasan Baris Jangkang berlangsung sekitar 15 menit diiringi dengan pesantian sebagai penetralisir kekuatan jahat yang mengganggu para penari. Nilai-nilai kepahlawanan yang dapat diwariskan kepada masyarakat di Desa Pakraman setempat lewat Baris Jangkang antara lain: (1) nilai keberanian; (2) nilai persatuan; (3) nilai rela berkorban; (4) nilai patriotisme; dan (5) nilai religius. Kata Kunci: sejarah, prosesi, pewarisan nilai kepahlawanan, Baris Jangkang.
Pura di Antara Seribu Masjid: Studi Kerukunan Antaretnis Bali dan Sasak di Desa Karang Tapen, Cakranegara, Lombok Barat ., Meri Yuliani; ., Drs. I Wayan Mudana,M.Si.; ., Drs. I Made Pageh,M.Hum.
Widya Winayata: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol 6, No 3 (2018)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjps.v6i3.8710

Abstract

Pura di antara Seribu Masjid: Studi Kerukunan Antar etnis Bali dan Sasak di Desa Karang Tapen, Cakranegra, Lombok Barat. Oleh Meri Yuliani, Dr. I Wayan Mudana, M.Si, Dr. Drs. I Made Pageh, M.Hum Jurusan Pendidikan Sejarah, Fakultas Hukum dan Ilmu Sosial Universitas Pendidikan Ganesha E-mail:Meriyuliani123@gmail.com ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui kehidupan masyarakat Desa Karang Tapen yang bisa hidup rukun berdampingan satu sama lain dalam perbedaan keyakinan; (2) mengetahui strategi etnis Bali dan Sasak di Desa Karang Tapen dalam mempertahankan kerukunan; (3) Aspek - aspek kerukunan antaretnis Bali dan Sasak di desa Karang Tapen, Cakranegara, Lombok Barat, yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber belajar sejarah. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan tahap-tahap; (1) teknik penentuan lokasi penelitian, (2) teknik penentuan informan, (3) teknik pengumpulan data (observasi, wawancara, studi dokumen), (4) teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah penyajian data dan penarikan kesimpulan. Penelitian ini menghasilkan temuan yakni (1) bahwa terciptanya kerukunan, karena masing-masing setiap pemeluk agama saling terbuka dan menerima keberadaan dari agama lain. (2) strategi yang digunakan etnis Bali dan Sasak dalam mempertahankan kerukunan di Karang Tapen yaitu: (a) ikatan kekeluargaan, (b) saling menghormati dan menghargai antarumat beragama. (3) Aspek-aspek dari kerukunan antar etnis yang dapat dipakai sebagai sumber belajar sejarah yakni: (a) aspek kognitif, yang meliputi pengetahuan, pemahaman dan penerapan (b) aspek afektif, meliputi menanggapi, menerima atau memperhatikan (c) psikomotorik, pengamatan peserta didik selama proses pembelajaran berlangsung. Kata Kunci : Kata Kunci :Kerukunan, Etnis Bali dan Sasak, Sumber Belajar Sejarah ABSTRACT This study aims to (1) determine Karang Tapen community life that could live harmoniously alongside one another in a different beliefs; (2) determine the strategy of ethnic Balinese and Sasak village of Karang Tapen in maintaining harmony; (3) aspects - aspects of interethnic harmony in Bali and Sasak village of Karang Tapen, Cakranegara, Lombok Barat, which can be used as a source of learning history. This study used a qualitative descriptive approach to the stages of (1) a technique of determining the location of the research, (2) determination techniques informant, (3), data collection techniques (observation, interviews, document study), (4) data analysis techniques used in this study is the presentation of the data and drawing conclusions. This research has resulted in findings that (1) that the creation of harmony, because each every religion open to each other and accept the existence of other religions. (2) the strategies used ethnic Balinese and Sasak in maintaining harmony in Coral Tapen namely: (a) a familial bond, (b) mutual respect and respect among religions. (3) aspects of harmony between ethnic groups that can be used as a source of learning history namely: (a) cognitive, which includes knowledge, understanding and application (b) the affective aspects, including responding to, accept or pay attention to (c) psychomotor observation learners during the learning process. keyword : Keywords: Harmony, Community Balinese and sasak village, learning history
MUSEUM SEMARAJAYA SEBAGAI SUMBER BELAJAR SEJARAH LOKAL DI SMAN 1 SEMARAPURA, KLUNGKUNG, BALI ., Luh Putu Ayu Diah Pratiwi; ., Prof. Dr. Nengah Bawa Atmadja,MA; ., Ketut Sedana Arta, S.Pd.
Widya Winayata: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol 3, No 3 (2015)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjps.v3i3.2329

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) Latar belakang pendirian Museum Semarajaya, (2) Koleksi dari Museum Semarajaya yang dapat dijadikan sebagai sumber belajar Sejarah Lokal di SMAN 1 Semarapura (3) Latar belakang belum dimanfaatkannya Museum Semarajaya sebagai sumber belajar sejarah lokal di SMAN 1 Semarapura berdasarkan Kurikulum 2013. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif yaitu: (1) tehnik penentuan informan; (2) tehnik pengumpulan data (observasi, wawancara, studi dokumen) dan; (3) analisis data. Berdasarkan temuan di lapangan menunjukkan bahwa bangunan Museum Semarajaya menggunakan bangunan sekolah Belanda (MULO) dan mulai digunakan sebagai Museum pada tanggal 28 April 1992 untuk memperingati 84 tahun pasca perang Puputan Klungkung. Museum Semarajaya terbagi dalam tiga ruangan. Ruangan pertama menyimpan koleksi zaman praaksara seperti lesung, beliung, tempayan dan benda-benda praaksara lain yang ditemukan di sekitar Klungkung, ruangan kedua menyimpan koleksi zaman aksara dipamerkan benda-benda peninggalan Kerajaan Klungkung seperti tombak, keris, hiasan dinding, perhiasan, dan sebagainya, dan ruangan terakhir berisikan peralatan rumah tangga kerajaan Klungkung seperti di antaranya sebuah kursi antik serta foto-foto raja beserta keluarganya dalam memanfaatkan potensi yang ada dari koleksi yang dimiliki Museum Semarajaya sebagai sumber belajar guru dapat menggunakan metoda karya wisata. Metoda karya wisata digunakan sebagai salah satu cara untuk meningkatkan motivasi belajar siswa dalam mengikuti pembelajaran sejarah. Pada kegiatan karya wisata, siswa dapat melakukan observasi langsung terhadap koleksi praaksara dan aksara, kemudian saling berdiskusi dengan sesama teman dan guru. Selain itu siswa dapat memperoleh pengalaman nyata dan akan tumbuh motivasi belajar sejarah lebih aktif karena ternyata belajar sejarah tidak hanya dilakukan dalam kelas yang dapat membosankan.Kata Kunci : Museum Semarajaya, Sumber Belajar This study aims to know (1) The background of founding of Semarajaya Museum, (2) The collection of Semarajaya Museum that can be a source of the local history learning, (3) The background why of Semarajaya Museum’s doesn’t as a source of the local history learning in SMAN 1 Semarapura based on curriculum 2013. The use of Semarajaya Museum uses kualitatif approach including: (1) resources determination technique; (2) data collection technique (observation, interview, document) and; (3) data analysis. Based on the finding, it is found that Semarajaya Museum was built use Netherland school (MULO) and legitimated on 28th April 1992 to celebrate 84 years of Puputan Klungkung War. Semarajaya Museum is divided into three rooms. The first room contains the collection of before word age such as mortar, pickax, water jar, and other collection found in Klungkung Regency. Second room displays some collections from Klungkung Palace such as spear, wavy double-bladed dagger called ‘keris’, wall decoration, household equipment of Klungkung Palace such as antique chairs and the portraits of the king and his family. In using the potential of the collections of Semarajaya Museum as the learning source, the teachers can use study tour method. Study tour method is a way that can be done by the teachers by asking the students to go to a particular place to learn something associated to the subject in the school. In the study tour, the students can observe the collection of before history and history directly, then discuss it with their peers and teachers. Besides that the students can get real experience and motivate them to learn history because learning history is not only done in the class that can be boring.keyword : Semarajaya Museum, a source of the local history learning
Pura Tampurhyang Sebagai Pusat Kawitan Catur Sanak Di Desa Songan. ( Sumber Belajar Sejarah Di SMA) ., Jro Kadek Mudiartha; ., Dra. Desak Made Oka Purnawati,M.Hum; ., Drs. I Made Pageh,M.Hum.
Widya Winayata: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol 7, No 3 (2019)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjps.v7i3.11406

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memecahkan masalah terkait dengan tujuan penelitian: (1) sejarah Pura Tampurhyang dijadikan pusat Kawitan Catur Sanak di Desa Songan, Kintamani, Bangli, Bali (2) Aspek-aspek yang bisa di implementasikan dari hasil penelitian ini sebagai sumber belajar sejarah di SMA. Penelitian ini merupakan jenis penelitian kualitatif, dengan langkah-langkah: (1) penentuan lokasi penelitian, (2) penentuan informan, (3) pengumpulan data, (4) teknik penjaminan keaslian data (tringulasi data, tringulasi metode), dan (5) teknik analisis data. Hasil penelitian menunjukan bahwa: (1) sejarah Pura Tampurhyang dijadikan pusat Kawitan Catur Sanak dikarenakan kedatangan Mpu Semeru datang ke Tampurhyang dan membuat seorang putra yang dikenal Mpu Kamareka. Dari Mpu Kamareka menurunkan dua orang Putra buncing (Mpu Gnijaya Mahireng dan Ni Ayu Cemeng), kemudian menikah dengan saudara, dari pernikahan tersebut menurunkan lima orang putra, empat laki-laki dan seorang putri yaitu: Mpu Kayu Ireng, Mpu Made Celagi, Mpu Nyoman Tarunyan, Mpu Kayuan, dan Ni Ayu Kayu Selem. Kemudian tempat bersemayamnya Mpu Kamareka dijadikan sebuah pura yang dikenal dengan Pura Tampurhyang yang merupakan pusat Kawitan Sang Catur Sanak (Kayu Selem, Celagi, Tarunyan, Kayuan) lan Bali Mula. (2) Aspek-aspek yang dimiliki oleh pura Tampurhyang yang bisa diimplementasikan sebagai sumber belajar sejarah lokal di SMA yaitu: (a) aspek historis, (b) aspek arsitektur dari Pura Tampurhyang. Kata Kunci : Pura Tampurhyang, Sumber Belajar Sejarah This research aims to solve problems related to research objectives: (1) The history of Pura Tampurhyang become the center of Kawitan Catur Sanak in Songan Village, Kintamani, Bangli, Bali (2) Aspects that can be implemented from the results of this study as a source of learning history in high school. This research is a type of qualitative research, with steps: (1) determination of research location; (2) determination of informants; (3) data collection; (4) Data authentication assurance techniques (Triangulation of data, Tringulation method); (5) data analysis technique. The results showed that: (1) The history of Pura Tampurhyang became the center of Kawitan Catur Sanak due to the arrival of Mpu Semeru came to Tampurhyang and made a son known Mpu Kamareka. From Mpu Kamareka bring down two son buncing (Mpu Gnijaya Mahireng dan Ni Ayu Cemeng), Then married to a sister, the marriage was down to five sons, four men and a daughter namely: Mpu Kayu Ireng, Mpu Made Celagi, Mpu Nyoman Tarunyan, Mpu Kayuan, and Ni Ayu Kayu Selem. Then place bersemayamnya Mpu Kamareka made a temple known as Pura Tampurhyang which is the center of Kawitan Sang Chatur Sanak (Kayu Selem, Celagi, Tarunyan, Kayuan) and Bali Mula; (2) Aspects of Tampurhyang temple that can be implemented as a source of learning local history in high school that is: (a) Historical aspect (b) Architectural aspects of Pura Tampurhyang keyword : Tampurhyang tample, Learning Resources History
Museum Perjuangan Margarana Sebagai Sumber Belajar IPS Di Kelas IX (Studi Kasus SMP N 1 Marga) ., I Putu Gede Anom; ., Dra. Desak Made Oka Purnawati,M.Hum; ., Dra. Tuty Maryati,M.Pd
Widya Winayata: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol 5, No 3 (2017)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjps.v5i3.2619

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) Latar belakangkeberadaan Museum Perjuangan Margarana yang terletak di Desa Marga Dauh Puri, Marga, Tabanan, Bali; (2) Koleksi yang ada di Museum Perjuangan Margarana yang dapat dijadikan sebagai sumber belajar IPS Terpadu di Kelas IX dan; (3) Manfaat Museum Perjuangan Margarana sebagai sumber belajar sejarah bagi siswa di SMPN 1 Marga. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yaitu: (1) teknik penentuan informan; (2) teknik pengumpulan data (observasi, wawancara, studi dokumen) dan; (3) Analisis data. Penelitian ini menghasilkan temuan:(1) Latar belakang keberadaan Museum Perjuangan Margarana diawali dengantercetusnya ideuntuk membangun sebuah candi yang kemudian dikenal dengan candi Margarana. Disamping pembangunan candi, dibangun pula beberapa bangunan lain termasuk didalamnya Museum Perjuangan Margarana sehingga membentuk suatu kelompok bangunan secara keseluruhan menjadi sebuah monumen nasional yang bernama Monumen Nasional Pujaan Bangsa Margarana.(2) Koleksi yang ada di Museum Perjuangan Margarana yang dapat dijadikan sebagai sumber belajar IPS Terpadu berupa; (a) senjata-senjata, (b) alat alat penyamaran, (c) alat medis, (d) alat komunikasi, (e) perlengkapan pemuda pejuang. (3) Manfaat Museum Perjuangan Margarana sebagai sumber belajar sejarah bagi siswa di SMPN 1 Marga yaitu siswa dapat belajar secara mandiri melalui pengamatan langsung dengan melihat koleksi-koleksi yang berada di dalam Museum Perjuangan Margarana.Kata Kunci : Museum Perjuangan, Sejarah, Koleksi, Sumber Belajar This study was aimed at investigating: (1) history of Perjuangan Margarana museum which located in Marga Dauh Puri Village, Marga, Tabanan, Bali; (2) collection of Perjuangan Margarana museum which could be used as Kualitatif cohesive study resources at IX grade and; (3) the function and use of Perjuangan Margarana Museum as sources of study for students in SMPN 1 Marga. This study used social approximation method as: (1) informant selecting technique, (2) technique of gathering data (observation, interview, document study) and; (3) data analysis technique based on the result data which were found in the field and was analyzed showed that Perjuangan Margarana Museum is part of Yayasan Kebaktian Proklamasi (YKP) Bali.The Perjuangan Margarana Museum building saved and collected relic in physical revolution in bali such as: weapons, telecommunication tools, clothes, impersonation tools, etc. The collections of Perjuangan Margarana Museum had a function as sources of history study for students of SMP N 1 Marga. Guiding them studied to autodidact by seeing and examining directly the collections in the museum. From that activities the students could improve their knowledge and the result of their study in history. keyword : Perjuangan Margarana Museum, history, collections, sources of study.
GUA JEPANG DI DESA BANJARANGKAN KLUNGKUNG, BALI SEBAGAI SUMBER BELAJAR SEJARAH DI SMA ., NI MADE ERMAWATI; ., Dr. I Wayan Mudana,M.Si.; ., Dra. Desak Made Oka Purnawati,M.Hum
Widya Winayata: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol 7, No 3 (2019)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjps.v7i3.14666

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui; 1) bentuk/struktur fisik gua Jepang di Desa Banjarangkan Klungkung; 2) fungsi gua J epang sebagai sumber belajar Sejarah di Desa Banjarangkan Klungkung; 3) pemanfaatan gua jepang di Desa Banjarangkan Klungkung Sebagai Sumber Belajar Sejarah di SMA. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan tahap-tahap yang dilakukan dalam penelitian adalah 1) rancangan penelitian, 2) teknik penentuan lokasi penelitian, 3) teknik penentuan informan, 4) teknik pengumpulan data, 5) teknik validasi, dan 6) teknik analisis data. Berdasarkan wawancara, observasi, studi pustaka atau dokumen di lapangan diketahui bahwa, 1) Gua buatan manusia yang berbentuk setengah lingkaran dengan lorong yang memanjang di dalamnya dari utara ke selatan dengan panjang 165 meter. Gua ini terdiri dari 16 lubang yang didalamnya saling terhubung; 2) Saat ini Gua Jepang ini juga difungsikan sebagai gua perlindungan dan penghadangan pada zaman Jepang gerilya saat revolusi fisik sebagai tempat wisata karena Gua Jepang memiliki bentuk yang unik dan khas; 3) Gua Jepang dapat dimanfaatkan sebagai sumber belajar sejarah, dengan menggunakan metode pembelajaran di luar kelas yaitu dengan berkunjung secara langsung ke tempat-tempat peninggalan sejarah seperti Gua Jepang maupun dengan pembelajaran di dalam kelas dengan metode ceramah dan sosio-drama. Kata Kunci : Kata kunci: Gua Jepang, Sumber Belajar This study aims to determine; 1) the physical structure / structure of the Japanese cave in Banjarangkan Klungkung Village; 2) the function of the cave J epang as a source of learning History in the Village Banjarangkan Klungkung; 3) utilization of Japanese cave in Banjarangkan Klungkung village as a source of history in high school. This research is a qualitative research with stages in the research are 1) research design, 2) research location determination technique, 3) informative determination technique, 4) data collection technique, 5) validation technique, and 6) data analysis technique. Based on interviews, observations, literature studies or documents in the field it is known that, 1) man-made cave in the form of a semicircle with a tunnel extending in it from north to south with a length of 165 meters. This cave consists of 16 holes in which are connected; 2) Currently Japanese Cave is also functioned as a cave of protection and reserve in the guerrilla Japanese era during the physical revolution as a tourist destination because the Japanese Cave has a unique and distinctive shape; 3) Japanese cave can be used as a source of learning history, using the method of learning outside the classroom by visiting directly to places of historical relics such as the Japanese Cave as well as with learning in the classroom with lecture and socio-drama methods.keyword : Goa Jepang, Learning Resources
PEMERTAHANAN IDENTITAS SEBAGAI PEDAGANG SATE MELALUI PENDIDIKAN DI LINGKUNGAN KELUARGA PADA ETNIK MADURA DI KAMPUNG MADURA, SERIRIT BULELENG ,BALI ., Jamilah; ., Prof. Dr. Nengah Bawa Atmadja,MA; ., Drs. I Ketut Margi, M.Si
Widya Winayata: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol 3, No 3 (2015)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjps.v3i3.3812

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui, (1) latar belakang memilih pekerjaan sebagai pedagang sate dalam mempertahankan identitas etnik Madura di Kampung Madura Seririt, Buleleng Bali, (2) pola pendidikan di lingkungan keluarga dalam mempertahankan identitas etnik sebagai pedagang sate. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yaitu: (1) penentuan lokasi penelitian; (2) teknik penentuan informan; (3) teknik pengumpulan data (observasi, wawancara, studi dokumen dan studi pustaka); (4) validasi data; (5) teknik analisis data; dan (6) teknik penulisan hasil penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa latar belakang pemertahanan identitas sebagai pedagang sate dalam mempertahankan identitas etnik Madura di Kampung Madura Seririt, Buleleng Bali dipengaruhi oleh empat faktor yaitu faktor tradisi, faktor modal yang terjangkau, faktor sosial dan faktor kemudahan medapat tenaga kerja yang ada di wilayah tersebut. Pola pendidikan yang diterapkan oleh keluarga dalam mempertahankan identitas etnik sebagai pedagang sate Madura adalah orang tua menjadi agen dalam pendidikan di lingkungan keluarga dan anak menjadi peserta didik yang akan menerima pewarisan dalam hal pemertahanan identitas sebagai pedagang sate. Selain itu pengenalan terhadap alat-alat yang digunakan untuk kegiatan berdagang sate serta jenis-jenis bumbu yang digunakan untuk pembuatan sate Madura semuanya diterapkan dengan menggunakan metode pembiasaan yang sudah ada di dalam keluarga seperti kegiatan berkandang, kegiatan meracik bumbu, kegiatan menusuk daging kambing dan kegiatan berdagang. Penanaman etos kerja dalam pola pendidikan yang ada di lingkungan keluarga juga menjadi upaya dalam pemertahanan identitas etnik Madura yang terkenal tekun, ulet, rajin, serta memiliki semangat kerja yang tinggi. Kata Kunci : Kata Kunci: pemertahanan identitas etnik, pendidikan keluarga, etos kerja ABSTRACT This research aims to determine, (1) the background of choosing a job as a satay trader in maintaining identity of Madura ethnic, Madura village, Seririt, Buleleng, Bali, (2) the pattern of education in the family in maintaining ethnic identity as traders satay. This research used a qualitative approach, namely: (1) determining the location of the study; (2) determination techniques informant; (3) data collection techniques (observation, interviews, document studies and literature); (4) data validation; (5) data analysis techniques; and (6) writing techniques and research results. The results showed that the retention background of identity to be a trader of Madura satay, in Madura village, Seririt, Buleleng, Bali is influenced by four factors: cultural factors, affordable capital factors, social factors and easiness factors to get the workforce in the region. The education pattern which is adopted by the family in maintaining ethnic identity as traders Madura satay is the parents roles as agents in education in the family, and children become learners who will receive inheritance of identity retention as satay traders. Besides that, an introduction to the tools which is used for trading satay and the types of spices which is used to manufacture Madura satay is applied by using the habituation method that is already in the family such as farming activities, seasoning mix activities , mutton piercing activities and trading activities. Planting work ethic in the pattern of education in the family environment is also an efforts to maintain Madura ethnic identity which are diligent, tenacious, diligent, and have a high morale. keyword : Keywords: retention of ethnic identity, family education, work ethic

Page 3 of 55 | Total Record : 544