cover
Contact Name
I Wayan Putra Yasa
Contact Email
yanputra666@gmail.com
Phone
+6285238950355
Journal Mail Official
yanputra666@gmail.com
Editorial Address
Jalan Udayana No. 11, Singaraja-Bali
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Widya Winayata: Jurnal Pendidikan Sejarah
ISSN : 25992635     EISSN : 2599140X     DOI : http://dx.doi.org/10.23887/jjps.v8i2
Widya Winayata: Jurnal Jurusan Pendidikan Sejarah is a scientific journal published by the Department of History Education, Faculty of Law and Social Sciences, Universitas Pendidikan Ganesha. This journal aims to accommodate articles of research results and results of community service in education and history learning. In the end, this journal can describe the development of science and technology in the field of historical education for the academic community. This journal is published three times a year.
Arjuna Subject : -
Articles 544 Documents
RITUAL NYELUNG DI DESA ADAT BUAHAN DAN BUAHAN KAJA, PAYANGAN, GIANYAR, BALI (LATAR BELAKANG DAN POTENSINYA SEBAGAI SUMBER BELAJAR SEJARAH DI SMA) ., I Wayan Edi Setiawan; ., Prof. Dr. Nengah Bawa Atmadja, M.A.; ., Ketut Sedana Arta, S.Pd., M.Pd.
Widya Winayata: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol 7, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjps.v7i2.18036

Abstract

Penelitian ini bertujuan (1) Mendeskripsikan latar belakang Desa Buahan dan Buahan Kaja melakukan ritual Nyelung, (2) Mendeskripsikan prosesi pelaksanaan ritual Nyelung, (3) Mengetahui Aspek-aspek dari ritual Nyelung yang dapat digunakan sebagai sumber belajar sejarah di SMA . Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan tahap-tahap; (1) Memilih lokasi penelitan berada di Desa Adat Buahan dan Buahan Kaja, (2) Teknik penentuan informan dilakukan dengan menggunakan teknik Purposive Sampling dan juga Snow Ball, (3) Teknik penjaminan keaslian data menggunakan Triangulasi Data dan Triangulasi Metode, (4) Teknik pengumpulan data dilakukan dengan Observasi, Wawancara, Studi Dokumentasi dan Teknik Analisis Data. Hasil penelitian menunjukan bahwa, (1) Latar belakang sejarah ritual Nyelung di Desa Adat Buahan dan Buahan merupakan upacara yang dilakukan sebagai wujud rasa syukur atas hasil-hasil pertanian. (2) Tahapan pelaksanaan ritual Nyelung adalah dimulai dari tahapan persiapan ritual, tahap pelaksanaan ritual yang meliputi (a) Negen Jelung, (b) Mekideh, (c) Mekeleb. Dan tahapan terakhir yakni penutupan ritual. (3) Aspek-aspek dari ritual Nyelung yang dapat digunakan sebagai sumber belajar Sejarah di SMA adalah sebagai berikut: Aspek sejarah dan Aspek pendidikan karakter yang diimplementasikan dalam bentuk buku suplemen.Kata Kunci : Sejarah, Ritual Nyelung, Sumber Belajar Sejarah. This study aims to (1) describe the background of the village of Buahan and Buahan Kaja performing the Nyelung ritual, (2) Describe the procession of the Nyelung ritual, (3) Know the aspects of the Nyelung ritual that can be used as a source of historical learning in High School . This study uses qualitative methods with stages; (1) Selecting the location of the research in the DesaAdat Buahan and Buahan Kaja, (2) The technique of determining the informant is done by using Purposive Sampling and Snow Ball techniques, (3) Techniques for guaranteeing the authenticity of the data using Triangulation Data and Triangulation Method, Data collection is done by Observation, Interview, Documentation Study and Data Analysis Technique. The results of the study show that, (1) the historical background of the Nyelung ritual in the Desa Adat Buahan and Buahan is a ceremony carried out as a form of gratitude for agricultural products. (2) The stages of implementing the Nyelung ritual are starting from the stage of ritual preparation, the stage of ritual implementation which includes (a) Negen Jelung, (b) Mekideh, (c) Mekeleb. And the last stage is the closing of the ritual. (3) Aspects of the Nyelung ritual which can be used as learning resources History in high school are as follows: Historical aspects and aspects of character education are implemented in the form of supplementary books.keyword : History, Nyelung Ritual, Historical Learning Resources.
JALINAN PERDAGANGAN ANTARA ETNIS TIONGHOA DENGAN ETNIS BALI DI DESA BATURITI, TABANAN, BALI (Sumbangannya Sebagai Sumber Belajar Sejarah Berbasis Kurikulum 2013) ., Ni Made Cristia Dewi; ., Drs. I Wayan Mudana,M.Si.; ., Dra. Desak Made Oka Purnawati,M.Hum
Widya Winayata: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol 6, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjps.v6i1.4149

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) Latar belakang terdapatnya jalinan perdagangan antara etnis Tionghoa dengan etnis Bali di Desa Baturiti, Tabanan, Bali, (2) Bentuk-bentuk jalinan perdagangan antara etnis Tionghoa dengan etnis Bali di Desa Baturiti, Tabanan, Bali, dan (3) Nilai-nilai yang terkandung dalam jalinan perdagangan antara etnis Tionghoa dengan etnis Bali di Desa Baturiti, Tabanan, Bali dan sumbangannya sebagai sumber belajar sejarah berbasis kurikulum 2013. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yaitu: (1) Teknik penentuan lokasi penelitian, (2) Teknik penentuan informan, (3) Teknik pengumpulan data (observasi, wawancara, kajian dokumen), (4) Teknik penjaminan keaslian data (triangulasi data dan triangulasi metode), dan (5) Teknik analisis data. Hasil penelitian menunjukan bahwa jalinan perdagangan antara etnis Tionghoa dengan etnis Bali merupakan suatu bentuk kerjasama dalam bidang perdagangan (ekonomi) yang dilatarbelakangi oleh faktor ekonomi, budaya, sosial, dan politik. Bentuk-bentuk jalinan perdagangan antara etnis Tionghoa dengan etnis Bali di Desa Baturiti, Tabanan, Bali yaitu : (1) Bentuk Perdagangan Barang (produk pertanian dan produk bahan bangunan), (2) Bentuk Perdagangan Jasa. Nilai-nilai yang bisa dijadikan sumber belajar sejarah dalam jalinan perdagangan antara etnis Tionghoa dengan etnis Bali adalah nilai toleransi,kerjasama, etos kerja yang ulet, kreatif dan pantang menyerah.Kata Kunci : Perdagangan, jalinan kerjasama, sumber belajar sejarah This study is aimed in order to know (1) Background of the trade relation between Tionghoa ethnic and Balinese ethnic at Baturiti, Tabanan, Bali, (2) Trade forms of Tionghoa ethnic and Balinese ethnic at Baturiti, Tabanan, Bali, (3) Values in relationship between Tionghoa ethnic and Balinese ethnic at Baturiti, Tabanan, Bali and its role as the resources of the study of curriculum 2013 based. This study used qualitative approach which are: (1) Techniques used in deciding the location of the study, (2) Techniques in deciding the informants, (3) Techniques in collectig the Data (observation, interviews, documents recited, (4) The trustful of data, (5) Techniques of data analysis. The result of the study showed that the relationship between Tionghoa ethnic and Balinese ethnic was the relationship in economic field which effected by economic factors, cultures, social, and politics. The form of trade relations between Tionghoa ethnic and Balinese ethnic at Baturiti, Tabanan, Bali were: (1) Trade goods form (agricultural products and building materials products), (2) Trade servise form. Values that can be resources of the history study in trade relation between Tionghoa ethnic and Balinese ethnic at Baturiti, Tabanan, Bali is tolerance, teamwork, hardworking, creative, and never give up.keyword : Trading, teamwork relationship, resources of history study
Tradisi Mepasah di Setra Wayah Desa Trunyan, Kintamani, Bangli dan Pemanfaatannya Sebagai Sumber Pembelajaran Sejarah Peminatan di SMA Berbasis Kurikulum 2013 ., I Wayan Dedi Pranata; ., Dra. Desak Made Oka Purnawati,M.Hum; ., Drs. I Gusti Made Aryana,M.Hum
Widya Winayata: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol 3, No 1 (2015)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjps.v3i1.4179

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) latarbelakang dilaksanakannya tradisi mepasah di Setra Wayah Desa Trunyan, Kintamani, Bangli; (2) pelaksanaan tradisi mepasah di Setra Wayah Desa Trunyan, Kintamani, Bangli dan (3) potensi yang dapat dijadikan sebagai sumber pembelajaran Sejarah dari tradisi mepasah di Setra Wayah Desa Trunyan, Kintamani, Bangli. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif yaitu: (1) penentuan lokasi ;(2) penentuan informan; (3) pengumpulan data (observasi, wawancara dan studi dokumen);(4) teknik penjamin keaslian data (triangulasi data,triangulasi metode) ;(5) teknik analisis data dan (6) metode penulisan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Latar belakang masyarakat Desa Trunyan melaksanakan tradisi mepasah dapat dilihat dari beberapa factor yaitu faktor historis, faktor keyakinan atau kepercayaan, faktor upacara ritual. (2) proses pelaksanaan tradisi Mepasah yaitu Upacara Mepasah dilaksanakan pada dua tempat yakni di areal rumah pemiliki jenasah (rumah duka) dan di Setra Wayah, pelaksanaan tradisi mepasah menggunakan peralatan atau sarana penunjang kegiatan di antaranya yaitu: bakti angkebnasi (sesajen),ambuh (kramas), boreh (lulur), pemebek (daun lemo yang dibakar), sigsig (tapal gigi), kelatkat (anyaman bambu),lante(pembalut jenasah), ancak saji (anyaman bambu untuk melindungi jenasah dari binatang), sundin (lampu),buki (lampu pengantar jenasah), rerebu (pandan dipotong kecil-kecil yang dipercaya mampu mengusir roh jahat), tradisi mepash melibatkan tiga kelompok atau Manggalaning Yadnya yaitu: Sang Sadaka, yaitu pendeta, Sang Widya, Tukang Banten, Sang Yajamana, umat yang menyelenggarakan upacara; (3)Aspek-aspek yang terdapat pada Tradisi Mepasah di Desa Trunyan yang bisa dikembangkan menjadi sumber belajar sejarah yaitu Aspek bentuk fisik bangunan (patung Ratu Sakti Pancaring Jagat),aspek sejarah (historis), aspek gotong goyong dan kebersamaan.Kata Kunci : Tradisi, Mepasah , Setra Wayah , Sumber Belajar Sejarah This study aimed to determine (1) The background of the implementation of mepasah tradition in Setra Wayah Trunyan Village, Kintamani, Bangli; (2) The implementation of mepasah tradition in Setra Wayah Trunyan Village, Kintamani, Bangli; (3) The potential that can be used as a source of learning history from mepasah tradition in Setra Wayah Trunyan Village, Kintamani, Bangli. This study used a descriptive qualitative approach, namely: (1) location determination technique; (2) the determining of informant technique; (3) data collection techniques (observation, interviews and study of documents); (4) the guarantor of data authenticity techniques (data triangulation, method triangulation); (5) data analysis technique; (6) writing technique. The results showed that (1) Background of the Trunyan villagers implement mepasah tradition can be seen from several factors: historical factors, belief or faith factors, ritual factors. (2) the process of implementation Mepasah tradition that is Mepasah ceremony held at two places namely in the area of home owner's body (the funeral home) and at Setra Wayah, implementation of mepasah tradition is using equipment or facilities to support activities such as: bakti angkeb nasi (offerings),ambuh (shampooing), boreh (scrubs), pemebek (lemo leaves were burned), sigsig (toothpaste), kelatkat (woven bamboo), lante (pads bodies), ancak saji (woven bamboo to protect the bodies from animals), sundih (lamp),buki (bodies conductor lamp), rerebu (pandan leaves cut into small pieces which is believed to ward off evil spirits), mepasah tradition involves three groups or Manggalaning Yadnya: Sang sadaka, the pastor, Sang Widya, Tukang Banten, Sang Yajamana, the people who organize ceremony; (3) The aspects contained in Mepasah Tradition in Trunyan village could be developed into a source of learning the history of that aspect of the physical form of the building (the statue of Ratu Sakti Pancaring Jagat), aspects of history (historical), aspects of cooperation and togetherness.keyword : tradition, mepasah, Setra wayah , sources of learning education
Identifikasi Pesarean Panembahan Senopati Sunan Kanjeng Mataram (Embah Temon) di Kelurahan Gilimanuk, Melaya, Bali sebagai Sumber Belajar Sejarah Kebudayaan Jurusan Bahasa di SMA ., I Putu Anggita Suprarendra; ., Drs. I Gusti Made Aryana,M.Hum; ., Dra. Tuty Maryati,M.Pd
Widya Winayata: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol 5, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjps.v5i2.4867

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) Sejarah keberadaan Pesarean Panembahan Senopati Sunan Kanjeng Mataram (Embah Temon), (2) Struktur bangunan Pesarean Panembahan Senopati Sunan Kanjeng Mataram (Embah Temon), dan (3) Aspek-aspek dari Pesarean Panembahan Senopati Sunan Kanjeng Mataram (Embah Temon) yang dapat digunakan sebagai sumber belajar Sejarah Kebudayaan di Sekolah Menengah Atas (SMA). Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan tahap-tahap penelitian yang dilakukan yaitu (1) Penentuan Lokasi Penelitian, (2) Teknik Penentuan Informan, (3) Metode Pengumpulan Data melalui Observasi, Wawancara, dan Studi Dokumen, dan (4) Teknik Analisis Data. Hasil penelitian ini menunjukkan: (1) Sejarah keberadaan Pesarean Panembahan Senopati Sunan Kanjeng Mataram (Embah Temon) yang dilatarbelakangi oleh temuan batu nisan kembar oleh seorang Kawi Tuo bernama Bapak Mat Yasin, dari Melaya ketika kudanya yang lepas ditemukan sedang mencakar-cakarkan kakinya di batu nisan tersebut, dan didirikan gubug di Pesarean tersebut akibat banyaknya pengunjung ke sana yang sampai kini terus ditata. (2) Struktur pembangunan Pesarean Panembahan Senopati Sunan Kanjeng Mataram (Embah Temon) menggunakan konsep Dwi Loka yang terdiri atas Bagian Luar (Jabanan) meliputi Tiga buah gubug peristirahatan dan Situs kuda milik Panembahan Senopati Sunan Kanjeng Mataram (Embah Temon), dan Bagian Dalam (Jeroan) terdapat Makam (Pesarean) Embah Temon. Dan (3) Pesarean Panembahan Senopati Sunan Kanjeng Mataram (Embah Temon) dua aspek yang dapat dijadikan sumber belajar sejarah kebudayaan yaitu: Aspek Fisik meliputi Gapura Candi Pemedal Pesarean Embah Temon, Togog Candi Gapura Pesarean Embah Temon, Kaligrafi Ong-Kara dan Kaligrafi Arab di Pesarean Embah Temon, Bentuk Punden Berundak Pelinggih Penunggu Pesarean Embah Temon, dan Aspek Non Fisik meliputi Sejarah Panembahan Senopati Sunan Kanjeng Mataram (Embah Temon), dan Pendidikan Karakter.Kata Kunci : Pesarean, Sumber Belajar, Sejarah Kebudayaan This study aims to determine (1) the History of existence Pesarean Panembahan Senopati Sunan Kanjeng Mataram (Embah Temon), (2) Structure of Pesarean Panembahan Senopati Sunan Kanjeng Mataram (Embah Temon), and (3) Aspects of Pesarean Panembahan Senopati Sunan Kanjeng Mataram (Embah Temon) which can be used as a learning resource of Cultural History in High School (SMA). This study is a qualitative research wich is conducted of some stages of research, namely (1) Determining the Research Location, (2) Technique of Informant Selecting, (3) Data Collection Method through Observation, Interviews, and Study Documents, and (4) Data Analysis Techniques. The results showed: (1) The historical existence of Pesarean Panembahan Senopati Sunan Kanjeng Mataram (Embah Temon) was motivated by the findings of tombstones twins by a Kawi Tuo person named Mr. Mat Yasin, from Melaya, when he found that his loose horse is kicking off its feet on the gravestone, and the hut in the Pesarean was established due to the number of visitors which is until now continuous to organized. (2) The construction structure of Pesarean Panembahan Senopati Sunan Kanjeng Mataram (Embah Temon) using the Dwi Loka concept consisting of Exterior (Jabanan) includes Three huts resting and Site horses owned by Panembahan Senopati Sunan Kanjeng Mataram (Embah Temon), and Interior (Jeroan) include the Tomb (Pesarean) of Embah Temon. And (3) Pesarean Panembahan Senopati Sunan Kanjeng Mataram (Embah Temon) are two aspects that can be used as a source of learning the Cultural History, namely: Physical Aspects include Gapura Candi Pemedal Pesarean Embah Temon, Togog Candi Gapura Pesarean Embah Temon, Calligraphy Ong-Kara and Arabic Calligraphy in Pesarean Embah Temon, the Form of Punden Berundak Pelinggih Penunggu Pesarean Embah Temon and Non-Physical Aspects include History of Panembahan Senopati Sunan Kanjeng Mataram (Embah Temon), and Education Character.keyword : Pesarean, Learning Resources, Cultural History
Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 4 Singaraja Periode 1989-2011 (Sejarah dan Sistem Pendidikannya) RONY NOVA HERMAWAN, PUTU
Widya Winayata: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol 1, No 1 (2013)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjps.v1i1.1006

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui (1) sejarah berdirinya Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 4 Singaraja dan (2) sistem pendidikan Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 4 Singaraja Periode 1989-2011. Penelitian ini merupakan penelitian sejarah dengan tahap-tahap penelitian yang harus dilakukan yaitu (1) Heuristik, (2) Kritik Sumber (Pengolahan Data), (3) Interpretasi dan (4) Historiografi. Hasil penelitian ini menunjukkan: (1) Sejarah berdirinya SMA Negeri 4 Singaraja dilatarbelakangi oleh faktor politik, faktor politik yang dimaksud disini adalah adanya Kep. Mendikbud RI No.0342/U/1989 dan adanya Keputusan Kepala Kantor Wilayah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Bali Nomor 44/I/19/Kep/I/1991 tanggal 30 April. (2) Sistem pendidikan di SMA Negeri 4 Singaraja Periode 1989-2011 terdiri atas (1) Unsur masukan (input) berupa jumlah siswa masuk ke SMA Negeri 4 Singaraja fluktuasi, hal ini di dasari oleh SMA Negeri 4 Singaraja yang memiliki kendala pada fasilitas ruangan belajar untuk siswa yang jumlahnya masih terbatas, sehingga mempengaruhi dalam jumlah penerimaan siswa baru. (2) Unsur proses berupa kurikulum yang dilaksanakan oleh SMA Negeri 4 Singaraja dari periode 1989-2011 adalah kurikulum 1984, kurikulum 1994, Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), dan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). (3) Unsur keluaran (output) berupa pencapain kelulusan siswa-siswa SMA Negeri 4 Singaraja dari periode 1989-2011 dengan persentase rerata sebesar 99,75%.
PEMERTAHANAN TRADISI KAWIN LARI SUKU SASAK DI DESA SADE , PUJUT, LOMBOK TENGAH DAN POTENSINYA SEBAGAI SUMBER BELAJAR IPS DI SMP NEGERI 2 PUJUT, BERBASIS KURIKULUM 2006 ., Ayang Pradana; ., Dra. Tuty Maryati,M.Pd; ., Drs. I Ketut Margi, M.Si
Widya Winayata: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol 5, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjps.v5i2.6284

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui latar belakang masyarakat Desa Sade melaksanakan tradisi kawin lari, (2) mengetahui alasan dan upaya Desa Sade dalam memertahanan tradisi kawin lari, (3) mengetahui aspek-aspek dari tradisi kawin lari yang memiliki potensi sebagai sumber pembelajaran IPS di SMP N 2 Pujut. Dalam penelitian ini, data dikumpulkan dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan tahap-tahap; (1) teknik penentuan lokasi penelitian, (2) teknik penentuan informan, (3), teknik pengumpulan data (observasi, wawancara, studi dokumen), (4) teknik penjamin kesahihan data (triangulasi data, triangulasi metode), dan (5) teknik analisis data. Penelitian ini menghasilkan temuan, yakni: (1) latar belakang dilakukannya tradisi kawin lari Desa Sade Rembitan, yaitu a). pengaruh dari budaya Bali, b). legenda Putri Mandalika, c) penghormatan terhadap perempuan (2) alasan dan upaya pemertahanan tradisi kwain lari di Desa Sade Rembitan yakni: alasan: a) rasa kebersamaan, b) penghormatan kepada kaum perempuan, c). sesuai dengan ajaran Islam. Upaya: a). dialog ketua adat dengan masyarakat, b). peran keluarga, c). tradisi kawin lari dalam pembelajaran IPS (3) aspek-aspek tradisi kawin lari yang memiliki potensi sebagai sumber pembelajaran IPS di SMP N 2 Pujut diantaranya meliputi: (a) aspek kognitif, (b) aspek afektif, dan (c) aspek psikomotor. (4) kontribusi dalam mengembangkan tradisi kawin lari pada pembelajaran IPS di SMP yaitu; (a) bidang sejarah (b) bidang sosiologi (c) bidang geografi (d) bidang ekonomi. (5) Rekomendasi yang dapat dilakukan dalam kajian belajar-mengajar adalah melalui lembaga sekolah serta guru sebagai agen yang melaksanakan pembelajaran IPS.Kata Kunci : tradisi kawin lari, potensi, sumber belajar, IPS, SMP. This study aimed at (1) knowing the background of Sade village’s residents implement the tradition of eloping, (2) knowing the reasons and the efforts of Sade village in the retention of eloping tradition, (3) identifying the aspects of eloping tradition that has potential as a source of learning social subject in SMP N 2 Pujut. In this study, the data were collected using qualitative descriptive by stages; (1) technique of determining the location of the research, (2) technique of determining the informant, (3) technique of data collection (observation, interviews, research documents), (4) technique of guarantor of the authenticity of the data (data triangulation, triangulation method), and (5) technique of data analysis. The results of this study show that: (1) the background of doing the tradition of the village of Sade Rembitan eloped, namely: a). the influence of Balinese culture, b). the legend of Princess Mandalika, and c). respect for women. (2) the reasons and efforts in retention the tradition of eloping, as follows: a). the reasons: the feeling of togetherness, admiration of women, and in the line with precept of Islam. The efforts: a). the dialog of custom leader with the residents, b). the role of family, and c). eloping tradition in social subject. (3) the aspects of eloping tradition that have potential as a source of learning social subject in SMP N 2 Pujut as follows: (a) cognitive, (b) the affective aspects, and (c) psychomotor aspects. (4) The contribution in developing the tradition of eloping in learning social subject in junior high school, namely; (a) the field of history (b) the field of sociology (c) the field of geography (d) the field of economic. (5) Recommendation that can be done in the study of learning and teaching is through the institution of schools and teachers as agents that carry out social studies learning.keyword : eloping tradition, potential, learning resources, IPS, SMP
Pemanfaatan Film Dokumenter Dan Foto-Foto Kesejarahan Sebagai Media Dalam Pembelajaran Kooperatif Tipe Student Teams Achievement Divisions (STAD) Untuk Meningkatkan Aktivitas Dan Hasil Belajar IPS Di Kelas X Tata Busana SMK Negeri 2 Singaraja. Ermanda Kurniawan, Kadek
Widya Winayata: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol 2, No 1 (2014):
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjps.v2i1.1022

Abstract

Tujuan penelitian tindakan kelas ini adalah apakah pemanfaatan film dokumenter peristiwa sejarah dan foto-foto tokoh pelaku sejarah sebagai media pembelajaran kooperatif tipe STAD dapat meningkatkan aktivitas, hasil belajar dan respon siswa pada mata pelajaran IPS materi sejarah di kelas X Tata Busana.Dalam penelitian tindakan kelas ini yang menjadi subjek adalah siswa kelas X Tata Busana semester 2 di SMK Negeri 2 Singaraja dengan jumlah 38 siswa perempuan. Sedangkan objek penelitian adalah aktivitas, hasil belajar siswa dan respon siswa.Metode pengumpulan data adalah metode penelitian tindakan kelas, wawancara dan observasi yang dilakukan pada pelaksanaan PPL-Real di SMK Negeri 2 Singaraja pada semester 1.Permasahalan yang didapat berasal dari kurangnya motivasi siswa dan kurangnya guru IPS dalam penggunaan modul dan media pembelajaran IPS pada materi sejarah.Dari hasil penelitian tindakan kelas dan analisis dapat diperoleh hasil sebagai berikut dengan pelaksanaan penelitian sebanyak 3 siklus: (1) aktivitas belajar siswa mendapatkan skor rata-rata 48% pada siklus 1, 63,75% pada siklus 2 dan 73,75% pada siklus 3. (2) Hasil belajar siswa mendapatkan skor rata-rata 63,26%, ketuntasan belajar 57,89% dan hasil belajar kelompok mendapatkan skor rata-rata 64,8% pada siklus 1, pada siklus 2 hasil belajar siswa mengalami penurunan yaitu dengan nilai skor rata-rata 61,84%, ketuntasan belajar 44,73% dan nilai hasil belajar kelompok 61,8% dan pada siklus 3 hasil belajar siswa megalami peningkatan yaitu dengan nilai skor rata-rata 80,40%, ketuntasan belajar 73,68% dan nilai hasil belajar kelompok 80,6%. Hasil belajar lainnya juga di peroleh dari ulangan harian yang dilaksanakan sebanyak dua kali, yaitu pada ulangan harian 1 siswa mendapatkan nilai skor rata-rata 82,74% dan ketuntasan belajar 78,95% sedangkan pada ulangan harian 2 siswa mendapatkam skor rata-rata 81,16% dan ketuntasan belajar 84,21%. (3) Hasil respon siswa dilakukan dengan perbandingan antar siklus, yaitu pada siklus 1 dan siklus 2 respon siswa mengalami peningkatan 10,97% dan pada siklus 2 dan siklus 3 mengalami peningkatan 10%. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa pembelajaran kooperatif tipe STAD dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar IPS khususnya Standar Kompetensi sejarah di kelas X Tata Busana SMK Negeri 2 Singaraja. Kata Kunci: Pembelajaran Kooperatif STAD, Aktifitas, Hasil Belajar dan Respon Siswa
TRADISI MAKANDAL DALAM UPACARA PERNIKAHAN DI DESA PAKRAMAN SONGAN,KINTAMANI,BANGLI DAN POTENSINYA SEBAGAI SUMBER PEMBELAJARAN SEJARAH DI SMA ., Ni Nengah Sariasih; ., Prof. Dr. Nengah Bawa Atmadja,MA; ., Dra. Tuty Maryati,M.Pd
Widya Winayata: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol 6, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjps.v6i2.7406

Abstract

Penelitian ini bertujuan (1) Mendeskripsikan latarbelakang Tradisi Makandal tetap dipertahankan. (2) Mendeskripsikan tata cara pelaksanaan Tradisi Makandal. (3) Mendeskripsikan nilai-nilai dari Tradisi Makandal yang dimanfaatkan sebagai sumber pembelajaran sejarah di SMA. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan tahap-tahap; (1) teknik penentuan lokasi penelitian, (2) pendekatan penelitian, (3) teknik penentuan informan, (4) teknik pengumpulan data, (5) teknik validitas atau teknik keabsahan data, (6) Teknik analisis data. Hasil penelitian menunjukan bahwa, pemertahanan Tradisi Makandal di latar belakangi karena adanya suatu kepercayaan dan keyakinan yang telah mengakar di masyarakat, di samping adanya alasan membersihkan pengantin dari cuntaka,melegitimasi keanggotaan pada desa pakraman,mengumumkan peresmian pasangana pengantin, mempertunjukan status ekonomi social, memperkuat solidaritas keluarga laki-laki dan perempuan, memperkuat posisi kubayan, memperkuat posisi pemangku,memperkuat struktur desa adat dan desa dinas, memperkuat tradisi agama hindu. Tata cara pelaksanaan tradisi Makandal diantaranya: persiapan dan pelaksanaan upacara (tempat, waktu, perlengkapan, pemimpin dan peserta upacara). Nilai-nilai yang terdapat pada tradisi Makandal diantaranya: nilai religious, nilai ekonomi, nilai estetis, nilai social dan nilai politik.Kata Kunci : Tradisi, Makandal, nilai tradisi. This research aims (1) to describe the background of Makandal Tradition that still retained. (2) to describing the procedures of Makandal tradition. (3) to describing the values of Makandal Tradition that used as a source of history teaching in high school. This study used a qualitative method by stages; (1) location determination techniques of research, (2) the research approach, (3) determination techniques informant, (4) techniques of data collection, (5) the validity of the technique or techniques data authenticity, (6) The technique of analysis data. The results of this researched showing that, the background retention of Makandal Tradition in backs because of the people’s credibility and confidence that had been taken root in their community, besides the reason to the grounds bathe the brides from cuntaka, legitimizing the members in Pakraman, announced the inauguration of couple bride, point out their economic status, social, strengthening the solidarity between man and woman’s family, strengthening the position of kubayan, strengthening the position of stakeholders, strengthening the structure of the traditional village and village offices, strengthening the Hindu’s tradition. The procedure for Makandal’s execution traditions include: the preparation and execution of the ceremony (place, time, equipment, leaders and participants of the ceremony). The contained of values in Makandal tradition: religion values, economic values, aesthetic values, social values and political valueskeyword : Tradition, Makandal, the values of tradition.
REPRESENTASI IDENTITAS TIONGHOA MELALUI KULINER DI KELURAHAN KAMPUNG BUGIS, SINGARAJA, BALI SEBAGAI SUMBER MATERI AJAR SEJARAH SMA KELAS XII JURUSAN BAHASA ., Ni Komang Trisna Suparwati; ., Dra. Luh Putu Sendratari,M.Hum; ., Ketut Sedana Arta, S.Pd.
Widya Winayata: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol 4, No 1 (2016)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjps.v4i1.2132

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) latar belakang representasi etnis Tionghoa di Kelurahan Kampung Bugis, Singaraja, Bali melalui kuliner; (2) jenis-jenis kuliner yang merepresentasikan identitas etnis Tionghoa di Kelurahan Kampung Bugis, Singaraja, Bali; dan (3) representasi identitas Tionghoa melalui kuliner di Kelurahan Kampung Bugis, Singaraja, Bali yang dijabarkan dalam silabus Sejarah SMA kelas XII jurusan Bahasa sebagai sumber materi ajar Sejarah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif melalui langkah-langkah yaitu: (1) penentuan lokasi penelitian; (2) teknik penentuan informan; (3) teknik pengumpulan data (observasi, wawancara, studi dokumen dan studi pustaka); (4) validasi data; (5) teknik analisis data; dan (6) teknik penulisan hasil penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa latar belakang representasi identitas etnis Tionghoa di Kelurahan Kampung Bugis, Singaraja, Bali dikaji dari aspek kuliner ada dua faktor yang sangat berpengaruh yaitu faktor sistem kepercayaan etnis Tionghoa dan faktor sosial budaya di wilayah tersebut. Jenis-jenis kuliner Tionghoa yang merepresentasikan identitas mereka dapat dilihat pada sajian persembahan dalam upacara-upacara besarnya serta dalam makanan-makanan sehari-hari yang dijual secara umum. Nama-nama makanan khas Tionghoa biasanya mengandung makna tersirat berdasarkan bentuk, rasa maupun tektur makanannya. Kajian kuliner Tionghoa sebagai representasi identitas etnis tersebut dapat disisipkan serta dijabarkan dalam silabus Sejarah SMA kelas XII jurusan Bahasa untuk melengkapi materi ajar yang mengalami missing link pada masa Orde Baru (Soeharto) hingga Reformasi. Kajian ini dapat disisipkan dalam materi Sejarah dalam Standar Kompetensi “Merekonstruksi Perjuangan Bangsa Sejak Orde Baru Sampai Dengan Masa Reformasi”, dengan Kompetensi Dasar “Merekonstruksi Perkembangan Masyarakat Indonesia Sejak Orde Baru Sampai Dengan Masa Reformasi”.Kata Kunci : Representasi identitas etnis, Kuliner Tionghoa, Silabus sejarah This study aimed to determine (1) the representation background of Chinese ethnic at Kampung Bugis Village, Singaraja, Bali through culinary, (2) the various of cuisine that represents the Chinese ethnic identity at Kampung Bugis Village, Singaraja, Bali, and (3) representation Chinese identity through culinary at Kampung Bugis Village, Singaraja, Bali outlined in the History syllabus of XII class Language department of Senior High School as sources of history teaching materials. This study used a qualitative approach, through this measures namely: (1) determining the location of the study, (2) determination informant techniques, (3) data collection techniques (observation, interviews, documents and literature studies), (4) data validation, (5) data analysis techniques, and (6) research writing techniques. The results showed that the background representation of Chinese ethnic identity at Kampung Bugis Village, Singaraja, Bali assessed by the culinary aspect there are two factors very influence the factor of Chinese ethnic belief systems and socio-cultural factors in the region. The various of Chinese culinary who represent their identity can be seen in the grain offerings in ceremonies as well as the foods that are sold daily in general. The names of typical Chinese food usually contains the meaning implied by the shape, taste and texture of the food. Chinese culinary studies as a representation of the ethnic identity can be inserted and explained in History syllabus of XII class Language department of Senior High School to complement teaching materials that had a missing link in Orde Baru (Soeharto) until Reformasi (Reformation). This study can be inserted in the history material in the Standar Kompetensi (standard of competence) "Reconstructing the Nation Struggle since the Orde Baru until the Reformation", with Kompetensi Dasar (basic competence) "Reconstructing the development of Indonesian society since the Orde Baru until the Reformation"keyword : Representation of ethnic identity, Chinese culinary, History syllabus
Tugu Taman Makam Pahlawan Sapta Dharma Pejeng (Sejarah, Makna, dan Potensinya Sebagai Sumber Belajar IPS Studi Kasus di SMP N 3 Tampaksiring, Gianyar-Bali) ., A.A. Istri Pradnyana Asrama P.; ., Dra. Desak Made Oka Purnawati,M.Hum; ., Ketut Sedana Arta, S.Pd.
Widya Winayata: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol 3, No 2 (2015)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjps.v3i2.2565

Abstract

Penelitian ini dilakukan di Desa Pejeng, Gianyar, Bali yang bertujuan untuk mengetahui : (1)latar belakang berdirinya Tugu Taman Makam Pahlawan Sapta Dharma di Desa Pakraman Pejeng; (2)Makna yang terkandung pada Tugu Taman Makam Pahlawan Sapta Dharma; dan (3)Potensi potensi Tugu Taman Makam Pahlawan Sapta Dharma sebagai sumber belajar IPS. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif, sehingga langkah-langkah yang dilakukan adalah (1)Penentuan Lokasi Penelitian;(2)Teknik Penentuan Informan;(3)Teknik Pengumpulan Data;(4)Teknik Observasi;(5)Teknik Wawancara;(6)Teknik Studi Dokumentasi;(7)Teknik Penjaminan Keabsahan Data; (8)Teknik Analisis Data;(9)Teknik Penulisan Hasil Penelitian. Berdasarkan temuan di lapangan latar belakang dibangunnya Tugu Taman Makam Pahlawan Sapta Dharma untuk mengenang serta sebagai wujud penghormatan dan penghargaan jasa para pahlawan lokal yang berasal dari Desa Pejeng yang gugur didalam perang melawan PPN/NICA. Makna yang terkandung dalam Tugu Taman makam Pahlawan Sapta Dharma dapat dibagi lima yakni, (1)sikap rela berkorban; (2)sikap patriotisme; (3)sikap jujur; (4)sikap adil; (5)sikap perjuangan yang pantang mundur. Tugu Taman Makam Pahlawan Sapta Dharma Pejeng memiliki nilai historis sangat penting dalam konteks sejarah perjuangan rakyat Bali dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia yang patut diwariskan. Kata Kunci : Kata Kunci : Sejarah, Makna, dan Potensi Tugu Taman Makam Pahlawan Sapta Dharma This research was conducted in the village of Pejeng , Gianyar , Bali which aims to determine : ( 1 ) the background of the establishment of the monument Heroes Cemetery Sapta Dharma in Pejeng Village; ( 2 ) The meaning in the Heroes Cemetery Monument Sapta Dharma , and ( 3 ) potential Heroes cemetery monument Sapta Dharma as a source of social studies . This research is descriptive qualitative , so the steps are: ( 1 ) Determination of Location Research , (2 ) Determination Techniques informant , (3 ) Data Collection Techniques ; ( 4 ) Observation Techniques ; ( 5 ) Interview Techniques ; ( 6 ) Engineering Documentation Studies;( 7 ) Data validity Assurance techniques ; ( 8 ) Data Analysis Techniques ; ( 9 ) Writing Techniques Research . Based on the findings of the background field monument built Sapta Dharma Heroes cemetery in memory as well as a form of respect and appreciation of the services of a local hero who comes from the village of Pejeng who died in the fight against PPN / NICA . Meaning contained in the tomb Heroes Monument Park can be divided five Sapta Dharma namely , ( 1 ) self-sacrifice ; ( 2 ) patriotism , (3 ) being true , (4 ) fairness , (5 ) the attitude of irrepressible struggle . Heroes cemetery monument Sapta Dharma Pejeng has historical value is very important in the context of the history of the struggle to maintain the independence of the people of Bali in Indonesia that should be inherited . keyword : Keywords: History, Meaning, and Potential Heroes Comentery Monument Sapta Dharma

Page 4 of 55 | Total Record : 544