cover
Contact Name
I Wayan Putra Yasa
Contact Email
yanputra666@gmail.com
Phone
+6285238950355
Journal Mail Official
yanputra666@gmail.com
Editorial Address
Jalan Udayana No. 11, Singaraja-Bali
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Widya Winayata: Jurnal Pendidikan Sejarah
ISSN : 25992635     EISSN : 2599140X     DOI : http://dx.doi.org/10.23887/jjps.v8i2
Widya Winayata: Jurnal Jurusan Pendidikan Sejarah is a scientific journal published by the Department of History Education, Faculty of Law and Social Sciences, Universitas Pendidikan Ganesha. This journal aims to accommodate articles of research results and results of community service in education and history learning. In the end, this journal can describe the development of science and technology in the field of historical education for the academic community. This journal is published three times a year.
Arjuna Subject : -
Articles 544 Documents
KEHIDUPAN MASYARAKAT KRISTEN KATOLIK DI DESA EKASARI DUSUN PALASARI, MELAYA, JEMBRANA-BALI DAN POTENSINYA SEBAGAI SUMBER BELAJAR SEJARAH DI SMA KELAS XI I Kadek Adi Aryantika; Ketut Sedana Arta; I Wayan Putra Yasa
Widya Winayata: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol. 9 No. 1 (2021)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjps.v9i1.30907

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) Bagaimana sejarah keberadaan masyarakat Kristen Katolik di Dusun Palasari. (2) Bagaimana praktik kehidupan masyarakat Kristen Katolik di Dusun Palasari. (3) Apa aspek-aspek kehidupan masyarakat Kristen Katolik di Dusun Palasari sebagai sumber belajar sejarah di SMA kelas XI. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif yang meliputi: (1) Lokasi penelitian, (2) Teknik penentuan informan, (3) Teknik pengumpulan data, (4) Teknik penjaminan keaslian data, (5) Teknik analisis data. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa penyebaran agama Kristen Katolik terjadi di Tuka, yang membuat banyak masyarakat Tuka beralih agama ke Kristen Katolik hinggal menyebabkan konflik dan membuat masyarakat yang beragama Kristen Katolik bertransmigrasi ke Palasari, dalam perkembangan umat Katolik di Palasari sangat pesat sehinggal tanah awal yang diberikan menjadi sempit karena banyak pendatang yang datang ke Palasari sehingga P. Simon Buis meminta tanah dan diberikan tanah di Palasari Baru. Dalam perkembangan umat di Palasari baru semua kehidupan ditata terutama pembangunan gereja, dan dalam kehidupan masyarakat Kristen Katolik di Palasari masih mempergunakan identitas Bali dan konsep asli Bali di Palasari, yang membuat kehidupan masyarakat Kristen Katolik Palasri dapat digunakan sebagai sumber belajar sejarah karena sesui dengan silabus sejarah Indonesia, terdapat beberapa aspek-aspek yang dapat digunakan sebagai sumber belajar antara lain, aspek sejarah, aspek peninggalan, dan aspek pendidika karakter Kata kunci: Palasari, kehidupan masyarakat Kristen Katolik, sumber belajar sejarah, migrasi, identitas Bali, konsep Bali, dan pendidika karakter. ABSTRACT This study aims to determine: (1) How is the history of the existence of the Catholic Christian community in Palasari Village. (2) How is the practice of the life of the Catholic Christian community in Palasari Hamlet. (3) What are the aspects of the life of the Catholic Christian community in Palasari Hamlet as a source of learning history in class XI SMA. The method used in this research is descriptive qualitative which includes: (1) research location, (2) informant determination techniques, (3) data collection techniques, (4) data authenticity assurance techniques, (5) data analysis techniques. The results of this study indicate that the spread of Catholic Christianity occurred in Tuka, which made many Tuka people convert to Catholic Christianity to cause conflict and make Catholic Christians transmigrate to Palasari, in the development of Catholics in Palasari very rapidly so that the initial land was given. became narrow because many immigrants came to Palasari so P. Simon Buis asked for land and was given land in Palasari Baru. In the development of the people in Palasari, only life has been arranged, especially the construction of the church, and in the life of the Catholic Christian community in Palasari they still use Balinese identity and the original Balinese concept in Palasari, which makes the life of the Palasri Catholic Christian community a source of historical learning because it is in accordance with the historical syllabus Indonesia, there are several aspects that can be used as a source of learning, including historical aspects, heritage aspects, and character education aspects. Keywords: Palasari, Catholic Christian community life, historical learning resources, migration, Balinese identity, Balinese concept, and character education.
KERAJINAN KAPUK DI DESA TEGALLINGGAH, SUKASADA, BULELENG, BALI (Sejarah Kemunduran, Adaptasi dan Nilai-nilai Pendidikan Karakter Sebagai Sumber Bagi Pembelajaran Sejarah Di SMA/MA) i gede beni aprisma yasa; nengah bawa atmadja; tuty maryati
Widya Winayata: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol. 9 No. 2 (2021)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjps.v9i2.31483

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk (1) Mengetahui mengapa kerajinan kapuk di Desa Tegallinggah mengalami kemunduran (2) Bagaimana pola adaptasi yang dilakukan oleh penggerajin kapuk (3) Nilai-nilai pendidikan karakter apa yang ada dibalik dinamika kerajinan kapuk di Desa Tegallinggah yang dapat digunakan sebagai sumber belajar sejarah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif,  dengan lokasi penelitian di desa Tegallinggah. Penentuan informan menggunakan purposive sampling dan snowball sampling, prosedur pengumpulan data dengan cara observasi, wawancara, dan studi dokumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Kemunduran usaha kerajinan kasur dan bantal kapuk di desa Tegallinggah disebabkan oleh a) Tidak kompeten dalam manajerial, b) Kurang berpengalaman, c) Kurang dapat mengendalikan keuangan, d) Gagal dalam perencanaan, e) Lokasi yang kurang memadai, f) Kurangnya pengawasan peralatan, g) Sikap kurang sungguh-sungguh dalam berusaha, h) Ketidakmampuan dalam melakukan peralihan kewirausahaan. (2) Pola adaptasi yang dilakukan oleh para pengerajin kapuk yaitu: (a) Adaptasi kultural (b) Adaptasi srtuktural (c) Adaptasi proses produksi (d) Adaptasi sistem pemasaran. (3) Nilai nilai yang dipegang teguh oleh para pengerajin kapuk di desa Tegallinggah, dari 18 nilai pendidikan karakter menurut Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas) yang dimiliki oleh para pengerajin kapuk diantaranya religious, jujur, toleransi,disiplin, kerja keras, kreatif, rasa ingin tahu dan tanggung jawab.
PERISTIWA RAWAGEDE PADA MASA AGRESI MILITER BELANDA I DI DESA BALONGSARI, RAWAMERTA, KARAWANG DAN POTENSINYA SEBAGAI SUMBER BELAJAR SEJARAH DI SMA Yuri Sekar Seruni; Desak Made Oka Purnawati; I Made Pageh
Widya Winayata: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol. 9 No. 1 (2021)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjps.v9i1.31495

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) rangkaian peristiwa Rawagede pada masa agresi militer Belanda I di Desa Balongsari, Rawamerta, Karawang, (2) kehidupan masyarakat setelah peristiwa Rawagede, (3) aspek-aspek yang terdapat pada peristiwa Rawagede pada masa agresi Belanda I yang dapat digunakan sebagai sumber belajar sejarah di SMA. Metode penelitian yang digunakan yaitu metode penelitian sejarah meliputi : (1) Heuristik (pengumpulan sumber), (2) Kritik Sumber, (3) Interpretasi (penafsiran), (4) Historiografi (penulisan kisah sejarah). Hasil penelitian ini adalah rangkaian peristiwa Rawagede, kehidupan masyarakat setelah peristiwa yaitu tuntutan keluarga korban peristiwa Rawagede yang membuahkan permintaan maaf secara resmi dari Pemerintah Belanda atas kejahatan perang yang dilakukan. Adapun potensi Peristiwa Rawagede berdasarkan hasil anlisis kurikulum dan silabus ialah nilai kerja keras, nilai patriotisme/ cinta tanah air, nilai rasa kebangsaan, nilai rasa ingin tahu yang selanjutnya disusun ke dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dan Buku Suplemen agar dapat dimanfaatkan sebagai sumber belajar sejarah di SMA.
KONVERSI AGAMA DARI AGAMA HINDU KE AGAMA KRISTEN DI BANJAR UNTAL- UNTAL, DESA DALUNG, BADUNG DAN POTENSINYA SEBAGAI SUMBER BELAJAR SEJARAH DI SMA Putu Sulistyawati; Desak Made Oka Purnawati; Ketut Sedana Arta
Widya Winayata: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol. 9 No. 1 (2021)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjps.v9i1.31496

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui : (1) sejarah konversi agama dari Agama Hindu ke Agama Kristen di Banjar Untal -  Untal 1931-1935, (2) proses konversi agama dari Agama Hindu ke Agama Kristen di Banjar Untal – Untal 1931-1935, (3) aspek – aspek dari konversi agama dari Agama Hindu ke Agama Kristen di Banjar Untal – Untal 1931-1935 yang dapat dijadikan sebagai sumber belajar sejarah di SMA. Metode penelitian yang digunakan adalah  metode penelitian  sejarah dengan  pendekatan  kualitatif  meliputi : (1) heuristik ( mencari jejak/sumber data, (2) kritik sumber atau verifikasi (pengujian sumber data), (3) interpretasi ( aktivitas menafsirkan data ), dan (4) historiografi ( penulisan sejarah ). Hasil penelitian menunjukkan bahwa : sejarah konversi agama dari Agama Hindu ke Agama Kristen di Untal-Untal 1931-1935 dilatarbelakangi oleh aktivitas zending Tsang To Hang. Proses konversi agama di Banjar Untal-Untal menghasilkan 12 orang yang dibaptis dan menjadi perintis perkembangan Kristen. Adapun potensi sejarah konversi agama dari agama Hindu ke Agama Kristen di Banjar Untal-Untal 1931-1935 sebagai sumber pembelajaran sejarah di SMA kelas XI dapat dilihat dari beberapa aspek di antaranya aspek pendidikan karakter (nilai religius, toleransi, komunikatif, cinta damai dan peduli sosial), aspek pendidikan, aspek peninggalan (Gereja Betlehem, monument baptisan pertama), dan aspek sejarah yang selanjutya dikemas dalam buku suplemen pembelajaran.
HUBUNGAN SOSIOKULTURAL NYEGARA GUNUNG ANTARA PURA PEGONJONGAN DENGAN PURA DALEM BALINGKANG SERTA POTENSINYA SEBAGAI SUMBER BELAJAR SEJARAH Kadek Mega Arista Sinta Devi; Tuty Maryati; Ketut Sedana Arta
Widya Winayata: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol. 9 No. 2 (2021)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjps.v9i2.31498

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk: (1) untuk mengetahui kondisi sosial-budaya di sekitar Pegonjongan dan Dalem Balingkang. (2) untuk mengetahui pola hubungan nyegara gunung antara Pegonjongan dan Dalem Balingkang. (3) untuk mengetahui aspek-aspek dari hubungan sosiokultural nyegara gunung antara Pegonjongan dan Dalem Balingkang sebagai sumber belajar sejarah. Metode yang digunakan adalah deskriptif-kualitatif meliputi: (1) lokasi penelitian terletak di Pura Pegonjongan, Desa Sambirenteng, Buleleng, Bali dan Pura Dalem Balingkang, Desa Pinggan, Bangli, Bali. (2) teknik penentuan informan dilakukan dengan teknik purposive sampling dan snow ball. (3) teknik pengumpulan data menggunakan teknik observasi, wawancara, studi dokumen. (4) teknik validasi data menggunakan triangulasi metode dan triangulasi sumber. (5) teknis analisis data terdiri dari: pengumpulan data, pengolahan data, dan analisis data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: Pola hubungan nyegara gunung berkaitan dengan kedatangan pedagang Cina yang mendarat di Pantai Timur Bali Utara, kemudian terjadi akulturasi antara kebudayaan Bali Kuno dengan Cina serta amalgamasi antara Raja Bali Kuno dengan Putri Cina yang mempengaruhi dinamika masyarakat Bali. Sehingga adanya beberapa kesamaan budaya antara Pegonjongan dan Dalem Balingkang. hubungan sosiokultural nyegara gunung antara Pegonjongan dan Dalem Balingkang yang dapat digunakan sebagai sumber belajar sejarah: aspek spiritual, aspek sosial, aspek pengetahuan, aspek historis, dan aspek peninggalan.
PERJUANGAN DAN KETOKOHAN KAPTEN MUDITA DI KABUPATEN BANGLI DAN POTENSINYA SEBAGAI SUMBER BELAJAR SEJARAH DI SMA I Ketut Arya Sentana Mahartha; Tuty Maryati; Desak Made Oka Purnawati
Widya Winayata: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol. 9 No. 2 (2021)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjps.v9i2.31503

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) Sejarah perjuangan Kapten Mudita di Kabupaten Bangli, Bali. (2) Nilai-nilai karakter dari Kapten Mudita. (3) Potensi dari ketokohan Kapten Mudita untuk dijadikan sumber belajar sejarah di SMA. Metode penelitian yang digunakan yaitu metode penelitian sejarah dengan pendekatan deskriptif kualitatif meliputi: (1) Lokasi penelitian terletak di Puri Agung Bangli, Desa Kawan, Bangli, Bali. (2) Teknik penentuan informan dengan menentukan informan kunci, dari informan kunci kemudian peneliti mengembangkan lagi mencari informan bantuan. (3) Teknik pengumpulan data menggunakan tiga teknik yaitu: teknik observasi, teknik wawancara, dan teknik studi dokumen. (4) Teknik penjaminan keaslian data dengan menggunakan dua teknik yaitu: teknik triangulasi sumber dan triangulasi tekni. (5) Teknik analisis data yang terdiri dari pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, verifikasi. Hasil penelitian ini adalah  latar blakang Kapten Mudita dari kanak-kanak hingga dewasa, masa perjuangan Kapten Mudita dalam pemertahanan kemerdekaan RI di Kabupaten Bangli, nilai-nilai karakter yang dapat dikembangkan menjadi sumber belajar sejarah di SMA.
SEJARAH INDUSTRI KERAJINAN BATOK KELAPA YANDE BATOK DI DESA NEGARI, BANJARANGKAN, KLUNGKUNG-BALI DAN POTENSINYA SEBAGAI SUMBER BELAJAR IPS DI SMP Ida Ayu Made Rai Saraswati; I Made Pageh; Tuty Maryati
Widya Winayata: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol. 9 No. 1 (2021)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjps.v9i1.31548

Abstract

            Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) sejarah industri kerajinan batok kelapa Yande Batok di Desa Negari, Banjarangkan, Klungkung-Bali, (2) Perkembangan industri kerajinan batok kelapa Yande Batok dari tahun 1996 – 2020, (3) Potensi yang terdapat di industri kerajinan batok kelapa Yande Batok dapat dijadikan sumber belajar IPS di SMP. Metode penelitian yang digunakan yaitu metode penelitian sejarah dengan pendekatan kualitatif meliputi : (1) Heuristik (mencari jejak/sumber data), (2) Kritik sumber/verifikasi (pengujian sumber data), (3) Interpretasi (pemberian tafsiran terhadap data), (4) Historiografi (penulisan sejarah). Hasil penelitian ini menunjukan bahwa (1) Sejarah berdirinya industri kerajinan batok kelapa Yande Batok dipengaruhi oleh faktor produksinya yaitu SDA, SDM dan SDU (2) industri kerajinan Yande Batok mengalami perkembangan dari tahun 1996 – 2020 dilihat dari hasil produk kerajinan, alat produksi, pemasaran dan perkembangan harga setiap hasil kerajinan (3) Industri kerajinan Yande Batok dapat digunakan sebagai sumber belajar IPS sesuai dengan analisis silabus mata pelajaran dilihat dari aspek geografis, sosial, ekonomi, dan aspek budaya.Kata Kunci: Sejarah Industri Kerajinan Batok Kelapa Yande Batok, perkembangan dan sumber belajar IPS.
PURA CEDOK WARU DI DESA ADAT KUTA KABUPATEN BADUNG BALI (SEJARAH, STRUKTUR, FUNGSI, DAN POTENSINYA SEBAGAI SUMBER BELAJAR SEJARAH DI SMA) Ni Putu Anggarista Sundari Ningsih; Nengah Bawa Atmadja; I Wayan Mudana
Widya Winayata: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol. 9 No. 2 (2021)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjps.v9i2.32525

Abstract

Tujuan Penelitian ini adalah untuk mengetahui hal berikut (1) Sejarah Keberadaan Pura Cedok Waru di Desa Adat Kuta, Kabupaten Badung Bali (2) Struktur dan fungsi Pura Cedok Waru di Desa Adat Kuta, Kabupaten Badung Bali (3) Aspek-aspek apa saja dari Pura Cedok Waru di Desa Adat Kuta, Kabupaten Badung Bali yang dapat dijadikan sebagai media pembelajaran di SMA. Dalam penelitian ini, dapat dikumpulkan dengan menggunakan metode penelitian sebagai berikut; (1) Penentuan Lokasi Penelitian (2) Penentuan Informan  (3) Pengumpulan Data (4) Tahap Validasi Data menggunakan Teknik Triangulasi Data. Adapun Hasil penelitian menunjukan pada bahwa, (1) Sejarah kebradaan Pura Cedok Waru tidak bisa dilepaskan dari adanya Pohon Waru yang kemudian lebih dikenal dengan Pohon Cedok Waru yang merupakan tempat untuk memperingati penyerahan kekuasaan oleh Mahapatih Gajah Mada kepada Sri Kresna Kepakisan atas suksesnya pendaratan pasukan Mahapatih Gajah Madha menginvansi Bali pada tahun 1265 Caka atau tahun 1343 Masehi. (2) Struktur pada bangunan Pura Cedok Waru dianggap masih menggunakan konsep Dwi Mandala yaitu hanya memiliki Jaba sisi dan Jeroan dan terdapat beberapa fungsi ( fungsi religius, fungsi sosial, fungsi budaya, dan fungsi peendidikan (3) terdapat beberapa aspek pada Pura Cedok Waru (aspek historis, aspek spiritual, aspek pengetahuan, aspek sosial dan aspek peninggalan).
PELABUHAN PENYEBRANGAN GILIMANUK DI DESA GILIMANUK KECAMATAN MELAYA KABUPATEN JEMBRANA (LINTASAN SEJARAH, DAMPAK SOSIAL EKONOMI DAN EKOLOGI, SERTA POTENSINYA SEBAGAI SUMBER PEMBELAJARAN SEJARAH LOKAL DI SMA) Duwi Maulida Agistin; Nengah Bawa Atmadja; Tuty Maryati
Widya Winayata: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol. 9 No. 2 (2021)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjps.v9i2.33089

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) Lintasan sejarah berdirinya pelabuhan penyebrangan Gilimanuk di Desa Gilimanuk, Jembrana, Bali (2) Dampak sosial, ekonomi, dan ekologi bagi masyarakat (3) Aspek-aspek dari keberadaan pelabuhan Gilimanuk yang memiliki potensi sebagai sumber belajar sejarah lokal di SMA. Metode penelitian yang digunakan yaitu metode  penelitian sejarah dengan pendekatan deskriptif kualitatif meliputi: (1) Lokasi penelitian terletak di pelabuhan penyebrangan Gilimanuk, Desa Gilimanuk, Jembrana, Bali. (2) Teknik penentuan informan menggunakan informan kunci, dikembangkan lagi mencari informan bantuan. (3) Teknik pengumpulan data menggunakan tiga teknik yaitu: observasi, wawancara,studi dokumen (4) Teknik penjaminan keaslian data dengan menggunakan dua teknik yaitu: triangulasi sumber dan triangulasi metode. (5) Teknik analisis data yang terdiri dari pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, verifikasi. Hasil penelitian ini lintasan sejarah pelabuhan penyebrangan Gilimanuk serta dampak sosial, ekonomi dan ekologi bagi masyarakat serta aspek-aspek dari keberadaan pelabuhan Gilimanuk yang memiliki potensi sebagai sumber belajar sejarah lokal di SMA. 
MAKNA BELIS DALAM PERKAWINAN ADAT PADA MASYARAKAT GUMBANG DESA RIUNG KECAMATAN CIBAL, MANGGARAI SEBAGAI SUMBER BELAJAR SEJARAH DI SMA Maria Marisa Kardila; Ketut Sedana Arta; I Wayan Putra Yasa
Widya Winayata: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol. 9 No. 3 (2021)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjps.v9i3.34605

Abstract

         Penulisan ini bertujuan untuk mengetahui bentuk belis, fungsi belis, makna belis, dan potensi belis di kampung Gumbang sebagai sumber belajar sejarah di SMA. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan tahap-tahap (1) memilih lokasi penelitian di kampung Gumbang Desa riung, (2) teknik penetuan informan dilakukan dengan menggunakan teknik Purposive Sampling dan juga Snow Ball, (3) teknik penjaminan keaslian data menggunakan Triagulasi Data dan Triagulasi Metode, (4) teknik pengumpulan dat dilakukan dengan observasi, wawancara, studi dokumentasi dan teknik analisis data. Hasil penelitian ini adala menunjukan bagaimana, (1) bentuk belis, terdiri dari 5 bentuk yaitu: kuda, kerbau, kambing, babi, dan uang. (2) fungsi belis, terdiri dari 4 fungsi yaitu: fungsi religious, fungsi sosial, fungsi ekonomi, dan fungsi pendidikan.  (3) makna belis. Makna belis di kampung Gumbang ini sebagai tanda kehormataan laki-laki terhadapa perempuan dan orang tua perempuan maupung dengan keluarga besarnya.  Adapun potensi dari tradisi belis berdasarkan hasil analisi kurikulum dan silabus ialah nilai religius, nilai peduli sosial, nilai tanggung jawab, nilai toleransi, nilai pesahabatan, nilai jujur, dan nilai kerja keras, yang selanjutnya akan disusun ke dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) di SMA.