cover
Contact Name
I Made Oka Riawan
Contact Email
made.oka@undiksha.ac.id
Phone
+62362-23884
Journal Mail Official
jurdikbiologiundiksha@gmail.com
Editorial Address
Jalan Udayana, Kampus Tengah Undiksha, FMIPA. Singaraja-Bali
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Jurnal Pendidikan Biologi Undiksha
Jurnal Pendidikan Biologi adalah adalah jurnal ilmiah yang diterbitkan oleh Jurusan Pendidikan Biologi Universitas Pendidikan Ganesha. Jurnal ini bertujuan untuk mewadahi artikel-artikel hasil penelitian dan hasil pengabdian masyarakat dibidang pendidikan dan pembelajaran. Pada akhirnya Jurnal ini dapat memberikan deskripsi tentang perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang pendidikan bagi masyarakat akademik.
Articles 658 Documents
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN MIND MAPPING DAN MODEL PEMBELAJARAN DIRECT INSTRUCTION TERHADAP KETERAMPILAN BERPIKIR KREATIF SISWA SMAN 2 SINGARAJA ., Putu Novi Kurniawati; ., Dr. I Wayan Sukra Warpala,S.Pd,M.Sc; ., Dra.Desak Made Citrawathi,M.Kes
Jurnal Pendidikan Biologi undiksha Vol 2, No 1 (2015):
Publisher : Undiksha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan keterampilan berpikir kreatif antara kelompok siswa yang belajar dengan model pembelajaran Mind Mapping dan kelompok siswa yang belajar dengan model pembelajaran Direct Instruction pada mata pelajaran biologi di kelas X SMAN 2 Singaraja. Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimen semu. Populasi penelitian ini adalah siswa kelas X SMAN 2 Singaraja tahun pelajaran 2014/2015 yang berjumlah 135 orang. Sampel penelitian ini adalah siswa kelas X MIA 2 yang berjumlah 39 orang dan kelas X MIA 3 yang berjumlah 39 orang. Data keterampilan berpikir kreatif dikumpulkan melalui tes dalam bentuk uraian. Data yang dikumpulkan dianalisis menggunakan analisis statistik deskriptif dan analisis kovarian. Hasil penelitian ini menemukan bahwa terdapat perbedaan keterampilan berpikir kreatif yang signifikan antara siswa yang belajar dengan model pembelajaran Mind Mapping dan siswa yang belajar dengan model pembelajaran Direct Instruction. Nilai rata-rata post-test siswa yang belajar dengan model pembelajaran Mind Mapping adalah 88,53, lebih besar daripada nilai rata-rata post-test siswa yang belajar dengan model pembelajaran Direct Instruction yaitu 76,25. Hal tersebut menunjukkan bahwa model pembelajaran Mind Mapping memberikan dampak yang positif terhadap keterampilan berpikir kreatif siswa kelas X SMAN 2 Singaraja.Kata Kunci : Mind Mapping, Direct Instruction, Keterampilan Berpikir Kreatif This research was aims at describe the differences of creative thinking skills between group of pupil which use Mind Mapping learning model and Direct Instruction learning model in biology major on 1st grade of SMAN 2 Singaraja. Type of this research was quasi experiment. Population of this research were 135 student in 1st grade of SMAN 2 Singaraja in 2014/2015 academic year. Sample of this research were 39 student from X MIA 2 class and 39 student from X MIA 3 class. Creative thinking skills data were collected through essay test. Collected data were analyzed using descriptive statistic and analysis of covariances. The outcomes shown such a significant differences in creative thinking skills between student which use Mind Mapping learning model and Direct Instruction learning model. Mean of post-test of student which use Mind Mapping learning model is 88,53, bigger than mean of post-test of student which use Direct Instruction learning model, 76,25. It shows that Mind Mapping learning model give such a positive effect for creative thinking skills of 1st student in SMAN 2 Singaraja. keyword : Mind Mapping, Direct Instruction, Creative Thinking Skill
KONDISI LINGKUNGAN YANG TIDAK MEMADAI MENGAKIBATKAN PENINGKATAN KELELAHAN DAN BEBAN KERJA PEMATUNG DI DESA PELIATAN UBUD GIANYAR ., NI PUTU PRIMA CAHYAN; ., Prof. Dr. I Made Sutajaya,M.Kes.; ., Dr. Ni Luh Putu Manik Widiyanti, S.Si.,
Jurnal Pendidikan Biologi undiksha Vol 4, No 2 (2017)
Publisher : Undiksha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengetahui kondisi lingkungan yang tidak memadai dapat meningkatkan kelelahan pada pematung; (2) mengetahui kondisi lingkungan yang tidak memadai dapat meningkatkan beban kerja pematung; dan (3) mengetahui cara penanggulangan kondisi lingkungan yang tidak memadai sehingga tidak meningkatkan beban kerja, dan kelelahan pekerja di industri kecil. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental lapangan (field experimental) dengan rancangan randomized pre dan post test group design. Jumlah sampel yang dilibatkan dalam penelitian ini adalah sebanyak 22 orang yang dipilih secara acak bertingkat (multistage random sampling). Data yang diperoleh dianalisis dengan uji t-paired pada taraf signifikansi 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi peningkatan beban kerja sebesar 38,59% dan kelelahan meningkat sebesar 47,19% (p < 0,05). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kondisi lingkungan yang tidak memadai dapat meningkatkan beban kerja dan kelelahan pada pematung.Kata Kunci : Kondisi lingkungan yang tidak memadai, beban kerja, kelelahan This study aims to (1) find out that inadequate environmental conditions can increase fatigue on sculptors, (2) knowing that inadequate environmental conditions can increase the workload of sculptors, (3) knowing how to overcome the inadequate environmental conditions so as not to increase the workload, and the fatigue of workers in small industries. This research is experimental field research (field experimental) with randomized pre and post test group design design. The number of samples involved in this study were as many as 22 people selected at random level (multistage random sampling). The data obtained were analyzed by t-paired test at 5% significance level. The results showed that there was an increase in workload of 38.59% and fatigue increased by 47.19% (p
EKSPLORASI DAN ANALISIS STRUKTUR KOMUNITAS TUMBUHAN LANGKA DI HUTAN WISATA MONKEY FOREST, KECAMATAN UBUD, GIANYAR ., Reynaldi Setyawan; ., Prof. Dr. Nyoman Wijana,M.Si; ., I M P Anton Santiasa, S.Pd.,M.Si.
Jurnal Pendidikan Biologi undiksha Vol 3, No 1 (2016):
Publisher : Undiksha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui komposisi floristik, densitas, dan fisiognomi spesies tumbuhan langka yang ada di Hutan Wisata Monkey Forest, Kecamatan Ubud, Gianyar. Jenis penelitian yang dilakukan adalah jenis penelitian eksploratif. Populasi dalam penelitian ini adalah semua spesies tumbuhan yang ada di seluruh area hutan dengan luas area ±27 hektar. Sampel dalam penelitian ini adalah spesies tumbuhan yang termasuk kategori langka yang terkover dalam kuadrat sebanyak 36 kuadrat. Sedangkan sampel untuk sosial masyarakat dalam penelitian ini adalah tokoh masyarakat, masyarakat biasa, penglingsir, dan petugas konservasi Hutan Wisata Monkey Forest. Pengambilan sampel dilakukan secara sistematik sampling dengan menggunakan metode kuadrat dengan ukuran 1x1 meter (seedling), 5x5 meter (sapling), 10x10 meter (mature). Data komposisi floristik, densitas, dan fisiognomi spesies tumbuhan langka dianalisis secara statistik ekologi dan deskriptif. Hasil penelitian ini menunjukkan (1) Komposisi floristik spesies tumbuhan langka di Hutan Wisata Monkey Forest terdapat 20 familia, 37 spesies, dan 584 individu spesies tumbuhan langka; (2) Densitas spesies tumbuhan langka yang memiliki presentase densitas tertinggi adalah Baccaurea racemosa dengan densitas sebesar 4,75%, sedangkan spesies tumbuhan langka yang memiiki presentase densitas terendah adalah Ficus religiosa, Antidesmus bunius, Anttidesmus gheasimbela, Lansium domesticum, Bisofhia javanica, Citrus maxima, Phyllanthus buxifolius, Ficus superba, Palaquium rostratum, Aistonia Scholaris, dan Rauwolfia serfintina dengan densitas sebesar 0,03%; (3) Fisiognomi spesies tumbuhan langka didominasi oleh spesies tumbuhan yang termasuk habitus pohon dengan jumlah sebanyak 412 individu spesies dengan persentase kategori mature (80,50%), sapling (19,02%), dan seedling (0,48%). Pada habitus perdu dengan jumlah sebanyak 1 individu dengan persentase kategori mature (100%). Sedangkan habitus liana dengan jumlah sebanyak 131 individu spesies dengan persentase kategori mature (3,08%), dan seedling (96,18%). Kata Kunci : Tumbuhan Langka, Fisiognomi, Densitas, Hutan Wisata Monkey Forest This study aims to determine the floristic composition, density, and the physiognomy of rare plant species that exist in Forest Tourism Monkey Forest, District of Ubud, Gianyar. Type of research is a kind of exploratory research. The population in this study were all plant species that exist in the entire forest area of ± 27 hectares. The sample in this study is a plant species including rare category that is excluded in the squares by 36 squares. While the sample to the social community in this research are public figures, ordinary people, penglingsir, and conservation officers Tourism Forest Monkey Forest. Sampling was done by systematic sampling using the 1x1 meter squared (seedlings), 5x5 meters (sapling), 10x10 meter (mature). Data floristic composition, density, and the physiognomy of rare plant species were analyzed statistically and descriptive ecology. The results showed (1) the floristic composition of plant species rare in Monkey Forest Tourism Forest there are 20 familia, 37 species and 584 individual species of rare plants; (2) The density of rare plant species that have the highest density percentage is baccaurea racemosa with a density of 4.75%, while the rare plant species who coined the percentage of lowest density is Ficus religiosa, Antidesmus bunius, Anttidesmus gheasimbela, Lansium domesticum, Bisofhia javanica, Citrus maxima , Phyllanthus buxifolius, Ficus superba, Palaquium rostratum, Aistonia scholaris, and Rauwolfia serfintina with a density of 0.03%; (3) physiognomy of rare plant species is dominated by plant species including tree habitus with a total of 412 individual species to the percentage of mature category (80.50%), sapling (19.02%), and seedling (0.48%). At the habitus of shrubs with a total of 1 individuals with the percentage of mature categories (100%). While habitus lianas with a total of 131 individual species to the percentage of mature category (3.08%), and seedling (96.18%).keyword : Rare Plants, physiognomy, Density, Monkey Forest Forest Tour
AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK DAUN SIRSAK (Annona muricata L.) TERHADAP JUMLAH KOLONI BAKTERI PLAK GIGI ., Ni Putu Ayu Meita Kurniawati; ., Prof. Dr. Ni Putu Ristiati, M.Pd.; ., Ida Ayu Putu Suryanti, S.Si., M.Si.
Jurnal Pendidikan Biologi undiksha Vol 4, No 2 (2017)
Publisher : Undiksha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan jumlah koloni bakteri pada plak gigi setelah pemberian ekstrak daun sirsak. Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimen sungguhan dengan rancangan adalah random posttest-only control group design. Populasi dalam penelitian ini adalah polikultur bakteri plak gigi, sampel dalam penelitian ini berjumlah 24 yaitu polikultur yang telah dibiakkan pada Nutrient Agar. Data dianalisis menggunakan uji statistik ANAVA satu arah. Perbedaan konsentrasi ekstrak daun sirsak yang digunakan dalam penelitian ini adalah 10%, 20%, 30%, dan 0% (kontrol). Hasil penelitian ini menunjukkan dengan uji statistik menggunakan ANAVA satu arah diperoleh angka signifikansi yang lebih kecil dari 0,05 (p < 0,05) sehingga dengan kata lain bahwa ada perbedaan jumlah koloni bakteri plak gigi setelah diberikan ekstrak kasar daun sirsak (Anonna muricata L.) Kata Kunci : Ekstrak Daun Sirsak (Anonna muricata L.). The purpose of this research were to know differences of bacterial colonies growth in dental plaque after giving treatment with crude extract of soursop leaf with different concentrations. This type of research was true experimental, with random posttest-only control group design. Population in this research was polyculture of dental plaque bacteria, and number of samples were used in this research were 24 which is grown in Nutrient Agar media. Data were analyzed using one way ANOVA statistic test. The results of this research showed that statistically using one-way ANOVA obtained a significance number less than 0.05 (p
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN PARTISIPATIF DAN MODEL PEMBELAJARAN KONVENSIONAL TERHADAP HASIL BELAJAR ., Ni Wayan Ernayanti; ., Dra.Desak Made Citrawathi,M.Kes; ., Dr. I Wayan Sukra Warpala,S.Pd,M.Sc
Jurnal Pendidikan Biologi undiksha Vol 3, No 2 (2016)
Publisher : Undiksha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dalam proses belajar mengajar masih menggunakan model pembelajaran konvensional. Hal ini diduga menjadi salah satu penyebab rendahnya hasil belajar. Salah satu upaya yang dilakukan adalah mengimplementasikan model pembelajaran partisipatif. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui dan mendeskripsikan perbedaan model pembelajaran partisipatif dan model pembelajaran konvensional terhadap hasil belajar. Jenis penelitian adalah penelitian eksperimen semu (quasi experimental) dengan desain pretest postest non-equivalent control group design. Populasi penelitian adalah seluruh siswa kelas X. Sampel diambil dengan teknik simple random sampling. Data yang dikumpulkan adalah data pretest dan postest hasil belajar meliputi pemahaman dan sikap siswa. Data dianalisis menggunakan statistik deskriptif dan MANCOVA. Berdasarkan analisis data diperoleh bahwa (1) ada perbedaan hasil belajar dengan menggunakan model pembelajaran partisipatif dan model pembelajaran konvensional, (2) ada perbedaan pemahaman dengan menggunakan model pembelajaran partisipatif dan model pembelajaran konvensional, (3) ada perbedaan sikap dengan menggunakan model pembelajaran partisipatif dan model pembelajaran konvensional. Berdasarkan hal tersebut, guru biologi dianjurkan menggunakan model pembelajaran partisipatif.Kata Kunci : hasil belajar model pembelajaran konvensional dan model pembelajaran partisipatif In the learning process there is still using conventional learning models. That is suspected to be one cause of low learning outcomes. One of the efforts is to implement participatory learning model. The research objective is to identify and describe the difference model of participatory learning and conventional learning model on learning outcomes. This research is a quasi-experimental research designed with non-equivalent pretest posttest control group design. The population was all students of class X. Samples were taken by simple random sampling technique. The data collected is pretest and posttest data from learning outcomes include students’ understanding and attitudes. Data were analyzed using descriptive statistics and MANCOVA. Based on data analysis found that (1) there are differences in learning outcomes by using participatory learning model and conventional learning model, (2) there is a difference of understanding by using participatory learning model and conventional learning model, (3) there are differences in attitudes by using participatory learning model and conventional learning model. Based on those above, the biology teachers are encouraged to use participatory learning model.keyword : learning outcomes conventional learning models and models of participatory learning
DISTRIBUSI DAN DIVERSITAS SPESIES TUMBUHAN SIMBOL TUBUH (TRI ANGGA) MASYARAKAT BALI MAJAPAHIT PADA TRI MANDALA, DESA BUDAKELING, KABUPATEN KARANGASEM, BALI ., Ni Luh Putu Wirayanti; ., Prof. Dr. Nyoman Wijana,M.Si; ., I Made Pasek Anton Santiasa, S.Pd.,M.Sc.
Jurnal Pendidikan Biologi undiksha Vol 4, No 2 (2017)
Publisher : Undiksha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) komposisi spesies tumbuhan Simbol tubuh di Desa Budakeling (2) densitas dan indeks keanekaragaman spesies tumbuhan Simbol tubuh di Desa Budakeling (3) distribusi dan pola distribusi spesies tumbuhan Simbol tubuh di Desa Budakeling (4) pengetahuan, sikap, dan implementasi masyarakat di Desa Budakeling mengenai Tri Mandala dan Tumbuhan Simbol Tubuh. Jenis penelitian ini adalah penelitian eksploratif deskriptif. Populasi dalam penelitian ini yaitu seluruh spesies tumbuhan yang terdapat di Desa Budakeling. Sampel dalam penelitian ini adalah tumbuhan simbol tubuh yang terdapat di 33 kuadrat penelitian. Parameter yang diukur dalam penelitian ini adalah parameter ekosistem dan parameter sosiosistem. Paramater ekosistem yaitu tumbuhan simbol tubuh. Parameter Sosiosistem meliputi adat dan budaya Bali Majapahit di Desa Budakeling dalam pelestarian tumbuhan simbol tubuh. Culture dalam penelitian ini meliputi parameter (1) human nature orientation, (2) man nature orientation, (3) time orientation, (4) activity orientation dan (5) relational orientation. Teknik pengambilan sampel menggunakan stratified random sampling sedangkan culture dilakukan dengan pemberian kuesioner dan wawancara. Data dianalisis secara statistik ekologi dan deskriptif. Hasil penelitian ini menunjukkan (1) Komposisi Spesies Tumbuhan Simbol Tubuh di Desa Budakeling sebanyak 18 familia yang terdiri dari 22 spesies dengan jumlah individu sebanyak 178 individu (20,94%), (2) Densitas Tumbuhan pada Tri Mandala di Desa Budakeling adalah 1,1628% yang termasuk ke dalam kategori rendah, sedangkan Indeks keanekaragaman spesies tumbuhan simbol tubuh pada Tri Mandala di Desa Budakeling yaitu 0,996412 dengan makna indeks keanekaragaman tinggi, (3) Pola distribusi spesies tumbuhan simbol tubuh di Desa Budakeling yaitu terdapat 1 spesies (4,5%) dengan pola distribusi teratur, 2 spesies (9,0%) dengan pola distribusi acak, dan 19 spesies (86,3%) dengan pola distribusi mengelompok, sedangkan kategori persebaran spesies tumbuhan simbol tubuh yaitu 1 spesies (4,5%) dengan kategori luas, 5 spesies (22,7%) dengan kategori sedang, dan 16 spesies (72,7%) dengan kategori sempit (4) Masyarakat di Desa Budakeling telah memiliki pengetahuan, sikap, dan implementasi mengenai Tri Mandala dan tumbuhan simbol tubuh.Kata Kunci : Tumbuhan Simbol Tubuh, Bali Majapahit, Desa Budakeling, Tri Mandala The aims of this study were to know: (1) composition of body symbol plant species in Budakeling village (2) density and index diversity of body symbol plant species in Budakeling village (3) distribution and distribution pattern of body symbol plant species in Budakeling village (4) knowledge, attitude, and implementation of community in Budakeling village, Tri Mandala, and body symbol plant. The type of this study was descriptive explorative research. The population in this study were all plant species in Budakeling village, Karangasem regency. The samples in this study were body symbols plants which contained in 33 research squares. Parameters that measured in this study were ecosystem parameter and socio-system parameter. Ecosystem parameter included body symbol plant. Socio-system parameter included the custom and culture of Bali Majapahit in Budakeling village in preserving body symbol plant. Culture in this study included the parameters (1) human nature orientation, (2) man nature orientation, (3) time orientation, (4) activity orientation, and, (5) relational orientation. The sampling technique was using stratified random sampling while culture was done by giving questionnaire and doingf interview. The data was analyzed with ecological and descriptive statistics. The results of this study indicated (1) The composition of body symbol plant species in Budakeling village was 18 families from 22 species with the amount of 178 individual (20,94%), (2) Plant density at Tri Mandala in Budakeling village was 1,1628% which belonging to low category, while diversity index of body symbol plant on Tri Mandala in Budakeling village was 0,9964 with high diversity index meaning, (3) Distribution pattern of body symbol plant in Budakeling village was 1 species (4,5%) with a regular distribution pattern, 2 species (9,0%) with a random distribution pattern, and 19 species (86,3%) with a clustered distribution pattern, whereas the distribution category of body symbol plant was 1 species (4,5%) with large category, 5 species (22,7%) with medium category, and 16 species (72,7%) with narrow category (4) Community in Budakeling village had knowledge, attitude, and implementation about Tri Mandala and body symbol plant.keyword : Body Symbol Plant, Bali Majapahit, Budakeling Village, Tri Mandala
HUBUNGAN KEANEKARAGAMAN TUMBUHAN PAKU (PTERIDOPHYTA) DENGAN KONDISI LINGKUNGAN DI HUTAN WISATA DASONG, KECAMATAN SUKASADA, KABUPATEN BULELENG ., Komang Desmi Indraswari; ., Prof. Dr. Nyoman Wijana,M.Si; ., Dr. I Wayan Sukra Warpala,S.Pd,M.Sc
Jurnal Pendidikan Biologi undiksha Vol 3, No 2 (2016)
Publisher : Undiksha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) indeks keanekaragaman tumbuhan paku (Pteridophyta) di Hutan Wisata Dasong dan (2) hubungan keanekaragaman tumbuhan paku (Pteridophyta) dengan kondisi lingkungan (faktor edafik dan klimatik) di Hutan Wisata Dasong. Jenis penelitian ini adalah penelitian eksploratif dan korelasional. Populasi dalam penelitian ini adalah semua spesies tumbuhan paku yang hidup di Hutan Wisata Dasong. Sampel dalam penelitian ini adalah seluruh spesies tumbuhan paku yang tumbuh di bawah naungan tumbuhan inang yang tersentuh line transect dan tercakup ke dalam 30 titik sampel yang terbagi dalam tiga zona (Zona I, Zona II dan Zona III). Sampel faktor lingkungan yang diteliti adalah faktor edafik dan klimatik di sekitar titik sampel tumbuhan paku. Metode sampling yang digunakan adalah metode line transect. Keanekaragaman tumbuhan paku dianalisis berdasarkan indeks keanekaragaman Simpson. Analisis regresi ganda dilakukan untuk mengetahui korelasi antara keanekaragaman tumbuhan paku dengan kondisi lingkungan. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata indeks keanekaragaman tumbuhan paku (Pteridophyta) di Hutan Wisata Dasong pada masing-masing titik sampel bervariasi dari kategori sedang hingga tinggi. Indeks keanekaragaman tumbuhan paku pada Zona I, II, dan III berturut-turut adalah 0,8578, 0,8793, dan 0,8222. Secara keseluruhan, indeks keanekaragaman tumbuhan paku di Hutan Wisata Dasong adalah sebesar 0,8658 dengan kategori tinggi. Hasil analisis regresi ganda menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara keanekaragaman tumbuhan paku (Pteridophyta) dengan kondisi lingkungan (faktor edafik dan klimatik) di Hutan Wisata Dasong. Walau secara statistik tidak ada korelasi, namun secara ekologi ada hubungan antara keanekaragaman tumbuhan paku dengan faktor edafik dan klimatik.Kata Kunci : Keanekaragaman Paku (Pteridophyta), Faktor Edafik, Faktor Klimatik, Hutan Wisata Dasong. The aims of this research: (1) The diversity index of ferns (Pteridophyta) in Dasong Tourism Forest, and (2) the relationship of the diversity of ferns (Pteridophyta) with environmental conditions (factor edafic and climatic) in Dasong Tourism Forest. This research is an exploratory and correlational research. The population in this study are all species of ferns that live in Dasong Tourism Forest. The sample in this study are all species of ferns that grow in the shade of host plants that touched the line transect and included into the 30 sample points were divided into three zones (Zone I, Zone II and Zone III). To sample the environmental factors were edafic and climatic factors around the sample point of ferns. The sampling method used is the line transect method. Diversity of ferns analyzed by Simpson diversity index. Multiple regression analysis was conducted to determine the correlation between the diversity of ferns with environmental conditions. The results showed the average index of the diversity of ferns (Pteridophyta) in Dasong Tourism Forest at each sample point varies from medium to high category. Diversity index of ferns in Zone I, II, and III respectively are 0.8578, 0.8793, and 0.8222. Overall, the diversity index of ferns in Dasong Tourism Forest is at 0.8658 with high category. The results of multiple regression analysis showed that there was no relationship between the diversity of ferns (Pteridophyta) with environmental conditions (edafic and climatic factors) in Dasong Tourism Forest. Although statistically there is no correlation, but ecologically there is correlation between the diversity of ferns with edafic and climatic factors.keyword : Fern (Pteridophyta) Diversity, Edafic Factors, Climatic Factors, Dasong Tourism Forest.
PEMANFAATAN TUMBUHAN PSIKOAKTIF DALAM PENGOBATAN TRADISIONAL DI DESA TENGANAN PEGRINGSINGAN, MANGGIS, KARANGASEM, BALI ., I Putu Eka Suakarya Utama; ., Prof. Dr. Putu Budi Adnyana, M.Si.; ., Dr.I Gusti Agung Nyoman Setiawan, M.Si.
Jurnal Pendidikan Biologi undiksha Vol 4, No 2 (2017)
Publisher : Undiksha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis tumbuhan, cara pemanfaatan dan efek psikoaktif yang ditimbulkan dalam pengobatan tradisional di desa Tenganan Pegringsingan. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kualitatif. Pengumpulan data menggunakan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan mereduksi, memaparkan, mengklasifikasi, disajikan secara deskriptif. Jenis tumbuhan psikoaktif yang dimanfaatkan mencakup 23 spesies yang berasal dari 16 familia. Familia yang banyak anggota spesiesnya dimanfaatkan adalah Piperaceae, Arecaceae, Convolvulaceae, Poaceae, Solanaceae, dan Zingiberaceae. Spesies yang banyak dimanfaatkan adalah Cocos nucifera L.f., Foeniculum vulgare Mill., Acorus calamus L., Piper betle L., dan Erythrina variegata L. Organ yang banyak dimanfaatkan adalah daun, akar, dan buah. Cara pemanfaatan tumbuhan terutama pada pengaplikasian obat yang banyak adalah diparemkan (boreh), disembur (simbuh), diminum (loloh), diusapkan (uap) dan diteteskan pada mata. Khasiat obat yang banyak adalah sebagai anti bengkak, obat pemali, lumpuh, kencing nanah dan mata merah. Potensi efek psikoaktif yang ditimbulkan berupa stimulan, depresan dan hallusinogen.Kata Kunci : Desa Tenganan Pegringsingan, Pemanfaatan tumbuhan psikoaktif, Pengobatan tradisional. This study aims to determine the types of plants, ways of utilization and psychoactive effects caused in traditional medicine in the village of Tenganan Pegringsingan. The approach used is a qualitative approach. Data collection using observation, interviews, and documentation techniques. Data analysis is done by reducing, exposing, classifying, display in descriptive. The types of psychoactive plants utilized include 23 species from 16 families. Familia that many members of their species used are Piperaceae, Arecaceae, Convolvulaceae, Poaceae, Solanaceae, and Zingiberaceae. The most widely used species are Cocos nucifera L.f., Foeniculum vulgare Mill., Acorus calamus L., Piper betle L., and Erythrina variegata L. Organ that is widely used are leaves, roots, and fruit. The most method of utilization of plants, especially in the application of drugs is rubbed (boreh), sprayed (simbuh), drunk (loloh), diusapkan (uap) and dripped on the eyes. The most efficacy of drugs are as anti-swelling, cure for pemali, paralysis, gonorrhea and red eyes. Potential psychoactive effects caused is stimulants, depressants and hallucinogens.keyword : Psychoactive plants usage, Tenganan Pegringsingan village, Traditional medicine.
ANALISIS KLUSTER DAN PERUBAHAN FLORISTIK PADA VEGETASI ZONASI NYEGARA GUNUNG DI KECAMATAN BANJAR ., Kadek Dedi Santa Putra; ., Prof. Dr. Nyoman Wijana,M.Si; ., Dr. I Wayan Sukra Warpala,S.Pd,M.Sc
Jurnal Pendidikan Biologi undiksha Vol 3, No 2 (2016)
Publisher : Undiksha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui; (1) pola kluster yang terbentuk pada vegetasi zonasi nyegara gunung di Kecamatan Banjar, dan (2) pola perubahan floristik pada vegetasi zonasi nyegara gunung di Kecamatan Banjar. Jenis penelitian ini adalah jenis penelitian eksploratif. Populasi dalam penelitian ini adalah semua spesies tumbuhan yang hidup pada vegetasi zonasi nyegara gunung di Kecamatan Banjar. Sampel dalam penelitian ini adalah semua spesies tumbuhan yang tercakup oleh kuadrat dengan ukuran 10 x 10 meter sebanyak 20 kuadrat yang diambil pada Zona I (0 mdpl), Zona II (310 mdpl), dan Zona III (620 mdpl). Metode yang digunakan dalam pengambilan sampel adalah metode kuadrat dengan teknik sistematik sampling. Data dianalisis secara statistik ekologi. Hasil penelitian ini menunjukkan (1) dendrogram pada Zona I membagi unit-unit sampling menjadi dua sub kluster yaitu sub kluster I dan sub kluster II. Sedangkan pada Zona II (310 mdpl) dan Zona III (620 mdpl) bentuk dendrogram yang dihasilkan hanya satu sub kluster yaitu sub kluster I. Pada dendrogram analisis kluster vegetasi memiliki nilai ambang batas dengan threshold I 0,00-10,00%; threshold II 10,00-50,00% dan threshold III di atas 50,00%. (2) Perubahan floristik yang terjadi diketahui bahwa 18 spesies termasuk kesebaran sempit. Dari 18 spesies, 11 spesies terdapat pada Zona I, 2 spesies pada Zona II, dan 5 spesies pada Zona III. 11 spesies termasuk kesebaran spektrum sedang. Dari 11 spesies, 1 spesies melingkupi Zona I dan II, 8 spesies melingkupi Zona II dan Zona III, dan 2 spesies melingkupi Zona I Dan Zona III.Kata Kunci : kluster, dendrogram, floristik, vegetasi The objectives of this study were to know about; (1) clusters pattern that were formed in nyegara gunung zoning of Kecamatan Banjar, and (2) the floristic change pattern of the nyegara gunung zoning of Kecamatan Banjar. The type of this study were explorative study. The population of this study were all of the plant-specieses that lived in vegetation zoning in Kecamatan Banjar. The samples of this study were all of the plant specieses that covered by square area by 10x10 metres as much as 20 squares that taken in Zone I (0 metre above the sea level), Zone II (310 metres above the sea level), dan Zone III (620 metres above the sea level). The sampling method that has been used was square method by the systematic sampling technique. The datas have been analyzed by the ecological statistic. The result of the study has shown that (1) the dendrogram in Zone I has devided the sampling units inti two sub-clusters that were sub-cluster I and sub-cluster II whilst in the Zone II (310 metres above the sea level) and Zone III (620 metres above the sea level), the dendrograms form were one sub-cluser that was sub-cluster I. in the dendrogram of the vegetation cluster analysis has the threshold values of; threshold I0,00-10,00%; threshold II 10,00-50,00% and threshold III over the 50,00%. (2) the floristic change that was occurred has known that 18 specieses included the narrow distribution. By the 18 specieses, 11 specieses were in the Zone I, 2 specieses were in the Zone II, and 5 specieses were in the Zone III. The 11 specieses included the medium spectrum. By the 11 specieses, 1 species has covered the Zone I and the Zone II, 8 specieses were covered the Zone II and the Zone III, and 2 specieses were covered the Zone I and the zone III.keyword : cluster, dendrogram, floristic, vegetation
PERBEDAAN KOMPOSISI MEDIA TANAM PASIR DAN HUMUS TERHADAP PERTUMBUHAN BENIH Adenium obesum ., Kadek Agus Priady Wahyu Winantha; ., Dr.I Gusti Agung Nyoman Setiawan, M.Si.; ., Ida Ayu Putu Suryanti, S.Si., M.Si.
Jurnal Pendidikan Biologi undiksha Vol 4, No 2 (2017)
Publisher : Undiksha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk 1) mengetahui perbedaan komposisi media tanam pasir dan humus terhadap pertumbuhan benih tanaman Adenium obesum yang dapat dilihat dari berat kering tanaman. 2) Mengetahui Pada komposisi media tanam pasir dan humus yang mana paling efektif dalam pertumbuhan benih Adenium obesum. Jenis penelitian ini termasuk penelitian sungguhan (true experimental). Rancangan penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap yaitu rancangan percobaan yang menggunakan pengawasan setempat dengan pembatasan pengacakan. Percobaan ini menggunakan 7 kelompok perlakuan yang mana setiap kelompok mempunyai perbandingan campuran pasir dan humus yang berbeda yaitu pasir saja, perbandingan pasir dan humus 1:3, 1:2, 1:1, 2:1, 3:1 dan media tanam humus , namun sebelum memberikan perlakuan benih Adenium diberikan preetest berupa penyetaraan benih Anlisis data pada penelitian ini menggunakan ANOVA satu arah dengan taraf signifikansi 5% dan dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Terkecil (BNT). Hasil penelitian menunjukkan tanaman pada perbandingan pasir dan humus 1 : 2 memiliki biomassa tertinggi dari semua perlakuan, dan terdapat beda nyata terkecil dengan media tanam pasir saja dengan beda rerata 0,339 gram. Dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan nyata pada media tanam pasir dan humus dengan perbandingan yang berbeda. Komposisi media tanam yang paling baik untuk proses pertumbuhan benih tanaman Adenium obesum yaitu pada komposisi media tanam pasir dan humus 1 : 2.Kata Kunci : Adenium obesum, Pasir, Humus, dan Komposisi This study aims to 1) determine the differences in the composition of sand and humus growing media on the growth of Adenium obesum plant seeds which can be seen from the dry weight of plants. 2) Knowing the composition of sand and humus growing media which is most effective in the growth of Adenium obesum seeds. This type of research includes real research (true experimental). The design of the study used in this study was a completely randomized design which was a trial design that used local supervision with restrictions on randomization. This experiment uses 7 treatment groups where each group has a different mixture of sand and humus, namely sand, sand and humus ratio 1: 3, 1: 2, 1: 1, 2: 1, 3: 1 and humus growing media, but before giving the treatment of Adenium seeds the preetest was given in the form of equalization of seed Anlisis data in this study using one-way ANOVA with a significance level of 5% and continued with the Smallest Significant Difference test (LSD). The results showed that the plants in the sand and humus 1: 2 ratio had the highest biomass of all treatments, and there was the smallest significant difference with the sand planting media with an average difference of 0.339 grams. It can be concluded that there are significant differences in sand and humus growing media with different comparisons. The best composition of planting media for the growth process of Adenium obesum seeds is the composition of sand planting media and humus 1: 2keyword : Adenium sp., Sand, Humus, and Comparison